Disclaimer : Jelas bukan punya saya!

Warning : Author Newbie!, OOC! Absolute Typo!

Pairing : Unknown

Summary : Ia adalah perempuan yang dikutuk oleh Dewi Athena karena dituduh melakukan perbuatan tercela dengan Dewa Poseidon di kuilnya. Disisi lain ia hanyalah seorang pria yang ingin mencari ketenangan setelah peperangan yang menewaskan orang tercintanya. Perlahan namun pasti benang merah diantara mereka mulai terikat, apakah takdir mempermainkan pria itu sekali lagi?

Selamat membaca!

.

.

.

.

.

"Ta-tapi.. "

"Lagipula dengan keempat Maou itu sudah lebih dari cukup. Kita tidak perlu melibatkan bawahan kita karena informasi ini sangat rawan dan bisa menyebabkan kekacauan" Serafall akhirnya menganguk menerima jawaban logis dari Ajuka. Falbium? Ia hanya diam, namun sorot matanya terlihat sangat serius. Tidak ada raut mengantuk yang biasanya terpatri di wajahnya.

"Baiklah, ayo kita menuju Hutan Red Wood" Dan dengan itu mereka menghilang dengan lingkaran sihir.

.

.

.

.

.

Chapter 16

"Setelah ini aku harus melakukan apa?" Naruto mengangkat alisnya mendengar gumaman Vali. Meskipun suaranya kecil, ia masih dapat mendengarnya berkat pelatihan ninjanya dahulu.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Vali menatapnya dengan sorot mata lemah.

"Harusnya aku yang membunuh kakek tua sialan itu. Dia sudah membuat kedua orangtuaku menderita" Naruto tersenyum miring.

"Katakan kalau kaulah yang membunuh Rizevim, lantas apa yang kau lakukan selanjutnya?" Vali diam mendengar pertanyaan Naruto. Benar juga. Apa yang ia lakukan selanjutnya kalau berhasil membunuh kakeknya? Dia belum pernah memikirkannya. Yang ada dikepalanya hanyalah obsesi menjadi kuat untuk membunuh iblis tua itu.

"Tidak ada? Menyedihkan" Tidak ada jawaban dari Vali karena dalam hati kecilnya juga membenarkan pernyataan Naruto.

"Aku punya cerita" Naruto kemudian memposisikan dirinya untuk duduk dengan nyaman. Ia menepuk lantai disampingnya mengisyaratkan Vali untuk ikut duduk disampingnya. Awalnya Vali ragu untuk duduk disamping Naruto karena terakhir kali mereka bertemu, pemuda didepannya membuatnya sekarat tanpa menyentuhnya. Menghela nafas pelan, akhirnya Vali memutuskan untuk duduk disamping Naruto.

"Aku memang kuat tapi tidak perlu takut seperti itu"

"Aku tidak takut!" Naruto tertawa ringan. Dasar tsundere.

"Dulu aku punya sahabat. Dia sama sepertimu yang memiliki dendam terhadap keluarganya sendiri. Jika kau membenci kakekmu karena membuat kedua orang tuamu menderita, maka ia membenci kakaknya karena sudah membunuh klannya bahkan kedua orangtuanya didepan matanya sendiri" Vali menatap Naruto tertarik.

"Jangan menatapku seperti itu. Kau terlihat seperti penyuka sesama jenis" Kening Vali berkedut mendengar tuduhan Naruto.

"Aku tertarik pada ceritamu sialan! Aku juga masih menyukai oppai dan pantat wanita" Keringat menetes di kening Naruto. Jawaban yang terlalu vulgar.

"Lupakan! Bagaimana kelanjutan ceritamu?"

"Dia mendapatkan penyesalan terbesar dalam hidupnya setelah tahu kakak yang ia bunuh memiliki niat untuk melindunginya. Dia akhirnya menjadi orang yang kesepian karena telah meninggalkan segalanya demi obsesinya yang sia-sia"

"Aku tidak perlu menceritakan semuanya. Yang perlu kau tahu adalah ambisimu itu sia-sia. Lagipula aku juga sudah membunuh Rizevim. Aaahh begini saja, aku punya saran!" Vali hanya diam menatap Naruto.

"Jika kau bisa mengalahkanku maka kau sudah berhasil melampaui Rizevim" Yah argumen Naruto tentu saja benar adanya. Kau harus bisa mengalahkan orang yang sudah mengalahkan targetmu. Cukup sederhana tapi tentu saja lebih berat karena batasan yang akan ia lampaui jauh lebih tinggi.

"Kalau memang begitu maka kita harus sepantaran" Vali berdiri dari duduknya.

"Maksudmu?"

"Ubah aku jadi manusia" Pancaran mata Vali terlihat serius tanpa ada keraguan sedikitpun.

"Haa?" Naruto menatapnya aneh. Kenapa anak ini tiba-tiba berfikiran seperti ini?

"Harusnya kau sudah tahu kalau aku ini hybrid manusia-iblis dari ingatan yang kau curi dari Rizevim" Naruto mengangukkan kepalanya.

"Secara teori harusnya aku bisa menjadi manusia sepenuhnya bukan?"

"Yaah secara teori memang bisa kalau jiwa sisi iblismu dibuang" Tidak ada yang salah dengan itu.

"Aku tahu kau memiliki kekuatan yang ada diluar pemahaman mahluk supranatural. Aku sudah mencari jenis kekuatanmu sebelumnya yang membuatku sekarat, dan tidak ada satupun sacred gear bertipe seperti kemampuanmu" Naruto tersenyum tipis. Sepertinya anak ini benar-benar berniat mencarinya setelah menghajarnya di Romania.

"Aku rasa dengan kemampuanmu yang belum kau tunjukkan, kau bisa mengubahku menjadi manusia seutuhnya"

"Woww... Wow... Wow tunggu dulu" Naruto berdiri berhadapan dengan Vali.

"Kau ingin aku merubahmu menjadi manusia?" Pancaran mata Vali adalah jawaban yang lebih dari cukup untuk mengetahui tekadnya.

"Apa dasarnya yang membuatmu ingin menjadi manusia seutuhnya?" Naruto harus memastikan hal tersebut. Ia tidak ingin ada orang yang memiliki niat buruk pada umat manusia meskipun itu sesama manusia sendiri.

"Aku lebih mengakui sisi manusia ku. Selain itu, darah iblis ini terus mengangguku dengan rasa haus bertarung setiap waktu. Itu mirip seperti suara yang terus berbisik di telingaku"

Naruto diam melipat tangannya dan menutup mata.

'Bagaimana menurutmu Kurama?' Kini Naruto sedang berada dibawah alam sadarnya. Terlihat Kurama yang sedang berposisi tidur, tapi Naruto tahu kalau rubah didepannya ini menyadari kedatangannya.

'Harusnya kau sudah mengetahui niatnya bukan?'

'Yah dia memang tidak memiliki niat buruk'

'Kalau begitu segera pergi dan jangan ganggu tidurku' Naruto speechless melihat tingkah rubah didepannya. Dasar rubah pemalas.

Naruto perlahan membuka matanya dan melihat Vali yang masih menatapnya tanpa ada keraguan sedikitpun. Sepertinya tekadnya sudah benar-benar bulat.

"Baiklah, tapi sebelum itu ada tiga hal yang harus aku beritahu padamu" Naruto menunjukkan tiga jari pada Vali.

"Yang pertama, tingkat kekuatanmu akan menurun. Segala kekuatan yang kau dapatkan dari darah iblismu seperti mana yang berlimpah dan fisik yang kuat akan menghilang. Pikirkan dahulu baik-baik karena ini akan mempengaruhi tingkat kekuatanmu" Naruto serius akan hal ini. Jika Vali ingin berubah menjadi manusia maka akan ada harga yang harus dibayar.

'Bagaimana menurutmu Albion?' Vali meminta pendapat sang kaisar naga putih yang bersemayam dalam tubuhnya.

'Terserah padamu Vali, aku akan mengikuti semua keputusanmu. Tapi kalau kau bertanya pendapat pribadiku, iblis adalah salah satu yang kubenci karena keserakahannya' Sebenarnya naga juga memiliki sifat buruk yaitu kesombongan. Setidaknya sombong tidak merugikan orang lain dibanding dengan serakah yang menginginkan hak orang lain.

Vali menghela nafas perlahan. Ia sudah membulatkan tekadnya dan tidak berniat mundur sedikitpun.

"Ya, aku menerima konsekuensinya" Tidak ada keraguan pada setiap ucapan Vali.

"Baiklah, kedua adalah yang terpenting. Jadi aku harap kau mendengarkannya dengan baik-baik" Vali memasang pendengarannya. Ia tidak ingin melewatkan penjelasan Naruto meskipun itu satu kata.

"Tehnik yang akan kugunakan bernama Jigokudo. Normalnya tehnik ini aku gunakan untuk mengambil jiwa dan ingatan dari sasaranku. Ini juga yang aku gunakan saat itu pada Rizevim"

"Tunggu! Bukankah itu artinya kau akan membunuhku juga?" Pendapat Vali tersebut tentunya tidak salah. Dan juga pengambilan jiwa? Mendengarnya saja sudah cukup mengerikan.

"Itulah sebabnya aku mengatakan ini adalah yang terpenting" Naruto berujar dengan serius.

"Sebelumnya, jika kau iblis seutuhnya, maka sudah dipastikan aku tidak bisa merubahmu menjadi manusia. Berterimakasihlah pada ibumu yang terlahir dari ras manusia"

"Pada dasarnya saat aku melakukan tehnik Jigokudo, ada banyak perbedaan warna setiap jiwa berbagai ras. Misalnya, malaikat berwarna putih, malaikat jatuh berwarna abu-abu, elf berwarna hijau dan iblis berwarna hitam" Vali menyadari ada sesuatu yang ganjal, namun sebelum ia bertanya, Naruto sudah menjawabnya.

"Aku mencuri ingatan berbagai ras sehingga aku bisa mengetahui warna jiwa mereka" Logikanya, bagaimana mungkin Naruto mengetahuinya kalau tidak mencobanya? Kurang lebih seperti itu.

"Selain itu, aku juga secara tidak sengaja pernah mencuri ingatan orang sepertimu yang memiliki status hybrid manusia-malaikat jatuh. Jiwanya terbagi menjadi dua dimana tubuh sebelah kirinya berwana biru yang berarti manusia dan sisi kanan berwarna abu-abu yang berarti malaikat jatuh" Vali meneguk ludahnya saat Naruto menatapnya dengan pandangan serius.

"Aku akan menarik jiwa sisi iblismu dan membuat sisi manusia tetap berada pada tubuhmu. Selain itu, aku juga harus mengisi sisi iblismu yang telah dilepaskan dengan kekuatan chakraku agar kau tidak mati saat jiwamu sebagian kosong. Tentunya ini memerlukan konsentrasi yang sangat ekstra karena apabila salah sedikit maka kau bisa mati" Benar-benar harga yang sangat mahal. Salah sedikit itu bisa membuatnya mati. Tapi apa seperti itu akan membuat tekadnya luntur?

"Aku percaya padamu" Naruto terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya tertawa kecil.

"Entah kenapa jawabanmu itu terkesan antara kau berani atau nekat. Tapi aku suka dengan tatapanmu yang tidak ada keraguan sedikitpun" Naruto kemudian mengacungkan jari ketiganya.

"Baiklah yang ketiga... " Suara angin yang kencang di atap bangunan membuat percakapan mereka tersamarkan dan tidak bisa terdengar secara jelas.

"... Bagaimana?" Vali tersenyum tipis.

"Entah kenapa, aku merasa kau sudah merencanakan ini sejak awal" Naruto tersenyum dingin.

"Bisa ya bisa tidak" Jawaban yang sangat ambigu.

"Sebelum itu, aku belum mengetahui namamu. Aku hanya tahu julukanmu sebagai Kitsune"

"Kau bisa memanggilku Naruto" Vali mengangukkan kepalanya.

Satu hal yang ia tahu malam itu. Manusia didepannya sangat-sangat berbahaya. Kemampuannya saja sudah sangat mengerikan ditambah pemikiran dan rencana yang matang itu membuat kombinasi yang sangat menakutkan. Dan sekarang, ia akan terlibat dengannya.

.

.

.

.

.

Medusa bersenandung kecil sembari menyiram tanaman kebunnya yang berada di belakang rumah. Tanaman pemberian Naruto yang ada di kebunnya memiliki banyak variasi. Naruto membawakannya setelah melihat kegiatan keseharian Medusa yang terlihat monoton dan membosankan. Setidaknya dengan memberinya bibit tanaman dapat membuatnya tidak terlalu bosan. Lagipula ia bisa mendapatkan sayur segar langsung dari kebun yang ia rawat.

Ahhhh iya, kalau dilihat-lihat ia masih memakai gaun yang diberikan Naruto. Sebenarnya ia tadi bangun tidur lebih lama dari biasanya. Entahlah, semenjak dirinya menjadi siluman ular ia membutuhkan waktu istirahat yang lebih lama.

Saat melihat gaun yang diberikan Naruto masih tergantung rapi di depan pintu lemarinya membuatnya tertarik untuk mencoba memakai gaun itu lagi. Sadar akan tanamannya yang belum ia beri air, membuatnya langsung pergi menyiramnya masih dengan memakai gaun pemberian Naruto. Sudahlah, lagipula gaun ini juga bisa ia cuci nantinya.

Medusa melangkahkan kakinya menuju kursi yang tersedia di halaman belakang rumahnya. Selain kursi, disana juga ada meja yang diatasnya telah tersedia teh hangat yang sebelumnya ia sudah persiapkan.

Sruppp

Medusa memejamkan matanya menikmati sensasi manis yang dirasakannya dari teh pemberian Naruto. Menikmati teh setelah menyirami kebun adalah salah satu hal yang sangat ia sukai sewaktu masih menjadi manusia. Ini jauh membuatnya lebih rileks dan santai.

Namun kedamaian yang dirasakan Medusa tidak bertahan lama. Ia berdiri dengan wajah serius dengan keringat dingin yang mulai menetes di pelipisnya. Ada yang datang! Ini jelas bukan Naruto karena pemuda itu akan langsung tiba-tiba muncul disekitarnya dengan tehnik kilatan petir kuningnya.

"Satu...dua...tiga...e-empat" Ular yang ada dikepala Medusa mendesis merasakan ketakutan inangnya. Ada sesuatu yang sangat buruk akan terjadi.

Bzzt Bzzt

Sring!

Dari lingkaran sihir tersebut muncul 4 sosok yang sangat dikenal Medusa. Sebenarnya ia belum pernah menjumpai mereka langsung, tapi tentu saja dirinya tahu kalau yang datang ke tempatnya saat ini adalah penguasa dari tanah yang ia pijak.

"Apa kau yakin tempatnya disini Sirzech? " Satu-satunya perempuan diantara empat iblis yang muncul dari lingkaran sihir bertanya. Berbeda dengan ketiga temannya yang mengenakan pakaian bertempur, ia mengenakan pakaian khas penyihir berwarna pink. Ia adalah Seraffal Leviathan, salah satu dari empat mau kaum iblis.

"Aku lebih menyarankanmu untuk tutup mata saat ini Seraffal dibanding berceloteh. Jangan lihat mahluk yang ada didepan sana" Ajuka berujar dengan serius. Ia adalah orang yang pertama kali sadar akan sosok Medusa. Bagaimana ia bisa mengetahuinya? Sederhana saja, cukup dengan melihat rambutnya yang berbentuk ular maka ia bisa langsung mengetahui siapa yang ada didepan mereka.

"Aku tidak menyangka kalau kami akan bertemu dengan salah satu mahluk mitologi yang dirumorkan sudah mati. Pendeta yang dikutuk oleh Dewi Athena, Medusa" Sirzech berucap santai meskipun dalam keadaan menutup mata namun tidak menurunkan kesiagaannya. Mahluk mitologi didepannya sudah sangat jelas berbahaya.

"Apa tujuan kalian?" Medusa berucap was-was. Ini setidaknya sedikit menguntungkannya karena keempat iblisnya menutup matanya mengikuti apa yang dilakukan Perseus dalam sejarah. Kalau mereka menggunakan cara seperti Naruto, maka tentu saja situasinya akan semakin buruk.

"Ketahui tempatmu pendeta terkutuk! Ini adalah tanah kami para iblis!" Medusa menggertakkan giginya mendengar fakta dari Falbium. Ia tidak bisa menyangkal hal itu.

"Tenanglah Falbium, biar aku saja yang berbicara" Medusa tahu kalau iblis berambut merah panjang itu adalah Sirzech Lucifer, pemimpin dari ras iblis saat ini. Meskipun bertempat tinggal di tengah Hutan Red Wood, dirinya sesekali mencari surat kabar yang ada di desa Fern. Setidaknya ia harus update akan perkembangan terkini akan tanah yang ia pijaki.

"Beberapa bulan ini kami merasakan adanya manusia yang menyelinap masuk ke Underworld" Medusa menegang sesaat tapi untungnya mereka berempat tidak bisa melihatnya. Medusa jelas tahu siapa yang dimaksud oleh keempat pemimpin iblis tersebut.

"Apa kau tahu siapa manusia yang menyelinap ke Underworld?" Medusa berusaha tenang dengan menormalkan pernafasannya. Tidak! Ia tidak boleh memberitahu mereka tentang Naruto! Dilihat dari manapun, mereka berempat memiliki niat untuk menangkap Naruto.

"Aku tidak tahu siapa manusia yang kalian maksud wahai para pemimpin iblis" Nada bicara Medusa tegas tanpa ada keraguan sedikitpun. Akan sangat berbahaya jika suaranya bergetar, maka mereka akan langsung mengetahui kalau ia telah berbohong.

"Apa kau benar-benar yakin akan hal itu?" Sirzech bertanya sekali lagi namun Medusa sudah mantap dengan pendiriannya.

"Aku tidak ada niat untuk berbohong pada kalian para penguasa tanah Underworld"

"Baiklah kalau begitu... " Sepertinya ia sekarang bisa menghela nafas lega.

"... Sekarang kau ikut dengan kami!" Medusa membulatkan matanya mendengar seruan Sirzech. Apa maksudnya ini?

"Atas dasar apa aku harus mengikuti perintah kalian?" Medusa berfikir cepat. Ini situasi yang sangat buruk dan ia harus bisa mencari solusinya.

"Kau menginkak tanah kekuasaan kami tanpa adanya ijin. Apa menurutmu itu adalah perbuatan yang benar?"

"Tapi aku tidak pernah menyerang pemukiman penduduk kalian atau mengacau disini!" Medusa masih berusaha memberikan argumennya.

"Itu tidak mengubah fakta kalau kau berpijak disini tanpa seijin kami pendeta terkutuk!" Skakmat! Medusa kehabisan kata-kata. Mau dilihat dari sisi manapun, dirinyalah yang bersalah disini, meskipun pada kenyataannya tidak pernah mengacau tapi tetap saja ia tidak memiliki ijin.

"Selain itu aku juga teringat sesuatu... " Medusa merasakan firasat yang sangat buruk saat ini. Sesuatu yang sangat buruk.

"Dewa Poseidon meminta seluruh mahluk supranatural untuk menangkapmu hidup-hidup. Awalnya aku hanya mengira dia mengada-ada karena dari sejarah yang tertulis kau telah dibunuh Perseus" Dewa sialan! Apa dia tidak ada habisnya menganggu kehidupan tenangnya?

"Ia menawarkan pada orang yang berhasil menangkapmu air 'Eternal'. Itu sangat berguna untuk mencapai keabadian umur meskipun masih bisa mati apabila terbunuh" Medusa tersenyum sinis. Sudah cukup! Ia muak dengan semua ini!

"Tidak kusangka para petinggi iblis juga tertarik dengan air bodoh itu. Apa kalian takut dengan wajah keriput?" Sirzech tertawa ringan mendengar sindiran Medusa. Seraffal kemudian melompat kebelakang Medusa menghalanginya untuk kabur dari sana.

"Teruslah mengoceh Wanita Penggoda. Kau sudah terkepung saat ini" Hati Medusa terasa panas dan panik secara bersamaan. Panik karena ia dikepung oleh empat petinggi iblis dan panas dikatakan wanita penggoda. Ia tidak pernah menggoda pria semasa hidupnya termasuk Naruto! Apa dia tidak sadar kalau dia sendiri adalah iblis yang memiliki sifat hawa nafsu yang berlebih?

"Biarkan aku saja yang mengurusnya Sirzech. Aku tersinggung dia mengatakan kalau kita takut keriput" Sirzech mengangukkan kepalanya. Dasar wanita! Disinggung sedikit saja soal umur atau penampilan pasti akan langsung tersinggung. Mereka bertiga kemudian mundur untuk memberikan mereka tempat bertarung.

Spear of Ice!

Seraffal langsung membuat lingkaran sihir yang memunculkan tombak dari es. Ia memang tidak bisa melihat Medusa, tapi keberadaannya dapat jelas terasa. Dengan mengandalkan insting bertarungnya, ia kemudian melemparkan tombak es yang dibuatnya kearah Medusa.

Melihat tombak Seraffal datang kearahnya membuatnya langsung menghindar kekiri. Serangan yang cukup mudah dihindari. Apa memang hanya segini kekuatan dari Maou iblis?

Brakkkkkk

Crkkkkkkk

Serangan Seraffal menghantam bebatuan berukuran 10 meter yang langsung membuatnya beku seketika. Rumput-rumput disekitarnya juga seketika membeku menandakan betapa hebatnya kekuatan sang Maou bergelar Leviathan. Namun Medusa hanya menatap datar serangan Seraffal. Tidak ada rasa takut dimatanya.

"Kau beruntung melawanku dalam bentuk ular Iblis. Sebenarnya aku jauh lebih kuat dalam bentuk manusia meskipun kekuatan dari mata ularku mutlak" Seraffal mengernyit bingung. Apa maksudnya?

"Kekuatan es mu sangat lemah dibanding kekuatan es ku saat masih menjadi manusia. Kurasa gelar Maou yang kau sandang sama sekali tidak pantas untukmu" Cukup sudah! Seraffal membuat lingkaran sihir dengan besar 25 meter. Mahluk kuno ini memancingnya untuk marah? Akan ia layani!

Namun belum sempat ia merapalkan jurusnya, Medusa bergerak cepat kedepan dan menyabet Seraffal dengan ekornya. Ia yang tidak siap karena fokus merapal mantra dan tidak bisa melihatnya karena matanya dipaksa tertutup harus terbanting dan menabrak pohon besar hingga menimbulkan retakan.

Tidak ingin memberi waktu untuk lawannya bersiap, Medusa segera melesat ke arah Seraffal. Ia kemudian melayangkan sekali lagi sapuan ekornya hingga membuat pohon yang berada di belakangnya ikut tumbang karena kuatnya serangan Medusa. Sekedar informasi, meskipun dirinya sekarang hanya memiliki kekuatan sihir dalam bentuk kutukan dari matanya, ia melatih fisiknya sangat kuat untuk menghadapi situasi darurat seperti ini.

Seraffal melenguh kesakitan merasakan betapa sakitnya serangan Medusa. Sialan! Pertarungan dengan mata tertutup ini sangat tidak menguntungkan baginya. Ia hanya bisa melempar serangan sihir jarak jauh dan harus menghindari kontak fisik.

Hanya orang bodoh yang membiarkan lawannya waktu untuk istirahat. Melihat lawannya akan segera bangkit lagi, Medusa ingin melakukan serangan sekali lagi untuk membuat lawannya jatuh. Namun, saat ingin menyerang Seraffal sekali lagi, ia harus mengurungkan niatnya dan menghindar dari serangan yang tiba-tiba datang kearahnya.

Syuuutt

Blarr

Tempat yang Medusa hindari tadi menjadi hangus gosong. Power of Destruction. Itu adalah kekuatan yang meniadakan objek yang dikenainya. Itu adalah salah satu dari kekuatan Klan Bael yang terkenal kuat di kalangan dunia Iblis. Satu-satunya orang disini yang memiliki kekuatan pemusnah itu adalah Sirzech Lucifer yang mendapatkannya dari garis keturunan sang ibu.

Prok prok prok

"Aku tidak menyangka kalau kau sekuat ini Medusa" Sirzech bertepuk tangan dengan senyum diwajahnya. Sudah Medusa duga kalau pada akhirnya mereka berempatlah yang akan maju.

"Aku menganggap tepukan itu untuk temanmu yang sedang terkapar bodoh disana" Seraffal menggeram marah dan bersiap menyerang Medusa lagi namun harus terhenti karena merasakan tekanan kekuatan Sirzech yang seakan menyuruhnya untuk diam.

"Mundurlah dan sembuhkan dirimu" Sirzech melemparkan air mata phoenix yang ditangkap dengan baik oleh Seraffal. Air mata phoenix adalah salah satu obat ramuan terhebat di kalangan iblis yang diproduksi oleh klan phenex. Dengan meminum air itu makan seluruh luka fisik yang ada ditubuh akan segera puluh dalam waktu beberapa detik. Seraffal kemudian mundur mendekat kearah Falbium dan Ajuka untuk menyembuhkan dirinya.

Medusa menatap awas pada Sirzech. Level Seraffal tentunya sangat jauh berbeda dengan pemimpin utama iblis yang sekarang berhadapan dengannya. Mereka memang bergelar yang sama namun bukan berarti mereka setara. Bisa dikatakan kekuatan Sirzech hampir mencapai level Poseidon.

"Apa kau tidak malu melawan wanita?" Medusa menatap sekeliling. Ia harus segera mencari celah untuk melarikan diri. Ia beruntung karena tadi Seraffal terbawa emosi dan kurang memiliki pengalaman bertarung hand to hand dengan mata tertutup.

"Kau pikir aku peduli dengan itu?" Sirzech perlahan maju kearah Medusa yang sudah bersiaga. Medusa mengigit bibirnya, ini situasi yang sangat buruk. Namun belum sempat Sirzech melesat untuk memberi serangan, sebuah kunai bercabang tiga dengan aksen fuin terlempar didepan Medusa.

Tap!

Sring!

Kilat kuning muncul seiring kunai bercabang tiga tersebut mengenai tanah. Kilat itu memunculkan seorang pemuda berambut kuning berantakan dan bermata biru, serta seorang pemuda lagi berambut perak dengan mata beriris abu-abu. Mereka berdua berdiri dengan posisi membelakangi Medusa dan berhadapan dengan Sirzech.

"Iblis tetaplah iblis. Mereka mahluk hina yang mengeroyok seorang perempuan" Naruto tersenyum sinis.

"Keputusan yang sangat tepat aku tidak lagi memiliki darah hina itu lagi" Vali yang berada disebelahnya melipat tangan didada.

Sirzech terkaget dengan kedatangan tiba-tiba dua orang manusia tersebut. Dari mana mereka munculnya? Sementara itu Medusa meneteskan air matanya terharu. Ia tahu kalau pemuda itu akan datang menolongnya. Hati kecilnya sedari tadi sangat berharap akan kedatangan Naruto, dan kemudian sekarang itu menjadi nyata!

"Kau baik-baik saja Medusa?" Sang putri ular mengangukkan kepalanya dengan senyum yang mengembang diwajahnya.

"Kau terlihat sangat manis dengan gaun itu" Vali menatap Naruto bosan. Astaga, mereka saat ini sedang berhadapan dengan empat maou lengkap dan dia masih sempat menggoda perempuan? Disisi lain Medusa yang mendengar itu memerah tipis. Dasar tidak tahu tempat!

"Baiklah kalau begitu"

Kagebunshin no Jutsu!

Poff!

"Bawa tuan putri kita menjauh dari sini, biarkan kami berdua yang menghadapinya" Bunshin Naruto menganguk dan segera ingin menggendong Medusa namun ditolak olehnya.

"Aku ingin membantu disini!" Naruto menggeleng. Medusa yang melihat respon Naruto merasa marah. Apa ia tidak dibutuhkan disini?

"Aku tidak ingin kau terluka. Kau sangat berharga bagiku" Medusa terdiam mendengar perkataan Naruto. Apakah ia seberharga itu untuk Naruto?

"Percayalah padaku Medusa, kami berdua bisa mengalahkan mereka berempat. Dan tiba setelah pertarungan ini, ayo kita kembali menikmati hari seperti yang biasa kita lakukan" Naruto tersenyum menatap Medusa. Dan saat itulah putri ular menyadari kalau Naruto memang sangat tulus padanya.

Medusa terdiam untuk beberapa saat. Ia sangat ingin membantu sekarang akan tetapi dengan kekuatan matanya itu bisa menjadi senjata bermata dua yang bisa saja dengan tidak sengaja mengubah Naruto dan temannya menjadi batu. Itu sama saja menghalangi mereka berdua. Menghela nafasnya pelan, sepertinya ia memang harus mempercayakan ini pada Naruto.

"Berjanjilah kalau kita akan menikmati hari lagi setelah pertarungan ini" Naruto mengacungkan jempolnya kepada Medusa dengan senyum diwajahnya. Janji seorang ninja.

Bhunsin Naruto kemudian menggendong Medusa dan membawanya pergi dari lokasi pertarungan. Tersisa mereka berenamlah sekarang yang saling berhadap-hadapan. Keempat Maou juga sudah membuka matanya ketika merasakan kepergian Medusa.

"Aku merasa lega bisa melihat secara normal lagi seperti biasa" Falbium menghela nafas dengan lega.

"Kau benar, kekuatan mata wanita penggoda itu sangat mengangguku" Ajuka berujar santai tanpa menyadari satu kata kunci yang akan membuatnya menderita setelah ini.

"Apa kau bilang tadi? Wanita penggoda?" Naruto berkata dengan nada rendah menatap tajam Ajuka.

"Apa yang salah? Bukannya dia memang wanita penggoda dari sejarah yang ditulis?" Ajuka berujar dengan santai.

Naruto menggertak giginya dengan kuat. Iblis-iblis ini sudah sangat kelewat batas menghina Medusa sampai segitunya! Apa mereka tidak tahu kalau sebenarnya Medusa adalah korban disini? Mereka hanya sok tahu dengan semua itu dari sejarah bodoh yang dikarang dan sekarang amarahnya telah terpancing.

"Vali" Sang pemegang kaisar naga putih segera memunculkan sacred gearnya berupa sayap putih di punggungnya. Ia tahu setelah ini akan terjadi pertarungan dahsyat disini.

"Kau lawan wanita bejat disana, sisanya aku yang urus!" Pemuda berambut perak berniat protes karena mendapatkan lawan perempuan namun saat menoleh, ia terkaget melihat Naruto yang sudah sangat siap melepaskan amarahnya. Saat itu ia akan tahu, membuat Naruto marah adalah kesalahan besar.

"Kalian yang memulainya iblis, maka kalian harus menerima akibatnya!"

.

.

.

.

.

Ini adalah pertarungan antara pahlawan dunia lain melawan tiga iblis yang selalu disebut terbaik dalam sejarah.

Ini juga pertarungan antara Sang pemegang kaisar naga putih melawan iblis perempuan dengan kepintaran dan elemen esnya.

Banyak yang tidak tahu kalau pertarungan ini adalah awal mulai dari gejolak yang akan lebih besar terjadi kedepannya.

Apa yang akan terjadi? Entahlah, namun yang jelas ini akan menjadi poros utama perubahan hidup dari wanita terkutuk yang telah menderita selama bermilenia lamanya.

.

.

.

.

.

To be Continued

Maafkan saya yang update sangat lama. Saya punya kesibukan yang sangat banyak di real life dan tentu saja tidak boleh saya tinggalkan. Kewajiban memang tidak boleh ditinggalkan bukan?

Vali menjadi manusia is real, tentunya saya harus memberikan penjelasan yang logis agar tidak menjadi plot hole dalam cerita ini. Kira-kira apa penegasan ketiga yang diberitahukan Naruto kepada Vali? Itu masih menjadi misteri.

Sedikit clue yang muncul di chapter ini tentang Medusa adalah ia dulunya pengguna kekuatan es yang sangat kuat. Ia memang tidak bisa menggunakan kekuatan esnya lagi setelah berubah menjadi putri ular yang terkutuk. Lhoo kok bisa kalah sama Poseidon dan hampir dilecehkan? Ya perbedaan kekuatan mereka jauh secara Medusa adalah manusia yang memiliki batasan dan Dewa dengan segala kelebihannya. Kira-kira siapa bentuk manusia Medusa? Silahkan para pembaca berteori sendiri, tapi kalau kalian teliti harusnya kalian sudah sadar karena saya menyematkan namanya dibeberapa chapter tertentu. (Karakter ini adalah Karakter Favorit saya hehehehe ?)

Seraffal kok bisa kalah dengan mudah? Yahhh bayangkan saja harus dipaksa bertarung dengan mata tertutup, pastinya itu sangat sulit baginya. Medusa bisa memanfaatkan kelebihannya dengan baik dan itu bisa mendesak Seraffal. Tentunya apabila mereka bertarung dengan kondisi biasa maka Seraffal dapat menang melawan Medusa.

Vali kok dapat Seraffal doang lawannya? Iya memang, tapi yang dilawan statusnya Maou yang dimana berarti salah satu yang terkuat di Underworld. Naruto vs tiga Maou, apa ia akan sanggup melawan mereka bertiga? Nantikan kelanjutannya.

Yang bisa saya pertegas selanjutnya adalah, mungkin chapter kedepannya akan jauh lebih lama karena saya belum terbiasa menulis scene pertarungan. Lho terus kenapa ngambil tema action? Saya mencoba keluar dari zona nyaman yang terbiasa menulis scene santai. Ditambah kesibukan yang semakin hari semakin waw, maka saya hanya bisa berharap pada para pembaca untuk tetap sabar hehehehe.

Untuk kurang dan lebihnya mungkin akan terjawab seiring berjalannya cerita. Apa menurut kalian chapter ini bagus? Saya sebenarnya merasa masih ada yang kurang, akan tetapi karena waktu update yang sudah sangat lama maka saya langsung mempublish chapter ini tanpa memeriksanya secara detail seperti yang biasa saya lakukan.

Sepertinya saya terlalu banyak menulis note di chapter ini hehehehe. Baiklah, cukup sekian yang dapat saya sampaikan, apabila ada salah kata dan perkataan mohon dimaafkan. Peluk hangat untuk para pembaca semua dimanapun berada , ⌒ヽ(●^、^●)Kiss!

Fin.