Tidak tahu mengapa, Sasuke merasa sangat gelisah sejak usai menghubungi Sakura tadi. Perempuannya secara tiba-tiba memutuskan sambungan telepon, berakhir dengan kekosongan dalam dirinya. Perlahan namun pasti, setiap dentingan jarum jam seolah membuat Sasuke menyadari realita. "Sudah semakin dekat."
Dia tidak bisa terus-menerus begini.
Mengamati mendung yang mulai berkumpul di langit, hatinya lagi-lagi bergejolak. Sasuke semakin murung, sampai suara keributan dari lantai bawah membuatnya terheran-heran. Fugaku mana mungkin membiarkan ketenangan keluarganya dirusak orang tidak jelas. Kemudian dalam sekali berspekulasi, laki-laki itu menutup jendela kamarnya, berlalu menuju lantai bawah. Sasuke tadi sempat melihat Ayah, Ibu, bahkan kakaknya saling beradu pendapat di ruang keluarga. Sebentar lagi Izuna akan lulus study S1, Mikoto menginginkan dia segera menikah tapi ditolak mentah-mentah. Fugaku sendiri malah sangat mendukung penolakan anaknya itu. Dia laki-laki, masih banyak yang perlu Izuna lakukan untuk memantaskan diri.
"Saya mencari putra Anda!"
"Siapa?"
Tidak sengaja mencuri dengar, Sasuke mematung di tempat. Itu suara Sasori! Ia semakin yakin ketika laki-laki itu memanggil nama Sakura di depan kedua orangtua Sasuke. "Katakan siapa yang merusak masa depanmu?"
Ini adalah ketakutan terdalam. Fugaku menautkan alisnya heran hingga membuat Sasuke yang menatapnya dari jauh semakin merasa akan mendekati akhir hidupnya. "Merusak masa depan apa maksudmu?"
"Sakura, cepat katakan dengan jelas siapa yang membuatmu seperti ini?" Dengan dipenuhi amarah Sasori membentak adik perempuannya sendiri.
Mereka hanya datang berdua karena Mebuki tidak mau tahu apa pun tentang Sakura lagi, terlalu dini jika Isabel memaafkan secara mudah kesalahannya. Sakura menangis sembari mencengkeram bajunya, tidak sedikitpun berani menatap wajah Sasori. "Sasuke-kun..."
Mati! Sasuke akan habis di tangan Ayahnya. "Ada apa dengan Sasuke?"
"Tuan, putra Anda yang bernama Sasuke itu telah menghamili adik saya! Dia telah menghancurkan masa depan adik saya!" Berapi-api Sasori ungkapkan.
Jika mengamati lebih jelih lagi, perempuan belasan tahun di hadapannya sekarang memang kentara sekali berbeda. Tubuhnya lebih berisi dan perutnya lumayan membuncit, Fugaku sangat menyadari terlebih Mikoto yang merupakan seorang perempuan juga. Sedangkan Izuna hanya mematung di belakang, dia tidak menduga akan terjadi seperti ini. "Hei, apa kau tidak salah? Mana mungkin Anikiku berbuat..."
"JANGAN COBA MEMBELANYA! KAU LIHAT BAIK-BAIK KONDISI ADIK PEREMPUANKU!"
Salah, Izuna. Semua salah.
Fugaku masih bermain dengan pikirannya. Ia selalu memberikan pelajaran bagi anaknya untuk menjadi manusia beretika, tapi Sasuke seolah memberinya tamparan memilukan sebagai balasan. Dua puluh dua tahun Fugaku menjadi Ayah, cukup melihat kedua anaknya yang sangat penurut dan hampir tidak pernah membuat masalah. Setan mana yang telah merasuki diri anak bungsunya itu? Sungguh, tidak akan ada ampun bagi Sasuke. Fugaku akhirnya memalingkan muka dari Mikoto yang bertatap dengannya. Ia memang sangat tempramental, tapi sebisanya Fugaku selalu menahan diri untuk tidak memukul kedua anaknya. Baik Sasuke maupun Izuna sangat berharga baginya, tapi untuk kali ini Mikoto tidak dapat menduga apa yang akan dilakukan suaminya itu pada Sasuke.
"Izuna, panggil adikmu."
"Tapi Ayah..."
"PANGGIL ADIKMU, IZUNA!"
Terasa nyeri sekali, Sasuke menyadari keringatnya bercucuran membasahi sekujur tubuh. Dalam beberapa detik, Izuna telah berdiri di hadapannya dengan wajah sama terkejut. Laki-laki itu kemudian memberi isyarat agar Sasuke segera menemui Fugaku. Semakin sakit, mendekati petaka ia merasa dirinya berada di ambang kehancuran ketika kakak dari Sakura sudah akan menghajarnya tapi dicegah oleh Izuna. Kakaknya sendiri masih berhati, tapi Ayahnya? Sasuke tidak dapat berpikir rasional lagi. Setelah mendapati amukan dari Sasori, Fugaku maju mendekati anaknya. Sekilas tampak datar, tapi semua orang yakin sekali jika laki-laki tua itu menyimpan amarah begitu besar.
"Sekarang jelaskan padaku. Apa yang telah kau lakukan padanya, Sasuke?"
Dadanya sudah sangat berguncang, ditambah lagi Fugaku yang meremas jemarinya sendiri membuat Sasuke semakin merasa kecil. Pelan-pelan dia katakan. "Aku menghamilinya, Ayah."
"Rupanya kau langsung mengaku."
Buaggh!
Hantaman Fugaku yang begitu keras pada pipi kiri Sasuke mengakibatkan semua orang di sana tercengang, tidak terkecuali Sakura. Perempuan itu menangis keras di balik punggung Sasori, memeluk erat perut buncitnya. Izuna sangat menyadari, mereka berdua pasti sama-sama terluka. Tapi ini telah menjadi konsekuensinya. Memalingkan wajah, Izuna menemukan Ibunya yang tengah memejamkan mata menahan tangis. Biar bagaimanapun, ini untuk pertama kalinya Fugaku memukuli Sasuke dengan begitu parah. Bukan hanya melayangkan pukulan, Fugaku bahkan tidak segan membenturkan kepala anak bungsunya itu ke lantai hingga dahinya berdarah.
"AKU TIDAK PERNAH MEMBESARKAN ANAK KURANG AJAR SEPERTI INI!"
"FUGAKU HENTIKAN!" Seburuk apa pun sikap anaknya, seorang Ibu akan tetap peduli. Sayangnya, Izuna menghentikan tindakan Mikoto. Sudah menjadi urusan Fugaku pada Sasuke, mereka hanya bisa terdiam.
"ANAK TIDAK TAHU DIRI! MEMALUKAN!"
Buaggh!
Nyatanya, rasa sakit di sekujur tubuhnya tidak sebanding dengan pedih di hati. Sasuke pasrah saja ketika Fugaku memukul perutnya sampai ia sendiri tidak sadar akan air mata yang mulai berjatuhan lalu bercampur dengan darah. Salahnya! Sasuke mengakui semua ini salahnya. "Ayah, maaf..."
"Berdiri!"
"Ayah, maafkan aku."
Buaggh!
Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Fugaku seperti tidak puas untuk memukuli Sasuke, dia sepertinya harus mati terlebih dahulu agar Fugaku puas. Dan ini... dekat. Sasuke telah sampai di kata dekat yang ia maksudkan. Tubuhnya terbanting ke lantai hingga tulang-tulangnya terasa patah. Kasihan sekali. Anak yang dia besarkan sekuat tenaga nyatanya memberi segores luka. Mikoto semakin menangis keras dipelukan Izuna. Berusaha mencegah tapi Fugaku tidak memberinya kesempatan sama sekali. Di samping itu, ia juga sangat khawatir jika sampai Fugaku lupa diri hingga melampaui batas. Sungguh, Mikoto tidak akan sudi memaafkan kesalahan suaminya jika terjadi hal-hal buruk pada Sasuke.
"Sasuke-kun..." Bagaimana rasanya melihat laki-laki yang dicintai dalam keadaan semengerikan ini, Sakura?
Dan Sasuke, apa dia tidak lupa jika Ayahnya memiliki pistol yang siap menembak kepalanya kapan saja?
Sakura menangis, Sasuke juga sama menangisnya bahkan lebih deras dari tangis perempuan itu.
- 0 -
Menghembuskan nafasnya pelan, Izuna membuka pintu kamar Sasuke sembari membawa nampan semangkuk bubur dan susu. Sehari berlangsung sejak peristiwa di mana Sakura dan kakaknya datang ke rumah meminta pertanggung jawaban hingga membuat Fugaku marah besar sampai-sampai dengan beringas memukuli anaknya sendiri, Sasuke jadi lebih pendiam dan tidak berdaya. Pikiran adiknya seperti melayang ke mana-mana, buruknya Izuna tidak dapat mengerti. Ia amati baik-baik, Sasuke tengah bersandar di kepala ranjang menatap keluar jendela. Kondisinya sama, masih babak belur dan dahinya yang sobek tertutupi perban.
"Ini, makanlah. Yang mulia ratu Mikoto akan marah besar jika kau tidak memakannya." Ucapannya terdengar lantang, namun Sasuke enggan menjawab. "Atau mau ku suapi?"
"Tidak perlu. Kau letakkan saja makanan itu di nakas, aku akan memakannya nanti."
Dia tetap tidak banyak bicara. "Kau harus lekas sembuh, minggu depan kau akan menikah dengan Sakura."
Antara senang atau tidak, Sasuke merasakan dirinya berada pada sebuah kebingungan. Ia sangat ingin bersama Sakura, tapi sekelibat beban mengenai pandangan orang-orang membuatnya tidak mampu menatap hari. "Nii-san."
"Ya?"
"Aku ini benar-benar memalukan ya?" Ya! Dia sangat memalukan. Sampai detik ini Fugaku masih bersikap acuh pada Sasuke, beruntungnya dia waktu itu tidak sampai mengeluarkan pistol atau bahkan senapan untuk menghabisi nyawa anaknya sendiri. "Ayah tidak akan pernah memaafkanku."
"Tidak, Ayah pasti akan memaafkanmu." Sasuke adalah darah daging Fugaku, sekeping hatinya pasti lama-kelamaan meluluh. "Mulai sekarang kau harus memperbaiki diri, jangan membuat kesalahan lagi atau aku akan menghajarmu."
Di matanya, Izuna merupakan kakak laki-laki sejati meskipun terkadang sering membuat Sasuke sakit hati. "Aku akan berusaha."
Minggu depan, baik orangtua Sasukd maupun Sakura sepakat menikahkan anak mereka. Meskipun semua ini kesalahan, Fugaku sudah menyanggupi jika dia akan menanggung seluruh akibat tindakan putranya. Awalnya Isabel menolak, tapi Izuna memberinya penjelasan jika Sasuke dan Sakura melakukan perbuatan dosa itu atas dasar saling suka ketika kedua keluarga mereka dipertemukan. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Anak yang dikandung Sakura sudah lima bulan lebih, mustahil sekali jika mereka membiarkannya melahirkan dengan status yang tidak jelas. Masih dilingkupi rasa kecewa mendalam, Fugaku dan Mebuki kompak saling menahan diri untuk tidak menggunakan ego masing-masing.
Sakitkah?
Sama halnya dengan Sasuke, Sakura merasa dirinya tidak lagi diinginkan di dunia ini. Mebuki memang tetap melakukan tugasnya sebagai Ibu dengan baik, tapi rasanya hampa sekali jika perempuan tua itu tidak sedikitpun menatap wajahnya. Berakhir dengan kesunyian antara dirinya dan Sasori di meja makan. "Sasori-nii."
"Ada apa?"
"Apa Ibu tidak makan malam juga bersama kita?"
Memang sudah sewajarnya, Sasori berusaha untuk meredam perasaan pedih adiknya. "Dia sudah makan terlebih dulu tadi, sekarang kau makanlah."
"Ibu masih saja marah padaku."
Sakura memang sangat salah karena mengambil jalan berani, tapi Sasori tetap tidak bisa mengabaikannya. Itu karena hampir sembilan belas tahun Sasori menantikan Ibu dan Ayahnya memberinya adik, lalu lahirlah Sakura. Tiga puluh empat tahun usianya, Sasori menyadari setiap hembus nafasnya adalah demi Isabel. Sulit memang memaafkan kesalahan Sakura, tapi Sasori memilih mencoba menerima kenyataan. Kasihan adiknya, dia tengah hamil dan akan butuh sekali perhatian. "Jangan terlalu dipikirkan. Kau harus ingat jika kau tengah mengandung, Sakura."
"Tapi aku tidak akan bisa makan jika tanpa Ibu." Mata Sakura telah berair sekarang, menunjukkan tangisnya yang dapat dilihat Sasori.
Perempuan hamil memang begitu sangat sensitif.
Beranjak dari kursi, Sasori mendekati Sakura lalu mengambil piring adiknya itu. "Kau harus makan, akan ku suapi. Perempuan hamil tidak boleh menangis seperti ini."
"Aku ingin dengan Ibu." Baiklah, Sasori mulai jengah menghadapi tangisan Sakura.
"Kau ingin meminta apa? Katakan, tapi jangan meminta Ibu."
Dan sepertinya mulai hari ini Sasori akan menerima segala perintah serta permintaan adiknya yang sialnya harus ia turuti.
Bersabarlah sebab tidak semua cinta sejati bisa bersatu secara mudah. Semua perlu proses. Layaknya angin yang menghembuskan debu. Layaknya kita yang kian menjauh. Tetapi dalam hati bertuan ini, ada keyakinan jika akan ada waktu bersatu...
To be continue...
