"Namaku Haruno Sakura."
Cukup banyak siswa maupun siswi yang bergantian memperkenalkan diri di depan kelas, tetapi sungguh hanya gadis dengan helaian sepinggang ini saja yang membuat Sasuke menatapnya penuh minat. Ia sangat cantik, tetapi senyumnya menawan sekali. Ia bukan tipe orang yang terlalu peduli pada sekitar, sampai ia memiliki teman sekelas seperti Sakura pun baru disadarinya sekarang. Jika melihat dari gesturnya, Sakura merupakan pribadi pendiam. Gadis itu sedikit tersipu ketika Shizune Sensei menanyakan mengenai rambutnya yang berwarna merah muda. Ayah Sakura merupakan seorang pria Jepang asli, dan dia sendiri juga bingung kenapa bisa rambutnya berbeda. Sasuke ikut tertawa seperti yang lain, dia benar-benar gadis polos.
"Kau cantik dengan rambutmu itu, cocok sekali dengan Uchiha Sasuke. Benarkan anak-anak?"
Kena kau! Pipi Sasuke langsung merah padam saat namanya disebut. Ditambah lagi Sakura langsung melihat ke arahnya, otomatis pandangan mereka beradu. Siulan demi siulan mengudara di ruangan itu, Sasuke sampai harus mendengus jengkel untuk mendiamkan semua orang. Memang tidak ada salahnya, toh Sakura juga cantik. Tetapi tetap saja Sasuke sedikit merasa kesal jika digoda seperti ini. Apalagi mendengar teman sebangkunya Naruto sedari tadi berseru jika gadis yang tengah Shizune Sensei jodohkan dengannya itu memiliki bokong yang seksi. Ya ampun, dia minta dihajar! Kembali pada kesadarannya, Sasuke memalingkan muka ke luar jendela. Sakura sendiri sudah berada di tempat duduknya seperti semula, sebangku dengan Ino.
Hanya sekelibat memori seiring berjalannya waktu keduanya jadi semakin dekat. Sasuke bahkan tidak perlu sungkan lagi untuk menunjukkan ketertarikannya pada Sakura, lalu di akhir pergantian semester mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Sakura sempat ragu ketika menerima Sasuke yang notabenenya teman dekat Naruto, itu artinya mereka jelas tidak jauh beda. Naruto itu terkenal badung dan suka mempermainkan perempuan, namun prasangka buruknya seketika sirna ketika Sasuke mulai sering memberinya hal-hal romantis tidak terduga. Hanya saja, Sakura terkadang sedikit was-was akan permintaan Sasuke yang sedikit intim. Berulang-ulang menolak, nyatanya baru satu bulan menjalin hubungan bibir Sakura sudah berulang kali menjadi jajahan Sasuke.
Ini bukan sesuatu yang baik, Ino bahkan sering mengingatkan untuk tidak melakukan lebih dari itu lagi. Tapi sepertinya dua-duanya tidak ada yang dapat menahan diri. Perlakuan Sasuke yang selalu lembut, ini menjadi faktor utama kenapa Sakura bisa dengan mudah terpedaya sampai harus rela kehilangan keperawannya. Kemudian di percintaan mereka untuk kesekian kali, si perempuan harus menelan pil pahit jika dirinya tengah mengandung buah cinta mereka.
Bodoh!
Bodoh sekali!
Sasuke menggenggam erat tangan Sakura, potongan ingatan kala itu tiba-tiba saja mengisi otaknya. "Sayang, ku mohon bangunlah."
Perempuannya mengalami preeklampsia, yang sialnya baru ia tahu sekarang. Semalaman ia menunggu namun tidak ada pergerakan berarti, Sakura tetap terbaring koma dengan bantuan alat medis. Sasuke tidak bisa berbuat apa-apa selain menatap nyalang wajah istrinya. Dan ini seolah menjadi sebuah tamparan dari Tuhan, untuknya yang telah berdosa besar. Sungguh, ia belum bisa menangis.
Belum saatnya.
"Mizuo masih sangat membutuhkanmu, begitu pula aku."
Karena keadaan ini arah hidupnya seolah terlunta-lunta, Sasuke tidak dapat memprioritaskan apa pun lagi selain Sakura. Ibunya yang merawat Mizuo di rumah sedangkan dirinya terus di sini. Sasori tiba-tiba membuka pintu rawat Sakura, memberinya isyarat untuk keluar sebentar. Separuh tidak rela, genggaman tangannya akhirnya terlepas. Sasuke menganggukinya, kemudian Mebuki masuk ke ruangan itu dengan perasaan campur aduk. Frasa-frasa indah yang seperti mengungkap adverbia, seluruhnya seperti ilusi. Sakura adalah kesayangannya, putrinya yang sangat Mebuki cinta melebihi apa pun. Meskipun anak itu telah menyakiti hatinya, tetapi sumpah mati ia tetap tidak bisa membencinya.
"Sakura, apa kau mendengarkan suara Ibu?" Bibir Mebuki begitu dekat dengan telinga Sakura, dan ini terdengar seperti rintihan rindu. "Ibu sudah memaafkan kesalahanmu, Ibu sudah melupakan semuanya. Jadi Ibu mohon cepat bukalah matamu."
Seberkas sendu itu kian menggebu.
"Sakura, bangunlah. Maafkan Ibu karena jarang menemuimu, maafkan Ibu..."
Sasori dan Sasuke hanya dapat mendengar samar-samar suara Mebuki yang tengah menangis tersedu-sedu sembari bicara pada Sakura, tapi dia tidak mendapati reaksi apa pun. Seluruh keceriaan yang biasa menghiasi wajah Sasuke seperti hilang entah ke mana, lalu Sasori menyadarkannya akan realita ketika pandangan keduanya bertemu. "Izuna baru saja menelponku, dia akan datang ke sini. Kau bisa pulang ke rumah, aku dan Izuna yang akan menjaga Sakura selagi kau tidak ada."
Bagaimana bisa. "Tidak, aku akan tetap di sini."
"Jangan egois, pikirkan dirimu juga Mizuo." Kadangkala luka itu membuatnya buta. "Kau pasti butuh istirahat, jadi sekarang pulanglah."
"Aku tidak bisa meninggalkannya."
"Sakura adik perempuanku satu-satunya, biarkan aku menjaganya." Ada perasaan berat menghinggapi. "Percayalah, Sakura akan baik-baik saja. Sakura akan membuka mata dan kembali tersenyum untuk kita."
Sejujurnya, Haruno Sasori tidak begitu yakin dengan ucapannya sendiri.
Sasuke menuruti perintah Sasori, ia pergi dari sana dengan perasaan hampa. Pertemuannya dengan Isabel kali ini terasa lain, bahkan sudah tidak ada lagi tatapan tajam yang diberikan perempuan tua itu padanya. Hari terasa lebih muram, dan Sasuke merasa dirinya sangat letih. Hampir puluhan menit menyusuri jalanan dengan motor miliknya, Sasuke tiba di rumah sekitar pukul setengah dua siang. Mikoto menyambutnya dengan ekspresi khawatir, tidak luput membiarkan Sasuke mengambil alih menggendong Mizuo.
"Bagaimana keadaan Sakura-chan?"
Terasa benar-benar letih. "Masih tidak ada perkembangan apapun Bu, dia masih tidak juga membuka mata."
- 0 -
Aku melihat kabut itu di tengah hujan. Perlahan memudar. Bersamaan dengan hilangnya dirimu. Aku, luruh...Rasanya begitu buruk.
Sudah hari ke tiga, keadaannya semakin memburuk. Dan di detik-detik mendebarkan ini, semuanya seperti menemui kepedihan. Sasuke harus berbaik hati pada kenyataan ketika paramedis mulai melepaskan alat bantu Sakura bernafas, dadanya bergemuruh. Sakura adalah kebahagiaan terbesarnya, Sasuke tidak rela dia pergi secepat ini. Air matanya mulai berjatuhan, ini begitu sulit sekali dia kendalikan. Sungguh...
"Sayang, apa tidak bisa? Apa tidak bisa kau bertahan lebih lama lagi?" Mendekap erat tubuh dingin Sakura, lagi-lagi perasaan bersalah itu mulai menyeruak. "Sakura, maafkan aku. Ku mohon buka matamu, ku mohon."
Mustahil.
"KU MOHON BUKA MATAMU SAKURA, BUKA MATAMU!!" Teriakan Sasuke yang nyaring itu membuat semua orang menatapnya iba, tapi tidak dengan Mebuki. Dia melangkah mendekati lelaki itu dengan perasaan murka, sampai satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Sasuke. "Ibu..."
"KAU BOCAH SIALAN, INI SEMUA SALAHMU!!"
Apa lagi, Tuhan.
"PUTRIKU AKAN BAIK-BAIK SAJA JIKA TIDAK KARENAMU!! PUTRIKU AKAN BAIK-BAIK SAJA JIKA TIDAK MENGANDUNG DAN MELAHIRKAN ANAKMU!!"
Cukup sudah, semua ini harus dihentikan. Sasori bertindak dengan sigap memeluk Ibunya yang berusaha memukuli Sasuke, seolah tidak peduli pada kehadiran Fugaku, Izuna, dan Ino yang mematung di ambang pintu. "Ibu, sudahlah."
"KENAPA BUKAN KAU SAJA YANG MATI?? KENAPA BUKAN KAU SAJA??"
Jika dia bisa, Sasuke lebih memilih dirinya saja yang menghilang dari muka bumi. "Ibu, berhentilah menyalahkan Sasuke. Sakura akan sedih jika Ibu berlaku seperti ini."
Masih dilingkupi perasaan pedih, Sasuke tidak sanggup hanya untuk sekedar menatap wajah Mebuki. Ia sangat berantakan dengan bulir air mata yang mengalir di pipi. Tidak! Sasuke tidak menangis karena mendapati tamparan dari Mebuki, tangis ini karena Sakura. Bukan hanya Sasuke yang merasakan sakitnya, semua orang di sana juga demikian. Ino tidak dapat berbuat apa pun lagi, tubuhnya merosot mengikuti gravitasi. Sampai akhirnya tangis itu pecah tanpa mampu ditahan. Sahabatnya, perempuan pendiam yang selalu mengerti. Ino memang sering sekali mengomelinya, tapi Sakura tidak pernah menaruh dendam. Mereka menjadi teman sepermainan yang cocok, menghabiskan suka dan duka bersama.
"Sakura..." Ino mendongak menatap ekspresi kosong Sasuke, ia kemudian berdiri dan mendekati laki-laki itu untuk mengutarakan maksudnya. "Sasuke, kalian sudah berjanji untuk bersamakan? Aku tahu itu, tapi kenapa kau membiarkannya pergi? Kenapa??"
Mata Sasuke berkunang-kunang, bahkan ketika Ino mencengkeram kerah bajunya sama sekali tidak memberikan pengaruh apa pun. Hanya tetes demi tetes yang terus mengalir di kedua pipinya. "Andai aku bisa..."
"Seharusnya kau membuatnya bahagia!!" Bukannya Ino murka, ia hanya terlalu kecewa.
Fugaku kebingungan untuk menempatkan diri, lebih memilih diam dengan wajah sedih. Bahkan Izuna yang biasanya banyak tingkah kini malah terlihat muram, ia sebenarnya juga ingin menangis tetapi urung. Sekali lagi, Sasuke kembali membuka mulutnya. "Andai aku bisa..."
"Kau menjengkelkan!! Kembalikan sahabatku, kembalikan Sakura padaku!!"
Dari awal selalu Sasuke yang paling disalahkan, menjadi pihak yang sering mendapati makian kasar. Izuna tidak dapat membayangkan lagi sedalam apa kepedihan adiknya itu, menanggung semuanya sendiri. Sungguh jika Izuna berada di posisi Sasuke, ia mungkin sekarang lebih memilih bunuh diri. Sudah sangat perih, semakin bertambah lagi sakitnya. Kasihan sekali. Izuna tidak tega. Ia mulai mendekati Sasuke ketika Ino telah melepaskan cengkeramannya, setidaknya dengan sebuah pelukan dapat membuat adiknya sedikit tenang. Izuna tidak peduli dengan tatapan yang lain, ia justru semakin mempererat pelukan mereka. Pelan-pelan dielusnya rambut hitam lebat Sasuke, bagaimanapun juga ini sudah menjadi batas kesanggupannya.
"Bersabarlah." Membiarkan Sasuke menumpahkan tangisnya, Izuna ikut terpukul juga.
Bayang-bayang semu, Sasuke mengarungi dasar tergelapnya. Mencoba menemukan keselarasan hidup, segala distorsi kian ia remukkan. Sasuke memejamkan matanya di sela-sela tangis. Tapi ketika ia kembali melihat mendung pekat, dimensinya seolah berpindah tempat. Di mana Izuna dan yang lain? Ia yakin tidak salah lihat, hanya emerald itu saja yang mampu menggoyahkan fokusnya. Sasuke berkedip beberapa saat untuk memastikan, yang didapatinya memang nyata. Sakura tengah menatapnya jengkel sembari menggendong Mizuo.
Ini membingungkan.
"Ada apa dengan ekspresimu itu? Ini sudah pukul lima sore, cepatlah bangun dan segera mandi." Mimpi?
Sasuke menggelengkan kepala tidak yakin, hal itu memberikan tanda tanya untuk Sakura. Kemudian suaminya tiba-tiba meloncat dari ranjang dan langsung memeluknya erat. Baru ketika mendengar isakan serak Sasuke, Sakura jadi sedikit khawatir. "Heii, ada apa?"
"Ku pikir aku kehilanganmu."
"Sasuke-kun, aku baik-baik saja." Ini bukan ilusi, Sasuke dapat merasakan setiap lekuk Sakura. Perempuannya sehat dan tidak kurang apa pun. "Sebenarnya kau baru saja memimpikan apa?"
Ini sedikit memalukan, tiba-tiba menjadi sosok yang cengeng di depan Sakura. Sasuke melepaskan pelukannya untuk menatap si perempuan, menyatukan dahi serta hidung keduanya. "Memimpikanmu mengandung anak kedua kita."
Si mesum ini lagi-lagi, Mizuo bahkan masih berusia satu minggu. "Malam ini kau tidur di lantai ya Sasuke-kun?"
Perempuan yang menang dan akan selalu begitu. Sasuke hanya memberinya sebaris senyum, beralih menciumi wajah Mizuo yang berada dalam gendongannya. Satu waktu terasa membeku, Sakura mulai menahan napas saat wajah Sasuke kembali berhadapan dengannya. Semakin hari ia merasa jika laki-laki ini semakin tampan saja. Kemudian jantungnya berdetak kencang merasakan bibir Stefan melumat bibirnya, bukan suatu hal baru lagi namun Sakura selalu mengalami serangan mendebarkan itu. Keduanya saling mencecap, satu tangan Sakura bahkan sudah berpegang erat pada punggung kokoh Sasuke.
Sayangnya, kehangatan yang mereka rasakan harus hilang lantaran Sakura mendorongnya menjauh saat tangisan Mizuo menggema. Anaknya itu seperti tidak merestui, Sasuke harus banyak bersabar mulai detik ini. "Mizuo..."
Ketika kau terluka karena cintamu bertepuk sebelah tangan sendiri, maka berdoalah kepada Tuhan untuk seluruh kebahagiaannya.
Tidak ada cinta yang menyakitkan.
Tidak ada cinta yang menjerumuskan.
Kau hanya perlu mengendalikan diri.
The End
