My Justice by Kang Nasgor.
Disclaimer : Naruto adalah kepunyaan Mr. Masashi Kishimoto.
Semua karakter memiliki pemiliknya masing-masing.
Summary : Baku hantam ajalah kita Summary!
Rate : M.
Genre : Advanture, Action, Fantasy, Supranatural.
Warning : Typo, OC, OCC, Bahasa Baku, Cerita dikarang oleh Kang Nasgor dari berbagai referensi.
"Naruto" Berbicara.
"Naruto" Batin.
["Naruto"] Magical Beast Berbicara.
["Naruto"] Batin Magical Beast.
[Naruto] Power/Magic.
.
.
.
Don't read if you don't like it!
.
.
.
Happy read if you like it
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
7 TAHUN KEMUDIAN
Sudah cukup lama waktu berlalu, semenjak Rayleigh mengambil dan membesarkan Naruto. Jujur, itu adalah hal baru baginya dan juga hal yang sangat merepotkan. Sosok tua Rayleigh saat ini, tampak sedang duduk santai di sebuah batang pohon yang baru saja dipotongnya. Memejamkan kedua matanya, bersantai sambil menikmati semilir angin yang berhembus.
WOOOOUUUU
Suara lolongan serigala membuat Rayleigh membuka sebelah matanya melihat ke arah sumber suara tersebut.
"Apa lagi yang dibawa oleh bocah itu?" batin Rayleigh tersenyum kecil melihat Naruto yang sudah tumbuh, sedang menunggangi serigala berwarna biru gelap. Dengan kulit harimau sebagai atasannya dan celana pendek selutut yang terbuat dari kulit rusa, membuat Naruto terlihat seperti anak kecil dari zaman purba. Jangan salahkan bocah itu, itu hanya selera seorang kakek tua. Rayleigh hanya menyesuaikan pakaian yang dikenakan oleh bocah itu dengan tempat mereka tinggal. Dan, soal binatang yang dikendarai oleh cucunya..., dia hanya tertawa kecil ketika mengingat serigala itu.
Rangga, sebuah nama yang telah diberi oleh Naruto kepada serigala yang ditungganginya. Tepatnya, setahun lalu. Ketika dia membawa Naruto dan mengajari bocah itu bagaimana cara berburu. Dia hanya tersenyum lucu mengingat ketika dia hendak membunuh serigala tersebut yang sudah melukai Naruto. Namun, bocah itu malah menangis, memohon kepadanya bahwa dia mau serigala itu sebagai hewan peliharaannya.
Lucu
Sungguh lucu
Bagaimana tidak, serigala atau lebih tepatnya salah satu jenis monster dengan tier S yang hidup di Hutan Kematian ini, malah dijadikan sebagai hewan peliharaan. "Memang kau pikir monster itu anjing? atau mungkin seekor kuda?" batin Rayleigh menggelengkan kepalanya pelan melihat Naruto mengikat sebuah sulur pohon di badan serigala tersebut, menarik seekor rusa hasil buruannya. "Sasuga, cucuku." lanjut Rayleigh kembali tersenyum sambil melihat Naruto dan Rangga berjalan menuju kearahnya. "Yah, walupun serigala itu tier S dan banyak ditakuti oleh kalangan banyak mahluk. Untuk orang sekaliber diriku, aku dapat dengan mu-"
"KAKEK! OI KAKEK! KAKEKKK!"
"BERISIK, BOCAH GEMBLUNG!" teriak marah Rayleigh karena pikirannya dibuyarkan oleh Naruto. Menghembuskan nafasnya sambil berdiri lalu berjalan pelan ke arah Naruto. "Apa yang kau bawa hari ini?"
"Apa kakek sudah buta?" jawab Naruto kecil dengan wajah tidak berdosa.
Perempatan tampak jelas tercipta di kening Rayleigh. "Kau mau kakek tendang?"
"Maafkan aku, Kakek." balas Naruto dengan cepat menunduk-nundukkan kepalanya setelah mendengar ancaman kakeknya. Dirinya tentu saja tidak mau ditendang oleh kakeknya. Terakhir kali dia ditendang, dia menghantam dan merobohkan sebuah pohon yang ada di dekat tempat mereka tinggal. Membuat dirinya pingsan selama tiga hari lamanya.
Sadis
Kakek putihnya sangat sadis ketika marah. Dan, dia tentu saja tidak mau membuat kakeknya itu marah. Namun, menjahili kakeknya adalah hal yang lain. Entah mengapa itu menjadi kesenangan tersendiri baginya. Walaupun dia tau, pada akhirnya kakek putihnya itu juga akan marah dibuatnya.
"Aku baru saja memburunya ketika dia sedang meminum air di rawa tadi, Kakek." ujar Naruto tersenyum bangga segera melepaskan sulur tali yang mengikat hasil buruannya. "aku hebat bukan?" lanjutnya sambil mengangkat bangkai rusa tersebut dengan kedua tangannya.
"Rawa? bukankah aku sudah melarangmu untuk ke sana?" ucap pelan Rayleigh sambil menatap Naruto tajam.
"Geh..." gumam Naruto terkejut. "Ra-rangga..., Rangga yang membawaku ke sa-"
Ouuu
"Ah... maafkan aku, Rangga." ucap Naruto meletakkan rusa yang didapatnya dan segera melepaskan sulur pohon yang diikatnya pada Rangga. "Maafkan aku, Teman." lanjut Naruto tersenyum sambil mengelus-ngelus kepala Rangga. Rangga yang diperlakukan seperti itu oleh Naruto, mengibas-ngibaskan ekornya dengan senang. Dari sudut pandang Reyleigh, dia dapat melihat jika kalau cucunya itu sangat menyayangi Rangga.
"Hah..., lain kali kau tidak boleh masuk ke area rawa itu, Naruto! Walaupun kau bersama serigalamu. Kau tetap tidak boleh pergi kesana. Di sana, terdapat mahluk yang belum bisa kau law-" Rayleigh menghentikan perkataannya karena melihat Naruto tidak mendengarkannya. Bocah itu malah sedang sibuk memukul-mukul leher Rangga dengan telapak tangannya, yang dibalas Rangga dengan menggigit pelan bahu bocah pirang tersebut.
Rayleigh hanya tersenyum kecil melihat interaksi keduanya. Dia tau bahwa cucunya itu mendengarkan perkataannya. Cucunya itu selalu mendengar perkataannya. Tapi, entah itu sifat bawaan dari orang tuanya. Cucunya ini bisa dibilang agak bebal, dan jangan lupakan juga rasa penasaran yang sangat amat tinggi, dengan sesuatu yang baru pertama kali dilihatnya. Keberaniaan yang sangat jarang Rayleigh lihat untuk bocah seumurannya. Dan karena itu juga, dia selalu saja berada dalam situasi bahaya dan membuat kakeknya ini khawatir dibuatnya. Tapi, aneh dan hebatnya, bocah ini selalu saja mempunyai cara cerdik untuk keluar dan menyelesaikan hal-hal marabahaya yang menghampirinya. Terkadang-kadang, itu membuat Reyleigh kagum dengan Naruto. Dari sepanjang pengalaman hidupnya. Rayleigh tau bahwa cucu angkatnya ini adalah seorang jenius dalam mengambil keputusan, "jenius gemblung". Rayleigh menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat tingkah-tingkah Naruto. Sungguh cucu yang merepotkan. Menghembuskan nafasnya pelan, entah sudah berapa kali dia menghela nafas hari ini. Rayleigh kemudian berjalan mendekati rumah tempat mereka tinggal untuk mengambil sebuah kapak. "Kuliti rusa itu, Naruto. Kakek yang akan membuat- OUCH COUHG COUCH?!"
Perkataan Rayleigh tiba-tiba terpotong karena batuk. Batuk yang membuat mahluk sekaliber Rayleigh memasang wajah sangat kesakitan. Dengan cepat dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Berharap batuknya cepat mereda.
"KAKEK!"
OUUU
Naruto dan Rangga segera berlari mendekati Rayleigh.
"COUHG- ta-tak apa. Ambilkan air untukku, Naruto!" ujar Rayleigh menggelengkan kepalanya. Melihat wajah cucunya yang khawatir padanya. Selalu saja membuat Rayleigh merasa tidak enak, dan itu adalah perasaan yang cukup asing untuknya. Membesarkan Naruto memang membuat hatinya mulai melunak.
"Ba-baik, Kakek." jawab Naruto bergegas berlari cepat disusul oleh Rangga.
Rayleigh yang melihat kepergian cucunya itu kemudian terduduk di tanah. "Sialan." batin Rayleigh mengumpat melihat cipratan darah hitam kental yang ada di telapak tangannya. Dia kemudian menyibakkan sedikit bajunya. Terlihat semacam tato hitam layaknya gambar api melingkupi seluruh dada bidangnya, bergerak pelan membuat pola berputar. "Kutukan sialan!" umpat Reyleigh kesal.
"KAKEK!" teriak Naruto membuat Rayleigh menatapnya. Bocah itu berlari sambil membawakan sebuah teko yang terbuat dari tanah liat. Melihat wajah cemas di wajah cucunya, membuat Rayleigh menatapnya sedih. "Sepertinya..., waktuku tinggal sebentar lagi, Naruto. A-aku, aku..., "
"Ini Kakek cepat minum!" ujar Naruto memberikan teko air tersebut kepada Rayleigh.
Grep
Bukannya malah mengambil teko yang diberikan oleh cucunya. Rayleigh malah memegang kepala Naruto.
"Kakek?" gumam Naruto bingung.
Tersenyum tipis, Rayleigh kemudian memainkan surai pirang Naruto. "Berapa umurmu sekarang, Bocah?"
"Tujuh tahun." jawab Naruto polos. Bocah itu kemudian mengejapkan matanya berkali-kali. "Geh... apa yang kau lakukan, Kakek? Cepat minum airmu. Batukmu nanti kambuh lagi." lanjut Naruto kesal hendak menyingkirkan tangan kakeknya itu dari kepalanya.
"Hahaha... begitu ya." balas Rayleigh tiba-tiba tertawa. Dia kemudian meminum air yang diberi oleh Naruto. "Gulp, gulp, gulp... AHHH"
Wush CRASH
Naruto hanya sweetdrop melihat kakeknya melemparkan dan memecahkan teko yang dibawanya. "Sepertinya kau harus menghilangkan kebiasaanmu memecahkan barang setelah kau minum, Kakek! Aku cape membuat barang-barang itu tau."
"Hmmm... HAHAHA. Itu sudah kebiasaanku dari dulu, dan kau juga akan mewarisinya juga, Bocah!" ujar Rayleigh bangga sambil berdiri tegap. "Satte... mungkin ini sudah saatnya aku melatihmu." lanjut Rayleigh berkacak pinggang. "Selama ini aku sudah mengajari tentang pengetahuan umum yang kutahu. Di umurmu yang sekarang, tubuh dan mentalmu mungkin sudah cukup siap untuk dibentuk."
Naruto yang sedang berpikir untuk tidak akan mengikuti kebiasaan Kakeknya untuk memecahkan barang dibuat terkejut dengan perkataan Kakek putihnya itu. "Melatih?" ucap Naruto memiringkan kepalanya bingung. "Tubuh? Mental? Apa yang sedang kau bicarakan, Kakek?"
"Ya... latihan Nerakamu akan dimulai hari ini." jawab Rayleigh menampilkan senyum bengis di wajah tuanya. "dan kau juga, Rangga!"
Naruto dan Rangga bergidik ngeri melihat senyum Rayleigh. "Mati aku." batin Naruto memundurkan kakinya diikuti Rangga yang melolong dengan nada sedih.
.
.
.
Enam tahun kemudian
Cukup lama sudah semenjak Rayleigh melatih cucunya, Naruto. Terlihat dia sekarang sedang duduk sambil memperhatikan cucunya itu berenang di Rawa sambil menarik sesuatu, sesuatu atau lebih tepatnya seekor buaya yang memiliki ukuran yang amat besar.
"Aku akhirnya berhasil juga, Kakek."
Rayleigh hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Naruto yang sudah berdiri tegak di hadapannya. Surai pirang gondrong yang sudah diikat bergaya ponny tails. Tubuh kekar tidak selayak remaja seumurnya, berisi dan terbentuk dari latihan-latihan keras yang dilaluinya. Pandangan tegas dari mata berwarna sapphire itu membuat Rayleigh cukup senang dibuatnya. Sungguh membuat dirinya bernostalgia. Mengingat perawakan cucunya itu benar-benar mirip dengannya ketika dia seusia, Naruto.
"Kerja bagus, Bocah. Akhirnya kau bisa mengalahkan mahluk itu dengan tangan kosong." ujar Rayleigh sambil menatap Naruto. "Aku rasa kau sudah siap menerima pelatihan selanjutnya." lanjut Rayleigh sambil berdiri, lalu berbalik dan berjalan pelan menjauhi Naruto. "ikuti aku!"
Tanpa menjawab. Naruto hanya menganggukan kepalanya pelan sambil berjalan pelan mengekori kakeknya itu. Meninggalkan bangkai buaya yang sudah dikalahkannya.
"Cough...cough... cough."
Naruto hanya menatap punggung Rayleigh dengan pandangan khawatir. "semakin lama, batuk Kakek semakin sering dan semakin parah." batin Naruto melihat kakeknya itu terhenti dan membungkuk. "Ka-"
Perkataan Naruto terhenti melihat lambaian tangan pelan dari Reyleigh. Kakeknya itu kemudian kembali berjalan pelan yang juga diikuti oleh Naruto dalam diam. Keheningan tercipta dari keduanya. Hanya langkah kaki Naruto yang terdengar bersamaan dengan kicauan burung di berbagai pohon yang dilewati oleh mereka berdua. "Aku selalu bingung. Kenapa aku tidak pernah mendengar suara langkah kaki Kakek." batin Naruto menatap langkah kaki Rayleigh dari belakang. Kemudian mengubah arah pandangnya ke arah kakinya. "Ane-"
"Setelah kau melewati pelatihan yang akan kuajarkan nanti. Kau juga akan bisa sepertiku, Bocah." ucap Rayleigh membuyarkan pikiran Naruto.
Beberapa menit berlalu semenjak mereka berdua berjalan pergi dari Rawa tadi. Sekarang mereka berdua sudah sampai di sebuah lapangan yang cukup luas.
"Kakek... ini." mata Naruto sedikit melebar melihat pandangan di depannya. Terdapat berbagai macam jenis senjata yang berbeda-beda sudah tertancap tegak, berjejer di atas tanah.
"Ya... sudah saatnya aku melatihmu menggunakan senjata, Naruto. Lebih tepatnya, ini sudah waktunya bagimu untuk berlatih menggunakan senjata." ujar Rayleigh melirikkan matanya kearah Naruto. "sudah kusiapkan berbagai macam senjata yang ada di hadapanmu saat ini. Pilih salah satu!" lanjut Rayleigh berjalan pelan menjauhi Naruto. Lalu, berbalik setelah dia sudah agak jauh dari cucunya itu.
Mendengar perintah Kakeknya. Naruto kemudian berjalan menghampiri berbagai macam senjata yang ada di hadapannya. "Mengapa aku tidak mempelajari semua senjata ini, Kakek?" ujar Naruto sambil memperhatikan senjata-senjata di depannya.
"Kau memang akan mempelajari semua senjata itu."
"Kalau begi-"
"Dengan kedua tanganmu. Apa kau bisa memegang busur sambil menarik anak panah dan memegang tombak secara bersamaan?" ujar Rayleigh sarkas tersenyum remeh kearah Naruto. "Dasar bodoh!"
Mendengar perkataan Kakeknya, Naruto yang tengah sibuk memilih senjata yang akan dipakainya hanya tertunduk lemas dengan senyuman kesal di wajahnya. "Kakek siala- GAHHH"
Umpatan Naruto terpotong dan digantikan suara erangan karena sebuah benda tumpul tepat mengenai bagian belakang kepalanya. Lebih tepatnya katana yang masih tersarungkan milik Reyleigh. Senjata yang selalu dibawa dan melekat di pinggang kakeknya.
"Seorang murid, tidak boleh mengumpat pada gurunya." ucap Rayleigh tersenyum lebar dengan sombongnya. Tangannya kemudian diarahkan kearah pedang kayunya, dan secara ajaib pedang tersebut melesat cepat kembali ke genggaman tangan Rayleigh.
"Adu-du-duh..." Naruto hanya mengerang pelan kesakitan sambil mengelus-ngelus kepalanya. "jika aku semakin bodoh. Bagaimana Kakek?" ucap menatap kesal kearah kakeknya.
"Tenang saja. Sebodoh-bodohnya dirimu. Kau tetap cucuku. GAHAHAHA" balas Reyleigh tertawa kencang.
Mendengar gelak tawa kakeknya hanya membuat Naruto semakin kesal. Mengalihkan pandangannya, Naruto masih bingung mau memilih senjata apa yang akan dia gunakan. Namun, tidak berselang lama. Bocah kuning itu kemudian mengambil senjata pilihannya.
"Apa kau memilih senjata pedang itu, karena melihatku yang juga menggunakan pedang, Bocah?" ujar Rayleigh bertanya mengangkat sebelah alis matanya. Terdapat berbagai macam jenis pedang yang sudah di bawa olehnya, berbagai bentuk dan juga ukuran yang berbeda-beda. "aku mengira dia akan memilih katana tadi."
Naruto hanya terdiam sambil melihat pedang di tangannya. "Tidak. Pedang ini memiliki ukuran dan panjang yang pas untukku. Tidak terlalu besar, dan tidak kepanjangan. Lagipula, umurku ini masih 13 tahun, Kakek. Tinggi badanku baru 140 cm. Kau tidak mungkin mengharapkanku untuk memilih pedang besar itu bukan?" ujar Naruto sambil mengayunkan pedang yang dipilihnya. "ini pas."
"Souka... jadi, apa kau sudah siap?"
"Siap untuk ap-GAGHHHH"
BAMMM
Naruto tiba-tiba melesat jauh menghempas batang pohon besar di belakangnya.
"Reflekmu masih kurang, Bocah." ucap Reyleigh menggelengkan kepalanya pelan melihat cucunya yang sudah terduduk di bawah pohon. "aku terkesan dia bisa menangkisnya." batin Reyleigh menyipitkan pandangannya. Melihat Naruto yang terduduk dengan posisi memegang pedangnya. "seperti dugaanku tepat. Naruto memang cocok dengan sword."
"APA YANG KAU LAKUKAN, KAKEK!?" teriak Naruto kesal. Darah merah sedikit mengalir dari sela bibirnya. "JIKA AKU TIDAK MENANGKISNYA. BADANKU BISA TERBELAH DUA. APA KAU MAU MEMBUNUH CUCU TAMPANMU INI?"
Mendengar teriakan marah cucunya hanya membuat Reyleigh tersenyum. "Apa yang kau katakan, Bocah? apa matamu tidak berfungsi setelah menerima seranganku. Katanaku ini masih tersarung."
Mata Naruto melebar melihat pedang yang ada di genggaman Kakeknya itu masih tersarung. "ta-tapi... tadi aku melihat Kakek melesat dan menyerangku- GAHHH"
Perkataan Naruto lagi-lagi terpotong karena menahan serangan dadakan Rayleigh.
"Kiling intens. Itu yang aku keluarkan sejenak padamu, Bocah." ujar Reyleigh masih dengan senyum sombongnya. Menatap cucunya yang bersusah payah menahan tekanan serangannya. Dia kemudian mengangkat dan menganyunkan senjatanya ke arah Naruto.
"A-aku ti-tidak mengerti a-apa ya-yang kau ucapkan, Kakek." ucap Naruto menahan ayunan beruntun kakeknya. "berat sekali." batin Naruto kesakitan karena terhimpit dengan batang pohon di belakangnya. Mata Naruto melebar melihat sebuah tendangan menyamping yang melesat cepat ke arah wajahnya. "SIAL"
BRAKKK
Naruto lagi-lagi terlempar dan terseret karena tendangan Reyleigh. Dia tau kalau Kakeknya itu kuat. Tapi, dia tidak menyangka kalau fisik Kakeknya itu sekuat ini.
"GAHHH... Huft... huft... huft... kau tidak menahan diri. Heh, Kakek."
"Pertempuran langsung adalah cara cepat supaya kau paham. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi kuat. Kekuatan pinjaman hanyalah sementara. Sedangkan, kekuatan yang kau dapatkan dari hasil latihanmu dan pengalaman yang kau jalanilah, adalah hasil dan kekuatan sebenarnya." ujar Reyleigh menatap Naruto yang duduk bersujud membalas tatapannya. "Lagipula, aku bahkan belum mengeluarkan 10% kekuatanku, Bocah." lanjut Reyleigh sarkas. Lalu, menghilang dari tempatnya.
Mata Naruto lagi-lagi melebar. Layaknya gerakan slowmotion, Naruto memalingkan kepalanya kebelakang. Melihat telapak sendal Reyleigh yang sudah hampir menyentuh wajahnya lagi.
"Jangan longgarkan kesiagaanmu." ucap Reyleigh pelan bersamaan dengan Naruto yang tertendang dan terlempar lagi. "heh... dia menangkisnya." batin Reyleigh tersenyum tipis melihat Naruto yang terpelungkup di atas tanah. "dan dia masih memegang erat pedangnya. Bagus."
Reyleigh menahan senyum tipisnya melihat Naruto yang berusaha keras berdiri dibantu pedangnya.
"Ada apa, Naruto? Ini masih permulaan." tanya Reyleigh sambil berjalan pelan menuju Naruto yang sudah berdiri, bertopang dengan pedangnya.
"Apa ka-kau gila, Kakek. Apa yang kau harapkan dariku yang baru masuk fase remaja ini?" tanya Naruto balik terengah-engah karena menerima serangan Reyleigh.
"BAH... umur hanyalah angka, Bocah. Semua sama rata dalam medan pertempuran. Tidak ada yang membedakan." balas Reyleigh tersenyum lebar. "ketika aku berumur sama denganmu. Aku sudah ikut terjun ke medan perang."
Mendengar perkataan Kakeknya. Membuat Naruto yakin jika kalau Kakeknya itu sudah gila. Bagaimana mungkin seorang remaja tanggung yang berumur tiga belas tahunan ikut berpatisipasi dalam medan perang.
"Oy oy oy, jangan bilang kau sudah lupa cerita ketika Kakekmu ini masih muda dan berkarisma bukan?"
Rayleigh mengangkat sebelah alisnya melihat Naruto yang tiba-tiba jatuh berlutut.
"Sepertinya aku masih harus melatih fisi-"
Perkataan Reyleigh terhenti karena dia dengan sigap melompat kecil kesamping. Menghindari lemparan debu yang diarahkan ke wajahnya. "Licik juga kau, Bo-"
Reyleigh terdiam melihat sabetan yang akan mengenai wajahnya.
TRANK
"GAHHH..." erang Naruto karena serangannya dengan mudah di tangkis oleh Reyleigh. Membuat dirinya terseret dan terpental ke belakang. "tanganku sampai mati rasa." batin Naruto merasakan kedua tangannya bergetar menerima tangkisan kakeknya.
"Bagus. Dalam medan pertempuran kita memang harus menggunakan segala cara, Bocah." ucap Reyleigh sambil mengarahkan senjatanya kearah Naruto. "satte... Bersiaplah, Bocah. Kita mulai lagi." lanjutnya bersamaan dengan dirinya yang berjalan kearah Naruto.
Naruto yang mendengar perkataan kakeknya kemudian menyiapkan kuda-kudanya. Menggenggam erat senjatanya. Memaksa keadaan dirinya yang sudah babak belur. Lalu, berlari ke arah Reyleigh.
"Hooo... Jadi, kau berinisiatif menyerangku duluan. Kemarilah! Akan ku tunjukkan cara bertahan yang be- COUGH COUCGH UHUKKK."
Perkataan Reyleigh terhenti dan tergantikan oleh batuknya yang kumat lagi. Naruto yang melihat kakeknya menjatuhkan senjatanyapun ikut berhenti dan hendak melemparkan pedang di tangannya.
"KAKEK... KAU TIDAK AP-"
Namun, Naruto mengurungkan niatnya karena tiba-tiba menerima lirikan tajam kakeknya.
"KEN- COUGH KENAPA... COUGHH KENAPA KAU BERHENTI!" gertak Reyleigh marah disela-sela batuknya yang kambuh. Menatap marah ke arah Naruto. Dia lalu mengambil dan mengayunkan katananya yang dengan sigap di tangkis oleh Naruto. Walaupun, bocah itu terlempar karena kuatnya serangan Reyleigh.
"Ketika kau punya kesempatan untuk menghabisi lawanmu. Maka, jangan sia-siakan kesempatan itu!"
"Ta-tapi... Ka-kak-"
"DIAM! Keraskan hatimu! Jangan sampai karena rasa iba malah membuatmu lengah! Aku saat ini adalah musuhmu! Dan tugasmu sekarang adalah mengalahkanku! Jangan biarkan dirimu menjadi naif!"
"Tapi ini hanya latihan, Kakek."
"Dunia ini diatur oleh pemenang, Naruto. Dan yang kalah hanya akan menjadi batu pijakan bagi pemenang. Ketika kau mati. Tidak ada yang akan bersamamu. Kesendirian dan kehampaanlah yang akan menantimu. Tanamkan itu dalam otak dan benakmu!"
Mendengar perkataan Reyleigh membuat Naruto terdiam membisu. Mengeratkan kembali pegangannya. Lalu kembali melesat ke arah Reyleigh.
"Apa Kakek pernah kalah?" tanya Naruto sambil hendak menyabetkan pedangnya ke arah Reyleigh.
Pertanyaan yang mendadak dilontarkan oleh cucunya itu membuat Reyleigh terdiam.
Dengan santainya kakek beruzur kekar itu menghindari serangan Naruto. "Di atas langit masih ada langit, Bocah. Di dunia ini masih banyak yang lebih kuat dariku. Kesombongan hanya akan membawa petaka."
Melihat serangannya dihindari dengan mudah oleh kakeknya. Naruto kemudian menarik pedangnya lalu melompat ke belakang menjauh. "Aku tidak bisa membayangkan monster lain selain dirimu, Kakek." ucap Naruto sangat pelan namun masih dapat terdengar. Dirinya lalu, menarik napas panjang dan kembali menyiapkan kuda-kudanya, bersiap menyerang Reyleigh kembali.
"Ya... banyak yang lebih kuat dariku, Naruto. Dan itulah mengapa aku melatihmu dengan sangat keras. Aku tidak mau kau akhirnya bernasib sama sepertiku." batin Reyleigh memegang erat katananya. "Lari dan bersembunyi. Kau yang tidak memiliki mana layaknya aku. Jika dirimu tidak siap. Kau hanya akan menjadi makanan bagi mereka yang lebih superior. Menjadi budak yang harus siap walaupun diberi perintah seperti apapun juga. Walaupun perintah itu berkebalikan dengan hatimu. Karena ketidakberdayaan, membuatmu terpaksa mengikutinya. Itulah mengapa kau harus lebih kuat. Lebih cerdas. Lebih cerdik dan lebih siap dari diriku ini. Lampauilah aku. Lampauilah dunia yang kejam ini. Sehingga akhirnya, kau sebagai individu yang tidak dicintai oleh mana pun bisa melawan. Membuat orang di sekitarmu kelak, mengakui akan kemampuanmu. Di dunia yang mana, magic adalah segalanya. Kau harus menjadi kuat. Di luar sana banyak kekejaman yang menantimu, kenyataan yang akan membuatmu sedih dan tercengang. Kenyataan pahit yang harus kau telan bulat-bulat. Para superior di luar sana... layaknya menyerupai badai yang akan menerjangmu kapan saja. Jika kau tidak siap. Maka kau hanya akan tertelan dan dihancurkan. Umurku sudah tidak panjang, Naruto cucuku. Itulah sebabnya... itulah kenapa... Kau harus..."
"JADILAH KUAT, NARUTOOO!" teriak Reyleigh bersamaan dengan aura dahsyat yang keluar dari tubuhnya. Membuat Naruto yang hendak menerjang ke arah Reyleigh terhenti dengan kedua matanya yang melebar. Dia terhenti bukan karena merasakan kekuatan dahsyat yang keluar dari kakeknya. Melainkan dia tertegun melihat sebulir air mata yang mengalir dari mata kakeknya. Menghilang ikut terbang karena aura gila yang kakeknya keluarkan. Ini pertama kalinya bagi Naruto melihatnya. Naruto yang juga berusaha menahan hempasan aura kuat Reyleigh, tertunduk sambil mengeratkan genggamannya. Gigi-gigi bocah itu bergemeletuk. Dirinya tidak pernah bertanya kenapa kakeknya melatih dia dengan sangat keras. Dia juga tidak bertanya kenapa mereka hidup di hutan belantara ini. Setelah mendengar setiap cerita-cerita yang kakeknya itu beritahu padanya, ketika dirinya hendak tidur. Dia tau bahwa dunia ini sangat luas, benar-benar sangat luas, dihuni oleh berbagai dan beragam mahluk di dalamnya. Namun, Naruto tidak mau menanyakannya kenapa mereka mengurung diri disini. Bersembunyi dan mengisolasi diri dari dunia luar. Karena dia tahu. Keputusan yang diambil oleh kakeknya selalu dan selalu saja hanya ditujukan padanya. Namun, melihat air mata kakeknya, membuat Naruto benar-benar bingung. Dia mengingat dirinya yang sangat sedih karena harus berpisah sementara dengan Rangga. Karena dia dan Rangga akan melalui latihan yang berbeda. Itu saja, sudah membuatnya meneteskan air mata. Dan kakeknya mengatai dia, kalau dirinya yang sekarang sangat cengeng. Lalu, apa yang sudah dilalui oleh kakeknya ini. Kakeknya yang berhati keras dan dingin ini. Aneh sebenarnya mengatai orang yang membesarkan dan memberikan hal-hal padamu secara percuma dengan hati dingin. Tapi, Naruto tahu dan mengerti kenapa dia menyebut kakeknya berhati dingin. Karena, setiap kakeknya itu menyelamatkannya dari marabahaya. Kakeknya itu selalu memberikan tatapan dingin yg bahkan bisa menyayat hati jika kau diberikan tatapan seperti itu. Seperti dulu ketika kakeknya yang tidak segan-segan hendak mengakhiri Rangga dulu. Dirinyapun tak luput dari tatapan yang diberikan oleh kakeknya. Karena dia yang menangis meminta supaya dia membunuh Rangga. Dan sekarang membuat Naruto bingung adalah hal apa yang membuat kakeknya ini sedih. Kehidupan apa yang sudah dijalani oleh kakek putihnya ini. Menggelengkan kepalanya kuat. Mencoba menghilangkan pikirannya. Naruto mengeraskan pandangannya. Dirinya saat ini harus fokus. Apapun itu, Kakeknya pasti hanya ingin hal terbaik untuk cucunya. Karena dia tau, Kakeknya itu sangat menyayangi dirinya. Naruto langsung kembali melesat ke depan. Naruto memang saat ini benar-benar tidak tahu cara menggunakan pedang. Dirinya hanya mendemonstrasikan gerakan-gerakan yang ditirunya dari kakeknya. Dia tahu... Bahwa dirinya benar-benar seorang amatir dalam berpedang.
Greppp
Bersamaan dengan hilangnya aura yang dikeluarkan oleh Reyleigh. Pria tua itu juga pun melesat, jauh lebih cepat ketimbang Naruto.
"HUAAAAA" teriak Naruto menggema di lapangan yang mereka gunakan sekarang.
"Hmmm."
Reyleigh hanya bergumam pelan mengadu katananya yang disarungkannya. Dengan short sword yang digunakan oleh Naruto. Dan...
BAMMM
Lagi-lagi debu bertaburan bersamaan dengan sosok Naruto yang lagi dan lagi terlempar jauh setelah beradu dengan Reyleigh. Kali ini Naruto benar-benar terlempar dengan sangat kuat. Sampai-sampai, pedang yang dipegangnyapun, pada akhirnya terlempar jauh, terlepas dari genggaman tangannya.
Perbedaan kekuatan sangat jelas dapat terlihat diantara keduanya. Sungguh bagai langit dan bumi.
Reyleigh yang melihat Naruto terlempar dan tertutupi oleh gumpalan debu hanya menatap sedih.
"Aku ingin kau yang akan mengakhiri hidupku, Naruto. Aku tidak ingin... Aku meninggal hanya karena sebuah kutukan. Setidaknya di akhir hidupku, aku bisa memberikanmu pelajaran terakhir sampai nafas terakhirku. Itulah mengapa kau harus cepat berkembang. Bunuhlah aku. Sebelum kutukan Raja Iblis ini yang membunuhku terlebih dulu." ucap Reyleigh mengeluarkan katananya.
Sring
Wush
Bersamaan dengan itu, keluarlah asap hitam yang membentuk beberapa mahluk menggunakan zirah samurai lengkap dengan katana.
"Sungguh aku tidak sudi akhir hidupku seperti itu." batin Reyleigh berjalan menghampiri Naruto. "setidaknya, inilah harga yang harus kau bayar untuk diriku yang merawat dan membesarkanmu, Cucuku. Maafkanlah keegoisan kakekmu ini."
.
.
.
4 Tahun Kemudian
Waktu memang berjalan cukup cepat. Tidak terasa sudah 4 tahun berlalu. Sosok Naruto sekarang menggunakan jubah hitam panjang yang juga menutup surai pirangnya, duduk berlutut di depan makam yang ditumpuk oleh bebatuan. Sebuah katana yang dililih oleh kain putih, tergenggam erat di tangan kanannya. Di sebelah Naruto juga, terdapat sosok Rangga, yang juga duduk menatap makam tersebut. Sosok Rangga yang sekarang memiliki ukuran jauh lebih besar dari sebelumnya.
"Sudah setahun semenjak kematianmu, Kakek. Aku sudah terbiasa dengan katanamu ini. Aku harap kau tidak marah padaku karena aku yang meninggalkan sarung katana ini di makammu." ucap Naruto tersenyum sedih. Menatap sebuah sarung katana yang terbuat dari kayu. Berdiri tegak di atas makam Reyleigh. "Akan ku ingat selalu semua petuahmu, Kakek." ujar Naruto pelan menundukkan kepalanya setelah melihat makam Rayleigh. "biarkan aku yang akan membalaskan dendammu." lanjut Naruto dengan kedua tangan terkepal kuat sampai-sampai kedua tangannya itu memutih. Bahkan darah merembes dari telapak tangan kanan Naruto karena terkena tajamnya katana mendiang kakeknya.
"Master." batin Rangga menatap Naruto sedih kemudian memutuskan masuk ke dalam bayangan Naruto.
"Aku... pergi..., Kakek." ucap Naruto berjalan menjauh dari makam Rayleigh. Dia, kemudian memasukan tangan kirinya kedalam saku kantong jubah yang dikenakannya. mengeluarkan sebuah benda. Dapat dilihat di tangan kiri Naruto, terdapat kristal berwana ungu pekat dengan bentuk kubus. Dengan perlahan Naruto meremas kubus itu dan...
CRASH
Suara benda pecah tercipta karena Naruto memecahkan kristal tersebut. Bersamaan dengan itu. Kubah hitam raksasa yang mengurungnya selama ini menghilang, pecah layaknya kaca dan menjadi butiran-butiran debu, berbaur dengan rintik hujan yang mulai turun.
Crashhh
Suara deras hujan menemani sosok Naruto sekarang. Dalam diam dia berjalan lurus mengikuti jalan setapak di depannya.
Hanya suara rintik butiran air hujan, petir yang mulai bergemuruh, dan suara bermacam serangga terdengar.
"Langkah kakiku benar-benar hilang seperti yang kau katakan dulu, Kek." ujar Naruto pelan tetap berjalan sambil menadahkan kepalanya ke atas. Hodie jubah yang menutup kepalanya ikut terkesibak. Memperlihatkan rambut pirang keemasan Naruto yang masih sama seperti dulu. Diikatkan dengan gaya kuncir ekor kuda. Dengan mata terpejam, dia kemudian menghentikan langkahnya. Membiarkan rintik-rintik hujan menerpa wajahnya. Menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia kemudian melanjutkan lagi langkahnya.
Naruto dan Rangga akhirnya keluar dari tempat dia di besarkan.
"Kerajaan Konoha."
"Seperti yang kau katakan, Kakek."
"Aku akan pergi kesana."
Inilah awal perjalanannya.
.
.
.
Continue
.
.
.
TBC
Yo! Apa kabar kalian para wibu? Mudahan kabar kalian selalu baik ye. Amin.
Jadi, ini ane dah update buat fic baru ane semalem. Untuk fic yang satunya... entahlah, sebenarnnya next chapnya udah jadi. Tapi, pas ane baca-baca kok kurang bet gitu. Ya, emang salah ane juga sih yang terlalu banyak masukin karakter. Alurnya aja ane bingung mau dibawa kemana coba wkk. Kayak maksa kali. Ya... namanya juga manusia. Bisa salah. Keseringan buat salah mungkin, dan mungkin... mungkin ye. Itu fic bisa ane hapus dah. Mau buat ulang juga percuma. Terlalu klise ceritanya, atau biarin aja. Biar belumut HAHAHA. Lagian, ane liat-liat dunia perfanfickan makin sepi. Apa Cuma perasaan ane aja kali? Ah terserah lah wkk.
Jadi, intinya ane bakalan fokus ke fic satu ini. Menyalurkan hobi ane selepas pulang kerja sih. Ya, gk fokus-fokus amat juga wkwkwk. Kalau suka ya syukur, kalau engga ya gakpapa Jadi, sekian aja ya bre.
Bye-bye, wait for the next chapter.
Chapter 3 : Kumpulan orang mengesalkan.
"Siapa kau? Mengapa kau bisa keluar dari hutan kematian?"
"Ini pertama kalinya aku bertemu manusia selain Kakekku, Rangga."
"Jadi itu yang disebut magic."
"Kau kuat."
"KAPTEN ITACHI."
"Oy... Matamu kenapa merah seperti itu? Apa matamu kemasukan debu?"
.
.
.
Sekian.
.
.
.
Stay Safe and Peace ;)
.
.
.
Special thank to Allah SWT
