Chapter 2

Naruto: Masashi Kisimoto

Fate Series: Type-moon

Highschool DxD: Ichie Ishibumi

Warning: Typo, Ooc, ServantNaru! Harem! Bahasa tidak baku, Bermasalah pada EYD.

Genre: Action, Adventure, Fantasy

Rated: M (untuk jaga-jaga)

Pairing: Naruto x ? x ?

Summary: Seseorang tidak akan pernah bisa lolos dari takdir yang mengikat dirinya. Takdir yang sudah ada pada masing-masing manusia sejak lahir. Takdir yang harus diikuti meski itu bertentangan dengan keinginan seorang manusia. Hal itulah yang dialami oleh Uzumaki Naruto.

.

.

~The Fate Of The Heroes~

.

.

Sring~

Ditengah-tengah medan peperangan, muncul sebuah lingkaran sihir berwarna putih. Lingkaran sihir itu mengeluarkan 14 orang yang menandakan kalau lingkaran sihir itu adalah sihir teleportasi.

"Jadi ini Underworld?" tanya Merlin.

"Sepertinya iya dan kita semua terpisah dari Kami-sama." ujar Nero saat tidak melihat sosok yang memanggil mereka.

"Bukan terpisah." Karna menyahut. "Kami-sama sendirilah yang memisahkan diri dari kita semua."

Para Servant terlihat berjejer dan melihat kalau sudah banyak pasukan iblis dan malaikat jatuh yang telah bertempur. Mereka semua tampak mengobservasi semuanya. Gilgamesh yang masih menggunakan kemampuan Sha Naqma Imuru langsung tersentak.

"Berhati-hatilah, serangan datang." peringatnya.

Semua langsung memasang posisi siaga dan dari kejauhan dapat mereka lihat sebuah laser beam mengarah ketempat mereka berada. Jeanne pun akan segera maju namun didahului oleh Naruto.

"Apa yang kamu mau lakukan, Naruto?" tanya Jeanne dengan serius.

"Melindungi kalian dari serangan." jawabnya.

"Kau hanyalah Assassin, Naruto. Mana mungkin bisa menghalangi serangan itu." ujar Atalanta dengan nada meremehkan karena jujur saja kalau ia tidak merasakan adanya prana didalam tubuh Naruto.

Naruto yang mendengarnya tersenyum tipis. "Jangan melihat buku dari sampulnya saja, Atalanta-san."

Setelah mengucapkan itu Naruto langsung menggigit jempolnya hingga mengeluarkan darah dan langsung menapakkannya ketanah. "Kuchiyose: Goju Rashomon!"

Brak! Brak! Brak!

Lima gerbang raksasa dengan wajah yang menyerupai wajah iblis langsung muncul dari dalam tanah. Servant yang lain membulatkan mata saat melihat gerbang raksasa itu. Akibat kelima gerbang itu jugalah yang menarik perhatian para iblis, malaikat jatuh dan malaikat. Laser beam itu semakin dekat dengan gerbang yang dipanggil oleh Naruto.

"Bersiap benturan!"

Blar!

Ledakan besar langsung terjadi ketika laser itu mengenai gerbang pertama dan menghasilkan asap yang berasal dari ledakan itu. Setelah beberapa menit kemudian, asap itu menghilang dan terlihat kalau kelima gerbang itu masih baik-baik saja.

"Bahkan tidak bisa menggores satu gerbang pun." gumam Naruto.

"Naruto?"

"Iya." Naruto menoleh. "Ada apa Jeanne?"

"Apa yang kau lakukan? Dan gerbang apa yang muncul tadi?" tanya Jeanne.

"Sudah jelas melindungi kalian dan gerbang tadi adalah salah satu teknik pertahanan milikku." jelas Naruto.

"Salah satu? Itu berarti kau masih memiliki yang lain." Merlin bertanya dengan wajah yang menunjukkan rasa antusias yang tinggi.

Naruto mengangguk membenarkan ucapan Merlin dan tanpa sadar membuat dirinya dipandang kagum oleh Jack, dipandang secara intens oleh Arthuria, Atalanta dan Karna serta dipandang bosan oleh Gilgamesh.

Jeanne sendiri terdiam karena ia masih memikirkan kejadian yang tidak masuk akal ini. Pertama ia tidak dapat merasakan prana dari dalam tubuh pria yang memiliki Class Assassin itu. Kedua ia tidak mengetahui jati diri dari Naruto. Seharusnya sebagai servant class Ruler, ia bisa melihat jati diri dari servant lain. Tapi sepertinya itu tidak berlaku bagi pria tersebut. Dan yang terakhir, sosok seperti apa Naruto selama masih hidup sehingga menjadi anomali servant.

"Lebih baik kalian semua siap, kita disini untuk menghalangi semua makhluk yang bertujuan menghalangi Kami-sama." Karna melihat kedepan sambil memegang tombak emasnya.

"Lalu bagaimana strateginya?" tanya Quetzalcoatl.

Gilgamesh melirik. "Tidak perlu strategi, semuanya segera berpencar dan habisi semua musuh yang menghalangi. Ruler?"

"Ada apa, Raja Gilgamesh?" Jeanne memanggil Gilgamesh begitu karena hanya dialah yang memiliki aura kharisma tinggi selain Arthuria, Karna, Quetzalcoatl, Nero dan Naruto.

"Kau memiliki mantera sihir yang diberikan oleh Kami-sama untuk mengatur kami, gunakanlah mantera itu dengan baik." ujar Gilgamesh.

"Baiklah."

Mereka semua perlahan menyebar namun Merlin justru mengikuti Arthuria sedangkan Jack justru mengikuti Raikou. Sehingga terlihat tinggal Naruto sendiri ditempat itu.

"Jadi, kearah mana aku harus pergi?" gumam Naruto sambil melihat sekeliling.

Ia pun menggunakan kemampuan sensor miliknya yang ber radius puluhan kilometer. Naruto terlihat diam sebelum tersentak. Ia mengulas senyum tipis sambil melihat kearah tenggara.

"Tunggulah aku disana, dua burung gagak!"

Tepat setelah mengucapkan kalimat itu, Naruto langsung melesat kearah tenggara hingga meninggalkan retakan ditanah karena kecepatan larinya setara dengan Raikage A. Tapi berbeda jika ia menggunakan jutsu teleportasi ciptaannya yang satu tingkat dibawah jutsu milik pamannya, Namikaze Minato.

-Line Break-

Sang Raja Pahlawan yang tidak lain adalah Gilgamesh saat ini sedang melaju sambil duduk santai diatas kendaraan raja miliknya yang bernama Vimana. Surai pirang emas miliknya berkibar terkena terpaan angin. Iris merah delima miliknya melirik kebawah dengan pandangan bosan sebelum ia terlihat tertarik akan sesuatu.

Seringai tipis tercipta diwajah tampannya. "Sepertinya dia cocok untuk melawan Raja sepertiku." Gumamnya. "Lebih cepat lagi, Vimana!"

Wush!

Kita beralih kearah sebuah tempat dimana banyak sekali mayat-mayat yang bergelimpangan namun mayat tersebut banyak sekali yang memiliki sayap berwarna putih bagaikan merpati dan sayap berwarna hitam bagaikan gagak.

"Horra! Apa hanya ini saja yang kedua fraksi punya!? Kalian membuat Lucifer kesal!" teriak seorang iblis yang bernama Lucifer.

Ia terlihat mengayunkan pedang miliknya yang berwarna merah dan memancarkan aura kegelapan yang sangat pekat. Para Malaikat jatuh terlihat melemparkan puluhan tombak cahaya kearah Lucifer namun bisa ditangkis dengan mudah oleh Lucifer.

"Hahahaha! Kalian semua sangat lemah! Cepat panggil Belial agar berhadapan langsung denganku! Heyaa!"

Lucifer menebaskan pedangnya kearah Malaikat jatuh sehingga tercipta sebuah shockwave berwarna hitam yang melaju cepat. Semua Malaikat jatuh yang berhadapan dengan Lucifer mencoba untuk menahannya namun mereka semua kalah cepat dalam membuat sihir pertahanan sehingga shockwave itu membunuh mereka semua.

"Hahaha! Sekarang giliran kalian merpati sialan!" ujarnya sambil menodongkan pedangnya kearah pasukan Malaikat.

Para Malaikat itu segera bersiaga sambil cemas karena akan bertarung melawan iblis yang sangat kuat bahkan menyamai pemimpin mereka yang tidak lain adalah Kami-sama sendiri. Lucifer memperlihatkan seringai mengerikannya dan mulai berlari kearah pasukan fraksi Malaikat.

"Aku mulai!!"

Wush! Brugh!

Lucifer seketika terjatuh karena sesuatu mengenai dirinya. Para Malaikat menjadi heran saat melihat kejadian tersebut.

"Si-sialan! Apa yang-"

Suara Lucifer seketika terhenti karena tidak sangka kalau yang membuat dirinya jatuh adalah sebuah pisau kecil dengan aksen mewah yang menancap dalam di kakinya bahkan sampai menembus tanah.

"Bangs*t! Apa-apaan ini!" teriaknya sambil mencabut pisau itu sehingga pisau tersebut menghilang menjadi kilauan cahaya emas kecil.

"BAGAIMANA?!!"

Para Malaikat melihat kebelakang sedangkan Lucifer menoleg kearah sumber suara itu. Dapat ia lihat kalau ada seorang pria ber rambut pirang emas dan memakai armor emas sedang duduk diatas sebuah benda yang sangat megah. Pria yang tidak lain adalah Gilgamesh itu menopang kepalanya menggunakan punggung tangan kiri sambil melihat remeh kebawah.

"Bagaimana rasanya pisau emas milikku, Kelelawar kecil?!" tanya Gilgamesh.

"Kisama! Jadi ini ulahmu sialan!"

Wush! Crash!

Lucifer seketika terdiam saat merasakan sesuatu melewati wajahnya. Ia mencoba mengelus wajahnya yang dimana ada sebuah cairan yang mengalir dan melihat kalau cairan itu adalah darah miliknya. Amarahnya pun memuncak saat melihat itu.

"BR*NGS*K! APA INI ULAHMU, HAH!?"

Mendengar pertanyaan itu justru membuat Gilgamesh menatap dingin kearah Lucifer sehingga iris mata merah delima miliknya terlihat menyala terang.

"Makhluk rendahan sepertimu tidak layak untuk menatapku." ujarnya dengan nada dingin.

Sebuah portal emas ber riak air langsung tercipta diatas Gilgamesh. Portal emas itu berjumlah 15 dan semuanya mengarah ketempat Lucifer berada. Dari dalam portal itu, keluarlah puluhan senjata tajam seperti pedang, tombak, kapak, bahkan senjata aneh dengan bilah aneh juga ada.

Fraksi Malaikat yang notabene berada disebelah Gilgamesh merinding ketakutan saat merasakan besar pancaran kekuatan yang dikeluarkan oleh portal itu.

"Rasakanlah harta milikku ini, zashu." ujar Gilgamesh.

Wush! Wush! Wush!

Semua senjata itu langsung melesat kearah Lucifer sehingga membuat salah satu raja iblis itu tidak punya pilihan lagi selain menangkis semua senjata yang mengarah padanya dengan kecepatan diluar nalar. Gilgamesh pun melirik kearah pasukan Malaikat itu.

"Kailan semua pergilah dari sini, biar kelelawar itu aku saja yang urus." pintanya.

Salah satu Malakat mengangguk. "Baiklah Tuan Gilgamesh."

Melihat kalau para Malaikat itu telah pergi untuk membantu yang lain, Gilgamesh segera berdiri dan turun kebawah dengan cara melayang. Lucifer sendiri sedang terengah-engah karena lelah setelah menangkis semua senjata itu.

Tap!

Lucifer mendongak kedepan dimana sudah ada Gilgamesh yang berdiri tegap sambil melipat tangannya didepan dada. Gilgamesh menatap Lucifer dengan wajah yang penuh akan kesombongan meski kesombongan miliknya telah berkurang setelah bertemu dengan seseorang yang dianggapnya teman.

"Ternyata kau hanyalah manusia, kenapa kau bisa memiliki kekuatan seperti itu, rendahan?" tanya Lucifer sambil menodongkan pedangnya.

Bukannya menjawab Gilgamesh justru menyeringai. "Tidak ada gunanya aku beritahu kalau kau sendiri akan segera mati disini." ucapnya dan diikuti 15 portal emas yang tercipta kembali diatasnya.

Lucifer juga menunjukkan seringai mengerikan miliknya. "Kalau begitu aku hanya membunuhmu saja, manusia rendahan."

"Huh, silahkan saja kalau memang bisa, Zashu."

Semilir angin melewati tempat mereka yang akan menjadi saksi bisu pertarungan pertama antara Sang Putra Fajar, Lucifer dengan Raja Pahlawan, Gilgamesh.

-Line Break-

Bwosh! Blar!

Ledakan yang sangat besar tercipta ketika sebuah api yang bersuhu sangat panas mengenai tanah. Pelaku sendiri adalah seorang wanita berambut merah kekuningan. Wanita itu adalah Natasha Phenex, Iblis bangsawan yang berasal dari Klan Phenex.

"Hahaha! Akhirnya mati juga kau, rendahan!" teriaknya.

Para Malaikat sendiri melihat sendu ketika salah satu manusia yang dipanggil oleh Kami-sama harus mati karena melindungi mereka.

"Sepertinya anda sangat senang."

Sebuah suara halus, lembut namun penuh wibawa terdengar dari dalam kobaran api yang masih menyala besar. Kobaran api itu menghilang tertiup angin sehingga memperlihatkan sebuah kubah es. Natasha menatap tidak percaya kearah kubah es tersebut.

Kubah es itu perlahan pecah sehingga memperlihatkan wanita berambut putih panjang. "Sepertinya anda senang karena bisa menyerang saya."

Wanita yang bernama Anastasia itu terlihat tidak apa-apa bahkan ia masih memeluk boneka miliknya. Natasha terdiam sesaat sebelum raut wajahnya terlihat murka dan dikedua tangannya diselimuti oleh api yang bergelora panas.

"Kau! Bagaimana kau masih bisa hidup, sialan!?" tanya Natasha.

"Anda sangat gampang terpancing emosi, nyonya iblis. Jika cara bertarung anda seperti ini maka bisa-bisa anda akan kalah." nasihat Anastasia dengan suara lembut.

"Pers*tan dengan itu, sialan!!" Natasha langsung melemparkan sebuah bola api.

Ekspresi Anastasia langsung berubah menjadi serius karena melihat sebuah bola api yang sangat panas sedang menuju dirinya. Ia pun langsung merentangkan tangan kanannya kedepan sehingga sebuah dinding es 3 lapis langsung tercipta didepannya.

Blar!

Natasha menatap diam kearah ledakan itu sebelum dirinya tersentak saat sebuah tombak es langsung mengarah padanya dalam jumlah banyak. Tidak mau dirinya terpasung, Natasha langsung terbang menggunakan sayap iblisnya yang diselimuti oleh api.

Anastasia sendiri hanya menatap diam kearah Natasha yang sedang terbang diam itu. Ia pun segera menyentuh tanah yang ada dibawahnya itu.

"Ledyanoye kop'ye (Ice Spear)." Gumamnya.

Sebuah lingkaran sihir berukuran besar dan berwarna putih langsung tercipta dibawah Natasha. Ribuan tombak es langsung melesat dari dalam lingkaran sihir itu. Natasha tercengang namun dengan cepat ia mengobarkan api miliknya dalam jumlah besar-besaran.

"Kau pikir itu cukup untuk mengalahkanku! Raaaarrrrkkklk!!!"

Bwosh!

Melihat kalau ribuan tombak esnya langsung meleleh, Anastasia melihat kearah pasukan Malaikat yang menatap kagum kearahnya.

"Kalian semua pergilah, bantu saudara kalian yang kesulitan." pinta Anastasia.

"Ta-tapi..."

"Tenang saja, biar saya yang mengurus iblis ini."

Salah satu Malaikat tampak ragu sebelum mengangguk. "Baiklah Nona, kami akan membantu yang lain."

Tanpa persetujuan Anastasia, seluruh pasukan Malaikat itu segera pergi menuju pertempuran lain. Anastasia melihat sebentar sebelum kembali berfokus pada Natasha yang masih mengobarkan apinya.

-Line Break-

Trink! Trink!

Suara benturan antara tombak emas dan tombak cahaya terdengar nyaring. Pemilik tombak berwarna emas itu tidak lain adalah Karna. Ia saat ini sedang melawan seorang Malaikat Jatuh yang memiliki enam pasang sayap. Dari percakapan singkat tadi, Karna mengetahui kalau Malaikat Jatuh dihadapannya ini adalah pemimpin seluruh Malaikat Jatuh dan namanya adalah Belial.

Trink!

"Tidak kusangka manusia sepertimu sangat kuat." puji Belial.

"Saya merasa terhormat mendapat pujian dari pemimpin Malaikat Jatuh." Karna sedikit merunduk hormat.

"Oh~." Belial merasa tertarik. "Tidak kusangka kalau kau menjunjung tinggi sikap ksatria."

"Sebagai seorang Lancer, bersikap ksatria memang sudah seharusnya."

"Lancer?" Belial membeo. "Aku tidak tahu apa maksud ucapanmu tapi karena kau ingin menghentikanku maka kau harus segera kubunuh."

Belial seketika mengepakkan keenam sayapnya dan melesat cepat kearah Karna. Karna sendiri segera memasang kuda-kuda dengan tombak yang mengarah kedepan.

"Majulah, Belial no Da-tenshi." ujar Karna.

"Heyaa!"

Belial mengayunkan tombak cahaya miliknya namun bisa ditahan dengan mudah oleh Karna. Merasa belum cukup, Belial menciptakan satu tombak cahaya ditangan kanan sebelum mengayunkannya lagi.

Merasa kalau serangan itu berbahaya, Karna langsung memerintahkan kedua perisai yang ada dipundaknya untuk menahan tebasan itu. Tebasan tersebut berhasil tertahan namun Belial segera melompat mundur sebelum tangannya menyentuh tanah.

"Matilah!"

Jrack! Jrack! Jrack!

Ribuan pasak cahaya langsung keluar dari dalam tanah dan menuju Karna. Karna segera memposisikan tombaknya kedepan dan seketika tombak emas itu terbakar oleh api.

"Bakar semua." gumam Karna.

Bwosh!

Kobaran api berukuran besar langsung tercipta dan mengarah ketempat Belial berada serta melelehkan ribuan pasak cahaya itu. Melihat kejadian tersebut membuat Belial sedikit terkejut sebelum membuat sebuah sihir penghalang.

Kobaran api itu mengenai sihir penghalang namun Belial masih bisa bertahan dibalik perisai sihir meski suhu panas sedang mengurung dirinya dari arah kiri, kanan dan atas. Secara perlahan perisai sihir itu retak dan tidak ingin menjadi gagak panggang, Belial segera melakukan sesuatu.

"Wahai langitku! Musnahkan semua musuhku!"

Teriakan dari Belial terdengar jelas di pendengaran Karna. Pertama ia bingung namun saat merasakan sesuatu yang mengancam, langsung saja ia melompat beberapa meter kebelakang. Betul saja, setelah ia melompat ternyata puluhan tombak cahaya telah siap menusuk dirinya.

Karna sekali lagi melompat menghindar secara terus menerus untuk menghindari pasak cahaya yang keluar dari dalam tanah dan tombak cahaya yang hendak menusuk dirinya dari atas. Ia terus saja menghindar tanpa menyadari kalau Belial telah beberapa meter dibelakangnya.

"Matilah manusia!"

Karna menoleh dengan mata sedikir melebar saat melihat kalau Belial telah melemparkan tombak cahaya dalam ukuran yang sangat besar.

Blar!

-Line Break-

Jrash! Jrash! Jrash!

Beberapa Malaikat jatuh terdiam sesaat sebelum melihat kearah pembunuh yang telah menghabisi semua saudara mereka dengan mudahnya. Semua Da-tenshi itu memiliki jenis kelamin perempuan dan harga diri mereka terasa diinjak-injak oleh seorang anak kecil. ANAK KECIL YANG HANYA MENGGUNAKAN DUA BUAH BELATI SAJA!!

"Ne Onee-chan, apa ada yang ingin bermain dengan Jack lagi?" tanya pembunuh tersebut yang tidak lain adalah Jack The Ripper, servant assassin.

"Kisama! Matilah kau anak kecil!!"

Salah satu Malaikat jatuh melemparkan sebuah tombak cahaya yang diikuti oleh semua Malaikat jatuh. Jack segera melompat menghindar agar tidak terkena hujaman tombak itu. Lubang-lubang tercipta ditanah akibat benturan dengan tombak cahaya.

Sret!

"Souka, sepertinya Onee-chan semua tidak ada yang ingin bermain." gumam Jack dengar suara yang terdengar dingin.

Tidak lama kemudian gumpalan kabut langsung muncul disekitar mereka semua termasuk Jack. Semua Malaikat jatuh berjenis kelamin perempuan itu menatap waspada sekitar.

"Kabut apa ini?"

"Berhati-hatilah dengan kabut ini."

"Hey, dimana anak kecil itu?"

Semua mata terfokus ditempat Jack berada tadi namun yang didapat adalah tanah kosong. Mereka tidak tahu ada dimana sosok anak kecil yang telah membunuh saudara mereka semua.

"Ne Onee-chan semua, Jack akan memberikan beberapa pilihan."

Sebuah suara cempreng khas anak kecil terdengar bergema didalam kabut tebal itu. Beberapa Malaikat jatuh mulai gemetar saat merasakan hawa membunuh yang perlahan seperti mencekik.

"Dimana kau, bocah!! Tunjukkan dirimu!!"

"Ehehe, permainan tidak akan seru kalau begitu, Onee-chan."

"Teme!!! Jadi dari tadi kau menganggap ini adalah permainan?!"

"Seratus untuk Onee-chan yang disana, hihihi. Sekarang Jack akan memberi pilihan, leher atau jantung. Bagian mana yang Onee-chan semua mau untuk ditusuk?"

Suara Jack terus bergema didalam kabut itu. Malaikat jatuh yang berjumlah 10 itu mulai merapat dengan tubuh yang gemetar karena kentalnya hasrat membunuh. Salah seorang Malaikat jatuh terlihat ketakutan karena bisa dilihat dari wajahnya yang memucat.

Cleb!

"Sepertinya Onee-chan yang pertama."

Teriakan keras nampak bergema ketika Malaikat jatuh itu meregang nyawa karena dada kiri tempat jantung berada telah ditusuk. Sontak semua Malaikat jatuh menoleh kearah saudara mereka yang baru saja mati.

"Ja-jangan gentar! Dia hanya anak kecil, kita pasti bi-"

Jrash!

Semua mata Malaikat jatuh membola saat melihat kalau teman mereka yang bermaksud menyemangati telah mati karena sebuah belati telah bersarang dilehernya. Tubuh tak bernyawa itu pun ambruk dan pecah menjadi beberapa bulu hitam.

Drap! Drap! Drap!

Semuanya menoleh kearah suara tapak kaki, nafas mereka seketika tercekat saat melihat sebuah mata merah yang terlihat mengintimidasi. Mata merah itu semakin dekat, mata merah yang merupakan hasil dari hasrat haus darah.

"Ne, apa ada yang ingin bermain dengan Jack?"

Jack bertanya sambil tersenyum kecil namun terlihat menyeramkan karena hasrat membunuh menguar kental dari dalam tubuhnya. Ditambah dengan bercak darah yang tertinggal diwajah imutnya.

Semua Malaikat jatuh tidak berhenti untuk bergetar ketakutan melihatnya. Saat melihat mata merah yang penuh teror itu, semuanya langsung tahu kalau akan mati ditempat tersebut. Mati dibunuh oleh anak kecil.

"Ayo kita mulai permainannya, Onee-chan." Jack tersenyum sambil menutup kedua matanya.

"Kyaaaa!!"

Dan selanjutnya adalah suara teriakan yang terdengar kencang dari dalam kabut tebal tersebut. Entah apa yang terjadi namun didengar dari suara teriakan itu maka itu bukan hal yang bagus. Sepertinya legenda tentang 'Pembunuh berantai Jack The Ripper' akan mulai muncul kembali. Tentunya didunia yang berbeda.

-Line Break-

Trank! Trank! Trank!

"Jangan hanya menangkisnya saja, wanita j*lang!!" teriak seorang pria berambut ungu panjang.

"Umu, sangat berbahaya kalau aku tidak menangkisnya."

Trink! Trink! Trink!

"Grrr... Sebenarnya siapa kau?"

"Aku? Namaku adalah Nero Claudius Augustus Germanicus. Yoroshiku Iblis-san." ujar Nero dengan nada ceria.

"Souka, biar sama akan kuperkenalkan siapa diriku."

Iblis itu terbang rendah sambil memegang pedang tipisnya. Ia memandang rendah kearah Nero yang berhasil memancing amarahnya tadi. Sang Kaisar Roma itu segera bersiap sambil memegang pedang merah miliknya.

"Aku adalah salah satu dari Yondai Maou dan namaku adalah Asmoudeus." ucap Asmoudeus itu.

Hening...

"Dare?" Nero memiringkan kepalanya dengan wajah imut.

Sebuah perempatan muncul dikening Asmoudeus yabg menandakan kalau ia kesal. "Sudah kubilang namaku Asmoudeus! Makhluk rendahan!"

Iblis itu mengarahkan pedang tipisnya kearah Nero dan tercipta tiga lingkaran sihir berwarna ungu. Nero menatap serius dan ia langsung menggenggam erat pedangnya lalu mengayunkannya kearah Asmoudeus.

"Heyaah!"

Bwosh!

Kobara api tipis namun sangat panas langsung mengarah ke laser hasil serangan Asmoudeus. Melihat serangannya gagal, Asmoudeus segera melesat kearah Nero.

"Matilah!"

Trink!

Pedang tipis itu berhasil ditahan menggunakan pedang merah. "Aku tidak akan kalah dari iblis sepertimu!" sebuah deklarasi dari Nero seketika membuat Asmoudeus kehilangan fokus.

Memanfaatkan kesempatan itu, Nero langsung saja menendang Asmoudeus hingga terpental jauh. Dalam keadaan terseret, Asmoudeus segera menancapkan pedangnya ketanah namun ia dikejutkan oleh Nero yang sudah siap dengan pedangnya.

Tidak ingin terpotong menjadi dua, Asmoudeus terpaksa meladeni Nero dalam beradu pedang. Dentingan pedang berbeda bentuk itu menjadi lagu pengiring pertarungan mereka. Percikan api terlihat ketika mereka mengadu pedang masing-masing.

Asmoudeus terlihat sesekali kesulitan dalam menangkis serangan Nero. Arah tebasan gadis ini sangat teratur dan elegan. Siapa sebenarnya wanita ini? Itulah yang berada dalam pemikiran Asmoudeus. Nero sendiri sama sekali tidak merasa kesulitan. Bahkan ia dengan mudahnya menahan semua arah tebasan salah satu raja iblis yang ada dihadapannya ini.

"Apa hanya ini kemampuanmu, Asmoudeus?" tanya Nero meski masih mengayunkan pedangnya.

"Ada alasannya kenapa aku menjadi salah satu raja iblis."

"Dan apa itu."

Asmoudeus tidak menjawab namun ia menyeringai kearah Nero. Melihat seringai itu justru membuat Kaisar Roma bertanya-tanya namun jawaban yang ia terima adalah dirinya yang terikat oleh rantai ungu secara tiba-tiba. Nero melirik kebelakang dimana ada sebuah lingkaran sihir dan rantai ini tersambung ke lingkaran sihir itu.

"Bagaimana?! Aku bisa menjadi salah satu raja iblis karena keahlianku berada dalam pengendalian sihir, bukannya pedang! Hari ini dan detik ini kau akan mati, manusia rendahan!!"

Asmoudeus segera melemparkan demonic power yang memiliki tingkat kepadatan yang sangat luar biasa. Nero yang melihaf itu demonic power itu tidak kelihatan khawatir sama sekali. Ia justru menunduk dan menggenggam erat pedangnya.

"Hancurkan." gumamnya.

Blar!

Mata Asmoudeus membulat saat melihat kalau sesaat sebelum serangannya mengenai Nero, manusia itu berhasil melepaskan diri. Angin pelan menyapu asap hasil ledakan dan memperlihatkan Nero yang masih baik-baik saja. Kaisar Roma itu menatap serius kearah Asmoudeus.

"Khe, sepertinya kau harus aku musnahkan terlebih dahulu sebelum menghabisi gagak kotor dan merpati sialan itu." Asmoudeus merentangkan tangan kirinya kesamping.

Tiba-tiba ratusan lingkaran sihir tercipta dan mengelilingi Asmoudeus dimulai dari bawah, kiri, atas dan kanan. Nero segera bersiap sambil terus menatap tajam kearah Asmoudeus.

"Aku ingin tahu, apa kau bisa bertahan dari seranganku ini." ujar Asmoudeus sambil menyeringai.

Dan pada detik itu juga, Nero merasa kalau ia harus sedikit serius untuk mengalahkan iblis didepannya ini.

-Line Break-

Syut! Syyt! Syut! Cleb! Cleb! Cleb!

Satu persatu tubuh Malaikat jatuh ataupun iblis berjatuhan ketika anak panah telah bersarang ditubuh mereka. Para Malaikat sendiri melihat diam sebelum melihat kearah sebuah bukit yang cukup tinggi dan panah itu berasal dari pinggir bukit tersebut

Disisi bukit sendiri ada seorang wanita cantik berambut pirang pucat dengan bagian poni berwarna hijau sedang melihat tajam kedepan sambil memegang busur panah miliknya. Ekor wanita itu bergerak perlahan mengikuti hembusan angin.

Wanita yang bernama Atalanta, seorang servant Archer itu menarik senarnya dan seketika sebuah anak panah tercipta dari prana milik Atalanta. Ia menghirup pendek sebelum melepaskan anak panah tersebut.

"Mereka semua menjijikan..." Gumamnya.

Secara tiba-tiba anak panah itu terpecah menjadi tiga bagian dan sukses membunuh dua pasukan Malaikat jatuh dan satu pasukan iblis. Ia mendengus sebelum kembali dalam kegiatan memanah miliknya untuk membunuh Malaikat jatuh atau iblis.

Sebenarnya ia bisa bertarung dalam jarak dekat namun itu hanya bisa dilakukan jika dirinya berada dalam mode 'itu'. Tetapi ia tahu resiko apa yang akan diterimanya jika memakai mode 'itu'.

-Line Break-

"Jangan kabur, Malaikat Jatuh sialan!"

Slash!

Tombak cahaya berwarna kuning itu langsung terbelah ketika Ushiwakamaru menebaskan katana-nya. Malaikat Jatuh yang memiliki mata berwarna merah pekat dan bentuk telinga runcing hanya bisa mendecih dan kembali terbang menjauh.

Melihat kalau buruannya ingin kabur, Ushiwakamaru menambah kecepatan larinya. Senyum sadis miliknya terus bertengger diwajah manisnya saat ia membunuh Iblis atau Malaikat Jatuh yang mencoba menghentikannya.

"Kokabiel-sama! Biar kami yang melawannya!"

Salah seorang Malaikat Jatuh mencoba membantu Kokabiel namun dirinya langsung ditusuk oleh Kokabiel menggunakan tombak cahaya.

"Berisik! Minggir dari jalanku bawahan tidak berguna!"

Kokabiel semakin menjauh sehingga Ushiwakamaru harus ekstra cepat. Ushiwakamaru terlihat berpikir sebelum tersenyum saat melihat kalau didepannya akan ada tebing. Ia segera melompat kearah tebing dan terus melompat hingga cukup dekat sama Kokabiel.

"Akhirnya kena kau, KOKABIEL!!" teriak Ushiwakamaru tepat berada satu meter diatas Kokabiel.

Tetapi mata Ushiwakamaru langsung membulat ketika sudah sangat dekat dengan salah satu Jendral Malaikat Jatuh itu.

Jleb!

-Line Break-

Wush Duar! Blar!

"Oya oya, My King. Sepertinya dia sangat serius."

"Aku tahu Merlin, aku tahu."

Hembusan angin menghapus asap yang bercampur debu sehingga terlihat kalau Arthuria sedang memegang sesuatu yang tak kasat mata. Disampingnya juga ada Merlin yang sedang bersiap sambil memegang tongkatnya.

"Merlin, dia iblis apa?" tanya Arthuria sambil terus menatap tajam kedepan.

"Dia adalah salah satu dari Raja Iblis, My King. Dia adalah Beelzebub, Raja Iblis terkuat kedua." jelas Merlin.

Kenapa Merlin bisa mengetahui siapa yang sedang mereka berdua lawan? Jawabannya adalah Clairvoyant. Setiap Caster tentu memiliki sebuah skil yang bernama Clairvoyant.

"Souka..." gumam Arthuria.

Sedangkan Iblis yang menjadi pembicaraan mereka berdua hanya diam sambil mengobservasi tentang kedua lawannya. Dalam pikirannya saat ini adalah, kenapa kedua manusia yang menjadi lawannya ini tidak mati keracunan? Seharusnya mereka berdua keracunan karena udara yang ada di Underworld adalah racun bagi manusia yang menghirupnya. Tetapi kenapa mereka berdua justru tidak mati.

"Sebelum bertarung, ada yang ingin aku katakan." ujar Beelzebub.

"Apa itu, Iblis?" tanya Arthuria.

"Perkenalkan, namaku adalah Beelzebub, Raja Iblis kedua setelah Lucifer. Meski kalian adalah manusia namun aku cukup menghormati kalian karena masih bertahan di Underworld meski telah menghirup udaranya."

Arthuria merasa terkesan saat melihat kalau Beelzebub ini ternyata memiliki sikap seorang ksatria. Iblis yang cukup menarik, pikirnya. Yang dimaksud tertarik disini adalah tertarik untuk bertarung secara ksatria, bukan tertarik kepada lawan jenis.

Lagipula yang membuat dirinya tertarik akan suatu makhluk saat ini adalah seorang Servant yang dimana penyihir kepercayaannya mengatakan kalau pria itu memiliki Class Assassin. Ia tertarik karena menurut Ruler -Jeanne- kalau dia tidak bisa mengetahui identitas sebenarnya dari pria tersebut. Merlin yang tidak lain adalah penyihir kepercayaannya juga bilang kalau pria itu tidak memiliki Prana didalam tubuhnya.

Servant sebenarnya adalah roh pahlawan masa lalu yang telah wafat namun legenda atau kisahnya masih dikenang. Servant juga bisa berasal dari masa depan dengan syarat kisahnya atau cerita perjalanannya sudah terkenal.

Tetapi pria yang bernama Uzumaki Naruto ini adalah pengecualian. Ia tidak mengetahui apa Class miliknya bahkan pria itu tidak mengetahui apapun tentang Servant. Pria itu adalah sebuah kesalahan. Pria itu adalah sebuah anomali.

Selagi Arthuria terlihat berpikir, Merlin lebih memilih untuk melihat kearah lawan mereka namun dirinya tersentak saat melihat puluhan lingkaran sihir berwarna hijau disekeliling Beelzebub.

"Sebagai awal pertemuan kita, terimalah seranganku ini!"

Semua lingkaran sihir itu bersinar dan dalam sekejap menembakkan puluhan laser yang terbuat dari Demonic Power. Merlin berinisiatif memposisikan tongkat sihirnya didepan sambil tersenyum kecil.

"Jangan panggil aku Flower Witch dari Camelot jika tidak bisa menahan serangan ini."

Sebuah kekkai berwarna ungun muda tercipta mengelilingi Merlin dan Arthuria. Semua serangan Beelzebub membentur kekkai itu sehingga menghasilkan ledakan besar. Beelzebub hanya melihat sebentar sebelum berniat pergi dari situ karena ia yakin kalau kedua manusia itu sudah mati.

"Oya oya, apa anda sudah mau pergi Tuan Beelzebub?"

Beelzebub menoleh kebelakang dan terkejut karena Merlin tampak baik-baik saja. Beberapa saat kemudian ia mendapatkan firasat buruk dan saat melihat kebelakang. Tiba-tiba ia merasakan sakit berupa tebasan di tubuhnya dan langsung terhempas kearah tanah.

Arthuria yang baru saja sampai di tanah menoleh kearah Merlin. "Serang dia Merlin." pinta Arthuria.

"Yes, My King."

Di sisi Beelzebub sendiri sedang mencoba menahan rasa sakit yang dihasilkan tebasan Arthuria. Tampak kalau asap hitam terus keluar dari luka itu meski Beelzebub sudah mencoba sihir penyembuh.

'Tebasan wanita itu rupanya mengandung unsur suci. Aku harus berhati-hati dengannya.' batin Beelzebub.

Seketika ia tersentak dan segera terbang menggunakan sayap iblisnya. Tanah tempat ia berpijak tadi langsung meledak karena aliran petir yang di hasilkan oleh sihir Merlin melalui perantara pedang kecil. Beelzebub terdiam melihatnya sebelum menoleh kearah kedua musuhnya.

"KAU CURANG!! CEPAT SEGERA TURUN DAN BERTARUNG SECARA JANTAN!!" protes Merlin sambil menghentakkan kakinya.

Beelzebub menundukkan matanya dan secara tiba-tiba puluhan -tidak tetapi ratusan lingkaran sihir tercipta di sekeliling Beelzebub. Di kepalanya sendiri muncul satu tanduk yang memanjang ke depan, tubuhnya sedikit membesar dan dua buah taring atas yang mencuat, sayap iblisnya juga bertambah besar 3x lipat dari ukuran normal.

Baik Arthuria maupun Merlin menjadi siaga saat melihatnya. Beelzebub mengangkat kepalanya dan menampilkan seringai lebar.

"Sudah cukup aku bermain-main. Sekarang saatnya kalian berdua mati."

Detik itu juga membuat Arthuria sadar, sekali iblis tetaplah iblis. Iblis itu adalah makhluk licik dan mana mungkin seorang iblis memiliki sikap seorang Ksatria.

-Line Break-

Kehancuran. Kematian. Keputusasaan. Penderitaan. Itulah yang dilihat oleh Ares, sang Dewa Perang dari Mitologi Olympus. Ia saat berada di Underworld untuk memantau situasi perang atas perintah dari ayahnya, Zeus.

Ares mendengus pelan saat melihat kalau pertarungan ketiga Fraksi sama sekali tidak menarik minatnya. Meski bisa ia lihat pertarungan antara Red Dragon Emperor dan White Dragon Emperor tapi ia masih belum berminat sama sekali.

"Ternyata peperangan ini membosankan." gumamnya.

"Oh! Rupanya ada seseorang di sini."

Deg!

Ares menoleh kebelakang dan di sana ada seorang wanita berambut pirang sedang tersenyum sambil memegang pedang yang memiliki gerigi di bilahnya. Ares menjadi bingung karena ia tidak bisa merasakan hawa kehadiran wanita itu.

Namun sebuah seringai tipis terbentuk di wajahnya saat melihat kalau wanita dihadapannya ini memiliki wajah yang sangat cantik. Saking cantiknya bahkan melebihi kecantikan Dewi percintaan Olympus, Aphrodite.

"Tidak kusangka kalau ada manusia di Underworld terlebih lagi kau sangatlah cantik." Ares mengira kalau wanita di hadapannya adalah seorang manusia.

"Wah, aku cukup tersanjung mendapat pujian itu. Tapi aku bukanlah manusia."

"Lalu apa?" Ares menatap bingung.

Wanita itu tersenyum manis namun berbanding terbalik dengan aura hitam yang menguar dari tubuhnya. "Aku adalah Quetzalcoatl. Dewi kecantikan dari Mesoamerica."

Deg!

Ares seketika menjadi siaga saat merasakan kalau aura hitam yang menguar dari tubuh Quetzalcoatl mencoba mengintimidasi. Sesaat ia melunakkan tubuhnya sambil menyeringai kembali.

"Seorang Dewi? Jangan membual! Aku tahu semua nama Dewa-Dewi yang ada disini tapi aku tidak mengenal namanya 'Dewi Kecantikan'." ujar Ares yang menarik kapak raksasa dipunggungnya.

"Jika tidak percaya tak apa. Sepertinya kau ingin bertarung, ya? Baiklah, ayo kita fight sepuasnya." Quetzalcoatl tetap tersenyum namun sedetik kemudian.

Wush! Trink!

"Apa!"

"Wah, sepertinya kau kurang konsentrasi."

Ares menggertakkan giginya saat mendengar perkataan Quetzalcoatl. Ia memegang erat kapaknya sebelum menambah tekanan untuk beradu senjata dengan Quetzalcoatl. Sang Dewi Kecantikan sendiri masih tersenyum tipis.

"Tidak kusangka tenagamu besar juga."

"Tutup mulutmu!"

Trink!

Quetzalcoatl mundur beberapa langkah dan segera menahan kapak Ares menggunakan pedangnya. Dampak dari menahan kapak itu adalah tanah yang dipijak oleh Ares maupun Quetzalcoatl menjadi retak seluas 100 m sebelum hancur dan menciptakan kawah sedalam 2 m.

Ares menarik kapaknya dan mengayunkannya. Lagi-lagi ayunan tersebut berhasil di tahan oleh Quetzalcoatl. Merasa bosan karena menahannya terus, Quetzalcoatl langsung melemparkan pedangnya kearah Ares dan berhasil dihindari dengan mudah.

Namun Quetzalcoatl melempar pedangnya hanyalah untuk pengalih perhatian karena ketika Ares melihat kedepan. Ia merasakan sakit di wajahnya saat berhasil dipukul oleh Quetzalcoatl.

Quetzalcoatl segera memasang posisi dan melesat kearah Ares yang terlempar. Ares kembali merasakan sakit di punggungnya karena Quetzalcoatl menendangnya dengan kedua tangan sebagai tumpuan.

"Cough..."

Melihat kalau Ares sedang melayang ke udara, Quetzalcoatl menekuk kakinya dan nelompat menyusul Ares. Tepat ketika berhenti di samping Ares, Sang Dewi Kecantikan mengangkat kaki kanannya dengan kemiringan 75.

"Adios~"

Bugh! Wush! Duar!

Ares langsung melesat ke tanah sehingga menghasilkan debu yang beterbangan. Quetzalcoatl tetap mempertahankan senyumannya sambil memegang pedangnya. Ia yakin kalau pria yang tadi ia banting belum kalah.

-Line Break-

"Rasakan ini!'

Ribuan paku es berukuran besar mencuat dari dalam tanah dan mengarah ketempat Wanita berambut ungu gelap panjang yang sedang memegang tombak merah. Wanita itu mengayunkan tombaknya sehingga menghancurkan paku-paku tersebut.

Di sisi lain tempat, seorang wanita berambut hitam namun memiliki poni berwarna putih mendecih kesal saat melihat kalau paku-paku es miliknya berhasil di hancurkan dengan mudah.

'Wanita ini bukanlah manusia biasa. Dia berhasil membunuh sekitar 255 pasukanku dan juga 175 pasukan Malaikat Jatuh. Dia sangat berbahaya.' batinnya.

"Ada apa, Iblis? Apa kau kesal karena semua pasukanmu berhasil aku bunuh?" tanya wanita yang tidak lain adalah Scathach.

"Kurang ajar, kau manusia! Aku adalah Leviathan, akan segera membunuhmu!"

"Dan sebelum hal itu terjadi, aku duluan yang akan mencabut jantungmu."

Leviathan menggeram dan langsung melesat, begitu juga Scathcah yang ikut melesat. Mereka berdua saling mengayunkan senjata masing-masing. Scathach dengan tombaknya dan Leviathan dengan sabit raksasa miliknya.

Percikan api langsung keluar ketika kedua senjata beda logam itu saling berbenturan. Baik Scathach ataupun Leviathan tidak ada yang ingin mengalah sehingga mereka berdua bertarung dengan sangat sengit.

Beberapa Malaikat, Iblis ataupun Malaikat Jatuh memilih berhenti bertarung demi melihat pertarungan yang menegangkan. Para Malaikat yang melihat tidak menyangka kalau manusia yang dipanggil oleh Ayah mereka itu sangat kuat sehingga mampu menandingi Raja Iblis ketiga.

Trink!

"Grr, sebenarnya makhluk apa kau ini! Mana mungkin manusia bisa memliki kekuatan ini!"

"Terserah kau ingin berkata apa, yang jelas aku adalah manusia dan manusia ini yang akan membunuhmu."

"Kisamaa!!"

Dentingan logam kembali terdengar disertai percikan-percikan api. Tombak merah milik Scathach yang bernama Gae Bolg selalu mengincar tempat jantung milik Leviathan berada. Leviathan cukup kesulitan untuk menghindari semua serangan Scathach. Ia pun heran karena Scathach memilih mundur namun di kejutkan oleh sepuluh replika Gae Bolg.

Tidak ingin menjadi sate tusuk, Leviathan segera menciptakan dinding es sehingga semua replika Gae Bolg tertahan. Scathach sendiri menatap diam sebelum memasang kuda-kuda dengan tangan kanan yang memegang bagian belakang tombak dan tangan kiri memegang kepala tombak. Aura prana berwarna merah disertai niat membunuh menguar pekat dari dalam Scathach.

"Sesali semua perbuatanmu."

Dash! Krak!

Tanah tempat Scathach berdiri tadi seketika retak parah selebar 2 m ketika gadis yang memiliki Class Lancer itu melesat dan meninggalkan blur berwarna merah. Leviathan terkejut saat mengetahui kalau tombak Gae Bolg sudah ada sekitar 30 cm dari tempat jantung miliknya berada.

Crash!

-Line Break-

Di salah satu gunung yang ada di Underworld saat ini, terlihat banyak sekali mayat-mayat yang bergelimpangan. Malaikat, Malaikat Jatuh dan Iblis, semuanya terbaring di tanah dalam keadaan tidak bernyawa. Di antara semua mayat yang bergelimpangan, ada seorang wanita berambut ungu gelap panjang sedang mengarahkan pedangnya ke salah satu Iblis yang sedang bertumpu sambil memegang tangan kirinya yang terpotong.

"Menyerahlah, Tuan Iblis. Jika kamu menyerah maka akan aku bunuh dengan cepat supaya kamu tidak merasakan sakit. Fufufu~" pinta wanita itu yang tidak lain adalah Minamoto No Raikou.

Iblis yang diketahui namanya adalah Klein Gremory mendecih kesal mendengar perintah Raikou. Ia memegang erat pedangnya menggunakan sisa tangannya dan melihat kearah Iblis muda yang memiliki rambut merah terang berbeda dengan dirinya yang memiliki rambut merah gelap.

"Zeoticus, segera pergi dari sini dan selamatkan dirimu. Biar ayah yang melawan wanita ini." pinta Klein.

"Tapi ay-"

"Tidak ada tapi-tapian, segera pergi dan tinggalkan peperangan ini. Ini perintah dari Pemimpin Klan Gremory dan jika ayah tidak kembali maka kau yang akan menjadi penggantiku, Zeoticus Gremory."

Zeoticus tampak ragu untuk pergi meninggalkan ayahnya namun dengan cepat ia menggeleng dan memunculkan saya iblisnya.

"Berjanjilah untuk tetap hidup, ayah."

Bats!

Klein memandang sendu kepergian anak semata wayangnya itu. "Ayah tidak bisa berjanji, Zeoticus."

"Obrolan yang mengharukan."

Klein segera fokus terhadap wanita yang menjadi dalang kematian pasukan Malaikat Jatuh dan Iblis sekaligus yang memotong tangan kirinya. Ia mengalirkan sihir petir merahnya ke pedang yang ia pegang. Di sekelilingnya juga terlihat percikan-percikan petir merah.

"Jika aku harus tetap hidup maka aku harus mengalahkanmu di sini."

Wush!

Klein langsung melesat kearah Raikou sambil diikuti blur petir merah sehingga ia bisa menambah kecepatannya. Raikou tersenyum tipis dan juga mengalirkan sihir petir ke bilah katana miliknya namun petir itu justru berwarna biru terang.

"Sa~ ayo kita mulai, Tuan Iblis."

"Tutup mulutmu!"

Trink!

-Line Break-

Siapa wanita ini? Kenapa dia memiliki energi suci yang sangat murni? Bagaimana mungkin manusia bisa memilikinya? Itulah yang sedang dipikirkan oleh Baraqiel. Dari semua musuh yang pernah ia lawan di dalam perang ini, dimulai dari Iblis atau Malaikat sekalipun. Hanya wanita dari kalangan manusia ini yang berhasil membuatnya kesulitan.

Padahal wanita ini hanya menggunakan tombak panjang yang dihiasi oleh bendera sebagai senjatanya. Namun yang justru membuat Baraqiel kerepotan adalah kemampuan bertarung wanita tersebut.

Wajah cantik dengan iris mata berwarna purple dan kepalanya dihiasi oleh helm unik itu membuat Baraqiel sempat berdecak kagum saat melihat kalau wanita ini sangatlah cantik. Kecantikannya melebihi kaum wanita yang pernah ia temui, baik itu dari kalangan Malaikat Jatuh, Iblis, Youkai ataupun Manusia.

Dari pada memikirkan itu, Baraqiel segera untuk fokus kembali karena lawannya kali ini sangatlah merepotkan. Berkali-kali serangan petir suci ia lontarkan namun bisa di hindari atau di tangkis dengan sangat mudah. Di sisi wanita yang tidak lain adalah Jeanne D'Arc sedang memperhatikan Baraqiel yang terbang agak menjauh.

Disekeliling mereka sudah hancur balau karena pertempuran itu. Tanah-tanah berlubang, mayat-mayat Malaikat Jatuh atau Iblis yang terkena serangan tak menentu. Jeanne bisa tahu kalau lawannya ini memiliki petir yang hebat karena dapat ia rasakan dengan jelas kalau petir tersebut mengandung unsur suci meskipun sedikit ternoda.

Merendahkan tubuh dengan tombak panjang kebanggaan yang menjadi teman ketika berperang untuk membebaskan Orleans saat ia masih hidup. Jeanne langsung melesat kearah Baraqiel yang sedang dikelilingi percikan-percikan petir.

Baraqiel sendiri segera menyerang Jeanne menggunakan petir suci yang ia punya. Baraqiel tidak berencana untuk membunuh Jeanne namun ia hanya akan membuatnya lumpuh untuk selamanya dan akan ia jadikan wanita itu sebagai pemuas nafsunya. Ah~ memikirkannya sudah membuat Baraqiel menyeringai.

Wush! Ctar!

Suara-suara petir langsung menggelegar begitu saja ketika menyentuh tanah karena Jeanne dengan mudah menghindari sambaran petir tersebut. Meski dirinya adalah wanita, tapi jangan salah sangka karena ketika berperang membela Orleans dulu, ia dan Gilles adalah lawan yang sangat di waspadai oleh musuh di dalan medan perang.

Jeanne tetap menatap lurus Baraqiel sambil menghindari semua sambaran petir suci milik salah satu Jendral Malaikaf Jatuh itu. Melompat, menyamping, merunduk bahkan melakukan manuver ia lakukan demi bisa menghindari sambaran petir.

Baraqiel yang melihat kalau semua serangannya tidak ada yang kena, merasa kesal sehingga menambah intesitas petirnya. Ia mengangkat tangan kanannya dan dimana semua percikan-percikan petir itu berkumpul di telapak tangan kanan dengan tingkat konsentrasi tinggi. Baraqiel menatap nyalang ke bawah lebih tepatnya kearah Jeanne.

"Musnahlah dalam kehancuran!"

Baraqiel langsung melemparkan bola petir itu dengan gerakan cepat kearah Jeanne. Berhenti dari berlarinya, Jeanne memasang posisi sambil menatap serius serangan Baraqiel.

"Jangan pernah meremehkan seorang Ruler." Ia pun menusuk serangan itu menggunakan ujung tajam tombak sehingga serangan tersebut menyebar mengelilingi Jeanne.

Asap mengepul karena ledakan akibat serangan tersebut mengenai tanah. Baraqiel lebih terkejut saat melihat kalau Jeanne masih berdiri tegap tanpa adanya luka meski disekelilingnya sudah hancur.

"Sudah kubilang bukan, jangan pernah meremehkan seorang Ruler." Jeanne menatap tajam.

-Line Break-

Di sisi lain pertempuran sendiri sedang kacau balau. Tanah berlubang, mayat bergelimpangan, organ tubuh tercecer dan itu semua akibat dua Malaikat Jatuh yang memiliki pangkat Jendral sedang menghabisi pasukan Iblis ataupun Malaikat Jatuh.

Crash!

"Ayolah! Apa hanya ini yang Fraksi Malaikat dan Iblis punya? Hiyah!"

Crash!

"Kau benar Semhazal, apa hanya ini yang dimiliki oleh Fraksi Malaikat? Jika memang begitu maka kalian adalah Fraksi yang paling lemah!"

Crash!

Pembantaian terus terjadi karena melawan kedua Jendral itu. Pasukan Malaikat yang melihat hanya bisa terus berjuang meski ada sedikit rasa marah saat mendengar kalau Fraksi Malaikat dihina.

Tidak jauh dari pertempuran mereka semua, Naruto sedang berlari dengan cepat sehingga jubah kebesaran Uzukage miliknya berkibar. Ia nampak fokus sebelum tersentak saat melihat ada beberapa Malaikat Jatuh yang terbang kearahnya sambil membawa light spear.

"Itu dia!"

"Bunuh manusia itu!"

"Jangan biarkan dia hidup!"

"Dia pasti ancaman seperti yang lainnya!"

Semua Malaikat Jatuh yang datang langsung melemparkan light spear kearah Naruto. Sang Uzukage sendiri hanya menundukkan kepalanya sehingga mata miliknya tertutupi oleh poni rambut dan segera memakai topeng dengan motif Shinigami.

"Kalian semua sungguh menjijikkan." gumam Naruto.

Sring! Sring! Sring! Sring!

"Kalian sudah membuatku muak." Naruto berteriak dengan beberapa potongan light spear yang melayang di belakangnya.

Blar!

"Futon: Beelzebub!" Naruto menyeringai dengan latar ledakan di belakangnya.

Yondaime Uzukage meraung sebelum menebas tubuh salah satu iblis yang mencoba menahannya. Tubuh iblis itu langsung terbelah ketika Naruto memotongnya bagaikan memotong sebuah keju.

Potongan-potongan tubuh terlempar ke udara sebelum mengurai menjadi abu. Para Malaikat Jatuh yang melihat itu justru gemetar ketakutan karena menyaksikan pembantaian secara live yang dilakukan oleh manusia. Saking takutnya sampai-sampai mereka semua berjatuhan karena sayap mereka kaku untuk digerakkan. Tidak mau kesempatan itu terbuang, Naruto langsung saja berlari kearah sekumpulan Malaikat Jatuh tersebut.

"Selanjutnya kalian!"

Malaikat Jatuh otomatis menjerit saat merasakan betapa sakitnya dipotong-potong. Potongan yang bukan berasal dari bilah senjata namun potongan yang berasal dari sekumpulan angin.

Teknik ini Naruto ciptakan ketika tidak sengaja ia bertarung dengan salah satu ninja terbaik Konoha, Sarutobi Asuma. Saat itu ia sedang berada diperbatasan antara Kirigakure dengan Konohagakure setelah melaksanakan misi solo anbu. Kebetulan ditengah jalan ia bertemu dengan Asuma sekaligus anggota timnya.

Karena hanya desa kecil yang mengetahui kalau Uzushiogakure masih ada sehingga membuat Naruto di curigai dan pertempuran tidak terelakkan. Naruto yang notabene jenius sehingga diumur 14 tahun sudah menjadi anbu, harus kesulitan melawan Asuma karena perbedaan faktor pengalaman.

Disitu ia segera melarikan diri karena merasa tidak mampu untuk mengalahkan Shinobi sekelas Asuma. Sejak kejadian itu ia selalu berlatih keras dan membuat berbagai jutsu hingga ia layak memegang posisi Kage.

Cara kerja 'Futon: Beelzebub' ini sendiri adalah memotong ruang dengan jarak satu sampai lima meter. Jutsu yang tergabung dari Futon (elemen angin) sama Fuinjutsu sehingga tercipta jutsu yang diberi nama 'Futon: Beelzebub'. Dirinya terinspirasi dengan teknik Asuma yabg mengendalikan elemen angin untuk mempertajam pisau chakra khusus miliknya.

-Kembali ke cerita-

Disaat sedang membantai para Malaikat Jatuh, Naruto tidak menyadari ada puluhan iblis yang berasal dari Klan Phenex sedang mengelilingi dirinya. Ketika merasakan suhu yang cukup panas barulah Naruto sadar kalau sedang dikepung.

"Itu dia! Bakar dia untuk membalaskan dendam rekan kita!"

"Yaaa!"

Mereka semua langsung menyemburkan api dan dari banyak jumlah iblis sehingga membuat api itu berkobar ganas. Naruto hanya melirik sebelum kedua tangannya membentuk sebuah segel dan menepukkannya.

"Mokuton: Mokujoheki!"

Krak! Krak! Krak!

Beberapa batang kayu keluar dari dalam tanah dan membentuk sebuah kubah dengan Naruto didalamnya. Para iblis masih menyemburkan apinya, beberapa menit kemudian mereka semua menghentikan semburan itu dan terlihat kalau tanah yang ada dihadapan mereka sudah mengeluarkan asap dengan tanah yang berubah menjadi merah.

Salah satu iblis menghembuskan nafas. "Sepertinya kecoa itu sud-"

Jrash!

"Trist!!"

Iblis yang berasal dari Klan Phenex itu tumbang dengan sebuah tombak es yang menancap ditenggorokannya. Mereka semua bersiaga sambil melihat ketempat Naruto berada.

"Wah wah, tidak kusangka serangan kalian cukup kuat sampai berhasil membakar satu lapis pertahananku."

Deg!

Seluruh mata membola terkejut saat melihat kalau Naruto masih berdiri tegap dengan jubah sertai surai merah panjangnya yang berkibar meski surai miliknya ia ikat ponytail. Naruto melirik kesemua iblis itu sebelum membentuk heandseal dan menaruh tangan kanannya ke atas tanah.

"Kalau kalian ingin bermain api maka akan aku ladeni. Api dibalas oleh api. Katon: Dai Hashira!"

Bwosh!

Kobaran api berwarna biru muncul diatas tanah dan mengitari Naruto. Kobaran api itu langsung membesar dan meluas sehingga jika di lihat dari jauh maka api itu akan terlihat seperti pilar api raksasa. Para iblis dari Klan Phenex tidak sempat meloloskan diri karena api tersebut langsung menghanguskan mereka semua.

Pilar api itu semakin meluas hingga ber diameter 700 m. Tanah yang semula hitam legam langsung menjadi merah dan meleleh yang menandakan betapa panasnya api itu. Naruto segera berdiri setelah menyelesaikan jutsu miliknya. Jutsu yang diakui langsung oleh Shodaime Uzukage dan Sandaime Uzukage edo tensei ketika ia melawan mereka berdua saat perang dunia shinobi keempat.

Ia melihat sekitar sebelum menengok kebelakang dimana Azazel dan Semhazal baru saja mendarat. Naruto menggaruk kepalanya sebentar sebelum melemparkan sebuah fuma shuriken yang dialiri petir kearah kedua Jendral itu meski bisa dihindari dengan mudah.

Cleb!

"Akhirnya kalian berdua datang juga. Aku baru saja membantai pasukan kalian berdua." Naruto berucap sambil bertolak pinggang.

Baik Azazel ataupun Semhazal sebenarnya sudah ingin menyerang manusia yang ada dihadapannya ini. Namun mereka tidak ingin mati bodoh karena jutsu yang dikeluarkan oleh Naruto tadi. Mereka berdua saling melirik sebelum mendengar suara aneh. Mereka menoleh dan terkejut saat melihat fuma shuriken tadi yang sedang mengarah pada mereka.

Shuriken itu juga diselimuti oleh angin sehingga memperluas jangkauan memotongnya. Naruto segera menarik kawat baja yang tersambung ke shuriken yang ia lemparkan sehingga shuriken itu terlbelah menjadi dua namun tidak mengurangi kecepatannya.

Azazel dan Semhazal segera terbang memasang jarak dari Naruto yang baru saja menangkap kedua fuma shuriken tersebut. Sang Uzukage terdiam sambil memikirkan ribuan rencana selama perang berlangsung.

Pertempuran pertama para Servant di dunia DxD baru saja dimulai. Mereka para Servant hanya berusaha untuk mengalahkan musuh masing-masing. Mereka semua berupaya agar Kami-sama tidak terganggu ketika melawan Three Gods Dragon. Siapa yang akan menang dipertempuran ini?

-To Be Continued-

Note: Yaah~~ akhirnya selesai juga ini chapter. Maaf ya jika telat updatenya, ane sudah usahain untuk cepet update tapi niat nulis yang bagaikan jaringan 4G. Datang hilang datang hilang terus secara berulang-ulang.

Jika ada yang ane atau ada yang kurang, kalian bisa beritahu ane di kolom review, oke. Mungkin itu saja untuk saat ini, ane sudah cukup ngantuk.

See You Later~~~

--Senin, 20-Juli-2020--

-Pukul 23:30-