DISCLAIMER: Saya tidak mengakui bahwa Naruto adalah milik saya tetapi milik om Masashi dan saya hanya meminjam karakter saja.
RATED: M
PAIR: Naruto X ?
SUMMARY: Uzumaki Naruto, Sang Nanadaime Hokage, menghilang saat melihat sesuatu yang membuatnya kecewa sehingga membuat kelima Desa besar panik saat mengetahui bahwa salah satu Pahlawan Perang telah menghilang dan tidak ada yang menyadari kalau Naruto telah berpindah dimensi.
NOTE: Assalamualaikum semuanya... Kali ini ane sudah akan mengupdate chapter 4 karena kemungkinan waktu ane untuk segera kembali ke asrama sudah semakin sedikit, jadi antara chapter ini atau chapter 5 merupakan chapter terakhir sebelum kembali masuk asrama. Tanpa basa-basi lagi, silahkan dibaca...
.
.
~AND~
.
.
Dijalanan Ibu Kota terlihat nampak sangat ramai sekali namun jika diperhatikan lebih jelas lagi, wajah orang-orang justru terlihat murung. Itulah yang menarik perhatian Tatsumi.
"Ne Mine... Ngomong-ngomong banyak sekali yang sepertinya menderita disini." ujar Tatsumi.
"Huh?" Mine menoleh kearah Tatsumi sebelum melihat sekeliling. "Seperti itulah keadaan disini. Yang kuat dan kaya sedang menikmati kekayaan mereka sedangkan yang miskin dan lemah akan tertindas."
"Begitukah..." angguk Tatsumi sambil meneruskan jalannya. "Ngomong-ngomong, apa tidak masalah kalau kita berjalan siang hari begini?"
"Tentu tidak karena hanya wajah mereka berempat yang berada diposter." ujar Mine sambil menunjuk kearah sesuatu.
Mengikuti arah yang ditunjuk oleh Mine, dapat Tatsumi lihat ada empat poster yang ditempel pada dinding bangunan. Tatsumi pun segera berlari pelan kearah poster itu yang diikuti oleh Mine.
"He~ ternyata hanya mereka." perhatian Tatsumi teralihkan pada poster yang berada ditengah. "Poster siapa ini?"
(Note: susunan posternya itu tiga poster berjejer dengan satu poster berada tengah atas)
"Itu Bulat." jawab Mine.
Tatsumi pun mengangguk pelan. "Ternyata Aniki... Apa!! Kok beda sekali!"
"Tentu saja, itu penampilannya dulu ketika berada di Kekaisaran dan mengubah penampilannya saat bergabung." jelas Mine.
"Kok rasanya aneh ya." guman Tatsumi dengan wajah yang loyo seperti zombie dengan nyawanya yang tampak melayang keluar dari mulutnya.
"Hiks... Tolong lepaskan aku..."
Mereka berdua segera melihat sekeliling ketika mendengar ada yang menangis. "Ne Mine... Apa kau mendengarnya?"
"Ya dan suaranya berasal dari gang itu."
Drap! Drap! Drap! Drap!
Mine pun segera berlari kearah gang yang ia yakini suara tersebut berasal. Tatsumi sendiri segera berlari mengejar Mine. Ketika sampai, mereka melihat kalau ada dua anak remaja yang sedang mengganggu anak kecil. Melihat itu, Tatsumi segera bertindak.
"Hey! Hentikan perbu-"
"Apa yang kalian lakukan."
Perkataan Tatsumi terpotong oleh suara Mine yang menjadi lebih dingin dari biasanya. Tatsumi memandang Mine dengan sedikit khawatir. "Mine?" ujarnya pelan.
Tap!
"Sebenarnya apa yang kalian perbuat?" tanya Mine sambil berdiri satu langkah didepan Tatsumi.
Kedua anak remaja itu segera menghentikan perbuatan mereka. Sambil bersidekap, salah satu remaja itu menjawab dengan nada angkuh.
"Dia ini pendatang. Ketika berada di Ibu Kota ini, para pendatang harus melaksanakan peraturan yang ada disini. Jadi, dia harus menuruti perintah kami berdua."
Mendengar penjelasan itu membuat Mine menundukan kepalanya. "Tatsumi."
"Ha'i."
Slash! Slash! Slash!
Dengan cepat Tatsumi langsung menebaskan pedangnya. Beberapa saat kemudian memang tidak ada yang terjadi namun secara tiba-tiba celana yang dipakai oleh kedua anak itu menurun.
"Lari!!"
Mereka berdua langsung berlari menjauh sambil memegang celana mereka. Tatsumi sendiri mendengus puas sebelum menyarungkan kembali pedang yang diberikan oleh Naruto. Mine sendiri segera berjalan pergi sebelum sebuah suara menghentikannya.
"A-ano..."
"Ada apa?"
"Te-terima ka-kasih karena sudah menolongku." ujar anak tersebut sambil terbata.
"Huh." Mine mendengus dan membalikkan tubuhnya. "Kau harus bisa melindungi diri sendiri dan jangan terlalu mengharapkan bantuan orang lain."
Mine dengan segera melanjutkan jalannya dan diikuti oleh Tatsumi yang sesekali melihat kearah anak kecil tersebut. Dalam perjalanan, mereka berdua terus diam.
"Ucapanmu itu terlalu kasar bagi anak kecil tadi sebenarnya, Mine." ujar Tatsumi mengawali percakapan.
"Huh... Biar saja dan ngomong-ngomong sepertinya pedangmu itu pedang baru." ujarnya sambil melirik kearah pedang yang tersemat dipunggung Tatsumi.
"Oh ini... Ini sebenarnya sebagai ucapan maaf dari Naruto karena telah mematahkan pedangku yang sebelumnya." jelas Tatsumi sambil memegang pedang tersebut dan menatapnya. (Bayangin saja seperti pedang Tatsumi yang sebelumnya tapi berwarna hitam legam)
Mine hanya menatap diam sebelum melihat kembali kearah Tatsumi. "Karena hari ini kau bersamaku, mari kita mulai misi observasi kita!" ujarnya dengan semangat.
"Yeaah!!"
Kita tinggalkan dulu kedua anggota Night Raid itu. Disalah satu jalan yang ada dikekaisaran, terlihat dua orang berambut pirang tetapi berbeda gender. Mereka itu tidak lain adalah Naruto dan Leone.
"Sebenarnya kita ngapain disini, Naruto?" tanya Leone sambil sedikit mendongak kearah Naruto.
Jika diurutkan tinggi badan, yang paling tinggi ialah Bulat, yang kedua Naruto, ketiga Leone dan keempat adalah Najenda. Jadi Leone harus sedikit mendongak jika harus bicara dengan Naruto.
"Aku ingin membeli beberapa pakaian dan memesan senjata." jelas Naruto tanpa mengalihkan pandangannya.
"Begitu... Tenang saja, akan aku tunjukan tempat yang bagus untuk soal pakaian. Ayo ikut aku." ujar Leone dengan semangat sambil menarik tangan Naruto.
"Jangan ditarik segala!"
.
.
~AND~
.
.
Digerbang Utama Desa Konoha terlihat banyak sekali orang. Mereka semua berada disitu untuk mengantarkan kepergian Uchiha Sasuke.
"Sasuke, tolong segera temukan keberadaan Naruto." pinta Kakashi.
"Betul Sasuke-kun, tolong temukan si baka itu."
Sasuke sendiri hanya mengangguk setelah mendengarkan perkataan Kakashi dan Sakura, Istrinya. Ia pun menoleh kearah samping Sakura dimana disitu berdiri Godaime a.k.a Tsunade.
"Kuharap kau berhasil menemukan keberadaan Naruto, Uchiha. Naruto sudah kuanggap sebagai anakku dan aku sangat mengkhawatirkan keberadaannya." ujar Tsunade.
Lagi-lagi Sasuke mengangguk. "Ha'i Godaime-sama."
"Semoga kau segera temukan Naruto." (Gaara)
"Carilah keberadaan kuning merepotkan itu, Sasuke." (Shikamaru)
"Tolong ya, Sasuke-kun." (Ino)
"Semoga berhasil." (Tenten)
"Hati-hati." (Shino)
"Dengan semangat mudamu, cepatlah temukan Naruto-kun. Sasuke!" (Lee)
"Hn, tentu saja." balas Sasuke dengan trademark andalannya dan segera berbalik pergi.
Mereka semua melambaikan tangan saat Sasuke sudah berjalan pergi. Namun baru beberapa langkah, ia menghentikan langkahnya saat mendengar teriakan.
"TUNGGUUU!!!"
Mereka semua yang ada disitu menoleh dan melihat kalau Hinata sedang berlari kearah mereka. Tsunade yang melihatnya segera bergemeletukkan giginya hingga terdengar oleh Sakura.
"Tenanglah Shishou." ujar Sakura sambil mencoba menenangkan Tsunade.
"Aku tahu."
Drap! Drap! Drap! Drap!
Hinata menghentikan larinya dan segera menormalkan nafasnya. Setelah agak normal, Hinata menegapkan tubuhnya dan melihat kearah Sasuke.
"Sasuke-kun... A-aku mohon se-segera temukan Naruto-kun. Ku-kumohon agar dapat menemukannya." ucap Hinata dengan sedikit bergetar dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Hening...
"Emangnya apa pedulimu, Hyuga?"
Deg!
Mendengar perkataan Sasuke yang sangat dingin dari biasanya membuat jantung Hinata terasa berhenti. Sasuke pun menoleh dan memperlihatkan matanya yang sudah berubah karena Sharingan telah aktif.
"Kau mengkhianatinya, kau menghancurkannya, kau menjatuhkannya, kau mengecewakannya dan yang paling penting kau telah mempermainkan hatinya. Naruto selama ini sudah baik kepadamu dan selalu mencintaimu. Bahkan dia lebih memilih melupakan cintanya pada Sakura dan lebih memilih menikah denganmu." ujar Sasuke dengan dingin.
Mereka semua diam terutama Hinata dan beberapa orang yang tidak mengetahui permasalahan ini. Sakura sendiri hanya menatap suaminya itu dengan sendu.
"Sasuke-kun." gumamnya pelan.
"Apa kau berpikir bagaimana hancurnya hatinya saat menyaksikan kalian. Dia frustasi, dia sakit hati, dia depresi, dia tersakiti kembali karena ulahmu. Bisa saja Naruto saat ini sedang bersembunyi disuatu tempat karena tidak ingin melihatmu. Apa kau pernah berpikir, bagaimana jika ternyata Naruto sudah menikah kembali diluar sana. Kudengar dulu hingga sekarang dia banyak disukai oleh wanita-wanita diluar sana."
"Si-siapa yang menyukai Na-naruto-kun?" tanya Hinata dengar suara bergetar saat mulai memikirkan kalau Naruto telah menikah lagi.
"Misalnya Kazahana Koyuki, Daimyo dari Yuki No Kuni, lalu Shion dari Oni No Kuni, Ryuuzetsu dari Kusagakure, Amaru yang seorang dokter dan akhir-akhir ini kudengar kalau pemimpin di desa Nadeshiko selalu menanyakan kabar tentang hilangnya Naruto dan masih banyak lagi gadis yang pernah ditolong oleh Naruto masih menyukainya." jelas Sasuke dengan nada dingin.
Mereka semua yang ada dibelakang terkejut dengan mulut menganga karena baru pertama kali melihat kalau Sasuke, orang yang irit bicara telah mengatakan banyak kata.
Brug!
"Hiks... Hiks... Hiks... Hiks..."
Hinata jatuh terduduk saat sudah tidak kuat lagi untuk membayangkan kalau Naruto telah menikah lagi. Ia pun menangis sejadi-jadinya karena kembali menyesal.
"Hiks... Hiks... Kumohon... Hiks... Tolong... Bawa... Kembali... Hiks... Naruto-kun... Aku... sungguh... Menyesal... Hiks..." ujar Hinata dengan sangat bermohon sambil menangis.
Melihat itu membuat sebagian orang menatap prihatin Hinata. Tidak mereka sangka kalau Hinata sangat menderita seperti ini. Bahkan Tsunade lebih memilih memalingkan wajahnya karena tidak kuat melihat keadaan Hinata yang menyedihkan.
Sasuke hanya terus melirik sebelum berjalan kembali. "Meski aku sudah menemukannya, jangan terlalu berharap kalau dia akan memaafkanmu."
Dari kejauhan dapat Sasuke dengar kalau Hinata mengucapkan 'terima kasih'. Dia sendiri sebenarnya tidak tahu keberadaan teman yang sudah dianggap sebagai saudara itu.
.
.
~AND~
.
.
Tap! Tap! Tap!
"Bukannya pakaian ini terlalu banyak untukku, Leone." ujar Naruto sambil mengangkat tangannya yang terdapat beberapa tas belanjaan.
"Tidak... Itu semua cocok denganmu, Naruto." balas Leone.
Naruto sendiri hanya mengangguk. "Iya-iya."
Mereka berdua kembali berjalan menuju tempat senjata yang dipromosikan oleh Leone. Setelah cukup lama, akhirnya mereka sampai didepan tempat tersebut. Naruto melirik keatas untuk melihat nama tempat ini.
"Dwargon Shop." gumamnya.
Leone mengangguk. "Iya, disini adalah tempat penjualan dan pemesanan senjata terbaik di kekaisaran. Ayo masuk." Naruto kembali mengangguk dan memegang gagang pintu dan mendorongnya.
Klinting!
"Selamat datang!"
Suara yang terdengar menyapa menyambut kedatangan mereka berdua. Naruto dan Leone segera berjalan ketempat kasir. Setelah cukup dekat dengan kasir, dapat Naruto lihat kalau yang menjaganya adalah seorang pria yang berusia sekitar 40 tahunan dengan luka horizontal dihidung dan vertikal di mata kiri serta jangan lupa dengan kepalanya yang botak.
"Kalian ingin membeli apa dan omong-omong namaku adalah Tazura." ujar pria yang bernama Tazura.
"Namaku Uzumaki Naruto."
"Kalau aku Leone."
Melihat kedua pelanggan yang ada dihadapannya ini membuat Tazura berpikir kalau mereka berdua adalah Suami-Istri, terlebih lagi mereka memiliki warna rambut yang sama.
"Sekali lagi aku bertanya, kalian ingin membeli apa?" tanya Tazura.
Naruto nampak berpikir sebelum mengeluarkan sebuah kunai Hiraishin dari kantong ninjanya.
"Apa paman bisa membuatkan senjata yang seperti ini?" bukannya menjawab justru Naruo malah bertanya.
Tazura mengambil kunai yang disodorkan oleh Naruto dan melihatnya dengan seksama. Baru pertama kali ini Tazura melihat pisau yang unik seperti ini.
"Mungkin bisa dan kau butuh berapa banyak." ujar Tazura sambil melihat Naruto kembali.
"Setidaknya 50 buah saja dan apa paman menjual rompi?"
"Jika rompi ada dibagian barat dan soal pesananmu ini bisa aku selesaikan dalam waktu 5 hari. Jadi, kembali lagi setelah 5 hari."
"Baiklah."
Setelah menjawabnya, Naruto segera berjalan kearah bagian rompi berada setelah menitipkan belanjaan bajunya pada Leone. Tazura hanya menatapnya sebentar dan kembali berkutat pada kunai yang diberikan oleh Naruto. Setelah beberapa detik, Tazura menoleh kearah Leone.
"Ngomong-ngomong gaya bertarung suamimu itu seperti apa?" tanya Tazura.
"Eh...!" sontak saja Leone sedikit terkejut. Ia sedikit memalingkan wajahnya yang merona. "Aku tidak tahu seperti apa gaya bertarungnya dan sekedar pemberitahuan kalau dia itu bukan suamiku."
'Setidaknya untuk beberapa waktu' batin Leone.
Tazura sendiri hanya mengangguk meski sedikit terkejut kalau kedua pelanggannya ini bukanlah Suami-Istri. Ia pun segera menuju kebelakang sebentar dan meninggalkan Leone sendirian dikasir. Leone sendiri menatap sekeliling sambil menunggu Naruto selesai memilih rompi.
"Leone! Bagaimana penampilanku?"
Leone segera menoleh dan langsung merona saat melihat kalau Naruto sedang memakai rompi hijau dengan beberapa kantung didepannya. (Rompi Jounin tanpa lambang pusaran)
"K-kau terlihat ke-keren." jawab Leone.
'Kenapa aku justru menjadi gugup dihadapannya!!' jerit Leone dalam hati.
Mendengar pujian dari Leone membuat Naruto tersenyum. Ia kira kalau tampilannya akan jelek jika memakai rompi yang mirip sekali dengan rompi yang ada di Konoha, meski tanpa lambang Uzumaki.
"Sepertinya kau sudah menemukan yang kau cari." ujar Tazura setelah berasala dari belakang.
Naruto mengangguk. "Iya dan berapa harga rompi ini sekaligus pembuatan senjataku?"
"Cukup 25 keping emas."
Mendengar itu, Naruto segera mengeluarkan 25 keping emas dan menyerahkannya yang otomatis langsung diambil oleh Tazura. Naruto dan Leone segera berbalik pergi setelah berpamitan.
Cklek!
Mereka berdua segera pergi menjauh dari toko itu. Diperjalanan mereka berdua sedang mengobrol dan sesekali Leone tertawa lepas saat mendengar lelucon dari Naruto. Saat ini Leone kembali tertawa lepas saat mendengar lelucon lain dari Naruto.
Drap! Drap! Drap!
"Ayo cepat!"
"Menakutkan..."
"Kejam sekali ya."
Tawa Leone berhenti dan melihat kedepan yang dimana banyak sekali orang yang berkerumun. Melihat itu justru membuat Naruto heran.
"Sebenarnya ada apa disana?"
"Palingan eksekusi umum."
"Eh..."
Spontan Naruto terkejut saat mendengar perkataan Leone, ia segera berlari untuk bisa melihatnya lebih dekat sedangkan Leone hanya mengikuti saja. Pemandangan mengerikan sedang Naruto lihat ketika ia sudah dekat. Dapat ia lihat kalau ada beberapa orang yang sedang disalib dalam keadaan tidak bernyawa. Kondisi tubuh mereka semua juga mengenaskan dimana tangan, kaki, sebelah wajah, bagian perut sudah tidak ada.
Melihat pemandangan yang seperti itu membuat Naruto sedikit emosi. Meski sudah pernah ikut dalam perang namun tidak pernah ia lihat penyiksaan yang seperi ini. Leone sendiri hanya menatapnya datar, meski sudah pernah melihatnya tetapi hatinya selalu marah saat melihat hal yabg seperti itu.
"Sebenarnya seberapa kejam Perdana Mentri saar ini." ujarn Naruto sambil melihat kearah Kerajaan.
-- Change Scene --
Didalam ruang yang indah dan merupakan tempat para Raja. Kenapa? Apa ada yang lucu?. Banyak yang mengira kalau kebusukan di Kekaisaran ini diakibatkan oleh Raja mereka namun tidak ada yang berani dan tidak ada yang tahu kalau Perdana Menteri telah memanipulasi Sang Raja masa kini yang masih kecil.
"Mentri Dalam Negeri, Shoui. Karena sudah membantah aturanku dan memperlambat urusan kerajaan, kau akan dihukum mati dengan cara dipenggal."
Deg!
Semua orang ya yang berada diruangan itu nampak terkejut akan perintah sang Raja, terlebih lagi orang yang bernama Shoui. Raja cilik itupun menoleh kesamping.
"Ini sudah cukupkan, Perdana Menteri?" tanya Raja itu.
Tap! Tap! Tap!
Dari belakang bangku Raja, keluarlah seorang laki-laki yang berjanggut putih lebat. Ia nampak sedang memakan sesuatu sebelum mengunyah dan menelannya.
"Khakhakha... Kerja bagus, Yang Mulia. Anda adalah Raja yang arif, Yang Mulia" puji pria yang dipanggilnya Perdana Menteri itu
Raja itu melirik kebelakang. "Daging lagi? Makanmu banyak juga."
"Khakhakha... Yah, karena paling enak memakannya saat masih segar, buono buono."
Shoui yang sudah tidak kuat lagi langsung mengangkat kepalanya. "Yang Mulia! Anda sudah ditipu oleh Perdana Menteri! Tolong dengarkan penderitaan rakyatmu!"
Raja itu terdiam sebelum menoleh kearah Perdana Mentri. "Hei, Perdana Menteri, dia malah menuduhmu?"
"Hehe... Saya yakin dia sudah gila."
"Ya! Lagi pula, kau tidak pernah salah!"
Deg!
Shoui menatap tidak percaya terhadap apa yang baru saja ia dengar. Perdana Menteri itu segera melirikkan matanya kearah Shoui.
"Tuan Shoui... "
Duagh!
"Arrkkk!"
"Inilah perpisahan menyedihkan kita." ujar Perdana Menteri.
"Yang Mulia! Kalau begini terus, kejayaan kerajaan ini bahkan 1000 tahun pun akan tetap..."
Shoui menghentikan ucapannya saat melihat kalau Perdana Menteri telah berada didekatnya dan menyamakan tingginya dengan dia sambil menutup wajah menggunakan kedua tangan.
Perdana Menteri mengintip dari sela jari. "Tuan Shoui, jangan mengkhawatirkan Istri cantik yang kau tinggalkan. Aku akan merawatnya..." Perdana Menteri menunjukan seringai menjijikan yang hanya diketahui oleh Shoui. "... Setiap jengkalnya."
Shoui menatap tidak percaya meski ia sudah diseret keluar. "Mana bisa... Hal ini terus dibiarkan? Setiap kejahatan haruslah dihukum. Siapapun, kumohon... Tolong berikan Iblis itu hukuman yang pantas!"
.
.
~AND~
.
.
Drap! Drap! Drap!
"kita baru saja mendapat tugas baru. Target kali ini, Iwokaru. Dia punya hubungan dengan Perdana Menteri Onest."
Stab!
Sebilah pisau bertipe combat menancap pada poster tersebut, pelaku sendiri tidak lain adalah Najenda.
"Dia menggunakan nama Perdana Menteri untuk menculik wanita dan menyiksanya sampai mati. Lima penjaganya juga mendapatkan hadiah, dan tentu saja bersalah juga." jelas Najenda.
Mereka semua diam memperhatikan. Najenda menatap semuanya dengan serius. "Ini adalah misi yang sangat penting. Aku menugaskan kalian semua!"
Disalah satu bukit yang cukup jauh dari sebuah Mansion, nampak dua orang berbeda gender, mereka adalah Tatsumi dan Mine. Tatsumi saat ini sedang mengintai menggunakan teropong miliknya.
"Jadi itu Mansion megah tempat tinggal Iwokaru. Besar sekali." ujar Tatsumi.
Mine sendiri sedang mempersiapkan Teigu yang ia punya. Tatsumi sendiri meliriknya meski teropong masih didepan wajah.
"Hei..." Panggil Tatsumi.
"Apa?"
Tatsumi menoleh. "Apa itu juga Teigu?"
Mine mengangguk tanpa menoleh sedikit.
"Benar, Teigu Pumpkin. Semakin terdesak penggunannya, semakin kuat juga kekuatannya. Yah meskipun aku tidak pernah terdesak." jelas Mine sambil sedikit sombong diakhir.
"Bagaimana kau membuat benda seperti itu?"
Mine menoleh. "Teigu itu senjata super zaman dulu, dan saat ini tidak diketahui bagaimana cara mereka membuatnya. Kau itu cerewet sekali, ya?" ledek Mine yang sukses mendapat tatapan maut Tatsumi.
Mine segera mengambil posisi sambil mengarahkan Pumpkin kearah Mansion itu. "Tidak masalah dari jarak sejauh ini. Ketika dia keluar rumahnya, akan langsung kutembak dia."
"Bagus! Setelah kau menembaknya, tugasku adalah membawamu kabur. Serahkan saja padaku!" ujar Tatsumi dengan semangat.
"Hmph!" Mine mendengus. "Aku tidak berharap apa pun."
Mine pun segera menarik nafas dengan dalam dan segera berkonsentrasi. Tatsumi sendiri sampai terdiam sambil melihat Mine.
'Konsentrasinya hebat sekali. Aku sampai bisa merasakan auranya dari sini.' batin Tatsumi.
"Dia keluar."
Tatsumi tergagap sebelum melihat kembali menggunakan teropong. "Di mana? Banyak orang yang bukan target kita keluar bersamanya juga."
"Lalu?"
"Apa Maksudmu 'Lalu'? Bagaimana kau akan menembaknya?."
"Aku tidak peduli."
"Tidak peduli?" Tatsumi tersentak. "Jangan bilang kau tak peduli pada orang yang tidak bersa-"
Dor!
Belum selesai Tatsumi bicara, Mine telah menarik pelatuknya sehingga menembakkan sebuah laser kuning yang sangat panas. Laser itu melesat dengan cepat kearah target dan hasilnya adalah...
...headshot!
Tatsumi sendiri terkejut saat melihat kalau tembakan Mine berhasil mengenai target mereka.
"Aku ini penembak jitu jenius." pamer Mine.
Ditempat yang berbeda, terlihat 13 orang yang sedang berlari. Mereka semua nampak menggunakan topeng.
Drap! Drap! Drap!
"Segera temukan orang yang telah membunuh Tuan Iwokaru!"
"Kalau mereka kabur, Perdana Menteri akan membunuh kita."
"Seharusnya mereka belum terlalu jauh!"
Drap! Drap! Sreeeet!
Mereka semua menghentikan larinya saat melihat ada 6 orang yang menghalangi jalan.
Grep!
"Lihat lihat, kali ini aku akan mengamuk, lo!" ujar Leone dengan bersemangat sambil menggenggam kedua tangannya.
Sedangkan dibelakangnya ada Sheele yang sudah memegang Extase, Akame yang mengeluarkan Murasame, Bulat yang menggunakan zirahnya, Lubbock sedang mengeratkan sarung tangan khususnya dan Naruto yang sedang berdiri dengan 9 Gedoudama yang melayang dibelakangnya.
- At TatsumiMine Place -
Tap! Tap! Tap!
"Ah... Rute lain ini benar-benar sulit dilewati." keluh Mine sambil menyingkirkan ranting yang ada dihadapannya.
"Apa semua pengejar sudah dikalahkan, ya?" tanya Tatsumi yang ada dibelakang Mine.
"Semua penjaga disekitar sini berlatih di Koukenji, sepertinya tidak akan semudah itu." jawab Mine.
Tatsumi terlihat memikirkan sesuatu. 'Koukenji, kuil seni beladiri terkuat di Kerajaan. Saat kau bekerja untuk Perdana Menteri, sepertinya mereka tidak main-main dengan penjagaannya.'
"Melakukan apa pun hanya karena mereka kenalan... Itulah yang membuatku muak." ujar Mine setelah melompat naik dari punggung Tatsumi.
Tatsumi juga segera naik sambil melihat kearah punggung Mine. 'Aku penasaran apa yang terjadi padanya di masa lalu.'
Mine menghentikan jalannya dan berbalik melihat kearah Tatsumi. "Sebagai hal spesial, akan kuberi tahu kau tentang masa laluku."
'Malah dia kasih tahu!'
(Skip saja, yang pernah nonton atau baca komiknya pasti sudah tahu masa lalu Mine.)
"Saat Ibu Kota punya pemimpin baru, perbatasan akan dibuka dan wilayah bukanlah masalah. Lalu orang lain tidak akan merasakan apa yang sudah aku rasakan. Aku tidak akan membiarkan siapa pun terus menerus didiskriminasikan!" ujar Mine dengan penuh tekad.
Tatsumi sendiri menatap diam gadis dihadapannya. "Mine..."
Tatsumi menundukkan kepalanya saat merasa kalau ucapan Mine itu penuh dengan tekad. Ia pun mengingat perkataan Naruto "Kau harus punya alasan kenapa kau mengacungkan pedangmu pada musuh. Kau juga harus punya tekad jika ingin berada dalam dunia yang kejam ini." mengingat itu membuat Tatsumi kembali bersemangat.
"Dan aku juga bakalan kaya dari hadiah karena sudah membantu revolusi dan aku akan hidup dalam kemewahan! Yohohohoho!" tawa Mine dengan anehnya sehingga membuat Tatsumi kesal.
- At Night Raid Member Place -
Bugh!
Sebuah topeng lawan langsung hancur saat Leone memukulnya dengan sangat keras. Musuh pun juga seketika tumbang karena sudah mati.
"Meong! Rasanya enak sekali!" ujarnya bahagia.
"Mereka kuat juga, ya." tambah Sheele sambil melihat kearah Leone.
"Aneh... Seharusnya ada 13 penjaga tetapi disini hanya ada 8 penjaga." ujar Akame.
Bulat pun berjalan kearah Akame dan menepuk kepalanya pelan. "Jika yang lainnya saat ini sedang dihadapi oleh Naruto sendirian."
Perkataan Bulat membuat Leone dan Akame terkejut. Mereka segera mencoba berlari ketempat Naruto berada untuk menolongnya namun dihentikan oleh Bulat.
"Apa-apaan ini Bulatchi?! Lepaskan tanganku, aku mau menolong Naruto!" protes Leone sambil mencoba melepaskan tangan Bulat.
Akame juga berusaha melepaskan pegangan rekannya itu, meski tidak protes dalam suara. Bulat sendiri menghela nafas sebelum melepaskan tangannya sehingga membuat Akame dan Leone menoleh.
"Aku tahu kalian ingin menolongnya tapi labih baik kita percayakan saja padanya dan mungkin kita bisa melihatnya bertarung." usul Bulat.
Mereka berdua terdiam dan saling menatap sebelum mengangguk. Bulat sendiri tersenyum puas dibalik zirahnya dan berjalan kearah Naruto pergi bersama lima penjaga, dan dibelakang Bulat diikuti oleh Lubbock, Leone, Sheele dan Akame.
- At Naruto Place -
Drap! Drap! Drap!
Tap!
Naruto menghentikan larinya dan melihat kalau ia saat ini telah dikepung oleh 4 orang dari 4 arah juga. Ia pun menegakkan tubuhnya dan mengarahkan telapak tangannya yang terbuka kesamping. Salah satu gedoudamanya pun melayang pelan kearah tangannya dan membentuk sebuah katana.
Naruto segera bersiap meski sedang berdiri tegak. Mata biru langitnya tidak berhenti melihat kearah mereka berempat.
"Hiyaah!"
Salah satu penjaga berlari kearah Naruto dan melancarkan tendangannya kearah plipis. Naruto berhasil menghindarinya dengan cara memundurkan kepalanya. Setelah itu Baruto segera mencoba menebaskan pedangnya sebelum berhenti karena ada yang menyerang. Dengan cepat ia melompat untuk menghindari serangan itu.
Duagh! Krak!
Sebuah retakan tercipta ditanah tempat ia berdiri tadi. Naruto sendiri yang melihatnya hanya menatap datar dan tidak menyangka kalau pukulan itu sangat kuat. Ia kembali berdiri dan melihat kalau keempat penjaga itu sudah siap. Naruto segera mengambil 2 buah kunai Hiraishin dari total 7 yang tersisa.
Naruti menempatkannya disela-sela jari dan melemparkannya kearah penjaga itu. Para penjaga sendiri sudah bersiap jika pisau itu mengarah pada mereka tapi ternyata justru hanya menancap ditanah.
"Hahaha! Lemparanmu sungguh buruk!"
"Apa ini yang dinamakan Night Raid?!"
"Bagiku dia hanyalah penjahat kelas teri saja, hahahaha."
Secara otomatis mereka tertawa dengan keras dan mengejek Naruto. Sedangkan Naruto sendiri hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya dan secara tiba-tiba seringai kejam tercipta diwajah tampannya.
'Kau siap, Kurama?'
'Tentu saja gaki. Tunjukan pada mereka keganasan Inang dari Kyuubi No Youko!'
Naruto segera mengangkat tangan kirinya dengan jari tengah dan telunjuk yang mengarah keatas.
"Hiraishin!"
Sring!
Naruto langsung menghilang dalam kilatan orange sehingga membuat semuanya bersiaga dan waspada.
Jrash!
Merasakan cipratan darah dari belakang, salah satu penjaga terkejut saat melihat kalau rekannya sudah tewas dengan luka menganga dilehernya. Belum sempat ia bergerak untuk memberitahu rekannya yang lain, sebuah tangan telah membekap mulutnya dan menariknya kedalam gelapnya hutan.
Dua penjaga lainnya segera mendekatkan diri merapatkan punggung masing-masing. Keringat dingin nampak terlihat dileher mereka saat merasakan hawa membunuh yang sangat besar.
Brash!
Keduanya terkejut saat tiba-tiba sesuatu jatuh dari atas pohon, mereka sebenarnya berniat pergi saat menyadari kalau yang jatuh itu bukanlah kelapa. Tapi ketika sudah sangat dekat, dapat mereka berdua lihat kalau salah satu rekan mereka telah mati dengan kondisi mengenaskan dimana mulutnya robek hingga telinga dengan satu bola mata yang keluar dari tempatnya dan tampak menggantung.
Tanpa sadar kalau ada seseorang yang berambut pirang telah berdiri dibelakang mereka.
Jrash!
"Mmmpphh!!!! Mmppphhhh!"
Salah satu penjaga nampak meronta-ronta hebat ketika lehernya telah ditusuk oleh pedang hitam milik Naruto. Setelah sudah cukup, Naruto segera melepaskan katana yang ia pegang dan melihat kearah penjaga yang berdiri gemetar. Mengetahui kalau penjaga itu sudah ketakutan membuat Naruto memperlebar kembali seringainya sambil menyeret katana gedoudama sehingga menambah aksen mengerikan.
"Sebenarnya apa yang kalian untungkan saat mendapatkan kepercayaan dari negeri yang busuk ini?" tanya Naruto.
Melihat kalau tidak menjawab, Naruto segera mengayunkan katananya dan memotong lengan kirinya.
Jrash!
"Arrrkkkk!" Penjaga itu berteriak kesakitan sambil mencoba menghentikan pendarahan hebatnya itu.
Melihat hal tersebut tidak membuat Naruto puas. Sekali lagi ia mengayunkan pedangnya sehingga memotong lengan kanannya. Lagi-lagi penjaga itu berteriak keras. Merasa belum cukup, Naruto mengayunkan Katana yang ada digenggamannya itu dengan cepat secara berulang kali hingga wajah penjaga tersebut tidak dapat dikenali lagi.
Setelah merasa semuanya sudah selesai, Naruto segera memerintahkan gedoudama tadi untuk kembali menjadi semula. Ia pun segera berjalan kearah kedua kunai Hiraishin yang ia lemparkan tadi.
"Oi! Naruto!"
Merasa ada yang memanggil, Naruto menoleh dan melihat kalau yang memanggilnya tadi adalah Lubbock yang sedang berlari kearahnya dan diikuti oleh yang lain.
Tap!
"Ada apa kalian kesini?" tanya Naruto sambil memasukkan kembali kunainya.
"Kami hanya ingin mengecekmu dan sekaligus menolong. Tapi sepertinya tidak perlu." ujar Bulat.
Naruto sendiri hanya ber,oh ria sebelum melihat kearah Akame yang menatap sekeliling. Dirundung rasa penasaran, Naruto pun segera bertanya.
"Ada apa Akame-chan?" tanya Naruto.
Akame menatap Naruto dengan wajah yang sedikit merona ketika Naruto memanggilnya dengan akhiran -chan meski ia bisa menyembunyikannya dengan baik. Disisi lain nampak kalau Leone terlihat kesal karena perkataan Naruto.
"Kenapa disini hanya ada 4 penjaga, Naruto...-kun. Dimana yang kelima?" tanya Akame meski sedikit kaku saat memanggil nama Naruto.
Naruto mengangkat bahunya. "Entahlah karena yang kulawan memang hanya 4 penjaga saja."
Mendengar perkataan dari Naruto membuat semuanya berpikiran yang sama termasuk Naruto sendiri.
"Kita harus segera ketempat Tatsumi." pinta Bulat.
Semuanya mengangguk termasuk Naruto. Belum sempat beberapa langkah, suara Lubbock menarik perhatian Naruto.
"Naruto, bukannya Tatsumi saat ini masih belajar bertarung denganmu. Lalu kenapa kau terlihat tidak khawatir?" tanya Lubbock.
Mendengar itu justru membuat Naruto tersenyum. "Karena tugas seorang guru pada muridnya selain mengajari adalah percaya pada muridnya sendiri."
- At TatsumiMine Place -
"Ini tempat kita berkumpul. Misi berhasil." ujar Mine sambil melihat kearah pohon sakura.
"Ini masih belum selesai sampai kita melaporkannya!"
"Hmph! Apa kau mempelajarinya dari Akame?"
Wush!
Merasa ada sesuatu, Tatsumi berbalik dan melihat kalau ada seseorang yang mencoba untuk menyerang Mine. Dengan hasil latihannya dengan Naruto, Tatsumi segera mendorong Mine menahan pukulan itu meski ia juga ikut terlempar.
"Tatsumi! Ka-kau..." Ucapan Mine berhenti saat melihat siapa yang menyerang.
"Lumayan juga, bisa dibilang begitu." ujar penjaga tersebut.
Mine tampak memegang lebih erat Teigunya. "Kau pasti petarung dari Koukenji." tebaknya.
"Tepat sekali. Aku bahkan pernah menjadi suhu meskipun itu sepuluh tahun lalu!" jawab penjaga itu.
"Dan sekarang kau cuma pengawal rendahan? Sepertinya peringkatmu menurun jauh, ya!" ledek Mine sambil mengarahkan Pumpkin.
Drtdrtdrtdrtdrtdrtdrt!
"Aku sedikit nakal, jadi mereka mengeluarkanku."
Mine tampak sedikit gelisah saat melihat semua tembakannya tidak ada yang kena. Merasa sudah dekat, penjaga itu langsung melompat untuk memukul Mine.
"Aku akan sedikit bersenang-senang sebelum menyerahkanmu ke Perdana Menteri. Bersiaplah!"
Niat penjaga itu terhenti saat merasakan sesuatu. Dengan cepat ia berbalik dan menahan sebuah pedang hitam yang mengarah padanya. Namun bukan itu tujuan Tatsumi, karena setelah dipegang dengan cepat ia melepaskan pedang itu dan langsung memeluk penjaga tersebut.
"Sekarang, Mine! Tembak!" pinta Tatsumi.
"Tatsumi..." ujar Mine pelan. "Kau rela mengorbankan nyawamu..." lanjutnya sambil menangis bombay.
"Enggak bego! Kau itu penembak jitu jenius,kan? Aku percaya padamu." ujar Tatsumi sambil sedikit tersenyum.
Mine sendiri terpana saat mendengar perkataan Tatsumi meski Tatsumi sendiri sedang dipukul-pukul oleh penjaga itu.
Mine menundukkan kepalanya. "Dasar anak baru bodoh. Baiklah, akan kulakukan!" ujarnya sambil mengarahkan Pumpkin.
Penjaga itu nampak terkejut. "Tunggu...!"
Secara perlahan namun pasti Pumpkin mengumpulkan seluruh energi dan mengubahnya menjadi padat. Setelah cukup, Mine pun menarik pelatuknya.
Dor!
Sebuah laser dengan konsentrasi tertinggi langsung melesat dan menembus tempat jantung dari penjaga itu. Tembakan tersebut juga menghasilkan sebuah lubang yang menganga.
"Bajingan kau... Jangan pikir kau bisa kabur... Setelah membunuh kenalan Perdana Menteri..." ujar penjaga itu sebelum mati.
Tatsumi sendiri masih terengah-engah karena aksi nekatnya tadi. Mine sendiri sudah berdiri tepat dihadapan Tatsumi.
"Kau berani juga. Sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain sedikit mengakui-"
Ctak!
"Ittai...?!"
Mine menatap bingung Tatsumi sambil memegang dahinya yang baru saja disentil dengan mata yang sedikit berkaca.
"Peluru itu hampir saja... Lihat apa yang kau lakukan pada kepalaku!" protes Tatsumi sambil memperlihatkan rambutnya yang gosong karena tembakan Mine.
"A-apa?! Padahal aku baru mau mengakuimu!"
"Urusai! Kau bukanlah penembak jitu jenius."
Dari jauh dari Naruto dan yang lain lihat pertengkaran Tatsumi dan Mine. Naruto pun menepuk pelan puncak kepala Akame dan sedikit mengelusnya.
"Sudah kubilang tidak apa-apa,kan." ujar Naruto sambil tersenyum lebar.
"Umu." angguk Akame dengan rona merah diwajahnya karena perlakuan Naruto.
.
.
~AND~
.
.
Disalah satu sudut Ibu Kota, nampak seseorang yang sangat mencurigakan. Orang itu terlihat memandang sebuah poster.
"Sama seperti aku. Seorang pengguna Teigu, pembunuh..." ujar Orang itu sambil melihat poster yang tidak lain adalah poster Akame. Sedetik kemudian sebuah seringai menjijikan muncul diwajahnya. "Bagus... Bagus... Jadi orang seperti dia juga memberontak."
Tap! Tap!
"Hei Kau!"
"Kau terlihat mencurigakan... Jangan bergerak!"
Orang itu melirik kebelakang sehingga menampakkan wajahnya dan melihat siapa yang telah membentaknya tadi. Ternyata yang membentaknya ialah Polisi Militer Kerajaan.
Crash Crash!
Secara tiba-tiba orang itu sudah berada dibelakang polisi militer kerajaan sedangkan polisi tadi masih berdiri meski tanpa kepala.
Brugh! Brugh!
"Sepertinya Ibu Kota tempat yang sangat nyaman untuk hidup. Sangat banyak orang disini, aku sampai tidak ingat sudah memotong berapa kepala! Bagus sekali!!" ujarnya sambil memperlihatkan seringai mengerikan.
- To Be Continued -
Note: Assalamualaikum... Akhirnya selesai juga untuk Chapter 4. Seperti yang ane bilang dicatatan sebelum masuk cerita kalau antara Chapter 4 atau Chapter 5 merupakan Chapter terakhir sebelum ane masuk kembali ke asrama.
Eit... Jangan mengira kalau cerita ini sudah selesai. Akan ane usahain untuk membuat Chapter 5 dan 6 dibuku sebelum memindahkannya dihp. Terima kasih karena sudah mau membaca cerita ane. *bungkuk 90 derajat.
Maaf bila kali ini masih ada sering typo dan kesalahan kata karena biasanya itu semua lepas dari pengawasan ane. Silahkan review dan beri saran untuk cerita ane.
QuestAnswer:
Q: apakah dific ini akan banyak karakter yang mati?
A: kemungkinan iya, ditunggu saja kelanjutannya.
Q: Tatsumi manggil Naruto dengan sebutan sensei?
A: akan ane pikirin lagi tapi terima kasih atas sarannya.
Q: bakalan ada Sasuke apa nggak?
A: rencana bakalan kasih masuk. Kan tugas resmi dari Sang Rokudaime.
Q: apakah seluruh karakter di dimensi Naruto akan datang ke dimensi Akame Ga Kill?
A: hanya beberapa saja yang akan ane kasih masuk.
Mungkin itu saja jawaban dari pertanyaan yang ada direview. Mohon maaf sekali lagi jika salah kata.
Assalamualaikum Wr. Wb.
[ Ichizan Hissatsu Out]
