Chapter 14

*San Francisco*

.

.

.

Pria itu melangkah kaki nya menuju ruangan rawat inap nomor 204. Membuka pintu dan menemukan wanita yang dicintai nya terbaring disana.

Karin.

Pria itu memandang Karin yang sedang terbaring itu dengan dalam. Dia tak habis pikir, kenapa Karin begitu mencintai Sasuke yang jelas-jelas sudah menolak dirinya. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana reaksi Karin beberapa hari yang lalu. Saat dia mengatakan bahwa Sasuke tidak mau menemui wanita itu lagi.

"Sui, bagaimana? Mana Sasuke-kun? Dia tidak bersama mu? Dia pasti akan menyusul."Suigetsu menarik kursi agar dirinya berada didekat Karin. "Dia tidak bersama ku, dan dia tidak akan menyusul Karin."Karin terdiam. Sudah sejauh itu ternyata Sasuke berbuat padanya. Sasuke bahkan tidak peduli sama sekali dengan kondisi dirinya saat ini.

"Dengar Karin, aku sudah melakukan apapun yang kau mau. Tapi memang, keadaan itu selalu seperti yang tidak kau harapkan." Suigetsu memegang erat pundak wanita itu, menatap Karin dengan pasti untuk mencoba meyakinkan nya.Karin menggeleng,

"Tidak! Itu tidak mungkin! I-itu tidak mungkin Sui..."Sekali lagi, Karin menangis.Dia berdiri dari tempat duduk nya, dan mendekap Karin dengan erat.

"Aku sudah melakukan semampu ku. Yang kenyataan nya, Sasuke memang bukan untuk mu. Karin."

Suigetsu segera menggeleng agar ingatan itu hilang dalam pikiran nya. Dia masih memandang Karin dalam. Berharap Karin akan berusaha mengahapus Uchiha Sasuke dalam ingatan nya.


Tiga hari sudah berlalu, dan masih ada dua hari lagi tampa Sakura yang harus dijalani oleh Sasuke.

Memang benar, hari-hari yang dijalani Sasuke terasa seperti neraka. Ah bukan, bukan neraka. Tapi, kegelapan. Karena tidak ada Sakura sebagai cahaya nya.

Katakanlah Sasuke terlalu puitis sekarang atau terlalu berlebihan, tapi itu memang benar. Karena terlalu merasa kesepian, Sasuke bahkan rela untuk tinggal beberapa hari di rumah utama Uchiha. Dan tentu saja, dia sudah menjadi bualan-bualan keluarga nya selama disana.

'Ck, menggelikan.' bathin Sasuke sambil memandang ke arah kolam ikan ditaman rumah itu dengan pandangan bosan.

Sekarang adalah akhir pekan, dan akhir pekan yang begitu membosankan bagi Sasuke. Dia tidak bisa ke kantor, tentu saja kantor tutup pada akhir pekan. Dia juga tidak bisa bekerja, karena berada di rumah utama.

Ibu nya, nyonya utama rumah itu, Uciha Mikoto, akan memarahi nya habis-habisan jika dia menyentuh sedikit saja berkas pada hari minggu, dirumah nya pula.

Setelah itu, Sasuke pasti mendengar celotehan panjang Uchiha Mikoto tentang pentingnya menjaga kesehatan dan berkumpul bersama keluarga.

Seandainya ada Sakura. Ah... hati Sasuke menghangat seketika dan senyum indah mengembang di wajah pria itu.

"Sasuke-kun? Apa yang kau lakukan disini?" Mikoto mendekati anaknya, yang duduk ditaman sendirian dengan senyuman yang menurut nyonya utama Uchiha itu lucu.

Sasuke buru-buru mengubah raut wajah nya, "Tidak ada Kaa-san."

"Aa, jangan menyembunyikan itu pada ku Sasuke-kun. Aku ibumu, jadi, apa yang membuat mu sampai tersenyum seperti itu?" ucap nya setelah duduk dengan anggun nya disebelah Sasuke.

"Sakura."

Sekali lagi, anak nya ini benar-benar lucu. Mikoto tidak pernah melihat pemandangan langka seperti ini. Betul kata Itachi, Sakura mengubah segala hal pada diri Sasuke. Bahkan, Sasuke benar-benar terlihat hidup sekarang.

Mikoto menggeleng dan tersenyum menatap anak nya, "Sudah, jangan buat Kaa-san tertawa lagi Sasuke-kun. Sebaik nya kau segera ke dalam, kita akan makan siang bersama." Dia bangkit dari duduk nya sambil tertawa kecil melihat Sasuke.

Mendengar ajakan ibu nya, Sasuke menggeleng keras. Dia pasti akan menjadi bualan-bualan keluarga nya lagi. Apalagi kakek nya yang selalu terlalu berlebihan mengganggu dirinya.

"Tidak Kaa-san. Kaa-san duluan saja, aku akan menyusul nanti."

"Baiklah, Kaa-san duluan ne, Sasuke-kun." Dia mengusap sebentar kepala anaknya dan meninggalkan Sasuke untuk menuju ruang makan keluarga Uchiha.

Setelah kepergian sang ibu, Sasuke kembali menatap kolam ikan itu dengan bosan. Ntah kapan kebosanan yang dirasakan oleh nya menghilang.


Four Seasons Hotel, San Francisco, California.

Suara tepukan tangan dengan gemuruh menggema diseluruh Ballroom di hotel mewah itu.

Semua memberikan tepuk tangan sebagai apresiasi kepada seorang narasumber yang baru saja bercerita tentang kisah nya, termasuk Sakura.

Hari-hari dimasa pelatihan nya sangat dinikmati oleh Sakura. Selama pemberian materi, tak jarang, dokter Uchiha itu mengeluarkan note kecil nya untuk mencatat hal yang dirasa perlu.

"Bukankah dia hebat?" Sakura melirik kesamping, mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Tenten padanya.

Dia kembali menatap kedepan, setelah memberi jawaban kepada Tenten tentu saja. Dia masih memerhatikan sang pembawa acara memberikan kata penutup, sambil melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 7 malam. Agenda acara nya telah selesai hari ini, dan dengan segera nyonya muda Uchiha itu membereskan barang-barang nya yang ada diatas meja.

"Kau sudah selesai, Sakura?"

Saku mengangguk sambil berdiri dari kursi nya. "Sudah, ayo kita makan malam bersama."

"Tentu saja," ucap Tenten sambil mengapit lengan Sakura. "Kau tau bukan, kalau besok jadwal kita kosong? Kata panitia sih, itu disengaja agar kita juga dapat berjalan-jalan di San Francisco. Bagaimana kalau kita pergi berbelanja bersama?"

Sakura menatap Tenten yang penuh harap padanya. Kalau dipikir-pikir ide Tenten bagus juga. Dengan itu dia juga dapat membeli oleh-oleh untuk keluarga nya. "Aku setuju."

Tenten tersenyum senang, "Bagus, besok adalah hari yang menyenangkan pastinya. Kau tau? Sejak menginjakkan kaki disini, aku selalu berkeinginan menjelajahi San Francisco."

Sakura hanya tersenyum menanggapi celotehan Tenten. Tenten tak habis-habis nya bercerita bahwa ia sangat ingin meng-explore San Francisco.

Dengan segera mereka meninggalkan ballroom untuk menuju ruang makan. Karena jam memang menunjukkan waktu makam malam dimulai.


Sejak tadi yang dilakukan Hyuuga Neji hanya mengacak-acak makanan nya saja. Seperti makanan itu tidak dapat menarik perhatian nya. Yang ada dipikiran dan pandagan Neji saat ini hanya Uchiha Sakura yang duduk bersama Tsuzuyu Tenten.

Selama tiga hari yang berlalu, Neji sudah mencoba memikirkan berbagai cara agar dirinya dekat dengan Sakura. Tapi memang, Sakura sangat tidak tersentuh. Entah dengan cara apa dia bisa mendekat pada Sakura. Padahal, ini adalah kesempatan yang dimiliki nya.

Dia memang sudah memikirkan berbagai cara, tapi dirinya terlalu takut untuk memulai. Dia takut Sakura akan menjauhi nya jika dia mengambil langkah yang salah. Memikirkan itu benar-benar membuat dirinya seperti pengecut. Ini sama saja seperti dirinya sudah kalah sebelum berperang.

Neji menggeleng. Dia tidak bisa seperti ini, dia haru berani menghadapi Sakura. Dia harus bisa, karena mungkin ini satu-satu kesempatan baginya.

Neji berjalan mendekat meja Sakura dan Tenten. Dia sudah membulatkan tekad nya.

"Sakura,"

Merasa ada yang memanggil nya, Sakura berbalik. "Ya? Ah, Neji. Apa kabar?"

Melihat seyum Sakura, seketika Neji berpikir bahwa dirinya adalah sahabat yang jahat. Tapi, untuk kembali, itu tidak mungkin. Dia sudah mengambil langkah ini.

"Bisa bicara sebentar? Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mu, berdua."

Kata-kata terakhir yang diucapkan Neji sangat nyaring ditelinga Tenten. Jadi, Hyuuga itu mencoba mengusir dirinya secara halus?

"Kau bisa bicara disini Hyuuga."

"Terima kasih, tapi tidak nona Tsuzuyu. Aku hanya ada keperluan dengan Sakura."

Tenten memutar bola matanya jengah, menyebalkan sekali Hyuuga ini. "Hah! Apa kau tidak lihat? Sakura sedang bersama ku, dan kau!" tunjuk nya tepat ke arah Neji berdiri, "Sangat mengganggu waktu berharga kami."

"Maaf sebelumnya sudah menganggu waktu kalian. Tapi, kau tidak berhak mengatur-ngatur Sakura dengan seenaknya begitu."

Kata-kata menyebalkan dari Neji dan tatapan datar nya itu membuat kemarahan Tenten sudah sampai di puncak nya. Dia mengepalkan tangan nya, mencoba menahan emosi itu.

Kata-kata Neji membuat dirinya geram. Dia dan Sakura bersahabat, tentu saja bereaksi begitu karena Neji mengganggu waktu mereka. Lagipula, siapa Hyuuga Neji ini? Hanya seorang teman dari suami Sakura, tapi tindakan nya seolah-olah dia adalah orang yang penting.

Melihat Tenten yang berapi-api membuat Sakura mengelus kepalan tangan nya. Bisa gawat jika Tenten melampiaskan emosi nya disini.

"Kalian sudahlah. Tenten, biarkan Neji bicara padaku, mungkin ini penting."

"Tapi, Sakura..."

"Sudahlah, mungkin ini memang penting. Kau bisa menungguku di kamar nanti."

Menghela napas, Tenten bangkit dari duduk nya. Mungkin Sakura benar, mungkin apa yang akan di katakan Hyuuga itu sesuatu yang penting.

Tenten segera keluar dari ruang makan, dan saat hendak keluar, Tenten memerhatikan Neji lagi. Dia mendapati sesuatu yang aneh.

Tatapan.

Tatapan Neji pada Sakura sangat berbeda. Dan hal itu tentu membuat Tenten semakin yakin ada yang tidak beres dengan Neji.


"Kau sudah membuat Tenten marah, Neji."

Neji mengangkat bahu, menarik kursi yang ada didepan Sakura. "Dia memang selalu bersikap seperti itu jika didepan ku."

Sakura tertawa pelan, "Jadi, apa yang akan kau bicarakan?"

Neji menghela napas, mencoba menghilangkan rasa gugup yang ada didirinya.

"Besok, aku ingin mengajak mu pergi ke suatu tempat. Kau mau?"

Sakura terdiam. Pergi ke suatu tempat hanya berdua dengan Neji adalah sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh nya. Lagipula, dirinya sudah berjanji kepada Tenten.

"Besok? Tapi Neji, aku sudah berjanji kepada Tenten untuk belanja bersama besok."

"Setelah makan siang? Kalian bisa pergi sebelum makan siang kan?"

"Tapi..."

"Ayolah Sakura, hanya sebentar, aku janji. Lagipula, ini hanya sebagai rasa terima kasih ku, karena sudah menganggap aku sebagai teman mu."

Jujut saja, perkataan Neji membuat Sakura merasa tidak yakin. Rasa terima kasih? Teman? Bukankah Sakura sudah berkata bahwa teman suami nya adalah teman nya juga, lantas kenapa Neji harus berterima kasih?

"Teman suami ku adalah teman ku juga Neji, kau tidak perlu berterima kasih atas itu."

Kata yang Sakura ucapkan membuat pria itu tertohok. Rasa sakit sedikit dirasakan nya saat Sakura berkata bahwa dirinya mau berteman hanya karena Sasuke.

"Tapi, aku tetap akan berterima kasih. Bagaimana? Kau mau kan? Ini hanya perjalanan sesama teman Sakura. Aku akan benar-benar menganggap kau sudah menerima ku sebagai teman dengan setuju atas ajakan ini."

Neji menatap Sakura dengan penuh harap. Terus mencoba meyakinkan Sakura dengan tatapan nya. Dia harus berhasil, dia sudah bertekad untuk itu.

"Perjalanan sesama teman bukan? Baiklah, setelah makan siang ya."

Seketika itu juga, senyum lebar mengembang diwajah Neji. "Terima kasih Sakura, aku akan menemui mu setelah makan siang."

Setelah melihat senyum Sakura, Neji segera meninggalkan tempat itu dengan perasaan ringan. Rencana nya perlahan-lahan akan berhasil.

Walaupun mengubah perasaan Sakura padanya itu sangat tidak mungkin, setidaknya dirinya mempunyai kenangan yang lebih dengan Sakura. Itu saja, sudah cukup bagi dirinya.

Hanya kenangan, itu saja.


"Hyuuga Neji gila!" umpat Tenten sangat keras setelah mendengar cerita Sakura.

Saat ini mereka telah berada di kamar. Setelah pertemuan itu, Sakura langsung memberi tau Tenten dengan detail. Tidak ada yang terlewatkan, dan beginilah reaksi Tenten.

"Sudahlah Tenten, dia hanya mengajak ku sebagai teman. Itu saja."

Tenten segera berbalik dan duduk disamping Sakura. "Ya ampun Sakura, apa kau tidak merasakan nya? Dia mengajak mu pergi seolah-olah kalian akan pergi berkencan!"

Sakura hanya diam mendengar perkataan Tenten. Disatu sisi, dia merasa apa yang dikatakan Tenten benar, Neji memang terlihat seperti mengajak nya pergi berkencan. Tapi disisi lain, dia tidak mau berpikiran seperti itu.

Neji tidak mungkin mengajak nya berkencan, Neji tidak mungkin mengkhianati sahabatnya sendiri, Neji tidak seperti itu.

"Tenten, tenanglah. Neji tidak mungkin berpikiran seperti itu, ini hanya perjalanan sebatas teman saja." Dia masih berusaha menenangkan Tenten yang sekarang sibuk mondar-mandir dihadapan nya.

Tenten menghela napas pelan, "Hah... baiklah, semoga saja apa yang kau katakan benar Sakura. Oh ya, jangan lupa menghubungi Sasuke."

Sakura mengangguk, "Tentu saja."

Tenten tidak menjawab lagi, dia bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju kasur yang berada di seberang Sakura. Menarik selimut dan segera menuju alam mimpi. Dia benar-benar tidak mau membicarakan Hyuuga itu.

Sakura hanya tersenyum memandang Tenten yang telah tenggelam didalam selimut nya. Dengan segera nyonya muda Uchiha itu mengambil benda persegi yang terletak di meja kecil di samping tempat tidur.

Menekan benda persegi itu mencari nama sang suami, Uchiha Sasuke. Meletakkan benda itu didekat telinga, berharap sang suami segera mengangkat panggilan dari nya.

Dan itu benar, tidak butuh berapa lama untuk Sakura menunggu Sasuke mengangkat panggilan nya.

"Hn, Sakura."

Ahh... seketika senyum indah mengembang diwajah nyonya muda Uchiha. Dia sangat senang mendengar suara itu lagi. Dia begitu merindukan suara suami-nya.


Tok.. Tok.. Tok..

"Masuk."

"Sasuke-sama."

Sasuke segera mengangkat kepala nya, menatap Hinata yang bediri didepan nya dengan pandangan menyelidik. "Ada apa Hinata?"

"Sai Nii-san mengajak mu untuk makan siang bersama, begitu juga aku dan Naruto-kun. Sepertinya ada yang ingin dia sampaikan, Sasuke-sama."

Sasuke berpikir sejenak. Sepertinya, tidak ada salahnya dia menerima ajakan Sai. Lagipula, akhir-akhir ini dia merasa sedikit kesepian karena tidak ada Sakura. Ajakan Sai bukanlah ide yang buruk. Dia akan mengiyakan ajakan yang dikatakan Hinata jika ponsel nya tidak berdering.

Dengan mengambil ponsel yang terletak diatas meja itu, senyum diwajah Sasuke mengembang seketika. Dan siapa lagi orang yang dapat membuat dirinya seperti itu, itu sudah pasti sang istri, Sakura.

"Katakan pada Sai, aku ikut Hinata. Sakura menghubungi ku," tunjuk Sasuke pada ponsel nya, "Berikan saja alamat nya, aku akan menyusul kalian nanti."

Hinata mengangguk, "Baiklah Sasuke-sama, saya permisi."

Dengan segera gadis Hyuuga itu meninggalkan Sasuke diruangan nya. Dia tidak mau menganggu waktu pribadi Sasuke dengan sang istri. Dan tentu saja semua tak luput dari penglihatan Hinata.

Senyum Sasuke saat melihat nama Sakura, perasaan senang Sasuke saat Sakura menghubungi, semua nya. Mereka begitu terlihat saling mencintai, dia tidak mengerti kenapa Neji tidak melihat hal ini.

Setelah memastikan Hinata menutup pintu ruangan nya, Sasuke lansung menyapa sang istri, dia sudah sangat merindukan Sakura-nya.

"Hn, Sakura."

"Sasuke-kun! Aku sangat senang mendengar suara mu lagi. Bagaimana kabar mu, Sasuke-kun?" Sasuke memejamkan matanya. Suara riang Sakura bagai angin sejuk pengunungan yang menyenangkan hatinya.

Sasuke berdehem sebentar, "Aku baik tentu saja. Kau? Apakah kau baik-baik saja Sakura? Kenapa kau tidak tidur? Bukankah disana sudah malam?"

"Benar, disini sudah menunjukkan pukul 8 malam. Maaf, karena telat menghubungi Sasuke-kun. Lalu, Sasuke-kun sendiri? Bukankah di Jepang sudah waktu makan siang?"

"Hn, Sai mengajak ku dan Naruto untuk makan siang bersama." ucapnya sambil memerhatikan beberapa laporan yang ada diatas meja.

"Aa, pasti sangat menyenangkan."

"Hn."

Tidak ada yang memulai percakapan lagi, mereka berdua sama-sama menikmati keheningan yang tercipta. Tapi itu tak berapa lama, setelah Sakura memulai lagi.

"Mm, Sasuke-kun, aku ingin meminta persetujuan Sasuke-kun."

Sasuke mengangkat alisnya, "Persetujuan apa?"

"Mm, Neji mengajak ku ke suatu tempat Sasuke-kun. Aku tidak akan pergi jika Sasuke-kun tidak mengizinkan nya."

Sasuke diam. Dia tidak habis pikir pada Hyuuga satu ini, dengan beraninya dia mengajak Sakura, yang jelas-jelas istri sahabatnya sendiri, pergi entah kenama.

Kerutan muncul didahi Sasuke, "Hanya berdua?"

"Mm... Iya, tapi Sasuke-kun, Neji bilang ini hanya perjalanan sesama teman." ucap Sakura sedikit pelan. Dia lansung menjelaskan kepada Sasuke, dari dapa Sasuke berpikiran aneh-aneh nantinya.

Yang kenyataan nya, Sasuke sudah berpikir aneh, bahkan dari hari-hari kemaren. Dia tidak tau harus memberikan jawaban apa pada Sakura.

Dia hanya tidak percaya, tapi bukan pada Sakura. Dia -semenjak beberapa hari yang lalu- mulai tidak percaya kepada Neji.

"Sasuke-kun?"

Sasuke menghela napas berat, "Baiklah, Sakura. Tapi, jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku."

"Aaaa... terima kasih Sasuke-kun, aku menyayangi mu. Selamat menikmati makan siang."

Senyum indah mengembang diwajah Sasuke. Seketika, rasa kesal nya pada Neji, menguap begitu saja mendengar perkataan Sakura. Sakura menyayangi nya, tentu saja. Dia juga begitu, bahkan rasa sayangnya pada Sakura sudah berubah menjadi cinta.

"Hn."

Klik!

Rasanya, Sasuke tidak pernah sebahagia ini. Sakura telah memberinya rasa bahagia yang begitu banyak. Tak bisa dia bayangkan jika saat itu, dia menolak perjodohan itu.

Sasuke segera bangkit dari tempat duduknya, mengambil kunci mobil diatas meja, dan melangkah keluar ruangan, menuju tempat yang alamatnya sudah dikirim Hinata.

Dia segera mengubah raut wajahnya menjadi datar kembali. Dia tidak mau karyawan disana memandang aneh pada dirinya.


Insoutei Restaurant, Tokyo, Jepang.

"Silahkan tuan, ini ruangan nya."

"Hn."

Sasuke dengan segera masuk ke dalam private room yang Sai pesan. Dia tidak mau berlama-lama bersama pelayan tadi yang selalu memandang dirinya dengan tatapan memuja.

Hei, Sasuke adalah seorang pria yang sudah beristri. Tidak baik memandang suami orang dengan pandangan begitu.

"Aa, silahkan duduk Sasuke-nii." ucap Hinata setelah melihat Sasuke muncul dari balik pintu. Dan memang, saat mereka berada diluar kantor, Hinata memang memanggil Sasuke dengan sebutan kakak.

"Hn. Mana Sai?" Sasuke melihat sekeliling nya, hanya ada Naruto dan Hinata disini.

Naruto meneguk ocha nya, "Mungkin, sebentar lagi teme."

Dan benar saja, tak beberapa setelah itu, Sai datang bersama seorang gadis. Aa, Sasuke tau kemana arah pembicaraan ini

Bahkan saat dirinya melirik Naruto dan Hinata, mereka sepertinya juga tahu kenapa Sai mengumpulkan mereka.

"Hai, maaf menunggu lama." ucapnya sambil menarik tempat duduk untuk Ino. "Ada yang ingin aku sampaikan," ucapnya lagi sambil duduk disamping Sasuke.

Naruto menggeleng dan lansung mengambil ramen yang baru datang. "Sudahlah Sai, kau tak perlu memberitau lagi. Aku sudah mengerti apa yang kau bicarakan. Iyakan, teme?" Dia lansung menyantap ramen itu.

"Hn," jawab Sasuke yang membuat Sai hanya menatap datar mereka. Dia sudah bersemangat dengan hal ini, tapi teman-temannya hanya menanggapi dengan santai.

"Kalian sungguh menyebalkan."

Hinata tertawa kecil melihat interaksi mereka, dan berbalik kesamping, tersenyum menatap Ino. "Selamat Ino-chan, mudah-mudahan bertahan ya, dengan Sai Nii-san."

"Terima kasih, Hinata."

Ino merasa sangat bahagia hari ini. Pertama, karena Sai yang membuat mereka resmi menjadi sepasang kekasih, dan kedua, karena dia sangat diterima oleh teman-teman kekekasih nya itu.

Seandainya Sakura ada disini, pasti akan sangat menyenangkan.

Ino memang belum memberitahu Sakura, dia takut menangganggu sang sahabat. Mengingat Sakura, membuat Ino merindukan sahabat pink nya itu. Memang, komunikasi mereka cukup minim belakangan ini, dan itu karena kesibukan mereka. Ino dengan butik nya, dan Sakura dengan kegiatan rumah sakit nya.

"Oh ya, bagaiamana kabar Sakura, Sasuke?" Dia bahkan mulai membiasakan dirinya memanggil Sasuke dengan akrab. Bagaimana pun juga, mereka pasti akan sering bertemu.

"Hn, dia baik."

Ino mengangguk, "Aa, begitu. Syukurlah."

Ino tidak melanjutkan pembicaraan nya lagi. Walaupun Sasuke menjawab, tapi tetap saja. Berbicara dengan Sasuke membuat nya tak nyaman. Sasuke bukan orang yang pas untuk diajak berbicara panjang lebar.

"Bukankah tadi Sakura-chan, Sasuke-nii? Apa yang kalian bicarakan?" ucap Hinata tiba-tiba.

Ino segera memandang Hinata dengan pandangan tak percaya. Sungguh, Hinata sangat berani bertanya seperti itu pada Sasuke. Mungkin, karena mereka sudah dekat. Kalau dirinya yang bertanya begitu, dia pasti sudah menggali kuburan nya sendiri.

"Hn, Neji mengajak Sakura pergi ke suatu tempat."

"Uhuk!" Seketika Sushi yang berada didalam mulut Hinata sukses tertelan dengan tidak sempurna.

"Hati-hati, Hinata-chan." Naruto menyerahkan segelas ocha padanya. "Terima kasih, Naruto-kun."

Sambil meminum ocha yang diberikan Naruto. Hinata memerhatikan sekeliling nya. Dan mereka memandang dirinya dengan aneh. Ini yang Hinata tidak suka, pasti mereka berpikiran kalau dirinya menyembunyikan sesuatu.

Sekarang, dia benar-benar kesal dengan Neji. Neji sudah membawa dia ke situasi awkward ini. Dan apapula itu Neji, kenapa dia melakukan hal yang aneh-aneh disana. Benar-benar, kakak nya itu tidak main-main.

"Neji? Dia ada di San Francisco juga?" Naruto memandang Sasuke, dan Sasuke hanya mengangguk sebagai jawaban nya.

"Dan kau mengizinkan nya?" tanya Sai, mau tak mau topik ini membuatnya tertarik. Firasat nya tentang tingkah laku Neji kemaren itu kembali lagi.

Sasuke mengangkat bahunya, "Lalu aku harus apa? Sakura akan berpikiran aneh jika aku melarang nya pergi dengan Neji."

"Betul juga teme, Neji kan sahabat kita juga. Jadi, kurasa itu tak jadi masalah."

Perkataan Naruto membuat Hinata ingin pergi dari tempat ini. Dia tak sanggup memandang wajah Naruto, Sai, dan Sasuke.

Kenapa kakaknya begitu bodoh? Kenapa dia melakukan itu? Kakak nya itu rela menukarkan sahabatnya dengan cinta yang tak akan mungkin dia dapatkan.

Sungguh, dia ingin segera pergi dari sini dan menuju San Francisco untuk mengutuk sang kakak. Hyuuga Neji adalah orang yang keras kepala.


Westfield San Francisco Centre, San Francisco, California.

"Kau yakin Sakura?" tanya Tenten padanya.

Saat ini mereka berada di lobby salah satu pusat perbelanjaan di San Francisco. Tenten menamani nya menunggu Neji di lobby itu

"Tenang okay, aku akan baik-baik saja. Neji orang yang baik Tenten, dan jangan lupa kalau dia sahabat Sasuke-kun."

Tenten hanya mengangguk pasrah, dia sudah mencoba selalu meyakinkan Sakura. Tapi, sudahlah. Dia yakin Sakura pasti bisa menjaga dirinya.

Tak beberapa lama, mobil yang disewa Neji berhenti tepat didepan mereka. Neji segera turun dari mobil dan membuka pintu untuk Sakura.

"Ayo, Sakura."

Sakura mengangguk dan berbalik menghadap Tenten. "Baiklah, aku pergi dulu Tenten. Jaga dirimu ya."

Tenten segera memeluk Sakura. "Tentu saja, kau juga. Jika Hyuuga ini macam-macam, segera beritahu aku." ucap nya sambil melirik sinis Neji.

Neji hanya mengangkat bahunya, dia tidak begitu peduli terhadap pandangan Tenten itu.

Sakura hanya tertawa kecil dan berjalan memasuki mobil. Dan dengan segera mobil itu melesat keluar dari area pusat perbelanjaan tadi.


Sasuke masih memandang ponsel nya yang terletak diatas meja. Jam yang berada disana sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi. Tapi dia tidak bisa tidur.

Baru saja, anak buah nya yang dia utus untuk menjaga Sakura memberi kabar bahwa, Neji yang sedang bersama Sakura baru saja keluar dari perbatasan kota. Entah kemana Hyuuga itu akan membawa isrtinya. Membuat nya tidak tenang sejak tadi.

Tiba-tiba, ponsel Sasuke bergetar dimeja itu. Langsung saja Sasuke mengangkat panggilan tersebut.

"Hn."

"Tuan, kami sudah mengetahuinya. Tuan Hyuuga membawa nyonya menuju Lake Tahoe."

Dahi Sasuke menyerngit. Lake Tahoe? Untuk apa Hyuuga itu membawa istrinya kesana.

"Baiklah, kalian awasi terus. Kalau terjadi apa-apa segera bertindak dan hubungi aku."

"Baik, tuan."

Klik!

Sekarang, rasa percaya Sasuke pada Neji sudah menguap. Entah apa yang direncakan Hyuuga itu, sampai-sampai membawa pergi jauh istrinya.

'Lihat saja Hyuuga Neji, ketika kau menginjakkan kaki di Jepang ini lagi, aku tidak akan membiarkan kau mendekati istri ku.' pikirnya.

.

.

.

.

.

*TBC*


A/N: Finally Update! Happy Reading^^

Balasan review:

ranisaanisa: terima kasih sudah menyemangati :') ini udah up^^

kamila29: terimakasihbanyak^^ akan aku usahakan kok supaya gak discontinued^^

wowwoh geegee: hahaha :D semoga aja yang sasuke gak botakin kepala neji XD

Litaa-san: semoga yaa neji gak jadi PHO XD

Ranindri: #aduhhduhh aku paling susah bikin adegan itu #alasan #abaikan XD

tripleS: fict ini murni imajinasi aku sendiri dak gak pernah dipost dengan judul lain di FFn, tapi di wattpad iya, dan itupun akun aku juga :) aku juga gak mau hurt2 banget :D

d3rin: begitulah :D

lala liliilii: kalo gak ada pengganggu datar dong XD ini udah next^^

febriyantiniez: terimaksih^^ ini udah lanjut^^

Anah suganda: ini udah lanjut dan terima kasih^^ btw maapkeun kalau ini lama banget :')

penname: wahhh terima kasih^^ tapi kalau sakit jangan dipaksakan #aealah XD

guest: ini udah lanjut^^

Emeraald US: sakura pasti berhati-hati XD ini udah lanjut^^ maaf lama update :')

sukabaca: makasih banyak caa^^ pasti semangat^^ akan diusahakan sampai ending caa^^

guest: hai^^ maaf ya lama banget :') ini udah lanjut^^

eka: ini udah lanjut^^

sri azizah: ini udah lanjut^^

hiantView: ini udah lanjut loh^^

sei-chan: terimakasih^^ ini udah update^^

guest: ada, dan ini udah lanjut^^

Chindy Hime: terimakasih^^ ini udah lanjut :)

Yosh! balasan review selesai^^

Haii, maaf baru muncul sekarang, maklum kemaren lagi terkena WB akut, semua rancangan cerita ini hilang entah kemana :') tapi saya akan usakan untuk tetap update sampai ending :) dan karena lama tak muncul, saya update cerita ch14 ini 3k+ word Minna, ini ch yang paling panjang word nya yang pernah saya up, hitung-hitung permintaan maaf :D

Ohya, dalam comeback kali ini saya membawa cerita baru lohh, bagi yang berkenan silahkan cek profil saya dan btw akhir-akhir ini FFn sepi ya? apa saya sebaiknya hijrah ke wp? :X #abaikan jadi yang berkenan silahkan mampir #promosi

Terakhir, thanks to RnR dan FavnFollow, dan yang sudah menyempatkan diri mereview cerita ini :') dan maaf jika typo masih berterbaran :)

At last, mind to review?^^

Sign, TaySky1998^^