Chapter 9
*Perfection*
Uchiha Mansion
Pria itu mengangkat gelas kopi nya, meneguk nya sedikit dan kembali menempatkan gelas itu ditempat semula. Uchiha Sasuke, dari raut wajahnya yang tersenyum sejak tadi, tumpukan-tumpukan dokumen yang berada di ruang kerja nya tidak terasa seperti beban. Dan tentu saja dia tersenyum seperti itu pasti karena istrinya, Uchiha Sakura. Apalagi mendengar jawaban Sakura, rasanya seperti semua beban yang ada di pundak nya hilang seketika. Rasanya seperti terbebas dari jerat mematikan, dan rasanya dia tidak tau harus menjelaskan nya dengan apa. Yang pasti, dia sangat bahagia sekarang.
Sasuke tidak tau pasti, apakah yang dirasakan Sakura sama dengan dirinya. Tapi cukup dengan tindakan yang Sakura lakukan, dia sudah merasa senang. Bahkan dia tidak akan menyangkal kalau sebenarnya dia mulai mencintai istrinya itu. Dia juga tidak tau kapan perasaan itu berubah, akan tetapi mendengar Sakura berkata tentang menghentikan pernikahannya, dia takut bahkan tidak siap jika harus kehilangan istrinya secepat itu. Apalagi membayangkan Sakura bahagia dengan pria lain dan bukan dirinya, sangat terasa menyakitkan.
Sasuke masih mengingat dengan jelas jawaban Sakura akan pertanyaan nya itu, bahkan dengan mengingat itu saja membuat hatinya bahagia.
"Sakura?"
"Ya?"
"Aku ingin kita menghilangkan pembatas itu," dia menarik napas, ini adalah tindakan yang benar "maukah kau menjalani pernikahan yang nyata dengan ku?"
Sakura terdiam, semuanya berubah. Tatapan Sasuke yang lembut, nada bicaranya yang tenang, dan juga hatinya ikut berubah. Dia menyukai suaminya, dia menyukai Uchiha Sasuke.
Sakura menatap Sasuke lama, mencoba mencari ketidakseriusan pria tersebut, mencoba mencari tatapan dingin nan tajam nya, mencoba mencari nada bicara yang datar itu, tapi hasilnya nihil, nol besar. Bahkan semua pemikirannya itu bertolak belakang dengan apa yang Sasuke perlihatkan sekarang.
"Aku tidak akan memaksa mu untuk menghadirkan cinta itu, kita akan memulai nya dengan pelan-pelan dan membiarkan waktu yang melakukan hal itu. Yang aku ingin hanya, kau selalu bersama ku dan jangan pernah berpikir untuk meninggalkan ku Sakura."
Sakura tersenyum, senyum yang paling indah menurut Sasuke. Dia mendekat kearah suaminya, mengambil tangan Sasuke dan menggennggam nya erat.
"Tentu saja aku mau, Sasuke-kun. Kau adalah takdir ku, dan aku tidak akan mungkin meninggalkan mu."
Tidak seperti kebanyakan pasangan lainnya, mereka tidak berpelukan, cukup dengan genggaman tangan dan panggilan spesial dari Sakura itu membuat Sasuke bahagia. Dia sangat bersyukur Kami-sama masih menunjukkan nya pilihan yang tepat, jalannya untuk kembali, rumahnya, Uchiha Sakura.
"Yo, teme!" teriakan dari Naruto membangungkan Sasuke dari lamunan indahnya, raut wajah tersenyum nya kembali seperti semula, datar.
Ketiga pria itu lansung mengambil tempat di sofa yang berada didepan meja kerja Sasuke sendiri. Uzumaki Naruto, Shimura Sai, dan Hyuuga Neji.
Sasuke bangkit dari kursinya, duduk di salah satu sofa sambil menyapa teman-teman nya.
"Bagaimana kabar mu?" tanya Sai sambil mengambil apel yang berada di atas meja yang terletak ditengah mereka.
"Aku baik."
Sai mengangguk, melanjutkan memakan apel nya lagi. Bahkan, dia tidak menyadari bicara Sasuke. Tapi itu semua tidak luput dari Naruto dan Neji.
Kata 'aku baik' yang Sasuke ucapkan itu mempunyai maksud tersembunyi bagi mereka. Naruto wajar bisa mengetahui perbedaan itu karena mereka memang sudah bersahabat sejak lama, sedangkan Neji? Ntah kenapa belakangan ini dia menyadari ada yang sedikit berubah pada Sasuke.
"Bagaimana hubungan mu dengan Karin, Sasuke?"
Sasuke lansung menatap Neji tajam saat mendengar nama itu, lagipula sejak kapan Neji peduli akan hubungannya dengan Karin? Dan sasuke merasa ada yang tidak beres disini.
"Apa maksud mu?"
Bukan Sasuke saja, Naruto dan Sai pun memandang Neji bingung. Kenapa Neji berubah peduli pada hubungan asmara temannya itu.
Neji mengangkat bahunya, berdiri sebentar sambil mengambil salah satu apel dan menjawab pertanyaan Sasuke dengan santainya. "Aku tidak bermaksud apapun, dan ini hanya pertanyaan Sasuke. Jangan menanggapi nya terlalu serius."
"Tapi, aku juga ingin tau teme, bagaimana hubungan mu dengan Karin saat ini?"
"Aku sudah memutuskannya, Karin dan aku tidak ada hubungan apa-apa lagi."
"APA?!"
Naruto tidak bisa berkata apa-apa selain berteriak seperti itu, dan yang lain juga bungkam. Pasalnya, mereka tidak akan menyangka Sasuke akan mengambil tindakan tersebut.
Naruto hanya terkejut, dulu saat Sasuke mengenalkan Karin pada mereka semua, dia berpikir bahwa Karin lah yang akan menjadi wanita terakhir pemuda itu. Karena, dibandingkan dengan yang lain, Karin lah yang paling bertahan lama disisi Sasuke hingga setahun lebih. Dari tindakan Sasuke pada Karin dulu pun, membuatnya berpikir bahwa pria tersebut mempunyai perasaan yang sama pada wanita itu, tapi nyata nya? Semua itu hanyalah pemikiran semata.
"Apakah ada alasan dari jawaban mu itu?" Sai menunggu jawaban Sasuke dengan sedikit was-was. Yang dia tau, Sasuke adalah orang yang selalu mengambil tindakan yang pasti mempunyai alasan.
Sasuke mengangkat sebelah alis nya, menatap Sai sambil mengangkat tangan yang terdapat cicin pernikahannya. "Alasan nya adalah ini, aku sudah menikah. Dan, pembicaraan selesai."
Tepat setelah Sasuke menutup pembicaraan nya, Sakura masuk sambil membawakan cemilan dan juga minuman untuk para tamu. Tata krama yang selalu diajarkan oleh keluarga nya.
"Maaf mengganggu dan sedikit terlambat," ucapnya sambil meletakkan nampan yang berisi kue dan teh itu.
"Wahhh, kue... kau mengantarkannya disaat yang tepat Sakura-chan." Naruto lansung mengambil kue tersebut dan memakan nya dengan lahap. Sampai-sampai membuat Sakura tersenyum karena tingkah-laku nya.
"Tentu saja Naruto, dan hai Sai, Neji."
"Wohaa, kau mengenal kami Sakura-chan?"
Sakurang mengangguk dan tersenyum sekali lagi.
"Pastinya, kalian semua adalah teman suami ku, dan teman suamiku adalah teman ku juga Naruto."
Naruto tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakan Sakura, dia hanya mengangguk dan lansung menikmati kue lezat itu lagi. Pria yang satu ini memang begitu, tidak tahan dengan makanan apalagi kalau sampai Sakura menghidangkan ramen. Dia pasti akan lupa dunia.
Dan sepanjang malam itu, Sakura menikmati waktu berceritanya dengan teman-teman suaminya. Bagi Sasuke tidak ada masalah sedikit pun, asalkan Sakura merasa senang dan bahagia, dia pasti akan melakukannya. Dan juga, menikmati tawa dan senyum Sakura sangat menyenangkan.
Akhirnya dia disini, Favorit Place Ala Uchiha Sakura. Toko Buku.
Memang, semenjak mengandang status sebagai nyonya Uchiha membuat nya sedikit kehilangan waktu nya bersama buku-buku. Belajar menjadi nyonya dari seorang pebisnis sukses memang cukup merepotkan. Selalu ada agenda setiap waktu, itu adalah salah satu dari sekian banyak alasan bahwa dirinya tidak ingin menjadi istri seorang pebisnis. Tapi, takdir berkata lain.
Dia berjalan menyusuri rak buku besar yang berlebel 'Kedokteran' itu dengan mata yang selalu mencari judul buku yang tepat untuk bacaan nya.
"Nyonya Uchiha?"
"Ya?"
Sakura menatap pria disampingnya ini, mencoba mengingat apakah dia mengenal pria itu atau bukan. Dan hasilnya, dia tidak mengenal pria ini.
"Ternyata dugaan ku benar, itu memang dirimu nyonya Uchiha."
"Kau mengenal ku?"
"Tentu saja, siapa yang tidak mengenal dirimu di Jepang ini? Istri seorang pebisnis sukses, anda ada dimana-dimana. Majalah, koran, televisi, bahkan media sosial sekalipun."
Wow, wanita itu tidak menyangka akan seperti ini. Rasa-rasanya, kenapa dia terlihat lebih terkenal dari artis atau model mendengar ucapan pria tersebut.
"Senang bertemu dengan anda, nyonya."
"Aku juga, dan jangan memanggil ku nyonya dengan bahasa seformal itu. Cukup panggil Sakura saja, kududukan kita sama disini dan juga aku merasa tua terlalu cepat karena panggilan itu."
Sakura tersenyum, seperti nya pria ini orang yang baik. Tentu saja pemikiran tersebut dari pandangan nya saja.
"Lalu, kau sendiri?"
"Aku? Hozuki Suigetsu, Sakura. CEO dari CBA Entertaiment sekaligus manager seorang model."
Suigetsu mengulurkan tangannya sambil tersenyum menatap Sakura, ternyata begini rupa nyonya Uchiha itu.
Nyonya muda yang baru-baru ini selalu menjadi sorotan media, mulai dari cara berpakaian yang modis dan elegan, sikap yang sopan dan ramah dengan tutur kata yang bagus, berpendidikan tinggi dan cerdas. Bahkan, Suigetsu tidak menemukan berita buruk tentang Sakura di media manapun. Dan, ini membuktikan bahwa Karin harus mengibarkan mendera kekalahan. Jika, dia tidak mau reputasinya hancur.
'Ku rasa, kau harus mundur Karin, Sakura bukan tandingan mu.' Pikirnya sambil membalas senyum ramah yang Sakura berikan.
.
.
.
.
.
*TBC*
A/N:
Anyeong! Minna-san!
Maaf kalo menggabung kedua bahasa itu karena saya suka keduanya^^
Sebelumnya, adakah yang masih menunggu cerita ini?
Maaf sekali lagi gak bisa update kilat, karena sangat susah mencari inspirasi disela kesibukan buat persiapan uas, pelaksanaan uas, dan baru dapat ide setelah uas selesai kemaren, itupun mancing-mancing dulu dengan baca komik, noton film atau drama, baca novel, dll. Finally, saya hanya bisa menuangkan cerita cuman segini #nangis
Masalah, me and him sampe chapter brapa saya juga belum bisa tentuin. Soalnya masih banyak yg belum terpecahkan, jadi saya hanya bisa berharap teman-teman semua masih mau menunggu cerita ini sampai end^^
Dan, maaf juga saya gak bisa review satu-satu lagi, tapi bagi teman-teman yang ingin bertanya tentang cerita ini atau yang lain silahkan PM^^
At Last, RnR^^
