Chapter 4
Fate Series: Type-moon
Naruto: Masashi Kishimoto
Highschool DxD: Ichie Ishibumi
Warning: Typo, Ooc, ServantNaru! Bahasa tidak baku, Bermasalah pada EYD.
Genre: Action, Adventure, Fantasy, Supernatural.
Rated: M (untuk jaga-jaga)
Summary: Seseorang tidak akan pernah bisa lolos dari takdir yang mengikat dirinya. Takdir yang sudah ada pada masing-masing manusia sejak lahir. Takdir yang harus diikuti meski itu bertentangan dengan keinginan seorang manusia. Hal itulah yang dialami oleh Uzumaki Naruto.
.
.
--The Fate Of The Heroes—
.
.
Sore wa oroka Naru na da ga toko wa motomu
(Sebodoh apa pun sebuah nama, waktu'kan tetap berjalan)
(Layar memperlihatkan delapan buah kartu yang memiliki gambar berbeda setiap kartunya)
Fukutsu no eiyuu sono monogatari wa
(Ini adalah... kisah tentang... pahlawan... yang... abadi)
(Layar kemudian menjauh dan memperlihatkan sebuah tulisan "The Fate Of The Heroes" dengan hutan sebagai latarnya)
Sfx First
(Layar kemudian menjauh kembali dengan latar hutan yang berganti menjadi perkotaan)
Sfx Second
(Layar juga menjauh dengan latar tanah tandus yang berganti menjadi hamparan rumput luas)
Chiisaku kanadeta ai wa hazama o samayou
(Lagu cinta yang dinyanyikan menggaung sampai di kejauhan)
(Layar memperlihatkan Arthuria, Nero, Merlin yang sedang berdiri dihamparan myat sambil membelakangi dan menundukkan kepala)
Todokanai unmei ga azawarau
(Takdir yang tak tergapai pun menertrawakanmu)
(Layar kemudian memperlihatkan Jeanne yang sedang menatap sendu kearah langit dan Naruto dibelakangnya yang sedang menundukkan kepala kebawah dengan topeng yang masih menutupi wajahnya)
Hedateru sekai o koete ano uta ni oitai
(Dalam dunia penjara ini... kuingin menggapai lagu itu)
(Kali ini memperlihatkan Raikou dan Jack yang sedang duduk duduk diatas batu, Gilgamesh dan Karna saling membelakangi serta Atalanta yang sedang bersandar dibahu Scathach)
Mi o kogasu sono ai ga wakatsu made
(Nyalakanlah cinta itu... agar bisa berbagi)
(Layar kembali mrmperlihatkan Anastasia, Quetzalcoatl dan Ushiwakamaru sedang berjalan bersama melewati tumpukan mayat)
Hito wa sakenda, seigi o sono hata o takaku kage
(Orang menyebutnya keadilan dan mengibarkan bendera itu tinggi-tinggi)
(Layar kemudian memperlihatkan tiga pasukan Fraksi yang sedang berlari kearah satu sama lain)
Kako no unmei Tate
(Berdirilah dipuncak... masa lalu)
(Kemudian layar berganti memperlihatkan tiga Dewa Naga dan Dua Naga Surgawi)
Yami o hari susume kono mi ishinau tomo
(Kuusir kegelapan ini dan terus maju meski tubuh uinu tercerai berai)
(Layar memperlihatkan pertarungan Gilgamesh melawan naga Merah, Karna melawan naga Putih dan berubah menjadi pertarungan Anastasia, Nero, Atalanta, Scathach, melawan pasukan iblis dan malaikat jatuh)
Osore yo hirefuse watashi ga hasha to naru
(Takutlah, menunduklah. Ku'kan jadi sang pemenang)
Layar juga memperlihatkan Naruto yang sedang mengatupkan kedua tangannya dengan mata yang sudah berubah menjadi Kaminogan, dibelakangnya ada Jeanne, Arthuria, Merlin, Raikou dan Jack)
Sei araba susume ganzen no shouri o
(Ku Kan terus berjuang... selama aku masih hidup)
(Layar juga memperlihatkan sebuah pertarungan Quetzalcoatl melawan Ares dan berubah memperlihatkan Kami-sama bertarung dengan salah satu Dewa Naga sebelum ledakan besar terjadi)
Akatsuki tabidate yoake wa mou suhu
(Tak lama lagi... cahay fajar... akan... menyingsing)
(Kemudian layar berganti memperlihatkan para Servant yang melihat matahari terbit di laut sambil tersenyum)
Sfx Three
(Kemudian layar berganti memperlihatkan setengah wajah para Servant saling bersebelahan dan diakhiri beberapa senjata milik Servant yang tertancap dipadang rumput hijau yang luas)
--Opening Fate Apocrypha: EGOIST-Eiyuu Unmei no Uta—
.
.
--The Fate Of The Heroes—
.
.
Suasana peperangan semakin memanas dimana pasukan Da-tenshi (Malaikat jatuh), Tenshi (Malaikat) dan Akuma (Iblis) terlihat tidak mau mengalah. Ketiga fraksi itu telah berperang lebih dari seminggu namun tidak ada tanda-tanda berakhirnya perang. Bahkan setelah datangnya bantuan para Servant yang dipanggil oleh Kami-sama, masih belum ada tanda kalau perang akan berakhir. Para Servant sendiri sibuk melawan pasukan yang berasal dari kubu Akuma maupun Da-tenshi.
Sekitar 5 km di arah tenggara dari pusat peperangan, pertarungan yang hebat sedang terjadi. Pertarungan antara God of war, Ares melawan Goddess of beauty, Quetzalcoat. Pertarungan mereka berdua berhasil membuat wilayah sekitar hancur. Awalnya pertarungan ini cukup dekat pusat peperangan, namun Ares justru kabur sehingga Quetzalcoat memilih untuk mengejarnya hingga posisi mereka berdua cukup jauh dari pusat peperangan.
Mereka berdua saling mengadu senjata masing-masing, dimana Ares memegang sebilah pedang yang terlihat sangat mewah dan kuat, sedangkan Quetzalcoat memegang sebuah pedang bergerigi yang berukuran sedang. Meski sedang memegang pedang, nyatanya Ares sudah berulang kali mengganti senjata untuk meenandingi Quetzalcoat. Hal itu bisa diperkuat dengan adanya beberapa patahan senjata yang berada tidak jauh dibelakang Ares.
Trink!
Percikan api sedikit keluar saat mereka berdua saling mengadu senjata masing-masing. Sedikit memiringkan senjata yang dipegang, Quetzalcoat dengan cepat menendang perut Ares dengan sangat keras.
"Guah...!" Ares memuntahkan sedikit darah sebelum terhempas jauh kebelakang.
Melihat kalau Ares berhasil menahan tubuhnya yang terlempar, memutar pelan pedangnya, Quetzalcoat langsung berlari kearah Ares dengan kecepatan penuh dan langsung memukul Ares yang belum sempat bereaksi sama sekali. Pukulan itu mengarah kedagu sehingga membuatnya terangkat keatas dan memuntahkan darah lagi. Tidak hanya sampai situ saja, Quetzalcoat dengan kejamnya menghantamkan pedangnya kearah leher Ares yang terbuka.
Duagh! Sreeet!
Ares terbaring sambil memegang lehernya dan jika dilihat dari raut wajahnya, ia sangat kesakitan. 'Tenggorokanku... hancur...'
Berbekal pengetahuannya tentang sihir penyembuh yang sedikit, Ares segera menyembuhkan lehernya, meski masih bisa ia rasakan betapa menyakitkan pukulan tersebut. Hei, meski ia adalah seorang dewa tapi struktur tubuhnya sama seperti manusia biasa. Ares yakin kalau ia masih bisa selamat karena darah dewa yang mengalir didalam tubuhnya, jika tidak maka dia pasti sudah mati.
Disisi lain sendiri, Quetzalcoatl menatap Ares dengan sangat teliti. Ia saat ini sedang bingung, jika Ares adalah dewa sungguhan didunia ini, lalu mengapa ia terlihat tidak terlalu kuat. Seharusnya jika Ares memang seorang dewa, maka bisa memberikan perlawanan yang sangat menantang bukan?. Padahal Quetzalcoat sudah sangat menantikan pertarungan duel yang hebat antar sesama dewa.
"Sepertinya ini kemenanganku, Dewa Ares. Kau sangat mengecewakanku dengan title dewa-mu. Kupikir kau bisa memberikan perlawanan yang berarti tapi nyatanya..." Quetzalcoat menyeringai kejam. "Kau sangatlah lemah dan tidak pantas menyandang gelar dewa."
Ucapan dari Quetzalcoat langsung masuk kedalam indra pendengaran Ares hingga membuatnya tidak bisa bergerak. Ilustrasi gunung meletus langsung muncul dikepala Ares sangat mendengar perkataan tersbut. Tanpa memikirkan rasa sakit dilehernya, Ares segera mengambil pedangnya dan menatap murka kearah Quetzalcoat.
"Be... raninya... k... kau menghina...ku. Ti... tidak aka... akan kumaaf... kan dirimu..."
Ditangan Ares langsung tercipta lingkaran sihir berukuran sedang dan menyelimuti pedangnya. Dalam sekejap pedang itu berubah menjadi sebuah busur dengan ornamen emas dan juga putih. Busur tersebut mengeluarkan aura yang cukup untuk membuat dewa sekelas Quetzalcoat memasang posisi karena merasa terancam
Ares pun menarik senar busur itu dan muncul sebuhah anak panah, Ares memasukkan prana yang dimilikinya kedalam anak panah tersebut. Tanah yang berada dibawah Ares mulai retak dan melebar, bersamaan kobaran prana pada anak panah. Disisi Queotzalcoatl mulai bersiaga, bisa ia rasakan kalau serangan yang ini sangat berbahaya.
"Matilah!!"
Wuzh!
Anak panah dilepaskan, tanah-tanah yang dilewati pun seketika hancur. Anak panah tersebut melesat dengan cepat kearah Quetzalcoatl yang sedang memasang posisi bertahan. Benturan terjadi dan tanah yang berada dibelakang Quetzalcoatl seketika hancur. Sang dewi kecantikan sendiri berjuang untuk menahan serangan tersebut.
Busur yang dipegang Ares segera berubah menjadi butiran-butiran cahaya, ia terlihat kelelahan dengan aliran darah disudut bibirnya. Selain karena luka yang dihasilkan Quetzalcoatl, Ares juga menderita karena menerima beban akibat menggunakan senjata yang ia curi dari dewa-dewa lain. Busur yang barusan ia gunakan juga merupakan senjata curian dari sang Moon Goddess, dewi Artemis. Dewa-dewa yang ia curi senjatanya tidak mengetahui perbuatannya, tapi ia berpikir kalau sekarang perbuatannya telah ketahuan.
Membuang ludah bercampur darah, Ares segera memasang posisi dengan sebilah kapak ganda ditangan kanannya karena Quetzalcoatl terlihat baik-baik saja meski pedangnya telah hancur akibat menahan serangan Ares barusan. Ia segera melesat kearah Quetzalcoatl dengan memanfaatkan hal tersebut. Mengayunkan kapaknya, tanah seketika terbelah selebar 2 meter dan panjang sekitar 60 meter.
Quetzalcoatl berhasil menghindari tebasan Ares dan segera menghindar lagi. Ia masih belum bisa menyerang karena kedua tangannya belum berhenti bergetar, akibat menahan serangan Ares sebelumnya. Ia segera menundukkan kepalanya dan segera menendang dagu Ares secara vertikal hingga terpental keatas. Ia kembali melompat dan menjepit kepala Ares menggunakan kedua pahanya, Quetzalcoatl pun langsung membanting Ares ketanah.
Boom!
Sebuah kawah tercipta setelah Quetzalcoatl mengakhiri pertarungan itu dengan cara menginjak dada Ares dengan sangat kuat. Ia keluar dari kawah yang sedalam 2 meter sambil melihat kearah Ares yang pingsan dengan luka disekujur tubuhnya. Kondisi Quetzalcoatl sendiri terlihat sangat kelelahan, ia mengakui kalau Ares cukup kuat untuk menandingi kemampuannya dalam fisik. Aliran darah mengalir dibahu kiri Quetzalcoatl, ia memegang luka itu dan tatapannya terlihat serius.
"Jika aku tidak menyadarinya tadi, sudah pasti kepalaku akan terpisah." gumamnya. Ternyata Quetzalcoatl menyadari kalau Ares akan memotong kepalanya saat menunduk tadi.
Quetzalcoatl segera pergi dari tempat itu menuju tempat berkumpulnya para servant yang juga ikut dipanggil. Ia menghiraukan lukanya terbuka meski darahnya sudah tidak mengalir. Meninggalkan Ares yang telah pingsan, ketiga fraksi tidak tahu kalau Ares sang God of War dari mitology Olympus telah kalah ketika Great War terjadi.
--The Fate Of The Heroes—
Mata berwarna merah ruby itu memandang tajam kearah sebuah pertarungan. Kedua tangannya terlipat didada sambil duduk disebuah singgasana yang terbuat dari emas. Disisi kirinya ada seorang laki-laki berambut putih yang juga melihat kearah pertarungan tersebut. Mereka berdua tidak lain adalah Gilgamesh dan Karna.
Mereka berdua hanya menonton saja bukan berarti tidak ingin membantu, melainkan mereka berdua seedang menunggu yang lain. Mengangkat tangan kanannya kesamping, sebuah riak air berwarna emas muncul dan mengeluarkan sebuah cawan yang terbentuk dari emas. Ia meminum anggur yang ada dicawan itu saat merasakan kedatangan beberapa orang.
"Apa kita tidak ikut membantu?"
Sebagian menoleh kearah gadis yang memiliki telinga dan ekornya selayaknya seekor kucing. Saat menyadari kalau yang lain menatapnya, gadis itu hanya memiringkan kepalanya dengan tanda tanya kecil yang melayang. Memutar pelan anggur didalam cawannya, Gilgamesh menoleh sedikit kearah Karna.
"Lancer, menurutmu bagaimana?" tanya Gilgamesh.
Karna hanya diam dengan ekspresi datar tanpa emosi diwajahnya, ia memperhatikan pertarungan itu sebelum menoleh kearah Gilgamesh. "Peluang menang sangat tipis, meski hanya melihatnya saja kita sudah tahu kalau makhluk yang bernama Trihexa itu sangatlah berbahaya. Ia terus beregenerasi meski telah menerima banyak serangan dari Kami-sama. Serta nafas yang dihasilkannya juga beracun."
"Kau benar, ternyata pemikiranmu lumayan, lancer." menghabiskan anggurnya dan membuang cawan itu, Gilgamesh turun dari singgasananya sebelum terurai menjadi butiran emas bersamaan cawannya.
Melihat para servant, Gilgamesh menyadari ternyata ada satu servant yang tidak ada. "Dimana assassin?"
Pertanyaan Gilgamesh membuat semuanya sadar kalau ada yang kurang dari mereka semua. Melihat kalau diantara mereka semua tidak mengetahuinya, Gilgamesh mendecih kesal. Pertarungan Kami-sama melawan Trihexa semakin memanas, bahkan ketiga pasukan fraksi sedang menonton pertarungan itu.
"!"
"Menghindar!!!"
Teriakan keras dari Michael seketika menyadarkan semua pasukan dari ketiga fraksi untuk menghindari sebuah sihir yang dihasilkan oleh Trihexa. Pasukan yang tidak beruntung seketika musnah dalam ledakan. Michael dan beberapa petinggi dari ketiga fraksi menatap nanar kejadian tersebut. Mereka pun mengambil posisi tepat dibelakang para servant, seolah-olah menjadikan para servant sebagai pelindung.
Gilgamesh memperhatikan hal tersebut. "Harus ada yang membuat kekkai untuk menahan makhluk tersebut."
Mendengar perkataan dari Gilgamesh, semuanya secara bersamaan setuju. Kekuatan trihexa sangatlah berbahaya, melebihi makhluk yang mereka ketahui. Merlin yang sedang menyembuhkan luka Quetzalcoatl menatap Gilgamesh dengan pandangan bertanya.
"Namun butuh sebuah kekkai yang sangat kuat untuk menahannya, aku tidak memiliki sihir kekkai yang sangat kuat untuk melakukannya." ia melihat Anastasia. "Gimana caster, apa kau punya sihir kekkai yang kuat?"
Menggeleng pelan, raut wajah Anastasia terlihat kecewa. "Maaf caster, aku tidak mengetahui sihir kekkai yang sangat kuat untuk menahannya makhluk itu."
Walaupun ia adalah class Caster tapi Anastasia sama sekali tidak mengetahui sihir kekkai skala luas, ia hanya tahu sihir-sihir tipe es saja. Merlin menghela nafas mendengarnya, ia menatap Gilgamesh sembari menggeleng pelan.
"Semuanya juga mendengarnya, caster." Merlin hanya cengengesan dengar perkataaan Gilgamesh.
Groaaarggghhh!!
Semuanya seketika memasang posisi siaga dan melihat kalau Trihexa sedang berteriak dengan suaranya yang membuat telinga berdengung. Hanya Gilgamesh dan Karna yang menatap datar Trihexa seakan-akan tidak terganggu dengan teriakannya. Seluruh makhluk yang disitu juga bisa lihat kalau Kami-sama sedang berdiri disamping para servant. Semuanya seketika otomatis bersujud dihadapannya, kecuali para servant.
" Sepertinya semua servant sudah berkumpul, tetapi dimana keberadaan Assassin, Gilgamesh." tanya Kami-sama.
"Tidak ada yang mengetahui keberadaannya, Kami-sama. Entah dimana dia sekarang." Jawab Karna mewakili Gilgamesh.
Sebelum berbicara, kilatan merah tidak jauh disamping menarik perhatian semuanya. Bisa dilihat kalau disitu muncul Assassin yang sedang membawa dua orang Da-tenshi dibahunya bagaikan beras. Dari pihak Da-tenshi sendiri terkejut karena mengenali siapa kedua Da-tenshi yang sedang terluka tersebut.
"Azazel-sama!!"
"Semhazal-sama!!"
Assassin tersebut melemparkan keduanya kearah fraksi Da-tenshi, ia kemudian berjalan kearah para servant. Surai merah panjang miliknya bergoyang ketika menggelengkan kepalanya pelan dan menunduk hormat dihadapan Kami-sama. Ia kemudian berdiri kembali dan menatap Gilgamesh sembari mengirim tatapan maaf.
Melihat kalau salah satu dari mereka sudah datang, membuat semuanya sedikit lega. Namun besarnya tekanan yang dikeluarkan oleh Trihexa kembali mengingatkan mereka semua akan adanya bahaya. Kami-sama menoleh kearah Naruto yang juga bersiaga.
"Assassin, apa kau bisa membuat sebuah kekkai yang cukup kuat untuk menahan Trihexa?" tanya kami-sama.
"kekkai?" Naruto memiringkan kepalanya. "Sebenarnya bisa dan ada satu jutsu kekkai yang cukup kuat."
"EEHHHH!!!"
Perkataan dari Naruto membuat semua kaget, bahkan Gilgamesh dan Karna juga kaget meski hanya raut wajah mereka yang berubah. Siapa yang tidak kaget kalau ada class Assassin yang bisa membuat sebuah kekkai. Jeanne segera mengendalikan dirinya sebelum maju kearah Naruto dan menatapnya serius.
"Jadi, kau punya sebuah sihir untuk menciptakan kekkai yang kuat, Assassin?" tanya Jeanne.
Naruto mengangguk dan pandangannya juga menjadi serius. "Betul, namun aku butuh bantuan untuk membuatnya."
"Bantuan?" Merlin memiringkan kepalanya.
Naruto sekali lagi mengangguk. "Benar, aku butuh tambahan kekuatan dari command seal supaya bisa mengeluarkan jutsuku secara maksimal, Kami-sama."
Kali ini Karna yang menatap Naruto dengan pandangan bertanya. "Mengapa harus command seal, Assassin?"
"Untuk menenangkan aliran chakra dalam tubuhku." Naruto menjawab. "Tubuhku masih bisa menahan efek samping dari aliran chakra yang tidak beraturan jika hanya jutsu tingkat rendah, namun tubuhku justru akan hancur ketika mengeluarkan jutsu tingkat tinggi." Tangan kanannya tampak mengepal. "Semua itu karena menyerap seluruh chakra milik Juubi agar mudah disegel."
Perkataan dari Naruto menarik perhatian Kami-sama dan segera tersenyum kecil. Kami-sama menoleh kearah Jeanne dan memanggilnya.
" Ruler." Jeanne menoleh. "Lakukan yang diminta oleh assassin, gunakan command seal padanya."
Jeanne sedikit terdiam sebelum mengangguk mengarahkan tangan kanannya kearah Naruto dan sebuah command seal berukuran besar dan berpola sayap muncul dipunggungnya. Arthuria manju kearah Kami-sama selagi Jeanne menggunakan command seal.
"Apakah ini akan membantu, kami-sama? Bukannya command seal hanya digunakan untuk diwaktu yang mendesak?" tanya Arthuria yang menaruik perhatian para servant.
Kami-sama mengangguk dan tersenyum teduh. "Percayalah, Saber. Dengan ini kita semua bisa menghentikan Trihexa dengan segera."
Semua servant terdiam dan melihat kearah Jeanne yang masih menggunakan command seal kepada Naruto. Namun perhatian mereka teralihkan karena teriakan dari Trihexa dan semuanya juga bisa melihat ada segerombolan makhluk yang seperti naga namun berukuran kecil yang keluar dari punggung Trihexa.
Kami-sama menatap gerombolan makhluk tersebut dengan serius dan menoleh kearah ketiga fraksi dengan pandangan serius juga. "Didepan kita semua adalah makhluk yang sangat berbahaya. Makhluk tersebut merupakan perwujudan dari kiamat sendiri. Tidak ada kekuatan yang mampu menandingi kekuatannya selain tangan kananku." Bisikan-bisikan terdengar diantara fraksi akuma, sedangkan fraksi tenshi dan juga da-tenshi terlihat tidak percaya dengan apa yang didengar.
Michael terlihat terkejut mendengar kalau ayah memiliki tangan kanan. Para tenshi yang lain juga terlihat terkejut. Gabriel sendiri merasa sedikit sakit dihatinya, rupanya masih ada yang tidak ia ketahui dari sang ayah.
"Hilangkan semua hawa permusuhan dari ketiga fraksi, fokuslah pada Trihexa yang sedang siap untuk mengamuk didepan." Pinta Kami-sama dengan nada yang tegas. Spontan semuanya yang berada disitu langsung memasang posisi tanpa membantah sama sekali, bahkan para servant memasang posisi juga karena melihat jumlah makhluk tersebut yang sangat banyak.
Kami-sama melihat kearah Jeanne yang sedang memasang posisi bertarung yang menandakan kalau ia sudah selesai mengarahkan command seal pada Naruto. Ia juga menoleh kearah Naruto yang berjalan kedepan mereka semua bebrapa langkah sebelum berhenti. Semua mata otomatis memperhatikan Naruto yang sedang membuat gerakan tangan aneh sebelum menepukkan kedua tangannya.
"Mokubunshin No Jutsu!"
Dari dalam tanah muncul empat sulur kayu yang mulai berubah bentuk menjadi dirinya. Naruto menatap serius kearah keempat tiruannya. "Buat kekkai Shisekyoujin untuk menahan makhluk tersebut!" Pintanya.
"Ha'i, oyabun!!"
Keempat tiruannya langsung melakukan shunsin dan selama beberapa detik semuanya menjadi hening, menunggu apa yang terjadi ketika makhluk mirip naga yang dikeluarkan oleh Trihexa sedang kearah mereka semua.
Sriing!
Seketika 4 buah suar merah muncul pada empat arah dan membuat sebuah kubus transparan sehingga terlihat kalau kekkai yang dimaksud oleh Naruto telah tercipta. Semua orang dari ketiga fraksi terpesona pada kekkai tersebut. Bahkan Merlin juga menggunakan kemampuan setiap caster yaitu Clairvoyance untuk menganalisis kekkai tersebut. Ia pun tercengang saat tahu kalau kekkai ini sangatlah kuat.
Kami-sama tersenyum dan melihat kearah Trihexa yang sedang menggeram. "Pada kesempatan ini, ketiga fraksi melakukan kerja sama untuk menghentikan makhluk tersebut. Makhluk yang merupakan pembawa kiamat supaya kehidupan dimasa depan kelak akan terus berlangsung. Semuanya harus berani untuk mengorbankan nyawanya agar nyawa makhluk dimasa depan kelak bisa hidup dengan damai. Berkorbanlah dan raihlah gelar pahlawan supaya anak-cucu kalian bisa mengetahui betapa besarnya perbonan leluhur mereka." Fraksi tenshi sedikit tersentak mendengar perkataan ayah mereka, seakan-akan sedang mengucapkan kalimat perpisahan.
Semua yang ada disitu langsung memasang posisi dan tidak terlihat ketakuatan sama sekali dimata mereka. Hanya ada tekad dan keberanian untuk mengalahkan makhluk yang merupakan pembawa kiamat. Bahkan tidak hawa permusuhan dari ketiga fraksi seperti beberapa saat yang lalu.
Para servant sudah siap dengan posisi mereka masing-masing, bahkan Gilgamesh saat ini sedang melayang dengan beberapa riak emas dibelakangnya. Mengeluarkan kembali sebuah topeng bermotif shinigami dan memakainya, Naruto langsung mengalirkan chakra angin pada kunainya. Matanya yang berwarna violet terlihat bersinar dari dalam topeng tersebut.
"SERAAANG!!!"
Teriakan keras dari Kami-sama langsung membuat semuanya berlari kearah makhluk-makhluk yang seperti naga tersebut. Pertempuran terakhir yang menentukan kahir dari perang yang telah terjadi.
.
.
~The Fate Of The Heroes~
.
.
Mayat para naga kecil yang disebut Wyvern memenuhi tanah. Hampir semua wyvern yang dikeluarkan oleh Trihexa telah dibunuh, meski tidak sedikit korban yang berasal dari ketiga fraksi. Wyvern sendiri cukup kuat, selain itu memiliki kelincahan yang mampu membuat servsnt setingkat Ushiwakamaru kesusahan.
Jrazzh!
"Mou! Kenapa mereka banyak sekali?!" teriak Nero dengan nada penuh kekesalan.
Sebenarnya bukan hanya Nero yang sedang kesal, servant seperti Anastasia, Quetzalcoatl, Atalanta dan juga Merlin ikut kesal dengan para wyvern-wyvern tersebut. Karena wyvern yang sering terbang diudara, Jack hanya bisa menonton dari balik pelindung es tipis namun kuat yang diciptakan oleh Anastasia.
Tidak jauh mereka ada Karna yang sedang menusuk wyvern-wyvern dengan tombaknya, ujung tombak tersebut terbakar oleh api sehingga langsung membakar para wyvern dari dalam. Hujaman pedang emas juga terlihat menembus tubuh wyvern dan langsung membunuhnya. Gilgamesh menatap datar para wyvern yang terus saja mati akibat serangannya. Pandangannya sedikit menoleh kearah Arthuria dan Jeanne yang sedang bekerja sama mengalahkan wyvern. Menoleh sedikit kearah utara, bisa ia lihat kalau Naruto sedang menebas wyvern dengan senjata yang ia kenali sebagai kunai.
Jrazzh!
Sedikit terengah-engah, Naruto membuang kunainya yang telah rapuh dan menggantinya dengan yang baru. Sebelum membuangnya, ia menatap sedih kunai tersebut. Meski sudah dilapisi oleh futon, kunai miliknya ternyata masih bisa rapuh karena sisik wyvern. Sebelum mulai menyerang, ia tersentak akan sesuatu, seperti ada yang salah. Naruto memperhatikan sekeliling sebelum pandangannya terkunci kearah Kami-sama yang sedang melawan Trihexa. Nampak salah satu kepala Trihexa yang siap melepaskan sebuah serangan kearah para servant. Khusus para servant.
Melapisi tubuhnya dengan chakra petir, Naruto berniat menggunakan sebuah jutsu yang ia ciptakan untuk menandingi kecepatan pamannya. "Inazuma!"
Sriing!
Arthuria dan Jeanne tidak sempat bereaksi ketika seseorang menarik pinggang mereka sebelum menghilang dalam kilatan petir dan muncul didekat servant lain, diikuti oleh Karna dan Gilgamesh. Tanpa basa-basi, Naruto berbalik kearah salah satu kepala Trihexa yang sedang mengarah pada mereka semua.
"Lancer, sebenarnya ada apa? Kenapa kalian justru kembali?" Tanya Scathatch dengan mengibaskan darah dari tombaknya.
"Bersiaplah, salah satu kepala makhluk tersebut akan melepaskan serangannya kearah kita semua dan sepertinya Assassin merasakan hal tersebut." Jawab karna dengan nada tenang miliknya.
Otomatis semuanya bersiap, kecuali Jack yang sedang memiringkan kepalanya. "Onii-san merasakan bahaya?"
Raikou tersenyum kecil kearah Jack. "Sepertinya begitu, Jack. Assassin onii-san mungkin merasakan sesuatu yang cukup berbahaya."
Kilauan binar terlihat dikedua mata Jack. "Onii-san sugoi."
"Iya, kan."
"BERSIAPLAH!!" Semua memasang posisi masing-masing. "Caster, kalian berdua bantu Assassin untuk membuat pelindung!" Pinta Gilgamesh.
Serangan tersebut dilepaskan oleh salah satu kepala Trihexa dan Kami-sama tidak sempat menghentikannya karena sibuk melawan kepala Trihexa yang lain. Melepaskan topengnya, Naruto segera menepukkan kedua tangannya dan menutup matanya, disampingnya juga Jeanne sedang berdiri dan menatap serangan itu tanpa perasaan takut.
"Kau seharusnya dibelakang saja, Ruler." Ujar Naruto yang masih menutup matanya.
Menatap kesamping, Jeanne tersenyum lembut. "Dan membiarkanmu menahan serangan itu sendirian? Sepertinya tidak, Assassin. Sudah tugasku sebagai Ruler untuk melindungi servant yang lain."
Tersenyum tipis. "Sepertinya kau sudah membuat keputusan, Ruler."
"Tentu saja."
Melihat kedua servant didepan mereka, tak ayal membuat Gilgamesh tertawa dengan keras. Ia mengarahkan tangan kanannya kedepan, lebih tepatnya kearah Naruto dan Jeanne. "Lakukanlah, Assassin, Ruler! Dengan otoritasku sebagai raja, aku perintahkan untuk menghentikan serangan dari makhluk menjijikan tersebut!!" Pintanya dengan suara yang berwibawa.
Suara tombak yang diangkat dan bendera yang berkibar, Jeanne memutar tombaknya dengan kedua tangan beberapa kali, ia memutuskan untuk menggunakan Noble Phantasm miliknya. "O My Flag, Protect My Friend!"
Membuka kedua matanya, Naruto mengeluarkan aura merah gelap seperti darah. Mata Kaminogan miliknya terlihat menyala terang karena banyaknya chakra yang ia keluarkan kali ini untuk mengeluarkan salah satu teknik matanya.
Aura merah darah dan sinar kuning yang menyala terang mulai membesar, Jeanne membuka matanya dan menatap serius serangan Trihexa. Begitu juga dengan Naruto yang dimana aura tersebut semakin membesar.
"Lumonusite Eternelle! "
"Kamimusubi!"
Sosok samurai setinggi 10 meter yang dimana hanya setengah tubuh saja, muncul melindungi para servant. Sosok samurai tersebut menggerakkan kedua tangannya seperti melindungi apa yang ada didalam tubuhnya. Beberapa detik kemudian serangan Trihexa mengenai sebuah pelindung berwarna kuning terang yang berada didepan sosok tersebut. Jeanne menggertakkan giginya dengan sangat kuat untuk menahan getaran dikedua tangannya akibat serangan Trihexa.
Serangan dari Trihexa memang sangat mengerikan, hal tersebut bisa dilihat dari tanah yang berada dibelakang sosok tersebut hancur sejauh mata memandang. Bahkan sosok samurai setengah tubuh tersebut juga retak dibagian sana-sini akibat tekanan dari serangan Trihexa. Baik Naruto dan Jeanne sama-sama berjuang untuk mempertahankan pelindung yang mereka miliki.
Dibelakang Naruto dan Jeanne juga sudah tercipta sebuah dinding es setebal 60 cm ciptaan Anastasia dan dilapisi oleh sihir penguat milik merlin. Aliran darah mulai mengalir dari sudut mata kanan Naruto dan Jeanne melihat hal tersebut.
"Abaikan saja, Ruler!" Jeanne tersentak mendengarnya. "Fokuslah untuk mempertahankan Noble Phantams-mu. Semuanya akan langsung musnah jika Noble Phantams-mu menghilang!!"
Jeanne menatap ragu-ragu wajah Naruto yang mengeras menahan sakit, ia sedikit menggeleng dan fokus pada Noble Phantams-nya. Disisi Naruto sendiri menahan sakit dikedua matanya karena menggunakan Kaminogan untuk menahan tekanan kekuatan sebesar ini. Terakhir ia merasakannya ketika menahan bijuudama kedua milik Juubi setelah yang pertama gagal karena dipindahkan oleh Minato, selaku pamannya.
'Tekanan serangannya setara dengan bijuudama milik Juubi.' Batin Naruto.
Beberapa menit kemudian berlalu, daerah tempat para servant sudah hancur akibat kuatnya serangan milik Trihexa. Noble Phantams Jeanne telah menghilang sehingga memperlihatkan kalau sosok samurai tersebut telah hancur dibeberapa bagian. Sepertinya serangan Trihexa berhasil menembus dan mengancurkan beberapa bagian sosok samurai tersebut.
Sosok samurai menghilang sehingga membuat semua servant bisa melihat betapa dasyatnya serangan tersebut. Memuncratkan darah dari dalam mulutnya dan berlutut, berhasil membuat semua servant melihat kearah Naruto. Darah segar mengalir lewat mulutnya dan ujung matanya. Dengan sigap Jeanne yang kelelahan dan Merlin menggunakan sihir penyembuh. Meski menatap jauh kearah pertarungan kedepan, rupanya Gilgamesh masih peduli dengan servant assassin yang telah menyalahi kodrat class Assassin. Ia mendengar suara langkah kaki disampingnya yang rupanya milik Karna.
"Apa yang kau lihat didepan sana, lancer?" Tanya Gilgamesh.
"Trihexa yang sedang dipasak oleh sepuluh pilar cahaya." Jawabnya dengan tenang.
Gilgameesh mengangguk. "Benar, itu berarti Kami-sama telah memenangkan pertarungannya dan mengalahkan makhluk menjijikan tersebut."
Servant yang lain berjalan mendekat kearah Gilgamesh dan Karna, Jack yang digendong oleh Raikou dan Naruto yang sedang ditopang oleh Arthuria. Entah kenapa kali ini Arthuria terlihat perhatian pada Naruto karena repot-repot untuk menopangnya.
"Tekanan dari pertempuran Trihexa dan Kami-sama sudah menghilang."
"Apa sudah selesai?"
" Kami-sama sudah menangkan, Archer?" Tanya Raikou yang dijawwab anggukan pelan oleh Gilgamesh.
Tubuh mereka semua mulai bersinar dan sekejap menghilang menjadi butiran cahaya, bukan pertanda kalau para servant menghilang. Melainkan mereka semua dipanggil oleh Master mereka semua, yaitu Kami-sama.
xxxxXXXXXxxxx
Pertarungan melawan Trihexa telah usai karena Kami-sama menyegelnya ditempat yang tidak diketahui dan hanya waktu saja yang memutuskan kapan Trihexa akan kembali lagi. Namun ada akibat dari menyegel Trihexa menggunakan segel terkuat dan mengembalikan semua yang ada dibumi menjadi seperti semula, yaitu keberadaan Kami-sama yang mulai menghilang. Semua tenshi maupun da-tenshi terlihat sedih dan melihat kearah Kami-sama yang berada dipangkuan Gabriel. Sedangkan disisi akuma sendiri hanya biasa-biasa saja dan beberapa ada yang tampak senang.
Butiran-butiran cahaya mulai terlihat dan berkumpul membentuk 14 wujud orang yang dimana tidak lain adalah servant. Kondisi dari para servant sendiri tidak menunjukan kelelahan ataupun terluka, hanya pakain saja yang kotor akibat pertempuran yang terjadi.
Salah satu datenshi yang mengetahui tentang servant dari salah satu tenshi, menggeram marah dan mencengkram bahu Karna yang lebih dekat. "Kurang ajar kalian!! Kalau kalian ada pelayan ayah, dimana kalian selama ayah ayah melawan makhluk terkutuk itu, hah!? Keberadaan kalian justru membuat ayah Kekurangan kekuatannya hanya untuk memanggil manusia tidak becus seperti kalian!!"
"Justin, sudahlah..."
"Tenanglah, Justin."
"Justin anakku, tenangkan amarahmu."
Namun Justin tidak memperhatikan. "Jangan menghentikanku, saudaraku, ayah. Mereka harus diberikan pelajaran karena membuat ayah seperti ini!"
Karna tidak bergeming sama sekali dengan tangan kanan Justin yang mulai bercahaya dan membakar bahunya. Sedikit melepaskan kekuatannya, Justin sedikit berteriak kesakitan akibat api yang membakar telapak tangannya. Kemudian Ushiwakamaru menendang Justin untuk menjauh karena menghalangi jalan mereka kearah Kami-sama.
"Pertanyaan itu justru berlaku untukmu, Tuan Da-tenshi." Ucap Karna. "Selama Kami-sama bertarung melawan Trihexa, kau berada dimana? Seharusnya kau bersamanya karenea kami terlalu jauh dari posisi Kami-sama karena memancing sekumpulan wyvern supaya kalian semua tidak kesusahan membantu Kami-sama."
Justin menggeram marah dan melepaskan tangan sesama da-tenshi dan berniat untuk menyerang, namun dihentikan oleh pedang suci milik Michael. Justin terlihat tidak senang akan hal itu.
"Apa maksudmu, Michael? Apa kau berniat bertarung melawanku?!"
"Tenangkan dirimu, Justin." Suara Michael terdengar rendah. "Sebelum aku harus menghabisimu"
Merinding karena mendengar suara Michael yang seperti itu, Justin memilih untuk menurut. Terakhir ia mendengar suara Michael yang seperti itu saat memarahi Lucifer karena tidak mau bersujud kepada Adam. Kami-sama terlihat sedih dengan perkelahian anak-anaknya dan menoleh kearah para servant yang sedang membungkuk kepadanya.
"Kalian para servant, terima kasih karena telah membantuku untuk menghentikan peperangan ini. Kalian sudah mengerjakan tugas dengan tepat." Semua servant mendengarkan. "Apakah kalian mau menerima perintahku untuk terakhir kalinya?"
"Apa saja yang engkau perintahkan, akan kami laksanakan, Kami-sama. Sebab engkaulah yang memanggil kami dan engkaulah master kami." Jawab Arthuria dengan suara tegas dan diikuti oleh anggukan yang lain.
Kami-sama tersentum teduh, ia mengangkat tangan kanannya yang dimana terdapat dua sigil yang dimana para servant tahu kalau itu adalah command seal. "Aku perintahkan dengan command seal pertama , kalian para servant tetaplah berada didunia ini meski aku menghilang hingga tugas kalian telah kuanggap selesai." Sinar emas menyelimuti para servant yang sedang menutup mata. "Aku perintahkan dengan command seal kedua, tugas terakhir kalian adalah melindungi umat manusia dari semua ancaman dan kalian tidak akan menerima perintah dari siapapun."
Sigil kedua pun ikut menghilang dan seluruh tubuh servant diselimuti cahaya kuning lembut untuk kedua kalinya. Kondisi para servant kembali segar bugar dan menatap lurus kearah Kami-sama. "Akan kami laksanakan perintahmu, Master."
Kami-sama tersenyum mengangguk dan melihat kepada seluruh anak-anaknya dan menghilang menjadi kilauan emas yang terurai keudara. Para tenshi menangis dengan keras kehilangan ayah mereka semua, begitu juga dengan fraksi da-tenshi. Para servant masih tetap membungkuk sampai beberapa menit, sebelum Gilgamesh berdiri dan diikuti oleh yang lain.
Servant yang bergelar Eiyuu Ou menoleh kearah Michael yang sudah tidak menangis namun masih terlihat sedih. "Hey merpati putih, sekarang ini adalah perpisahan kami dengan makhluk seperti kalian. Jika ingin datang kepada kami dengan niat baik, maka akan kami layani kalian dengan benar. Namun jika datang dengan niat buruk..." tatapannya Gilgamesh menjadi datar. "Bersiaplah untuk musnah."
Para tenshi tahu betul kekuatan para servant dan hanya mengangguk mendengarnya. Disisi da-tenshi yang mudah terpancing emosi dan tidak menyukai keberadaan para servant, terlihat mulai marah. "Beraninya manusia ren-"
Sebelum menyelesaikan perkataannya, da-tenshi tersebut terdiam ketika sebuah kunai sudah tertodong ditenggorokannya. Pelaku dari penodongan itu adalah Naruto yang menatap datar datenshi itu.
Gilgamesh menatap rendah da-tenshi tersebut dan menatap Michael kembali. "Berbahagialah karena sebagai raja yang agung, aku menaruh hormat padamu. Seperti beberapa servant yang telah mendapatkan rasa hormat dariku." Gilgamesh menoleh kearah servant lain. "Ayo kita pergi dari sini."
Semua servant mengangguk dan mulai menghilang menjadi butiran cahaya yang terurai. Meninggalkan wilayah Underworld yang telah menjadi medan peperangan.
--At Unknown Place—
Disebuah tempat antah berantah yang berada dipinggir tebing dan menatap kearah lauat lepas,muncul beberapa butiran cahaya yang membentuk 14 wujud manusia yang merupakan servant. Mereka semua menatap kearah matahari yang sedang terbenam tersebut.
"Apa kita akan berpisah?" suara Nero memecah keheningan.
Pertanyaan dari Nero membuat beberapa memikirkannya sedangkan sisanya justru bingung dengan perkataan tersebut.
"Berpisah? Kenapa harus berpisah, saber?" Tanya Atalante.
Nero terlihat memikirkan jawaban dari pertanyaannya. "Mm, bukannya untuk melakukan perintah terakhir dari Kami-sama itu bisa dilakukan dengan mudah jika berpencar daripada selalu bersama."
Memukul telapak tangan kirinya, Merlin setuju dengan yang dikatakan oleh Nero. "Betul juga yang dikatakan oleh saber, dengan kita berpisah maka akan lebih mudah menjalankan perintah terakhir Kami-sama."
"Kalau begitu, semuanya sepakat untuk berpisah, bukan?" Ujar Arthuria mulai bertanya akan pilihan tersebut.
"Ada benarnya juga."
"Ide yang tidak begitu buruk."
"Saya setuju dengan usulan nona saber."
"aku ikut kaa-san!"
Arthuria terlihat puas ketika semuanya memilih untuk setuju. Ia pun menoleh kearah Merlin yang sedang berbincang dengan Anastasia. "Caster." Arthuria lebih memilih memanggil classnya.
""Iya?""
Jawaban dari keduanya seketika membuat suasana menjadi hening. Naruto terkekeh sedikit sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Pertama kita harus memikirkan cara untuk membedakan panggilan kita semua, supaya jika ketemu lain waktu kita tidak akan bingung. Apalagi ketika sedang berkumpul."
Usulan dari Naruto membuat yang lain ikuut memikirkannya, bahkan Gilgamesh juga ikut setuju dengan ide tersebut. Setelah beberapa saat kemudian, semuanya pun setuju untuk membagi class menjadi dua fraksi, kecuali class Berserker dan Ruler yang hanya berjumlah satu orang.
Dari fraksi hitam sendiri adalah Arthuria ( Saber), Atalante ( Archer), Scathatch ( Lancer), Merlin ( Caster), Ushiwakamaru ( Rider), dan Naruto ( Assassin).
Sedangkan dari fraksi merah adalah Nero ( Saber), Gilgamesh ( Archer), Karna ( Lancer), Anastasia ( Caster), Quetzalcoatl ( Rider), dan Jack The Ripper ( Assassin).
Sisanya yaitu Jeanne ( Ruler) dan Raikou ( Berserker).
Setelah merundingkan hal tersebut, semuanya mulai berpamitan dan menghilang untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Kami-sama. Semuanya menghilang satu persatu hingga menyisakan Naruto dan Jeanne. Kesunyian menghampiri mereka berdua yang sedang menikmati pemandangan matahari yang sedang terbenam.
"Apa yang ingin kau tanyakan, Jeanne?" Ucap Naruto dengan memanggil nama asli dari Ruler karena hanya mereka berdua saja yang beradan disitu. "Aku tahu kalau ada yang mengganggu pikiranmu sejak awal kita sampai di Underworld. Apa yang ingin kau tahu?" Naruto menoleh.
Jeanne diam beberapa saat sebelum melihat kearah Naruto dengan raut wajah serius. "Assassin, Uzumaki Naruto, siapakah dirimu yang sebenarnya?"
Naruto terdiam mendengarnya dan merenung sesaat, senyum kecil muncul diwajahnya. Ia berbalik menatap Jeanne yang menunggu jawaban, hanya untuk mengetuk dahi Jeanne dengan dua jari yang membuatnya terpekik kaget.
"Untuk apa itu!?" Rengut Jeanne sambil memegang dahinya.
"Itu tugasmu sebagai Ruler untuk mengetahui hal tersebut. Karena kau lah yang memegang command seal untuk kami semua." Senyum lebar muncul diwajahnya. "Kalau begitu, kita berpisah disini. Sampai jumpa lagi, Ruler."
Menghilang meninggalkan kilatan petir berwarna merah, meninggalkan Jeanne yang sendirian. Jeanne menggosok pelan dahinya sambil sedikit cemberut sebelum melihat matahari yang sudah terbenam dengan sempurna.
"Sampai jumpa lagi dilain waktu, para pahlawan yang terhormat." Ujar Jeanne dengan pelan.
.
.
.
Great War
Perang yang sangat dashyat antara ketiga fraksi yang menewaskan ribuan manusia.
Peperangan yang membuat pemimpin dari setiap fraksi tewas.
Saat peperangan itulah muncul 14 sosok yang bertujuan untuk menghentikannya.
Memiliki kekuatan yang mengerikan dan mampu membunuh sebagian pasukan dari kedua fraksi.
Setelah peperangan berakhir, ke-14 sosok tersebut menghilang bagaikan ditelan bumi.
Tidak ada yang mengetahui kemana mereka menghilang.
Namun banyak yang berasumsi kalau ke-14 sosok tersebut sedang melindungi umat manusia.
Mereka yang hadir pada perang tersebut berpendapat kalau ke-14 sosok tersebut akan muncul kembali.
.
.
.
--To Be Continued—
.
.
.
Note: Sorry kalau baru muncul kembali kedalam cerita yang ini, sedangkan cerita A New Dimension muncul saat bulan Maret kemarin. Rentang waktu sekitar 2 tahunan ndak pernah muncul. Saya sungguh minta maaf!!!
Butuh waktu yang lama untuk mengumpulkan niat menulis karena 2x kehilangan file dan 1x alurnya tidak nyambung, hiks~
Mungkin dengan chapter 5 ( chapter 4, soalnya yang pertama itu Prolog) yang merupakan akhir dari Arc Great War, menambah niat gw untuk lebih rajin menulis. See You Later~~
Kamimusubi: Teknik mata Kaminogan yang bisa memunculkan sosok raksasa samurai setinggi 20 meter yang memiliki kekerasan seperti susano'o.
--Selasa, 02 Agustus 2022—
--Pukul 21.05--
