-Me And Him-
Story TaySky1998
Naruto Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 16
"Happiness"
.
.
.
-Enjoy This Story-
-Happy Reading-
Sambil mengemudikan mobilnya, Sasuke tidak hentinya tersenyum sejak tadi. Rasanya sangat menyenangkan telah memperlihatkan kepada Neji bahwa Sakura mutlak miliknya.
Sasuke tentu saja tidak bodoh untuk mengerti arti tatapan Hyuuga Neji pada dirinya dan sang istri. Apalagi setelah melihat Neji berdecak kesal dan lebih memilih meninggalkan mereka berdua. Artinya, Neji sudah kalah bahkan sebelum berperang.
Senyumnya dikulum, mengambil tangan Sakura dengan tangan kiri nya, sedangkan tangan kanan pria itu mahir menjaga stir mobil. Sesekali Sasuke mengecup tangan istrinya itu. Dia senang, karena Sakura sudah kembali dan pertunjukkan singkat dari Hyuuga Neji.
"Aku selalu menyukai Sasuke-kun yang seperti ini." Ucap Sakura sambil menepuk lembut tangan Sasuke yang menggenggam tanganya. Sasuke tampak sangat ceria, ketampanan suaminya bertambah berkali-kali lipat.
"Jika kau didekat ku, aku akan selalu terlihat seperti ini Sakura."
Wajah Sakura bersemu merah, "Kalau begitu aku akan selalu ada didekat Sasuke-kun."
"Tentu saja, dan siapa pula yang berhak menjauhkan mu dari sisi ku. Tidak ada." Dia tersenyum menatap istrinya sebentar, lalu kembali fokus pada pandangan nya ke jalan raya.
Saat ini mereka diperjalanan menuju rumah utama keluarga Uchiha. Sang nyonya utama –Uchiha Mikoto- sudah berpesan bahwa menantu kesayangan nya harus menemui dirinya terlebih dahulu. Mau tak mau, Sasuke harus menahan waktu kebersamaan dengan istri tercinta karena keluarganya.
"Bagaimana dengan pelatihan mu selama disana?" tanya Sasuke.
"Semuanya berjalan lancar Sasuke-kun, bahkan kabar baiknya, setiap dokter yang mengikuti pelatihan tersebut diberikan sertifikat yang nanti digunakan untuk mengambil spesialis. Jadi, aku tidak perlu menunggu satu atau dua tahun untuk dapat melanjutkan pendidikan spesialis ku."
Mata Sakura berbinar menceritakan pengalaman pelatihan di San Fransisco. Biasanya, syarat untuk melanjutkan pendidikan spesialis harus mempunyai pengalaman kerja dokter umum minimal satu tahun atau dua tahun.
Tapi, dengan adanya sertifikat ini, dia tidak perlu menunggu lama hanya untuk melanjutkan studi nya. Dia benar-benar merasa telah mengambil keputusan yang tepat dengan mengikuti pelatihan itu.
Sasuke mengusap kepala Sakura lembut, istrinya senang dia sudah pasti akan ikut senang. "Artinya, kau sudah memikirkan ingin melanjutkan kemana bukan?"
Sakura mengangguk, "Aku ingin mengambil spesialis kandungan, Sasuke-kun."
"Hn, itu bagus, aku suka. Jadi, aku tidak perlu khawatir lagi jika kau mengandung anak kita nanti, ibunya pasti tahu yang terbaik."
"Itu pasti, Uchiha kecil kita akan aman bersama ku nanti."
Sekali lagi, Sakura selalu membuat Sasuke bahagia hanya dengan cara sederhananya. Dia tak hentinya untuk tidak tersenyum, hal manis yang dilakukan Sakura mampu menggerakkan sudut bibir Sasuke membentuk senyuman bahagia.
Dia hanya dapat berharap kebahagian ini selalu nyata dan selama nya.
Uchiha Mansion, Denenchofu, Tokyo, Jepang.
Dari luar, rumah utama keluarga Uchiha itu sudah ramai dengan suara dan gelak tawa. Bahkan, sebuah mobil jenis sedan keluaran Rolls-Royce Ghost EWB terparkir rapi didepan pintu besar rumah itu. Membuat Aston Martin Rapide S Base berwarna merah yang dikendarai Sasuke berhenti dibelakang mobil tersebut.
Sakura segera turun dari mobil setelah Sasuke membukakan pintu untuknya. Berjalan memasuki living room mansion Uchiha dengan tangan Sasuke yang setia menggenggam tangan nya.
"Kaa-san," ucap Sakura saat melihat Mikoto yang berbincang dengan Konan sambil memangku Hana, salah satu si kembar milik Itachi dan Konan.
"Sakura-chan, senang melihatmu lagi." Mikoto segera berdiri, menurunkan Hana yang telah lebih dulu berlari memeluk Sakura.
"Aku juga Kaa-san, dan Konan-nee." Sakura duduk didepan Konan dan Mikoto sambil memangku Hana.
"Bagaimana kabar mu disana Sakura?"
"Semuanya baik Nee-san, berita bagusnya aku dapat melanjutkan studi kedokteran ku setelah mendapat sertifikat pelatihan disana." Dia menatap Konan sebentar dan kembali bercanda dengan Hana.
"Itu bagus, akan sangat sayang jika kau melewatkan pelatihan itu."
Sakura mengangguk, "Nee-san benar, dan untung sekali aku tidak melewatkan nya."
Dia sempat berbincang-bincang dengan Mikoto dan Konan perihal pengalaman nya di San Fransisco, termasuk menceritakan bahwa dia juga bertemu Shisui disana. Tapi, setelah beberapa saat, dia merasa ada yang aneh.
Sakura mengedarkan pandangannya ke segala arah living room mansion. Dia merasa sedikit ada yang tidak beres, diluar terdengar suara ramai gelak tawa, tapi kenapa setelah dirinya memasuki rumah hanya ada Mikoto dan Konan?
"Kaa-san, kenapa dari luar rumah terdengar ramai sekali? Lalu, mobil yang didepan? Siapa yang berkunjung?" Sakura menatap Mikoto bingung.
"Ah ya, kita kedatangan tamu spesial, nak."
Jujur, senyum misterius Mikoto tambah membuat rasa penasaran Sakura meningkat.
"Siapa-"
"Merindukan kakek mu, Saku-chan?"
Dari arah taman samping, Sakura melihat Haruno Hashirama berdiri dengan bertumpu pada tongkatnya sambil tersenyum. Senyum yang sangat ia rindukan.
"KAKEK?"
"Apa kau bahagia, nak?"
Sakura memandang jauh ke arah kolam ikan ditaman disamping yang ada diepan dirinya dan sang kakek.
Bahagia.
Satu kata yang dapat membuat ia tersenyum. Satu kata yang sangat cocok mengambarkan dirinya saat ini.
'Jika kakek menanyakan hal ini lebih awal, mungkin aku tidak akan bisa mendefinisikan kata bahagia. Tapi sekarang, ternyata waktu telah berlalu begitu cepat.'
"Aku bahagia kakek, sangat."
Sakura menggenggam tangan Hashirama, membuat kakek nya merasa yakin akan bahagia itu.
Hashirama menghela napas lega, "Kakek sangat senang mendengarnya Saku-chan, sangat senang karena menyerahkan mu pada orang yang tepat."
"Kakek benar, Sasuke-kun adalah orang yang tepat. Bahkan sekarang aku tidak dapat membanyangkan jika aku menolak permintaan kakek waktu itu."
Senyum kecil muncul di wajah Sakura, mengingat saat dirinya memikirkan untuk menolak Sasuke, memikirkan perjanjian yang mereka ciptakan dulu terasa sangat konyol sekarang.
Dia bergerak pelan, memeluk sang kakek erat, "Terima kasih kakek, terima kasih untuk semuanya."
"Sama-sama nak, kau bahagia, aku pun juga bahagia."
Hashirama tersenyum. Ini adalah salah satu keputusan paling benar yang ia lakukan. Membuat cucu tercinta selalu bahagia.
Di saat masa tua yang ia rasakan, rasa bahagia Sakura memberikan dirinya kekuatan. Ia merasa sudah siap meninggalkan Sakura sekarang, karena cucu tersayang itu sudah berada ditangan yang tepat.
Melihat Sakura hanya terdiam tampa ekspresi saat hari meninggalnya Kizashi dan Mebuki, membuat dirinya tertekad, bahwa ia juga akan pergi jika Sakura sudah akan selalu tersenyum disini. Mungkin, sekarang saat nya.
"Tunggu," Sakura melepas pelukannya, memberikan padangan penuh kecurigaan kepada Hashirama.
"Jika ini kakek? Lalu, pemilik mobil putih disana siapa?"
Senyum tertahan Hashirama terlihat ketika Sakura mencoba menatap penuh selidik padanya.
"Kakek membeli mobil? Lagi?"
Sakura hanya dapat menggeleng lemah karena anggukan Hashirama. Salah satu hobi kakeknya yang tidak disukai Sakura adalah ini, mengoleksi mobil dengan harga yang tak terbayang. Entah sudah berapa banyak mobil mewah Hashirama yang berdiam diri didalam garasi.
Dia bahkan sudah malas menghitung, karena menurut nya itu sangat-sangat membuang-buang uang. Memang benar, hobi adalah sesuatu yang tidak dapat dirubah.
Sasuke tak dapat menghentikan senyum yang menghias wajah tegasnya ketika tangan ramping sang istri memeluk dari belakang. Merasakan hangat nya Sakura dapat membuat bongkahan es didalam lubuk hati Sasuke mencair deras.
Ia menyukai sensasi ini, sebuah rasa yang tak dapat digambarkan ketika mereka bersama.
"Sudah bertemu kakek?"
Sasuke merasakan Sakura mengangguk dipunggung nya, "Sudah."
Hening, mereka terlalu menikmati kedekatan yang tercipta.
"Aku bahagia Sasuke-kun."
"Karena bertemu kakek?"
Sakura melepaskan pelukannya, memutar tubuh Sasuke sehingga mereka berhadapan. Ia memengang kedua pipi Sasuke dengan kedua tangan, "Karena semuanya. Kau, aku dan kehidupan kita, aku bahagia karena itu." Ucap Sakura sambil memberikan Sasuke kecupan singkat.
Hal manis namun sederhana, itulah yang Sasuke butuhkan, dan semuanya ada pada Sakura. Tepat setelah Sakura menarik tangan nya, Sasuke langsung bergerak memeluk Sakura erat.
"Arigatou, Sakura."
Sakura mengangguk sambil tersenyum dalam pelukan Sasuke, membuat dirinya lebih memeluk Sasuke erat.
"Aku mencintai Sasuke-kun."
"Aku juga mencintai mu, sangat."
Cahaya lampu kamar mereka yang makin lama makin meredup dengan jarak yang semakin menipis, mengambarkan rasa bahagia yang ada. Menghilangkan perasaan rindu yang belakangan terasa diantara keduanya.
Tok... tok... tok..
"Masuk,"
"Kau sibuk?"
Suara Shizune yang semakin perlahan mendekat membuat Sakura mengangkat kepalanya. "Shizune-nee." Sakura memegang kepala nya sebentar, pusing itu kembali lagi.
"Kau sakit Sakura?"
Sakura tampak pucat, bulir-bulir kecil keringat menempel di kening dokter Uchiha itu. Pantas saja Sakura berada diruangan seharian ini. Awal nya Shizune mengira Sakura terlalu sibuk sampai-sampai untuk pengecekan rutin pasien nya saja diberikan kepada Tenten.
Tapi, malah pemandangan Sakura yang bertumpu pada meja yang didapatnya. Memang, empat bulan pasca kepulangan Sakura dari San Fransisco membuat dia begitu sibuk, merekap ulang perkembangan pasien yang dilakukan oleh dokter pengganti sebelumnya.
Sakura menggeleng lemah, "Entahlah Nee-san, sejak kemaren malam kepala ku selalu pusing. Aku juga tidak tahu penyebabnya, itu terasa tiba-tiba."
Sakura sudah mencoba mengingat hal apa yang dapat membuatnya seperti ini. Kesibukan dirumah sakit serta pekerjaan ibu rumah tangga yang dilakukan oleh nya di Penthouse mereka selama belakang ini tidak mungkin dapat membuat Sakura sakit.
Dia sudah terbiasa berkeja keras. Namun, ada satu kasus yang dapat menjelaskan keadaan Sakura, tapi... dia tidak begitu yakin dengan itu.
Shizune memandang Sakura menyelidik, membuat Sakura mengerti apa yang ada dipikiran dokter senior itu. Shizune tentu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya tinggal memastikan apakah itu benar atau tidak.
"Sakura, berikan tangan mu."
Nah, benar bukan? Pemikiran mereka sama.
"Tidak perlu Nee-san, jangan memberiku harapan."
Shizune menggeleng keras, "Ayolah Sakura, aku mempunyai firasat bagus tentang ini. Kau meragukan ku? Walaupun aku bukan dokter Kandungan, aku cukup paham hal-hal yang berhubungan dengan pregnantcy, aku kepala rumah sakit disini."
Sakura menyerah, dia menyerahkan pergelangan tangan nya pada Shizune. Memang tidak seharusnya dia meragukan Shizune. Salah satu dokter senior terunggul di Jepang. Kalau tidak, mana mau Uchiha memberikan jabatan Kepala Rumah Sakit kepadanya.
"Bagaimana Nee-san?" Sakura masih memerhatikan Shizune yang memeriksa dengut nadinya. "Sudah ku katakan, tidak mungkin aku-"
"Tunggu! Aku merasakan nya." Seru Shizune yang membuat Sakura terdiam. "Aku tidak mengerti kenapa kau tidak merasakannya, namun sekarang sudah jelas, selamat Sakura, selamat atas Uchiha kecil mu."
Sakura mematung, "Be-benarkah?"
"Tentu saja!"
Sontak saja Sakura beteriak heboh, bahkan Shizune juga ikut bereaksi seperti itu. Mereka berputar sambil berpelukan erat.
"Cukup Sakura, aku takut acara memeluk kita yang bar-bar ini akan menganggu keponakan kecil ku. " Shizune kelelahan, namun senyum bahagia masih melekat padanya, begitu pun dengan Sakura.
Ia tak dapat membayangkan rasa bahagia yang berlipat. Salah satu harapan nya maupun Sasuke terkabul. Uchiha kecil mereka. Bahkan, Sakura tidak dapat membayangkan rasa bahagia Sasuke saat mendengar berita ini.
"Sekarang kau ikut aku."
"Kemana Nee-san?"
"Kemana lagi kalau bukan menemui Hanami."
Sakura sudah tidak bertanya lagi saat Shizune menarik tangan nya keluar ruangan. Menemui salah satu dokter kandungan senior dirumah sakit mereka. Rasa bahagia ini hanya mampu membuat dirinya tersenyum senang. Dia hanya berharap agar kebahagian ini tidak akan mendatangkan badai pada dirinya.
Cukup kebahagian saja, dan ia akan selalu bersyukur akan itu.
.
.
.
.
.
.
*TBC*
A/N:
Hallo, bertemu dengan saya lagi
Maafkan akan keterlambatan yang tak sesuai rencana, dan juga mungkin MaH akan selesai 5 atau 6 ch lagii, jadi ch16 ini hanya sedikit awalan manis untuk mulainya beberapa konflik di chapter depan so, terima kasih kepada yang masih setia menunggu story ini :)) and btw, belakngan ini saya aktif lagi di wattpad, jadi bagi yang punya wattpad, silahkan mampir di lapak saya
At least, big thanks to favfoll, serta RnR guys
See you,
Sign, TaySky1998
