-Me And Him-

Story © TaySky1998

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 15

"Something Impossible"

.

.

.

-Enjoy This Story-

-Happy Reading-

"Lake Tahoe?"

Sakura memandang Neji dengan rasa tak percaya. Sembari memandang keindahan alam didepan mata, dia masih menunggu jawaban apa yang Neji berikan atas pertanyaan nya.

"Yes, selamat datang di Lake Tahoe Sakura." Dia menatap Sakura dengan tersenyum.

Ini benar-benar diluar dugaan.

Hanya karena merayakan hari pertemanan mereka, Hyuuga Neji tidak perlu melakukan hal yang berlebihan seperti ini. Mereka cukup makan siang bersama, atau berjalan-jalan sebentar disekitaran San Fransisco, tapi tidak dengan melakukan perjalanan kurang lebih lima jam hanya untuk itu.

"Sejujurnya, ini terlalu berlebihan Neji. Aku pikir kita tidak harus berpergian jauh seperti ini." ujar Sakura-masih memandang hamparan danau yang dikelilingi oleh salju.

Neji terkekeh pelan, "Ini sama sekali tidak berlebihan Sakura, percayalah, kau pantas mendapatakan ini."

Alih-alih menatap pengunungan salju itu, Sakura kembali menatap Neji yang fokus mengemudi. Alis matanya terangkat, merasa cukup terganggu dengan kalimat terakhir yang pemuda itu ucapkan.

"Meaning?"

"Sebagai... teman terbaikku tentu saja." Tatapan Neji berubah sendu seiring dengan kata 'teman terbaik' , yang mana itu membuat hatinya merasa perih. Menampar Neji, seolah mengembalikan dirinya pada realita yang ada.

Sakura adalah Uchiha, dan ia tidak dapat berbuat apa-apa dengan itu.

Sakura menjadikannya teman terbaik saja sudah lebih dari cukup. Neji tidak akan memperburuk keadaan dengan menyatakan yang sebenarnya. Cukup saja disimpan dalam hati.

Mobil yang mereka naiki mengarah ke salah satu resort terkenal di Lake Tahoe, Sqauw Valley.

Resort ski dengan fasilitas terengkap dan terbagus sepanajang mereka berada. Resort ini pernah menjadi tempat Olimpiade Musim Dingin tahun 1960, dengan memiliki 3600 hektar medan ski, 29 lift ski, dan lebih dari 170 lintasan, dengan lintasan terpanjang membentang sejauh 3.2 mill.

Ini tempat yang sempurna.

Begitu banyak fasilitas dan keunggulan yang dapat Sakura baca pada brosur resort yang dia dapat dari penjaga pintu saat mereka memasuki resort.

"Kau bisa bermain ski?" Neji menatap Sakura sembari memilih pakaian dan peralatan ski mereka.

"Umm... sedikit."

Sakura mengusap kedua tangan nya. Sungguh, jika Neji berkata bahwa mereka akan kesini lebih awal, dia pasti akan memakai pakaian yang lebih tebal. Perubahan suhu cukup membuat ia terganggu.

"Ini, kau harus memakai nya."

Neji menyampirkan jaket tebal dibahu Sakura. Posisi mereka terlalu dekat, membuat Sakura bergerak cepat dengan menghindar dua langkah kebelakang, terkejut dengan tindakan Neji yang tiba-tiba.

"Arigatou."

"Sakura Nee-san!"

Segera setelah memakai jaket yang diberikan Neji, Sakura melirik arah dimana seseorang memanggil dirinya.

"Shisui?"

Dia Uchiha Shisui, anak bungsu dari Fugaku dan Mikoto Uchiha, adik dari Itachi dan Sasuke Uchiha, seorang supermodel dan artis internasional yang terkenal alias adik ipar-nya.


Tiga cangkir coklat panas itu masih mengepul diatas meja, dan tidak ada diantara mereka yang mencoba untuk mencicipi barang sedikit. Mereka masih sibuk dengan pemikiran masing-masing.

Uchiha Sakura mencoba berpikir bagaimana menjelaskan keberadaan dirinya dengan Neji disini pada Shisui.

Uchiha Shisui berpikir ada yang berbeda dengan sikap Neji padanya, seolah-olah ia menjadi pembuat onar yang menghancurkan rencana nya.

Dan benar, Hyuuga Neji memang sangat tidak menyukai kehadiran Shisui disini, dia berpikir bagaimana cara membuat pria itu sibuk sehingga tidak mengganggu dirinya dan Sakura.

"Jadi, kenapa Nee-san ada disini? Dengan..." Shisui melirik Neji dengan ekor matanya, "Neji Nii-san?"

"San Fransisco, aku, Neji dan teman-teman dokter yang lainnya menjalani pelatihan disana." Sakura berucap pelan sambil mengambil coklat panasnya.

"Lalu Lake Tahoe? Bagaimana-"

"Aku yang meminta Sakura, ini perjalanan sesama teman. Apakah itu mengganggu mu?"

Shisui cukup terkejut dengan Neji yang tiba-tiba menyela perkataan nya. Siapapun akan tahu jika Neji tidak mengukai kehadiran nya disini, sangat jelas dari sikap yang Neji tunjukkan.

Sangat tidak bersahabat.

Shisui menggeleng dan terkekeh pelan, "Tidak, tentu saja tidak. Tapi, tampak nya, kau yang terganggu dengan kehadiran ku, Nii-san." Dia menampilkan senyum miring nya.

Neji hanya mendengus dan berpaling, melihat hamparan salju dari kaca kafetaria. "Lalu, kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini?"

"Wah wah, bahkan sekarang kau lupa pada pekerjaan ku Nii-san? Yang benar saja." Shisui berdecak tak percaya. "Aku ada pemotretan disini, dan San Fransisco juga. Nah, bagaimana kalau Nee-san dengan ku saja? Ke San Fransisco?"

Tidak ada yang lain yang dilakukan Shisui selain menatap Sakura penuh harap. Dia sangat ingin Sakura 'mengiyakan' ajakannya, ada yang harus Sakura ketahui dan juga usahanya untuk menjauhkan Sakura dari Neji. Semoga saja Sakura dapat bekerja sama.

Sakura hampir menyetujui ajakan Shisui jika saja Neji tidak menyela dirinya dan memandang Shisui sengit.

"Sakura pergi bersama ku Shisui, tentu saja dia harus pulang bersama ku juga."

"Nee-san belum berkata apa-apa Neji-nii, jangan memutuskan sendiri. Lagipula, banyak yang harus aku bicarakan dengan Sakura-nee. Jangan lupa Nii-san, Sakura Nee-san adalah kakak ipar ku."

Sedari tadi, Sakura memandang Neji dan Shisui menyelidik. Sejak kapan Hyuuga dan Uchiha didepan nya ini bersikap sangat tidak bersahabat.

Dia memang bertemu Shisui dua bulan yang lalu, dirumah utama keluarga Uchiha setelah pertemuan mereka di hari pernikahan Sakura, dan itupun hanya dua hari, karena Shisui ada jadwal syuting iklan di Korea Selatan.

Jadi, jika dipikir ulang, Neji dan Shisui hanya bertemu waktu pernikahan nya, dan tentu mereka sangat baik-baik saja. Tapi, kenapa sekarang keduanya malah seperti membunyikan genderang perang.

Mata Sakura memandang Shisui yang penuh harap padanya. Terlihat jelas Shisui sangat berharap dirinya menyetujui ajakan itu. Sepertinya, apa yang akan dibicarakan oleh Shisui sangat penting. Tapi, bagaiamana dengan Neji? Dia merasa hanya tidak sopan jika membiarkan Neji sendirian disini.

Sakura akan berkata lagi, jika saja sebuah panggilan tidak mengagalkan nya. Itu Sasuke. Terima kasih Kami-sama, kau memberiku petunjuk yang tepat.

"Mm, ini Sasuke-kun," Sakura menunjuk ponsel pintar yang digenggam nya. "Aku permisi sebentar."

Segera saja Sakura berjalan menuju balkon restoran setelah memastikan Shisui dan Neji mengangguk padanya.


"Moshi-mosih, Sasuke-kun?"

"Hn, Sakura."

Sakura tersenyum, senang sekali rasanya dia dapat mendengar suara sang suami.

"Ada apa Sasuke-kun? Sasuke-kun baik-baik saja? Tidak terjadi sesuatu kan?"

"Aku baik Sakura, hanya saja..."

"Ya?"

"Aku merindukan mu."

Dalam hitungan detik dengan kata rindu yang Sasuke ucapkan, membuat wajah Sakura merona.

"A-aku juga merindukan Sasuke-kun."

"Hn. Lalu, kau sendiri? Apakah baik-baik saja?"

"Aku juga baik Sasuke-kun, Neji membawa ku ke Lake Tahoe. Disini sangat indah, andaikan ada Sasuke-kun, pasti lebih menyenangkan."

Sakura melirik ke arah meja mereka berada, disana masih terlihat jelas Neji dan Shisui yang masih saling melemparkan pandangan mematikan.

"Syukurlah kau baik-baik saja."

"Tentu, dan disini juga ada Shisui, Sasuke-kun."

"Shisui?"

"Benar, dia mengajakku untuk kembali ke San Fransisco bersama. Sepertinya, Shisui ingin mengatakan sesuatu yang penting."

"Kalau begitu, dengan Shisui saja."

Keputusan Sasuke sudah tepat, dia tidak akan membiarkan Hyuuga Neji mencoba mendekati istri-nya. Dan beruntung lagi, Shisui muncul disana yang entah berasal dari mana. Kali ini, adik-nya itu sungguh berguna.

Sakura sedikit menimbang perkataan Sasuke. Tampaknya, pergi bersama adik ipar terlihat lebih baik, daripada berlama-lama bersama Neji yang hanya sebagai seorang teman.

"Baiklah, apapun keputusan Sasuke-kun."

Lagi, diseberang sana. Sakura berhasil membuat Sasuke tersenyum senang. Cara-cara sederhana dari Sakura selalu membuatnya tenang. Dia selalu bersyukur Kami-sama memberikan Sakura padanya, sesuatu yang sangat berharga bagi Sasuke. Sakura adalah porsi yang pas untuk melengkapi dirinya.

"Sakura?"

"Ya, Sasuke-kun?"

"Aku mencintai mu."

Deg!

Jantung Sakura tak dapat berhenti berdetak dengan kencang, kata cinta yang Sasuke ucapkan membuat ribuan kupu-kupu berterbangan didalam dirinya.

Sungguh, dia tidak percaya dengan apa yang didengar nya. Uchiha Sasuke dan kata cinta itu adalah perpaduan yang mustahil, begitulah kata orang-orang. Tapi, sekarang tidak ada yang tidak mungkin. Termasuk juga dirinya, dia juga tidak mungkin untuk tidak mencintai suaminya itu.

"Aku juga Sasuke-kun."

Sekali lagi, Sasuke kembali tersenyum senang dibalik ponselnya. "Hn, cepatlah pulang. Aku sangat merindukan mu."

Ah.. lagi-lagi Sasuke menunjukkan sikap manis dirinya. Sikap yang hanya pada Sakura dia perlihatkan. Sikap yang membuat Sakura semakin jatuh pada pria itu. Dan beruntungnya, pria itu adalah suaminya sendiri.

"Aku juga, Jaa ne Sasuke-kun."

"Hn."

Percakapan itu terputus, setelah Sakura memastikan Sasuke menutup panggilan nya. Sebelum kembali ke meja, Sakura menyimpan ponsel itu dan menenangkan dirinya sebentar.

Mencoba menetralkan jantung yang berdegup kencang dan menghilangkan rona merah diwajah cantiknya itu akibat ulah sang suami. Dia tidak ingin, Neji maupun Shisui memandang dirinya aneh nanti.

"Shisui, Nee-san bersama mu. Dan, maaf Neji sebaiknya aku kembali bersama Shisui saja." Ucap Sakura saat sudah berada dimeja mereka lagi. Dia mencoba menberikan senyum penyesalan pada Neji.

Neji tidak dapat berkata apa-apa. Keputusan Sakura membuat dirinya diam. Dia menatap Sakura dengan tidak percaya, segitu mudahnya Sakura sendiri mengagalkan rencana yang telah ia susun. Dan melihat Shisui yang tersenyum menyeringai senang, menandakan bahwa rencana nya memang tidak berjalan lancar. Dia gagal total, kali ini.


"Keputusan yang Nee-san ambil sangat tepat." Ucap Shisui dengan sumringah.

Saat ini mereka berada dimobil Shisui, bahkan dalam satu jam lagi mereka akan sampai di San Fransisco.

"Aku hanya aneh dengan kau yang terlihat sangat senang dengan keputusan ini, Shisui. Sebenarnya, ada apa antara dirimu dengan Neji? Bukankah kalian baik-baik saja sebelumnya?"

Shisui mengangguk, "Sebelumnya iya, tapi sekarang tidak lagi. Aku rasa, Hyuuga Neji menyukai dirimu Nee-san. Apakah Nee-san tidak melihat wajah kesalnya ketika kita meinggalkan nya?"

"Jangan mengada-ada Shisui." Sakura memutar bola matanya bosan, itu adalah hal yang sangat tidak mungkin. Tidak mungkin untuk seseorang seperti Hyuuga Neji menyukai istri sahabatnya. Memang, dia sebagus apa sampai-sampai sudah bersuami pun masih ada orang yang menyukai nya.

"Baiklah, kalau hal itu Nee-san tidak percaya padaku. Tapi ini," Shisui memberikan sesuatu pada Sakura. Jika dilihat dari ukuran nya, itu kartu memori sebuah kamera.

"Ketika Nee-san bersama Hyuuga Neji tadi, aku melihat seorang paparazi mencoba mengambil gambar kalian. Untung saja aku berada disana, kalau tidak besok pagi pasti seluruh dunia dan Uchiha akan gempar dengan berita itu."

Sakura memandang Shisu tidak percaya sekaligus takjub. Tidak percaya karena masih ada segelintir oknum tertentu yang mengetahui dirinya, dan takjub kepada adik iparnya itu yang bergerak cepat. Terlambat sedikit saja, habislah sudah.

"Aku kira, tidak ada yang mengenalku disana. Ternyata, orang-orang memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin ya." Salah satu kelemahan menjadi istri seorang Uchiha, hidupmu akan dipantau dimana saja.

"Mulai dari sekarang, aku sarankan Nee-san lebih berhati-hati.

Sakura mengambil kartu memori itu dari tangan Shisui, "Tentu, terima kasih banyak Shisui."

Sakura sangat bersyukur, adik ipar nya itu ada disana. Kalau tidak, seperti yang Shisui katakan tadi, dunia dan Uchiha akan gempar.


Tenten menikmati sarapan paginya dengan riang. Entah kenapa pagi ini suasana hatinya cukup bagus. Mungkin, karena beberapa jam lagi mereka akan kembali pulang menuju Jepang. Jujur saja, dokter keturunan cina itu sudah sangat merindukan rumahnya.

Dihadapan Tenten sudah tertera sepiring omelet dan sosis, dua roti bakar dengan selai coklat, segelas susu coklat dan air mineral. Cukup banyak memang, menginat Tenten hanya sarapan sendirian pagi ini, tampa Sakura.

"Mana Sakura?"

Dengan mendengar kata yang super singkat itu, Tenten tahu siapa yang ada didepan nya. Siapa lagi kalau bukan Hyuuga Neji. 'Cih! Pagiku yang tenang dirusak oleh pengagum Sakura yang super pengganggu ini.'

Tenten hanya diam dan mencoba menganggap Hyuuna Neji yang telah duduk didepan nya tidak ada. Dia tidak mau mengeluarkan tenanga hanya untuk ribut dengan Hyugga Neji dipagi yang cerah ini.

Neji mencekal tangan Tenten dengan erat ketika ia hendak mengambil roti bakar coklat. Menatap Tenten dengan pandangan menusuk. Berani-berani nya dia mengacuhkan Hyuuga Neji.

"Aku bertanya, dimana Sakura, Tsuzuyu-san?"

Tenten mengarahkan kepalanya kepada Neji, menatap Neji sengit. "Apakah suatu keharusan untuk mu mengetahui dimana Sakura?"

Dia segera menarik tangan nya yang digenggam Neji, meninggalkan rona merah disekitar perngelangan tangan itu akibat cekalan Neji yang begitu kuat.

Pertanyaan Tenten membuat rasa kesal Neji menjadi berlipat ganda. Kenapa Sakura selalu dikelilingi oleh orang yang selalu akan menjauhkan jarak mereka. Dia tidak menjawab pertanyaan Tenten, menjawab pertanyaan Tenten akan membuat hari Neji bertambah buruk saja.

"Kau sangat menyedihkan Hyuuga, sungguh aku merasa simpati pada mu sekarang." Ucap Tenten setelah mengeruput habis susu coklatnya.

'Simpati apanya? Sekarang saja dia terlihat seperti menahan tawa bahagia didepan ku.'

"Sebaiknya, kau segera melupakan perasaan aneh mu itu. Sakura sudah bahagia, kau tau kenapa Sakura tidak ikut sarapan pagi ini?" Tenten mengambil serbet yang ada disampingnya, mengusap mulutnya pelan mencoba menghilangkan noda makanan yang tertinggal. "Sakura terlambat untuk bangun, karena semalam dia menghabiskan waktu berbicara dengan suaminya lewat ponsel. Seperti yang aku katakan, Sakura sudah bahagia."

Tenten bangkit dari duduk nya dan menepuk pelan pundak Neji. Dimatanya, Hyuuga Neji terlihat sangat menyedihkan.


Narita Airport, Jepang.

"Sudah semuanya?" Tenten melirik Sakura yang berdiri didepannya dengan dua buah koper besarnya.

Sakura mengangguk dan menatap jam tangan Girard Perregaux miliknya. Sekiranya, Sasuke akan datang sekitar lima belas menit lagi.

Dia sudah menghubungi sang suami tiga puluh menit yang lalu, menandakan bahwa pesawat yang mereka naiki mendarat dengan sempurna.

Ruang tunggu kepulangan bandara Narita lumayan sepi saat ini, mungkin karena jam mereka mendarat pada pukul delapan pagi. Sakura menarik kedua kopernya mencari tempat duduk selama menunggu Sasuke, yang diikuti oleh Tenten dibelakang. Kebetulan juga jemputan Tenten sedang diperjalanan. Jadi, mereka dapat menunggu bersama.

"Ada apa dengan nya?" tanya Sakura pada Tenten sambil melirik Neji yang berdiri tak jauh dari mereka. Memang ada yang sedikit aneh dari Neji, sejak tadi mereka berangkat bahkan sudah di Jepang pun Neji diam.

Ketika bertemu pandang dengan Sakura, Neji akan lansung membuang muka. Sedangkan bertemu pandang pada Tenten, dia menatap Tenten murka.

Tenten mengangkat bahu, "Hyuuga Neji kan memang orang yang aneh, jadi tidak ada yang salah dia bersikap menjauhi kita seperti itu. Sangat kekanak-kanakan." Dengus Tenten.

Tenten membuat Sakura tertawa dengan kata-katanya, apa yang dikatakan Tenten memang benar. Hyuuga Neji terlihat sangat kekanak-kanakan.

"Kurasa, orang yang paling mengerti dengan Hyuuga Neji adalah dirimu Tenten. Entah mengapa aku berharap kalian berjodoh." Ucapnya sambil tertawa kecil tampa memperdulikan tatapan horor yang Tenten berikan.

Neji memandangan Tenten dan Sakura dari tempat nya. Tenten benar, sejak tadi Neji menjauhi mereka. Sakura dan Tenten. Entah karena apa, tapi Neji merasa kesal dengan keduanya, atau mungkin dengan keadaan yang sangat tidak memihak dirinya.

Untuk saat ini,dia menolak berinteraksi dengan Sakura. Setidaknya, sampai rasa kesal nya pada keadaan dan rencana yang gagal itu hilang. Apalagi, disamping Sakura selalu saja ada penjaga bermulut tajam. Dia sangat malas menghadapi mulut tajam penjaga Sakura yang sialnya benar itu.

Contohnya, kata-kata Tenten sebelum kepulangan mereka. Sangat memukul Neji telak. Bahkan, dengan mengingat kata-kata itu saja, membuat hati pria itu merasakan sedikit rasa perih.

Neji masih memandang Sakura yang mulai berjalan meninggalkan Tenten dibelakang. Tidak butuh waktu banyak untuk Neji mengetahui kemana arah Sakura.

Kemana lagi kalau bukan Uchiha Sasuke yang berdiri didekat puntu kedatangan dengan gaya yang kasual dan hands in his pocket.

Mengenakan topi Balenciaga Black Logo-embroidered Twill Cap, dengan atasan Off-White Black Knit Flamed Bart Sweater dan bawahan Dolce & Gabbana Black Crown Trousers, serta sneakers keluaran Gucci White Bee New Ace High-Top. Uchiha Sasuke benar-benar sempurna.

Dan anehnya -bahkan setelah Sakura sedikit berlari menuju Sasuke yang lansung dipeluk oleh suaminya itu sangat erat- Neji tidak tidak dapat mengalihkan pandangan dari sepasang suami istri itu.

Neji tidak dapat menyembunyikan tatapan tajam nan menusuk itu ketika mereka berpelukan erat. Bahkan, tatapan itu semakin menjadi-jadi ketika Uchiha Sasuke mengeringai menang kearah dirinya. Apalagi Uchiha itu semakin memperdalam pelukan Sakura.

Seketika ia benci, ia benci karena tidak dapat mendekap Sakura se-erat itu.

.

.

.

.

.

*TBC*


A/N:

Haii, bertemu dengan saya lagi^^

Maaf sekali update nya sangat amat telat, belakangan ini banyak sekali hal yang membuat saya stuck ditempat, tidak dapat menuangkan imajinasi saya. Salah satu nya yaitu, masalah cerita yang saya publish kemaren, begitu banyak yang menyukai cerita tersebut maka begitu juga dengan tidak menyukai, apakah segitu buruknya cerita saya sampai-sampai saya disebut sebagai pengkhianat?*bahkan ini review di MT story loh, cerita yang sama sekali gak ada hubungan nya dengan ceriita itu* jujur saja, saya menyukai Naruto bukan baru-baru ini, bahkan sudah mengukuti sejak saya kelas empat SD sampai sekarang saya menjadi mahasiswa akhir. Saya yang biasanya semangat membaca review baik dari kalian semua, tiba-tiba mendapat kata-kata seperti itu jujur membuat saya down dan lebih memilih menghapus cerita tersebut *maaf sekali lagi bagi yg sudah mefav&follow cerita tersebut. Saran saya, jika memang tidak menyukai cerita tersebut berikanlah kritikan yang tidak menjatuhkan semangat seseorang, karena setiap review yang kalian berikan itu akan berdampak bagi penulis baik negatif maupun positif.

Okay, selesai ajang curhatnya, jika dari kalian ada yang merasa bahwa cuitan saya diatas terlalu berlebihan, maka tolong maklumi saja, seriously guys, dibilang pengkhianat itu gak enak dan cukup keterlaluan, cause i know you nothing and you know me nothing, jadi berkatalah dengan sewajarnya saja :)

Untuk MAH, sorry kali ini saya gak bisa balas review satu2 but terima kasih banyak bagi yang mereview, follow, dan favorit^^ see you in next chapter ;)

Update selanjutnya: 23 Juni 2019

Sign, TaySky1998