Chapter 3
*After Marrige*
Venezia, Itali.
"Ini kamarnya tuan, nyonya." Ucap pelayan hotel tersebut kepada mereka berdua dengan bahasa inggris yang masih ada aksen Itali-nya.
Mendengar itu, Sakura hanya tersenyum kecil. Besar juga usaha pelayan ini untuk belajar bahasa asing, walaupun tidak begitu lancar.
"Grazie, ma mi dispiace la mia domando e' un po 'strano. E' questa stanza c'e' solo sonno battuto?(1) " Sakura melihat wajah bahagia pada pelayan tersebut, karena mendengar dia berbicara bahasa Itali dengan tepat, lancar, dan lugas. Tidak ada kesalahan.
"Naturalmente la signora, questa stanza c'e' un solo letto. Non hai e suo marito sono in luna di miele in questo momento?(2)" tanya pelayan tersebut dengan mengedipkan mata jenaka kepada Sakura. Sakura hanya terkekeh kecil, lalu mengucapkan terima kasih dalam bahasa Itali lagi.
Melihat itu, Sasuke menambah satu nilai plus lagi untuk Sakura. Memang-memang pribadi seorang lady pada dirinya. Kecerdasan, wawasan yang tinggi, keanggunan, dan sopan-santun.
Sakura memasuki kamar hotel paling mewah di Itali tersebut. Tentu saja propertinya lengkap. Ada living room, dinning room, khitchen, bedroom, bathroom, walk-in-closet, and balcony. Lengkap. Hanya saja... hanya ada satu tempat tidur! 'bagaimana ini?'
"Hmm, disini hanya ada satu tempat tidur." Ucap Sakura memulai pembicaraannya.
"Ya, lalu?"
"Bisakah kita tidak satu tempat tidur?Eerr... setidaknya tidak untuk saat ini. Maksud ku, kau tau kita tidak saling mencintai, jadi... selama kita tidak menemukan cinta itu, aku tidak bisa satu tempat tidur dengan mu... Maaf..."
"Hn, tak masalah. Lagipula aku sudah tau kau akan meminta begitu , makanya semua sudah ku siapkan segala di Penthouse ku saat kita tinggal serumah nanti."
"Hahh... syukurlah kau mengerti, terima kasih banyak." Sakura sungguh bersyukur pria didepan nya ini masih mengerti dirinya, kalau tidak, dia bisa mati.
"Hn."
'sudah jam 07.00 rupanya' melihat jam yang ada di nakas sebelah tempat tidur, Sakura bangkit. Tapi sebelum itu, dia melirik sofa besar ditepi kamar. Tampak jelas raut kelelahan dan ketidaknyamanan pria itu. Yang membuat Sakura menatap sendu padanya.
Dia ingat sekali dengan jelas perdebatan mereka karena masalah tempat tidur.
"Kalau begitu, biar aku saja yang tidur di sofa." Tapi sebelum Sakura menggapai sofa, sebuah tangan kekar menahannya.
"Tidak, biar aku saja. Kau sebaiknya tidur ditempat tidur." Ucap Sasuke tenang dan datarnya.
"Jangan! Biar aku tidur disofa, tidak apa-apa. Kau saja yang ditempat tidur." Sasuke menatap wanita didepannya ini tajam, suka sekali membantah.
"Tidak ada bantahan Sakura." Dia mengeluarkan nada dingin dan datarnya, bukan nada tenang seperti tadi.
"Huufftt... baiklah, selamat malam."
"Hn, selamat malam."
Dia mengeleng keras, mengenyahkan pikirannya dari perdebatan konyol itu. Lansung saja Sakura bangkit, dan berjalan ke kamar mandi.
Setelah tiga puluh menit, Sakura tampak lebih segar sekarang. Dia memakai mini dress sepanjang lutut yang pas ditubuhnya dengan lengan berpotongan pendek, yang berwarna putih dengan gradasi hitam. Sangat elegan.
Ditambah dengan tatanan rambut yang pas, pony tail. Dilengkapi, mini boot berwarna hitam dengan hiasan pita putih. Setelah memandang dirinya di kaca, dia berjalan mendekat sofa besar dikamar itu.
"Sasuke, bangun. Sudah jam setengah delapan sekarang." Untungnya Sasuke orang yang tidak tidur 'mati', sehingga sekali saja dapat membangunkannya.
"Hn."
"Air sudah ku siapkan di bathtub, segeralah. Setelah itu sarapan."
Dia terdiam. Sekali lagi, pesona wanita didepannya ini tak dapat dihiraukan. Memang-memang membuatnya terpikat.
"Sasuke? Kau mendengar ku?"
"Hn."
"Kalau begitu pergilah, aku sudah menyiapkan air dan segalanya."
"Baiklah." Sasuke bangkit, berjalan pelan ke kamar mandi. Sayup-sayup dia mendengar bahwa Sakura menyuruhnya ke ruang makan setelah mandi, dan dibalasnya dengan anggukan kecil.
"Aaa, kau sudah datang." Ucap Sakura setelah mendengar langkah kaki mendekat kearah pantry.
"Hn." Dia hanya menyerngit mendengar jawaban ambigu dari Sasuke, lalu memeriksa isi lemari es dan lemari penyimpanan.
"Disini hanya ada eegs, bread, jam, tea, cofee, and milk. What do you want?"
"Roti bakar dan kopi saja."
"Okay, and jam?"
"Nanas."
"Okay, wait for a minute."
Lansung saja Sakura dengan cekatan melakukan semuanya, seperti sudah biasa. Dan memang benar sudah biasa, karena dia hidup sendirian bukan? Biasa menyiapkan untuk diri sendiri. Satu nilai plus dimata Sasuke, dia bukan wanita yang manja dan berlebihan. Setelah berkutat 10 menit di pantry untuk sarapan, saatnya menyajikan.
Diatas nampan yang dia bawa, ada 2 piring dengan 2 lembar roti bakar dengan selai yang berbeda, nanas dan strowberi. Juga 2 buah cangkir, kopi, dan teh. Saat dia berbalik, dia terdiam melihat Sasuke. Sungguh! Pria yang berdiri disamping meja makan tersebut sangat tampan dengan gaya casual-nya.
Hanya sweter berwarna putih dan celana jeans, ditambah dengan style hand in his pockest. Perfecto! Sadar memandang Sasuke terlalu lama, Sakura lansung berjalan anggun ke meja makan. Berharap bahwa pikirannya tidak dipenuhi oleh Uchiha Sasuke.
Mereka sarapan dengan tenang, suasana sunyi menguar diantara mereka. Sakura sempat berpikir, bahwa makanan yang disiapkan olehnya tidak sedap. Kenapa? Karena pria didepannya ini hanya diam, tak ada komentar sedikit pun. Apakah masakannya tidak enak? Atau kurang sesuatu? Tapi tetap, tidak ada pertanyaan atau komentar yang keluar dari mulut pria didepannya itu. Yang akhirnya membuat Sakura bingung.
"Setelah ini, aku mau jalan-jalan ke keluar. Tak masalah kalau kau tak ikut, jadi how?" tanya Sakura sambil menghilangkan kesunyian itu.
"Hn, aku ikut."
"Bagus kalau begitu, kita hanya mengelilingi Venezia saja dulu. Tidak apa-apa kan?"
"Hn."
"Oke," ucap Sakura sambil bangkit membawa piring kotor ke wastafel. "kau duluan saja, aku akan menyusul mu di Lobby. Bisa kan? Aku akan membereskan ini dulu."
"Ya, tak masalah." Balas Sasuke sambil berjalan ke kamar untuk mengambil Coat-nya, udara musim gugur cukup dingin. Apalagi ini sudah hampir mendekati musim dingin.
Melihat Sasuke mengambil Coat-nya dan berjalan menuju Lobby, membuat Sakura menggeleng. Satu kesimpulan, Sasuke adalah pria dingin dan tak pandai berbasa-basi. Datar.
Setelah selesai membereskan piring kotor, lansung saja Sakura berlari ke kamar untuk mengambil Coat-nya yang berwarna putih dengan renda hitam dibawahnya dan tas selempang kecil yang elegan berwarna hitam. Hitam Putih, sepertinya itu tema pengantin baru itu untuk hari ini.
Sakura memakai Coat berwarna putih, sedangkan Sasuke memakai Coat warna Hitam. Sekali lagi, couple black dan white.
Pagi ini, model papan atas itu menikmati sarapan paginya dengan tenang di apartemen mewah miliknya. Nakano Karin, model papan atas yang kabarnya sangat dekat dengan pengusaha muda tersukses dan terkaya-raya itu, Uchiha Sasuke.
"Kurasa, kau harus memutuskan hubungan mu dengan pengusaha muda itu." Ucap Hozuki Suigetsu, manager model papan atas tersebut. Karin lansung mengangkat kepalanya dan menatap Suigetsu tidak mengerti.
"Apa maksud mu Sui?"
"Jangan berpura-pura tidak mengerti Karin, aku tau kau mengerti maksud ku. Ini demi kebaikan mu juga."
"Hubungan ku dengan Sasuke tidak akan mempengaruhi karir ku, Suigetsu."
"Tentu saja akan! Dia sudah beristri sekarang Karin. Orang-orang akan menganggap mu sebagai wanita pengganggu rumah tangga, dan itu akan mempengaruhi karir mu."
"Tidak, mereka tidak akan berpikiran seperti itu. Aku dan Sasuke saling mencintai, dan mengenai masalah istri-nya itu. Mereka dijodohkan, dan itu juga tidak akan mengganggu hubungan kami." Suigetsu menggeleng tidak percaya, perempuan didepannya ini telah dibutakan oleh cinta, yang sayangnya cinta tak pasti.
"Terserah, yang jelas aku sudah memperingati mu. Jangan lupa, jam 2 nanti kau ada pemotretan. Aku pergi." Ucapnya sambil berlalu keluar apartemen. Yang membuat Karin melongo melihat sikapnya.
'dia aneh, kenapa berkata seperti itu tiba-tiba? Daripada memikirkan yang belum pasti, lebih baik aku menghubungi Sasuke-kun nanti. Ide bagus Karin' batinnya sambil melanjutkan sarapan.
Masih tetap dengan telepon ditelinganya, Sasuke memerhatikan Sakura yang asik memandang suasana kota Venezia.
"Teme, kau masih bersama ku?" tanya seseorang diseberang telfon.
"Hn."
"Kau belum menjawab pertanyaan ku Teme, bagaimana tadi malam? Apakah menyenangkan?" tanya Naruto lagi diseberang telfon dengan nada jahil.
Sasuke mendengus, apanya yang menyenangkan, tidur meringkuk disofa dengan posisi tidak nyaman baru iya. Lalu, apa yang kau harapkan Mr. Uchiha? 'sial!'
"Itu urusan pribadi, tidak untuk dibagi Dobe." Jawabnya tenang sambil memerhatikan Sakura lagi. 'kemana perginya dia?' bathin Sasuke bingung, pasalnya dia melihat Sakura pergi dengan seorang bocah laki-laki yang sendirian.
"Baiklah, aku ada urusan Teme. Sampai jumpa."
"Hn."
Klik
Sasuke memandang sekitar lagi, mencoba mencari wanita berambut pink tersebut. Tepat ketika kakinya melangkah ketempat Sakura berada, handphone-nya berdering lagi. 'Karin' 'Bagaimana aku bisa lupa dengan Karin?'
"Hn."
"Sasuke-kun! Syukurlah kau mengangkat panggilan ku, bagaimana kabar mu?" Sasuke tersenyum tipis, bagaimana dia bisa melupakan wanita ini? Wanita yang telah satu tahun bersamanya.
"Aku baik Karin."
"Kapan kau pulang? Aku merindukan mu."
"Aku tidak bisa memastikan."
"Hah..., baiklah. Oh ya Sasuke-kun, ada yang ingin aku bi—"
"Karin, aku ada urusan. Kita bicara lagi kapan-kapan. Bye." Karin terdiam, melihat tindakan Sasuke yang memutuskan teleponnya tiba-tiba. Apakah perkataan Suigetsu mulai benar? Apakah Sasuke menikmati kebersamaan dengan istrinya saat ini? Tiba-tiba Karin merasa takut.
"Apakah enak?" senyum Sakura kepada bocah eman tahun didepannya ini.
"Ya, terima kasih Aunt Sakura." Balasnya sambil mengangguk. Sakura tersenyum sekali lagi. Harry anak yang lucu, cerdas, dan sopan-santun.
Contohnya saja saat ini, dia tersesat, terpisah dari ibunya, tetapi dia tidak menangis. 'senangnya orang tua anak ini, semoga saja anak ku bertingkah laku seperti ini. Hei! Apa yang kau pikirkan Sakura!' lansung saja timbul semburat merah dipipi Sakura karena perkataannya tadi.
"Aunt Sakura?" tanya bocah itu tiba-tiba disela makan es krimnya.
"Ya?"
"Dengan siapa kau disini?"
"Err... dengan... suamiku." Ucap Sakura pelan.
"Maksud mu pria yang itu?"
Sontak saja Sakura mengikuti arah telunjuk Harry, dan tap! Berdirilah Uchiha Sasuke dengan ekspresi kebingungannya.
"Apa yang kau laukan dengan bocah ini?" mendengar suara dingin dan tajamnya Sasuke membuat suasana diantara mereka tiba-tiba suram.
"Harry tersesat dan aku membantunya. Aku tidak mungkin membiarkan anak berusia 6 tahun disini sendirian." Nilai plus lagi, berjiwa penolong dan peduli sekitar.
Harry bangkit dari samping Sakura, dan berjalan ke arah Sasuke.
"Jangan marah pada bibi ku, tuan."
"Paman."
"Hah?"
"Panggil aku Paman, dan Sakura. Dia istriku." Hah? Dahi Sakura berkerut, apa-apaan Sasuke. Kenapa dia bertingkah protektif secara tiba-tiba?
"Hahh... sudahlah. Ayo Harry, kita cari ibumu. Dan kau? Mau ikut atau tidak?"
"Tentu saja aku ikut. Hn, ayo."
Disepanjang perjalan Sakura dan Harry terlihat akrab, seperti ibu dan anak yang tak bisa dipisahkan. 'ini benar-benar membuatku jengkel! Apa-apaan dia? Baru kenal dengan bocah itu saja sudah sangat akrab kelihatannya, sedangkan aku? Menyebalkan!'
"Jadi kau dan keluarga mu liburan disini?" tanya Sakura disela-sela berkelilingnya.
"Ya. Selain liburan, ayahku melakukan perjalanan bisnis disini." 'bisnis?' pikir Sasuke mulai tertarik.
"Siapa namamu?"
"Harry, Harryson Brown paman Uchiha." 'pantas saja'
"Hn, biar aku hubungi orang tua mu." Sakura memalingkan wajahnya dan menatap Sasuke tak percaya.
"Jadi? Kau? Mengenal orang tuanya?"
"Ya, Mr. Brown adalah kolega ku di Inggris."
"Huh! Yang benar saja, kenapa tidak dari tadi?!"
"Sudahlah Sakura,kuharap kau tenang. Aku akan menghubungi orang tuanya, okay?"
"Yaya, lakukan sesukamu." Ucap Sakura, lalu menatap Harry kecil yang kebingungan.
"Nah, kau tenang saja Harry. Suamiku sudah menghubungi orang tuamu, okay?" Harry hanya mengangguk pasti sebagai jawabannya, dan melihat itu Sakura hanya tersenyum senang.
Sakura sendiri tidak tau bahwa, pria disampingnya ini tersenyum tipis mendengar perkataannya tadi, tiba-tiba hatinya menghangat.
"Harry!" teriak seorang wanita yang berusaha berlari ke arah mereka. Lansung saja Harry mengarahkan pandangannya kearah wanita tersebut dan dia terkejut.
"Ibu! Aunt Sakura, itu ibuku!" ucapnya melambai tangan pada wanita itu dan menarik ujung Coat Sakura.
"Harry! Oh syukurlah." Wanita itu memeluk Harry erat, perlahan air mata jatuh membasahi wajahnya.
Suami dari wanita itu berjalan ke belakang, tempat dimana Sasuke berdiri memandang mereka. Sasuke dan dia berjabat tangan.
"Terima kasih Mrs. Uchiha, terima kasih banyak." Wanita itu menggenggam erat tangan Sakura, air matanya mengenang disudut matanya.
"Sama-sama Mrs. Brown, aku juga tidak mungkin meninggalkan Harry sendirian ditengah taman kota." Balas Sakura sambil tersenyum anggun pada wanita itu. Wanita itu hanya bernafas lega, terlihat sekali dari ekspresinya.
"Kami berhutang pada anda Mrs. Uchiha, tindakan anda sangat berarti."
"Jangan berlebihan seperti itu Mr. Brown, kita manusia. Sudah sepantasnya kita menolong sesama bukan?"
"Anda sungguh beruntung memiliki istri seperti Mrs. Uchiha Sakura, Mr. Uchiha. Sungguh benar-benar wanita yang baik." Ucapa pria itu bersungguh-sungguh, dia menatap Sakura sebentar, lalu beralih pandang ke Sasuke.
"Ya, tentu saja." Suara Sasuke mengalun dengan tenang ditelinga Sakura, entah kenapa, walaupun tenang begitu, tapi mempunyai maksud dan makna yang mendalam.
"Kalau begitu, kami permisi dulu."
"Hn, hati-hati Mr. Brown."
"Ya, terima kasih." Tapi, sesaat sebelum keluarga itu pergi, Harry berlari kearah Sakura, dan lansung disambut dengan pelukan hangat dari Sakura.
"Senang bertemu dengan mu Aunt Sakura, ku harap kita bertemu lagi." Katanya dengan nada sedih.
"Ya, begitu juga aku Harry. Ingat, jangan terpisah dari orang tua mu lagi. Okay?"
"Hm! Tentu saja."
"Hati-hati."
"Ya bibi, bye..." lambaian tangan Harry kencang kearah Sakura, dan dibalas Sakura dengan lambaian juga.
Sasuke hanya memandang Sakura dengan diam, sudah begitu banyak nilai plus yang wanita ini dapatkan dari penilaiannya. Baru kali ini, Sasuke melihat seseorang yang benar-benar sempurna.
"Sasuke..."
"Hn?"
"Bisakah kita makan siang sekarang? Aku lapar..."
"Hn, tentu. Ikut aku." Lansung saja Sasuke berjalan dengan menggandeng tangan Sakura. Yang membuat perasaan hangat muncul dihati mereka. 'perasaan ini?' 'kenapa disini begitu hangat rasanya?' bathin Sakura dan Sasuke berpikir.
Dan perjalanan ke restoran untuk makan siang diisi dengan kebisuan, mereka sibuk dengan hati dan pikiran masing-masing.
.
.
.
*TBC*
(1). "Terima kasih, tapi maaf pertanyaan ku agak sedikit aneh. Apakah kamar ini hanya ada satu tempat tidur?"
(2). "Tentu saja nyonya, kamar ini hanya ada satu tempat tidur. Bukankah kau dan suami mu sedang berbulan madu saat ini?"
haiii, ketemu lagi bagi yang menunggu cerita ku ini^^
balasan review:
uchiha javaraz: ini udah next;;)), review lagi?^^
Misaki Ichiko: boleh kok, ini udah next::)) mind to review again?^^
dan terima kasih bagi yang udah fav&fol serta Read)) sekali lagi maaf untuk typonya^^
terakhir, mind to review?^^
Sign, TaySky1998
