Chapter 11

*Beginning*

Tok tok tok...

Mendengar ketukan dari luar pintu ruang kerja nya, membuat Neji langsung menutup Macbook nya dan langsung memalingkan wajah kearah pintu. Menemukan Hinata yang sedang membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman yang mungkin untuk nya.

"Nii-san, bolehkah aku masuk?"

"Ah, Hinata. Silahkan."

Hinata berjalan pelan sambil membawa nampan yang berisi dua cangkir teh dan sepiring kue kering. Bermaksud untuk mengajak kakak sepupu nya itu berbincang-bincang. Karena sudah tiga jam Neji tidak keluar dari ruangan nya sendiri, dan Hinata merasa yakin kalau ada masalah yang dipikirkan oleh kakak nya itu.

Dia mengambil secangkir teh dan meletakkan nya didepan Neji. "Terima kasih," ucap Neji setelah menyesap sedikit teh nya.

"Apa ada yang bisa Nii-san bicarakan dengan ku? Karena sejujurnya aku memerhatikan dirimu sejak tadi. Apakah ada masalah yang kau pikirkan?"

Neji hanya tersenyum sambil menggeleng kepada adiknya itu. Hinata memang mengerti dirinya, dan dia memang sedang memikirkan sesuatu saat ini. Tapi tentu saja apa yang ada di pikiran nya itu tidak dapat dia ungkapkan kepada Hinata sekarang.

Memang, sudah tiga jam dirinya berada diruang kerjanya sejak dia keluar terakhir kali. Dan tiga jam itu hanya dihabiskan dengan memandang wajah Sakura di Macbook nya. Benar, Uchiha Sakura. Ini memang salah, wajah yang dipandang nya selama tiga jam itu adalah istri seseorang, dan seseorang itu adalah sahabat nya sendiri. Tapi, apakah perasaan nya yang menyukai Sakura itu salah?

Dia hanya menyukai Sakura dan sampai sekarang pun dia belum ada niatan untuk memisahkan Sakura dengan suaminya sendiri. Sampai saat ini dia hanya bisa menyimpan Sakura dihati nya saja. Dan orang lain tidak perlu tau akan itu, termasuk adik sepupunya sendiri.

Hinata masih memandang Neji menunggu sebuah kata yang keluar dari mulut nya. Tapi, sampai saat ini Neji hanya diam dan seperti memikirkan sesuatu lagi. Gelengan yang diberikan Neji tadi masih belum bisa meyakinkan Hinata. Tapi, apa yang membuat Neji bungkam? Bahkan pada dirinya sendiri. Neji biasanya tidak merahasiakan apapun dari dirinya, tapi kenapa pada masalah ini sangat berbeda. Seperti kakak nya itu menyembungikan sesuatu masalah yang sangat besar.

"Baiklah, kalau Nii-san tidak bisa membicarakan nya dengan ku saat ini. sebaiknya, aku per-"

"Apa menyukai seseorang itu salah?"

"Apa?" Hinata mematung mendengar jawaban Neji. Jadi, masalah yang membuat kakak nya mengurung diri tiga jam itu adalah masalah perasaan?

"Aku, menyukai seseorang Hinata."

Benar, Neji mempunyai masalah perasaan. Tapi, kenapa dirinya merasa cemas?

Bukankah seharusnya dia merasa senang akan itu. Lalu, apa arti perasaan cemas ini? perasaan yang membuat nya yakin bahwa masalah ini bukanlah hal yang baik.


Dokter itu melangkah kan kaki nya menyusuri lorong-lorong rumah sakit untuk menuju ruangan nya. Sudah enam minggu kejadian bersejarah dalam hidupnya itu berlangsung dan sudah lima bulan dia menjalani kehidupan barunya sebagai seorang istri dari pengusaha terkemuka di Jepang dan negara lainnya.

Sampai saat ini, semua nya berjalan lancar bahkan baik-baik saja. Maupun pada dirinya atau pada suaminya. Menjalankan kegiatan di rumah sakit milik suaminya sendiri, menemani suami nya itu dalam perjalanan bisnis nya, menghadiri beberapa acara amal serta peresmian-persemian, dan masih banyak yang dilalui nya dalam kehidupan barunya itu.

Tapi, sejak tadi dia merasa aneh. Kenapa semua karyawan, perawat, dan beberapa dokter yang lewat memerhatikan dirinya sedemikian mungkin? Apakah ada yang salah dengan penampilan nya? Maka dari itu dia sedikit tergesa-gesa menuju ruangannya.

Sakura langsung duduk dikursi nya setelah cukup berlari dari pintu utama menuju ruangan nya, dia hanya merasa risih dengan pandangan aneh orang-orang padanya.

Tok tok tok...

"Masuk. Ah, Shizune Nee-san. Apakah sesuatu sedang terjadi?"

Sakura memerhatikan Shizune, seorang dokter senior bagian penyakit dalam dan kepala rumah sakit ini sendiri. Sebenarnya, jabatan kepala rumah sakit itu diberikan kepada nya, hanya saja dia menolak. Dia masih belum terlalu berpengalaman, tentu saja sebab baru beberapa bulan ini dia resmi menjadi seorang dokter. Bahkan, gelar spesialis saja belum disandang nya, mana bisa dia menerima jabatan itu.

Shizune meletakkan sebuah surat kabar dimeja Sakura, "Itu, seperti nya ada yang akan memberi kabar bahagia ya, Sakura-chan?" tunjuk nya pada surat kabar sambil tersenyum pada Sakura.

Sakura mengangkat alis nya seolah bertanya pada Shizune, dan Shizune hanya menunjuk surat kabar itu dengan dagunya.

Dan, halaman depan surat kabar itu membuat dirinya merasa aneh.

Mr. and Mrs. Uchiha: The Uchiha baby on the way?

Sungguh, judul terdepan dari surat kabar tersebut menggelitik dirinya. Apa-apaan itu? Baby on the way? Yang benar saja! Pantas saja semua orang memerhatikan drinya sejak tadi, karena surat kabar aneh ini.

"Jadi, benarkah?"

Sakura masih memerhatikan surat kabar tersebut, alih-alih meliput penggalan dana yang dilakukan ditempat itu, surat kabar itu malah menampilkan beberapa potret dirinya bersama Sasuke.

Dia menghela napas, "Tentu saja tidak Nee-san, ah maksud ku belum. Surat kabar itu hanya mengada-ada saja."

"Baiklah, tapi terlebih dari semua itu. Bagaimana kabar kalian? Apakah ada kemajuan?" tanya Shizune sambil mengambil permen mint yang ada di atas meja Sakura.

"Sejauh ini baik-baik saja Shizune-nee, bahkan lebih dari baik kurasa."

Shizune mengangguk, "Bagus Sakura, pertahankan seperti itu. Dan kalau boleh, ide surat kabar ini cukup bagus, benar bukan?"

"Shizune-nee..."

"Baiklah, seperti nya keberadaan ku membuat mu ternganggu ya? Tapi Sakura, dengar, banyak yang bilang padaku kalau anak itu penguat hubungan kedua orang tua nya, yah walaupun aku tidak ada pengalaman dengan itu. Percaya atau tidak, yang penting cepat lah mempunyai bayi." Ucap nya sambil bangkit dari duduknya.

"Nee-san saja tidak berpengalaman, malah memberiku nasehat seperti itu. Makanya, cepat saja ajak tuan Hatake itu mengucapkan janji kalian." Dengus Sakura padanya.

"Ya ya, tenang saja. Baiklah, aku pergi dulu."

"Ya, sampai jumpa nanti Nee-san."

Sepeninggal Shizune, Sakura masih memerhatikan surat kabar itu. Walaupun surat itu aneh baginya, tapi mendengar bayi Uchiha membuat dirinya tersenyum. Dia tidak akan menampik bahwa dia akan sangat senang jika itu terjadi.


Hinata masih memikirkan kejadian semalam, sampai sekarang dokumen yang harus diperiksa oleh nya malah menumpuk begitu saja. Pengakuan Neji padanya memang membuat nya terkejut. Awal nya dia senang, tapi mendengar nama orang yang disukai kakak nya membuat perasaan cemas yang dia rasakan semalam terbukti.

"Aku, menyukai seseorang Hinata."

"Siapa Nii-san?" Hinata masih menunggu jawaban Neji. Siapa seseorang yang disukai Neji sehingga perasaan suka yang dirasakan kakak nya seperti masalah berat dimatanya.

"Sakura, Uchiha Sakura."

Gila! Ini benar-benar gila! Pengakuan yang Neji utarakan ini lebih buruk dari yang tadi. Mana mungkin kakak nya bisa menyukai istri seseorang seperti itu? 'Neji-nii pasti salah, ini tidak mungkin terjadi.'

Neji berjalan pelan ke arah Hinata, diam nya Hinata ini membuat dia khawatir. Memang, seharusnya dia tidak memberitau perihal ini pada Hinata.

Dia berhenti didepan Hinata dan memegang pundaknya, "Ini benar Hinata, aku menyukai Sakura. Aku tidak tau itu terjadi sejak kapan, bagaiamana, dan kenapa Sakura. Tapi yang pasti, aku menyukai nya."

Hinata terduduk kembali pada sofa itu, dia benar-benar tidak tau kenapa itu harus terjadi pada kakak nya.

"Tapi Sakura itu sudah menikah Nii-san, dan suami nya itu sahabat mu dan atasan ku juga. Ini tidak benar." Dia menutupi seluruh wajah nya dengan telapak tangan nya. Dia merasa aneh.

"Aku juga tau itu, tapi mau bagaimana lagi. Perasaan ini tidak bisa hilang begitu saja Hinata."

Hinata bangkit, dan menatap mata Neji dengan serius. "Ini tidak benar, ini tidak boleh diteruskan Nii-san. Ku mohon, jangan teruskan ini, mereka sudah bahagia."

"Kita lihat saja nanti." Neji melepaskan tangan nya dari pundak Hinata dan meninggalkan adiknya begitu saja.

Sekali lagi, dia menghela napas berat. Apa yang harus dilakukan nya sekarang? 'Kami-sama bantu aku.'

"Permisi, apakah tuan Uchiha ada didalam?"

'suara ini? Karin?'

Dia bangkit dari duduk nya, dan menatap model itu dengan tegas. "Maaf nona, untuk saat ini Sasuke-sama sedang tidak dapat diganggu. Silahkan menemui nya lagi nanti."

"Tidak bisa, aku harus menemui nya sekarang!"

"Nona, tung-"

Brakk

"Sasuke-kun!" seru Karin pada Sasuke saat dia telah berhasil masuk ke ruangan nya.

"Maafkan saya Sasuke-sama, saya sudah memperingati nona Karin tapi dia tidak dengar."

Sasuke menggeleng, "Tak apa Hinata, silahkan kembali ke ruangan mu."

"Baiklah, saya permisi."

Hinata langsung berjalan keluar meninggalkan Sasuke dengan Karin diruangan itu. Yang dia pikirkan sekarang hanyalah masalah kakak nya itu. Dia butuh bicara dengan seseorang dan hanya Naruto satu-satu nya jalan. 'benar, aku akan membicarakan masalah ini dengan Naruto-kun!'


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Sasuke masih memandang dokumen yang berada ditangan nya, mengacuhkan Karin yang berdiri didepan nya.

"Ini," dia melempar sebuah surat kabar pada Sasuke, "Apa maksud semua ini Sasuke-kun? Itu berita bohong bukan?"

Sasuke tidak menjawab, dengan segera dia mengambil surat kabar itu.

Mr. and Mrs. Uchiha: The Uchiha baby on the way?

'apa-apaan ini?' dia masih memerhatikan surat tersebut. Ternyata wartawan disana tida menyia-nyiakan waktu nya. Jelas sekali potret nya bersama Sakura terlihat jelas. Dirinya yang memeluk pinggang Sakura sambil tersenyum, dirinya yang mengandeng tangan Sakura selama acara berlansung, dan masih banyak lagi bentuk kemesraan nya yang terpapar bersama sang istri di surat kabar itu.

"Katakan Sasuke-kun! Ini tidak benar bukan?!" Sasuke masih saja diam, sekarang banyak hal yang muncul dikepalanya.

Sejujurnya dia ingin sekali hal tersebut benar, Apakah usaha yang dilakukan nya beberapa minggu yang lalu itu akan berhasil? Ah, mengingat itu membuat nya tersenyum. Sakura sangat cantik kala itu.

"Jadi, itu benar? Kau tersenyum seperti itu tandanya benar?"

"Ck, pergilah Karin. Aku tidak ingin diganggu."

"Baik, aku akan pergi dan memberitau istri mu bahwa kita saling mencintai." Karin lansung melangkahkan kakinya, tapi belum sempat dia memegang gagang pintu, Sasuke sudah menahan kuat pergelangan tangan nya.

"Baik, lakukan. Tapi, jika kau pintar, kau pasti tidak akan mengambil tindakan berbahaya itu. Sekarang, keluar dari ruangan ku!"

Karin menatap Sasuke dengan pandangan kaget dan langsung berlari menjauh dari ruangan Sasuke, selama ini pun dia tidak pernah mendengar Sasuke membentak nya begitu keras. Sekarang dia merasa bahwa Sasuke benar-benar jauh dari jangkauan nya.


"Nah, Kenji-kun. Kau ingin cepat bisa bermain dengan teman-teman mu lagi bukan? Maka dari itu jangan menolak obat mu lagi. Kau mengerti?"

"Aku mengerti bu dokter, terima kasih."

Sakura tersenyum sambil mengusap kepala anak itu, "Sama-sama jagoan, anak pintar."

Dia berjalan keluar dari ruangan rawat inap itu, serta diikuti oleh ibu dari sang pasien nya.

"Terima kasih banyak dokter Uchiha, saya rasa dia tidak akan memuntah kan obat nya lagi."

Dia tersenyum sekali lagi, "Sama-sama nyonya Kirisawa, saya pamit dulu."

Setelah pamit kepada orang tua dari pasien nya sendiri, Sakura berjalan menjauh dari ruangan itu untuk menuju tiga ruangan lainnya. Masih ada tiga pasien lagi yang harus dia cek keadaan nya, sebelum jam pulang nya selesai.

"Sakura!"

Dia berbalik dan menutup pintu ruangan rawat inap itu, "Tenten?"

Tenten mendekat kearah Sakura sambil membawa sesuatu yang ada ditangan nya.

"Ada undangan untuk mu atau lebih tepat nya untuk kita, ini." Tenten memberikan undangan tersebut kepada Sakura.

Undangan yang berisikan pelatihan bagi dokter muda yang diselenggarakan oleh persatuan lima Universitas terkemuka di dunia termasuk Unversitas nya sendiri.

"San Fransisco?"

"Benar, di San Fransisco selama lima hari. Bukan kah itu bagus?" Tenten masih diam, masih menunggu jawaban dari Sakura sendiri.

Sakura masih memengang kertas undangan tersebut. Selama lima hari di San Fransisco? Itu bukan masalah baginya. Yang ada masalah adalah... apakah Sasuke akan menyutujui nya? Tapi, akan sayang jika kesempatan emas ini dibiarkan begitu saja.

"Ayolah Sakura, ini kesempatan yang bagus bukan? Lagipula, kau tidak sendirian. Masih ada aku dan tiga teman kita yang lainnya." Tenten menggenggam tangan Sakura mencoba meyakinkan.

"Tiga teman yang lainnya?" ucap nya sambil menatap kertas itu.

"Ya, seingat ku mereka itu... Akeno Ryouta, Nishimura Kisaki, dan Hyuuga Neji."

"Hyuuga... Neji?" Tenten mengangguk sebagai jawaban nya.

Bukankah Hyuuga Neji adalah sahabat suaminya? 'Benar, jika ada Neji, mungkin saja Sasuke-kun mau mengizinkan ku untuk pergi pelatihan itu.'

"Baiklah Tenten, kurasa aku akan ikut." Dia tersenyum dan tentu saja Tenten membalasnya dengan senyuman juga.

.

.

.

.

.

*TBC*


A/N: Finnaly Up! Happy Reading^^

Balasan review:

DeShadyLady: ini udah lanjut^^

Kristya771: aa senangnya masuk list favorit, terima kasih^^

saskey saki: semoga harapannya terkabul, dan tentang konflik masih dipikirkan yaa^^ semoga mau menunggu :D

Baby Blue: iyaa dan maaf up nya lamaa bangettt^^

hime: ini udah lanjut^^ maaf gak bisa kilat :')

heni: terima kasih udah masuk list favorit^^ maaf gak bisa kilat :')

PantatAyan BerJidatLebar: semoga saja yaa^^

sitieneng4: membayangkan moment "itu"? hihihi no coment deh XD

nabilamei77: ini udah lanjut^^ tapi maaf aku gak bisa kilat :') dan terima kasih sudah menyukai cerita ini^^

Emeraald US: ini udah lanjutt^^

Dwisuke: bagi aku sih sakura gak occ karena sakura hanya bertindak sesuai pemikiran nya yang sudah dewasa^^ tapi, kembali kepada opini masing2 :D

Dian rschan: samasama^^ ini udah next, dan semoga aja ya sasuke bisa tambah romantis sama saku :D

Tectona Grandis: terima kasih^^

mey-chan: ini udah update dan terima kasih untuk sudah menyukai chara saku disini^^

yuri chan: ini udah next^^ dan semoga lebih panjang dari yang kemaren yaa :D

Sasa Uchiha: ini udah update^^ semoga chap ini lebih dari yang kemaren yaa^^

guest: ini udah up^^ dan selalu ikutin story ini yaa :D

Rrrr: ini udah up^^ maaf gak kilat :')

Yurichan: terima kasih sudah menyukai cerita ini^^

sasukun: salam hangat jugaa^^ terima kasih sudah menyukai chara disini dan ini udah up :D

Bie-chan: ini sambungan nyaa^^ semoga suka yaa

gian: ini udah next^^ dan maaf banget up yang lamaa :')

Rinka Aulia: ini udah up lohh^^ silahkan baca^^

TaSasuSaku: ini udah lanjut^^ maaf gak kilatt :')

sukabaca: wahhh akhinya nongol juga yaa caa :D terima kasih sudah menyukai ceritanya yaaa^^ dan jangan bosan mampir terus yaaa^^

UchihaPearl: ini udah lanjut^^ dan semoga chap ini lebih dari yang kemaren yaa :D

Yosh! akhirnya selesai jugaa

Maaf untuk pembaca semua, kali ini up story nya lama bangetttt yaa, rasa-rasanya udah mulai lumutan :X semoga aja ada yang masih mau membaca dan menunggu story ini^^ dan sebagai permintaan maaf, saya akan meng-up tiga story sekaligus^^

Dan big thanks to RnR, FavnFoll dan maaf untuk typo pada chapter ini :)

At last, mind to review?^^

Sign, TaySky1998