DISCLAIMER: Saya tidak mengakui bahwa Naruto adalah milik saya tetapi milik om Masashi dan saya hanya meminjam karakter saja.
RATED: M
PAIR: Naruto X ?
SUMMARY: Uzumaki Naruto, Sang Nanadaime Hokage, menghilang saat melihat sesuatu yang membuatnya kecewa sehingga membuat kelima Desa besar panik saat mengetahui bahwa salah satu Pahlawan Perang telah menghilang dan tidak ada yang menyadari kalau Naruto telah berpindah dimensi.
Note: Assalamuallaikum... Ketemu lagi dengan saya, mohon maaf bila untuk chapter 3 ini kurang memuaskan. Jadi, tanpa basa-basi lagi, silahkan dibaca.
.
.
~AND~
.
.
Sang fajar mulai terbit dengan indahnya, sinar jingganya pun menembus kabut-kabut tipis hasil embun. Secara perlahan juga kabut tipis yang ada disebuah pegunungan, menghilang dan memperlihatkan sebuah markas besar tepat dibawah sebuah batuan besar. Markas itu adalah markas buronan Ibu Kota. Buronan yang sudah membuat Perdana Mentri menjadi khawatir. Nama organisasi buronan itu adalah Night Raid.
Dilorong markas terlihat seorang pria berambut coklat sedang berjalan. Dilihat dari raut wajah dan langkahnya yang pelan, pria itu sepertinya baru saja bangun tidur.
"Hoam~ kurasa tidurku tadi malam kurang nyenyak" gumamnya.
Pria itu terus berjalan tanpa menyadari kalau ada seorang wanita yang sedang berdiri diam beberapa langkah didepan. Wanita itu sendiri hanya diam sambil melihat kebawah dengan pose berpikir tanpa menyadari kalau pria itu sudah dekat.
Brugh!
"Eh...!" Wanita itu tersentak saat mearasa ada yang menabraknya sebelum menoleh kebelakang. "Tatsumi? Seharusnya kau berhati-hati saat berjalan." Ujarnya menasihati.
Tatsumi sedikit mengeluh sebelum melihat siapa yang ia tabrak. "Nee-san?"
"Yap... Kamu pikir siapa lagi, Tatsumi?"
Tatsumi pun segera berdiri. "Kupikir yang kutabrak tadi itu Naruto, tapi ternyata Nee-san."
Wanita itu pun merengut. "Mou~ kamu pikir karena kami berdua punya warna rambut yang sama, kamu mengira kalau aku adalah dia."
"Maaf..."
Wanita yang ditabrak oleh Tatsumi tadi ternyata adalah Leone. Tatsumi sendiri hanya tertawa gugup saat dipelototi oleh Leone sebelum tersadar sesuatu.
"Are... Apa yang Nee-san lakukan disini?" tanya Tatsumi.
"Oh iya, aku hanya berpikir, Naruto ada dimana saat ini ya?"
Tatsumi menatap Leone dengan bingung. "Bukannya dia ada didalam kamarnya."
"Dia tidak ada didalam kamarnya, begitu juga beberapa hari yang lalu. Disaat waktu yang seperti ini dia sudah tidak ada didalam kamarnya." jawab Leone sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalian mencari Naruto?"
Sebuah suara mengagetkan Tatsumi dan Leone. Mereka pun melihat kearah sberdua
suara tersebut.
"Aniki!/Bulatchi!"
"Yo!"
Bulat berjalan kearah mereka berdua sambil tersenyum lebar sambil menenteng jubah hitamnya dibahu kanan. Dari kondisinya yang berkeringat membuat Tatsumi dan Leone berasumsi kalau dia baru selesai latihan.
Tap!
"Jadi, kenapa kalian mencari Naruto?" tanya Bulat begitu sudah dihadapan mereka berdua.
Leone segera menjelaskan alasannya mencari Naruto sebab setiap pagi, pasti rekannya itu sudah tidak ada didalam kamar dan meninggalkannya dalam keadaan rapi. Bulat mengangguk paham ketika mendengar alasan kenapa rekan wanitanya ini mencari Naruto.
"Naruto ada ditempat latihan, sejak lima hari yang lalu ia ikut berlatih. Bahkan menyaingi waktu latihanku." jelas Bulat.
Tatsumi dan Leone hanya ber"oh" ria karena sudah tahu kemana Naruto selama setiap pagi. Bulat pun tersenyum sebelum menggaet leher Tatsumi sehingga membuat sang empu terkejut.
"Aniki!"
"Sudah-sudah, ayo kita segera keruang makan. Seharusnya kau membantu Akame bukan, Tatsumi?" ujar Bulat mengindahkan protesan Tatsumi.
Rona wajah Tatsumi menghilang ketika mendengarnya, ia lupa kalau salah satu rutinitasnya selama dimarkas adalah membantu Akame masak. Ia harus segera bergegas sebelum mendapat semprotan dari gadis itu.
"Ka-kalau begitu, aku duluan Aniki, Nee-san."
"Ha'i~"
"Ya, Tatsumi."
Drap! Drap! Drap!
Melihat kalau Tatsumi berlari kencang kearah dapur membuat baik Tatsumi maupun Leone geleng-geleng kepala.
""Dasar anak muda.""
.
.
~AND~
.
.
Diluar markas atau lebih tepatnya ditempat latihan, terlihat kalau Naruto saat ini sedang duduk bersila sambil memejamkan mata untuk berkonsentrasi. Hal tersebut sering ia lakukan akhir-akhir ini untuk mengendalikan emosinya.
Ia sadar kalau dulu ketika belum menjadi Hokage, sering terpancing emosi. Meski sudah menjadi Hokage tetapi ia masih saja terpancing emosi. Contohnya seperti pertama kalinya ia melakukan misi sebagai anggota Night Raid. Naruto tidak dapat mengendalikan emosinya ketika melihat anggota Night Raid yang sudah ia anggap sebagai teman (meski baru kenal beberapa jam) terkepung oleh bandit sewaan Gatou yang ia perkirakan sekitar dua ratusan. Terlebih lagi melihat kalau Akame sedang terluka akibat salah satu bandit.
'Itu tandanya kau mulai tertarik pada gadis itu, gaki'
Ctak!
Sebuah perempatan muncul didahinya disertai alis matanya yang berkedut kesal. Ah~ entah kenapa partnernya ini selalu bisa memancingnya untuk berbuat keributan.
'Sudahlah gaki. Kau akui saja kalau tertarik dengan gadis itu'
Dua perempatan.
'Lagipula dia terlihat cantik dan seksi bukan?'
Tiga perempatan.
'Dia cocok sebagai pengganti perempuan Hyuga itu dan jangan lupa dengan wanita berambut kuning itu, dia sepertinya menyukaimu'
Empat perempatan. Oke ini sudah cukup!
"BERISIK SEKALI KAU, KURAMAAAAA!!!!"
Secara spontan Naruto berteriak kesal dengan sangat keras sehingga membuat seluruh markas terkejut, marilah kita lihat apa yang terjadi pada anggota Night Raid yang lain saat terkejut mendengar teriakan Naruto.
Lubbock yang terjatuh dengan tidak elitnya ditangga dengan mata yang berputar-putar.
Mine yang tersedak manisan miliknya dan jangan lupa sendoknya yang hampir saja ketelan.
Sheele yang menatap sekeliling ruang makan dengan polosnya sebelum kembali berkutat pada bukunya.
Akame yang tidak sengaja menyalakan api terlalu besar sehingga membuat daging yang ingin ia jadikan sarapan justru menjadi gosong.
Tatsumi yang terjatuh dengan beberapa bawang bombay yang bertebaran disekitarnya.
Leone yang kepeleset saat mengepel lantai.
Bulat yang secara langsung menelan seluruh teh panas sehingga membuat ia terbatuk dengan hebat.
Dan Najenda yang syok dengan mata melebar dan rokok yang sama sekali belum menyala tersemat dibibirnya. Koreknya sendiri jatuh dari tangannya.
Ah~ sepertinya Naruto akan mendapat masalah sebentar karena kelakuannya.
-- Skip Time --
"Hah..." untuk kesekian kalinya Najenda menghela nafas sambil melihat Naruto yang masih dimarahi oleh Mine, Lubbock dan Tatsumi. Ia melihat kearah Akame yang terlihat tenang seakan-akan tidak terjadi masalah tetapi terkadang ia melihat kalau Akame sesekali menatap tajam Naruto.
"Iya-iya, aku kan sudah minta maaf." ujar Naruto sambil melihat kearah mereka bertiga yang berada dihadapannya.
Najenda kembali menghela nafas. Ia memijat keningnya saat mendengar keributan yang ada dimeja makan ini. Meski ia kesal juga karena teriakan Naruto yang super duper keras sudah membuatnya hampir terkena serangan jantung.
"Sudahlah Lubbock, Tatsumi, Mine. Sudab sekitar setengah jam kalian memarahi Naruto." lerai Leone.
"Itu tidak bisa dibiarkan saja, Leone. Si rambut duren ini sudah membuat semuanya terkejut karena teriakannya." tolak Lubbock sambil menunjuk kearah Naruto.
"Woy dari dulu rambutku memang kuning jabrik tapi setidaknya jangan disebut duren segala!"
Lubbock terlihat ingin membalas perkataan Naruto namun ia hentikan saat merasa aura yang mencekam dari sampingnya. Dengan terpatah-patah, ia melirik kearah asal aura itu.
Grep!
"Ne~ Lubbock, kuharap kau jangan membuat ribut lagi." ujar Leone sambil menunjukan senyum manisnya.
Glek!
Lubbock menelan ludahnya saat melihat senyum manis dari Leone. Bagi dirinya, senyum itu akan menghasilkan hal yang buruk. Jadi, tidak ada cara lain selain hanya mengangguk patuh.
"A-aku mengerti, Leone."
"Bagus."
Leone tersenyum puas sambil kembali memakan makanannya, semua juga mulai lanjut makan kembali. Naruto sendiri hanya menatap makanan dihadapannya sebelum melihat kearah lainnya, senyum tipis pun terbentuk diwajahnya.
'Kuharap kebahagiaan yang seperti ini tetap bertahan seterusnya.' harap Naruto.
Sudah lama ia tidak merasakan kebahagiaan makan bersama seperti ini. Terakhir kali ia makan seperti ini adalah ketika Boruto, anaknya berumur lima tahun sedangkan Himawari berumur tiga tahun. Ah~ sepertinya ia sangat merindukan kedua anaknya itu, meski Naruto sendiri yakin kalau Kakashi sudah mengurus perceraiannya dengan Hinata dan Klan Hyuga pasti akan langsung terkejut mendengarnya.
-- Skip Time --
"Baiklah dan hari ini Tatsumi oleh Naruto." ujar Najenda.
Naruto yang baru saja memasukkan sesendok nasi kedalam mulutnya langsung tersedak saat mendengar perkataan Najenda sehingga ia segera terbatuk dan Bulat yang kebetulan sedang duduk disampingnya segera membantunya.
Tatsumi sendiri terkejut saat mendengarnya, ia segera melihat kearah Najenda dengan cepat sehingga yang dilihat menatap balik dengan bingung.
"Ada apa?"
"Kenapa aku harus berlatih dengan Naruto, Najenda-san. Bukannya dia juga anghota baru sepertiku." ujar Tatsumi. Sebenarnya ia tidak keberatan jika harus dilatih oleh Naruto. Terlebih ketika melihat dimisi sebelumnya, Naruto terlihat sangat keren saat melawan para bandit itu dengan Teigu yang ia ingat namanya itu adalah Gedoudama (gak sadar kalau dibohongin). Tetapi Naruto itu anggota baru sepertinya, jadi ia bingung kenapa harus berlatih dengannya.
"Betul yang dikatakan oleh Tatsumi. Aku masih anggota baru, jadi kenapa aku melatihnya." ujar Naruto setelah selesai dengan aktivitasnya meski matanya masih memerah.
Najenda mengangguk paham saat mendengar perkataan mereka berdua. "Karena dari yang kudengar dari Akame, kalau Naruto itu hebat dalam bertarung, seakan-akan kalau dia sudah terbiasa bertarung. Karena itu aku ingin Naruto melatihmu, Tatsumi."
Ketika mendengar siapa yang memberitahu hal tersebut, Naruto segera menoleh kearah Akame yang masih makan. Merasa diperhatikan, Akame menatap kearah Naruto dengan pandangan bertanya. "Apa?"
"Tidak ada apa-apa."
"Kalau kau tidak mau makananmu, lebih baik kuhabiskan."
"Hey!"
"Jadi Naruto, apa kau setuju untuk melatih Tatsumi?" tanya Najenda.
Naruto segera melihat kearah Najenda sebelum kearah Tatsumi yang menatapnya dengan pandangan berharap. Sepertinya ini cukup merepotkan, mengingat ia tidak pernah melatih seseorang. Tapi kalau tidak dicoba mana tahu.
"Baiklah kalau begitu, aku akan melatih Tatsumi hari ini." jawab Naruto sebelum melihat kearah Akame yang sedang memakan makanan miliknya yang direbut tadi.
Pernyataan dari Naruto membuat semua orang lega terlebih lagi Tatsumi. Ia khawatir kalau Naruto tidak mau melatihnya hari ini.
Dret!
Naruto segera berdiri dan berjalan kearah pintu sebelum berhenti dan menoleh. "Ikut aku Tatsumi dan Akame, terima kasih makanannya."
Tatsumi segera berdiri dan berlari kearah Naruto yang sudah berjalan duluan.
Cklek! Kriet! Blam!
Suasana menjadi sunyi saat mereka pergi. Bulat pun juga segera menghabiskan seluruh minumannya dan berdiri untuk bersiap-siap pergi menjalankan misi bersama Mine, Lubbock dan Sheele. Sedangkan Akame dan Leone hanya memilih istirahat.
-- Change Scene --
Dilapangan luas yang berada diDesa Konoha, terlihat beberapa orang yang sedabg berkumpul sambil melihat orang yang berlalu-lalang. Mereka tidak lain adalah Sakura, Ino, Tenten dan Temari. Empat sahabat itu sedang duduk dibawah pohon, mengingat hari sudah siang terik.
"Apa ada yang tahu dimana keberadaan Naruto?" tanya Temari memulai percakapan.
"Sebenarnya semuanya tidak ada yang tahu keberadaannya. Bahkan kudengar seluruh Desa besar tidak ada yang tahu dimana ia berada." jawab Tenten.
Sakura mengangguk. "Bahkan Sasuke-kun tidak dapat menemukan keberadaan si Baka itu."
"Aku sebenarnya kasihan dengan Hinata dan kedua anaknya, mereka terlihat sedih sekali saat mengetahui kalau Naruto menghilang." ujar Temari.
Ino juga mengangguk sambil melihat kearah Temari. "Kau benar Temari. Himawari bahkan sampai sakit saat tidak bertemu dengan Naruto dan Hinata terlihat tertekan sama sekali."
"Kau benar, Ino."
Sakura sendiri hanya terdiam saat mendengar perkataan Ino. Ia tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga anggota satu timnya itu. Ia mengetahuinya saat beberapa hari tidak menemukan Naruto di Desa dan diberitahu masalahnya oleh Sasuke. Terlebih lagi ia ada dikantor Hokage ketika kejadian itu terjadi.
Ia sendiri tidak menyangka kalau Hinata akan melakukan hal yang serendah itu. Terlebih bersama Kiba.
"Kalau begitu aku pulang dulu, tidak ada yang menjaga toko saat ini."
Lagi-lagi ia hanya melihat Tenten pergi sambil melambaikan tangan sehingga hanya ada dirinya, Ino dan Temari. Jelang beberapa saat, Ino dan Temari juga pergi dengan berbagai alasan sehingga meninggalkan dirinya sendiri dilapangan itu.
"Hah... Lebih baik aku kerumahnya Naruto, Hinata pasti sangat tertekan akibat ulahnya sendiri." gumam Sakura.
Ia segera beranjak pergi menuju rumah Naruto dan meninggalkan keadaan lapangan yang sepi.
-- Change Scene --
Naruto saat ini sedang berdiam diri sambil melihat kearah aliran sungai yang berada dihadapannya. Melihat sungai itu justru mengingatkan dirinya dengan masa kecil dimana harus berjuang diri untuk makan dengan mencari jamur liar dihutan dan memancing disungai, sebelum dirinya bertemu dengan Kakek Hokage. Mengingat Kakek Hokage justru membuatnya merindukannya.
"Aku datang, Naruto."
Naruto membalikkan badannya dan melihat kalau Tatsumi sudah berada dihadapannya dengan sebuah pedang yang tersemat dipunggungnya. Dirinya sendiri yang memintanya untuk membawa pedang.
"Bagus, kali ini aku akan mengetesmu sebelum latihan." ujar Naruto sambil melepas jaket hitam dengan aksen orange sehingga terlihat kalau ia hanya menggunakan baju kaos hitam. (Jaket yang di The Last Movie)
"Mengetes?"
Naruto mengangguk. "Iya, mengetes. Kalau kau bisa mengambil lonceng ini dariku maka aku akan serius melatihmu." ucapnya sambil menunjukan sebuah lonceng.
"Kalau aku tidak dapat mengambilnya?"
"Kalau tidak dapat mengambilnya, kau akan aku ikat dibatang pohon itu hingga waktu makan siang." tunjuk Naruto kekanan tanpa menoleh.
Mengikuti arah yang ditunjuk oleh orang yang lebih tua dihadapannya, Tatsumi terkejut saat melihat sebuah batang pohon yang berdiri disana, plus sebuah jam alarm diatasnya.
"Sejak kapan?"
Menghiraukan ucapan Tatsumi, Naruto berjalan kearah batang pohon itu dan segera mengatur waktu tesnya.
"Aku sudah mengatur waktu hingga jam sembilan nanti, dan selama alarm ini belum berbunyi, kau harus bisa mendapatkan lonceng ini." jelasnya sambil menggantungkan lonceng itu dipinggangnya.
"Dan sebagai informasi, kau harus menyerangku dengan serius jika ingin mendapatkan lonceng ini." lanjutnya.
Tatsumi mengangguk paham, ia dengan segera mencabut pedangnya dan memasang posisi. Naruto yang melihat Tatsumi sudah bersiap, segera mengambil kunai hiraishin miliknya.
"Kita mulai!"
Wush!
Trink!
Suara benturan antara kunai dan pedang terjadi, hasil benturan itu juga menyebabkan percikan api kecil. Tatsumi segera menarik kembali pedangnya dan mengayunkannya kearah Naruto.
Naruto sendiri segera menghindar saat melihat tebasan itu, dengan cepat ia memutar tubuhnya dan mengarahkan bilah kunai milik kearah leher Tatsumi.
Trank!
Tusukan itu berhasil Tatsumi tahan dengan ekspresi wajah sedikit pucat. Jika ia tidak segera menahannya, sudah pasti dirinya akan segera wafat.
'Hampir saja.' batinnya.
"Sudah kubilang untuk menyerangku dengan serius bukan, Tatsumi!"
Trank! Duagh!
"Cough..."
Tatsumi meludahkan air liur ketika perutnya ditendang dengan keras oleh Naruto hingga terpental sekitar beberapa meter kebelakang. Tanpa membiarkan Tatsumi istirahat, Naruto segera melempar kunai itu beserta beberapa shuriken.
Trank! Trank! Trank! Crash!
Beberapa shuriken berhasil Tatsumi tangkis namun ia terkena shuriken yang menyebabkan lengan kanan atasnya terluka. Melihat itu tidak membuat Naruto berhenti, dengan cepat ia kembali melemparkan beberapa kunai dan segera berlari kearah Tatsumi.
Melihat banyaknya senjata yang dilempar oleh Naruto, dengan sangat cekatan ia menangkis semuanya sebelum terkejut saat melihat kalau Naruto sudah berada dihadapannya dengan bersiap untuk melayangkan pukulan.
Bugh!
"Apa hanya ini yang kau punya!"
Bugh! Bugh!
"Apa hanya ini yang kau bisa lakukan!
Bugh! Bugh! Bugh!
"Kalau begitu hentikan semuanya!"
Bugh! Bugh! Bugh! Bugh!
"Kau terlalu lemah untuk berada dalam dunia yang kejam ini!"
Bugh! Bugh! Bugh! Bugh! Bugh!
"Kalau hanya ini yang kau punya!"
Bugh!!
"Gaah...!"
Brugh!
Tatsumi terjatuh dengan keras ketika Naruto memukul tepat dimana ulu hatinya berada sehingga membuatnya terbatuk dengan keras. Naruto sendiri menatap Tatsumi yang sedang membungkuk dengan pandangan dingin.
"Lebih baik kau mati saja, Tatsumi."
Deg!
Mata Tatsumi membola saat mendengar perkataan Naruto. Rasanya sakit sekali saat mendengarnya, melebihi rasa sakit di ulu hatinya.
"Kau tidak cukup kuat untuk bertarung, Tatsumi. Kau harus punya alasan kenapa kau mengacungkan pedangmu pada musuh. Kau juga harus punya tekad jika ingin berada dalam dunia yang kejam ini." ujar Naruto.
Perkataan dari Naruto lagi-lagi membuat Tatsumi terdiam. Ia ingat kenapa dirinya mengangkat pedangnya dan pergi ke Ibu Kota. Dengan pelan, Tatsumi segera berdiri dengan bahu yang terlihat kokoh.
Naruto sendiri tersenyum saat merasakan sebuah tekad dari laki-laki yang ada dihadapannya. Ia melakukan ini bukan tanpa alasan, tetapi ia harus melakukan ini agar Tatsumi terus termotivasi, kenapa ia harus mengangkat pedangnya dan mencoba untuk melawan kerajaan.
Tap!
"A-aku punya alasan! Aku ingin mencari uang yang banyak dan memberikannya pada seluruh Desa agar mereka yang ada disana tidak ada kelaparan lagi. Aku- tidak tetapi Sayo dan Leyasu juga sudah berjuang. Oleh karena itu... Oleh karena itu..." Tatsumi mengangkat kepalanya dan menatap Naruto dengan mata yang memancarkan sinar semangat. "Aku tidak akan kalah darimu, Naruto!"
Lagi-lagi Naruto tersenyum, ia juga menatap Tatsumi balik dengan wajah penuh semangat. "Kalau begitu, rebut lonceng ini dan kalahkan aku, Tatsumi!"
Tatsumi tersenyum senang saat mendengarnya ia memasang kuda-kuda dengan pedang yang teracung kedepan. Begitu juga Naruto yang memasang kuda-kuda dengan kedua tangannya yang memegang kunai Hiraishin.
Wush! Wush! Tap! Tap!
"Naruto!/Tatsumi!"
-- Skip Time --
Sinar matahari tampak mulai terbenam. Warna orange sudah mulai menyinari awan-awan yang berada dilangit. Disebuah lapangan luas, nampak dua orang berbeda usia sedang disana. Mereka tidak lain adalah Naruto dan Tatsumi.
Naruto saat ini sedang berdiri membelakangi matahari dan melihat kearah pemuda yang sedang pingsan dihadapannya. Didalam genggaman pemuda itu terdapat sebuah lonceng. Ekspresi pemuda itu juga terlihat sangat puas.
Naruto menatap pemuda itu sambil tersenyum.
'Sudah beberapa akhir ini kulihat kau tersenyum seperti itu, gaki'
'Kau benar Kurama, sepertinya disini bisa membuatku lebih tenang.'
'Yah... Malas aku mengakui tapi aku lebih senang melihatmu yang sekarang daripada kau memakai topeng begomu itu, gaki'
'Arigatou atas pujiannya, Kurama.'
'Sudah berapa kali kubilang, jangan berterima kasih padaku dan itu bukanlah pujian. Itu membuatku risih'
'Hehehe...'
Naruto mengakhiri percakapannya dengan Kurama sebelum berjongkok didekat Tatsumi. "Kau hebat Tatsumi, tidak kusangka kalau kau berhasil mengambil lonceng ini. Kau sepertinya memiliki banyak sekali potensi dalam dirimu."
Dengan mengakhiri ucapannya, Naruto segera mengangkat dan menggendong Tatsumi, meninggalkan pedang yang patah dan puluhan shuriken serta kunai yang bertebaran.
.
.
~AND~
.
.
Hyuga Hinata , anak sulung dari Hyuga Hiashi dan kakak dari Hyuga Hanabi, yang berarti ia adalah pewaris Klan Hyuga seterusnya. Tetapi karena ia menikah dengan Sang Pahlawan Perang, Uzumaki Naruto. Sehingga tahta pewaris itu diberikan pada adiknya. Ia sendiri menjadi Nyonya Uzumaki, mengingat kalau Klan Uzumaki hanya tersisa Naruto dan Karin saja.
Wanita itu saat ini sedang menatap keluar jendela dari dalam kamarnya. Bekas air mata terlihat sehingga nampak sekali kalau ia baru saja selesai menangis.
"Dimana kamu sebenarnya, Naruto-kun." gumamnya.
Ia kembali menangis saat mengingat perlakuannya kepada Naruto. Tidak ada yang menyadari kalau sebenarnya ia telah berselingkuh dengan teman satu timnya, Inuzuka Kiba. Lamanya berselingkuh sehingga membuat ia merasa sudah tidak mencintai pria yang ia sukai dari Academy. Hinata juga masih mengingatnya dengan jelas ketika ia ketahuan oleh Naruto kalau sedang berselingkuh dengan Kiba.
Dari raut wajah suaminya waktu itu, dapat Hinata lihat kalau Naruto sangat kecewa sekali padanya dan Kiba. Ditambah ia memanggil Naruto dengan sebutan 'monster', 'iblis' dan panggilan lainnya serta berkata kalau ia menyesal telah menikah dengan Naruto.
Beberapa hari kemudian setelah peristiwa itu, Hinata tidak mendapati Naruto berada didalam rumah. Pertama-tama ia senang saat Naruto tidak pulang, tetapi lama kelamaan ia menjadi tidak nyaman. Ditambah Anaknya, Boruto dan Himawari sering menanyakan ada dimana Naruto sehingga membuat ia gelagapan untuk menjawabnya.
Kejadian beberapa hari yang lalu ketika Hinata berkunjung kekantor Hokage yang membuat ia tersadar dan menyesali perbuatannya. Kala itu ia sangat bingung ketika secara tiba-tiba Kakashi memberikan sebuah dokumen padanya. Setelah membaca sebentar, tiba-tiba Hinata syok saat tahu kalau dokumen itu adalah berkas tentang perceraian. Kakashi menceritakan kalau itu adalah permintaan dari Naruto karena telah menghianatinya dengan cara berselingkuh.
Bisa ia lihat kalau semua orang yang berada dalam ruangan itu menatap dia dengan kecewa. (Sakura, Sasuke, Iruka, Shizune, Kakashi dan Tsunade)
Terlebih lagi Ayah dan Adiknya, Hanabi sangat kecewa pada dirinya. Untuk pertama kalinya juga ia melihat kalau Hokage kelima a.k.a Tsunade sangat marah kepadanya. Oleh karena itu ia sangat menyesali perbuatannya. (Bayangin saja pembicaraannya berdasarkan hayalan masing-masing, kepala ane sudah mau pecah kayaknya)
"Hiks... Hiks... Kumohon kembalilah, Naruto-kun. Himawari sangat merindukanmu, Boruto juga merindukanmu dan..." Hinata berhenti sesaat untuk menarik nafas. "... Aku sangat merindukanmu... NARUTO-KUN!!!"
Akhirnya tangisan Hinata pecah dengan suara yang sangat keras. Ia sungguh menyesali perbuatannya dan berharap agar Naruto bisa segera kembali. Dari luar kamar, Boruto sedang berdiri tepat didepan pintu kamar orang tuanya. Ia menundukkan kepalanya sambil mengepalkan tangannya dengan erat.
"Cih... Kuso." umpatnya seraya berbalik pergi.
.
.
~AND~
.
.
Malam hari tampak lebih indah dari biasanya. Itulah yang Naruto lihat saat ini sambil berbaring dirumput yang berada dekat markas Night Raid. Kali ini Naruto merasa tenang dan damai dibanding ketika berada diKonoha.
'Pemandangan yang indah bukan, gaki?'
'Ya... Pemandangan disini lebih indah'
'Sepertinya kau tidak memiliki niatan untuk kembali ke Desa itu, gaki.'
'Entahlah Kurama, disatu sisi aku ingin kembali ke Konoha tetapi disisi lain, aku belum siap untuk bertemu dengan mereka berdua.'
'Aku tahu perasaanmu, Naruto.'
Naruto terkekeh pelan saat mendengar perkataan partnernya itu. 'Sepertinya kau juga suka jika kita berdua berada disini, Kurama.'
'Jujur saja gaki, aku lebih memilih tinggal disini daripada di sana... Meski aku bosan karena tidak bertarung.'
'Hehehe... Dasar bola bulu'
'Aku mendengarnya bocah!'
Tap! Tap! Tap! Tap!
Merasa ada yang mendekat, Naruto segera membuka matanya untuk melihat siapa yang datang. "Najenda-san? Apa yang kau lakukan saat malam begini? Terlebih lagi diluar."
"Pertanyaan yang sama juga ingin aku ajukan, apa yang sedang kau lakukan, Naruto?" tanya Najenda sambil tersenyum.
Naruto terkekeh sebelum bangun dari acara berbaringnya dan segera duduk, Najenda juga segera berjalan mendekat dan duduk disamping Naruto.
"Kau mau?" tawar Najenda sambil menyodorkan rokoknya.
"Tidak-tidak, terima kasih. Aku tidak merokok."
"Aneh... Kukira laki-laki seumuranmu suka merokok." ujar Najenda.
Mendengar itu membuat Naruto teringat lagi dengan kebiasaan Asuma-sensei. Asuma juga sering merokok ketika masih hidup saat itu.
"Dari dulu aku memang tidak merokok." ucap Naruto sambil kembali melihat kearah hutan yang disinari oleh cahaya bulan.
"Souka..."
Mereke berdua saling terdiam sambil melihat pemandangan hutan dimalam hari yang tersaji dihadapan mereka berdua. Sesekali Najenda membuang asap rokok yang telah ia hisap.
"Bagaimana dengan latihanmu bersama Tatsumi?" tanya Najenda memulai percakapan.
"Sebenarnya tadi aku belum melatihnya."
Perkataan Naruto membuat Najenda terdiam beberapa saat. "Kalau begitu aku ganti pertanyaan. Apa yang kalian lakukan hingga Tatsumi terluka seperti itu? Meski lukanya ringan sih."
"Aku hanya mengetesnya tadi."
"Mengetes?"
Pandangan Naruto teralih kearah Najenda. "Yap... mengetes. Aku melakukan itu agar ia terus termotivasi dan mengingat apa yang membuat ia bergabung untuk melawan kerajaan." jelasnya.
Mendengar penjelasan Naruto membuat Najenda menghela nafas dan tersenyum tipis. "Ucapanmu seakan-akan seorang pria yang sudah menikah."
"Aku memang sudah menikah." ungkap Naruto.
"Oh..." sedangkan Najenda hanya ber'oh ria sambil menghisap rokoknya kembali.
1 detik...
3 detik...
5 detik...
"APAAAA!!!"
Teriakan Najenda membuat Naruto harus menutup kedua telinganya. Ditambah teriakan itu terus menggema dihutan.
"Kenapa teriak sih?" tanya Naruto.
"A-apa maksudmu dengan kalimat 'sudah menikah' itu?" tanya Najenda dengan bibirnya yang sedikit bergetar.
Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Sudah jelas bukan kalau aku sudah menikah."
"Diumur 19 tahun begini?!!"
"Oh... Itu masalahnya." gumamnya sambil mengangguk pelan. "Bagaimana cara menjelaskannya ya, begini saja. Aku akan menjelaskan secara singkat." ujarnya.
Najenda mengangguk sehingga Naruto memegang dagunya sambil melihat kelangit. "Keluarga Uzumaki itu dikenal sebagai keluarga yang memiliki umur panjang. Setahuku rata-rata anggota keluarga Uzumaki memiliki umur hingga 125 tahun. Ditambah keluarga Uzumaki akan berhenti menua ketika diantara umur 18 hingga 21 tahun. Karena itulah keluarga Uzumaki disebut keluarga yang berumur panjang." (penjelasannya buatan ane sendiri, mohon maaf)
Najenda mengangguk paham sebelum mengambil rokoknya yang baru karena rokok pertama tadi telah jatuh ketanah. Tidak ia sangka kalau ada keluarga yang seperti itu.
"Jadi, sekarang ini umurmu sudah berapa?" tanya Najenda.
"Saat ini aku sudah berkepala tiga." jawab Naruto.
Najenda lagi-lagi terdiam sambil melihat kearah hutan. Beberapa saat kemudian barulah ia pergi masuk kedalam karena suhu sudah semakin dingin, meninggalkan Naruto yang masih berada diluar.
Sret!
"Satte... Lebih baik aku juga segera kedalam untuk tidur, besok aku harus mulai melatih Tatsumi. Stamina yang ia miliki masih sedikit." gumamnya sembari melangkah masuk kedalam.
-- Skip Time --
Seperti yang dikatakan oleh Naruto semalam, saat ini ia sedang melatih Tatsumi ditempat latihan. Disana tidak hanya ada mereka berdia saja tetapi ada juga Bulat yang sedang berlatih sendiri.
"57... 58... 59... 60..."
Saat ini Tatsumi sedang push up sambil menghitung hingga dua ratus. Itulah yang dikatakan oleh Naruto. Tetapi Tatsumi justru sangat kelelahan, biasanya push up bukan masalah baginya tetapi ia push up dengan Naruto yang sedang duduk diatas punggungnya.
"Ketika dalam pertempuran, stamina sangat dibutuhkan. Karena bisa saja ketika sedang bertarung dengan musuh secara tiba-tiba kau kehabisan stamina dan itu hanya bisa membunuhmu dengan cepat." jelas Naruto sambil memutar-mutar kunainya.
Wer! Wer! Wer! Brack!
"Kau ternyata tidak main-main jika soal stamina ya, Naruto." ujar Bulat setelah menancapkan barbel yang ia buat khusus.
Mendengar perkataan itu tak ayal membuat Naruto tersenyum. "Sebenarnya aku ingin langsung mengajarinya taijutsu tetapi saat aku tes kemarin ternyata Tatsumi masih kurang dalam stamina."
"Taijutsu?"
"Gaya bertarung tangan kosong."
"Oh~"
Naruto melihat kearah bawah untuk melihat keadaan remaja yang sedang ia duduki itu.
"83... 84... 85..."
Naruto pikir mungkin ia akan sedikit mengajarkan dasar-dasar Taijutsu Clan Uzumaki pada Tatsumi.
- Beberapa menit kemudian -
"Hah... Hah... Hah... Hah..."
Tatsumi terbaring ditanah sambil terengah-engah karena capek, jika ia tidak membuka atasannya maka tidak mungkin kalau bajunya tidak akan kotor.
"Nih."
Tatsumi membuka matanya sebelah dan melihat kalau Naruto sedang mengulurkan sebotol air mineral. Dengan cepat ia mengambil air tersebut dan langsung meneguknya dengan sangat rakus. Naruto yang melihat itu justru segera duduk disamping anak didik dadakannya itu.
Glek!
"Fuah~ segarnya. Terima kasih Naruto." ucap Tatsumi.
"Sama-sama."
Merasa kalau suasana akan hening, Tatsumi segera melihat kearah Naruto. "Sebenarnya tujuan latihan ini apa?"
Naruto melihat kearah Tatsumi dengan sebelah alis yang terangkat. "Sudah jelas bukan untuk menambah staminamu."
"Dengan Push Up, Sit Up sebanyak 200 kali dan kelilingi tempat ini sebanyak 50 kali!!"
"Yap."
Tatsumi langsung pundung ketika mendengar jawaban Naruto. Kala sadar kalai ucapannya justru membuat remaja disampingnya ini menjadi lesu, dengan segera Naruto mengarahkan tangan kirinya kearah Tatsumi.
Pluk!
"Eh..!"
Tatsumi tersentak saat ada yang menyentuh kepalanya, ia kemudian menoleh dab melihat kalau Naruto sedang tersenyum lebar kepadanya.
"Jangan sedih begitu. Aku melakukan ino agar menambah staminamu yang sangat sedikit itu. Meski memiliki kemampuan pedang yang menakjubkan tetapi itu tidak berguna jika staminamu kurang." jelas Naruto sambil mengacak-acak rambut Tatsumi.
Tatsumi terdiam sambil menundukkan kepalanya, ia merasa sangat nyaman ketika kepalanya diusap oleh Naruto. Ia terus diam sebelum teringat sesuatu dan dengan cepat, Tatsumi segera melihat kearah Naruto sehingga membuat sang empu terkejut. Bahkan Naruto yakin kalai ia mendengar suara 'krak' dari arah leher Tatsumi.
"Ngomong-ngomong soal pedang... Kau telah mematahkan pedangku bukan?!" ujar Tatsumi dengan tajam.
Mengingat momen itu membuat Naruto segera memalingkan kepalanya seraya menggaruk pipinya.
"Mungkin hanya hayalanmu..."
"Bohong! Meski samar-samar tetapi aki yakin kalau kau sudah mematahkan pedangku!"
"Mungkin kau sedang bermimpi."
"Kalau bicara jangan ngalihkan muka gitu!"
"Oke-oke... Aku minta maaf karena sudah mematahkan pedangmu." ujar Naruto sambil menangkupkan kedua tangannya didepan kepalanya yang sedikit tertunduk.
"Ganti."
Naruto mengangkat kepalanya. "Apa?"
"Kubilang gantikan pedangku yang kau patahkan Naruto."
Mendengar itu membuat Naruto mengangguk. Sambil menutup mata dan berkonsentrasi, sebuah bulatan hitam muncul tepat diatas tangan Naruto yabg sedang terbuka mengarah keatas.
"Ini." sodor Naruto.
Dong!
Wajah Tatsumi seketika ngeblank saat melihat itu. "Ini untuk apa."
"Sudah jelas bukan, sebuah pedang."
"Tapi ini salah satu bagian Teigumi!"
"Tidak apa-apa, akan kuganti pedangmu yang sudah patah dengan pedang yang baru." jelas Naruto sebelum berkonsentrasi kembali.
Secara perlahan satu gedoudama itu membentuk sebuah pedang. Bentuknya sangat mirip dengan pedang Tatsumi yang dipatahkan kemarin oleh Naruto.
"Wow."
Melihat decakan kagum Tatsumi tak ayal membuat ia terkekeh. Dengan pelan ia menyerahkan pedang itu kepada Tatsumi.
"I-ini sangat keren."
"Ambil saja pedang itu, sebagai balasan karena sudah kupatahkan pedangmu."
"Terima kasih, Naruto."
"Sama-sama."
Setelah mengucapkan itu, Naruto segera berdiri dan masuk kedalam markas. Meninggalkan Tatsumi yang masih senang sebab hadiah dari Naruto.
"Kau sangat mirip denganku dulu, Tatsumi." gumam Naruto sebelum membuka pintu.
Cklek! Kriet! Blam!
.
.
~AND~
.
.
Disalah satu gang gelap yang berada di Ibu Kota. Terlihat sangat sunyi namun jika diperhatikan lagi terdapat genangan darah disitu.
"Cogh... To-tolong lepaskan aku... Aku a-akan me-melakukan apapun." ujar gadis itu ketika ia saat ini sedang dicekik oleh seseorang.
"Apapun~?"
"Iya Apapun!!"
Seringai kejam muncul diwajah orang itu. "Kalau begitu... Bisakah kau menunjukan ekspresi apa yang kau lakukan ketika aku memotong kepalamu."
Gadis itu diam seketika. "Eh."
Craaaash! Brugh!
Tubuh tanpa kepala itu terjatuh ketika kepalanya berhasil dipotong. Orang tersebut membuang kepala orang yang telah ia bunuh sebelum berbalik pergi.
"Bagus bagus... Ternyata Ibu Kota sudah berubah total. Banyak sekali kepala yang bisa aku potong disini hingga aku tidak dapat menghitungnya lagi. Bagus~ bagus~" ujarnya yang diakhiri seringai mengerikan.
- To Be Continued -
Note: Assalamualaikum Wr. Wb... Bertemu lagi dengan Author yang jomblo bintang ngenes ini. Maaf kalau aku tidak bisa mengupdatenya sebelum pergantian tahun. Akhir-akhir ini justru sifat malasku yang mengambil alih. Jadi, ane mohon maaf sebesar-besarnya jika tidak bisa update cepat.
Dalam chapter 3 ini diperlihatkan kalau Naruto sudah melatih Tatsumi untuk menjadi lebih kuat dan penyesalan Hinata karena perbuatannya yang telah ia lakukan. Maaf kalau ane tidak membuat adegan dimana Kakashi memberikan surat perceraian karena hal tersebut sangat capek sebab ane tidak pintar dalam hal begitu.
Jika menonton anime Akame Ga Kill pasti tahu siapa pria yang bearada dibagian akhir bukan. Maaf jika ada kesalahan kata maupun typo dan alurnya yang cukup berantakan (menurutku).
Ada yang bertanya apakah semua karakter yang ada di Naruto akan saya masukkan. Jawabannya adalah tidak semua, mungkin hanya beberapa saja.
Kenapa saya memilih Kiba yang menjadi selingkuhan Hinata karena Naruto pasti akan semakin sakit hati jika tahu kalau sahabat yang sudah ia anggap saudara (a.k.a Sasuke) justru berselingkuh dengan Hinata.
Mungkin itu saja yang bisa saya katakan, jangan lupa untuk corat-coret dikolom komentar, follow dan favorit. Bahkan silahkan kalau bisa, berikan saran kepada ane agar bisa membantu dalam membuat cerita ini. Jika ada yang mau memberikan saran, bisa lewat PM atau review.
Akhir kata Assalamualaikum Wr. Wb.
[ Ichizan Hissatsu Out ]
