Chapter 2

*The Wedding*

"APA?! Per-perjodohan... KU?! Kakek bercanda." Sakura menatap kakeknya tak percaya, come on... sekarang sudah abad 21, tidak ada yang namanya perjodohan lagi.

"Kakek serius Saku-chan, bahkan kau sudah dijodohkan sejak lahir dengan pria itu. Ayah dan ibumu juga tau akan hal ini, mereka pasti senang melihat putrinya menikah diatas sana." Penjelasan Hashirama sambil memandang keatas, berharap melihat anak dan menantunya tersenyum dari sana.

Sakura menghela nafas berat, melihat keseriusan kakeknya, apalagi ayah dan ibunya tau akan hal ini. Tapi... masih ada yang mengganjal dihatinya.

"Pria itu cucu teman kakek Sakura, waktu ibunya mengandung dia bersamaan pula dengan ibumu mengandung mu. Maka dari itu, kami berpikir untuk menjodohkan kalian" Hashirama menatap mata cucunya itu, mencoba meyakinkan "walaupun kau dan dia sudah menikah nanti. Kau tetap tidak akan kehilangan kakek, paman maupun bibimu, dan juga kedua adik sepupumu itu."

"Percayalah Sakura-chan, pilihan kakek dan orang tuamu serta kami, selalu yang terbaik." Kali ini bibinya yang berbicara, Haruno Tsunade.

Sakura berpikir sejenak, merenungkan apa yang dikatakan kakek dan bibinya itu. Dan, sampailah dia pada keputusan terakhir.

"Baiklah kakek. Apa yang kakek, ayah dan ibu, serta paman dan bibi pilihkan pasti selalu menjadi yang terbaik untuk ku." Ucap Sakura dengan tersenyum penuh yakin.

"Terima kasih Saku-chan, karena sudah mau menerima pilihan ini. Kakek pasti selalu berdoa yang terbaik untuk mu."

"Kakekkkk..." lansung saja Sakura meloncat kepelukan kakek tersayangnya itu.

"Sudah, sudah, kau membuatku menangis, sekarang pergi ke kamar. Kita berangkat malam ini untuk menemui calon suami-mu." Senyum penuh bahagia Hashirama pada Sakura. Sakura hanya mengangguk, lalu berjalan didampingi Tsunade untuk membantunya merias.


"Ibu, aku disini." Ucap Sasuke setelah memasuki rumah mewahnya, rumah utama keluarga Uchiha.

"Aaa, kau sudah datang Sasuke-kun. Ayo duduk, kita tinggal menunggu ayah, kakek, kakak, dan adikmu." Sasuke semakin ingin tau, apakah acara ini terlalu penting? Sehingga anggota keluarga berkumpul semua? Bahkan kakeknya pun ikut.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya semua berkumpul di ruang tengah.

"Baiklah, ada yang ingin kami sampaikan padamu Sasuke." Suara serius ayahnya menggema diantara mereka.

"Apa ayah?"

"Kami semua menjodohkan mu dengan cucu teman kakek mu." 'perjodohan? Apa-apaan ini?' ucapnya jengkel dalam hati.

"Kau sudah dijodohkan sejak bayi Sasuke, dan gadis itu menerima perjodohannya. Kakek meminta padamu..." ucap kakeknya dengan wajah memelas, memohon agar dia menyetujuinya.

"Tapi, aku sudah punya kekasih kakek."

"Sasuke, jangan membantah. Tolong hargai keputusan kakek mu saat ini, kita sudah tidak mungkin membatalkannya. Pihak perempuan sudah setuju, sekarang bersiapalah."

"Tapi ayah-"

"Tidak ada tapi-taipan Sasuke, ini sudah keputusan kami. Sekarang, segera kau putuskan hubungan mu dengan kekasih mu itu."

"Baik, ayah." Dia tidak bisa membantah lagi, dia sudah kalah.

Sasuke melangkah menuju kamarnya dengan wajah dingin. Siapa gadis yang berhasil mengacaukan harinya ini, awas saja!

'hn, aku akan membuat perhitungan dengan gadis itu.' Batinnya sinis.


Sakura berasumsi bahwa yang dijodohkan dengannya ini pasti kolega kaya, pasalnya mereka diundang makan malam di restoran termewah khas prancis di Tokyo.

Dalam perjalanan menuju kesana, Sakura sempat berpikir. Apakah pernikahannya selamat nanti? Apakah dia sanggup menjalankan hubungan tampa cinta didalamnya? Apalagi ini bukan hubungan biasa, ini hubungan suci! Benar-benar membuat kepalanya pusing.

"Mm... ngomong-ngomong kakek? Siapa nama keluarga yang dijodohkan dengan ku itu?" tanya Sakura tiba-tiba, menyebut perjodohan itu membuat bibirnya bergetar.

"Uchiha, kalau tidak salah nama pria yang dijodohkan dengan mu itu Uchiha Sasuke." Sakura tak sanggup berkata apa-apa, lidah kelu, telinga terasa tuli, semua anggota tubuhnya terasa kaku. Dia mati rasa, saat mendengar nama calon suaminya itu.

"Saku? Sakura?"

"Ah, ya? Kakek?"

"Kau tenang saja, keluarga Uchiha adalah keluarga yang baik, kakek sudah mengenal lama dengan mereka, bahkan sebelum kau lahir."

"Ya, kakek." Sudah tamat, hidup Haruno Sakura sudah tamat.


Sasuke menatap jam mewah ditangannya dengan gusar, kenapa mereka lama sekali. Bukannya Sasuke senang akan hal ini, tapi lebih cenderung kepada kesal. Belum cukup sehari, wanita itu sudah mengacaukan hidupnya.

Yang ada dipikiran Sasuke saat ini hanyalah, bagaimana cara menjelaskan kepada kekasihnya? Bagaimana cara menjelaskan kepada Karin? Model papan atas itu? Sungguh! Kepalanya serasa mau pecah sekarang.

"Sasuke-kun, mereka sudah datang. Ibu mohon bersikap baik."

"Ya, ibu."

Lansung saja Sasuke bersama keluarganya berdiri menyambut kedatangan mereka, apalagi kakeknya, sangat antusias.

"Hashirama... sudah lama aku tidak bertemu dengan mu." Ucap Uchiha Madara sambil memeluk sahabat karibnya itu.

"Betul, bagaimana kabar mu?"

"Baik, seperti yang kau lihat."

Sudah cukup lama kedatangan mereka, tapi Sasuke sendiri tidak melihat tanda-tanda gadis yang akan dijodohkan dengannya. Membuatnya semakin ingin tau.

"Mana cucumu yang katanya cantik itu? Aku sudah tidak sabar melihat cucu menantu ku." Ucap Madara sambil tertawa kepada Hashirama.

"Sebentar lagi dia datang, nahh... itu dia" kata Hashirama sambil menunjuk seorang gadis cantik( yang memakai gaun warna hitam yang melekat pas ditubuhnya, tapi mengembang dibagian kaki. Dengan rambut tergerai indah, memakai kalung, anting, gelang, serta sepatu yang terbuat dari berlian yang indah. Benar-benar penampilan yang elegan. )yang baru datang "ini dia, Haruno Sakura, cucu ku."

Sasuke terdiam, dia seperti patung. Dia tidak tau kalau takdir akan mempertemukan nya dengan Sakura secepat ini.

"Selamat malam semuanya, aku Haruno Sakura." Senyum menawan dan anggun yang Sakura berikan menguar diantara mereka. Yang membuat keluarga Uchiha minus Sasuke berdecak kagum, memang sangat klop untuk menjadi menantu keluarga ini. Sedangkan Sasuke? Dia seperti mayat hidup, tidak bergerak dan putih pucat.


Sasuke bersandar pada pintu, memerhatikan Sakura dari belakang sambil melipat tangan didada. Saat ini mereka ada ditaman outdoor restoran mewah tersebut. Dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, sebentar lagi, gadis cantik yang memandang bintang didepannya ini akan menjadi istri-nya.

"Aku tidak percaya kau mau menerima perjodohan ini." Mendengar suara dingin nan tajamnya Sasuke, membuat Sakura terkejut. Dia menghela nafas sebentar, lalu berbalik menjawab pertanyaannya.

"Aku hanya menuruti kemauan kakek. Lalu, kau sendiri?"

"Apa aku bisa menolak?" tanya Sasuke dengan menaikan alisnya.

"Sepertinya tidak." Jawab Sakura acuh sambil memandang kedepan lagi.

Sasuke hanya memandang Sakura dengan pandangan aneh, baru kali ini ada wanita yang berani menolak pesonanya. Satu nilai plus untuk Sakura, yang membuatnya berbeda dari wanita-wanita diluar sana. Yang membuat Sasuke berpikir, perempuan ini patut dihargai tinggi. Dia bukan perempuan sembarangan.

Sasuke berjalan pelan, sampai berdiri disamping kiri Sakura.

"Kalau aku tidak menyetujui perjodohan ini, ayah akan mencabut fasilitas, saham, dan jabatanku diperusahaan. Aku bisa saja tidak menuruti semua permintaa ayah, membangun sebuah perusahaan tidak sulit bagiku. Tapi..." Sakura memandang Sasuke ingin tau "aku tidak mungkin menolak permohonan kakek, beliau adalah orang yang paling aku hargai. Dan, dari kecil aku dirawat kakek. Sangat tabu bagiku untuk menolak permintaannya."

"Kasus yang sama."

"Hn, benar."

Mereka sama-sama terdiam, menikmati angin malam menyapa mereka.

"Aku punya permintaan untuk mu, aaa... bukan, bukan sebuah permintaan, tapi pernyataan kesepakatan. Bagaimana?" Sakura menatap pria disampingnya ini dengan pandangan tak suka, apalagi yang mau diharapkan pria ini? Apa dengan merusak kehidupannya itu tidak cukup? 'dasar pria paling egois!'

"Apa lagi yang kau mau dariku?"

"Well, i think it's easy. First, urusan pribadi akan tetap menjadi pribadi."

"Aku setuju, lalu?"

"Second, setelah kita menikah nanti, aku mau kita tinggal di Penthouse ku dan tidak ada bantahan!"

"Huufft... baiklah, masih ada lagi?"

"Ya, selama dirumah kita bukan siapa-siapa, tapi diluar itu... kita harus memainkan peran masing-masing. Bagaimana?"

"Oke, no problem."

"Sebagai gantinya, aku memberi mu hak atas rumah sakit yang baru ku bangun. Kau bebas mengambil uang ku untuk keperluan pribadi atau rumah tangga, itu tidak jadi masalah. Juga aku memberikan jabatan kepala rumah sakit itu padamu, rumah sakit itu milik mu sekarang."

"Tapi, kau tidak perlu melakukan itu, aku bisa-"

"Tidak ada bantahan, Sakura." Sakura hanya terdiam mendengar perkataan laki-laki disampingnya, belum menjadi suami-nya saja, sudah mengatur sebegini hidupnya! apalagi kalau sudah terikat?!

'tuhan, tolong akuuu...'

"Itu saja, sebaiknya kau menyiapkan diri mulai sekarang. Mereka sudah memutuskan untuk melaksanakan pernikahannya besok lusa. Aku pergi."

Sakura merasakan ada yang aneh dengan perkataan Sasuke tadi, setelah mencerna baik-baik dia baru mengetahui sesuatu. 'pernikahan? Besok lusa?'

"APA?!" sungguh! Ini benar-benar hal yang paling konyol.


Suasana didalam kamar kamar tersebut sunyi, Sakura menatap bosan dan Ino bersikap jengkel. Bisa-bisanya sang sahabat didepannya ini tidak menceritakan apapun padanya, sungguh sangat keterlaluan.

"Bisakah kau jelaskan apa arti benda itu?!" tanya Ino sambil menunjuk undangan pernikahan itu dengan kesal.

Dia bingung dengan keadaan, apa-apaan ini? Saat ia sampai dirumahnya jam 8 malam karena hobi shopping yang berlebihan, dia terkejut melihat undangan pernikahan yang terlihat mewah itu dengan nama yang tertera 'Haruno Sakura & Uchiha Sasuke' yang membuatnya menganga habis-habisan, lansung saja dia memutar mobilnya ke apartemen sahabat tercinta-nya itu.

"Menurut ku, undangan itu sudah jelas Ino." Sakura pasti sudah menduga akan begini jadinya, sahabatnya ini marah besar!

"Aku igin penjelasan lebuh dari ini! Kau tidak pernah bercerita padaku kalau kau sudah bertunangan dengannya! Dan sekarang?! Akan menikah! Ohhh ya ampunnn... sahabat macam apa aku ini, baru mengetahui kalau sahabatnya menikah dari sebuah undangan?!" emosi Ino tak bisa dikendalikan, dia benar-benar kecewa dengan sahabatnya ini.

Apa dia sudah tidak dianggap sahabat lagi? Sehingga sahabatnya tidak mau berbagi dengannya. Apalagi ini berita bahagia!

"Baiklah, akan aku ceritakan semuanya secara detail padamu."

"Itu sudah seharusnya Sakura, ceritakan sekarang."

Sakura menceritakan semuanya dari awal, saat dia tau dia dijodohkan, saat makan malam keluarga besar itu, dan terakhir tentang perjanjian konyol mereka. Semua lengkap, tidak ada potongan.

"Jadi, dia menawarkan mu sebuah perjanjian? Tidak ada cinta?"

"Tidak ada cinta Ino, hanya karena perjodohan."

"Ironis sekali..."

"Benar, maka dari itu aku tidak pernah cerita padamu. Mengetahui aku dijodohkan saja baru kemaren, dan besok menikah. Simple bukan?" Sakura mendengus mengingat nasibnya, sungguh miris.

"Aku turut berduka, Sakura."

"Ya, thanks Ino."


Sasuke bersumpah! Yang dia lihat sekarang bukan manusia, melainkan bidadari. Sakura adalah wanita dengan sejuta pesona yang bisa memikat siapa saja.

Contohnya sekarang ini, Sakura berjalan anggun menuju altar pernikahannya dengan gaun putih yang indah plus rambut yang ditata bak seorang putri, seperti putri lainnya, dia juga memakai mahkota berlian kecil.

Benar-benar, menikah dengan Haruno Sakura adalah keberuntungan baginya, dia tidak menyesal malah. Siapa yang menyesal mempunyai seorang istri secantik bidadari? Pasti tidak jawabannya. Memang sangat cocok menjadi menantu keluarga Uchiha, dan sepertinya takdir Sakura memang begitu.

"Kakek menitipkan Sakura padamu Sasuke, kakek mohon kau menjaganya dengan baik." Ucap Hashirama sambil memberikan tangan Sakura untuk Sasuke genggam. Dia menatap Sasuke penuh harap.

"Tentu kakek, dan itu sudah menjadi tugas ku. Kakek tidak usah khawatir." Tatap Sasuke pada Hashirama serius. Hashirama tersenyum, dia menggenggam tangan Sasuke sebentar dan menyerahkan Sakura padanya juga.

Dan pada akhirnya, suatu hubungan sakral mengikat mereka berdua. Please wellcome... new Mrs. Uchiha, Haruno-Uchiha Sakura.

I'll spread my wings and I'll learn how to fly
I'll do what it takes til' I touch the sky
And I'll make a wish
Take a chance
Make a change
And breakaway

Kelly Clarkson - Breakaway

*TBC*


Chapter dua is up^^

ketemu lagi semua;;)) karena file ini ada, jadi aku update yang ini dulu yaa^^

bagi yang lagi nunggu The Last Destiny, ficnya lagi dalam proses, jadi mohon sabarnya yaa^^

terima kasih bagi yang udah Fav&Foll fic ini::))

terakhir, mind to review?^^

Sign, TaySky1998