DISCLAIMER: Saya tidak mengakui bahwa Naruto adalah milik saya tetapi milik om Masashi dan saya hanya meminjam karakter saja.
RATED: M
PAIR: Naruto X ?
SUMMARY: Uzumaki Naruto, Sang Nanadaime Hokage, menghilang saat melihat sesuatu yang membuatnya kecewa sehingga membuat kelima Desa besar panik saat mengetahui bahwa salah satu Pahlawan Perang telah menghilang dan tidak ada yang menyadari kalau Naruto telah berpindah dimensi.
.
.
~A New Dimension~
.
.
Pembunuh.
Apa kalian tahu maksud dari kata pembunuh? Pembunuh adalah orang yang mencabut nyawa seseorang secara paksa. Bagi orang waras, membunuh itu merupakan sebuah dosa besar karena mencabut nyawa seseorang tanpa izin dan sebelum maksudnya.
Namun ada beberapa pembunuh yang melakukan pekerjaan kotor ini demi kepentingan diri sendiri atau orang lain. Misalnya adalah Night Raid.
Mereka adalah kelompok kecil yang berisi pembunuh profesional. Semua kegiatan kelompok ini dilakukan ketika malam hari sehingga membuat para aparat keamanan kesusahan untuk menangkap mereka semua.
Bagi bangsawan atau pejabat besar yang melakukan kejahatan seperti korupsi, Night Raid adalah kelompok penjahat yang harus bisa segera dihentikan tetapi bagi rakyat yang bisa memahami maksud dari pekerjaan Night Raid pasti akan menganggap kelompok ini sebagai pahlawan.
Akame, salah satu anggota Night Raid sekaligus pemegang Teigu Murasame ini sedang berdiri sambil menjaga salah satu anggota Night Raid yang saat ini masih pingsan. Mata merahnya terus mengikuti pertarungan yang terjadi di depannya. Pertarungan antara sang target, Kubikiri Zank melawan anggota baru Night Raid, Uzumaki Naruto.
Akame terus memperhatikan pertarungan didepan karena Naruto menyuruhnya untuk tidak campur. Meski dirinya khawatir tapi harus Akame akui kalau pertarungan didepannya ini sangatlah menarik dan menegangkan.
Dimana terlihat kalau Naruto sering menangkis serangan dari Zank hanya bermodalkan sebuah belati kecil yang memiliki tiga bilah tajam. Akame bisa melihat kalau Naruto menggunakan senjata itu seakan-akan sudah menguasainya dengan sangat baik.
Akame sendiri merasa kalau dirinya masih lemah dibandingkan dengan Naruto. Bagaimana tidak, ia hanya bertarung dengan Zank dalam kurun waktu sekitar 30 menit namun sudah memiliki luka di paha hasil kecerobohannya.
Sedangkan Naruto, pria itu sudah bertarung sekitar 60 menit namun tidak menunjukkan rasa lelah. Pria itu justru terlihat semakin ganas memainkan belati yang ia pegang. Topeng yang digunakannya juga membuat Akame penasaran. Kenapa Naruto memakai topeng? Apa ia ingin menutupi identitasnya? Daripada memikirkan itu lebih baik Akame kembali fokus dengan pertarungan didepan.
Trink! Trink!
"Temee!! Sebenarnya siapa kau ini!!?" tanya Zank dengan raut wajah marah.
Wajar sih, siapa coba yang tidak marah ketika semua serangan yang dilancarkan bisa ditangkis dengan mudahnya bahkan tidak terlihat lelah setelah bertarung dalam waktu cukup lama. Naruto menatap Zank dari balik topeng sambil memegang erat kedua kunai hiraishin yang berada ditangannya masing-masing.
"Kau hanya boleh tahu kalau aku adalah malaikat kematianmu." setelah deklarasi kecil itu, ia langsung melesat kearah Zank menggunakan shunsin.
Shunsin yang sudah ia latih kembali setelah berada didunia ini memang tidak sia-sia sehingga membuat penjahat sekelas Zank kebingungan saat tidak melihat Naruto. Ia lebih memilih shunsin karena untuk melawan Zank. Selain karena simpel, Naruto juga harus hemat chakra karena tidak tahu kemampuan pasti dari Zank.
Zank masih kesulitan untuk Melancarkan serangan menggunakan pedangnya karena ketika muncul, Naruto pasti akan langsung menghilang. Hal itu yang membuatnya kesal. Teigu yang ia curi berupa mata ketiga sama sekali tidak bisa menemukan letak munculnya Naruto.
"Kusoyaro!! Dimana sebenarnya kau!!? Tunjukkan dirimu!!?" teriak Zank sambil melihat ke segala arah.
Akame sendiri masih bingung dan mencari keberadaan Naruto. Kecepatan langkah dari Naruto berhasil membuatnya kebingungan. Tidak jauh dari tempat mereka, Naruto sedang berdiri disalah satu dahan pohon. Ia melihat ketempat Zank berada sambil memutar-mutar kunai hiraishin miliknya.
Iris blue saphire yang tampak beku terlihat menyala dibalik topeng itu. Topeng yang menjadi identitasnya selama masih berada dalam kesatuan Anbu dulu. Ia menghentikan memutar kunainya dan sedikit menarik nafas.
"It's show time..." gumamnya.
Ia pun langsung melemparkan kunai tersebut tepat disamping kaki Zank. Naruto juga segera bersiap sebelum menghilang dalam kilatan kuning. Ia pun langsung saja muncul tepat dihadapan Zank yang terlihat kaget.
"Terlemparlah..."
Duagh!
"Gah..!!" Air liur muncrat dari dalam mulut Zank ketika dipukul oleh Naruto.
Naruto masih dalam berada memukul meski Zank sudah terlempar jauh. Jika diperhatikan lebih jelas kedalam topeng yang ia gunakan, kedua matanya yang pertama berwarna blue saphire sekarang sudah berubah menjadi kuning dengan pupil yang mirip dengan mata katak.
Menekuk kaki kanannya, Naruto pun langsung kembali menghilang dan muncul tepat dihadapan Zank kembali. Tangan kanannya pun bergerak untuk memukul dan berhasil dihindari oleh Zank. Tidak mau kesempatannya terbuang begitu saja, ia kembali menggunakan siku kanan dan mengarahkannya di kepala Zank dan kembali berhasil dihindari.
Adu pukulan antara Naruto dan Zank tidak terelakkan karena Zank tidak punya celah untuk menggunakan kedua pedangnya sehingga ia hanya bisa meladeni secara fisik. Naruto sendiri juga harus berhati-hati ketika melawan Zank, menurut pengamatannya tadi kalau Zank bisa membaca pikiran lawannya.
Melawan Zank justru membuatnya teringat saat betapa merepotkannya melawan iblis Satori ketika ia ada di Kusagakure. Ngomong-ngomong soal Kusagakure, bagaimana kabarnya Ryuzetsu? Apa dia baik-baik saja?
"Apa yang kau lamunkan, sialan!!?"
Karena dirinya sedang berada dalam mode Sannin sehingga ia hanya cukup memiringkan kepalanya kesamping. Zank sendiri terkejut saat melihat kalau tusukan pedangnya yang hanya berjarak 2 cm dari wajahnya lawannya berhasil dihindari.
Dengan cepat Naruto melesatkan pukulannya kedagu Zank, merasa belum cukup dengan itu sehingga ia memberikan tiga pukulan beruntun tepat didada Zank.
"Guah!!" darah dalam volume banyak keluar dari mulut Zank.
Masih ada kesempatan! Naruto dengan segera menendang kepala Zank sehingga wajah itu menoleh kesamping yang dimana pukulan tangan kiri sudah menunggu. Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan Naruto berikan pada Zank sehingga ia yakin kalau tubuh Zank ini sudah hancur luar dalam.
'Satu serangan lagi pasti akan tumbang!' Itulah yang ada dibenak Naruto.
Ia pun dengan cepat dan sekuat tenaga langsung memukul perut Zank sehingga terlihat kalau gelombang angin keluar menembus tubuh Zank dan membuatnya terpental beberapa meter kedepan. Naruto menatap datar tubuh Zank yang masih terbaring.
"Selesaikah?" gumamnya.
Tubuh besar yang kekar itu hanya diam saja sambil terbaring tengkurap. Secara perlahan jari-jari Zank mulai bergerak bersamaan dengan tubuhnya yang mencoba untuk bangun. Naruto segera memasang posisi kembali karena ternyata Zank belum kalah.
Menahan tubuhnya sambil bertumpu pada lututnya, Zank sedang mencoba untuk menetralkan pernafasan yang sedikit terganggu akibat dihajar oleh Naruto.
Melihat kalau Zank sedang kelelahan membuat Naruto langsung melesat dengan cepat kearah Zank. Tangan kanan yang sudah terkepal kuat itu mengarah ke kepala Zank yang masih menunduk.
Duagh!
Kepala Zank seketika menoleh ke kiri saat bertemu dengan pukulan Naruto. Belum cukup oleh pukulan itu, Naruto segera mempertemukan lutut kirinya ke wajah Zank dan segera melakukan uppercut dengan keras sehingga Zank memuntahkan darah.
Pukulan-pukulan terus diberikan oleh Naruto sambil sesekali menendangnya. Zank sendiri hanya bisa menerima semuanya dengan pasrah karena tubuhnya sakit dihajar dari tadi. Apalagi Naruto menggunakan mode Sannin sehingga rasa sakitnya bertambah.
Akame yang saat ini sedang menjaga tubuh Tatsumi yang pingsan hanya bisa melihat dari jauh. Dia bisa lihat bagaimana Naruto bisa membuat Zank tersudut seperti itu. Tetapi ada yang aneh menurutnya.
Kenapa Zank tidak membalas? Meski tersudut seharusnya Zank bisa membalas serangan Naruto. Apalagi Naruto saat ini hanya menggunakan gaya bertarung tangan kosong saja.
"Dengan ini, berakhir sudah!!"
Teriakan Naruto yang sangat keras menarik Akame dari lamunannya. Ia melihat kalau Naruto sedang bersiap memukul Zank untuk terakhir kalinya. Iris merahnya sedikit melebar saat melihat seringai kejam yang tercipta di wajah Zank.
"Naruto!!!" teriak Akame.
Naruto seketika kehilangan fokus saat mendengar teriakan Akame sehingga tanpa sadar ia menatap teigu curian berbentuk mata yang ada didahi Zank yang sedang terbuka.
"Berakhir sudah." ujar Zank menyeringai.
Deg! Deg!
Mata Naruto yang sebelumnya berwarna kuning dengan pupil berbentuk horizontal langsung berubah menjadi semula namun tampak kosong. Tangan kanannya yang tinggal 1 cm dari wajah Zank seketika terhenti. Tubuhnya pun langsung jatuh terduduk.
"Ini balasanku untukmu!!" Zank langsung menendang Naruto dengan keras.
"Naruto!!" Akame dengan sigap menahan tubuh Naruto yang terlempar kearahnya.
Dengan sigap ia membaringkan Naruto disamping Tatsumi yang sedang pingsan. Akame segera melepas topeng rubah yang terpasang di wajah Naruto sehingga bisa ia lihat kalau Naruto terdiam dengan matanya yang terlihat kosong.
"Naruto, Tatsumi..." gumamnya.
Mengambil Murasame yang ada disampingnya, Akame menatap tajam kearah Zank yang berada dalam kondisi buruk karena Naruto tadi.
Seringai lebar kembali terbentuk saat melihat tatapan tajam Akame. "Ada apa, Akame? Kau marah padaku karena berhasil menumbangkan kedua rekanmu?" tanya Zank meski bibirnya belepotan darahnya sendiri.
Sing~
Akame membuka sarung Murasame sehingga bisa memantulkan sinar bulan yang menandakan betapa tajam nya bilah katana yang memiliki racun terkutuk. Ia pun langsung memasang posisi bertarung dengan ujung Murasame yang mengarah kedepan.
"Bersiaplah, Kubikiri Zank!"
Dash!
Retakan sedang langsung tercipta begitu Akame melesat kearah Zank yang saat ini sudah bersiap menerima serangan dari gadis yang berasal dari kelompok Night Raid tersebut.
Trink!
Suara dentingan besi terdengar nyaring ketika Zank menahan tebasan Akame. Mundur beberapa langkah kebelakang, Akame segera menyerang kembali.
Trink! Trink! Trink!
Percikan-percikan api menghiasi pertarungan mereka berdua yang terlihat seimbang. Seimbang karena Zank bisa membaca pikiran Akame menggunakan Teigu yang dicuri.
Zank menahan semua tebasan yang diberikan Akame sambil menyeringai lebar dengan darah yang menghiasi bibirnya. Akame sendiri menatap tajam sambil mengayunkan Murasame secara terus-menerus.
Trink! Trink! Duagh!
Zank terseret kebelakang karena secara tiba-tiba ditendang oleh Akame. Ia sedikit berbatuk dan memuntahkan sedikit darah sambil memegang perutnya yang ditendang.
'Sialan! Karena dihajar sama orang bertopeng itu aku tidak bisa bertarung dengan benar.' batinnya sambil menghapus darah disudut bibirnya.
Akame segera memasang posisi karena melihat Zank yang masih bisa berdiri. Mata merahnya memandang tajam kearah Zank yang sedang menyeringai.
"Bagus sekali, Akame. Bagus sekali. Luapkan semua amarahmu karena kedua rekanmu terluka, luapkan semuanya dan datanglah padaku." ujar Zank.
Pandangan Akame semakin menajam. "Apa yang sebenarnya kau lakukan pada Naruto?!"
"Oh~ Jadi namanya Naruto, menarik sekali."
"Cepat jawab, Kubikiri Zank!? Kenapa Naruto terdiam dengan pandangan kosong?!"
"Khukhukhu... Akame oh Akame, kau tahu bukan kalau setiap teigu memiliki teknik rahasianya masing-masing."
"Apa maksudmu?"
"Khukhukhu... Seperti yang kubilang barusan, setiap teigu pasti memiliki teknik rahasia. Seperti Teigu Spected milikku ini, jika kau mengira kalau ilusi yang kuberikan padamu tadi adalah teknik rahasia maka kau salah besar, Akame." Zank tampak menyeringai kembali.
Mata Akame sedikit melebar. 'Kalau begitu Naruto saat ini sedang terkena teknik rahasia miliknya.'
"Ting-tong, benar sekali dugaanmu, Akame. Bocah bertopeng itu saat ini berada dalam ilusi yang tidak mungkin dipatahkan oleh seseorang. Dia akan melihat kalau orang tersayangnya akan membunuh dirinya namun bukan secara fisik tapi secara mental, khakhakha!!" tawa Zank.
Akame sedikit terdiam sambil melihat kearah Naruto yang masih memandang kosong kearah bulan.
"Jika kau ingin tahu." Akame menoleh. "Cara untuk melenyapkan teknik rahasia itu adalah membunuhku tapi tekniknya tidak akan lenyap begitu saja dan cara lainnya adalah dengan menghancurkan teigu ini, Akame."
Lagi-lagi ia terdiam, kedua pilihan yang dikatakan oleh Zank sangatlah sulit. Jika ia berhasil membunuh Zank tapi teknik itu tidak akan lenyap.
Namun jika menghancurkan teigu itu maka Naruto bisa sadar kembali tapi mereka juga membutuhkan teigu untuk menambah kekuatan Pasukan Revolusioner.
Wush!
"Kau terlalu banyak melamun, Akame!!"
"!"
Trink!
"Ugh...!"
Akame sedikit tertekan saat menahan tebasan Zank sebelum targetnya itu mundur. Ia sedikit menormalkan pernafasannya yang terpacu karena kaget.
Ia memasang posisi untuk melawan Zank kembali. Namun sebelum menyerang, ia melirik kearah Naruto sedangkan Tatsumi hanyalah pingsan biasa.
'Cepatlah sadar dari ilusi itu, Naruto.' batinnya berharap.
Memandang tajam kedepan, Akame sedikit menghirup nafasnya dan langsung melesat kearah Zank yang sudah siap untuk menyambutnya.
Trink!
.
.
~A New Dimension~
.
.
Disebuah ruangan yang sangat putih sejauh mata memandang dan dihiasi oleh hamparan bunga-bunga lavender yang tampak indah, terlihat ada seseorang yang sedang berdiri ditengah-tengah hamparan bunga itu.
Orang itu memiliki rambut pirang jabrik denga mata berwarna blue saphire yang indah bagaikan langit biru. Orang itu tidak lain adalah Naruto.
Naruto melihat sekeliling yang dimana hanya hamparan bunga lavender yang bisa ia lihat sejauh mata memandang. Mendongak keatas, ia hanya bisa lihat sebuah langit berwarna putih polos yang sangat bersih.
"Ini dimana?" gumamnya.
Ia pun berjalan untuk menjelajahi tempat tersebut. Ia terus berjalan hingga sampai disebuah pohon sakura yang sedang mekar dengan indah.
Naruto memilih mendekati pohon itu dan memegang batang pohon, ia sedikit mendongak dan sebuah kelopak sakura yang berguguran menempel diwajahnya.
Melihat sekeliling. "Sebenarnya ini dimana? Seingatku, aku sedang melawan Zank." gumamnya.
"Lama tidak bertemu, Uzumaki Naruto."
Dengan cepat ia menoleh kearah sumber suara yang menyapanya. Matanya perlahan melebar saat melihat siapa yang menyapa dirinya.
"Ne-Neji..."
Apa didepannya ini betulan Hyuga Neji, sahabatnya itu. Neji sendiri menatap Naruto sambil tersenyum lembut.
"Sudah lama kita tidak bertemu kau masih sama saja, Uzumaki Naruto." ujar Neji.
Naruto menatap Neji dengan sedikit berkaca-kaca sebelum menghapus air mata yang berkumpul di kelopak matanya. Ia menunjukkan senyum tipisnya kepada Neji.
"Ya, lama tidak bertemu denganmu, Neji." balasnya.
Neji berjalan mendekat. "Jadi, apa kau sudah mencapai tujuanmu, Naruto?"
"Sudah, aku berhasil menjadi Hokage. Lebih tepatnya Nanadaime Hokage." jawab Naruto.
"Souka."
Mereka berdua berdiri bersebelahan dibawah pohon sakura yang sedang mekar. Meski tidak ada hembusan angin tapi Naruto merasa cukup nyaman.
"Naruto."
"Hm?"
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
"Siapa?"
Neji tidak menjawab namun lebih memilih menutup matanya. Naruto memandang bingung kearah Neji.
Tap!
"Yo Naruto!"
Mata blue Saphira miliknya sedikit melebar saat mendengar suara tersebut. Suara dari seseorang yang ia sayangi. Suara dari seseorang yang sudah ia anggap ayah. Itu suaranya Ero-sennin.
Dengan gerakan yang terpata-pata, Naruto menoleh kebelakang dan betapa terkejutnya dirinya dengan apa yang dilihat.
"E-ero... Sennin..." ujarnya tergagap tanpa sadar air mata menetes dari mata kanan.
Jiraiya terkekeh. "Kau sudah besar rupanya, Naruto."
Hug!
"Ero-sennin!!"
Jiraiya menampakkan wajah terkejut sebelum tersenyum kecil ketika Naruto memeluknya. Ia membalas pelukan muridnya itu.
"Sudahlah Naruto." ujarnya lembut.
Neji hanya memandang mereka berdua dengan wajah datar tanpa ekspresi sebelum menoleh kearah pohon sakura.
.
.
~A New Dimension~
.
.
Trink! Trink! Trink!
Sret!
Akame langsung memasang posisi kembali dan melesat kearah Zank yang sudah siap menyambut serangan Akame dengan menggunakan pedang dikedua tangannya.
Trink!
Dentingan kedua besi menghasilkan percikan api. Suara benturan besi yang mencoba untuk menguji siapa yang terkuat. Mereka berdua saling menatap tajam satu sama lain sambil mengayunkan senjata masing-masing.
"Zehahaha! Ada apa Akame? Sepertinya kau mulai frustasi." ucap Zank.
Akame tidak membalas perkataan Zank namun hanya menatap tajam saja. Ia menambahkan tenaga dikedua tangannya untuk mendorong kedua pedang Zank.
Trang!
Berhasil menang dari beradu pedang, Akame langsung berputar 360 derajat sambil menebas pedangnya kearah Zank. Dengan cepat Zank menghindarinya dengan cara mundur namun ia dikejutkan dengan Akame yang melakukan gerakan menusuk.
Katching!
Zank berhasil memblokir tusukan Akame dan segera menendangnya namun berhasil ditahan oleh Akame menggunakan lengan kanannya meski terseret beberapa meter.
Mereka berdua berdiri saling berhadapan. Akame terlihat mengatur nafasnya, begitu juga dengan Zank yang mengatur nafas miliknya. Akame menggenggam erat Murasame.
"Katakan padaku, apa yang terjadi jika Naruto dibunuh secara mental?" tanya Akame.
"Mm? Sepertinya kau sangat penasaran, Akame?" ujar Zank sambil menyeringai.
"Jawab saja!"
"Zehahaha!! Baiklah, akan kujawab pertanyaanmu itu." Zank tidak merubah posisi sama sekali. "Dia akan dibunuh oleh orang yang ia sayangi dengan cara menyerang mentalnya. Jika mentalnya hancur maka dia tidak akan bisa bangun lagi karena mental yang hancur tersebut langsung terhubung dengan otak." Zank mengakhiri penjelasannya sambil menyeringai kejam.
Deg! Deg!
Jantung Akame terasa berhenti ketika mendengar penjelasan itu. Entah kenapa tiba-tiba ia merasakan sakit ketika mendengar kalau Naruto tidak akan bisa bangun lagi. Perasaan ini berbeda ketika ia melihat teman-temannya yang lain mati.
Tersadar dari lamunannya, Akame menatap tajam Zank kembali dan melesat kearahnya sambil mengayunkan Murasame.
Trink! Trink!
Suara dentingan besi kembali mewarnai malam yang sedang terang bulan. Baik Akame ataupun Zank tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.
Jika dilihat-lihat, Akame unggul dalam kecepatan namun karena Zank bisa membaca pikiran Akame sehingga mereka berdua terlihat imbang.
Trink! Trink! Trink!
"Ayolah Akame!! Apa hanya ini yang kau punya!!?"
Trink! Trink! Trink!
"Tutup mulutmu, Zank."
Trink! Trink! Trink!
"Dinginnya. Tapi asal kamu tahu saja, Akame. Sebelum kesini aku sudah membuat temanmu yang lainnya pingsan, jadi tidak akan ada orang yang menolong kalian. Zehahahaha!!"
Trink! Trink! Krack! Duagh!
"Gwah!"
Mata Zank membulat ketika merasakan betapa sakitnya tendangan yang diberikan oleh Akame. Ia sampai-sampai berlutut karena menahan dua kali lipat rasa sakit.
Pertama ketika ia dihajar habis-habisan oleh Naruto sehingga beberapa tulang rusuk didalamnya patah. Dan yang kedua adalah tendangan Akame yang tepat mengenai tulang rusuknya yang patah sehingga rasa sakitnya bertambah.
Ia sedikit mendongak untuk melihat kalau Akame saat ini sedang menatapnya dengan dingin dimana iris merah rubynya tampak menyala.
"Aku akan membunuhmu disini, Kubikiri Zank." ujar Akame.
Zank terdiam sebelum terkekeh sambil sesekali memuntahkan darah. Ia segera berdiri dan memandang Akame sambil terkekeh dimana darah sudah berlepotan di bibirnya. Pedang dikedua tangannya juga sudah hancur.
"Tidak. Kau salah Akame. Akulah yang akan membunuhku disini." ucap Zank.
Akame tidak membalas namun satu detik kemudian ia merasakan nyeri dibagian paha. Ia melihat kepahanya dan terkejut saat melihat sebuah jarum suntik yang sudah menusuk pahanya.
"Zehahaha!!!" Zank tertawa keras. "Akhirnya kau sadar juga, Akame."
Brugh!
Akame terduduk sambil menggunakan Murasame sebagai penopang. Terlihat cukup banyak keringat di dahinya. Ia menatap Zank seperti raut wajah kesakitan.
"A... apa yang... kau... lakukan?" tanya Akame dengan terbata.
"Tidak banyak, aku hanya memberimu racun pelumpuh."
"Ka... kapan?"
"Ketika kau menendangku. Saat kau menendangku, dengan cepat aku menusuk pahamu menggunakan racun pelumpuh." jelas Zank sambil berjalan perlahan kearah Akame.
Akame mencoba untuk berdiri namun tidak berhasil sehingga ia terjatuh dan Murasame yang terlempar dan berhenti tepat di kaki Zank.
Zank menyeringai dan mengambil Murasame. Ia kembali berjalan sampai didekat Akame yang masih mencoba bangun.
Duagh!
"Ugh...!"
Akame terlempar hingga berhenti tepat didekat Tatsumi yang masih pingsan. Ia segera bangun dan langsung terdiam saat Murasame miliknya sudah dihunus tepat didepan wajahnya.
Zank menyeringai saat melihat hal itu, ia mengangkat Murasame tinggi-tinggi menggunakan kedua tangannya untuk mengeksekusi gadis yang ada didepannya ini.
Akame yang masih dalam pengaruh obat pelumpuh hanya bisa meratapi takdir. Ia sudah banyak membunuh orang-orang. Ia juga sudah siap untuk terbunuh dalam misi ketika menerima ajakan Najenda.
Akame tersenyum getir saat menyadari kalau dirinya tidak akan melihat adiknya lagi. Ia masih melamun ketika merasa ada sesuatu yang kurang. Melihat sekeliling meski akan dibunuh oleh teigu miliknya sendiri, Akame mencoba mencari keberadaan seseorang yang seharusnya ada disini.
'Tunggu, dimana Naruto?' batinnya.
"Matilah!! Akameee!!"
Crash!!
Iris merah ruby miliknya membulat saat melihat kalau ada orang yang menahan tebasan Zank. Ia mengenali orang itu. Orang itu tidak lain adalah Naruto.
"Makan ini!!"
Buagh!!
Sebuah bogem mentah diterima oleh Zank secara gratis ketika Naruto memukul wajahnya dengan cepat sehingga pegangan Murasame terlepas. Naruto tersenyum lemah sebelum jatuh terduduk dengan luka melintang yang mengeluarkan banyak darah.
'Gaki, ada racun yang sangat berbahaya ditubuhmu.'
'Kurama, bisa kau hentikan racunnya?'
'Jangan remehkan aku, gaki'
'Haha, sankyu Kurama.'
Akame segera tersadar dan langsung menahan tubuh Naruto yang sudah mau tumbang meski ia sendiri masih berada dalam pengaruh racun pelumpuh.
"Baka!! Apa yang kau lakukan, hah!!?" bentak Akame.
"Sudah jelas bukan, aku melindungimu." jawab Naruto meski wajahnya masih pucat.
'Gaki, racunnya sudah hilang.'
'Arigatou Kurama.'
'Jangan berterima kasih padaku!'
Akame menatap khawatir Naruto karena ia terkena tebasan Murasame yang otomatis sebentar lagi Naruto akan mati karena teigu miliknya. Melihat wajah khawatir Akame membuat Naruto tersenyum lembut.
Ia menggerakkan tangan kanannya kearah wajah Akame sambil mengelus pelan pipi kanannya dan menghapus darah yang ada disitu.
"Jangan khawatir, oke. Aku tidak apa-apa." Naruto berusaha bangun. "Akame, tolong jagalah Tatsumi."
"Apa maksudmu!? Kau sudah terluka karena tebasan Murasame dan sebentar lagi... kau..." Akame tidak melanjutkan ucapannya yang terasa menyakitkan.
Laki-laki ini akan mati karena terkena racun Murasame. Meski bukan Akame yang melakukannya tapi Akame merasa bersalah karena Murasame adalah teigu yang harus ia jaga baik-baik.
Tap!
"Akame." Akame mendongak ketika Naruto memanggilnya. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri jika menyangkut luka ini. Luka ini tercipta karena melindungimu."
"Ta... tapi... kau akan..."
Mereka berdua terdiam sambil hembusan angin yang membuat sejuk suasana dimalam hari. Naruto diam sebelum melepaskan rompi hijau itu yang robek karena tebasan.
Ia menjatuhkan rompi itu dan hanya memakai baju kaos lengan panjang yang berwarna hitam. Naruto menoleh kearah Akame dan tersenyum lebar.
"Aku tidak akan mati dengan mudah, Akame-chan. Aku tidak akan mati sebelum mencapai impianku. Karena, itulah jalan ninjaku."
Deg! Deg!
Akame terpana saat mendengar ucapan Naruto. Tanpa sadar wajahnya memerah saat melihat betapa tampannya Naruto ketika tersenyum lebar serta aura kharisma milik pria itu.
"Kisama!!"
Naruto dan Akame menoleh kedepan dimana Zank baru saja berteriak. Zank menatap tajam kearah Naruto yang berhasil lolos dari teknik rahasianya.
"Bagaimana kau bisa lolos dari teknik rahasiaku, teme!!!?" teriak Zank.
Naruto yang mendengar itu tersenyum kecil. "Kau salah jika memberikan ilusi yang seperti itu padaku."
--Flashback On--
Naruto menatap Jiraiya dengan senang karena bisa bertemu kembali dengan sosok yang sudah dianggap ayah tersebut. Apalagi ia kembali bertemu dengan Neji.
"Bagaimana kabarmu, Naruto?' tanya Jiraiya.
"Aku baik-baik saja, Ero-sennin. Seperti yang kau lihat kalau aku sudah menjadi Hokage." jawab Naruto.
"Hahaha sudah kuduga kalau kau pasti bisa menjadi seorang Hokage."
"Benarkan, hihihi."
Naruto dan Jiraiya bersama-sama tertawa keras sambil saling merangkul, sedangkan Neji hanya melihat saja.
"Naruto?"
"Ada apa, Neji?"
"Bagaimana dengan perangnya?"
"Ah, perang itu sudah selesai dan pihak aliansi yang memenangkannya serta saat ini seluruh negara baik negara kecil maupun besar sudah berdamai." jelas Naruto.
"Berdamai? Perang? Apa yang kalian berdua bicarakan?" tanya Jiraiya karena bingung.
"Perang Dunia Shinobi ke-4. Perang yang terjadi demi menghentikan Akatsuki yang berniat mengambil Kyuubi dari Naruto dan Hachibi dari Kumogakure." jelas Neji.
"Iya, perang yang bisa dikatakan sejarah baru dimana kelima negara besar bersatu untuk menghentikan Akatsuki diketuai Uchiha Madara untuk mengaktifkan Mugen Tsukoyomi." tambah Naruto.
"Souka, perang lagi rupanya." gumam Naruto.
Neji hanya memandang Jiraiya sebentar sebelum melihat kembali kearah Naruto. "Lalu bagaimana dengan Uchiha Madara palsu?"
"Maksudmu Obito?"
"Iya."
"Dia gugur."
"Jadi, kau berhasil mengalahkannya."
"Bukan, tapi dia gugur sebagai salah satu pahlawan Aliansi dan aku sudah memaafkannya." Naruto berucap dengan nada sedih yang tersirat dalam kata-katanya.
Mengingat tentang Obito membuat ia sedih karena impian teman Sensei-nya yang ingin menjadi seorang Hokage itu tidak bisa tercapai karena sebuah dendam. Drama tentang dendam yang sudah direncanakan dengan baik oleh Sang Hantu Uchiha, yaitu Uchiha Madara.
"Kenapa kau dengan mudah memaafkan musuh sepertinya, Uzumaki?"
"Eh?" Naruto memandang Neji dengan raut wajah terkejut saat mendengar ucapan Neji.
Bukan, bukan kata yang barusan tetapi adanya nada dingin didalam kata tersebut. Apalagi bisa ia lihat kalau Neji menatap dirinya dengan tajam.
"Apa maksudmu?" tanya Naruto.
"Sepertinya kau tidak mendengarnya dengan jelas, Uzumaki. Kenapa kau memaafkan nya? Bukannya dia itu musuh yang ingin mengambil Kyuubi darimu? Lalu kenapa kau masih memaafkan nya meski dia sudah membunuh seluruh teman-teman kita maupun sesama Aliansi." ujar Neji dengan nada dingin.
"Bukan begitu, Neji. Aku memaafkan nya karena dia sudah sadar atas perbuatannya. Apalagi Obito sebenarnya diperalat oleh Madara demi ambisi Mugen Tsukoyomi miliknya." jelas Naruto pada Neji.
"Kau dengan mudahnya memaafkan orang yang telah membunuhku. Tidak kusangka kalau kau seperti itu padaku. Aku kecewa padamu, Uzumaki Naruto. Bahkan kau dengan mudahnya memaafkan orang yabg telah membunuh Jiraiya-sama dan meruntuh lantahkan desa kita, Desa Konoha." ucapan Neji justru menarik perhatian Jiraiya kali ini.
"Apa yang kau katakan, Hyuuga? Naruto memaafkan orang yang membunuhku?"
"Ha'i Jiraiya-sama. Naruto memaafkan orang bernama Pain yang sudah menghancurkan Desa Konoha." jelas Neji.
Pandangan Jiraiya beralih pada Naruto yang saat ini menundukkan kepalanya. Melihat kalau Naruto tidak membela diri justru membuat Jiraiya melihat Naruto dengan pandangan dingin.
"Rupanya begitu, tidak kusangka kau justru memaafkan nya." celetuk Jiraiya.
Naruto langsung memandang heran kearah Jiraiya. "A-apa maksudmu, Ero-sennin? Sudah seharusnya aku memaafkan Nagato, dia hanya kehilangan Yahiko ditambah dia dihasut oleh Obito saat itu."
"Tapi kau seharusnya membunuhnya dengan pria bernama Obito, bukannya memaafkan seperti itu. Aku sungguh kecewa padamu Naruto."
Deg!
Jantung Naruto seakan-akan berhenti apalagi melihat kalau Jiraiya dan Neji memandangnya dengan pandangan dingin. Ingatan tentanga pandangan orang-orang yang ia terima saat kecil kembali berputar dalam kepalanya.
Ia terdiam bagaikan patung dengan ingatan masa kecilnya yang buruk sehingga tidak mendengarkan apa yang diucapkan oleh Jiraiya maupun Neji.
"Kau membuat kami berdua kecewa, Naruto. Seharusnya kau membalaskan dendam kami kepada mereka." ujar Jiraiya.
Dengan cepat Naruto memandang Jiraiya denga wajah yang sangat terkejut. Beberapa menit kemudian entah kenapa ia menjadi tersenyum dan langsung tertawa keras. Jiraiya dan Neji memandang heran kearah Naruto yang masih tertawa.
"Hahahahaha!! Seharusnya aku sudah sadar daritadi." ujar Naruto sambil menutup matanya menggunakan tangan kanan.
"Apa maksudmu, Uzumaki?" tanya Neji karena heran.
"Apa maksudnya? Sudah jelas kalau kalian berdua itu bukanlah Neji dan Ero-sennin yang asli. Dengan kata lain kalian berdua adalah palsu atau hanyalah ilusi." jelas Naruto memandang kearah mereka berdua.
Jiraiya dan Neji tersentak saat melihat kalau iris blue saphire tersebut memandang kearah mereka dengan tatapan yang sangat dingin. Apalagi mereka bisa merasakan hawa membunuh yang sangat kental keluar dari tubuh Naruto.
"Ba-bagaimana kau bisa tahu kalau kami ini palsu?" tanya Jiraiya yang mundur kebelakang.
Tap!
"Mudah saja untuk mengetahuinya, Sandaime-jiji, Iruka-sensei, Kakashi-sensei, Tsunade-bachan, Tou-san, Kaa-san dan Ero-sennin tidak pernah menyuruhku untuk balas dendam. Balas dendam hanya akan menghasilkan lingkaran setan yang tidak akan berakhir dengan mudah." Naruto perlahan melangkah maju.
"Ero-sennin mengajarkan ku untuk mengerti apa itu dendam dan cara untuk mengatasinya karena Ero-sennin ingin adanya perdamaian. Ero-sennin juga percaya kalau suatu saat nanti aku bisa membawakan sebuah perdamaian."
Jiraiya dan Neji semakin mundur saat melihat kalau dikedua tangan Naruto sudah ada bola energi berwarna biru langit yang dimana ada shuriken kecil yang terbuat dari angin di sisi nya sehingga membuat suara yang nyaring.
"Dan juga aku tahu kalau Ero-sennin ataupun Neji tidak pernah menyuruhku untuk membalaskan dendam miliknya. Itu menjadi alasan kalau kalian berdua bukanlah yang asli." Naruto menatap tajam Jiraiya dan Neji.
Jiraiya ataupun Neji menjadi ketakutan dan mencoba kabur namun betapa terkejutnya saat melihat kalau kedua kaki mereka sudah terbenam dalam tanah sedalam lutut.
"Doton: Yomi Numa. Kalian berdua saat ini tidak bisa kabur lagi." Naruto berdiri satu meter dari mereka berdua.
"Na-Naruto, tolong maafkan aku. Aku ini Ji-Jiraiya yang asli, bu-bukan Jiraiya yang pal-paslu." mungkin karena takut sehingga Jiraiya salah ucap.
"Be-benar yang dikatakan Jiraiya-sams, i-ini kami Na-Naruto. Ka-kami ini yang asli." tambah Neji.
Ucapan mereka berdua justru menambah rasa muak dalam diri Naruto. Ia baru saja sadar kalau ini adalah ilusi yang dibuat oleh Zank untuknya.
Kurang ajar!
Berani-beraninya orang itu mempermainkan dirinya seperti ini. Bahkan sampai melibatkan dua orang dari sekian banyaknya yang orang ia sayangi, baik itu teman ataupun keluarganya. Ia berjanji akan memberikan pembalasan yang sangat berat pada Zank.
"Na-Naruto, per-percayalah pa-pada kami. Ka-kami ini yang asli bukannya yang pal-"
"Kalian berdua sangat berisik."
Otomatis Jiraiya dan Neji (palsu) langsung terdiam saat mendengar ucapan Naruto yang sangatlah dingin dan tidak bersahabat. Naruto melompat mundur beberapa meter dan segera memasang posisi.
Kedua rasengan miliknya membesar hingga membentuk sebuah shuriken angin yang mengeluarkan suara yang sangat nyaring. Naruto memandang tajam kearah Jiraiya dan Neji (palsu).
"Tidak ada yang bisa menjelek-jelekkan Neji, apalagi menjelek-jelekkan Ero-sennin ataupun orang yang kusayangi!! Jika ada maka orang itu akan menerima balasannya!!"
"Futon: Rasenshuriken!!"
Wush!
Duar! Blaaar!
Sebuah ledakan besar terjadi ketika kedua Rasenshuriken itu mengenai tubuh orang yang menyamar menjadi Jiraiya dan Neji. Naruto menatap datar saat melihat kalau sebuah kawah dengan luas 20 meter tercipta akibat jutsunya.
Secara perlahan tubuh Naruto juga menjadi serpihan-serpihan cahaya kuning. Naruto menghirup nafas sebelum menatap kedepan dengan tajam.
"Tunggu saja pembalasanku, Kubikiri Zank."
--Flashback Off--
"...begitulah caranya aku bisa lolos dari ilusi milikmu."
Zank menggertakkan giginya saat mendengar jawaban Naruto. Ini tidak bagus. Ia harus pergi dari sini untuk menyelamatkan diri. Tubuhnya sudah terlalu remuk jika ingin melanjutkan pertarungan lagi. Mumpung Akame masih lumpuh dan pria ini terkena racun Murasame yang otomatis bakalan mati, ini merupakan kesempatan yang bagus.
"Apa kau berpikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja."
Deg!
Mata Zank membola saat mendengar suara yang sangat dingin dari sisi kanannya. Ia menoleh namun langsung dihadiahi sebuah bogem mentah yang langsung membuatnya terpental dan merontokkan dua giginya.
Pelaku pemukulan itu tidak lain adalah Naruto yang menatap tajam Zank. Akame mengerjapkan matanya beberapa kali saat baru menyadari kalau Naruto sudah berpindah tempat dengan sangat cepat.
Ia melihat kalau Naruto sedang mencabut sebuah belati yang aneh menurutnya karena belati itu memiliki tiga cabang yabg terlihat tajam. Ditambah Naruto sedang mengikat suatu kain didahinya yang dimana ada sebuah lempengan besi di kain itu.
Setelah mengencangkan ikatan pelindung kepalanya, Naruto memandang tajam Zank sebelum melemparkan kunai cabang tiga miliknya ketempat Zank. Sebelum kunai itu mengenai Zank, kunai tersebut sudah ditangkap oleh Naruto yang sukses membuat Zank dan Akame terkejut.
Naruto mengarahkan sebuah palm ke perut Zank dengan sangat keras sehingga sebuah hempasan angin terlihat menembus tubuh Zank. Terlihat juga ada sebuah kanji yang sangat rumit ditempat bekas palm tadi.
Naruto bersiap sebelum menghilang dalam kilatan kuning dan langsung berpindah kebelakang Zank karena sudah ia tandai.
Duagh! Crash!
Naruto memukul punggung Zank menggunakan tangan kiri sebelum menebasnya menggunakan kunai yang ada ditangan kanannya.
Duagh!
Lagi-lagi Zank terpental kearah kiri ketika Naruto menendangnya. Naruto pun membuat sebuah heandseal andalannya.
"Kagebunshin No Jutsu."
Poff! Poff!
Dua kepulan asap tercipta didepan Naruto dan dari dalam asap itu keluarlah kedua bunshin Naruto yang berlari kearah Zank. Lagi-lagi Akame terkejut saat melihat kalau Naruto menjadi tiga.
Duagh!
Sebuah pukulan berhasil mendarat diwajah Zank tapi bukan hanya itu saja. Sebuah tendangan juga mendarat disisi kiri kepalanya yang dilakukan oleh bunshin kedua. Sebuah serangan lanjutan berupa tendangan di dada berhasil membuat Zank terpental sekaligus sesak nafas.
Kedua bunshin Naruto saling mengangguk dan langsung melemparkan Naruto ke udara sebelum berlari lagi kearah Zank. Naruto yang masih berada di udara segera membuat satu bunshin lagi dan melesat kebawah dengan bunshin itu sebagai tolakan sehingga bunshin yang baru dipanggil itu langsung kembali menghilang.
Sebelumnya juga kedua bunshin yang sedang menghajar Zank dibawah segera memegang kedua tangannya dan melemparkannya kearah Naruto yang melesat.
Melihat kalau targetnya sudah dekat, Naruto segera menyiapkan pukulan tangan kanannya yang dialiri banyaknya chakra berwarna kuning yang bergelora.
"Horrraaaa!"
Duagh! Wush! Duar!
Tubuh Zank melesat kembali kebawah dengan cepat sehingga menciptakan sebuah kawah. Zank merintih ketika merasakan rasa yang sangat teramat sakit di seluruh tubuhnya. Hidungnya sudah patah, banyaknya tulang yang patah, rahang yang ikutan patah juga.
Ia membuka sedikit matanya untuk melihat keatas. Dalam penglihatannya bisa ia lihat kalau Naruto sedang menengadahkan tangannya keatas dimana ada sebuah rasenshuriken yang berputar kencang.
Zank hanya bisa pasrah karena ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sekarang. Melihat kalau Zank sudah pasrah, Naruto segera menyuruh kedua bunshin yang dibawah untuk melemparkan dirinya kearah Zank.
Kedua bunshin itu melompat kearah Naruto secara bersamaan dan melewati Naruto yang sedang melayang jatuh. Bunshin pertama dengan cepat menangkap tangan bunshin kedua dan melemparkannya kearah Naruto.
"Pergilah!"
Poff!
"Tentu saja!"
Bunshin kedua itu melesat cepat kearah Naruto sebelum dirinya berputar sehingga kedua kaki mereka saling bertemu yang menghasilkan daya tolak.
"Pergilah oyabun!!"
Poff!
Seperti kedua bunshin sebelumnya yang menghilang setelah menyelesaikan tugasnya, bunshin yang ini juga langsung kembali menjadi kepulan asap. Naruto tersenyum tipis meski sedang melesat kebawah.
"Tentu saja!"
Melihat kalau dirinya sudah dekat dengan Zank, Naruto segera bersiap untuk mempertemukan jutsunya itu dengan orang yang dijadikan target oleh Night Raid.
"Futon: Rasenshuriken!!"
Jutsu rank-S itu bertemu dengan tubuh Zank dan sukses menciptakan ledakan besar. Naruto sendiri terpental ketika ledakan itu merupakan hasil dari jutsu yang ia lempar.
Beruntungnya ia terlempar kearah Akame sehingga gadis itu bisa dengan mudah menangkap tubuhnya. Akame memeluk Naruto sambil memegang tangan Tatsumi agar mereka bertiga tidak terlempar akibat hembusan angin yang tercipta dari jutsu Naruto.
Setelah beberapa saat kemudian setelah ledakan itu menghilang, Akame tidak bisa menahan rasa terkejutnya saat melihat kalau beberapa meter didepannya itu tercipta sebuah kawah selebar 10 meter.
Naruto segera melepaskan tangan kanan Akame yang memeluknya. "Kamu mau kemana, Naruto?"
"Aku hanya ingin mengambil sesuatu saja, Akame-chan. Jangan khawatir oke." setelah itu ia segera bangun dan berjalan kearah kawah itu sambil memegang tangan kanannya.
Ia berjalan hingga tepat dipinggir kawah, menengok kebawah sehingga bisa ia lihat dengan jelas tubuh Zank yang terbaring disana. Ia menoleh kearah Akame sebelum melompat kebawah.
Wush! Tap!
Naruto mendarat tepat dipinggir Zank, ia berjongkok dan mengambil teigu yang ada didahi Zank menggunakan tangan kirinya. Setelah memastikan tidak ada yang rusak, Naruto segera naik keatas karena Zank sudah tidak bernyawa.
Akame hanya memandang Naruto ketika pria itu berjalan kearahnya. Bisa ia asumsikan kalau tangan kanan Naruto tidak bisa digerakkan. Secara tiba-tiba didepannya ada sebuah benda yang berbentuk mata. Ia mendongak untuk melihat kalau Naruto sedang tersenyum kecil kearahnya.
"Setidaknya kita pulang tanpa tangan kosong, bukan?" ujar Naruto.
Akame diam sesaat sebelum mengambil teigu itu dan menyimpannya. Secara tiba-tiba ia dikejutkan kalau Naruto tumbang kearahnya sehingga ia harus menahan tubuhnya agar tidak ikut tumbang juga.
"Naruto?" panggil Akame.
Namun hanya dengkuran halus yang diterima oleh Akame sebagai jawabannya. Akame yang melihat itu entah kenapa tersenyum kecil. Ia segera duduk sambil menaruh kepala Naruto yang sedang pingsan karena lelah diatas paha kanannya sedangkan Tatsumi diatas paha kirinya.
Akame tersenyum lembut sambil mengelus rambut kedua pria yang ia sayangi. Tatsumi yang ia sayangi bagaikan adik sedangkan Naruto...
Ia masih bingung dengan perasaannya kepada Naruto. Yang ini berbeda sekali dengan rasa sayang kepada adik ataupun rasa sayang kepada teman. Ini merupakan hal yang baru baginya. Mungkin ia harus menanyakan hal ini pada Leone ataupun Najenda.
Akame melihat rembulan yang diatas sebelum memandang kembali kedua pria itu. "Kalian berdua ini sungguh bodoh." gumamnya.
Akhirnya Akame bisa bernafas lega setelah melewati misi yang cukup menguras tenaga miliknya karena harus melawan Zank, pemilik teigu yang bisa membaca pikiran dan hati seseorang.
Malam itu juga diakhiri oleh berhasilnya kedua misi yang dilakukan oleh Night Raid dengan bulan yang bersinar terang sebagai saksinya.
--To Be Continued--
Note: kretek-kretek (membunyikan kedua jari tangan) akhirnya selesai juga untuk chapter ini.
Jadi, bagaimana dengan adegan fight dan akhirnya? Apa memuaskan? Atau kurang? Well ane sudah cukup berjuang untuk menulis chapter yang ini. Jika saja buku ane yang menyimpan chapter 7 cerita ini tidak hilang, bisa saja ane up cepet.
Tapi mau diapa. Nasi sudah menjadi bubur. Buku itu hilang di asrama sehingga ane harus mikir ulang alur ceritanya. Ane minta maaf jika lama sekali updatenya. Ada beberapa alasan yang membuat ane lama update.
Alasan utama dari sekian banyaknya alasan ialah, niat mau nulis yang bagaikan jaringan 4G. Datang hilang datang hilang terus. Jadinya lama untuk update.
Jadi, ane sekali lagi minta maaf jika lama update apalagi jika kalian baca terus menemukan typo atau salah huruf, ane sungguh minta maaf.
Chapter kali ini juga menutup Bagian 1: Kubikiri Zank dan akan berlanjut ke Bagian 2 yang masih ane rahasiakan.
Oh ya, sekalian ane mau promosi cerita ane yang Crossover dengan Fate. Judulnya itu 'The Fate Of The Heroes'.
Mungkin ini saja dulu karena ane sudah kehabisan bahan ngomong. See you later~~
--Senin, 20-Juli-2020--
-Pukul 23:30-
