Sasuke membuka lembaran kamus tebal secara acak, sudah menjelang waktu pagi dan hanya denting jarum jam yang menemaninya. Hal ini sering sekali menjadi rutinitas lantaran ia harus pintar membagi waktu antara sekolah dan kerja, apa lagi terkadang Sakura semakin rewel minta selalu dimanjakan.
"Sasuke-kun." Seperti sekarang.
Sasuke langsung menoleh, menemukan istrinya tengah tiduran di atas ranjang dengan tertutupi selimut tebal sampai sebatas dada. Dia sempat mengucek matanya, lalu balas menatap Sasuke sembari menguap lebar. "Hn, kau terbangun?"
"Aku bermimpi melahirkan." Bagaimana bisa Sasuke tidak tersenyum ketika mendengar suara serak Sakura? Ia menggeleng kecil, mencoba kembali fokus pada tugasnya. "Hei, Papa. Kau mendengarkanku tidak?"
"Sayang, ini masih pukul setengah dua. Sebaiknya kau kembali tidur."
"Buatkan aku omelet terlebih dulu baru aku akan tidur."
Cobaan lagi. Jika begini maka tugas sekolahnya tidak kunjung selesai. "Kau tidak ingat ucapan Sasori-nii?"
"Apa?"
"Tubuhmu itu akan semakin besar menyamai paus jika kau terus-menerus mengkonsumsi minyak berlebih. Lihat, lemak dilenganmu sudah berkumpul banyak."
"Ya sudah aku tidak mau bicara denganmu besok." Tuan putri mulai menunjukkan kuasanya, kemudian dengan begini Sasuke tidak akan pernah bisa membantahnya lagi.
"Baiklah, akan aku buatkan. Tunggu di sini."
"Aku ikut."
Sebenarnya dosa tidak sih mengumpati perempuan hamil? Jika tidak maka Sasuke akan melakukan itu tanpa diminta. Sialnya ia sangat tidak berdaya, terlebih jika Sakura sudah murka. Biar saja harga dirinya diinjak-injak, toh Sakura tengah mengandung anaknya. Sasuke tidak perlu bersusah payah memapah Sakura ke lantai bawah karena perempuan itu bisa berjalan santai tanpa menemui kesulitan apa pun, ia sepertinya sadar diri jika bobot tubuhnya bertambah berat. Sampai di dapur, Sasuke dengan sigap membuat omelet. Sakura sesekali berceloteh mengenai perubahan tubuhnya yang merepotkan sekali, semuanya melebar hingga membuat Sasuke terbahak mendengarnya. Sakura itu gendut, memang. Tapi tidak seperti yang dia bayangkan. Di mata Sasuke, Sakura justru terlihat semakin seksi dalam keadaan hamil begini.
"Sasuke-kun, aku akan memukulmu nanti jika omeletku gosong. Kau terus saja tertawa tanpa merespon ucapanku!"
"Ucapan yang mana?"
"Menyebalkan!" Pada akhirnya Sasuke hanya bisa menahan tawa saat Sakura mencebikkan bibirnya. Tidak lama, satu omelet panas telah tersaji di atas piring.
"Cepat, makan itu. Sehabis ini aku akan kembali mengerjakan tugasku." Sakura lantas mengangguk antusias, kemudian mulai melahap makanan pesanannya hingga tandas habis. Pantas saja dia menjadi besar begitu, porsi makannya saja tidak terima sedikit. Ketika semuanya masuk ke dalam mulut, Sasuke segera menyerahkan satu gelas air putih. "Sudah, kau kenyang?"
"Kenyang sekali, Papa."
Mendengar panggilan Sakura membuat perasaan Sasuke sedikit tergelitik, pasalnya di usianya yang bahkan masih tujuh belas ia sudah berstatus sebagai kepala keluarga. Bayi mereka akan lahir dalam dua minggu ke depan, Dr. Shion sendiri yang mengatakan perkiraannya. Mengingat demikian, satu hatinya terasa remuk. Sasuke merasa tidak pantas untuk Sakura, Sasuke merasa tidak pantas mendapatkan maaf, dan Sasuke merasa tidak pantas untuk menjadi seorang Ayah. Semuanya masih terlalu kurang, ia bahkan masih belum mendapati maaf dari Isabel. Selangkah lagi, berkali-kali Sasuke menguatkan diri untuk tetap teguh pada keyakinannya. Berakhir pada realita, ia hanya bisa memandangi perempuannya dengan murung.
Sasuke lalu beringsut mengambil piring bekas omelet Sakura, mencucinya sampai bersih. "Sasuke-kun."
"Ya?"
"Jika melahirkan normal, apa akan terasa sakit?"
Sejak kapan Sakura jadi sebodoh ini? Sasuke menghela napas sesaat, menatap si perempuan dengan jengah. Melahirkan secara normal itu tentu saja sakit. "Memangnya kenapa? Kau mau melahirkan secara sesar saja?"
"Tidak mau!!"
"Lalu? Kau ingin dia terus berada di perutmu saja, menyimpannya di sana sampai badanmu benar-benar sebesar paus?"
"Jahat! Kau sekarang selalu terang-terangan mengataiku seperti paus!"
Serba salah.
Sasuke malas berdebat, bisa-bisa tugas sekolahnya akan terbengkalai jika masih meladeni ucapan Sakura. "Sudah, ini sudah menjelang pagi. Ayo ke kamar, kau harus kembali tidur."
"Kau menyebalkan, aku malas bicara denganmu."
"Ya sudah kalau tidak mau bicara." Perempuan selalu menang. Sasuke terkekeh sesaat kemudian merangkul Sakura menuju kamar, tapi istrinya itu malah menepis tanganya. "Kasar sekali sayang."
"Jangan menyentuhku!"
"Aku tidak sedang menyentuhmu, kalaupun ingin aku pasti akan melakukannya di kamar kita." Sakura tidak menggubrisnya, sama sekali! Malah melangkah mendahului disertai semburat merah di pipi. "Hei cantik, tunggu. Papa ingin menciummu."
Sasuke sialan!
- 0 -
Mata pelajaran Biologi hari ini kosong lantaran Mei Sensei sedang berhalangan hadir, sebagian siswa-siswi banyak yang melakukan berbagai hal di kelas hingga mengakibatkan keributan. Ino tidak terlihat sejak belasan menit lalu karena dia keluar bersama Tenten, mereka jadi lumayan akrab beberapa minggu ini. Di bagian belakang, mayoritas laki-laki bermain games online sedangkan para perempuan terlihat saling mengobrol dengan ditemani beberapa snack di bangku mereka. Diamatinya sedikit posisi Sai, dia memanfaatkan waktu kosong untuk beristirahat. Lalu tiba-tiba saja Naruto muncul dari balik pintu kelas, wajahnya kusut sekali seperti baru menerima kabar duka.
Sasuke berjengit, menatap pergerakan Naruto yang sekarang duduk di sampingnya. "Dari mana saja kau?"
"Dari toilet." Dia masih saja bermuka datar.
"Ada apa dengan wajahmu itu? Aneh sekali."
Naruto spontan bereaksi, ia balas menatap Sasuke."Ku beri tahu, tapi kau jangan mengatakan pada siapapun."
"Hn."
"Benar? Kau tidak akan melanggar ucapanmu kan?"
"Cepat katakan, Naruto." Sasuke jadi jengkel sendiri.
"Kakak perempuanku sedang hamil."
"Lalu apa masalahnya?"
"Dia muntah ketika melihat wajahku, dan itu membuatku harus terusir dari rumah." Sasuke cukup maklum karena Naruto belum mengerti masalah ini.
"Ku rasa itu wajar saja, perempuan hamil memang terkadang memiliki sikap dan keinginan yang aneh."
"Tetap saja ini benar-benar tidak adil bagiku."
"Kau harus bersabar, mereka terkadang bisa terlihat manis kok."
Mungkin penjelasan Sasuke terdengar aneh bagi Naruto, dia antusias sekali. "Kau kenapa jadi serba tahu mengenai perempuan hamil begini?"
Dasar memang Sasuke yang bodoh.
Rasa-rasanya sedikit aneh, Naruto menyipitkan matanya curiga. Sejujurnya sudah lama sekali ia penasaran mengenai desas-desus yang mengatakan jika salah seorang siswi dari angkatan mereka hamil bersamaan menghilangnya Sakura secara tiba-tiba, bahkan Naruto semakin yakin tatkala Sasuke tidak pernah sedikitpun membahas kekasihnya itu di sekolah. Dia juga sering mendapati luka membiru, padahal yang Naruto tahu Sasuke bukanlah tipe orang yang suka berkelahi. Berani bertaruh, temannya ini tidak bisa menyangkal lagi. Sasuke sendiri yang mengatakan dengan percaya diri mengenai perempuan hamil, gayanya bahkan seperti seorang suami.
"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku?" Balasannya hanya sebuah lirikan dari Sasuke. "Ayolah, kau tidak perlu khawatir aku akan membeberkan rahasiamu. Aku ini kan temanmu sejak sekolah menengah pertama, kau pasti tahu bagaimana sikapku."
Meskipun Naruto bengal, tetapi Sasuke sangat tahu jika dia tidak mungkin bermulut dua. "Kita tidak bisa membahas hal itu di sini."
"Tidak akan ada yang bisa mendengar jika kau mengecilkan volume suaramu, sialan!" Oh, baiklah. Sekarang Naruto yang naik pitam. "Aku merasa aneh saja, sudah beberapa bulan kekasihmu tidak bersekolah tapi kau tidak sedikitpun membahasnya. Dan lagi, beberapa gadis mengatakan jika kekasihmu itu tengah hamil."
Cepat atau lambat semua orang akan tahu. Dipeluk gelisah, Sasuke mulai membuka mulut untuk mengungkapkan kebenaran. "Benar, Sakura memang tengah hamil."
Naruto sudah menduganya, ia sedikit melirik siswa-siswi lain di kelas yang masih melakukan kegiatan mereka masing-masing. "Anak siapa?"
"Tentu saja anakku, dia mana pernah melakukannya dengan laki-laki lain."
Seperti bukan Sasuke saja, padahal seingat Naruto punya temannya itu sangat mungil. "Kau tidak berbohong padaku kan?"
"Apa untungnya aku berbohong?"
"Ku tanya, ketika melakukannya kau mengeluarkannya di luar atau di dalam?"
"Apanya?"
"Itu."
"Itu apanya?" Benar-benar bodoh.
"Sperma, tolol!"
Mulutnya itu, Sasuke merutuki keputusannya yang mau berteman dengan orang semacam Naruto. "Waktu itu aku tidak mengerti. Lagi pula Sakura sangat cantik, dan aku tidak bisa mengendalikan diri."
Alasan yang tidak bisa diterima Naruto. "Jika kau menggunakan otak maka semua ini tidak akan terjadi, kau juga bisa menggunakan kondom misalnya."
Naruto tidak mengelak jika ia sering sekali tidur dengan beberapa perempuan, namun ia masih bisa menjaga kemungkinan buruk itu. Setidaknya memakai pengaman. "Aku sangat mencintainya, mana mungkin aku menggunakan itu dalam keadaan yang sama-sama menginginkan."
"Jangan menjadikan cinta sebagai alasan, tolol sekali kau tahu? Jika kau benar-benar mencintainya, seharusnya kau tidak merusaknya."
"Lalu apa bedanya denganmu?"
Bukan seperti ini, Naruto menggeleng cepat membalas tuduhan Sasuke. Mungkin jika lelaki baik-baik seperti Sai yang mengatakan hal demikian maka tanggapan temannya ini akan lain, sayangnya dia tengah tertidur pulas di bangku depan sampai dengkurannya terdengar. Entah kenapa Naruto merasa miris, ia tidak begitu setuju mengenai alasan Sasuke yang melakukannya dengan Sakura atas dasar cinta. Naruto memang sering melakukan, tetapi tidak sedikitpun ia pernah menggunakan hatinya hanya demi kesenangan sementara.
"Apa semua orang tahu ini? Maksudku, keluargamu dan keluarga Sakura?"
"Mereka sudah tahu, dan kami langsung dinikahkan."
"Memangnya dia sudah berapa bulan?"
"Sekarang sudah delapan bulan setengah, tidak lama lagi Sakura akan melahirkan."
"Kalau begitu semoga semuanya lancar."
Dan Sasuke juga berdoa demikian.
To be continue...
