DISCLAIMER: Saya tidak mengakui bahwa Naruto adalah milik saya tetapi milik om Masashi dan saya hanya meminjam karakter saja.
RATED: M
PAIR: Naruto X ?
SUMMARY: Kitsune, anggota Night Raid yang dianggap berbahaya. kecepatannya yang diluar nalar merupakan ancaman serius bagi Kekaisaran sehingga mendapatkan nilai buron melebihi anggota Night Raid yang lainnya.
.
.
~A New Dimension~
.
.
'Kanal Besar'
Total panjangnya ialah 2500 km. Itulah nama dari sebuah sungai yang berada di timur Ibu Kota. Karena panjangnya sungai tersebut, Perdana Mentri mengerahkan 1 juta orang untuk membuat kapal yang berukuran besar. Butuh waktu sekitar 7 tahun untuk membuat kapal tersebut, sehingga orang-orang yang memiliki jabatan di Ibu Kota merasa senang.
Namun dibalik kesenangan itu, ada sekitar 1 kita orang yang tidak senang melainkan menderita. Karena mereka semua dipaksa untuk bekerja membuat kapal tanpa adanya gaji. Dengan banyaknya orang yang dipaksa bekerja, ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah meningkat.
Tidak lama dalam jangka panjang, kapal ini terbukti sangat berguna dalam perdagangan keluar Ibu Kota. Sehingga kekuasaan wilayah Ibu Kota juga meluas akibat perdagangan ini. Namun pada kali ini akan terjadi sebuah peristiwa besar diatas kapal yang berukuran besar tersebut.
--A New Dimension--
"Whoa..." matanya sedikit melebar dengan rasa kagum. "Sangat cantik." ujarnya dengan pandangan yang terus mengarah pada punggung seorang wanita yang bagian belakangnya terekspos.
Duak!
"Ittai, apa maksudmu menjitak kepalaku, aniki?" bisiknya sambil memegang puncak kepala yang sedikit benjol.
"Aku hanya menyadarkan bocah yang sedang menatap mesum punggung seorang wanita. Jangan lupa kalau kau adalah seorang tuan muda dari salah satu bangsawan di Ibu Kota, jangan lupa dengan penyamaranmu, Tatsumi." terdengar suara pria disampingnya namun tidak terlihat wujudnya.
Tatsumi sedikit merengut sebelum berjalan ke sisi kapal, ia melihat kebawah kalau kapal tersebut mulai bergerak, menjauh dari sisi dermaga.
"Banyak sekali orang yang ada di dermaga." gumamnya sebelum menoleh kebelakang. "Dan banyak orang disini serta kakek yang harus kami berdua lindungi juga dikelilingi oleh pengawal."
Tatsumi pun bersandar pada tepi kapal dan mengambil minuman dari pelayan yang barusan lewat. "Dengan keadaan yang banyak orang begini, aku rasa mustahil Night Raid palsu itu berani menjalankan rencananya." ujarnya setelah meminum sedikit.
"Jangan berspekulasi begitu, Tatsumi. Menentukan hal itu sendiri merupakan kesalahan, Tatsumi."
"Ah, gomen aniki." Tatsumi sedikit menyesal dan melirik ketempat Bulat berada. "Apa kau tidak khawatir akan terlihat, aniki?"
Bulat yang sedang dalam mode kamuflase menepuk dadanya. "Tenang saja, ini salah satu kemampuan Incursio sehingga aku bisa menyelinap kedalam kapal dengan mudah. Dengan Incursio juga aku bertempur melawan suku selatan. Ini seperti pasangan hidupku!"
Hanya tawa hambar yang bisa Tatsumi keluarkan saat mendengar perkataan Bulat.
Dibalik helm Incursio itu, pandangan mata Bulat meredup. "Tetapi meski memiliki teigu ini, aku tidak bisa menyelamatkan Jendral River dari dakwaan di Ibu Kota. Jendral didakwa akibat tidak menerima uang suap dari Perdana Mentri yang baru, bahkan ia juga tidak bisa membela dirinya sendiri ketika berada dipengadilan. Bahkan aku juga dituduh sebagai penjahat yang bekerja sama dengannya." Bulat juga ikut bersandar disamping Tatsumi.
"Tapi anehnya aku berhasil lolos dari penjara sebelum dihukum, aku kabur dengan segera sambil mengenakan Incursio." jelas Bulat.
"Jadi sekacau itukah keadaanmu dulu, aniki? Sungguh mengerikan."
Mereka berdua terdiam dengan pikiran yang berbeda. Terdengar suara listrik kecil sehingga Tatsumi menoleh kepada Bulat.
"Sepertinya aku sudah sampai batasku, aku harus melepaskan armor ini dulu sebentar. Untuk sementara aku akan memeriksa dibagian dalam. Sedangkan kau, berjagalah disini sebentar."
"Mereka akan mengenalmu jika melepaskannya disini, pergilah kedalam. Biar aku saja yang menjaga disini."
"Oke, aku serahkan padamu, Tatsumi.
Tatsumi tersenyum sambil sedikit melambai. 'Jika ada orang yang terlihat mencurigakan, aku tidak akan meremehkan dia. Walaupun aku sendiri terlihat mencurigakan sih, hehe'
Ia kembali bersandar ditepi kapal sambil meminum minuman tadi. Sesekali ia melirik kebelakang memeriksa apakah ada yang mencurigakan.
...
Suasana seketika menjadi sunyi yang dimana hanya terdengar suara hembusan angin saja yang terdengar. Tatsumi melihat sekitar dengan tatapan sedikit menajam. Ia juga segera beranjak dari tempat itu untuk mendekat ke tempat kakek yang merupakan salah satu tokoh politik penting di Ibu Kota yang harus ia jaga.
"Suara suling...?" gumamnya.
Didalam salah satu bagian kapal sendiri terdapat dua orang yang sedang duduk saling berhadapan. Salah satu dari mereka yang masih terlihat sangat muda sedang memainkan sebuah suling hingga mengeluarkan suara yang indah. Sedangkan satunya yang sudah nampak sekali seorang om-om hanya duduk santai sambil mendengarkan suara yang keluar dari suling tersebut.
"Seperti biasa, nada-nada yang dikeluarkannya begitu indah." Pujinya sambil menutup mata sambil mendengarkan dengan cermat suara seruling tersebut. "Cocok dengan kapalnya, kan?"
Anak muda tersebut tersenyum sedikit saat mendengar pujian tersebut dan terus memainkan serulingnya.
Scream, teigu berbenuk seruling yang bisa mengatur emosi seseorang yang mendengarnya dengan bebas. Biasanya digunakan dalam perang untuk menambah rasa semangat tempur, tapi dengan mengubah emosi juga bisa digunakan untuk berbagai cara.
Melihat keluar jendela, orang tersebut menaruh dagunya ditelapak tangannya. "Kapalnya telah meninggalkan tepian, momen yang sangat pas."
"Aku sudah memainkan suling ini cukup lama, bahkan jika aku berhenti untuk memainkannya. Semua orang pasti sudah kehilangan semangatnya." Jelas anak muda tersebut.
"Mungkin saja ada beberapa orang yang berada diluar jangkauan suara suling itu." Ujarnya sambil menoleh. "Jangan ceroboh, Nyaw."
"Baiklah, River. Aku akan memainkannya sebentar lagi supaya semua orang mendengarnya." Anak muda yang bernama Nyaw itu kembali memainkan sulingnya.
-In The Capital-
Pada salah satu jalan raya di Ibu Kota yang terkenal akan keramaiannya beserta barang dagangannya, terlihat seorang wanita yang berjalan dengan anggun sambil tersenyum tipis meski tidak terlihat. Jika dilihat dari pakaian yang ia kenakan, sudah pasti ia adalah salah satu prajurit militer Kerajaan.
Bukan, wanita ini bukan lagi seorang prajurit. Wanita ini merupakan salah satu dari sekian Jendral yang ada di Kekaisaran. Wanita ini terkenal akan kebrutalannya dan rambut biru esnya yang mencolok sehingga wanita ini bisa dikenali dengan mudah. Namanya wanita itu ialah Esdeath.
Esdeath sesekali berkunjung ketoko-toko untuk melihat ataupun menyapa penjualnya. Tidak jarang juga dia menanggapi sapaan beberapa warga yang berpapasan dengannya. Seperti yang ia lakukan sekarang, dimana Esdeath sedang berkunjung kesalah satu toko makanan manis yang ada disana.
Mengerti kalau penjual itu sedikit takut, Esdeath pun segera menenangkannya. "Tenang saja, aku hanya ingin menyampaikan. Mulai sekarang, aku yang akan mengatur tata tertib Ibu Kota." Jelasnya.
"Y-ya! Itu sangat bagus, Esdeath-sama!" Ucap penjual itu dengan lantang. Setelah itu, gelagat dari penjual tersebut sedikit aneh sambil melirik Esdeath. "I-ini ada sedikit..."
Esdeath diam sambil mengambil dua keping emas dari tangan penjual tersebut, ia pun tersenyum tipis melihatnya.
Cleb!
"Gyaaa!"
"Aku tidak membutuhkan uang suap darimu. Sekali lagi kau begitu, akan kubuat kau menderita melebihi ini." Jelas Esdeath sambil menekan koin emas itu dikedua mata penjual.
"GYAAAA! Ini sudah cukup menyakitkan!!"
Menghentikan kegiatannya, Esdeath langsung duduk dikursi panjang yang ada didepan toko. "Boleh aku coba es krimmu? Tempat ini terkenal karena rasanya, bukan?"
"Y-ya! Segera datang!"
Esdeath sedikit bersenandung sambil menunggu es krim pesanannya datang. Tidak jauh dari tempatnya lebih tepatnya diatas atap, terlihat kalau ada Leone yang sedang dalam mode Lionelle . Setetes keringat jatuh diatas atap dan jika dilihat lebih jelas. Wajah Leone saat ini sedang dibanjiri oleh keringat.
'Esdeath berada jauh dari istana Kekaisaran dan ini keempatan yang bagus buat menyerangnya! Seharusnya itu yang sudah pasti aku lakukan, tapi...' Leone mengangkat sedikit kepalanya, matanya bergetar seperti ketakutan. 'Aku tahu kalau aku bisa menyerangnya sekarang, mumpung aku sedang dalam mode lionelle ...! Tapi dia bertindak sendirian tanpa adanya pengawal satupun, mungkin ini jebakan untuk memancingku...!'
'Dan buktinya adalah bau yang terpancar dari tubuhnya...' Leone memperhatikan Esdeath lebih seksama. Bisa ia rasakan kalau nafsu membunuh Esdeath menyeruak bebas. 'Iblis, yang penuh akan keinginan membunuh...!'
Leone menggertakkan giginya bahkan cengkramannya pada atap berhasil membuatnya remuk. 'Berpikir kalau aku bisa mnyerangnya begitu saja ketika ada celah. Aku terlalu naif.' Leone berbalik dan segera kabur dari tempat itu. 'Kuso, aku harus mengikuti instingku dan segera mundur!' Leone segera melompat melewati rumah-rumah hingga tak terlihat.
Kembali ketempat Esdeath berada, ia sedang menatap diam atap rumah yang menjadi tempat persembunyian dari Leone tadi. "Hm? Jadi, dia tidak memakan umpannya, membosankan sekali. Padahal aku ingin mencoba beberapa teknik penyiksaan yang baru." Gumam Esdeath dan menjilat sedikit es krim miliknya.
"Ini enak juga." Esdeath menatap langit. "Ketika misi ini selesai, aku harus mengajak mereka bertiga untuk mencobanya..."
"Ojisan! Aku pesan es krimmu satu!"
Mendengar ada orang yang memesan dan bahkan duduk disampingnya, bisa Esdeath lihat kalau orang tersebut adalah seorang laki-laki yang memiliki rambut kuning jabrik. Memakai baju hitam lengan panjang yang dilapisi jaket tanpa lengan yang berwarna orange, serta bawahan menggunakan celana panjang berwarna hitam dengan lilitan perban dipaha kirinya.
Siapa orang ini? Esdeath belum pernah melihatnya di Ibu Kota. Pandangannya kembali sedikit fokus pada tiga guratan yang ada diwajahnya itu. Merasa diperhatikan, laki-laki tersebut menoleh dan tersenyum gugup.
"Ano... Apa ada yang salah dengan wajahku?" Tanyanya sambil menggaruk belakang rambutnya.
Esdeath kembali tersadar dan menjilat sedikit es krimnya sebelum menatap laki-laki itu lagi. "Tidak ada, hanya saja aku belum pernah melihatmu di Ibu Kota selama ini. Apa kau seorang pengelana yang sedang melakukan perjalanan?" Tanya Esdeath yang terlihat penasaran.
Laki-laki itu sedikit menghembuskan nafas lega, ia kira ada sesuatu yang salah dengan wajahnya. "Sebelumnya sih iya, aku seorang pengelana. Asalku dari desa tersembunyi yang berada dekat perbatasan dibagian timur. Namun saat singgah di Ibu Kota ini ditengah perjalananku, aku memutuskan untuk tinggal disini saja." Jelasnya sebelum mengulurkan tangan kanannya yang terbalut perban.
"Perkenalkan, namaku Uzumaki. Nama Nee-san siapa?" Tanya laki-laki yang bernama Uzumaki yang tidak lain adalah Naruto.
Melihat tangan kanan Naruto sebentar, Esdeath pun tersenyum tipis dan menyambut jabatan tangan perkenalan dari Naruto. "Esdeath. Itulah namaku."
"Salam kenal, Esdeath-san."
"Salam kenal juga, Uzumaki-san."
Tangan mereka berdua saling berjabat dimana Naruto sedang tersenyum lebar sedangkan Esdeath tersenyum tipis, bahkan saking tipisnya hingga hampir tak kelihatan.
-Back To Ship-
Suasana diatas dek kapal itu terlihat sunyi dimana kebanyakan orang-orang telah pingsan, meski ada sebagian yang masih bertahan tapi tidak lama sebelum mereka juga ikut pingsan menyusul yang lainnya.
"Guh..."
"Berhenti... Aku... Sudah..."
"Aku sudah tidak bisa tahan la-"
Yap, orang-orang sedang pingsan semua sehingga tidak ada lagi penjagaan diatas dek tersebut. Dari sekian banyaknya orang yang telah pingsan, hanya satu orang saja yang masih bertahan untuk tetap sadar bahkan masih mampu buat untuk berdiri. Orang itu tidak lain adalah Tatsumi.
Ia berdiri sambil terengah-engah dan berusaha agar tidak ikut pingsan seperti orang-orang. Pandangannya ia alihkan kesekitar dan mendecih ketika menyadari kalau cuma dirinya yang masih sadar.
'Sebenarnya ada apa ini? Apa karena suara suling tadi yang menyebabkan orang-orang pingsan? Aku harus mencari anilki, tapi...' Tatsumi sedikit meringis sambil memegang sebelah telinganya. 'ugh... Meskipun harus mencari aniki, itu akan percuma saja karena seluruh tenagaku seperti habis.' Gumamnya.
"BAHKAN TUTUP TELINGA JUGA MASIH TERDENGAR! INI PASTI TEIGU?!"
Tap!
"Wah... Wah... Tidak kusangka kalau masih ada yang bertahan untuk tidak pingsan setelah mendengar suara suling itu."
Mendengar suara seseorang yang berasal dari belakangnya, Tatsumi menoleh dan melihat seorang laki-laki berambut pirang dan berbadan kekar sedang berjalan kearahnya. Jubah kulit hitamnya terlihat berkibar ketika angin berhembus kuat.
"Bukannya memilih untuk pingsan, kau justru memilih untuk tetap sadar, ya. Menarik sekali." Ujarnya sambil tersenyum lebar.
Tatsumi memandangnya dengan tajam ketika menyadari kalau laki-laki tersebut terlihat berbahaya. Ia bahkan sudah memegang gagang pedang gudoudama yang berada dibelakangnya. "Mendengar ucapanmu barusan, itu berarti kalau kalian adalah Night Raid palsu itu. Apa tujuan kalian sebenarnya?."
Laki-laki itu menghentikan langkahya sekitar 10 meter dari tempat Tatsumi berdiri. Ia memandang Tatsumi dengan pandangan bengis sekaligus tersenyum lebar. "Mudah saja, aku ingin memiliki banyak pengalaman tempur. Dengan cara melawan orang-orang yang kuat dan membunuh, aku bisa memiliki banyak sekali pengalaman tempur dan menjadi yang terkuat, khekhekhe." Jelasnya.
Sudah cukup! Tatsumi menarik pedangnya dan menatap tajam kearah laki-laki tersebut. Sepertinya tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka berdua. Tatsumi yakin sekali kalau musuh yang ada dihadapannya ini lebih baik dimusnahkan saja.
Mengarahkan pedangnya kedepan, Tatsumi langsung memasang posisi. "Kalau itu maumu, akan kuberikan pengalaman yang sangat bagus untukmu."
Dash!
Tatsumi melesat dengan cepat yang dimana laki-laki tersebut sedang menyeringai lebar sambil memegang sebuah gagang senjata dipunggungnya.
"Sempurna!! Dengan semangat dan kekuatan yang kau miliki itu..." Laki-laki tersebut menarik senjatanya yang berupa kapak ganda yang berukuran pendek. "Akan aku hancurkan supaya mendapatkan pengalaman yang besar." Ujarnya dengan niat membunuh yang kuat.
Merasakan jika ia tetap maju akan celaka, Tatsumi dengan sigap menhentikan kecepatan tubuhnya dan melompat kebelakang dengan sekuat tenaga.
Brak!
Benar saja karena laki-laki tersebut menebas lantai dek kapal yang ada didepannya dengan sangat kuat hingga menyebabkan lantainya hancur berkeping-keping. Melihat itu, Tatsumi justru bekeringat dingin dan sedikit menghela nafas saat ia dengan cepat menghindar dari situ.
Ia juga bersyukur karena memiliki reflek menghindar yang sangat bagus. Berterima kasihlah pada Naruto-sensei yang hampir setiap hari mellatih reflek miliknya. Tunggu dulu! Bukan swekarang waktunya untuk memikirkan itu.
Tatsumi menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada laki-laki yang ada dihadapannya. Laki-laki tersebut menarik kapak gandanya dan melihat Tatsumi kembali.
"Meski sudah terpengaruh oleh nada dari suling tersebut, kau masih memiliki reflek yang mengagumkan rupanya. Menarik sekali." Laki-laki itu memasang posisi sambil memegang gagang kapaknya dan menariknya hinga terbelah menjadi dua. "Meski pada akhirnya, kau tidak akan bisa mengalahkan Daidara yang perkasa ini!!"
Wuzh!
Dengan sekuat tenaga ia melempar salah satu bagian kapak tersebut hingga bisa melaju dengan cepat. Tatsumi dengan sigap menunduk untuk membiarkan kapak itu melewatinya dan bersiap menyerang Daidara. Namun ketika mendengar sesuatu yang mendekat kearahnya dari belakang, Tatsumi menoleh dan terkejut saat melihat kalau kapak itu berbalik arah bagaikan bumerang.
"Apa?!"
Kapak itu melewati Tatsumi karena berhasil menghindar walau jaraknya sudah dekat hingga membuat pakaian depan yang dikenakan oleh Tatsumi sobek akibat kapak itu. Tatsumi kembali menunduk saat satu bilah kapak terlempar kearahnya lagi, ia berhasil menghindar kembali saat kapak itu berbalik arah namun jika diperhatikan dengan seksama, tepat dibagian pipi kanannya terdapat luka horizontal tipis.
Hal itu menandakan kalau Tatsumi tidak bisa menghindar dengan tepat waktu. Ia terengah-engah sembari memperhatikan Daidara yang baru saja menangkap bilah kapak miliknya.
'Gawat, karena nada dari suling itu membuat tubuhku susah bergerak. Jika begini terus, maka aku akan kalah darinya...' Gumamnya.
Belvaac, teigu yang berbentuk kapak ini hanya bisa digunakan oleh orang yang memiliki tenaga yang kuat saja. Teigu ini juga memiliki kekuatan serangan yang sangat dahsyat. Bilah teigu ini bisa dipecah menjadi dua bagian dan jika dilempar, maka akan terus mengejar target hingga kena.
Wuzh!
Tatsumi membulatkan matanya dan menghindar dengan cepat saat bilah kapak itu hampir mengenai kepalanya. Melihat kalau bilah tersebut melesat jauh sebelum berbalik arah, Tatsumi langsung melesat kearah Daidara.
"Sudah kuduga kalau kalau kapak itu akan mengejarku. Kalau begitu caranya, maka akan kubuat mengenai dirimu sendiri!" Ujarnya sambil memegang erat pedangnya, tanpa menyadari kalau Daidara sedang menyeringai.
Tatapan Tatsumi semakin menajam dan mengenggam lebih erat pedangnya sebelum...
"APA KAU BODOH, HAH?!!"
Daidara menatap heran pria yang tiba-tiba muncul itu sambil menangkap bilah kapaknya. Sedangkan pria yang baru saja datang dan memukul Tatsumi hingga terpental, tidak lain adalah Bulat. Ia berjalan dengan wajah kesal kearah Tatsumi yang sedang meringis kesakitan memegang hidungnya yang berdarah akibat dipukul barusan.
"APA KAU MEMANG INGIN MATI, HAH?! MUSUHMU SUDAH SANGAT SIAP MENERIMA SERANGANMU DAN KAU DENGAN GEGABAHNYA MAIN SERANG SAJA! DILIHAT DARI SUDUT MANAPUN TADI, KAU PASTI AKAN LANGSUNG KALAH BAHKAN MATI! BAGAIMANA BISA KAU DENGAN CEROBOHNYA MASUK KEDALAM PERANGKAP MUSUH!!?" Omel Bulat sambil menunjuk-nunjuk Tatsumi.
"A-aniki..."
Daidara hanya memperhatikannya sebelum menyadari akan sesuatu. "Tidak kusangka kalau kau masih bisa bergerak seperti itu ketika mendengar nada dari suling tadi. Apa ini karena kau dengan nekatnya menusuk pahamu sendiri supaya bisa tetap sadar?"
"Nada dari suling barusan itu? Itu tidak akan berpengaruh padaku dan bukan karena aku menusuk pahaku sendiri." Bulat menjawabnya sambil tersenyum tipis.
"Apa?"
Bulat mengangkat kepalanya dan tersenyum dengan penuh percaya diri kearah Daidara. "Karena darah panas yang mengalir didalam tubuhku tidak akan bisa dikekang oleh siapapun." Ujarnya dengan percaya diri dan tegas.
Daidara mulai tersenyum lebar saat mendengar perkataan Bulat. 'Orang ini...'
"Pria yang menarik. Sepertinya dengan mengalahkanmu disini, aku akan memiliki banyak sekali pengalaman tempur." Ujarnya sambil memasang posisi.
Bulat sedikit tertarik. "Aku Bulat, dari Night Raid . Kau bisa memanggilku SI Tampan." Ucap Bulat memperkenalkan diri.
"Aku adalah pelayan dari Esdeath-sama. Daidara dari San-biki No Kemono. " Daidara juga memperkenalkan diri.
Tatsumi hanya diam melihatnya sebelum tersentak saat Bulat memanggilnya dan melirik kearahnya sambil tersenyum tipis.
"Lihatlah caraku bertarung dan ingat dengan baik!"
Matanya sedikit melebar saat mendengar perkataan dari aniki, apalagi saat ia baru menyadari kalau aniki itu lebih keren dibandingkan Naruto-sensei.
Melihat sedikit anggukan dari Tatsumi, Bulat kembali tersenyum tipis dan merendahkan tubuhnya sambil menapakkan tangan kanannya diatas dek kapal. Bulat menatap tajam Daidara dan menarik nafas dengan dalam.
"INCURSIO!!!"
Dibelakang Bulat muncul sosok raksasa zirah yang hanya memperlihatkan setengah tubuhnya saja. Raksasa itu kemudian membungkuk seperti melindungi Bulat dan beberapa saat kemudian, asap disekitar Bulat tadi menghilang dan memperlihatkan Bulat yang sedang memakai armor incursio.
Merasakan tekanan dari anggota Night Raid yang asli tersebut, Daidara tidak dapat menahan rasa senangnya dan langsung berlari kearah Bulat.
"Rupanya dia sangat kuat!!"
Bersamaan dengan teriakan dari Daidara, keluar dua orang lainnya dari tempat yang berbeda. Kedua orang itu tidak lain adalah River dan Nyaw. Mereka bertiga menuju kearah yang sama yaitu Bulat yang sedang berdiri dia ditengah.
'Dengan semua keributan diluar, aku tahu kalau Night Raid pasti sudah datang. Aku harus membantu Daidara.' Batin River.
'Aku akan memukul kepalanya dengan sangat kuat.' Nyaw juga membatin sambil tersenyum senang. Karena bagaimanapun, bagaimanapun tidak mungkin bisa melawan tiga orang yang merupakan pengguna teigu.
Tatsumi membulatkan mata saat melihat dua musuh yang baru datang. "Ani...!"
Bulat bereaksi dengan cepat dan menoleh kearah Nyaw, kemudian memukul Nyaw dengan sangat kuat hingga memuntahkan darah dan terpental kearah tumpukan box-box yang berada disudut.
Ia kembali bergerak dengan cepat kearah River yang tidak sempat bereaksi dan langsung menendangnya dengan kuat kearah pinggiran kapal hingga menyebabkan keretakan yang cukup parah.
Daidara terlihat sangat terkejut dengan apa yang terjadi, apalagi ia tidak sempat bergerak ketika Bulat sudah muncul dihadapannya.
Jrazh!!
Tatsumi menatap tidak percaya ketika Bulat berhasil mengatasi ketiga San-biki No Kemono sendirian tanpa adanya bantuan sedikitpun.
"Tatsumi... Inilah yang kumaksud sebelumnya tentang waspada dengan sekitarmu." Ujar Bulat sambil berdiri menghadap Tatsumi sambil mengibaskan tombaknya dari darah millik Daidara yang ia belah barusan.
Incursio, teigu berbentuk armor yang diciptakan berdasarkan Danger Beast tingkat S. Ketika dipanggil, dia akan menyelimuti pengguna dengan perlindungan yang sempurna dan kemampuan dari penggunannya akan digandakan hingga melebihi batas normal untuk menghancurkan musuhnya.
.
.
--A New Dimension--
.
.
-Konohagakure-
Sudah sekitar 2 bulan sejak diumumkan kepada seluruh warga Konoha, kalau Naruto telah diculik oleh seseorang yang sangat berbahaya dimana sanggup mengalahkan Naruto dan menculiknya. Tentu saja warga Konoha menjadi sangat khawatir akan Kage mereka tersebut. Kakashi sendiri terpaksa melakukan kebohongan tersebut agar warga Konoha tidak curiga dengan kebenaran yang sesungguhnya.
Bahkan untuk meyakinkan seluruh warga Konoha, Kakashi menunjukkan sebuah perkamen kecil yang terdapat logo Outsutsuki. Perkamen itu dibawa oleh Sasuke setelah mengelilingi kastil milik Kaguya disalah satu dimensinya. Saat ini Sasuke kembali fokus untuk mencari keberadaan dari Naruto yang menghilang tanpa jejak.
Kakashi sendiri saat ini hanya sedang berjalan-jalan mengelilingi desa sambil sesekali membalas sapaan dari penduduk desa. Tanpa sadar kalau ia saat ini berada disebuah tempat latihan. Melihat tempat latihan tersebut membuat Kakashi sedikit nostalgia, ia memegang salah satu batang pohon yang berdiri secara berjejer.
Batang pohon itu hanya sebatas dari pundaknya saja dan terdapat tiga batang pohon yang berjejer. Bisa Kakashi lihat siluet anak muridnya yang masih anak-anak. Sekarang mereka bertiga sudah dewasa dan memiliki kehidupannya masing-masing, meski salah satu dari mereka ada yang sedang terkena masalah keluarga.
Menghela nafas pendek dan segera pergi dari tempat tersebut. Kakashi kembali melakukan acara jalan-jalan untuk mengisi waktu istirahatnya sebelum berurusan dengan musuh setiap kage yang tidak lain adalah berkas-berkas.
Kita beralih kepada salah satu rumah yang ada di desa Konoha tersebut. Rumah milik sang Nanadaime Hokage, Uzumaki Naruto. Rumah itu terlihat sunyi karena hilangnya sang kepala keluarga dan sekaligus mentari rumah tersebut.
Meski kelihatan sunyi, rumah ini tetap bersih tanpa adanya kotoran ataupun debu yang menempel. Karena nyonya rumah ini terus membersihkannya untuk mengalihkan rasa sedih dan bermasalah miliknya.
Seperti saat ini dimana Hinata sedang membersihkan debu-debu disalah satu ruangan yang dimana merupakan ruangan pribadi Naruto sendiri. Ia terkadang menatap sendu sebuah foto ketika mwreka berdua menikah. Karena tidak ingin terlarut dalam kesedihan, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Mama?"
Ia melihat kedepan dimana anak perempuannya baru saja memanggilnya tepat didepan pintu. Anak perempuan yang tidak lain adalah Himawari itu memperhatikan Hinata sambil memiringkan kepalanya yang disertai tanda tanya kecil diatasnya.
Tersenyum lembut seperti biasanya, Hinata berjalan kearah Himawari. "Ada apa sayang?"
Himawari menggelengkan kepalanya pelan dan berjalan kearah sebuah kardus yang tidak jauh dari pintu. Hinata terus memperhatikan ketika Himawari mengambil dan menoleh kearahnya.
"Apa Hima boleh meminjam buku ini, mama?" tanya Himawari sambil memperhatikan buku yang diambil oleh Himawari.
Sebelum menjawabnya, Hinata memperhatikan buku itu karena bisa ia lihat kalau pembuat buku itu tidak lain adalah Jiraiya no Sannin, guru dari suaminya. Setelah memastikan kalau buku itu bukanlah buku icha-icha yang masih sering dibaca oleh Kakashi-sensei, Hinata mengangguk mengizinkan sehingga membuat Himawari senang.
Hinata memandang sendu kepergian Himawari dan memutuskan untuk melanjutkan acara bersih-bersihnya. Beberapa menit berlalu dan Hinata sekarang lagi membersihkan debu-debu yang ada dilantai. Ia terlalu fokus untuk membersihkan debu-debu itu hingga tidak sengaja menyenggol kardus yang berukuran sedang.
Bruk!
"Ya ampun..." Mematikan mesin penghisap debu, Hinata segera membereskannya sebelum berhenti.
Tangannya terulur untuka mengambil sebuah rompi tanpa lengan yang berwarna abu-abu. Hinata melihat rompi itu sambil mengelusnya sebelum sepotong ingatan kemarin malam saat dikantor Hokage melintas.
"Terimalah kenyataan ini, Hinata. Naruto itu tetaplah seorang shinobi dan tangan seorang shinobi selalu berlumuran darah."
Mengingat perkataan dari Tsunade-Hime membuat ia tanpa sadar menangis kembali. Hinata terduduk sambil memeluk erat rompi itu dan terisak pelan begitu saja diruangan yang sedikit gelap.
--???--
Tap!
Sebuah kaki kanan berhenti diujung tebing yang bersalju, jubah hitamnya berkibar dan mata hitam legam miliknya memperhatikan sebuah kastil yang tidak jauh dari tempatnya. Berdiri beberapa saat dipinggir tebing tersebut, orang itu memilih melompat turun dari tebing.
Tidak jauh dari tempatnya tadi rupanya ada seseorang yang memperhatikannya. Orang tersebut nampak menyeringai sambil mengetuk-ngetukkan sebuah kail pancing dibahunya.
"Heh, sepertinya ini akan menarik." Ujarnya dan mulai mengikuti jejak sosok berjubah hitam tersebut.
--Back To Ship--
Tatsumi POV
Aku tahu kalau aniki itu kuat, bahkan bisa dibilang aniki itu orang terkuat kedua setelah Naruto-sensei. Tapi tidak kusangka kalau aniki berhasil mengalahkan ketiga musuh dengan singkat. Meski hanya satu saja tewas, aku tetap merasa kagum kepada aniki.
Kekagumanku tidak bertahan lama dan diganti oleh rasa khawatir saat salah satu musuh rupanya mantan Jendral yang pernah menjadi atasan aniki dulu ketika masih berada didalam prajurit Kerajaan. Aku ingin membantu aniki tapi setelah urusanku dengan salah satu musuh yang sudah sadar dari pingsannya.
Ah!! Kenapa semua ini begitu memusingkan!? Bagaimana mungkin Najenda-san bisa membuat semua keputusan dengan mudah??
"Ada apa? Kau takut kalau temanmu kalah dari River?"
Sret!
Menghapus sedikit darah yang mengalir dari luka gores dipelipisku sambil terus memperhatikan orang yang menjadi musuhku ini. Dilihat dari senjatanya yang berupa suling, sudah pasti dialah pelaku utama yang membuat orang-orang dikapal pingsan.
"He~ Tidak kusangka kalau kau masiih memiliki reflek yang secepat itu."
Hah? Apa dia mengejekku? Apa dia tidak tahu betapa menderitanya aku supaya dapat reflek yang secepat ini, bahkan saat tidur pun harus dipaksa untuk tidak lengah. Ah, sudahlah. Aku harus segera serius supaya bisa membantu aniki.
Terus menatap musuh, dengan segera memasang posisi. "Jaa, kita tingkatkan level pertarungannya."
Tatsumi POV END
Mendengar perkataan dari Tatsumi membuat Nyaw ingin tertawa. Apa dia tidak salah dengar? Meningkatkan level pertarungan katanya? Heh, dia saja sudah penuh luka tapi masih ingin bertarung.
Meski begitu pun, Nyaw masih tidak bisa menahan rasa kekagumannya saat melihat kalau Tatsumi masih bisa bergerak dengan reflek yang cepat. Apa nada dari sulingnya tidak bereaksi terhadap anak ini?
Well, kau saja yang tidak tahu betapa beratnya latihan yang Tatsumi peroleh hingga memiliki reflek gila seperti itu. Bukan satu atau dua shuriken dan kunai saja yang menargetkannya, melainkan sampai jumlah puluhan mengincarnya dan hal itu dilakukan setiap hari tanpa mengenal waktu, kecuali ketika dalam misi.
Bukannya Naruto pernah bilang. "Stamina sangat dibutuhkan, karena bisa saja ketika sedang bertatrung dengan musuh tiba-tiba kau kehabisan stamina dan itu hanya bisa membunuhmu dengan cepat." Karena itulah bukan hanya stamina milik Tatsumi yang diasah oleh Naruto, melainkan reflek dan juga kecepatannya ikut diasah.
Saat ini bisa dibilang kalau kecepatan Tatsumi berada dibawah Leone dan diatas Lubbock. Untuk Naruto sendiri sudah tidak perlu dihitung karena kemampuannya berada diatas rata-rata sehingga bisa dibilang kalau dia adalah anggota tokubetsu (khusus) dari Night Raid.
Trink! Trink! Trink!
Suara dentingan memenuhi dek kapal tersebut yang merupakan hasil dari pertarungan Tatsumi melawan Nyaw. Saat ini posisinya menjadi terbalik dimana Nyaw sedang tersudut karena serangan Tatsumi yang semakin lama menjadi semakin cepat.
Nyaw memiringkan kepalanya dan sat melihat celah, ia segera menendang Tatsumi meski berhasil dihindari dengan cara backflip kebelakang hingga jarak antara Tatsumi dan Nyaw hanya beberapa meter saja. Mereka berdua saling memandang sembari menganalisis satu sama lain.
'San-biki No Kemono, kekuatan mereka setidaknya berada dua tingkat diatas Ogre. Kecepatan orang ini juga tidak bisa dianggap remeh, bahkan aku harus membuka kedua pemberat yang ada dikakiku. Meski kecepatannya masih dibawah Akame dan Naruto-sensei.' Batin Tatsumi.
'Tidak kusangka kalau aku sampai terpojok begini untuk melawan kroco sepertinya. Kecepatannya juga bertambah saat dia melepas benda yang bisa kusimpulkan sebagai pemberat. Aku penasaran siapa yang telah melatihnya hingga bisa mengimbangi pengguna teigu sepertiku.' Batin Nyaw.
Perhatian mereka berdua teralihkan saat mendengar suara gemuruh air. Bisa mereka berdua lihat jika disebelah sisi kapal terdapat ular kobra raksasa yang terbuat dari air. River yang berdiri diatas ular air hanya menatap datar Bulat.
Meski sedang bertarung, masih sempat-sempatnya Tatsumi merasa kagum melihat ular air itu. "Woah! Sesuatu yang menakjubkam sedang terjadi disana!!"
"Ahaha, selama ada banyak air disekitar, River tidak mungkin akan kalah."
"Heh, bisa ditebak dengan mudah kalau aniki yang akan menjadi pemenangnya."
...
"Maksudmu river, kan?"
"Tentu saja aniki yang kumaksud!"
Ok, kita tinggalkan kedua orang itu yang sedang beragumen sambil mengadu kedua senjata mereka. Kita beralih ketempat Bulat dan River berada. Ia memasang posisi sasmbil menatap waspada kearah ular air tersebut.
"Kau akan terhempas oleh tekanan air ini, Bulat!!" Teriak River dan mengarahkan tangan kanannya kedepan.
"Shin'en No Hebi!!" (Snake Of The Abyss)
Ular air itu langsung menuju kearah Bulat yang sedang memutar tombaknya. Tatapan Bulat menajam dari balik helm armornya, ia pun melompat sambil memposisikan tombaknya untuk menusuk ular air itu.
"UOOHHHHH!!!"
Bulat berhasil menerobos ular air hingga ia saat ini sedang berhadapan dengan River diudara, ular air tadipun pecah menjadi rintik air yang membasahi dek kapal. River hanya menatap datar mantan bawahannya itu.
"Sudah kuduga kalau kau akan menerobos ular itu karena jika tidak maka dek kapal akan langsung hancur." River mengangkat tangan kanannya dimana ada sebuah teigu berbentuk cincin dijari tengahnya. "Tetapi karena sekarang kau berada diudara, kau tidak akan bisa menghindari ini!!"
Bulat melihat kebawah dimana air-air sekitar kapal mulai naik membentuk pilar yang mengarah padanya.
"Jaakuna Doragon No Yari!!" (Evil Dragon Spear)
Brack!
"Arrkkk...!!"
Benar dengan apa yang dikatakan oleh River, karena sedang diudara sehingga Bulat hanya bisa menerima serangan yang mengenai punggungnya hingga menyebabkan armor bagian wajahnya pecah dan memperlihatkan bibir dan sebelah matanya saja.
Bulat menggertakkan giginya dan menatap River dengan raut wajah marahnya. "Hanya karena sedikit tekanan air seperti ini. TAKKAN CUKUP UNTUK MEMADAMKAN SEMANGATKU!!!"
"Ya, itu tak akan cukup untuk mengalahkanmu."
"!!!"
River mengangkat kepalanya dan melihat Bulat yang masih berada diudara. "Tapi aku sudah tahu hal itu. Kita berdua sudah sering kali bertarung bersama. Kekuatanmu, aku mengenalmu lebih dari siapapun." River menutup matanya dan teigu cincin miliknya bersinar. Ia kemudian memasang posisi sambil menatap tajam Bulat dengan puluhan naga yang terbuat dari air disekitarnya. "OLEH SEBAB ITU, AKU AKAN MEMBERIKAN KEMAMPUAN TERBAIKKU!!"
"Hebunriu-otadoragon No Handan!!!" (Judgement Of The Heavenly Water Dragon)
Bulat menatap ngeri kearah puluhan naga air dan dengan cepat ia segera memasang posisi bertahan sembari berteriak. Namun suara Bulat muali perlahan menghilang ditelan oleh puluhan naga air tersebut. River memperhatikan dengan seksama untuk memastikan kalau Bulat telah musnah.
"Apa dia mati?" gumamnya.
"Bukan saatnya bicara seperti itu!!"
"!!"
River mendongak dan ia terkejut kalau Bulat masih hidup dan saat ini sedang menghunuskan tombaknya.
"KAU BOLEH MENGATAKANNYA JIKA SUDAH MENGALAHKAN MUSUHMU!!" Jelas Bulat sambil berteriak.
River sendiri merasa tidak percaya. "Jadi kau ingin mengakhirinya...!?"
Tinggal sedikit lagi maka sudah dipastikan kalau River akan tewas menyusul Daidara, namun Bulat terpaksa mendecih saat melihat Nyaw melesat kearahnya. Sehingga ia denga sangat kuat memukul Nyaw menggunakan gagang tombaknya.
Nyaw segera duduk sambil bersandar pada tumpukan box yang ia tabrak tadi. Memasang senyum mengejek, Nyaw tertawa sambil menghiraukan tubuhnya yang terdapat banyak luka sayatan.
"ahaha, sepertinya kau kehilangan kesempatan untulk membunuh River." Ujar Nyaw.
Bulat terdiam sesaat sebelum menoleh kearah lain dimana ada yang memanggilnya. Bisa ia lihat kalau Tatsumi saat ini sedang terbaring sambil memegangi lengan kanannya yang dimana sendinya pasti terlepas dan beberapa memar diwajahnya. Ia menatap Bulat dengan raut wajah yang menyedihkan.
"Go-gomen aniki... Aku tadi lengah..."
Bulat menatap diam Tatsumi sebelum tersenyum tipis dan diikuti armornya yang mengeluarkan asap. "Jangan khawatir, Kau masih hidup setelah melawan pengguna teigu telah membuktikan kalau kau telah berusaha dengan sangat baik." Bisa dilihat kalau saat ini kondisi Bulat juga dibilang memprihatinkan, menandakan kalau ia masih bisa terluka meski menggunakan teigu miliknya.
Tatsumi kembali sedih saat melihat kondisi orang yang sudah ia anggap kakak itu. "Aniki..."
"Meskipun menggunakan armor itu kau masih bisa terluka parah juga, sepertinya teigumu melepaskan diri karena semua serangan yang kau terima. Ini sudah berakhir." Ujar River sembari memperhatikan Bulat.
Bulat sendiri hanya tersenyum kecil kearah River. "Jangan berlagak kuat, River. Telingamu juga berdarah tuh."
"!"
River sedikit terkejut mendengar perkataan Bulat apalagi ia bisa rasakan ada cairan yang mengalir dari salah satu telingnya.
"Melancarkan semua serangan yang bertekanan tinggi secara terus menerus tentu saja membuat tubuhmu lelah. Kondisimu saat ini tidak memungkinkan untuk menggunakan teigumu kembali." Ucap Bulat.
River menatap Bulat. "Jadi kau tahu rupanya. Sebenarnya aku ingin mempermudah ini, tapi ada yang ingin kutanyakan padamu." Semilir angin pun melewati mereka berdua.
"Bulat, apa kau mau bergabung dengan pasukan Esdeath-sama...? Jika itu kau, kau bisa dengan mudah naik pangkat menjadi tangan kanannya." Tanya River.
Mendengar perkataan dari mantan atasannya itu membuat Bulat tersenyum kecil. "Aku menolak untuk itu. Aku sudah tidak berminat untuk melayani Kekaisaran lagi."
River menggeleng pelan dan mencoba untuk meyakinkan Bulat. "Bukan Kekaisaran melainkan untuk melayani Esdeath-sama. Seperti yang aku lakukan setelah dia menyelamatkanku. Bisa berbuat apapun sesuka hatimu, ditakuti oleh orang lain dan juga..."
Tatapan River kemudian dipenuhi dengan kebencian akan sesuatu. "Bahkan bisa membunuh orang-orang busuk yang berlindung dibalik permainan politik kotor mereka. Ikutlah denganku, Bulat!! Esdeath-sama pasti akan membersihkan catatan kejahatanmu!!"
Bulat diam mendengar perkataan River sambil mengambil sebuah sisir disaku celananya dan mulai menyisir rambutnya. "Aku menolak. Membunuh para politisi itu mungkin akan membuatmu senang dan nyaman tapi aku lebih memilih untuk selalu menjadi sekutu rakyat, kan?" Bulat menatap tegas River dengan senyuman kecil dimana rambutnya sudah kembali seperti awalnya.
"Pasukan Esdeath mendukung Perdana Menteri dan aku tak mau melakukannya." Ujar Bulat dengan tegas.
River menghela nafas pelan. " 'Sekutu Rakyat'... Tidak kusangka akan mendengar seorang pembunuh sepertimu mengatakan kata-kata indah itu."
"Bukannya sudah sering kubilang kalau aku ini sangat rendah hati."
Dirasa kalau pertarungan ini sudah dekat dengan akhirnya, Nyaw segera menjauh dari tempat tersebut. 'Akan kusiapkan kartu pamungkasku, dengan itu kami bisa menang!!'
Disisi Tatsumi sendiri menatap khawatir Bulat, ia sedang memegang lengan kanannya yang dimana sudah sendi lengan tersebut sudah ia pasang kembali meski sedikit nyeri.
"Aniki..."
Pertarungan kematian ini akan segera mencapai puncaknya. Pada akhirnya jumlah pengguna teigu yang bisa meninggalkan kapal ini hidup-hidup hanya satu orang saja.
.
.
--A New Dimension--
.
.
Disalah satu sudut Ibu Kota saat ini terlihat Naruto yang sedang memata-matai Esdeath secara sembunyi-sembunyi. Hal ini bisa ia lakukan dengan mudah mengingat kalau dirinya seorang mantan tokubetsu anbu yang hanya mematuhi perintah dari Godaime Hokage saja.
Ia sedang memperhatikan Esdeath yang saat ini sedang membeli sesuatu dari atap rumah. Ia harus hati-hati karena bisa dibilang kalau Esdeath ini cukup sensitif akan sekitar, hingga ia harus menekan chakranya sampai titik dimana shinobi tipe sensor pun akan kesusahan.
'Niat membunuh wanita itu sangat tinggi, bisa dibilang jika niat membunuhnya setara dengan si rakun itu.'
'He~ Tidak kusangka. Pantas saja Esdeath sangat berbahaya.'
'Kemampuannya juga bisa dibilang sangat berbahaya. Mengingat cerita dari atasan barumu itu, wanita tersebut akan cukup merepotkan.'
Naruto mengangguk membenarkan ucapan dari partnernya itu. 'Kurasa kau ada benarnya juga, Kurama.'
Komunikasi mereka pun berhenti saat Naruto lihat kalau Esdeath saat ini kembali berjalan. Ia segera turun dari atap rumah dan segera mengikuti Esdeath sambil menjaga jarak. Tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu dan melihat kearah langit yang sudah nampak gelap akibat mendung.
"Akame, Tatsumi, Bulat, Lubbock, jika musuh muncul ditempat salah satu dari kalian..." Pandangannya sedikit menyendu. "Tetaplah bertahan dan kembalilah dengan selamat!"
Hujan mulai mengguyur membasahi Ibu Kota dan membuat orang-orang bergegas untuk berteduh. Namun itu tidak berlaku dikapal, tempat dimana Tatsumi dan Bulat sedang bertarung melawan ketiga pengawal dari Esdeath. Saat ini bisa dibilang kalau kemenangan berada dipihak Night Raid karena sudah dua pelayan Esdeath yang tewas, meski Tatsumi dan Bulat menderita luka parah juga.
"Cough...!"
"Aniki!"
Tatsumi berteriak khawatir ketika Bulat kembali memuntahkan darah untuk kesekian kalinya. Itu karena Bulat terkena racun River yang berada didalam darah miliknya sendiri. Rupanya River masih memiliki teknnik rahasia dari teigunya berupa jarum-jarum dari darah.
Oleh sebab itu River menyuntikkan racun kedalam dirinya supaya racun itu berhasil menginfeksi Bulat saat terkena teknik rahasia miliknya.
"Heh..." Bulat sedikti tertawa. "Seperti yang diharapkan oleh mantan atasanku. Jadi ini sebuah ikatan, ya?" gumamnya sambi melihat mayat River.
"Sudah cukup aniki, kita harus segera mengobatimu." Ujar Tatsumi sambil memapah Bulat.
Menggeleng pelan, tangan Bulat terangkat dan menunjuk kedepan. "Tatsumi... Pertarungan masih belum selesai."
Mengikuti arah yang ditunjuk oleh Bulat, Tatsumi langsung ingat kalau masih ada satu musuh yang belum mereka kalahkan. Suara suling mulai masuk kedalam pendengaran Tatsumi dan Bulat, namun mereka berdua tidak merasakan apapun seperti sebelumnya.
Nyaw hanya berjalan kearah mereka sambil terus memainkan suling miliknya.
'Himitsu no Sukiru: Shiretsuna Kami No Yobigoe.' (Secret Skill: Call Of The Firece God)
Dalam sekejap tubuh Nyaw langsung berotot dan kekuatannya meningkat 3x lipat. Tatsumi melihatnya dengan penuh keterkejutan.
"Nyanyian untuk memperkuat dirinya?! Apa ini salah satu kartu truff mereka!??" Ucap Tatsumi dan segera mengambil pedang gudoudama pemberian Naruto.
" Demi Esdeath-sama, apapun yang terjadi aku harus menyelesaikan misi ini. Sudah lama aku tidak berada dalam wujud ini." Monolog Nyaw sambil menyeringai.
Meski ia sudah berlatih dibawah pengawasan Naruto dan Bulat, Tatsumi masih tidak yakin bisa mengalahkan Nyaw yang sedang berwujud seperti itu. Bahkan tangannya sedikit bergetar saat merasakan kekuatan Nyaw yang meningkat.
'Gawat, aku pasti akan kalah. Bagaimana mungkin aku bisa mengalahkannya sendirian...?!' Batin Tatsumi dengan penuh kekhawatiran.
Meski sedang menutup matanya tapi Bulat bisa tahu kalau Tatsumi sedang berada kebingungan. Ia mengambil pedang miliknya dan mengangkatnya sedikit.
"Tatsumi..." Merasa dipanggil, pemilik nama itu menoleh kebelakang. "Aku percayakan ini padamu..."
Tatsumi terlihat tidak percaya. "Ini..."
"Ini kunci dari Incursio, armornya akan datang pada orang yang memilikinya." Jelas Bulat.
"Ak-aku?! Menggunakan teigumu?!"
"Hahaha! Menyerahlah, itu mustahil!" Tatsumi menoleh kearah Nyaw yang sedang menunjuk kearahnya. "Incursio akan menyiksa penggunanya, kan? Jika orang yang tidak cocok mencoba untuk memakainya, maka orang itu akan terbunuh! Jika kau juga tidak cocok, maka kau akan langsung mati dalam percobaan pertamamu! Bertarunglah seperti biasa kau bertarung!"
Merasa ada sesuatu yang dingin ditelapak tangan kirinya, Tatsumi segera menoleh. "Hah?"
Duagh
Sebuah bogeman yang didapatkan oleh Tatsumi hingga ia terlempar kesamping. Ia segera duduk sambil memegang pipi kirinya yang terasa sakit sambil melihat kearah Bulat yang baru saja memukulnya. "Aniki...?"
"JANGAN TERPEDAYA OLEH MUSUHMU!! DASAR BEGO!!" Bulat menatap Tatsumi dengan sangat tajam. "DARI LATIHAN DAN PENGALAMAN YANG SELAMA INI KAU DAPATKAN, ITU SUDAH LEBIH DARI CUKUP UNTUK MENGGUNAKAN INCURSIO!! DENGAN SEMUA LATIHAN YANG KAU DAPATKAN DARI KITSUNE, KAU SUDAH LEBIH DARI CUKUP UNTUK BISA MEMAKAINYA!!"
Tatapan Nyaw sedikit menajam. 'Kitsune? Jadi, bocah ini dilatih olehnya?'
Bulat sudah terlihat lebih tenang dan terus melihat Tatsumi. "Untuk kesesuaian sendiri lebih berpengaruh pada pengalaman dan bagaimana dia memandang teigu itu. Kira-kira begitulah. Jika itu kau, tidak jadi masalah! Lakukanlah, Tatsumi!"
Tatsumi tertegun mendengarnya. "Aniki..." Ia pun tersenyum dan segera berdiri. "Hehehe, jika orang yang sudah aku anggap kakak dan kuhormati mengatakan ini..."
Ia melonggarkan dasinya, melepaskan dua pemberat yang rupanya masih ada dikakinya, menancapkan pedang gudoudama disampingnya, Tatsumi langsung memasang posisi dengan pandangan mata lurus kearah Nyaw.
'Aku harus bertahan hidup untuk pengharapan ini, sebagao seorang lelaki!' Batinnya.
"Ahhh, astaga. Kau sungguh melakukannya, ya?" Seketika raut wajah Nyaw menjadi lebih kejam. "Baiklah. Aku akan membunuhmu sebelum kau membunuh dirimu sendiri!!" Nyaw langsung melesat kearah Tatsumi.
"BUATLAH DIRIMU MARAH DAN BERTERIAKLAH DENGAN SEMANGAT PENUHMU, TATSUMI!!"
"UUOOOGGHHHHH!!"
Cleb!
" INCURSIOOOOO!!!"
Sama seperti Bulat, dibelakang Tatsumi muncul seorang raksasa yang hanya sebatas pinggang dan sedang melipat kedua tangannya. Beberapa saat kemudian, retakan terjadi pada bagian wajah raksasa itu dan akhirnya hancur, memperlihatkan wajah mengerikan khas monster.
Bulat bahkan sampai terkejut melihatnya. 'Armornya mengubah bentuknya sesuai dengan gerakan Tatsumi...!!!'
Nyaw sendiri terlihat tidak percaya. "Apa yang terjadi pada armor itu?! Jangan bilang kalau inti teigunya masih hidup?!"
Incursio, teigu yang dibuat oleh seorang tirani pada masa itu. Dibuat dari Danger Beast tipe naga yang dimana berbahaya dan tidak ada tandinganya. Naga ini selalu mengembara dikota-kota untuk mencari mangsa dan setiap yang bernyawa akan dilahapnya. Itu merupakan sebuah bencana besar.
Naga ini bisa berevolusi berdasarkan lingkungannya, meskipun sedang berada di gurun yang panas ataupun dilembah es yang sangat membeku. Ketika kaisar pertama masih memimpin, Kekaisaran bahkan kesusahan dan mengerahkan seluruh pasukan yang ada utnuk memburunya.
Naga ini terus saja berkembang dan terus memperoleh kekuatan iblis yang luar biasa hebat. Meskipun sekarang sudah ditundukkan dan diubah menjadi teigu, tubuh naga ini masih 'hidup' untuk terus berkembang agar bisa menaklukkan musuhnya.
Nyaw melihatnya dengan raut wajah terkejut dan keringat dingin yang mengalir diwajahnya, ia bisa rasakan kalau kekuatan Tatsumi meningkat drastis.
"Tatsumi, aku paham sekarang. Perasaanmu telah membuat incursio berkembang lagi." Gumam Bulat.
Siluet cahaya berwarna merah muncul didalam asap tempat Tatsumi berada. "Grup Esdeath yang sudah mengakambing hitamkan Night Raid dengan setiap pembunuhan yang ada secara terus menerus...!"
Asap itupun menghilang dan menampilkan sosok Tatsumi yang sedang diselimuti oleh armor incursio, dimana bentuknya berbeda dengan milik Bulat. "Waktunya bagi kalian untuk mendapatkan ganjaran atas perbuatan kalian!!"
Nyaw diam memperhatikan Tatsumi yang masih melihat tangannya. "kau terlalu memaksakan diri, bukan?!"
Tatsumi hanya diam sebelum mencabut pedang gudoudama yang ada disampingnya. "Sekarang aku paham, armor ini meningkatkan dengan paksa kekuatanku." Tatsumi menoleh kearah Nyaw yang sedikit berkeringat saat sekilas melihat siluet Danger Beast dibelakang Tatsumi.
"Jadi aku tahu, kalau aku bisa mengalahkanmu!!" Ujar Tatsumi sambil menunjuk Nyaw menggunakan pedang gudoudama.
Saat mendengar perkataan dari Tatsumi yang seperti meremehkannya, membuat Nyaw sangat marah dan langsung melesat kearah Tatsumi, melupakan kalau Tatsumi sedang memegang sebilah pedang.
"COBA SAJA KALAU MAMPU!!"
Tatsumi juga ikut melesat kearah Nyaw sambil memegang pedangnya dan langsung mengayunkannya dengan sekuat tenaga sebelum Nyaw memukulnya.
Jrazh! Blaar!
Tubuh Nyaw langsung terpotong menjadi dua bagian, bagian bawah yang berdiri dibelakang Tatsumi, sedangkan bagian atas yang tertanam pada bagian depan kapal yang tebal. Tubuh atas Nyaw perlahan menyusut keukuran semula dan jatuh begitu saja.
Bulat yang hanya menyaksikannya tersenyum. "Hahaha, jika dia sudah punya kekuatan seperti itu, tidak lama lagi dia akan melampaui kemampuanku berkat latihan dari Naruto juga."
Dalam penglihatan Bulat yang semakin buram, terlihat kalau Tatsumi memanggilnya dan berlari kearahnya. "Melampauiku entah darimana dan aku akan selalu mengawasimu, Tatsumi..."
.
.
--A New Dimension--
.
.
Hujan deras mengguyur dek kapal, saking derasnya hujan tersebut sehingga tidak nampak apapun sejauh mata memandang. Diatas dek kapal sendiri terlihat Tatsumi yang sedang berdiri sambil menatap mayat Bulat yang tersenyum.
Ia menggigit bibir bawahnya dan kedua pedang yang ada dimasing-masing tangannya, digenggam dengan sangat erat. "Aniki... Maafkan aku atas selama tingkah laku yang membuatku dipukul... Aku juga berterima kasih karena sudah sabar untuk melatihku selama ini. Aku akan menjadi lebih kuat dari ini, aku akan mempelajari semua hal tentang incursio sebaik mungkin." Kedua pundaknya terlihat bergetar dan suara isak tangis mulai terdengar.
"Jadi... Kare-karena itu...!!! Tidak apa-apakan jika aku sedikit menangis? Aniki..." Karena tidak sanggup menahan kesedihan, Tatsumi pun jatuh terduduk.
"HUUUAAAAAAHHHHHH!!!!"
Tidak ada seseorang yang berada disana, hanya Tatsumi seorang saja yang sedang menangisi kepergian seseorang yang sudah ia hormati dan ia anggap sebagai figur kakak. Hujan yang masih mengguyur deras, meredam suara tangisan Tatsumi.
Pada hari itu, Night Raid kembali kehilangan satu anggotanya dan juga Kekaisaran akhirnya mengetahui cara untuk melawan Night Raid.
.
.
.
--To Be Continued--
.
.
.
Note: A-ano...
Apa ada yang akan marah??
Kalau iya, maka...
.
.
.
.
.
.
.
.
HONTOUNI GOMENNASAI!!!
Gomen jika sudah tidak keliatan sejak update yang terakhir. Hari ini ane mutusin buat balik lagi untuk ngurusin fic-fic ane yang sudah berlumut. Sekali lagi gomen atas keterlambatannya...
Akan ane coba untuk lebih giat lagi updatenya disela-sela keseharian ane. Mungkin bisa sedikit terhibur dengan chapter 10 ini. Oh iya, ane hampir lupa buat bilang sesuatu. Ada perbedaan waktu di Kekaisaran dan juga di Konohagakure. Perbedaannya sendiri hanya berjarak 1 bulan saja.
Seperti dengan yang bisa dibaca diatas, Naruto telah menghilang dari Konohagakure selama 2 bulan. Maka berarti Naruto sudah berada di Kekaisaran selama 1 bulan. Seperti itu, bisa dibilang kalau waktu yang ada di Genshou No Kuni lebih cepat 1 bulan.
Disini juga ane gak bakal terlalu sering mengekpos bagian Naruto, jatah pembagian karakternya itu sekitar 2/4. Jadi bisa dibilang Naruto disini itu karakter yang berada ditengah-tengah. Tidak akan keseringan muncul dan mengambil giliran karakter lain, melainkan ada waktu-waktunya.
Mungkin seperti itu saja, semoga sedikit terhibur dengan chapter 10 ini. Jaa ne~
Ahad, 06-03-2022
Pukul 16:22
