Disclaimer : Jelas bukan punya saya!
Warning : Author Newbie!, OOC! Absolute Typo!
Pairing : Unknown
Summary : Ia adalah perempuan yang dikutuk oleh Dewi Athena karena dituduh melakukan perbuatan tercela dengan Dewa Poseidon di kuilnya. Disisi lain ia hanyalah seorang pria yang ingin mencari ketenangan setelah peperangan yang menewaskan orang tercintanya. Perlahan namun pasti benang merah diantara mereka mulai terikat, apakah takdir mempermainkan pria itu sekali lagi?
Selamat membaca!
.
.
.
.
.
"Tapi kali ini jangan lupakan bagianku ya" Cubitan kecil dari putri Athena membuat Naruto mengaduh sakit. Hei, dia kan sudah lama tidak makan enak, setidaknya maklumilah itu! Namun itu tidak bertahan lama karena pada akhirnya mereka tertawa lepas.
Satu hal yang tak disadari keduanya adalah doa Athena yang selama ini dilantunkan setiap hari selama bermilenia akhirnya terkabul. Harapan yang selalu Athena ulang-ulang setiap harinya.
'Aku hanya ingin putri kecilku dapat tertawa bahagia meskipun ia masih membenciku'
Karena doa dari ibu sangatlah kuat melampaui waktu dan semua kekuatan yang ada di dalam nalar semua mahluk hidup. Percayalah padaku, sebab ibumu juga melakukan hal yang sama kepadamu.
.
.
.
.
.
Chapter 13
Poseidon berjalan tergesa-gesa setelah memasuki Olimpus. Sapaan dari dewa yang dikenal dekat olehnya seperti Ares bahkan ia abaikan. Ares? Ia hanya mengendikkan bahu, tidak biasanya dewa penguasa Atlantis itu terburu-buru.
Brak!
Zeus sedang bercumbu dengan salah satu pelayannya di singgasananya terkaget ketika mendengar gebrakan Poseidon. Sang dewa air menatap datar pelayan yang bercumbu dengan Zeus mengisyaratkan untuk segera pergi dari sana segera. Ia menganguk paham dan lekas pergi memberikan ruang untuk Poseidon dan Zeus berbicara.
"Ada apa Poseidon? Kau menganggu waktu berhargaku!" Zeus berdecak kesal. Siapa yang tidak kesal saat melakukan sesuatu yang menyenangkan harus diganggu dengan saudaramu? Ia memiliki kesempatan meniduri seluruh pelayannya saat Hera sedang berlibur sekarang ke Switzerland.
Poseidon diam menatap Zeus dengan datar. Dewa petir yang menyadari kalau saudaranya yang memiliki kekuasaan di Atlantis sedang tidak main-main membuatnya juga ikut memasang ekspresi serius. Ada 2 hal yang menjanggal disini. Pertama, Poseidon hanya akan datang ke Olimpus apabila ada masalah besar. Kedua, pada dasarnya sifat Poseidon itu santai dan jarang berekpresi serius berbanding terbalik dengan kakak tertua mereka, Hades. Dan sekarang wajah yang biasanya dipenuhi dengan ekspresi santai berubah 180 derajat.
"Ada masalah apa Poseidon?" Zeus mengulang kembali pertanyaanya namun dengan wajah dan nada yang serius. Sedangkan itu, Poseidon menghela nafas dan mengurut keningnya yang terasa pening. Masalah ini sebenarnya bisa selesai dari dahulu tapi karena mereka terlalu santai membuatnya merasa akan menghadapi suatu masalah yang sangat besar.
"Kau ingat dengan Medusa?" Alis Zeus terangkat mendengar itu. Maksudnya Medusa perempuan ular putri dari Athena yang gagal mereka perkosa? Kenapa hanya karena hal itu Poseidon seperti sangat panik?
"Apa kau datang kesini dengan wajah kusut seperti pakaian yang tidak dicuci, hanya karena gagal menikmati wanita ular itu? Sudahlah Poseidon, sebaiknya kau mencari manusia lain saja yang jauh lebih cantik" Poseidon ingin sekali memukul kepala adiknya dengan trisula emas kebanggaannya. Apakah otak Zeus hanya berisi tentang seks?
"Aku memiliki firasat Zeus dan kurasa kau tahu jika firasatku tak pernah salah" Zeus mengangukkan kepalanya teringat perang dengan para titan. Saat itu, Poseidon memiliki peran yang sangat vital karena bisa memprediksi serangan tiba-tiba dari para titan yang membuat mereka akhirnya menang dalam perang tersebut.
"Medusa akan membuat masalah yang sangat besar pada kita bahkan dapat menghancurkan Olimpus" Poseidon mengatakan hal itu dengan wajah serius. Zeus? ia terkejut luar biasa mendengar itu. Bagaimana mungkin mitologi yang ia pimpin selama bermilenia lamanya akan hancur hanya karena manusia siluman itu?
"Aku mengatakan itu bukan karena aku masih memiliki dendam dengan Athena" Poseidon memejamkan matanya mengingat mimpinya sebulan yang lalu. Selama perjalananya ke Olimpus, ia sadar kalau mimpinya saat itu berhubungan erat dengan Medusa.
"Sebulan yang lalu aku memiliki sebuah mimpi. Aku melihat Olimpus hancur sehancur-hancurnya. Kau lihat patung kebangganmu itu?" Poseidon menunjuk patung Zeus yang berdiri megah dengan memegang lightning boldnya melalui jendela ruangan yang besar. Patung itu adalah patung yang dibangun saat ia berhasil membunuh ayahnya, Kronos pada saat perang dengan titan sebagai simbol kehebatannya saat perang besar terjadi.
"Aku melihatnya dengan jelas kalau patung itu hanya menyisakan kepala dan tergeletak ditanah. Tapi ada yang jauh lebih penting dari itu" Poseidon sedikit berkeringat mengingat kembali mimpinya.
"Dibalik debu dari hancurnya patungmu, aku melihat seorang manusia berambut pirang. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya tapi yang pasti aku mengingat jelas mata itu" Zeus menegukkan ludahnya mendengar penjelasan Poseidon.
"Mata itu bersinar terang berwarna ungu berpola riak air dengan simbol magatama" Zeus terdiam mendengar itu. Mata berwarna ungu dengan pola riak? Ia baru pertama kali mendengar jenis mata aneh seperti penjelasan Poseidon.
"Lalu, apa alasanmu kalau dia memiliki hubungan dengan Medusa?" Poseidon menghela nafas setelah penjelasan panjangnya.
"Aku mendengarnya dengan jelas dia meneriakkan namanya menuntut kita untuk bertanggungjawab atas penderitaan Medusa selama menjadi siluman ular. Itu sudah sangat jelas kalau dia akan berkonflik dengan kita" Zeus menggertakkan giginya mendengar penjelasan Poseidon. Pada dasarnya dia adalah dewa yang paranoid sehingga hal sekecil itu tentunya akan sangat menganggu dirinya. Ini harus segera diatasi atau masalah besar lainnya akan muncul bersamaan yang pada akhirnya dapat menggoyahkan kekuasaanya.
"ARESS!" Dalam sekejap muncul Ares dihadapan dua dewa bersaudara itu dengan membungkukkan badannya. Sebenarnya ia sudah menguping pembicaraan mereka daritadi dan tahu akan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
"Ada apa kau memanggilku Ayahanda?" Biasanya ia tidak akan bersikap formal, tapi ketika melihat ekspresi Zeus yang sedang marah membuatnya harus menjaga sikap.
"Cari dan bunuh Medusa maka aku akan membuat Aphrodite menjalin hubungan resmi dan sah denganmu. Aku akan membuatnya bercerai dengan Hefaistos!" Ares yang mendengar itu tersenyum senang namun tidak terlihat karena dirinya masih membungkuk. Tentu saja ia akan dengan senang hati melakukannya! Selama ini ia harus diam-diam untuk bisa bercinta dengan kekasih gelapnya itu karena masih memiliki hubungan dengan suaminya, tapi sekarang ia bisa melakukannya dengan bebas! Membunuh Medusa bukanlah perkara yang sulit apalagi bagi dirinya yang merupakan seorang dewa perang dari Mitologi Yunani.
"Baiklah Ayahanda. Sesuai dengan permintaanmu" Ares kemudian pergi menghilang meninggalkan bekas api. Ia sudah sangat tidak sabar untuk bisa bercinta sepuasnya dengan Aphrodite tanpa harus diam-diam lagi. Kini hanya tersisa mereka berdua kembali di singgasana Zeus.
"Baiklah sudah saatnya aku kembali Zeus. Aku juga akan terus mencari keberadaanya" Zeus mengangukkan kepalanya dan perlahan Poseidon berubah jadi butiran air yang kemudian melayang pergi melewati jendela terbuka.
Banyak teori yang mengatakan kalau mimpi itu adalah buah tidur namun itu berbeda jika dewa yang mengalaminya. Biasanya para dewa sangat jarang bermimpi bahkan beberapa ada yang tidak pernah sama sekali. Namun, jika mereka bermimpi itu adalah pertanda untuk diri mereka atau lingkungannya. Apakah mimpi dewa Poseidon juga begitu? Siapa manusia yang dimaksud dari mimpinya?
.
.
.
.
.
Medusa menatap Naruto dengan pandangan kesal yang dibalas dengan senyum mengejek. Bagaimana dirinya tidak kesal jika keinginannya selama bermilenia hanya untuk makan enak harus terhambat hanya karena permainan anak-anak, Jenga (Permainan menarik balok dari tower yang sudah disusun).
Awalnya mereka berniat langsung makan, tapi Naruto menantangnya untuk bermain sebuah permainan. Peraturannya sederhana, yang menang akan memakan satu onigiri yang sudah dibawa Naruto dan yang kalah hanya bisa menatap pemenang menikmati onigiri. Tentu saja Medusa menyetujuinya, ia sangat yakin kalau bisa menang dari permainan anak-anak seperti ini.
Stttttt!
Brak!
"Astaga! Kenapa ini sulit sekali!" Medusa mengerang kesal. Ini sudah kali ke empat dia kalah karena sudah menjatuhkan balok pada gilirannya.
"Hehh apa hanya ini kemampuanmu?" Alis Medusa berkedut mendengar nada mengejek dari ninja kuning. Hooo mentang-mentang sudah menang empat kali dia sombong ya. Padahal kenyataannya Medusa belum memenangkan permainan Jenga ini sekalipun dari Naruto.
"Lihatlah, onigirinya tersisa satu. Kalau kalah sekali lagi maka kau tidak bisa memakan onigiri terakhir" Senyum licik tampil di wajah Naruto. Tidak, ia tidak bermain curang disini dengan menggunakan Sharingan ataupun trik lainnya, ini murni dari keberuntungannya.
"Aku yang akan memakan onigiri terakhir itu!" Medusa kembali menyusun blok jenga seperti semula dan permainan kembali dimulai.
"Kau duluan Naruto"
Permainan kembali dimulai yang diawali dengan tarikan balok dari Naruto. Ia menarik balok no 5 dari bawah dan berhasil tanpa membuat susunan baliknya jatuh. Medusa kemudian melakukan gilirannya dan mengambil balok no 3 dari atas dan juga berhasil tanpa membuat susunan baliknya roboh.
Permainan berjalan dengan saling bahu-membahu untuk menjatuhkan lawan hingga akhirnya tibalah diakhir permainan. Sekarang adalah giliran Medusa dan menara balok sudah terlihat bergoyang-goyang menandakan keseimbangan yang mulai goyah.
"Menyerahlah Medusa. Aku sudah pasti menang" Naruto tersenyum mengejek untuk memprovokasi Medusa namun diabaikan olehnya. Ia harus berkonsentrasi penuh agar bisa memenangkan permainan ini.
Srettt
Medusa perlahan menarik balok nomor 2 dari bawah dengan sangat hati-hati. Dia sudah sangat lapar karena tidak makan dari pagi dan jika kali ini gagal maka onigiri terakhir yang jadi bahan taruhan akan dimakan pemuda kuning didepannya.
Set
"Yesss berhasil! Sekarang giliranmu Naruto!" Medusa berteriak kegirangan karena berhasil menarik baliknya tanpa membuat menaranya rubuh.
Naruto speechless menatap menara balok di depannya yang sudah bergoyang-goyang tanpa ia menyentuhnya. Tidak ada harapan. Tapi ia harus tetap mencoba, mungkin dewi fortuna masih berpihak padanya.
Settt
Brak
Sepertinya dewi fortuna punya batas kesabaran padanya juga.
"Wekkkk! Aku ambil onigirinya" Tanpa menunggu balasan dari Naruto, ia langsung melahap habis onigiri isian salmon yang terakhir. Enak. Itulah yang dirasakan Medusa saat memakan makanan buatan Naruto. Untuk onigiri ia pernah memakannya sewaktu tinggal di Yunani bersama ibunya. Kala itu Dewi Amaterasu datang berkunjung dan membawakan onigiri sebagai oleh-oleh khas Jepang.
Sementara Medusa melahap onigiri terakhir buatannya, Naruto tersenyum tulus melihat perubahan sikapnya yang sudah drastis semenjak pertama kali mereka bertemu. Ia ingat saat Medusa bersifat sangat waspada padanya bahkan bisa terjadi pertempuran kalau ia tidak hati-hati.
Tapi sebenarnya bukan itu.
Tidak hanya Medusa yang berubah, tapi dirinya juga. Naruto sangat membatasi pertemanannya semenjak tiba didunia barunya, akan tetapi setelah pertemuannya dengan Athena dan Medusa, ia berubah dan berani untuk menjalin hubungan kembali. Tidak seperti pertemanannya di Akademi Kuoh yang hanya sekedar formalitas.
"Makannya pelan-pelan Medusa, nanti kau tersedak" Ia terkekeh melihat tingkah konyol Medusa. Melihat ekspresinya sekarang entah kenapa tidak membuatnya terintimidasi lagi seperti saat mereka pertama kali bertemu.
Glup
"Ahhh makanan buatanmu enak sekali Naruto. Tapi aku masih lapar" Medusa mengusap perutnya yang masih kelaparan. Ada 5 onigiri dan 4 lainnya dimakan Naruto. Tentu saja ia masih lapar. Salahkan permainan ini yang membuatnya tidak bisa memakan setidaknya 2 onigiri lagi.
Pofff
"Ambil saja semua makananku. Aku masih bisa memasak lagi setiba didunia manusia" Naruto melakukan single handseal dan memunculkan 3 buah Dorayaki yang disimpannya.
"Ini apa Naruto?" Medusa mengangkat satu buah dorayaki dan melihatnya dari berbagai sisi.
"Itu Dorayaki makanan khas Jepang. Coba saja, pasti kau suka" Tanpa menunggu waktu lagi, ia langsung memakan roti isian kacang merah kesukaan salah satu anime terkenal.
"E-enak" Medusa merasakan sesuatu sensasi yang baru dengan olahan roti yang diisi dengan kacang merah.
"Makan saja sepuasnya, kalau tidak habis bawa saja sisanya ke rumahmu" Medusa menganguk bahagia dan langsung memakan makanannya.
'Aku rasa dia sangat mirip denganmu di beberapa bagian' Suara Kurama terdengar di pikirannya.
'Maksudmu?'
'Lupakan. Kau terlalu lambat untuk memahami hal seperti itu' Kurama memutus pembicaraan mereka dan langsung tidur kembali. Hanya membuang-buang tenaga saja jika Naruto sudah lemot seperti ini.
"-to, Naruto" Medusa mengibaskan tangannya didepan Naruto yang sedang berbicara dengan Kurama dialam bawah sadarnya.
"Ee-ehh ada apa Medusa?" Yang dibalas dengan tatapan khawatir dari putri ular.
"A-aku kira kau marah" Naruto memiringkan kepalanya mendengar itu. Marah? Dia hanya sedang berbicara dengan Kurama yang tidak mungkin ia ceritakan langsung pada Medusa.
"Kenapa kau berfikir seperti itu?" Medusa mengalihkan pandangannya dan menjawab dengan terbata.
"K-karna aku sudah menghabiskan dorayakimu" Keringat menetes di dahi Naruto. Astaga ternyata itu. Dan hei! Dorayaki yang ia bawa langsung habis hanya karena berbicara sebentar dengan Kurama? Yah hal itu bisa dimaklumi mengingat ia sudah sangat lama tidak memakan yang enak.
"Bukannya tadi sudah kukatakan kalau itu semua untukmu?" Medusa menganggukkan kepalanya polos. Ia lupa itu.
"Baiklah sudah saatnya aku kembali" Naruto berdiri yang diikuti dengan Medusa. Mereka membersihkan bekas makan yang tadi digunakan dan melipat tikar yang digunakan. Naruto melakukan handseal satu tangan dan seketika tikar dan bekas tempat makan yang mereka gunakan tadi menghilang menuju dimensi penyimpanan Naruto.
"Sepertinya kau terburu-buru. Apa kau ada urusan?" Naruto menggaruk kepalanya dan cengengesan. Kebiasaan kecil yang dari dulu tidak pernah hilang.
"Aahh aku hanya ingin bermain dengan kadal nakal yang sering mengangguku akhir-akhir ini. Biasanya dia muncul kalau sudah jam malam di tempatku" Medusa memiringkan kepalanya mendengar itu. Apa kadal itu sangat menganggu pemuda didepannya? Sepertinya tinggal bermilenia disini membuatnya ketinggalan informasi tentang kadal spesies baru. Setidaknya itulah yang ada dipikiran Medusa.
"Apa kau ada permintaan sebelum aku pulang?" Medusa berfikir dengan jari telunjuk di pipi. Keinginan yang sudah sangat lama tidak terpenuhi dan ingin ia dapatkan lagi. Itu adalah...
"Aku ingin cookies buatan ibuku" Naruto tersenyum mendengar permintaan Medusa. Ia sudah mulai bisa berdamai dengan masa lalunya.
"Tentu saja aku akan memenuhi permintaanmu" Medusa tersenyum senang sebelum akhirnya dia menunduk dan bercicit kecil.
"T-tapi j-jangan beritahu ibuku pertemuan kita berdua" Naruto tersenyum jahil mendengarnya.
"Jadi bagaimana caranya aku meminta Dewi Athena supaya dia mau membuat cookies?"
"Pikir sendiri!" Naruto tertawa mendengarnya.
"Baiklah, sampai bertemu lagi" Medusa menganguk yang diikuti kilatan kuning tanda kepergian Naruto.
.
.
.
.
.
Dragon shoot!
Blast!
Blarrr!
Issei menembakkan bola merah yang telah dikumpulkan di sacred gearnya yang berbentuk gauntled naga merah ke arah iblis liar berbentuk harimau. Iblis itu sudah sekarat setelah bertarung dengan Koneko dan Kiba sehingga ia hanya perlu mengeksekusinya sesuai perintah rajanya. Tidak bisa menghindar dan akhirnya iblis harimau itu menghilang menuju ke ketiadaan.
"Kerja yang bagus Issei" Rias bersidekap dan tersenyum atas kerja dari Issei.
"Aku ingin melawan seseorang yang lebih kuat. Melawan iblis liar yang lemah membuatku bosan" Ia menggerutu dengan kesal.
"Jika kau berkata seperti itu, bagaimana kalau kau bertarung denganku?" Kelompok Rias secara bersamaan menatap ke arah sumber suara yaitu atas dari tiang listrik yang berada tidak jauh dari mereka.
"I-itu Kitsune" Kiba berkata dengan tangan bergetar menunjuk Naruto yang mengenakan topeng kitsune dan setelan anbunya. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana pedangnya langsung patah hanya dengan sekali beradu pedang dengannya.
Naruto melompat turun yang berjarak hanya 20 meter dari kelompok Rias. Ia sudah sangat gatal memberi mereka pelajaran khususnya pemuda mesum itu yang sering memelototinya di kelas. Siapa yang tidak terganggu?
"Bukannya kau bilang kau hanya membunuh iblis liar?" Koneko mengingat perkataan Naruto terakhir kali mereka bertemu.
"Apa kau tidak ingat kalau aku benci dengan iblis? Apa kalian malaikat?" Rias peerage menegang mendengar itu dan memasang posisi bertarung.
"Tunggu dulu buchou!" Rias menoleh ke arah Issei.
"Ada apa?" Issei dengan tersenyum sombong mengepalkan tangannya.
"Biarkan aku melawannya sendiri!"
"Jangan bodoh Issei! Apa kau tidak ingat dia mengalahkanmu dengan Kiba saat itu?" Ia tidak habis pikir dengan kelakuan bidak pawnnya. Apa kepalanya terbentur sampai tidak mengingat kekalahannya saat itu?
"Saat itu aku hanya lengah dan sekarang aku sudah jauh lebih kuat daripada saat itu. Percayakan padaku!" Rias bimbang dengan permintaan bidaknya namun tidak lama kemudian dia menghela nafas. Issei memang sudah jauh lebih kuat, apalagi ia sudah mengalahkan Raiser meskipun dengan bantuan air suci.
"Baiklah aku mengerti. Tapi jika terjadi apa-apa denganmu kami akan langsung bertindak" Issei tersenyum mendapatkan ijin dari tuannya. Ini saatnya balas dendam dengan kekalahannya yang memalukan saat itu!
'Sepertinya dia memang berniat bunuh diri'
"Apa kau yakin melawanku sendirian?" Tangan Naruto sudah sangat gatal saat ini. Kesombongan bocah didepannya jauh melebihi Sasuke. Setidaknya kau harus benar-benar kuat jika ingin sombong.
"Aku sendiri sudah lebih dari cukup melawanmu rubah kecil" Issei maju dan tersenyum mengejek.
"Baiklah kalau seperti itu" Naruto melakukan handseal untuk menciptakan 4 bunshin yang langsung menyebar cepat membentuk 4 persegi.
Shisekiyojin
Kubah merah berbentuk segi empat segera terbentuk dengan empat bayangan Naruto sebagai pusatnya. Mereka juga ikut terlindungi dengan kubah yang lebih kecil sehingga mereka tidak bisa di serang dari luar. Penghalang itu mengurung Issei dan Naruto didalamnya sementara kelompok Rias berada di luar penghalang.
Ini adalah jutsu penghalang yang hanya bisa dilakukan dengan kekuatan empat kage. Jutsu ini pernah digunakan pada saat Perang Dunia Shinobi IV untuk mengurangi pergerakan Juubi. Untuk ketahanannya tidak perlu diragukan karena merupakan hasil dari gabungan kekuatan empat kage.
Lantas bagaimana dengan Naruto? Kekuatannya sudah sangat kuat, bahkan kekkai yang ia buat memiliki kekuatan yang setara bahkan lebih dari pendahulunya, meskipun yang menggunakannya hanyalah bunshin.
"Apa ini?" Rias mencoba menyerang kekkai itu dengan kekuatannya 'Power of Destruction' namun tidak memiliki efek apapun bahkan tidak meninggalkan goresan. Itu sudah membuktikan bagaimana kuatnya kekkai yang dibuat oleh Naruto.
"Ini adalah kekkai yang akan menjadi tempat pertarungan kami. Percuma kalian menyerang kekkai yang aku buat, bahkan kakakmu yang seorang Maou juga tidak akan bisa menghancurkannya" Rias panik mendengar perkataan Naruto. Jika memang betul seperti itu, maka dapat dipastikan Naruto adalah orang yang sangat kuat.
"Tenang saja buchou, aku akan memberi pelajaran pada rubah kecil ini" Naruto tertawa mendengar perkataan Issei.
"Teruslah menyombong selagi bisa Issei. Setelah ini aku akan membuat mulutmu menjerit minta ampun" Naruto tertawa melihat Issei yang masih menyombong. Apa dia tidak sadar batasan kekuatan mereka berdua?
"Baiklah, mari berdansa!"
.
.
.
.
.
To be Continued
Saya minta maaf apabila saya agak lambat dalam hal update. Minggu ini saya sangat sibuk ditambah kemarin juga sakit itu membuat tulisan saya semakin lama berlanjut. Apalagi membagi waktu antara kerja dengan hobi, sepertinya saya memang harus bijak dalam manajemen waktu.
Baiklah, bagaimana tanggapan kalian terhadap chapter ini? Saya tidak bisa berkespetasi tinggi seperti chapter kemarin karena saya sadar dalam menulis chapter ini saya dalam kondisi kurang sehat ?
Akhirnya Naruto benar-benar berniat melepaskan kekesalannya. Yahhhh siapa juga yang ga kesal kalau dipancing terus?
Apakah kalian ada masukan? Atau saran? Silahkan ditulis di kolom komentar dan mari berbincang hehehehe
Akhir kata apabila ada salah kata dan perkataan, saya minta maaf sebesar-besarnya. Peluk hangat pada pembaca semua dimanapun kalian berada (((o( ´▽' )o)))
