Disclaimer : Jelas bukan punya saya!

Warning : Author Newbie!, OOC! Absolute Typo!

Pairing : Unknown

Summary : Ia adalah perempuan yang dikutuk oleh Dewi Athena karena dituduh melakukan perbuatan tercela dengan Dewa Poseidon di kuilnya. Disisi lain ia hanyalah seorang pria yang ingin mencari ketenangan setelah peperangan yang menewaskan orang tercintanya. Perlahan namun pasti benang merah diantara mereka mulai terikat, apakah takdir mempermainkan pria itu sekali lagi?

Selamat membaca!

.

.

.

.

.

"Tenang saja buchou, aku akan memberi pelajaran pada rubah kecil ini" Naruto tertawa mendengar perkataan Issei.

"Teruslah menyombong selagi bisa Issei. Setelah ini aku akan membuat mulutmu menjerit minta ampun" Naruto tertawa melihat Issei yang masih menyombong. Apa dia tidak sadar batasan kekuatan mereka berdua?

"Baiklah, mari berdansa!"

.

.

.

.

.

Chapter 14

Boosted Gear Activated!

Boost! Boost! Boost!

Boosted Gear Armored!

Issei menggandakan kekuatannya 3 kali dengan bantuan Sacred Gearnya serta mengaktifkan armor dari Ddraig. Boosted Gear adalah salah satu dari 13 Longinus terkuat yang dihuni oleh Red Dragon, Ddraig. Kemampuannya adalah menggandakan kekuatannya 2 kali lipat hingga tidak terbatas dengan jeda 15 detik. Namun, tentu saja semua kekuatan memiliki kelemahannya sendiri. Misalnya kelemahan dari Boosted Gear adalah...

'Pertarungan jangka pendek. Tidak akan ada musuh yang mau menunggu lawannya semakin kuat jika bertarung dalam jangka panjang' Naruto menganguk menyetujui pendapat Kurama.

'Kelemahannya terlalu mudah dianalisa'

"Bersiaplah menghadapi pedihnya dipermalukan sialan" Issei melesat cepat dengan melayangkan tinjunya ke arah Naruto yang masih berdiri dengan keadaan santai.

TAK!

"Terlalu mudah kadal merah. Pukulanmu tidak berbeda jauh dengan semut" Naruto menahan pukulan Issei dengan nada mengejek. Sementara itu, Issei yang mendengar nada merendahkan itu membuat emosinya semakin tersulut.

"Kau akan merasakan akibatnya sialan!"

Boosted Gear Activated!

Boost! Boost! Boost!

Issei melakukan pukulan beruntun yang telah diperkuat Sacred Gearnya ke arah Naruto yang tentu saja di tangkis dan dihindari tanpa ada niat sedikitpun untuk membalas. Terlalu mudah. Pukulannya tidak terlatih sama sekali. Itu hanyalah pukulan acak yang hanya dimodali dengan kekuatan yang dilipat gandakan dengan Sacred Gear. Apa jadinya ketika memiliki tenaga besar namun tidak bisa mengenai lawannya sama sekali? Sebuah kesia-siaan.

Rias yang melihat itu menggigit bibirnya cemas. Ia tahu lawan mereka kali ini bukanlah manusia sembarangan seperti manusia pada umumnya. Harusnya tadi ia tidak menerima permintaan bodoh dari pawnnya! Sudah sangat jelas terlihat kalau perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh.

"Semuanya, serang kekkai ini! Sudah sangat jelas kalau Issei tidak akan bisa mengalahkan Kitsune!" Semua peerage Rias memberikan serangan terbaik mereka untuk menghancurkan kekkai Naruto, namun semuanya tidak berdampak sedikitpun.

"Sudah terlambat iblis. Sedari awal kesalahan terbesarmu adalah sombong yang sudah menjadi ciri khas ras kalian. Berharap saja bos tidak membunuh teman kalian" Bunshin Naruto bergumam melihat tindakan sia-sia peerage Rias.

Kembali ke arah pertarungan Naruto dan Issei yang masih beradu pukulan, lebih tepatnya Issei saja yang memukul sedangkan Naruto hanya menghindar dan sesekali menangkis. Astaga! Apa iblis ini selemah ini? Dia semakin meragukan kekuatan Longinus yang dirumorkan dapat membunuh Tuhan.

'Aibou hati-hati! Manusia didepanmu bukan manusia biasa' Ddraig memperingatkan Issei yang masih melancarkan pukulannya.

'Aku tahu Ddraig! Apa kau ada ide untuk mengalahkannya?'

'Gunakan kekuatan terkuatmu. Hanya itu saja yang bisa membuatnya jatuh untuk saat ini' Issei menghentikan pukulannya dan melompat mundur.

"Sudah selesai berdiskusi dengan kadal kecilmu?" Issei menegang mendengar ucapan Naruto. Bagaimana dia bisa tahu?

Naruto mengangkat tangannya dan megacungkan jari telunjuknya membuat angka 1.

"Aku beri kau satu kesempatan" Issei mengerutkan keningnya.

"Apa maksudmu?" Naruto terkekeh mendengarnya. Sepertinya tidak hanya mesum, otak iblis didepannya juga jauh dibawah rata-rata hanya untuk memahami kalimat sederhana yang ia ucapkan.

"Aku akan memberimu satu kesempatan untuk menggunakan kekuatan terkuatmu untuk menyerangku dan aku tidak akan menyerang balik iblis bodoh"

Issei menggertakkan giginya mendengar itu. Ini sebuah penghinaan baginya sebagai salah satu kaisar naga surgawi! Dan seseorang yang sudah menghina kasiar harus mendapatkan akibatnya!

"Kau akan merasakan akibatnya sialan!" Issei memposisikan gauntlet didadanya dan berkonsentrasi mengumpulkan kekuatan.

Booster Gear Activated!

Boost! Boost! Boost! Boost! Boost! Boost! Boost! Boost! Boost! Boost!

Preparation to make Heavy Dragon Shoot!

Issei menggandakan kekuatannya sampai dengan sepuluh kali dan memposisikan gauntletnya ke arah Naruto. Perlahan energi merah mulai berkumpul di depan tangan Issei, membentuk sebuah bola yang perlahan membesar hingga berukuran 1 meter. Ini adalah kemampuan maksimalnya saat ini. Bola energi buatannya yang dibantu dari kekuatan Ddraig ini mampu menghancurkan gedung berukuran besar. Ia sangat percaya diri kalau serangannya ini akan membunuh Naruto.

"TERIMALAH KEMATIANMU SAMPAH!"

Heavy Dragon Shoot!

Blast!

Duar!

Serangan Issei yang berbentuk bola melesat cepat ke arah Naruto yang menatap malas serangan pemegang naga surgawi. Tidak ada sedikitpun niatan darinya untuk bergerak menghindari serangan Issei. Untuk apa? Satu lagi kelemahan bodoh Issei adalah tidak menganalisa apa saja kemampuan musuhnya.

Blarrrrrrr

Serangan Issei telak mengenai Naruto yang memang sedari awal tidak ada niatan untuk menghindar. Issei yang melihat serangannya berhasil mengenai Naruto tersenyum senang. Mati kau sialan! Itulah akibat dari meremehkan salah satu dari Kaisar naga merah yang Agung! Setidaknya itulah yang ada di pikiran Issei. Senyuman juga terpampang di raut muka peerage Rias melihat kemenangan teman mereka. Issei menang!

Tapi ada yang aneh disini! Seharusnya kekkai buatan Naruto menghilang karena ia sudah terbunuh dari serangan telak Issei. Kenapa kekkainya masih ada?

'Hati-hati Aibou! Aku masih merasakan hawa kehidupannya' Issei tersenyum sombong dan hanya menanggapi santai peringatan Ddraig.

'Paling ia hanya beruntung selamat tapi sudah dalam keadaan sekarat. Kekuatan kita tadi sudah sangat cukup membuatnya hampir mati Ddraig'

'Terserah padamu. Jikalau kau mati lagi, aku hanya tinggal mencari inang baru' Ddraig langsung memutus link obrolan mereka. Ia memiliki firasat kalau manusia yang dihadapi hostnya kuat. Sangat kuat.

Perlahan debu yang menghalangi pandangan mulai menghilang dan terlihatlah Naruto yang masih dalam keadaan baik-baik saja. Bola yang di tembakkan Issei masih dalam keadaan utuh namun tertahan oleh satu tangan Naruto. Semua iblis yang ada disana terkaget setengah mati terhadap serangan Issei yang tidak meledak sama sekali namun masih tetap dalam bentuk bola utuh. Perlahan pola mata Naruto berubah dan berputar pelan hingga berbentuk Rinne-sharingan Sasuke.

Gakido

Serangan Heavy Dragon Shoot Issei perlahan mulai mengecil terserap ke tangan Naruto. Buat apa dia menghindar kalau serangannya bisa diredam? Satu hal yang mutlak disini, dia tidak akan bisa terkalahkan jika berperang dengan menggunakan sihir!

"Percuma saja iblis bodoh. Apa hanya ini saja kemampuanmu?" Issei yang tidak terima karena direndahkan lagi oleh lawannya melesat maju dengan raut marah.

"TUTUP MULUTMU SIALAN!"

'LARI AIBOU' Terlambat. Peringatan Ddraig diabaikan oleh Issei dan tetap melayangkan tinjunya ke arah Naruto.

"Pelajaran pertama, ketahui dulu kemampuan musuhmu bodoh" Naruto menghindar dengan mengelakkan kepalanya dan membalas pukulan Issei dengan sikutan kaki kearah perutnya.

Buagh!

"Ohok!" Issei tertunduk sambil memegangi perutnya. Astaga apa-apaan kekuatan manusia ini? Harusnya dia jauh lebih kuat karena sudah di reinkarnasi menjadi iblis!

"Pelajaran kedua jangan pernah memalingkan mukamu dari musuh saat bertarung" Naruto menendang wajah Issei yang masih tertunduk dengan kaki kanannya membuatnya melesat keatas membentur atap Kekkai buatannya hinga menimbulkan sedikit retakan. Itu menandakan betapa kuatnya tendangan yang diterima Issei.

Sang pemegang naga surgawi melesat kembali kebawah dan membentur tanah. Ia masih sadar akan tetapi hampir tidak bisa menggerakkan badannya karena menerima dua serangan mematikan Naruto. Satu hal yang ia ketahui saat ini, sedari awal ia mustahil untuk menang.

Tap

Tap

Tap

Langkah Naruto yang berjalan kearahnya membuatnya seakan-akan mendengar musik kematiannya setelah ini. Ia tahu, setelah ini ia akan mengalami hal yang buruk. Sangat buruk.

"Bukannya aku sudah bilang padamu, jangan memalingkan wajahmu dari lawanmu?" Issei merinding mendengar pernyataan suara yang seakan-akan dewa kematian baginya.

Naruto kemudian membalikkan tubuh Issei yang masih telungkup dan sekarang dirinya sudah dalam posisi terlentang. Ia kemudian menduduki dada Issei dengan santainya yang merintih kesakitan. Badannya tidak bisa digerakkan sama sekali karena serangan mematikan Naruto.

"Apa hanya segini kekuatan iblis yang katanya lebih kuat dari manusia? "

Buagh!

"Kau itu lemah"

Buagh!

"Sangat lemah"

Buagh!

"Setidaknya kuat dulu baru menyombong"

Buagh!

"Sudah mesum"

Buagh!

"Bodoh lagi"

Buagh!

Naruto memukul Issei tanpa ada balas kasihan dengan ekspresi datar di balik topeng yang ia kenakan. Pukulan yang ia berikan memang sengaja tidak menggunakan chakra, karena itu dapat membuat Issei langsung tidak sadarkan diri, tapi tetap saja kekuatannya tidak bisa diremehkan. Enak saja dia langsung tidak sadarkan diri! Setidaknya ia harus memberinya shock terapi supaya sadar diri dimana tempatnya berada saat ini.

Rias yang melihat Issei disiksa hanya bisa berteriak dan memukul kekkai yang dibuat Naruto dari luar. Ia sangat menyesal karena membiarkan Issei melawan Kitsune yang mereka tahu sendiri adalah manusia kuat. Itulah letak kesalahannya. Sementara itu, bidak Rias masih terus berusaha menghancurkan kekkai Naruto namun tetap tidak membuahkan hasil apapun.

Keadaan Issei sudah sangat menggenaskan dengan wajah yang babak belur. Dirinya masih memiliki kesadaran namun untuk sekedar menggerakkan ujung kukunya saja dia sudah tidak mampu. Manusia didepannya bukanlah orang yang sembarangan.

"Dengar ya sialan" Naruto menarik kerah baju Issei yang telah berlumuran darah dari bekas pukulan Naruto. Dirinya sudah tidak berdaya dan hanya bisa pasrah menerima apapun yang terjadi padanya setelah ini.

"Aku akan memberimu satu kesempatan untuk berubah. Aku akan mengawasimu dan kujamin kau tidak akan mengetahui keberadaanku. Tapi jika kau melanggarnya..." Perlahan kesadaran Issei mulai menghilang namun ia masih sempat mendengar perkataan Naruto.

"Kupastikan kau akan kehilangan naga yang ada dalam dirimu"

.

.

.

.

.

Medusa bersenandung sambil memasukkan bumbu makanan ke dalam kuali, berisi ikan yang ia dapatkan tadi dari danau. Semenjak dirinya mendapat bumbu yang bisa membuat makanannya lebih enak dari Naruto, ia jadi lebih sering memasaknya langsung daripada membakarnya seperti kesehariannya dulu. Ditambah ia juga diberikan peralatan masak, itu memudahkannya juga untuk memasak makanan.

Sudah sebulan semenjak pertarungan antara Naruto dan Issei (Penyiksaan), hubungan mereka juga makin membaik. Setiap akhir minggu ia pasti datang untuk mengajaknya makan tapi kali ini berbeda. Pertemuan terakhir mereka, Naruto mengejeknya tidak bisa memasak, sebagai perempuan yang sudah lama hidup sendiri tentu saja dia bisa memasak! Enak saja dia meremehkannya. Bahkan dulu ia yang bertugas memasak saat berpetualang dengan Heracles.

Masakan yang ia masak saat ini adalah makanan khas Yunani, Fasolatha. Makanan ini adalah sup kacang putih dan diramu dengan bumbu makanan lainnya seperti tomat, wortel bawang dll. Ia juga mendapatkan bibit sayuran dari Naruto, sehingga ia sekarang bisa melakukan hobinya saat masih didunia manusia, berkebun. Fasolatha yang ia buat merupakan kreasi kreatif yang dicampurkan dengan daging ikan. Aslinya makanan ini hanya menggunakan tumbuhan sebagai bahan utamanya, namun berkreasi terhadap makanan sangat sering ia lakukan semasa masih menjadi manusia.

"Sepertinya cukup" Medusa tampak berfikir sambil memegang dagunya. Ia melupakan sesuatu.

"Ahhh iya minuman! Susu coklat sepertinya cocok untuk menemani Fasolatha" Ia kemudian memanaskan air sembari menuangkan bubuk cokelat ke dalam dua gelas.

Tok

Tok

Tok

"Iya sebentar" Medusa bergegas dan membuka pintu masuk rumahnya. Tentu saja ia tahu siapa yang datang, karena hanya dialah satu-satunya manusia yang dapat berinteraksi dengannya.

Cklek!

"Apa aku terlambat?" Medusa menggelengkan kepalanya.

"Tidak, kau tepat waktu. Masakannya baru saja matang. Masuklah" Naruto melangkah masuk kedalam rumah Medusa. Sebenernya, ini sudah yang kedua kalinya ia memasuki rumah Medusa. Saat melihat Medusa tidak memiliki sama sekali furnitur memasak, ia langsung pergi kembali ke dunia manusia dan membelikannya. Tentu saja itu tidak gratis dan harus dibayar, namun bukan dalam hal uang melainkan tantangan Naruto tentang masakannya.

"Silahkan duduk" Naruto langsung duduk setelah Medusa mempersilahkannya. Ia melihat tanaman yang ia berikan pada Medusa dalam bentuk bibit sudah bertumbuh. Gadis ini sepertinya sangat pandai dalam berkebun, terbukti tanaman yang ia tanam tumbuh dengan baik dan terlihat segar.

"Sepertinya kau memang ahli dalam berkebun" Medusa tersenyum sembari membawa panci berisikan makanan yang telah dimasak dan meletakkannya ke meja makan.

"Tentu saja! Dulu aku sangat suka berkebun"

"Baguslah kalau begitu. Ohh iya, masakan apa yang kau buat?" Medusa tersenyum bangga.

"Fasolatha! Makanan khas Yunani yang dulu sering menjadi makanan kami saat pesta besar"

"Benarkah? Aku belum pernah mencobanya"

"Tunggu sebentar, airnya sudah matang" Medusa mematikan kompor dan menuangkan air panasnya kedalam mangkuk yang telah berisikan coklat.

"Sempurna! Ayo kita makan"

Mereka berdua akhirnya mrmakan Fasolatha yang ditemani oleh secangkir coklat hangat. Medusa tersenyum senang karena ini pertama kalinya dia makan Fasolatha semenjak menerima kutukan. Sementara itu Naruto merasakan sensasi yang baru dilidahnya. Enak. Sepertinya Yunani memiliki makanan khas yang menarik.

"Enak" Medusa tersenyum bangga dengan ungkapan Naruto.

"Jadi bagaimana dengan perkataanmu tentang aku yang tidak bisa memasak?"

"Hahaha iya iya. Aku mengaku kalah"

Mereka berdua melanjutkan makannya dengan sesekali candaan dari Naruto dan tawa kecil Medusa. Untuk pertama kalinya suasana rumah ini sangat hidup meskipun berada di tengah hutan. Tidak seperti biasanya yang terlihat sangat sepi dan suram.

Kini mereka sudah selesai makan dan peralatan makan mereka juga telah dibersihkan secara bersama-sama. Yahhh Naruto cukup tau diri membantu Medusa membersihkannya mengingat dia sebagai tamu disini. Awalnya Medusa menolak tapi akhirnya dia luluh juga dengan kekeraspalaan Naruto. Akhirnya mereka berdua duduk kembali di kursi yang tadi mereka gunakan saat makan.

"Sebagai tanda penghargaan kau bisa memasak..." Medusa cemberut mendengar itu lagi. Hei! Dia kan sudah bilang kalau sedari dulu dia memang bisa memasak!

"... Aku akan memberimu hadiah" Mendengar kata hadiah yang terucap dari mulut ninja kuning seketika membuatnya tersenyum senang melupakan apa yang diucapkan Naruto sebelumnya.

"Hadiah apa?" Naruto tersenyum misterius dan melakukan sebuah handseal.

Poff!

"I-ini" Medusa menutup mulutnya dengan kedua tangannya tidak menyangka apa yang ia lihat.

"Aku sudah menepati janjiku padamu" Naruto tersenyum tulus melihat reaksi Medusa. Ia tidak menyangka reaksi yang akan ditunjukkannya seperti ini.

Medusa sangat mengetahui apa yang dibawa Naruto. Bentuk yang khas itu dengan blueberry sebagai topping dan coklat disetiap sisinya adalah ciri dari cookies buatan ibunya. Naruto membawakan Medusa satu toples cookies buatan ibunya sesuai dengan permintaannya saat itu.

"Yahhh sebenarnya Athena mencurigaiku karena meminta dia untuk membuatkanku cookies. Tapi dengan dalih aku ingin belajar memasak makanan dengannya akhirnya dia percaya hahahaha" Naruto mengingat saat dia meminta tolong pada Athena untuk membuatkannya cookies. Darimana dia tahu dia bisa membuat cookies? Tapi dengan dalih Athena adalah seorang ibu yang tentunya pernah membuatkan putrinya kue dan dia juga ingin belajar memasak maka Athena tidak mencurigainya.

"Sesuai dengan janjiku. Aku membawakanmu cookies dan pertemuan kita belum diketahuinya" Medusa perlahan membuka toples yang berisikan cookies dan mengambilnya.

Krauk!

Medusa mengigit kecil cookies dan seketika perasaan nostalgia terbersit di benaknya. Tidak ada yang berubah. Rasa ini tetap sama seperti terakhir kali ia memakannya. Dulu sewaktu kecil ia sering membantu ibunya untuk memasak kue. Ia sangat menggemari kue buatan ibunya dan itulah yang mendorongnya kemarin untuk meminta bantuan Naruto.

"Kau tahu Naruto? Sebenarnya aku tidak terlalu berharap ketika memintamu membawakan cookies buatan ibuku tapi ternyata kau mampu. Aku tidak tau harus berterimakasih bagaimana untuk membalas kebaikanmu" Medusa tersenyum menoleh pada Naruto.

"Bisa dikatakan aku cukup dekat dengan ibumu. Dia tidak henti-hentinya bercerita tentangmu saat membuat cookies yang kau makan" Naruto menyengir sambil mengingat perilaku over Athena saat mengajarinya memasak kue. Untuk pertama kalinya dia melihat sang dewi sangat semangat berinteraksi dengannya karena dulunya semasa Medusa masih manusia, memasak kue adalah kegiatan favorit mereka berdua.

"Sebenarnya dari awal aku penasaran tentang hal itu. Bagaimana kau bisa dekat dengan ibuku?" Medusa sangat tahu kalau ibunya sangat membatasi interaksinya dengan laki-laki apalagi itu seorang manusia.

"Banyak hal yang terjadi hahahaha. Daripada itu, aku masih memiliki satu hadiah untukmu" Medusa memiringkan kepalanya heran. Ia kan hanya meminta Naruto untuk membawakan cookies buatan ibunya.

"Hadiah apa?" Naruto hanya tersenyum sebagai jawaban dan melakukan sebuah handseal.

Pooft!

Seketika muncul banyak barang yang berserakan di lantai rumah Medusa. Ada banyak berbagai jenis bentuk pernak-pernik seperti lonceng kecil, bintang kecil, kapas, lampu-lampu yang berwarna-warni dan pohon pinus berukuran dua meter. Tapi daripada semua itu ada satu kotak hadiah yang muncul di atas meja.

"Yahhh setelah ini kau harus membantuku menghias rumahmu. Kau tahu kan sekarang ada perayaan apa didunia manusia?" Tenggorokan Medusa tercekat tidak mampu menjawab pertanyaan Naruto.

"Selamat Hari Natal Medusa" Naruto tersenyum tulus dan memberikan kado.

Perlahan air mata menetes membasahi pipi bersisik Medusa. Awalnya, Naruto tidak bisa melihatnya langsung dari mata Medusa, namun ketika dia melihat ada aliran air mata di pipi Medusa seketika membuatnya panik.

"Ee-eh kenapa kau menangis? Apa ak-"

Grep!

"Terimakasih! Terimakasih Naruto!" Medusa memeluk Naruto dengan erat dan tangis bahagia yang terus menetes. Untuk pertama kalinya selama Milenia, tangisan yang keluar dari matanya bukanlah penyesalan ataupun kesedihan melainkan tawa bahagia. Ia merasakan seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang di dalam dadanya.

"Sama-sama Medusa" Naruto membalas pelukan Medusa dan memejamkan matanya. Melihat kesendirian Medusa seperti ini selalu mengingatkannya kepada dirinya sendiri saat masih kecil. Dalam lubuk hatinya ia berjanji tidak akan membiarkan Medusa mengalami hal yang sama dengannya.

Satu hal yang Medusa sadari disini adalah, ada sebuah rasa yang tumbuh dalam hati kecilnya. Ia tahu itu adalah rasa cinta dari seorang perempuan terhadap seorang laki-laki. Akan tetapi ia tidak ingin terburu-buru dan ingin merawatnya secara perlahan karena ini adalah pertama kali baginya.

Sebuah romansa picisan? Bukan! Ini adalah cerita tentang kesetiaan cinta dari orang yang memiliki penyesalan besar pada masa lalunya kepada putri ular yang terkutuk.

.

.

.

.

.

To be Continued!

Sebelumnya saya minta maaf sebesar-besarnya karena telah terlambat update. Sebenarnya tadi malam saya berniat update tapi saya seminggu ini fokus kerja dan sesekali nyempatkan waktu untuk menulis. Dannn puncaknya tadi malam saya overheat dan mimisan ketika nulis chapter ini. Yahhh mungkin sebaiknya saya harus lebih banyak istirahat kedepannya.

Bagaimana tanggapan kalian terhadap chapter kali ini? Apakah membosankan atau terlalu melow? Sebenarnya saya kurang dalam adegan bertarung dan harus belajar kedepannya untuk adegan ini supaya tidak terkesan membosankan. Saya butuh komentar kalian untuk bisa meningkatkan kualitas cerita ini kedepannya.

Hmmmm apalagi ya? Sepertinya sudah cukup. Saya harus melanjutkan pekerjaan saya hehehehe. Peluk hangat kepada para pembaca semua dimanapun berada ꉂ(ˊᗜˋ*)

Merry Christmas! ? ゚ホト?

Fin.