DISCLAIMER: Saya tidak mengakui bahwa Naruto adalah milik saya tetapi milik om Masashi dan saya hanya meminjam karakter saja.

RATED: M

PAIR: Naruto X ?

SUMMARY: Uzumaki Naruto, Sang Nanadaime Hokage, menghilang saat melihat sesuatu yang membuatnya kecewa sehingga membuat kelima Desa besar panik saat mengetahui bahwa salah satu Pahlawan Perang telah menghilang dan tidak ada yang menyadari kalau Naruto telah berpindah dimensi.

NOTE: Assalamualaikum Wr. Wb... Apa kabar semuanya! Ketemu lagi dengan saya setelah sekian lama! Sepertinya perkataan saya di chapter sebelumnya, saya akan memposting chapter baru ketika sudah pulang kampung dan chapter inilah yang dimaksud. Tanpa membuang waktu, silahkan dibaca...

.

.

~AND~

.

.

Pada malam hari yang indah, sinar bulan menerangi jalanan Ibu Kota Kekaisaran. Malam tampak lebih tenang namun itu tidak berlaku bagi salah satu jalan Ibu Kota. Dijalanan itu nampak seorang pria yang sedang mencekik seorang wanita.

"Ku-kumohon...le-lepaskan aku..." mohon wanita tersebut.

"Bukankan orang tuamu sudah memperingatkan kalau ada seekor monster yang sedang berkeliaran dimalam hari." ujar pria itu sambil menyeringai.

Cengkraman pria itu sendiri semakin kuat. "Kurk... A-akan aku lakukan apapun... Jika kau melepaskanku." ujar wanita itu.

"Apapun?"

"Iya! Apapun!"

Pria tersebut semajin menyeringai. "Aku ini suka sekali mengobrol. Jadi, aku ingin bertanya. Bagaimana rasanya ketika kepalamu terpisah dari tubuhmu? Apa akan terasa hampa?"

Crash!

"Eh..." respon wanita itu dengan pandangan kosong.

Brug!

Tubuh wanita itu terjatuh sedangkan kepalanya masih dipegang oleh pria itu. Sebuah seringai menyeramkan kembali tercipta diwajah pria tersebut.

"Bagus... Bagus... Aku tidak bisa menghentikannya!!" teriak pria itu dengan gilanya.

.

.

~AND~

.

.

Dipagi yang cerah, terlihat masing-masing Night Raid yang sibuk pada aktivitasnya masing-masing namun itu tidak berlaku bagi sang Nanadaime, Naruto dan muridnya, Tatsumi. Mereka saat ini sedang berlatih tanding taijutsu ditempat latihan.

Tap! Sreeet!

"Heyaaah!"

Tatsumi segera berlari kearah Naruto sambil menyiapkan pukulannya. Naruto yang melihat itu hanya tersenyum saja.

Tak! Tak! Tak! Tak!

"Bagus Tatsumi! Terus pertahankan seperti itu!" ujar Naruto sambil menangkis seluruh pukulan Tatsumi.

Mendengar perkataan Naruto membuat Tatsumi kembali bersemangat. Ia semakin gencar menyerang Naruto menggunakan gaya bertarung klan Uzumaki. Disisi lain tempat latihan, Bulat terlihat memperhatikan latihan tanding tersebut.

"Ternyata Tatsumi menjadi semakin kuat saja." gumam Bulat.

Duagh! Sreet!

"Hah... Hah... Hah..."

Tatsumi melihat kedepan sambil terengah-engah setelah berhasil ditendang oleh Naruto hingga terpental beberapa meter kebelakang. Ia kembali memasang posisi sebelum berlari kearah Naruto.

"Heyaah!"

Tak!

Naruto berhasil menahan pukulan Tatsumi sebelum dikejutkan karena sebuah kaki sedang mengarah dikepalanya. Dengan cepat ia memiringkan kepalanya sehingga kaki Tatsumi hanya melewatinya saja.

Tatsumi sendiri menyeringai. "Kena kau."

Tak!

"Apa!"

Tatsumi terkejut ketika tendangannya berhasil ditahan sedangkan Naruto tersenyum melihat wajah terkejut muridnya.

"Jangan kau pikir bisa mengalahkanku dengan semudah itu!"

Naruto langsung mencengkram kaki kanan Tatsumi dan melemparnya. Bulat sendiri masih melakukan observasi.

"Untuk seukuran remaja sepertinya, Tatsumi sudah sangat kuat tetapi..." pandangan Bulat teralih pada Naruto. "...bagi Naruto, itu masihlah lemah."

Tak!

Melihat kalau pukulannya berhasil ditangkis kembali, Tatsumi segera mundur beberapa langkah sebelum menerjang kembali. Naruto terus menahan serangan Tatsumi dan sesekali membalasnya. Merasa kalau Tatsumi sudah mulai kelelahan, Naruto segera berniat mengakhirinya.

Ketika melihat celah, Naruto dengan cepat merendahkan tubuhnya dan langsung menjegal kaki Tatsumi dari depan sehingga remaja itu oleng kedepan.

"Eh...!"

Tatsumi secara otomatis langsung ngeblank namun serangan Naruto tidam berhenti disitu saja. Sang Hokage dengan cepat melakukan uppercut kearah dagu Tatsumi dengan sekuat tenaga meski tanpa chakra.

Duagh!

"Gaaah!"

Brugh!

Tatsumi langsung jatuh terbaring dan tidak bisa bangun. Naruto hanya menyeka keringat didahinya menggunakan lengan panjang bajunya sebelum berjalan kearah Tatsumi yang masih terengah-engah.

"Aku menang lagi, Tatsumi." ujar Naruto sambil mengulurkan tangannya.

Tatsumi membuka sebelah matanya dan menerima uluran Naruto. "Ugh... Kau selalu saja hebat, Naruto-sensei."

"Hei-hei, jangan berkecil hati. Kalau kau terus berlatih, bisa saja kau mengalahkanku." hibur Naruto.

"Tapi itu butuh waktu yang la-"

"Yang dikatakan oleh Naruto itu memang benar."

Tap! Tap! Tap!

Naruto dan Tatsumi melihat kearah sumber suara dimana Bulat sedang berjalan kearah mereka berdua.

Tap!

"Yang dikatakan oleh Naruto memang benar, Tatsumi. Jika kau terus saja berlatih, suatu saat nanti kau pasti bisa melampauiku dan Naruto. Tentu saja kau harus selalu bersemangat." nasihat Bulat sambil mengait leher Tatsumi.

"Aniki!"

Naruto kembali tersenyum saat melihat keakraban diantara mereka berdua. Ia mengarahkan tangan kirinya kearah lengan kanan yang terbalut perban itu.

'Tendangannya Tatsumi kuat juga.' batin Naruto sambil mengurut lengannya.

"Tatsumi?"

Mereka bertiga menoleh kearah suara dan melihat kalau Akame sedang berdiri disana sambil bersidekap dada. Akame terlihat cantik ketika rambutnya diikat ponytail sambil memakai celemek berwarna pink. Bahkan sampai membuat Naruto memalingkan wajahnya yang merona hebat.

'Ingat umur, bodoh! Akame itu masih muda sedangkan kau sudah berkepala tiga!' jerit Naruto dalam hati.

'Cinta itu tidak memandang umur, gaki.'

'Diam kau bola bulu!'

'maniak ramen'

'Tukang tidur!'

'Tukang onar.'

'Kucing pemalas!"

'Aku rubah, bocah bego!!' kali ini Kurama membalas ejekan Naruto dengan suara marah.

'Itu sama saja!!'

'Tentu saja beda!!'

"Tatsumi, hentikan acara berpelukanmu dan bantu aku memasak didapur." ujar Akame dengan nada sedikit menghina.

Mereka terdiam beberapa saat untuk meresapi perkataan Akame. Tatsumi sendiri hanya mengerjapkan matanya sebelum menoleh kesamping dan menyadari kalau wajah Bulat sangat dekat dengannya.

"Huwaaa!"

Secara reflek Tatsumi melepaskan diri dari kaitan Bulat dan segera menjauh. Akame hanya menatap polos sambil mengerjapkan mata beberapa kali.

.

.

~AND~

.

.

Didesa Konoha kali ini tampak tenang sekali. Banyak warga yang melakukan aktivitasnya masing-masing. Disalah satu lapangan yang ada di Konoha atau lebih tepatnya dilapangan No.7, terlihat 8 orang anak yang sedang berkumpul.

"Ne Boruto, bagaiman keadaannya Himawari?" tanya seorang anak yang rambutnya dikuncir.

Boruto menghela nafas. "Keadaan Himawari masih panas, Shikadai." jawabnya.

"Bukannya sudah 12 hari Himawari-chan sakit, Boruto-kun?" tanya anak perempuan yang berambut ungu.

Boruto mengangguk. "Memang benar, Sumire. Kata dokter, Himawari hanya sakit demam saja. Tidak kurang dan tidak lebih."

"Nyam... Emangnya apa penyebabnya, nyam..." kali ini anak perempuan bertubuh gemuk yang bertanya sambil memakan kripik kentang.

Kali ini Boruto mendengus. "Apa lagi kalau bukan penyebabnya karena ayah yang tidak berguna itu."

"Boruto, kau tidak boleh menghina Nanadaime-sama yang notabene adalah ayahmu." tegur anak perempuan berambut hitam yang memakai kacamata.

"Dia memang tidak berguna, Sarada. Bahkan disaat Himawari sakit seperti ini, dia justru pergi entah kemana."

"Ngomong-ngomong." semuanya menoleh kearah anak yang berambut biru keputihan. "Aku tidak melihat Hokage-sama selama ini. Emangnya beliau pergi kemana, Boruto?"

"Aku tidak tahu dia pergi kemana, yang penting saat dia kembali nanti akan aku hajar dia karena telah membuat Kaa-san menangis dan Himawari sakit." jawab Boruto sambil berjalan pergi.

Sarada hanya menatap kepergian temannya itu dengan sendu. "Boruto..."

Sedangkan didalam rumah keluarga Uzumaki atau lebih tepatnya didalam salah satu kamar. Hinata saat ini sedang mengganti kompres yang sudah dingin dengan kompres yang hangat dan meletakkannya didahi Himawari. Setelah menaruh kompres, Hinata langsung duduk disamping kasur sambil menggenggam tangan anaknya menggunakan kedua tangan.

Hinata mendekatkan tangan Himawari kearah wajahnya. "Cepatlah sembuh, sayang..."

Mungkin karena sedikit terganggu dengan suara Hinata atau merasakan tangannya digenggam, Himawari sedikit menggeliat.

"Papa..."

Sontak Hinata mengangkat wajahnya saat mendengar lenguhan pelan Himawari. Mata berwarna amethyst itu mulai berkaca-kaca saat menyadari kalau Himawari sangat merindukan Naruto.

"Hiks... Kau pasti sangat... Hiks... Merindukan ayahmu, nak. Hiks... Sama deperti ibumu ini..."

Pertahanan Hinata kembali pecah saat mengingat kebodohannya. Ia sangat menyesal karena telah mengkhianati Naruto. Hinata merasa dirinya adalah wanita rendahan karena telah berselingkuh.

"Hiks... Hiks... Kau punya ibu yang sangat bodoh... Hiks... Himawari..." ujar Hinata sambil menangis.

Ting-Tong!

Disela-sela menangis, Hinata mendengar suara bel. Dengan segera ia menghapus air matanya dan segera turun kebawah. Ia berjalan kearah pintu dab membukanya.

Cklek! Kriet!

"Otou-sama!"

Betapa terkejutnya Hinata saat mengetahui kalau yang berkunjung kerumahnya adalah ayahnya. Hiashi sendiri hanya berdiri diam dengan wajah datar meski sudah keriput.

"Boleh Tou-sama masuk, Hinata?"

Hinata gelagapan. "Ten-tentu saja Otou-sama, silahkan masuk. Bi-biar Hinata buatkan teh untuk Otou-sama."

"Terserah."

Dan Hinata tidak pernah mengingat kalau ayahnya berbicara menggunakan nada yang seperti itu.

-- Skip Time --

Disinilah Hinata berada. Ia dan ayahnya saat ini sedang duduk diruang tamu tanpa adanya pembicaraan sama sekali. Hiashi hanya duduk diam sambil menutup mata dan sama sekali tidak menyentuh tehnya yang sudah dingin.

Hinata sendiri duduk dihadapan ayahnya dengan kepala yang tertunduk. Sudah lama sekali Hinata tidak melihat sifat Hiashi yang seperti ini. Perlakuan dingin ayahnya sudah tidak pernah Hinata lihat lagi setelah ia kalah dari Neji ketika ujian Chunnin dulu tapi entah kenapa sifat dingin itu justru muncul kembali.

Hiashi akhirnya membuka matanya dan menatap lurus Hinata. "Bagaimana kondisi Himawari, Hinata?"

"Himawari masih saja demam, Otou-sama." jawab Hinata yang masih menundukkan kepalanya.

Lagi-lagi suasana menjadi canggung karena tidak adanya pembicaraan. Hinata karena takut melihat ayahnya sedangkan Hiashi masih memikirkan topik apa yang akan dibicarakannya. Setelah beberapa saat, Hiashi memutuskan untuk memulai kembali pembicaraan.

"Sebenarnya apa yang ada dipikiranmu itu, Hinata?"

Sontak Hinata mengangkat kepalanya dan melihat ayahnya dengan pandangan bingung. Hiashi yang melihat pandangan bingung itu mulai membuka mulutnya kembali.

"Kenapa kamu justru mengkhianati Naruto? Apa karena dia seorang Jinchuriki? Atau karena kau sudah tidak mencintainya lagi?" tanya Hiashi.

"A... Aku..."

Lidah Hinata terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Hiashi. Entah kenapa ia justru takut untuk menjawabnya. Hiashi sendiri hanya terdiam beberapa saat sebelum menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya disofa.

Pria yang sudah menjadi kakek-kakek itu mengangkat kepalanya dan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Dulu ayah tidak pernah menyangka kalau Naruto akan menjadi menantu ayah. Ketika dia masih kecil, ayah hanya melihatnya sebagai anak pembawa onar, idiot, tolol dan shinobi yang tidak berguna."

Hinata kembali mengangkat wajahnya dan menatap ayahnya yang masih melihat kearah langit-langit. Senyum kecil terbentuk diwajah cantik Hinata saat mengingat ketika Naruro menolongnya dari ketiga anak nakal yang mengejeknya dulu.

"Ayah pernah berpikir saat melihatnya berbuat kenakalan 'kenapa anak itu bisa terlahir didunia ini?'. Pada saat itu ayah hanya melihatnya tanpa mencoba untuk memahami perasaannya kala ketika kecil dulu."

Hinata melihat ayahnya dengan terkejut, tidak ia sangka kalau ayahnya itu pernah memiliki pemikiran seperti itu pada suaminya. Ada sebersit rasa marah tetapi Hinata lebih memilih untuk diam mendengarkan cerita dari ayahnya.

"Meski dulu kamu sering mengikutinya ketika kecil tetapi selalu ada kejadian yang tidak kamu ketahui." ujar Hiashi yang kemudian menatap Hinata.

Hinata menatap penasaran ayahnya dengan pandangan yang mengartikan 'apa itu, Otou-sama?'.

"Ketika suatu siang saat ayah baru pulang dari kantor Hokage, ayah melihat Naruto saat itu sedang berjalan kearah suatu tempat. Melihat beberapa kunai dan shuriken yang menancap ditubuhnya maka tidak bisa dikatakan kalau kondisinya sedang baik. Dengan berjalan tertatih-tatih, Naruto kecil saat itu berusaha untuk menuju suatu tempat."

"Mungkin karena penasaran dan bukannya kasihan, ayah pergi mengikuti kemana dia pergi. Ayah pikir kalau dia akan berjalan kearah rumah sakit, tetapi dugaan ayah salah. Naruto bukannya berjalan kearah rumah sakit namun justru menuju Shi No Mori."

Hinata menatap ayahnya dengan bingung. "Bukannya Naruto-kun memang selalu kesana, Otou-sama."

"Ternyata kamu masih memanggil dengan panggilan 'Naruto-kun' setelah mengkhianatinya." ujar Hiashi dengan dingin.

"Ma... Maaf."

Hiashi menghela nafas. "Ayah terus mengikutinya hingga ditengah-tengah hutan. Ayah melihatnya sedang berendam dialiran sungai, ia sedang mencabut seluruh kunai dan shuriken itu dengan senyuman dibibirnya. Kala itu ayah tertegun saat melihat senyumnya, senyum yang ayah lihat waktu itu bukanlah senyum lebar yang sering ditunjukkannya tetapi senyum tenang yang meneduhkan dan mengenal baik pahit manisnya kehidupan."

"'Tidak apa-apa, aku tidak tersakiti kok' itulah kalimat yang sering Naruto ucaokan saat mencabut semua kunai dan shuriken itu."

"Dan pada akhirnya ayah memustuskan untuk keluar dari persembunyian dan berjalan kearah Naruto. Ketika anak itu melihat ayah, bisa ayah lihat kalau cahaya yang berada pada bola matanya sudah sedikit kusam. Kehilangan cahayanya sedikit."

"Kami berdua berbincang-bincang sebentar dan saat puncak pembicaraan itu, ayah berkata 'takdir itu tidak bisa diubah Naruto. Kau itu lemah dan tidak akan bisa menjadi shinobi yang hebat. Bahkan dirimu masih kalah dari Uchiha Sasuke. Jadi, berhentilah untuk menjadi seorang shinobi.'" ujar Hiashi.

Deg! Deg!

Jantung Hinata terasa berhenti berdetak saat mendengar perkataan ayahnya. Tidak pernah Hinata duga kalau ayahnya akan mengatakan hal yang sekejam itu, terlebih lagi pada suaminya.

"Ayah melihat kalau Naruto terdiam dan ayah pikir kalau Naruto akan mendengarkannya. Namun justru dialah yang membuat ayah terdiam dengan kata-katanya."

"'Aku adalah Uzumaki Naruto! Orang yang suatu saat nanti akan menjadi Hokage! Jika takdir memang tidak bisa diubah! Maka aku adalah orang pertama yang akan mengubah takdir itu! Dan aku tidak akan menarik kata-kataku karena itulah jalan ninjaku!.' Itulah kata-kata yang disebutkannya dengan lantang."

"Awalnya ayah tidak percaya dengan ucapannya karena saat itu dia masihlah akademi. Tetapi seiring berjalannya waktu, Naruto mulai membuktikan semua ucapannya dan itu dimulai dengan mengalahkan Neji." Hiashi menghentikan ucapannya. Pria tua itu menatap Hinata dengan pandangan mata yang teduh.

"Asal kamu tahu Hinata, ayah sangat senang sekali ketika pernikahanmu digelar. Ayah pernah khawatir akan kehidupanmu nantinya tetapi kekhawatiran itu menghilang ketika Naruto datang untuk melamarmu. Saat ayah melihatmu menikah, ayah menjadi tenang karena bisa menepati janji ibumu pada ibu Naruto."

Mata amethyst yang indah milik Hinata mulai berkaca-kaca saat mendengar semua perkataan Hiashi. Ia kembali mengingat dimana Naruto selalu hampir mati. Terlebih lagi ia mengingat kalau Naruto pernah sekarat saat mencoba menyelamatkannya dari Toneri.

Mengingat kejadian itu dan secara bersamaan mengingat kalau dia sudah berselingkuh membuat tangisan Hinata justru semakin keras dan bergumam 'aku menyesal.' Hiashi hanya melihat itu dengan sendu.

Ia sebenarnya kasihan dengan keadaan anak sulungnya itu. Namun itu justru kesalahan anaknya sehingga ia hanya bisa diam tanpa membantu sama sekali.

.

.

~AND~

.

.

"Kita mendapat dua misi dari Markas Pasukan Revolusi." tukas Najenda.

Stab!

Sebilah pisau bertipe combat menancap dimeja. "Markas ingin kita untuk membunuh pelaku pembunuhan yang terjadi di Ibu kota akhir-akhir ini. Pelaku pembunuhan ini punya ciri khas yaitu selalu memotong kepala korbannya." jelas Najenda.

"Dari kabar yang kudengar di Ibu kota, korban kali ini sudah mencapai 15 orang." tambah Naruto.

"Dan kalau tidak salah 6 dari korban adalah Polisi Militer Kerajaan. Kalau begitu musuh kita kali ini sangatlah kuat." timpal Tatsumi.

Lubbock memegang dagunya dan berpikir. "Dari cara korban yang terbunuh, itu berarti pelakunya adalah Kubikiri Zank."

"Kubikiri Zank?" beo Naruto dan Tatsumi bersamaan dengan tanda tanya yang melayang diatas kepala.

"Kalian berdua tidak tahu? Sepertinya tempat tinggal kalian itu sangat terpencil." ledek Mine.

Twich!

"Grr... Bocah ini." geram Tatsumi dengan sebuah perempatan didahinya.

Naruto sendiri hanya menghela nafas. 'Kurama, bisa katakan kenapa aku seperti dibenci olehnya?'

'Mungkin karena kau itu seorang duda.'

Perempatan muncul juga didahi Naruto. 'Lucu sekali, Kurama. Lucu sekali.'

"Apa benar kalian berdua tidak tahu, siapa itu Kubikiri Zank." ujar Leone.

Spontan mereka berdua mengangguk. "Betul Nee-san. Emangnya dia itu siapa?" tanya Tatsumi.

"Summimasen, aku juga ingin tahu."

"Kalau Sheele mungkin hanya lupa." Mine menghela nafas dan melihat kearah Naruto serta Tatsumi. "Kubikiri Zank, dulunya dia adalah seorang algojo kekaisaran. Dia ditunjuk sebagai algojo karena kemampuannya yang hebat. Sejak Perdana Menteri mengendalikan Kaisar yang sekarang, makin banyak kepala orang yang harus dipenggalnya. Baik orang bersalah maupun tidak bersalah."

"Tiap hari, tiap jam, tiap menit dan tiap detik. Pekerjaannya terus memenggal kepala bahkan orang yang tidak bersalah namun dihukum tetap ia penggal. Sehingga memenggal kepala itu sudah menjadi kebiasaannya. Mungkin karena belum puas memenggal kepala orang-orang dipenjara, akhirnya dia memenggal kepala orang-orang secara acak." jelas Mine.

"Dan jangan lupa sejak adanya perintah untuk menangkapnya, orang itu justru menghilang tanpa jejak. Namun tidak kusangka kalau orang itu berani untuk menampakkan dirinya lagi." tambah Bulat.

"Melakukan pekerjaan itu pasti mengguncang jiwa seseorang, kan." ujar Tatsumi.

"Atau karena dia itu seorang maniak." timpal Naruto. Dibenaknya terbayang sosok Orochimaru yang sering melakukan eksperimen pada manusia sebelum orang itu bertobat.

"Betul sekali Naruto-sensei! Dasar pria psikopat! Kita harus segera menghentikannya!!!"

Naruto memegang bahu Tatsumi. "Tenanglah Tatsumi, kita harus segera membuat rencana untuk menghentikannya."

Pluk!

"Yang dikatakan oleh Naruto memang benar, kita harus mengatur rencana terlebih dahulu. Terlebih lagi Zank mencuri teigu milik kepala penjaga sehingga jika gegabah untuk melawannya... " Bulat mengulurkan tangannya. "Kau bisa berada dalam bahaya." ujarnya sambil memegang dagu Tatsumi dengan ilustrasi bunga-bunga disekitar.

'Saat ini aku berada dalam bahaya dengan artian berbeda!!'

"Fusssh~ seperti yang dikatakan oleh Bulat, kita tidak boleh gegabah untuk melawannya. Karena itu kalian akan kubagu menjadi tiga kelompok. Yang pertama Akame dan Tatsumi, yang kedua Sheele dengan Mine dan yang terakhir adalah Leone sama Lubbock." ucap Najenda setelah membuang asap rokok.

"Bos, kenapa Naruto dan Bulat tidak ikut dengan kami?" tanya Leone yang diikuti anggukan yang lainnya.

"Oh iya, aku hampir lupa." Najenda mengambil sebuah gulungan dab melemparkannya kearah Bulat.

Tep!

"Apa ini?"

"Itu adalah lokasi misi untuk kalian. Misi kalian adalah membunuh kenalan Perdana Menteri yang bernama Galma. Dia sering melakukan perdagangan manusia dan obat-obatan terlarang dan kegiatannya tersebut dilindungi oleh Perdana Menteri sendiri. Meski tidak punya pengawal, tapi berhati-hatilah karena dia sering menyewa bandit-bandit yang hebat." jelas Najenda dengan pandangan serius.

Naruto tertegun. "Berdua saja?"

"Yap, hanya berdua."

Naruto menghela nafas. "Yare, yare, sepertinya kali ini hanya kita berdua saja ne, Bulat."

"Kau benar Naruto dan ini justru membuatku bertambah semangat, hahahaha!"

Naruto hanya tertawa hambar saat melihat kalau temannya itu sangat mirip dengan Rock Lee dan Might Guy. Mengingat mereka berdua justru membuatnya sedikit merindukan mereka.

'Bagaimana kabar mereka semua, ya?' batin Naruto.

-- Skip Time --

Dimalam hari yang nampak cerah di Ibu Kota, terlihat dua orang berbeda gender sedang berjalan-jalan disalah satu gang. Mereka berdua adalah Akame dan Tatsumi.

Tap!

"Yeah, kita berdua ditugaskan disini seauai petunjuk peta." ujar Akame setelah melihat peta.

"Sepertinya semua warga disini tidak ada yang berani keluar rumah, ya." Tatsumu melihat sekeliling dimana jalanan sudah sepi dan pintu-pintu rumah sudah tertutup. "Ternyata mereka semu- hmph!!!"

Perkataan Tatsumi tidak berhasil diselesaikan karena keburu dibekap oleh Akame dan ditarik kearah salah satu dinding perumahan.

Drap! Drap!

"Cepat! Cepat! Kita harus segera menemukan pembunuh itu!"

Terlihat 7 Polisi Militer Kerajaan sedang berlari melewati tempat Akame dan Tatsumi berada tadi. Akame sendiri mengintip mereka dan disebelahnya ada Tatsumi yang duduk ikut bersembunyi.

"Fuah!" Tatsumi langsung menghirup nafas secara rakus ketika tangan Akame sudah tidak ada lagi diwajahnya. "Sebenarnya ada apa sih?"

"Itu Polisi Militer Kerajaan, meski hanya mereka tapi kita harus berhati-hati juga dengan mereka." ujar Akame.

Set!

Akame segera berdiri dan menepuk-nepuk roknya untuk membersihkan debu yang menempel. "Ayo, kita harus segera pergi dari daerah sini."

Tatsumi mengangguk dan mengikuti Akame dari belakang. Mereka terus berjalan dalam keheningan dimalam hari. Tatsumi yang mulai bosan mencoba membuka obrolan.

"Hei!" panggil Tatsumi.

"Kenapa?"

"Teigu itu sebenarnya apa?"

Set! Sring!

"Benda menakjubkan seperti ini." jawab Akame sambil menodongkan Murasame kearah Tatsumi.

Keringat sebesar biji jagung mengalir dipelipis Tatsumi. "Sebenarnya ane gagal paham."

Pandangan Akame secara tiba-tiba menajam. "Sekitar 1000 tahun yang lalu, ketika Kekaisaran baru saja terbentuk, Kaisar pertama sempat memikirkan ini 'aku ingin terus melindungi Kekaisaran ini namun suatu saat aku akan mati. Tapi... Senjata dan armor tidak akan mati dimakan usia.'"

"'Segera buat senjata yang paling kuat! Demi Kerajaan tercinta kita!' menurut legenda, bahan-bahan dari teigu adalah bagian tubuh dari Danger Beast dan logam-logam yabg paling langka seperti Orihalcon. Seluruh peneliti diseluruh dunia didatangkan untuk membantu."

"Setelah memakan waktu lama, akhirnya mereka semua berhasil menyelesaikan misi yang tidak mungkin pada saat itu. Seluruh senjata itu berjumlah 48 buah dan diberi nama teigu."

"Menurut kabar, seseorang yang memiliki teigu bisa mendapatkan kekuatan yang setara dengan 100 prajurit. Dan Kaisar saat itu membayar siapapun yang mempunyai teigu sehingga kekuatan Militer Kerajaan bisa lebih kuat dari biasanya."

"Karena saking kuatnya teigu sehingga terdapat satu peraturan tak tertulis yang bersifat mutlak. Jika kedua pengguna teigu saling bertemu satu sama lain dan bertarung, maka salah satunya pasti akan mati. Namun jika seri maka kedua pengguna teigu tersebut juga akan mati." jelas Akame.

"Jadi, maksudmu semua orang dimarkas memiliki teigu?"

Akame mengangguk. "Iya, bahkan bos juga mempunyai teigu."

"Yang pertama, Ichizan Hissatsu: Murasame. Teigu yang berbentuk katana ini memiliki racun kutukan yang sangat mematikan, bahkan penawarnya pun tidak ada. Teigu ini bisa membunuh lawan dalam sekali tebas saja serta luka kecil yang diakibatkan oleh katana ini. Moto dari Murasame sendiri adalah 'satu tebasan pasti mati'."

"Yang kedua, Roman Houdai: Pumpkin. Teigu yang memiliki bentuk seperti sebuah senapan. Pumpkin menggunakan daya hidup penggunanya sebagai peluru."

"Yang ketiga, Hyakujuu Ouka: Lionelle. Teigu yang berbentuk sabuk ini bisa mengubah penggunanya dalam mode hewan sehingga seluruh stastiknya meningkat. Baik itu kecepatan, kekuatan, insting bahkan semua indera."

"Yang keempat, Senpen Bangka: Cross Tail. Teigu ini memiliki bentuk sebuah benang yang tidak biaa putus sehingga penggunanya bisa mengkreasikannya tanpa batas."

"Yang kelima, Akki Tenshin: Incursio. Teigu berbentuk armor ini memiliki pertahanan yang keras dan didiami jiwa dari Danger Beast jenis naga yang sangat ditakuti. Karena besarnya stamina yang dibutuhkan, jika orang biasa yang menggunakannya maka orang itu akan langsung mati."

Glek!

Menghiraukan Tatsumi yang menelan ludahnya, Akame melanjutkan penjelasannya. "Kemudian yang keenam, Banbatsu Ryodan: Extase. Teigu yang berbentuk gunting raksasa ini memiliki kemampuan yang bisa memotong apapun. Karena ketebalannya jugalah, Extase bisa digunakan untuk bertahan."

"Itulah teigu-teigu yang berada dimarkas untuk saat ini." ujar Akame.

"Mm... Kalau teigu milik Naruto-sensei, apa kau mengetahuinya?" tanya Tatsumi pada gadia disebelahnya itu.

Tap!

"Dia pernah bilang kalau nama dari teigu miliknya itu adalah Gedoudama, tapi aku tidak tahu cara penggunaannya." jawab Akame.

"Wah... Sayang sekali kalau kau belum pernag melihat dia menggunakannya. Teigu milik Naruto-sensei sangat keren." ujar Tatsumi.

Akame menoleh dengan pandangan bingung. "Sangat keren? Maksudmu?"

"Iya! Sangat keren! Naruto-sensei bisa membuat teigu miliknya menjadi apapun." Tatsumi mengambil pedang hitam dipunggungnya. "Contohnya pedang ini. Pedang ini sebenarnya bagian dari teigu milik Naruto-sensei. Dia merubahnya menjadi pedang dan memberikannya padaku." jelas Tatsumi dengan semangat.

"Oh... Sepertinya sangat tajam. Bisa aku melihatnya?"

"Boleh saja, ini."

Akame mengambil pedang yang disodorkan oleh Tatsumu dan melihatnya dengan seksama. Pedang tersebut memiliki bentuk seperti pedang pada umumnya namun berwarna hitam legam. Dari memegangnya saja Akame sudah tahu kalau pedang ini sangatlah kokoh. Ia pun mencoba untuk mengelus siai tajam tersebut.

"Ah!"

"Akame!"

Akame mengindahkan panggilan dari Tatsumi, ia melihat kearah jarinya yang mengeluarkan darah. "Tajam sekali." gumamnya.

Gadis itu menyerahkan kembali pedang tersebut kepemiliknya. Tatsumi mengambil pedang itu dan menyarungkannya kembali, Akame mengangguk melihatnya.

"Kalau begitu, kita lanjutkan pencarian target." ujar Akame sambil berjalan duluan.

Tatsumi mengangguk pelan. "Ayo."

Mereka berdua segera melanjutkan pencarian mereka tanpa mengetahui kalau sedang diintai oleh seseorang dari jauh.

~AND~

Wush~

Sebuah bola hitam kecil yang berukuran bola kasti sedang melayang kearah seseorang yang sedang menengadahkan tangan kanannya yang diperban keatas.

Orang itu tidak lain adalah Uzumaki Naruto, Sang Nanadaime Hokage yang berasal dari desa Konoha. Naruto terlihat sedang menutup matanya ketika gedoudama telah melayang diam diatas tangannya. Setelah beberapa saar, Naruto membuka matanya dan memerintahlan gedoudama itu untuk kembali kepunggungnya.

Sang Hokage menoleh kearah kanannya dimana ada seorang pria yang memakai armor sedang berdiri sambil menatapnya.

"Bagaiman keadaan disana, Naruto?" tanya pria itu.

Naruto menghela nafas. "Buruk Bulat, para bandit yang disewa oleh Galma ada sekitar 300 orang ditambah 10 dari semua bandit itu setingkat dengan Jounin."

"Jounin?"

"Maksudnya seperti Kushimaru."

"Oh..." Bulat mengangguk paham. "Jika keadaannya seperti itu, lebih baik kita batalkan saja misinya. Jika berdua saja, kita pasti akan kalah."

"Tidak." Naruto menggeleng. "Aku tidak setuju sama sekali. Jika misi ini dibatalkan, bisa-bisa reputasi Night Raid di mata Pasukan Revolusioner akan menjadi buruk."

"Lalu bagaimana?"

Naruto tersenyum tipis. "Tenang saja, tugasmu cukup menghabisi Galma saja, Bulat. Biar bandit sewaannya saja aku yang urus. Sendirian."

Bulat terlihat ingin menolaknya sebelum melihat kalau mata Naruto sudah berisi dengan tekad. Bulat menghela nafas sebelum melihat kearah Naruto dengan serius meski tertutupi oleh armor.

"Apa kau yakin dengan ucapanmu itu, Naruto?" tanya Bulat.

"Tentu saja yakin, jangan khawatirkan tentangku."

Bulat mengangguk. "Baiklah dan soal Galma serahkan padaku."

Naruto mengangguk sambil berdiri yang diikuti oleh Bulat. Naruto mengeratkan ikatan perban ditangan kanannya. Bulat sendiri mengambil tombaknya dan memutarnya. Naruto menutup mata sambil memasang topeng dengan motif rubah. Ia membuka matanya yang bersinar biru dari dalam topeng.

Gret!

"Satte, ayo kita mulai misinya." ujar Naruto sambil mempertemukan kedua tangannya didepan dadanya yang terbalut oleh rompi hijau sedangkan dibelakang punggungnya, melayang sembilan bola gedoudama.

"Baiklah Naruto." jawab Bulat sambil menenteng tombaknya dibahu kanannya yang terbalut armor.

-- Line Break --

Disebuah rumah besar yang mefah dan dekat dengan pepohonan hutan. Rumah itu tampak dijaga oleh puluhan orang yang membawa senjata tajam. Bahkan rumah itu memiliki menara pengawasnya sendiri.

"Hoaam... Walau sudah larut, kita harus tetap berjaga juga." ujar salag satu bandit yang menguap.

"Mau bagaimana lagi, tapi bayarannya juva besar sekali."

"Kau benar, dengan bayaran 500 keping emas, aku bisa men-"

Jleb!

Sebilag kunai langsung menancap dalam tepat didahi bandit tersebut. Temannya sendiri sangat terkejut ketika melihat kalau temannya telab mati dengan mudah.

"Pe... PENYUSUP!!!!" bandit itu segera menuju lonceng besar dan membunyikannya.

Teng! Teng! Teng!

Kerusuhan langsung terjadi ketika mendengar suara lonceng tersebut. Semua bandit yang berada dalam rumah besar yang megah itu langsung keluar menuju halaman dan mendapati dua orang yang sedang berdiri.

Satu dari mereka memakai rompi hijau dengan wajah yang tertutupi topeng bermotif rubah dan sembilan bila hitam berukuran seperti bola kasti sedang melayang dibelakangnya.

Yang satunya memakai armor perak yang dibaluti oleh jubah perak juga. Tombak yang memiliki bilah berwarna merah yang mengeluarkan aura haus darah, sedang dipegangnya menggunakan tangan kanan.

"Sudah kubilang bukan, Bulat. Lemparanku pasti mengundang semua bandit itu." ujar orang yang memakai topeng.

"Kau benar Naruto. Sesuai kesepakatan, selesai misi ini akan aku traktir minum." balas Bulat.

Naruto terkekeh. "Tentu saja."

Mereka berdua segera bersiap dan terlihat kalau puluhan bandit didepan mereka sedang mencoba memasang wajah sangar untuk mengintimidasi kedua anggota Night Raid tersebut.

"Apa maksudnya ini, sialan?!!"

"Ayo kita bunuh saja mereka!"

"Akan kupotong-potong mereka!"

"Beraninya kalian!"

Sahut demi sahutan terdengar yang menandakan mereka semua sedang marah. Bulat semajin mengeratkan genggamannya pada tombak miliknya. Sedangkan Naruto sedang memegang katana yang terbuat dari gedoudama ditangan kanan dan sebilah kunai di tangan kiri.

Bulat menghirup nafas. "Ikuzo! Naruto!"

"Ya!"

Mereka berdua langsung melesat kearah puluhan bandit itu. Begitu juga sebaliknya, para bandit langsung berlari kearah mereka.

Ketika jarak sudah dekat, yang melakukan pembukaan pertama ternyata adalah Naruto. Sang Hokage segera melompat dan langsung membelah dua salah seorang bandit yang tidak siap. Ia segera merundukkan kepalanya ketika sebuah pedang sedang mengincar lehernya.

Naruto segera melakukan serangan balasan dengan katana gedoudama yang sangat tajam. Karena saking tajamnya katana itu sehingga Naruto bisa dengan mudah membelah tubuh bandit menjadi dua bagaikan memotong keju. Bulat juga terlihat tidak ingin mengalah, pria itu terus mangayunkan tombaknya kearah bandit.

Ayun. Hujam. Belah.

Ayun. Hujam. Belah.

Ayun. Hujam. Belah.

Para bandit yang terkena serangan tombak itu langsung mati akibat kuatnya hujaman tombak Bulat. Naruto sendiri tersenyum dibalik topeng saat melihatnya. Ia segera membuat satu lagi katana dari gedoudama dan memegangnya dengan tangan kiri.

Pria yang berjabatan Hokage itu langsung melakukan gerakan berputar horizontal dan membelah tubuh para bandit. Kunai yang dipegangnya tadi telah dilemparkan pada salah satu bandit.

Naruto memerintahkan satu dari tujuh gedoudama yang melayang dipunggungnya untuk masuk kedalam tanah. Naruto kembali mengayunkan kedua lengannya untuk menahan dan menebas bandit yang menyerangnya.

Bulat menangkis tusukan pedang yang mengarah dikepalanya dan membalasnya. Pertama memotong lengan dan diakhiri memotong kepala. Bandit lain yang melihat teman mereka mati dengan mudah mulai ragu-ragu untuk menyerang.

Bulat pun menoleh kearah Naruto yang sedang menusukkan katana yang dilengan kanan keleher bandit sebelum menebasnya kebawah. Sedangkan lengan kiri yang memegang katana lain, sedang menebas salah satu bandit dengan pola diagonal.

"Naruto! Aku akan segera masuk!"

Tanpa menerima jawaban dari Naruto, Bulat segera berlari masuk kearah kediaman Galma. Naruto sendiri hanya melirikkan matanya dan segera berlari kearah pintu untuk menghalangi para bandit yang berniat masuk untuk mengejari Bulat.

"Kalian tentunya tidak akan kubiarkan masuk." ujar Naruto dengan suara dingin.

Inilah sifat asli Naruto ketika sedang bertarung. Ia akan menjadi seseorang yang kejam, dingin dan tidak berperasaan. Ketika sifat aslinya keluar, Naruto tidak akan pernah melepaskan satu orang musuh pun. Meski musuhnya adalah seorang anak-anak. Begitu sudah mengarahkan pisau kearahnya maka detik itu juga Naruto akan menganggapnya sebagai musuh.

Mungkin jika teman-temannya melihat dia seperti ini, mereka semua pasti akan sangat terkejut. Naruto selalu menyembunyikan sifatnya ini karena tidak ingin teman-temannya menjauhi dirinya.

Salah satu bandit nampak maju kedepan sambil memegang kapak besar. Naruto menatap bandit itu dengan tertarik karena dia adalah salah satu bandit yang setingkat dengan Jounin.

"Sebelum kami menyerang, aku ingin bertanya sesuatu." ujar bandit itu.

"Bertanya tentang apa."

"Apa kau ini adalah salah satu anggota Night Raid?"

Naruto terdiam sebelum mengangguk. "Benar, aku adalah salah satu anggota Night Raid dan namaku ialah Kitsune."

Yap benar, Kitsune. Itulah code name milik Naruto dalam Kesatuan Anbu di Konoha. Banyak yang tidak mengetahui kalau Uzumaki Naruto adalah seorang anbu Konoha. Bahkan Naruto adalah Kapten Anbu.

Ia mendapat promosi dari Godaime Hokage a.k.a Tsunade Senju untuk menjadi seorang anbu atas prestasinya dalam mengalahkan salah satu anggota Akatsuki, yaitu Kakuzu. Meski yang membunuh Kakuzu adalah Kakashi.

Pertama ketika Tsunade mengatakannya didepan tetua konoha. Mereka semua tidak ada yang setuju. Ada tetua konoha berkata kalau Naruto adalah senjata dan aset berharga konoha sehingga tidak boleh menjadi seorang anbu. Tetua itu tidak lain adalah Shimura Danzo.

Tetapi berkat bantuan dari Jiraiya sehingga Naruto bisa menjadi anbu. Statusnya Naruto yang menjadi anbu juga sangatlah rahasia sehingga hanya para tetua konoha, Tsunade dan Jiraiya saja yang mengetahuinya.

Hanya dalam kurun beberapa bulan saja yang dibutuhkan oleh Naruto untuk menjadi kapten anbu. Meski didalam dirinya lebih dominan gen Uzumaki namun gen Namikaze juga berpengaruh padanya. Meski tidak sepintar Shikamaru namun Naruto adalah shinobi jenius diangkatannya.

Ia juga sering membuat rencana didalam misi ketika sedang bertugas sebagai anbu. Berterima kasihlah pada Kagebunshin dan chakra yang besar sehingga Naruto bisa menyebarkan bunshin dalam jumlah banyak untuk mencari informasi.

Harga kepala yang dipasang untuk Naruto sangatlah besar didalam bingo book. Iwagakure dan Kumogakure yang memasang harga kepala Naruto dalam jumlah besar.

Cukup katakan atau sebutkan saja nama [Akuma No Kitsune] didepan orang, maka semua orang akan ketakutan karena mengetahui keganasan dan kebrutalan anbu Kitsune.

Naruto menghiraukan burung yang diterbangkan oleh bandit yang ada didepannya. Ia yakin kalau burung tadi pasti membawa data tentang dirinya dan memberikannya pada Perdana Menteri.

Priiit!

Suara peluit terdengar nyaring begitu ada salah satu bandit yang meniupnya. Naruto sedikit bingung namun kebingungan yang menghinggapi dirinya langsung sirna begitu melihat banyak sekali bandit yang berdatangan. Melihat dari jumlahnya, Naruto yakin kalau mereka semua lebih banyak dari yang tadi.

"Sekarang kau akan kalah karena kami menang jumlah!"

Bandit yang membawa kapak besar tadi tertawa keras dan diikuti oleh bandit lain. Naruto sendiri terlihat diam namun berbanding terbalik dengan seringai yang terbentuk diwajahnya yang tertutupi oleh topeng.

"Bunuh semuanya." gumamnya.

Jrash! Jrash! Jrash!

Secara tiba-tiba puluhan pasak berwarna hitam yang keluar dari dalam tanah langsung menusuk para bandit. Darah merah mengalir menuruni pasak yang terbuat dari gedoudama itu. Bandit lain yang selamat hanya bisa mematung melihat kematian teman mereka.

"Ternyata masih ada yang selamat ya." ujar Naruto dengan katana yang kembali menjadi bulatan hitam kecil dan melayang menuju punggungnya.

Naruto dengan cepat membuat heandseal dan langsung menapakkannya keatas tanah dengan keras.

"Doton: Sanryuu No Jutsu!"

Tanah bergetar sebelum seekor naga dengan tiga kepala tercipta dari tanah. Para bandit mematung melihat naga itu. Ketiga kepala naga itu menatap bandit yang masih sekitar ratusan dengan mata hijau yang mengintimidasi.

Naruto sendiri berdiri tepat diatas kepala naga yang ditengah sambil bersidekap dada. Ini adalah jurus ciptaannya. Jurus yang ia buat selang beberapa bulan setelah Perang Dunia Shinobi keempat. Jutsu yang terinspirasi ketika mengingat kalau ia pernah melawan iblis Moryuu bersama Shion. Jurus yang bisa menahan tembakan panah Susano'o milik Sasuke. Dan sekarang ia menggunakannya kembali setelah berada didunia ini.

Naruto menatap rendah dengan mata yang bersinar biru, mengirim tatapan yang tidak pernah ia gunakan saat berada didunia Shinobi.

"Jadi, bisa kita mulai pertarungannya?" ujar Naruto dengan nada dingin.

- To Be Continued -

Note

: Akhirnya selesai juga!! Jangan lupa review dan jika ada saran bisa kirimkan di kotak review atau langsung ke PM saya. Mohon maaf jika masih ada kesalahan dalam penulisannya. Sampai jumpa semuanya!!

Assalamuallaikum Wr. Wb.

[Ichizan Hissatsu Out]