Izuna menyerahkan sepasang sepatu mungil pada Mikoto hingga Ibunya itu memberi pelototan jengkel. "Sudah ku katakan jangan mencari sepatu berwarna pink, kau tidak dengar adik iparmu mengatakan jika anaknya nanti berjenis kelamin laki-laki?"

"Bu, warna pink juga cocok untuk laki-laki."

"Itu akan terlihat aneh, Izuna-kun."

"Aneh apanya? Aku saja menyukai warna pink."

"Kau kan melambai, jadi wajar saja jika menyukai warna pink."

Baiklah, terserah Mikoto saja. Padahal sejak tadi perempuan tua itu sendiri yang menyuruhnya ikut memilih berbagai keperluan untuk kelahiran bayi Sasuke dan Sakura. Mulai dari baju mini, topi, tempat makan, susu untuk si kecil nanti, semuanya sukses membuat mata Mikoto maupun Izuna berbinar. Benar-benar menggemaskan, ditambah lagi terus mengingatkan jika Izuna pernah mengenakan semua itu ketika bayi. Kapan lagi? Ibu dan anak lelakinya berbelanja berdua di baby shop hingga banyak sekali berbagai pasang mata memperhatikan. Izuna ingat ia dulu pernah ke sini, tapi ketika Ayah dan Ibunya mengajak pulang ia malah menangis meraung-raung. Di sini kan surganya anak-anak, tentu saja waktu itu tidak ada bosannya bagi Izuna kecil.

"Bu, topi itu lucu sekali."

"Kau memilih warna pink lagi, Izuna-kun. Cari yang lain!"

Rasanya percuma saja Izuna memberi pendapat, berakhir dengan penolakan Mikoto mentah-mentah. Ia lalu memutuskan mengedarkan pandangan yang langsung mengarah pada dua sosok adiknya, mereka berjalan bersama dengan langkah cukup pelan lantaran si perempuan tengah hamil besar. "Hei, kenapa kau membawanya ke sini? Kan sudah ku katakan tadi jaga saja Sakura di mobil."

"Dia yang memaksa, si gendut ini ingin ikut memilih keperluan bayi."

Mikoto yang mendengarkan perdebatan anaknya lantas menoleh. "Rupanya kau sedikit susah diatur ya sayang? Ya sudah, kalau begitu kemarilah bantu Ibu mencari sepatu dan topi yang cocok untuk bayimu nanti."

Awalnya minggu kosong ini mereka habiskan untuk berjalan-jalan, tapi ketika pulang Mikoto memaksa untuk berbelanja keperluan bayi dan disetujui oleh Sakura. Mereka seperti sengaja memanfaatkan keadaan dengan tidak adanya kepala keluarga, Fugaku memilih bersantai di rumah. Izuna yang bertugas sebagai sopir pribadi hanya bisa menuruti perintah yang mulia ratu Mikoto, sialnya Sasuke tampak menerima saja. Dasar pasangan muda itu, menyebalkan sekali. Ujung-ujungnya semua ini menjadi penderitaan Izuna. Dipandangnya sejenak, Mikoto dan Sakura berdiri dekat rak berisi sepatu bayi. Wanita selalu saja sangat suka berbelanja. Izuna sangat memaklumi, terlebih Sasuke yang sebentar lagi akan menjadi Ayah tentu cukup mengerti beberapa bulan belakangan. Sakura memang tidak selalu meminta, tetapi ia yang berlaku sebagai laki-laki harus mempunyai kesadaran diri untuk memenuhi segala kebutuhan.

"Karena bayi kalian laki-laki, bagaimana jika kita membeli ini?" Mikoto menunjukkan satu pasang sepatu mungil berwarna hijau muda.

"Itu bagus Bu, iya kan Sasuke-kun?"

"Iya, tapi aku sudah membeli model itu. Lagi pula Sakura hanya mengira-ngira Bu, kami belum mengetahui jelas dia berjenis kelamin apa."

Rasakan, Ibunya langsung bungkam karena Sasuke. Diam-diam Izuna merutuki perasaan jahatnya. "Nah lebih baik pilih saja warna pink, itu lebih bagus."

"Jangan dengarkan kakakmu!" Sasuke mulai berpikir jika ia yang selalu diutamakan Mikoto dibandingkan kakaknya. Sejak kecil Izuna begitu jail, inginnya menang sendiri hingga membuat Sasuke serasa paling tertindas. "Sasuke-kun, kemarilah. Bantu Ibu memilih sepatu."

"Memilih sepatu saja sampai tiga orang harus turun tangan."

"Kau mengerti fashion tidak? Cucu Ibu harus terlihat tampan nanti didukung dengan penampilan menarik."

Ampun, Izuna ingin mual sekarang. "Bu, dia bahkan belum lahir."

Sasuke dan Sakura tidak dapat menahan lagi, tawa mereka meledak akibat perdebatan Mikoto dengan Izuna. Masih dalam batas wajar, Izuna masih sopan tetapi entah kenapa ucapan Ibunya membuat sudut siku-siku di dahinya muncul. Terlebih pada kalimat terakhir, Mikoto berlalu begitu saja mengambil sepasang sepatu mungil berwarna putih. Hanya pandangan tidak mengerti, kemudian Izuna mengikuti disusul oleh Sasuke dan Sakura. Keadaan yang lumayan lengang membuat mereka lebih leluasa bergerak, terlebih bagi Sakura. Sasuke memperlambat jalannya saat si istri memilih beberapa pakaian bermotif lucu, kira-kira cocok untuk ukuran bayi baru lahir. Pilihan Sakura jatuh pada warna hijau muda dengan motif kodok.

"Kau menyukai itu?"

"Ya."

"Ambil saja, sekalian jika kau ingin membeli baju hamil juga tidak apa-apa."

"Memangnya di sini ada?"

Sasuke tidak menjawab, ia langsung bertanya pada salah satu pramuniaga yang kebetulan lewat. Orang itu menunjukkan tempat khusus untuk keperluan Ibu hamil yang letaknya berdekatan. "Pilih sesukamu, tapi jangan terlalu berlebihan. Ingat sayang, kita harus banyak menabung untuk biaya persalinan nanti."

"Iya Papa, aku ingat."

Tidak terasa, dia sudah berusia tujuh bulan dan mereka benar-benar terlihat seperti keluarga sempurna. Sasuke terus memperhatikan Sakura yang sibuk memilih baju atasan yang di desain khusus Ibu hamil, dia juga sempat bertanya mengenai pendapat Sasuke. Hanya sesekali bertanya, tapi Sakura mengatakan tidak suka. Lagi-lagi Sasuke dibuat mengeryit, Sakura mengajaknya memilih pakaian dalam yang sukses membuat pipi laki-laki itu memerah. "Katamu tadi ingin membeli baju hamil?"

"Tidak jadi, aku ingin membeli pakaian dalam saja."

"Kau kan sudah memiliki banyak."

"Semuanya sudah tidak muat, mereka terus saja bertambah besar."

"Memangnya siapa mereka?"

Dasar bodoh! Bisa-bisanya Sasuke bertanya demikian, Sakura lantas mencebikkan bibir sembari memilih bra. Seharusnya ia cukup sadar jika wanita hamil akan mengalami perubahan yang cukup signitif. "Kau pikir saja sendiri, dasar tidak peka."

Bersamaan gerutuan Sakura, ponsel miliknya tiba-tiba bergetar di dalam saku. Panggilan masuk dari dari Izuna. "DI MANA KAU? KAU TAHU, IBU TERUS MENGOMELIKU KARENA KAU DAN YUKI MENGHILANG BEGITU SAJA!"

Kiamat.

- 0 -

Baru dua hari menginap di rumah mertua, rasanya aneh sekali tidak bertemu dengan Sasori dan Ibunya. Oleh karena itu, ia membujuk Sasuke agar ikut bersamanya kembali ke rumah. Perdebatan alot sempat terjadi karena Mikoto sangat menginginkan Sakura tetap tinggal, paling tidak sampai dia melahirkan. Ini merupakan cucu pertamanya, jadilah ia sangat berantusias. Sekali lagi, baik Sasuke maupun Sakura berhasil meluluhkan hati Mikoto. Pulang malam berdua dengan menaiki motor, ditemani angin sepoi yang terus saja berhembus. Sasuke menolak tawaran Fugaku yang menyuruh Izuna untuk mengantar ke rumah. Begini saja sudah cukup membuat keduanya bahagia, meskipun ketika masuk ke dalam harus dengan cara sembunyi-sembunyi agar tetangga tidak ada yang tahu mengenai kehamilan Sakura.

"Mana yang perlu ku bawa?"

"Tidak, kau masuk saja. Biar aku yang membawa semuanya."

Laki-laki pengertian. Sakura tersenyum kecil sembari membuka pintu utama, padahal hanya dua hari tapi ia sangat merindukan rumah ini. Namun keberadaan Mebuki yang tengah duduk di ruang tamu sembari membaca majalah membuat Sakura menunduk seketika. "Kau kembali?"

"I-iya Ibu."

"Masuklah."

Sakura menuruti, ia melangkah masuk ke dalam seperti yang dikatakan Mebuki. Ada perasaan curiga tetapi Sakura mencoba meredam itu. Tepat ketika ia bersiap menuju lantai atas, Ibunya langsung menutup pintu dan menguncinya rapat. Sukses. Tindakan Mebuki membuat dada Sakura mencelos menyadari Sasuke masih berada di luar sana. "I-ibu, Sasuke-kun ada di luar."

Masih tidak ada jawaban.

"Ibu."

"Kau pikir aku peduli?"

"Ibu..." Sakura selalu cengeng, ia mudah sekali menangis. Bunyi ketukan pintu yang dilakukan oleh Sasuke membuat Sakura semakin tidak dapat menahan tangisnya. "Ibu, ku mohon buka pintunya. Sasuke-kun masih ada di luar."

"Dia tidak pantas menginjakkan kaki di rumah ini! Biarkan saja dia kedinginan di luar sana, sekalian sampai dia mati!"

"Ibuuuuu..." Sakit hatinya sudah berlipat ganda. Ibu mana yang akan terima dengan masa depan putrinya yang hancur begini? Sungguh, Mebuki sangat muak untuk menatap wajah Sasuke. "Ibu ku mohon buka pintunya, kasihan Sasuke-kun."

Pantaskah?

Mebuki mendecih kemudian beranjak dari tempat semula.

"IBU BUKA PINTUNYA!!" Tangis Sakura bertambah keras, dan Mebuki tetap batu pada pendiriannya. Ia mencoba menulikan pendengaran sembari masuk ke dalam kamar. Diam-diam Mebuki ikut menangis, sampai kapanpun Sakura akan menjadi yang utama baginya. "IBU..."

Kenapa sesak sekali?

Dipenuhi perasaan campur aduk, Sakura berjalan menuju laci untuk menemukan kunci duplikat, hasilnya nihil. Mebuki sepertinya telah menyimpan seluruh kunci pintu di rumah ini. Hati dan otaknya mulai bekerja tidak stabil. Sakura semakin kalang kabut, kondisinya yang tengah hamil membuat gerakannya sedikit terhambat. Harus berbuat apa lagi? Ribuan tangis tidak dapat membuat sebuah perubahan. Sakura memutuskan berjalan ke pintu, memanggil-manggil nama suaminya untuk menunjukkan jika semuanya akan baik. "Sasuke-kun, kau mendengarkan ku?"

"Ya."

"Aku tidak dapat membuka pintunya." Tetap dengan tangis, suara isakannya mampu membuat Sasuke ikut merasakan pedihnya.

"Jangan menangis, aku tidak apa-apa di sini."

"Tidak! Kau harus masuk ke dalam!"

"Tapi Ibu tidak memperbolehkanku masuk."

"Kau suamiku jadi kau harus masuk!"

"Sakura, berhentilah menangis."

"AKU TIDAK DAPAT BERHENTI!!" Mana mungkin. "Bagaimana bisa aku berhenti menangis jika Ibuku memperlakukanmu seperti ini? Sasuke-kun, aku tidak bisa..."

Sasuke harus memiliki dinding kuat sebagai perisai dari segala pilu. "Hei, Ibu hamil. Kau tahu aku sekarang sedang membayangkan wajahmu, kau pasti terlihat jelek sekali dengan pipi memerah dan mata sembab. Semuanya terlihat membulat, sama seperti tubuhmu."

Yang ia ingin, hidup Sakura dipenuhi kebahagiaan.

"Sasuke-kun, aku akan memukulmu besok."

"Ya, pukul saja. Tapi sekarang berhentilah menangis."

"Sudah ku katakan aku tidak bisa! Kau ini kenapa pemaksa sekali?" Terhalang oleh pintu kayu yang dingin, Sasuke mendengar isakan Sakura semakin menjadi-jadi. Sebenarnya Sasuke bisa saja nekat melompat ke balkon, tapi yang dilakukan itu adalah hal yang tidak benar. Mebuki akan semakin murka jika sampai tahu, maka Sasuke berdoa saja semoga besok harinya akan baik. "Sasori-nii sedang sift malam, tidak ada yang bisa membantu."

"Sudahlah, aku di sini baik-baik saja. Lebih baik kau masuk ke kamar dan segera tidur."

"Sasuke-kun..." Berlanjut lagi tangisnya. "Apa di luar sangat dingin?"

"Tidak, aku mengenakan jaket jadi tidak terasa dinginnya."

Bohong! Semuanya bohong. Sasuke dapat merasakan hawa dingin yang menembus kulitnya. "Maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa."

Tidak dapat terbendung lagi, setetes air mata jatuh membasahi pipi kiri Sasuke. Ia sama sekali tidak dapat mengutarakan isi pikiran, hanya mendengarkan tangis Sakura saja perasaannya ikut terpukul.

Salahnya! Semua salahnya.

Sasuke semakin terbawa hingga lelahnya terbayar dengan seluruh tangis, dalam kebisuan ia merasakan itu.

Sangat.

Menemani malam, keduanya saling diam. Sakura masih menangis di balik pintu yang sama, dan si lelaki tetap memendam. "Kau tahu, aku sangat mencintaimu. Jadi berpikirlah jika aku akan selalu baik-baik saja hanya dengan perasaan cintaku padamu."

Seharusnya tidak begini.

"Sakura, berhentilah menangis. Doakan saja aku."

To be continue...