Chapter 6

*Their Promise*

Sinar matahari dibalik jendela kaca itu menerpa wajah sang perempuan yang sejak tadi masih terlelap dalam tidurnya. Mungkin bunga tidurnya sangat indah sehingga wanita tersebut enggan bangun dari tidurnya. Atau karena penerbangan yang dilakukannya semalam bersama suami nya itu? Ntahlah. Tapi sepertinya dia tetap tidak mau bangun. Atau mungkin? Karena wanita itu melihatkan sedikit gerakan dan membuka matanya perlahan. Oke, sepertinya dia sudah terjaga.

Setelah merasakan keadaanya sadar sempurna, Sakura bangkit dari tempat tidur dan mengambil jubahnya. Dia berjalan pelan ke bathroom.

Sakura memerhatikan penampilannya, sempurna. Untuk awal yang baru. Saat akan melangkah menuju pintu, wanita itu melirik sedikit pada pintu disudut kamarnya, pintu yang mengarah kepada kamar suaminya, Uchiha Sasuke. Seperti janji Saske padanya, mereka tidur terpisah. Dan pintu kecil itu untuk berjaga-jaga, jika orang tua mereka datang nanti.

Istri dari Uchiha Sasuke itu berjalan menuruni tangga untuk menuju dapur. Ia ingin membuat sarapan pagi untuk mereka, seperti yang dilakukannya saat mereka berada di Venezia kemaren. Perempuan itu masih asik memasak bahkan tidak tau kalau ada seseorang yang bergabung didapur.

"Maafkan saya Sakura-sama, saya terlambat." Ucap maid itu sambil menunduk padanya.

"Tak apa Ayame, lagipula aku sudah biasa melakukannya." Senyum Sakura. Ayame masih memerhatikan nyonya muda-nya itu, sepertinya dia tidak mau diganggu.

"Baiklah Sakura-sama. Tapi, jika anda membutuhkan saya, anda bisa memanggil saya." Ayame meninggalkan area itu setelah memastikan Sakura mengangguk padanya.

Sakura masih sibuk menyiapkan makanan. Sebagai seseorang yang akan menjadi ahli penyembuh itu, Sakura menyiapkan makanan yang bergizi dan komplit. Apalagi melihat tindakan Sasuke yang bekerja keterlaluanitu. Dan, Sasuke yang baru datang pun hanya duduk memandang istrinya.

Dia memang belum terbiasa dengan ini. Suara ributyang khas dari dapur. Selama ini, untuk makan dirumah saja bisa dihitung dengan jari, apalagi sarapan.

"Kopi atau teh, Sasuke?" tatapan heran lansung dilayangkan Sasuke kepada tubuh indah didepannya itu. Sejak kapan Sakura menyadari dirinya ada disini?

"Jangan menatapku seperti itu, aku bisa merasakan jika kau berada didekat ku. Jadi, jawab saja."

"Teh."

Sakura membawa nampan berisi sarapan mereka, tapi kenapa porsi Sasuke lebih banyak? Kenapa terjadi diskirminasi disini?

"Kenapa punya ku lebih banyak?" tanyanya.

"Kau memerlukan semua ini Sasuke, jaga-jaga supaya kesehatan mu tidak terganggu." Acuh Sakura sambil memakan omelet nya.

Sasuke tidak bertanya lagi, dia dengan segera melahap sarapannya dengan tenang. Ini mungkin memang baru baginya, terasa asing. Tapi, melihat Sakura bersikpa seperti istri yang ideal. Membuat Sasuke berpikir, kenapa dia tidak memainkan peran yang sama juga? Sebagai suami ideal.

"Aku selesai." Ucap Sasuke bangkit dari tempat duduknya.

"Baiklah, aku juga selesai."

Sakura mengambil piring kotor mereka dan membawanya ke wastafel. Setelah membereskan sisa sarapan mereka tadi, dia lantas mengantar Sasuke sampai pintu depan rumah. Bahkan, Juugo sudah menunggu tuannya itu disamping mobil.

"Sasuke," panggil Sakura saat melihat pria itu melangkah memasuki mobil.

"Hn?"

"Kalau bisa, pulanglah sebelum makan malam. Usahakan jangan lembur dikantor lagi, ini demi kebaikan mu."

Sekarang, Sasuke yang terdiam dengan perkataan Sakura. Dia hanya dapat mengangguk dan memasuki mobilnya menuju kantor. Sakura merutuki sikapnya pada Sasuke tadi, kenapa dia bersikap begitu? 'apa yang kau lakukan Sakura! Ingat perjanjian kalian!'


"Pagi, bibi Chiyo." Sapa Sakura pada wanita tua penjaga perpustakaan itu.

Sakura memang akrab padanya, jadi Sakura sudah menganggap Chiyo sebagai keluarga sendiri. Dan Chiyo pun begitu, Sakura sangat baik padanya. Karena itulah wanita itu senang Sakura mengunjungi perpustakaan. Dia juga telah mendengar kabar tentang Sakura, yang menikah dengan pengusaha muda itu. Uchiha Sasuke.

"Pagi Sakura, bagaimana kabarmu? Aku dengar kau melakukan perjalanan panjang kemaren." Ucapnya sambil tersenyum.

"Ah ya, aku baik-baik saja bibi Chiyo. Lagipula, perjalanan ku tidak terlalu panjang. Aku akan ke tempat ku, kita bicara lagi nanti bibi."

Setelah memberikan senyum ramahnya, Sakura melangkah ke tempat duduk dimana ia biasa berada. Diujung, paling pojok, didekat jendela besar yang mengarah ke taman. Tempat itu juga termasuk list of favorite places nya.

Dia mengeluarkan peralatannya. Buku-buku tebal ala medis dengan laptop berukiran bunga sakura yang indah. Tentu saja ini tidak dijual dipasaran, karena sang kakek tercinta memesannya lansung untuk hadiah ulang tahunnya ke 17 waktu itu. Hebatnya, laptop itu masih terlihat rapi dan baru. Karena, Sakura berprinsip bahwa, apa yang diberikan orang dengan spesial kepada kita, berarti itu amanat untuk kita agar menjaganya dengan baik.

Perempuan itu masih terhanyut dalam kegiatannya, bahkan dia tidak menyadari ada seorang pemuda yang menatapnya sejak tadi.

"Hai."

Sakura memalingkan wajahnya ke sebelah kiri, yang ternyata ada seorang pemuda menatapnya sambil tersenyum santai. Siapa dia? Bahkan perempua itu tidak mengenal pemuda tersebut.

"Oh, hai. Maaf, apa kau perlu dengan ku?" pemuda itu mengangguk, menjawab mantap pada perempuan didepannya.

"Ya, aku hanya ingin mengenal mu. Aku Hyuuga Neji, temannya Sasuke. Kurasa, kau pernah melihat ku dipesta mu." Sakura memukul pelan jidatnya, sekarang dia ingat.

Hyuuga Neji, Sasuke sudah menceritakan padanya. Hyuuga Neji, mahasiswa kedokteran sepertinya dikampus ini. Dan pengusaha yang bergerak dibidang medis alias, dia mempunyai pabrik yang memperoduksi alat-alat kesehatan. Juga, mempunyai rumah sakit yang bercabang-cabang diberbagai negara. Sasuke juga mengatakan kalau itu wasiat turun-temurun.

"Hai, Hyuuga-san, maaf aku baru-"

"Neji saja."

"Baiklah, Neji. Maaf untuk yang tadi, aku benar-benar lupa." Sakura tersenyum bersalah pada pemuda itu. Pria didepannya ini teman suaminya, jadi sudah seharusnya dia bersikap sopan.

"Tak apa Sakura. Aku mengerti, itu pasti karena perjalanan mu. Aku dengar, kau lulus dalam sidang akhir mu, selamat Sakura." Neji mengulurkan tangannya pada wanita itu.

"Ya, terima kasih Neji." Neji mengangguk, memerhatikan Sakura sekali lagi.

Dia masih saja sibuk dengan buku dan laptopnya. Bukankah sidang akhir Sakura berjalan lancar? Jadi untuk apa wanita itu sibuk sampai sebegininya? Seharusnya, Sakura sedang bersenang-senang sekarang.

"Jadi, apa yang kau lakukan dengan buku dan laptop itu?" pemuda itu mengambil tempat duduk disamping Sakura, dan mengambil salah satu buku bacaan yang Sakura bawa.

"Aku hanya ingin menambah ilmu, tidak ada yang salah dari itu bukan? Bahkan, kita dituntut untuk menimba ilmu seumur hidup." Senyum nya.

Neji memandang Sakura takjub. Sebenarnya Sakura apa dan siapa? Rasanya tidak ada manusia yang sempurna seperti ini. Dalam hatinya, ia memang mengangumi Sakura. Bahkan, sudah sejak tahun ketiga dia memerhatikan perempuan itu. Tapi, Sakura selalu look a like ice princess. Terlalu tinggi untuk dijangkau, dan terlalu jauh untuk digapai.

Ini saja melalui perantara Sasuke sebagai temannya, kalau tidak, dia tidak tau harus menyapa Sakura bagaimana. Teringat Sasuke, apa Sakura tau kalau Sasuke mempunyai hubungan dengan Karin? Apa Sasuke sudah bicara pada Sakura? Neji bisa saja memberitau Sakura hal itu, tapi itu nanti. Lebih baik dia memandang wajah Sakura dalam-dalam, daripada memikirkan masalah itu.


"Jadi, apa yang ingin kau katakan Ino?" tanya Sakura pada Ino, saat Ino memintanya bertemu selepas dari kampus.

Ino bilang padanya kalau perempuan itu akan bercerita tentang seseorang. Tapi, sampai sekarang pun dia tetap diam. Sikapnya aneh, kadang gugup, kadang gelisah, kadang ingin mengatakan sesuatu tapi diurungkan.

"Ino, katakan sekarang."

Sakura mengambil jusnya, meminta Ino mengatakan apa yang terjadi membuatnya merasa haus. Dan sayang, jika jus lezat itu dibiarkan begitu saja. Ino menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

"Baiklah... Sakura, aku... menyukai Shimura Sai."

Bukannya sampai ditenggorokan, jus itupun menyembur keluar. Ini adalah tindakannya yang paling konyol dan tidak sopan. Tapi, itu tidak terjadi jika Ino tidak berkata yang macam-macam. Menyukai Shimura Sai? Bagaimana bisa? Kapan Ino mengenal Sai? Atau, selama dia pergi banyak terjadi perubahan disini.

Tapi, apakah segitu jauhnya, sampai-sampai pada tahap menyukai? Ino memang mengagumi mereka. Mereka dan bukan Sai saja. Jadi, kenapa sekarang hanya ada nama Sai? Begitu banyak tanda tanya dikepala Sakura.

"Bagaimana itu bisa terjadi Ino?! Kau harus menceritakan semuanya padaku!" Ino mengangguk lemah pada Sakura, dia mulai menceritakan apa yang terjadi. Semuanya, tidak tertiggal satu pun.

"Jadi, begitulah. Dan aku juga tidak tau sejak kapan aku mulai menyukai nya, yang aku tau, aku nyaman dengan perasaan ku sendiri."

"Itu bagus Ino. Jika kau nyaman dengan perasaan mu itu, maka teruskan. Dan jika memang kau ingin bersamanya, maka berusaha. Aku tidak ingin kau bernasib sama sepertiku."

Dari raut wajahnya, Sakura memang tampak tak bahagia. Tapi, Ino memiliki keyakinan yang ntah dari mana kalau itu akan menghilang. Berganti dengan raut wajah bahagia. Mungkin, memang belum saat ini waktunya.

Ino sendiri menilai bahwa Sakura sudah sedikit memiliki rasa kepedulian terhadap Sasuke. Ntah, dia melakukannya dengan ikhlas atau tidak, tapi itu cukup kemajuan yang cepat. Kalau lama-lama dibiarkan, rasa itu akan berkembang yang berujung pada rasa cinta dan kasih sayang. Kita hanya tinggal menunggu waktu.

"Ya, aku akan berusaha semampu ku Sakura. Terima kasih banyak." Sakura memeluk sahabatnya erat, tidak ada selain Ino.

Ino memang segalanya untuknya, sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri. Walaupun Ino kadang-kadang bersikap labil dan kekanak-kanakan, tapi kadang kala dia bersikap dewasa. Bahkan, Ino lebih menegerti dirinya dibanding keluarganya sekalipun.

"Kalau begitu, aku pamit pulang Ino. Aku harus mengantar makan siang Sasuke."

"Ya, hati-hati Sakura. Semoga hari mu menjadi istri menyenangkan." Lambai Ino pada Sakura yang melangkah ke pintu depan. Dan Sakura hanya dapat membalas dengan senyum indahnya.


Sakura sudah menyiapkan makan siang untuk Sasuke, lagipula ini hanya makan siang. Dan kalau kesehatan Sasuke memburuk, pasti itu akan berujung padanya. Jadi, hal mengantar makanan ini bukan termasuk hal yang pribadi. Dia membungkus makanan untuk Sasuke serapi mungkin, dan segera membawanya menuju kantor Sasuke.

Dia memakirkan mobilnya hati-hati diparkiran gedung, memasuki gedung melalui pintu utama. Sepanjang jalan menuju ruangan Sasuke, semua karyawan disana menunduk sopan padanya.

TING!

Sakura sudah berada dilantai 23, dimana terdapat ruangan Sasuke disana. Dia berjalan ke arah pintu besar yang ada diujung ruangan. Disamping pintu besar itu terdapat ruangan kecil untuk sekretaris Sasuke. Kalau tidak salah, namanya Hinata.

Hinata adalah sekretaris yang sudah cukup lama bekerja pada perusahaan Uchiha. Bahkan sebelum dia bertunangan dengan sahabat Sasuke, Naruto. Sasuke juga pernah bercerita padanya kalau Hinata itu berasal dari keluarga kaya seperti mereka. Tapi, kenapa berakhir menjadi sekretaris Sasuke? Itu semua karena Naruto.

Dia bertemu dengan Hinata ditaman kota saat Hinata kabur dari Kyoto, tempat tinggalnya. Dan kenapa dia kabur? Alasan yang sama terjadi pada Sakura. Dijodohkan. Tapi, yang berbeda adalah Hinata dengan berani kabur dari rumahnya sebelum dijodohkan. Untung saja Hinata termasuk kedalam orang yang berkepala briliant, kalau tidak, Sasuke pasti tidak akan mepertahankan Hinata sampai sejauh ini.

Dan satu cerita yang paling mengejutkan dari Hinata ialah orang yang akan dijodohkan dengan nya itu adalah Naruto. Pria yang diam-diam telah dia cintai selama berada di Tokyo. Yang menyenangkan disini yaitu, Hinata dan Naruto sama-sama saling mencintai, tidak seperti mereka, hanya keterpakasaan.

"Permisi Hinata, apakah Sasuke ada diruangannya?" Hinata berdiri dengan tampang cemas saat mendengar suara Sakura.

"Sa-Sakura-sama, hmm... itu... a-ada Sakura-sama."

Sakura memandang Hinata aneh, kenapa dia terlihat begitu takut? Ada apa ini? Kenapa Hinata begitu gugup?

"Sakura saja Hinata, baiklah. Aku akan kedalam."

Tapi sebelum mencapai pintu, Sakura mendengar suara Sasuke dan... seorang wanita?

"Tapi, aku sudah lama tidak bertemu dengan mu Sasuke-kun. Apakah begini sikap mu padaku?" suara wanita itu terdengar kesal juga sedih. 'dia memanggil Sasuke-kun?'

"Dan, kau juga tidak lihat apa status ku sekarang?" bahkan nada suara Sasuke pun terdengar mulai tinggi.

"Aku tidak peduli. Aku tidak peduli Sasuke-kun, Camkan itu!"

Langkah kaki wanita itu mulai terdengar mendekat kearah tempatnya berdiri, dengan segera dia melangkah cepat bersembunyi disamping. Semoga saja wanita itu tidak melihatnya. Dari yang Sakura lihat, wanita itu telah menjauh dari ruangan Sasuke. Bahkan, dia tidak sempat melihat wajah perempuan itu. Yang dapat dia lihat adalah rambut merah menyalanya saja.

"Sasuke," Sasuke mengangkat kepalanya dan terkejut melihat seseorang berdiri dipintu.

"Sakura?"

Ini benar-benar kejutan yang tak terduga. Sejak kapan Sakura ada disini? Apakah dia mendengar percakapannya dengan Karin?

"Ya, ini aku. Aku mengantar makan siang untuk mu."

Sakura berjalan mendekat ke arahnya sambil tersenyum. Berarti, Sakura tidak mengetahui apa-apa. Itu bagus. Tapi yang sejujurnya, Sasuke tidak mengetahui apa-apa yang ada dipikiran istri-nya itu. 'dengan tidak mencampuri urusan pribadi, aku tidak melanggar janji ku kan, Sasuke?'

.

.

.

.

.

*TBC*


Chapter enam is up^^ selamat membaca semua ;;))

balasan review:

A panda-chan: itu memang cuma karangan aku aja ::)) aku juga gak tau mitos kayak gitu ada diVenezia tau gak, ini udah lanjut ;;)) so, jangan sungkan review lagi?^^

ayuua: ini udah lanjut ;;)) silahkan review lagi^^

azriel kanhaya: ini udah lanjut ::)) selamat menikmati ;;)) review lagi ya?^^

syahidah973: ini udah up ;;)) walaupun gak kilatt #maafkan saya ::)) review lagi?^^

Roromiya: hehe... udah dong XD silahkan review lagi?^^

hana: ini udah lanjut ::)) silahkan review lagi^^

Alwi arki: makasi banyak :D ini udah lanjut ::)) review lagi?^^

Arinamour036: ini udah lanjut ::)) wahh... aku juga gak tau kalau mitos yang aku tulis kemungkinan benar :D review lagi ya?^^

Hyuugadevit-Chery: ini udah update ;;)) walaupun saya gak bisa kilat #maafkan saya(2) ::)) review lagi?^^

bagaimana menurut reader capter ini? dan maafkan saya atas keterlambatannya yang sangat yaaa ;;)) ntah kenapa urusan dunia nyata ngelarang saya buat lirik-lirik leppi :(( yang jadinya begini deh :X updatenye lama bangettt... sekali lagi maafkan saya :)

dan terima kasih atas fav&foll dan read&review teman semua ;;)) juga maafkan saya kalo masih ada typo nya ::)) see you chapter selanjutnya^^

Sign, TaySky1998