Chapter 12
*Confused*
Ino masih memandang buku yang ada di atas meja nya. Hari ini barang-barang yang dia pesan dari Prancis akan segera datang. Dan butiknya pun lumayan ramai saat ini. Memang, setelah menyelesaikan studinya, Ino langsung membuka butik yang berisi rancangan baju milik diri sendiri di salah satu kawasan perbelanjaan di Tokyo. Usahanya itu berhasil, rancangan yang dia miliki selalu diminati.
"Ino-nee, ada yang ingin bertemu denganmu." Ino mengangkat kepalanya dari buku dan menatap Sora, Asistennya dengan pandangan ingin tau. "Dia menunggu didepan."
"Baiklah." Ino bangkit dari duduk nya dan segera melangkah ke depan toko.
"Sai!" Dia melihat pria itu didepan toko nya, menyandar pada pintu depan mobil mewah itu. Langsung saja, wanita yang bernama Yamanaka Ino itu berlari ke arah Shimura Sai dan memeluk lelaki nya. Tentu saja hal itu merupakan tindakan yang berada di luar pemikiran Ino sendiri.
"Ops, maaf." Dia segera melepaskan pelukkannya setelah menyadari tindakannya tersebut.
"Tak apa. Aku menyukainya," ucap Sai sambil tersenyum kepada Ino. Tentu tindakan tersebut membuat semburat merah mengalir di wajah Yamanaka itu.
"Lalu, apa yang membawamu kemari?"
Sai membuka pintu depan mobilnya dan menatap Ino sambil tersenyum lagi. "Aku akan mengajakmu menemui seseorang sekaligus pergi makan siang. Bagaimana?"
Ino mengangguk. "Baiklah, tunggu sebentar."
Dia berbalik ke dalam untuk mengambil tas tangannya. "Sora, aku akan keluar sebentar. Aku titip butik padamu." Setelah memastikan Sora mengangguk dan mendengar jawabannya, Ino pun melangkah ke depan untuk menemui Sai lagi.
"Pergi?" Sai menatap Ino sekali lagi.
"Ayo!"
"Itu mereka." Ino mengikuti arah tunjuk Sai yang mengarah kepada dua orang yang duduk di salah satu meja di restoran tersebut, Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata.
Sai berjalan ke arah meja Naruto dan Hinata sambil menggandeng tangan Ino. Dan lagi-lagi ini membuat Ino kembali memerah.
"Naruto-san," sapa Ino setelah mereka sudah berada di meja tersebut.
"Senang bertemu denganmu, Yamanaka-san. Silahkan duduk."
"Terima kasih."
Mereka segera duduk di depan pasangan itu. Sejujurnya, Ino tidak mengerti kenapa Sai membawanya menemui Naruto dan tentunya Naruto tidak sendirian. Ino masih memerhatikan wanita yang berada di samping Naruto. Wanita itu tetap tampak anggun dan cantik dengan setelan baju kantornya.
"Jadi, Yamanaka-san seorang desainer yang kau ceritakan itu Sai Nii-san?"
'Nii-san? Jadi wanita yang bersama Naruto mengenal Sai?' pikir Ino yang masih memandang Hinata.
"Benar, Hinata. Nah, Ino, ini Naruto dan tunangannya, Hyuuga Hinata." Sekarang Ino pun tahu dari mana keanggunan itu berasal.
Wanita ini keluarga Hyuuga. Tentu sangat jelas bahwa keluarga itu keluarga terpandang.
Ino mengangguk. Dia langsung menatap Sai seolah bertanya mengapa dia dibawa kemari, dan sepertinya Sai mengerti.
"Nah, mereka ini akan segera melangsungkan pernikahan. Jadi, mereka meminta mu untuk merancang gaun pernikahan. Kau bisa?" Sai menatap Ino sambil menunggu apa yang akan keluar dari mulut Ino.
Merancang gaun pernikahan memang baru baginya, tapi justru ini yang membuat pengalaman yang dia punya semakin bertambah. Dengan menyetujui tantangan ini, dia pasti bisa menggali kemampuan yang dia miliki. Jadi, keputusan nya adalah ...
"Oke, aku setuju. Lalu, berapa waktu yang akan kalian berikan untukku?"
Naruto dan Hinata tampak berpikir sebelum menjawab pertanya Ino. "Tiga bulan? Karena acaranya akan diselenggarakan lima bulan lagi. Bagaimana?"
Ino mengangguk. "Deal! Selamat untukmu Naruto-san, Hinata, boleh aku memanggilmu begitu?" Hinata menatap Ino seraya tersenyum. "Tentu saja, Ino-chan."
"Well, masalah selesai. Saatnya makan siang," ucap Sai yang diikuti anggukan oleh Naruto.
Dan kedua pasangan itu melanjutkan makan siang mereka sambil sesekali bercerita bersama. Itu tentu saja juga menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi Ino.
"Kau belum pulang?"
Sakura berhenti membaca berkas yang ada di tangannya. Menatap Shizune yang berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu ruang kerja dokter Uchiha itu.
"Sebentar lagi Nee-san, masih ada beberapa yang harus aku periksa." Dia kembali membaca berkas salah satu pasien yang ada di tangannya dan masih mendengar langkah kaki Shizune yang mendekat.
Shizune duduk di salah satu kursi di depan meja Sakura. "Sebaiknya kau melanjutkan itu besok Sakura, sekarang juga sudah waktunya pulang. Aku yakin Sasuke akan membutuhkan mu saat dia pulang nanti."
Sakura mengangguk. "Nee-san benar, aku akan bersiap."
Setelah memastikan Sakura bersiap, Shizune bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu ruangan tersebut. Namun, sesaat sebelum mencapai pintu, dia berbalik menatap Sakura lagi. "Ohya, jangan lupa memberi tahu Sasuke perihal rencanamu ke San Fransisco. Pihak rumah sakit membutuhkan persetujuanmu paling lambat tiga hari ini."
"Baik Nee-san, aku akan memberi tahu Shizune-nee secepat yang aku bisa setelah mendapat persetujuan Sasuke-kun," ucapnya sambil melanjutkan beres-beres, setelah menatap Shizune tentunya.
Setelah itu Sakura hanya mendengar langkah kaki Shizune yang mulai menjauhi ruangan.
Meminta izin Sasuke termasuk salah satu masalah yang masih mengganjal di pikirannya. Dia tentu sangat ingin pergi ke sana, pelatihan ini seperti emas bagi dirinya. Tentu saja dia tidak dapat menolak apalagi membiarkan kesempatan ini lenyap begitu saja.
Tapi, apakah Sasuke akan setuju? Dan bagaimana cara membujuk suaminya itu untuk dapat memberi izin? Dia bahkan sudah bertanya dan berdiskusi dengan Shizune, tapi Shizune hanya menjawab "Dia kan suamimu dan yang mengerti suamimu ya dirimu sendiri, Sakura."
Sakura menggeleng mengingatnya. Jawaban itu sama sekali tidak membantu.
'Hahh ... aku harus segera pulang, karena itu cara terbaik kurasa.' Dia mengambil tas lalu melangkah ke luar ruangan tersebut.
"Nah, kita sudah sampai."
Tanpa disebutkan oleh Naruto pun, Hinata sudah tau mereka telah tiba di rumahnya. Rumah yang telah ditempati dirinya bersama dengan sang kakak sepupu selama berada di Tokyo.
Kakak sepupunya, Hyuuga Neji.
Dia tentu masih mengingat apa yang mereka bicarakan kemaren malam. Bahkan, dia sudah bertekad akan memberi tahu Naruto. Tapi, kenapa lidahnya kelu untuk mengucapkan hal itu pada Naruto? Apakah karena dia takut bahwa kakaknya itu akan dibenci nanti?
Benar, jika dia memberi tahu Naruto, mungkin Neji akan dibenci oleh mereka. Dan persahabatan mereka akan hancur. Sebenarnya, memang itu hal yang membuat Hinata mempertimbangkan untuk tidak memberi tahu Naruto. Tapi, juga tidak benar jika masalah ini didiamkan begitu saja.
Sungguh, dia benar-benar bingung.
"Hinata-chan? Kau mendengar ku?"
Hinata mengenyahkan pikiran itu dari kepalanya dan menatap Naruto. "Ah ya, aku turun." Dia membuka pintu depan mobil dan langsung melangkah turun menuju rumahnya.
"Terima kasih, Naruto-kun." Naruto mengangguk. "Tapi kau terlihat memikirkan sesuatu, kau bisa bercerita padaku, Hinata-chan."
"Hinata?"
Panggilan dari Neji yang tiba-tiba pada dirinya yang membuat Hinata bungkam. Lagi, dia tidak dapat mengatakan apa-apa.
"Aku mengantar Hinata, Neji." ucap Naruto sambil mulai berjalan menuju mobilnya. "Terima kasih telah menjaganya Naruto."
Pria Uzumaki itu mengangguk dan memasuki mobilnya lalu menatap menatap Neji. "Tentu saja aku akan menjaganya. Baiklah, aku pergi." Dan mobil sport mewah itu pun menghilang di ujung jalan.
Neji berbalik dan menatap Hinata yang sedari tadi tampak diam. "Melihat reaksi Naruto, aku yakin kau belum mengatakan apa-apa."
Hinata menghela napas berat. Dia mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk. Kedua pasang mata mereka bertemu, dan pada saat itulah Neji melihat bahwa tatapan yang Hinata miliki pada dirinya berubah, bukan tatapan bangga lagi, tapi lebih kepada kecewa.
"Apa Nii-san tahu? Aku berusaha untuk tidak menghancurkan persahabatan kalian, tapi Nii-san sama sekali tidak melakukan apa-apa untuk itu." Dia berbalik mulai berjalan memasuki rumah dan meninggalkan Neji yang mematung terdiam.
"Hinata?"
"A-aku lelah, aku ingin tidur."
Dia terus melangkah tanpa memalingkan wajah kepada Neji. Jujur saja, dia sangat kecewa dengan kakaknya itu. Kakak yang selama ini selalu dibanggkannya.
Langit malam di Ibukota Jepang sangat indah malam ini. Banyak bintang bertaburan. Dan itu adalah objek yang dipandang Uchiha Sakura di balkon kamarnya. Ini merupakan salah satu cara ampuh nya untuk mendapatkan ketenangan. Dan itu berhasil.
Dia masih asik memandang langit sampai dia merasakan sepasang tangan kekar sukses melingkar di pinggangnya. Bahkan, dagu seseorang itu telah bertengger manis di bahu. Tentu saja dia mengetahui dengan cepat siapa seseorang itu.
"Sasuke-kun."
"Hn." Sasuke semakin mengeratkan pelukannya pada Sakura. Sungguh, seharian ini dia sudah menahan mati-matian rindu pada sang istri. Apalagi setelah mendengar surat kabar itu, membuat rindunya berkali-kali lipat.
Sakura adalah tempat ternyaman bagi dirinya. Memeluk seperti ini ditambah dengan wangi tubuh Sakura yang menenangkan. Wangi Cherry.
"Sasuke-kun sudah mendengar kabar itu hari ini?" Sakura tidak berbalik, melainkan memegang tangan Sasuke yang memeluknya.
Sasuke mengangguk. "Bukankah itu ide yang bagus?"
"Ide apanya?" ucap Sakura bingung, yang pasti tetap dengan posisi ternyaman mereka. "Uchiha kecil, Sakura." Semburat merah langsung merambat ke pipi nyonya muda Uchiha itu.
Melihat Sakura yang terdiam, Sasuke memutar tubuhnya sehingga mereka berhadapan sekarang.
"Kau tidak suka?"
Sakura menggeleng sambil menunduk. "Tentu saja aku menyukainya, tapi- hei! Turunkan aku Sasuke-kun!"
"Kita akan mendegarkan 'tapi' mu itu besok. Sekarang ada yang harus kita lakukan," ucap Sasuke sambil menurunkan Sakura dengan hati-hati di atas tempat tidur.
Sakura hanya menatap Sasuke dengan kesal. Apakah pria itu tidak tahu seberapa besar usaha yang dilakukannya untuk menenangkan hati yang berharap sejak tadi? Bagaimana dia akan bicara dan meminta izin Sasuke jika pria itu bersikap seperti ini. Dia bersidekap dan dengan jelas melihatkan wajah kesalnya pada Sasuke. Membuat Sasuke terkekeh kecil karena kelakuannya itu.
"Aku merindukan mu," ucap nya sambil mengecup singkat bibir Sakura. Dan Sakura masih tetap tidak bereaksi apa-apa. "Sakura..."
Pada akhirnya, Sakura tetap luluh pada Sasuke. "Tapi, yang akan ku bicarakan ini penting Sasuke-kun." Dia menatap Sasuke dengan padangan memohon.
"Baik, setelah semua ini selesai. Aku akan menuruti semua keinginanmu."
"Benarkah?"
Sasuke mengangguk.
"Terima kasih."
Dan itu adalah kata terakhir sebelum keduanya saling mendekat satu sama lain. Keinginan Sakura pada akhirnya akan berjalan lancar juga, dengan janji Sasuke tentunya.
.
.
.
.
.
*TBC*
A/N: Update! Happy reading^^
Balasan review:
Rachel: Haii^^ ini udah update dan seperti yang kamu bilang konflik nya udah-udah mulai naik ke permukaan nya :) tapi secara perlahan kok^^ ikutin terus yaa
Saku Haruchi: ini udah update^^ kita lihat nanti saja yaa kemana masalah mereka akan berujung XD review again^^
NNNNN: Haiiii^^ terima kasih semangat nyaa :D dan aku juga berdoa semoga Neji dan Tenten secepatnya bertemu ikutin terus yaa^^
sukabaca: haiii caa^^ wahh udah pake aroma-aroma segala XD masalah part sasuke nya makin kesini emang makin sedikit sih -,- soalnya udah mau mulai konflik but, aku akan berusaha selipin moment indah Sasusaku kok, ikutin terus yaa^^
Emeraald US: Haii haii^^ makin kesini emang romance nya makin kurang karena udah mau masuk konflik tapi tenang kok :) aku akan berusaha selipin dikit-dikit :D
rin: ini udah lanjut^^
Dwisuke: ini udah update^^
Guest: Haii^^ terima kasih sudah menyukai cerita ini :) ini udah lanjut^^
syni: ini udah update^^ dan maaf berkali-kali karena up nya lama banget :')
Kristya771: ini udah next^^ dan semoga doa nya terkabul yaa :)
CherryChan: ini udah lanjut^^ terima kasih sudah menyukai cerita ini :) jangan bosan buat ikutin cerita ini terus yaa^^
UIT 14: terima kasih untuk menyukai cerita ini^^ ini udah lanjut :)
ernawati sasusakusara: ini udah lanjut^^
safiera02: ini udah next^^
Dina: Haii haii^^ ini udah lanjut but aku minta maaf karena gak bisa kilat :') ikutin terus yaa :)
Yosh! balasan review selesai.
Terima kasih kepada yang mau menunggu cerita ini, sejujurnya saya udah buat draft cerita ini hingga ch13, dan itupun saya tulis dibuku, sama seperti dua cerita on-going saya yang lainnya. tapi, masalah yang terjadi, buku itu hilang entah kemana. dan akibatnya saya harus terus mencoba mengingat apa yang saya tulis di draft, alhasil seperti ini :') saya hanya berharap bahwa cerita ini masih banyak disukai dan maaf jika typo masih bertebaran^^
At last, selamat membaca dan saya mau rekomendasi Song Inspiration chapter ini: Selena Gomez Ft. Marshmello - Wolves^^
Sign, TaySky1998
