Chapter 13

*This Days*

Suigetsu melirik jam model Carrera, salah satu koleksi dari Tag Heure miliknya. Jam itu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan sudah lima jam Karin tidak mengangkat panggilan dari pria itu.

Memang, sejak siang tadi Karin terlihat murung. Suigetsu juga tidak tahu kenapa dan bagaimana. Setiap kali dia bertanya, Karin hanya diam. Ini seperti waktu pertama kali Karin mendengar berita pernikahan Sasuke, tapi yang sekarang lebih parah sepertinya.

Suasana lobi apartemen model terkenal yang dikunjunginya itu terlihat sepi. Namun, memang seharusnya seperti ini. Mengingat sekarang adalah waktu yang tepat untuk tidur. Dalam langkahnya menuju apartemen Karin, surat kabar yang digenggam pria itu setia menemani. Ini pun merupakan jawaban kenapa Karin berperilaku aneh seharian ini.

Dia sudah berada di depan pintu apartemen, menekan beberapa kode dan pintu langsung terbuka. Ruangan itu menampilkan susana kelam yang sunyi. Dia menekan salah satu tombol yang berada di samping pintu dan dalam sekejap ruangan yang awalnya gelap berubah terang.

"Karin? Kau ada di dalam?" ucapnya sambil menyusuri tiap ruangan yang ada di sana.

Bahkan, sudah beberapa kali memanggil pun, tidak ada jawaban dari Karin. Kini, dia sudah berada di depan pintu kamar Karin. Membukanya dengan paksa dan menemukan Karin yang meringkuk sambil menangis di atas tempat tidur.

"Apa yang Kau lakukan?!" Walaupun Karin tidak menjawab, dia tetap berjalan ke arah wanita itu berada.

Keadaan Karin benar-benar kacau. Rambut acak-acakan, wajah pucat, dan mata sembab akibat menangis. Pria yang menjabat sebagai CEO di perusahannya itu membelai lembut kepala wanita yang ada dihadapannya. Selembut mungkin, seperti Karin adalah kaca yang akan mudah retak.

"Aku hancur, Sui." Suigetsu tidak berkata apa-apa. Dia hanya menarik Karin ke dalam pelukannya. Membuat wanita itu senyaman mungkin.

"Sudahlah Karin, jangan dipikirkan lagi." Dia masih mengusap punggung Karin, berharap itu cukup untuk membuatnya tenang. "A-aku hanya tidak per-percaya Sa-Sasuke-kun akan begitu. A-Aku..."

"Karin!" Belum sempat Karin menyatakan semuanya, wanita itu sudah tidak sadarkan diri di pelukan Suigetsu.

Langsung saja Suigetsu berlari sambil meggendong Karin untuk menuju mobilnya. Dalam hati, dia hanya dapat berdoa bahwa wanita yang dicintanya ini baik-baik saja.


Keheningan malam masih menyelimuti. Tentu saja, karena jam yang berada di meja kecil di samping tempat tidur itu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Entah apa yang membuat mereka masih terjaga, sedangkan beberapa waktu lalu mereka habiskan dengan malam yang panjang.

Sakura masih menyamankan dirinya dalam pelukan Sasuke. Nyonya muda Uchiha itu tidak tahu apa yang membuat dirinya dan suami tercinta masih terjaga. Seharusnya mereka tertidur dan lelah, mengingat aktivitas apa yang mereka lakukan tadi.

Sasuke pun sama. Dia tidak bisa tidur. Alasannya, hanya karena jika dia tidur dan ini mimpi indah, dia takut jika Sakura tak berada di sampingnya. Lagipula, dia begitu menyukai sensasi ini. Dia menyukai aliran listrik yang mengalir ketika kulit mereka bersentuhan. Dia terlalu menyukai semua sehingga takut ini hanya mimpi.

"Jadi, apa yang ingin kau katakan Sakura?" Dia mengusap punggung istrinya, berharap itu dapat memberikan kenyaman bagi Sakura.

"Mm ... itu ... Aku tidak tahu apakah Sasuke-kun akan senang atau tidak. Tapi, Sasuke-kun sudah berjanji bukan?" ucap Sakura sambil menatap suaminya.

"Hn."

Sakura menarik napas. "Aku akan ke San Fransisco Sasuke-kun, lima hari."

Sasuke melihat dengan jelas tubuh suaminya menegang. Dengan segera dia memeluk sang suami. Sekarang, Sakura-lah yang berharap usapannya bisa membuat Sasuke tenang.

Sasuke sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Tidak bertemu Sakura sehari saja sudah membuatnya rindu setengah mati. Lalu ini? Apa yang akan terjadi pada dirinya dalam lima hari itu? Namun, dia sudah berjanji. Jika dia tidak menepati janji, Sakura pasti akan kecewa.

Sakura menunggu bagaimana reaksi Sasuke, tapi sepertinya pria itu tetap diam. "Hanya lima hari Sasuke-kun, aku pasti akan menghubingimu setiap saat, tenang saja. Lagi pula, aku akan bersama Tenten selama di sana."

"Teman doktermu yang keturunan China itu?" Sasuke menatap sang istri sambil bertanya.

"Iya, Sasuke-kun tidak perlu khawatir. Ah iya, Neji juga akan ada Sasuke-kun."

Neji. Semenjak hari dimana dia ikut campur dalam urusan pribadinya, Sasuke merasa ada yang aneh dengan lelaki itu. Namun, dia masih belum menemukan hal aneh tersebut.

Kini, Neji juga berada di sana, bersama istrinya.

Sakura mungkin merasa, karena ada Neji-lah yang membuat Sasuke sedikit tidak khawatir. Namun, dia salah. Karena ada hal aneh ini, Sasuke menjadi sama sekali tidak percaya dengan sahabatnya sendiri.

"Sasuke-kun?"

"Baiklah, aku mengizinkannya Sakura."

Sasuke kembali membalas pelukan Sakura erat. Terlepas dari segala hal, janjinya pada Sakura harus ditepati dan dia juga punya cara lain untuk menjaga istrinya tetap aman. Aman dari siapa pun, termasuk Hyuuga Neji.


Suasana hiruk-pikuk kendaraan di luar sana tak membuat Sasuke terhenti hanya untuk menikmati suasana tersebut. Dengan segelas kopi di tangan, ia memandang ke luar dari dinding kaca ruangan nya.

Walaupun fokusnya tetap ke luar dinding itu, tapi pikiran Sasuke tidak. Pikirannya itu masih mengingat dengan jelas percakapan yang dialami oleh pria itu bersama sang istri semalam. Beberapa menit yang lalu, Sasuke sudah menghubungi orang kepercayaannya yang ada di San Fransisco untuk menjaga Sakura. Setidaknya, masalah keamanan Sakura terjaga. Itu yang terpenting.

Tit ... titt ...

Mendengar itu, Sasuke langsung berjalan ke arah meja nya, menekan salah satu tombol, dan biasanya suara Hinata-lah yang terdengar, tapi ini lain.

"Ada yang ingin kubicarakan, Uchiha."

Sasuke mengernyit heran. Kenapa suara seorang pria, bukannya Hinata? Lancang sekali dia. Tapi, suaranya terasa tidak asing. Dia mencoba mengingat siapa yang berani berbuat seperti ini selain keluarga dan sahabatnya.

Ah, dia baru mengingat sesuatu. Hanya satu orang. Hozuki Suigetsu.

"Baik, silahkan."

Setelah itu dia tidak mendengar suara pria itu lagi, tetapi sebuah langkah pasti terdengar mendekat ke arah ruangan Uchiha Sasuke.

"Apa yang membuatmu menemuiku?" Sasuke bertanya setelah mempersilahkan Suigetsu untuk duduk.

Dia menatap Sasuke. "Bukan hal kecil bagiku, tapi untukmu? Entahlah."

Sasuke menatap Suigetsu datar, dia benci orang yang bicaranya berbelit-belit. "Katakan dengan jelas!"

Suigetsu menampilkan senyum sinisnya, bagaimana bisa Karin sangat mencintai lelaki seperti Sasuke dan bagaimana bisa lelaki seperti Sasuke mendapatkan gadis seperti Sakura. "Karin masuk rumah sakit, semalam. Itu karena dia mendengar apa yang dia dengar dan melihat apa yang dia lihat."

Sasuke diam. Entah kenapa, mendengar Karin seperti itu tidak berpengaruh padanya. Dulu, dulu sekali, mendengar Karin seperti ini pasti akan menimbulkan sedikit rasa khawatir, tapi sekarang nol besar.

"Tapi, aku yakin bukan hal itu yang membuatmu datang kemari."

Mau tak mau, Suigetsu harus mengakui bahwa Uchiha itu memang pintar. "Karin baru bangun dari pingsannya pagi tadi dan dia langsung memintaku memberitaumu tentang ini, yah-" Suigetsu menaikkan bahunya, bersikap acuh. "Berharap kau akan menemuinya setelah mendengar itu."

Sasuke menggeleng. "Tidak, aku tidak akan menemuinya."

Suigetsu menatap Sasuke sambil menaikkan alisnya, seolah meminta penjelasan dari pernyataan pria itu. "Aku datang sama saja dengan memperparah keadaannya, dia pasti akan memintaku kembali dan aku pasti akan menolak."

Suigetsu mengangguk paham dan melirik jam tangannya. Pukul sebelas siang, dokter akan memeriksa Karin sebentar lagi. "Baiklah Uchiha, aku sudah melakukan apa yang aku bisa. Aku permisi."

Setelah melihat Sasuke mengangguk, Suigetsu langsung dengan segera keluar ruangan. Apa yang Karin minta sudah dilaksanakannya dan sudah menjadi hak Sasuke untuk menolak. Jadi, urusannya sudah selesai di sini.

Setidaknya, dia senang karena Sasuke menolak untuk datang. Ini adalah terakhir kalinya Karin meminta, dan Karin berjanji tidak akan mengikut sertakan dirinya dalam masalah yang ada hubungannya dengan Sasuke lagi jika lelaki itu menolak.


"Sasuke-kun tidak perlu mengantar ku." Sakura tersenyum kecut dan menatap Sasuke yang berdiri di depannya.

Tiga hari telah berlalu dan kini adalah hari keberangkatannya ke San Fransisco.

Mereka berada di Narita Airport. Namun, kenapa Sasuke bisa berada di sana? Dia hanya menikmati saat-saat terakhir bersama sang istri, sebelum istrinya terbang ke San Fransisco.

Sakura sudah beberapa kali meminta Sasuke untuk tidak ikut mengantar nya, tapi Sasuke tetaplah Sasuke. Mana mau dia membiarkan nyonya Uchiha-nya begitu saja.

Sasuke tersenyum. "Jangan pernah lupa untuk menghubungiku."

Sakura mengangguk cepat, lalu memeluk Sasuke seerat mungkin. Percaya atau tidak, dia juga merindukan sang suami. Ini adalah kali pertama mereka berpisah cukup lama, setelah semua yang terjadi di kehidupan yang mereka jalani.

Dari kejauhan dan sedari tadi, mata Neji tak lepas dari pasangan Uchiha yang ada di sana. Entah kenapa Neji bisa melihat ikatan yang kuat di antara mereka. Hinata benar, mereka sudah bahagia.

Sebersit perasaan menyesal dan iri hinggap di hati sang dokter Hyuuga itu. Menyesal karena tidak mengenal Sakura lebih dulu dari pada Sasuke. Iri kepada Sasuke yang mendapatkan Sakura.

Tapi, ini adalah kesempatan yang dia miliki. Dia tidak akan menyia-nyiakan lima hari waktu berharganya di San Fransisco. Dia akan berusaha membuat sebuah ikatan dengan Sakura.

Neji melangkah menghampiri mereka. "Sasuke." Sapanya setelah berada di depan Sasuke dan di samping Sakura.

"Neji," ucap Sasuke datar. Kedatangan Neji sangat mengganggu dirinya.

"Kita akan berangkat Sakura, sebaiknya cepat." Nah, benar bukan? Neji memang menjadi seorang penganggu.

"Baiklah. Nah Sasuke-kun, aku harus pergi sekarang." Sakura memeluk Sasuke lagi setelah mengangguk kepada Neji.

"Hn, hati-hati."

Setelah memeluk Sakura lama, dia membiarkan sang istri menjauh, berjalan ke arah pintu keberangkatan. Pria Uchiha itu yakin, lima hari berikutnya akan terasa seperti neraka bagi dirinya.

.

.

.

.

.

*TBC*


A/N: Update! Happy reading^^

Balasan review:

sukabaca: always semangat caa :D konflik yang menggelegar? bisa dipikirkan^^ iyaa udah dicari kemana-mana masih gak ketemu :') selamat membaca chapter ini yaa^^ jangan lupa review lagi XD

Emeraald US: hihi^^ sama sama dan ini sudah up lagi :) selamat membaca^^

ranisaannisa: ini udah lanjut lagi^^

UchiHaruno SasuSakuSara: ini udah next^^

maroon: hallo^^ ah iya pas bagian itu aku juga gak tau kenapa #eh #abaikan XD but, tenang aja aku juga udah punya planning bikin side story nya mereka waktu ngejaga anak itachi, so tunggu aja yaa^^

Anah suganda: ini udah lanjut^^ wahh terima kasih sudah menyukai cerita ini :) so ikutin cerita ini teru yaa^^

Yosh! Balasan review selesai.

Haii haii^^ tumben-tumben nya saya bisa up lumayan cepat ini XD sedikit cerita, sebenarnya sesudah saya up ch12 saya gak ada kepikiran/imajinasi buat lanjutin ch13 karena juga buku yang isi draft nya juga sudah menghilang entah kemana, lalu beberapa hari setelah ch12 up saya pergi keluar kota dan entah kenapa diperjalanan saya mendapat imajinasi untuk melanjut ini dan jadilah diatas #taraaaa XD saya sebenarnya juga udah mulai ragu buat lanjutin story ini, because review nya makin lama makin berkurang padahal view nya 1k+ (view ch12 kemaren) , tapi setelah melihat masih ada yg mereview saya jadi gak tega :') terima kasih banyak2 bagi yang mereview :D

Maaf bagi typo yang masih berterbaran dan big thanks to RnR, serta FavnFoll^^

Mind to review?^^

Sign, TaySky1998