"Seperti biasa. Tunggu di luar, jangan keluyuran," ujar Kolonel Pyrapi selagi putranya menempatkan tubuhnya bersimpuh di atas tikar anyaman di lantai.

"Siap, Ayah. Aku hanya akan pergi ke pawon." Muhammad Nova Al-Hafiz nyengir lebar.

"Pawon? Dapur, yang kemarin?" ulang Pyrapi sambil mengawasi kalau-kalau Sultan Balakung sudah sampai ke ruang tamu itu.

"Iya, Ayah. Kudapan mereka enak sekali! Aku mau tahu cara membuatnya, supaya bisa kubuat sendiri di rumah!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BoBoiBoy (c) Monsta

Geef Mij Maar Serabi Solo (c) Roux Marlet

Penulis tidak mendapat keuntungan material apa pun dari cerita ini.

.

.

.

Catatan Penulis #1:

Kalau bab pertama banyak berfokus pada Ais, kali ini gilirannya Nova, nama tahap tiga dari elemental api. Karena BoBoiBoy Nova belum pernah debut secara Canon, anggap saja karakternya mirip Blaze, ya XD

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Mas Novaaaaa!"

Seringai Nova makin lebar ketika mendengar namanya dipanggil. Dia memang sedang melangkah menuju bangunan segilima yang adalah dapur itu, melintasi beringin kembar yang jadi sumber huru-hara Ais tempo hari. Di teras dapur, terlihat sosok Ais yang berdiri dan melambaikan tangan ke arahnya, dan ada satu sosok lagi di sebelahnya, sedang duduk dan mengamatinya.

"Eh?" gumam Nova keheranan. Dia tak perlu menyipitkan mata untuk memastikan bahwa sosok yang duduk di sebelah Ais punya wajah serupa. Kalau Ais memakai luaran kain lurik berwarna biru, kembarannya warna hijau.

"Kau tidak bilang kau dengan adikmu itu kembar!" seru Nova setelah cukup dekat.

"Ah, iya? Aku lupa," balas Ais sambil garuk kepala.

Si kembaran berbaju hijau tersenyum gugup ke arah Nova, yang segera mengulurkan tangan, masih sambil nyengir lebar.

"Namaku Nova!"

Adik kembar Ais itu masih menatap sang tamu nyaris tanpa berkedip, mulutnya terbuka sedikit. Tangan itu tidak disambut.

"Eh ...? Apa aku salah bicara?" Nova mengerling ke arah Ais, yang mendekati adiknya dan mengusap kepalanya perlahan.

"Duri, ayo, salaman dulu," ujar Ais lembut.

Si adik yang dipanggil Duri itu tersentak sedikit dan mengerjap, lalu mengangkat tangan kanannya dan membalas salam Nova.

"A-aku Du-duri."

Nova mengguncang tangannya. "Salam kenal, Duri!"

Duri berkedip-kedip sebentar dengan paras bingung. Tak lama, dia tersenyum kecil. Ais tampak lega.

"Mas Nova aman," ujar Ais sambil menarik Duri bangkit dari duduknya. Kedua anak kembar itu bertukar pandangan dan senyuman penuh arti.

"Aman?" Nova mengernyit tak paham.

Ais menjelaskan singkat, "Menurutku, Duri bisa lihat sesuatu yang tidak kelihatan."

Bulu kuduk Nova merinding mendengarnya, tapi Duri sudah menggandeng tangannya sambil tersenyum manis. Sorot matanya kini berubah lembut dan penuh kasih sayang.

"Duri menyukaimu," imbuh Ais yang mengajak keduanya untuk masuk ke dapur. Nova tak tahan untuk tidak membelai-belai kepala kembaran Ais itu, sambil menahan rasa haru yang tiba-tiba muncul karena baru menyadari kelainan apa yang dihadapi adik Ais.

"Koh Qua Li ... Koh Qua Li!" Ais memanggil-manggil.

"Koh Kuali ...?" Rasanya tak habis-habis rasa heran Nova hari ini.

Seorang lelaki gempal bermuka bundar muncul dari balik kuali raksasa dengan api menyala.

"Halo," sapa lelaki itu, senyumnya agak tersembunyi di antara pipi tembam yang berminyak, tapi raut mukanya ramah. Rambutnya tipis, berkucir panjang di belakang punggung.

"Koh Qua Li masak apa?" tanya Ais, berusaha berjinjit untuk menengok isi kuali itu.

"Awas, panas," ujar Qua Li sambil meraih tubuh Ais menjauh dari api. "Ini sayur lodeh! Raden Mas mau lihat?"

Nova menghirup napas dalam-dalam. "Mmm, baunya sedap!"

Duri juga mengendus-endus dengan tertarik.

Qua Li menarik sebuah undakan kayu mendekat dan Ais memanjat ke atasnya. Duri ikut memanjat dibantu sang juru masak. Nova cukup melongok saja karena badannya memang tinggi.

"Aku baru akan membumbuinya!" seru Qua Li dengan mata berbinar.

"Heh? Sudah sedap begini ternyata masih belum dibumbui?" seloroh Nova keheranan. "Apa saja bumbunya, Koh?"

"Garam, gula merah, ketumbar, kencur, terasi ..." Sambil berkata begitu, satu per satu bumbu yang dimaksud segera masuk ke dalam kuali, ditakar cepat dan dilempar oleh sepasang tangan Qua Li yang cekatan.

Nova dan Ais tampak serius mengamati setiap tahap yang disajikan Qua Li, sementara Duri sesekali bergerak gelisah. Di bagian lain di dapur itu ada abdi dalem yang sedang mengolah daging. Bau darah yang amis membuat Duri mual. Air matanya merebak tiba-tiba seiring munculnya dorongan dari dalam perut ke arah atas.

"Eh? Duri?" Nova mendapati perubahan ekspresi Duri.

Yang dipanggil menutup hidungnya dengan tangan. "B-bau ..."

Ais menoleh cemas. "Duri tak tahan baunya?"

"Um …." Duri hanya bergumam tak jelas, menahan muntah dan tangis. Kemudian, Ais pergi sebentar mengantar Duri keluar menuju teras.

"Yang di sebelah situ masak apa?" Nova bertanya kepada Qua Li yang sibuk mengaduk sayur, menunjuk ke onggokan daging dan darah yang membuat Duri mual beberapa meter di samping mereka.

"Glendhoh," jawab yang ditanya.

"Apa itu?"

"Daging burung dara muda."

Nova melongo sedikit. "Bahannya piyik?"

"Ya, kesukaan Tuanku Sultan Balakung. Mau lihat cara buatnya? Sini, bantu aku memindahkan kuali ini dulu."

Yah, Nova malah diberdayakan sebagai tukang angkut-angkut. Tak masalah, memang badannya besar dan lengannya kuat. Lagipula, dia memang berniat menimba ilmu memasak dari si juru masak!

Nova tumbuh besar tanpa sosok seorang ibu, yang meninggal saat melahirkannya. Dia dan ayahnya masih tinggal di barak tentara sampai umur Nova sekitar sepuluh tahun, lalu sang ayah dipensiunkan. Kedua lelaki ini sama-sama belajar memasak untuk kebutuhan sehari-hari, karena mereka tak mampu membayar juru masak dan jauh lebih hemat daripada membeli masakan jadi. Saat ini, umur Nova enam belas tahun sedangkan Pyrapi empat puluh satu tahun.

"Ini tadinya daging burung dara muda yang utuh … isi perutnya dikeluarkan, lalu diisi daging cincang yang diberi bumbu … nah, ini dia: bawang merah, bawang putih, ketumbar, rempah daun. Perutnya nanti dijahit menjadi utuh kembali. Ini yang disebut dengan glendhoh."

Rupanya tak hanya darah yang membuat Duri mual, tapi juga isi perut burung! Namun, melihat betapa mewahnya dan rumitnya pembuatan masakan itu, Nova jadi terkagum-kagum. Santapan sultan memang beda!

"Setelah itu, diapakan?" Nova bertanya.

Qua Li bergerak gesit ke bagian lain dapur, menunjuk bahan-bahan dan peralatan yang belum digunakan. "Nanti glendhoh dibungkus dengan daun, kemudian dikukus sampai cukup masak, ditusuk seperti sate, dibakar, dan terakhir diguyur santan kental yang sudah dimasak."

"Siap dimakan?" Liur Nova mulai terbit di dalam mulutnya membayangkan betapa sedap dan gurihnya masakan itu.

"Ya! Glendhoh akan disajikan di atas piring ceper untuk makan siang Tuanku."

Saat Qua Li selesai menjelaskan tentang glendhoh kepada Nova, Ais kembali ke dapur itu.

"Bagaimana Duri?" Nova bertanya pelan-pelan ketika melihat murung di wajah yang lebih muda.

"Dia mau di luar saja, udaranya segar," sahut Ais. "Aku tak bisa lama-lama juga. Setelah ini, ada pelajaran bahasa Belanda."

"Wow, bahasa Belanda!" gumam Nova, tertarik. "Aku tahu sedikit bahasa Belanda dari Ayah. Kapan-kapan, aku akan mengetesmu! Bersiaplah!"

"Eeeh?" Ais terperanjat, terlihat takut karena tak percaya diri pada pelajarannya.

Nova terkekeh. "Bercanda. Tapi, tiap kali aku ke sini, aku ingin dengar Ais bicara bahasa Belanda. Kau bisa?"

Qua Li tiba-tiba ikut terkekeh. "Raden Mas Ais bicara dalam bahasa Belandanya tentang makanan saja. Pasti senang."

Cucu sang sultan berbinar riang. "Ide bagus! Terima kasih, Koh Qua Li!"

"Koh Kuali! Aku boleh main ke dapur tiap kali berkunjung dengan ayahku, ya?" pinta Nova antusias. "Kami ke sini sebulan sekali. Aku mau belajar memasak darimu!"

Senyum terkembang di wajah sang juru masak. "Haiyaa. Ayo, kita bersenang-senang!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pada bulan berikutnya, Nova lebih dahulu tiba di depan dapur setelah mengantar ayahnya ke ruang tamu sultan. Ais maupun Duri belum tampak. Dia menjenguk ke dalam dapur dari jendela yang terbuka.

"Koh Kuali!" panggil Nova ketika melihat seseorang yang dikenal.

Si juru masak mendongak dari kesibukannya mencincang daging. "Selamat siang," sapanya sambil tersenyum ramah. "Raden Mas masih ada pelajaran di dekat beringin."

"Pohon beringin?" ulang Nova keheranan.

"Mau lihat-lihat dulu?" Qua Li mengelap tangannya dengan kain, lalu beranjak ke arah pintu dan membukakannya bagi sang tamu.

"Koh Kuali masak apa hari ini?" tanya Nova sembari menghirup dalam-dalam aroma masakan yang menyerbu hidungnya. "Pakai santan lagi?" tebak si remaja lelaki.

"Benar! Ini masakan dendeng age."

"Daging sapi, ya?" Nova mendekat dengan tertarik. "Boleh kucoba membuatnya?"

Mendadak, semua sikap ramah Qua Li lenyap seketika. "Tidak, tidak bisa. Santapan untuk Tuanku, hanya aku dan abdi dalem pilihan yang boleh mengolahnya."

Nova agak terkejut dan merasa tidak paham. "Oh. Apa Koh Qua Li juga abdi dalem?"

Yang ditanya tak segera merespon dan malah balik badan. "Kalau mau membantu, kau peras saja jeruk nipis di atas sini."

"Buat apa jeruk nipis diperas ke sini?" Nova membungkuk dan mengamati talenan kayu bekas mencacah daging barusan, benda yang ditunjuk Qua Li.

"Kau lihat, minyaknya banyak dan menempel. Air jeruk nipis akan membuatnya lebih mudah dicuci."

"Waaah, begitu, ya!" seru Nova antusias, lalu meraih sebuah jeruk nipis. "Aku baru tahu!"

Senyum Qua Li kembali. "Nanti kita buat kudapan-kudapan saja untuk Raden Mas. Itu dia."

Nova mendongak ke arah jendela dan mendapati Ais tengah berjalan menuju dapur itu bersama seorang pria tinggi besar dengan rambut panjang dan janggut lebat. Barangkali itu ayah Ais, putra pertama Sultan Balakung. Nova belum ingat siapa namanya meski ayahnya sendiri pernah menyebutnya.

"Mas Nova!" seru Ais ceria ketika melihat wajah Nova di balik jendela, lalu berjalan cepat sambil melompat-lompat dengan hati-hati karena memakai bawahan kain jarik. Yang dipanggil balas nyengir dan melambaikan tangannya yang memegang jeruk nipis yang sudah diperas setengah jalan, membuat airnya terciprat ke mana-mana.

"Nova! Hati-hati! Kotor!" omel Qua Li.

"Ehe, maaf, Koh."

Nova buru-buru meletakkan jeruk nipisnya ke tempat semula lalu keluar dari dapur sementara Qua Li geleng-geleng kepala.

"Halo, Ais! Bagaimana pelajaranmu?" sapa Nova dengan cengiran khasnya.

"Ukh. Mas Nova, kenapa harus tanya itu di depan Ayah?" keluh Ais sambil mengayun-ayunkan tangannya yang digandeng sang ayah.

"Ayah tadi bilang apa, Ais?" pancing pria besar itu sambil berjongkok.

"Belajar yang rajin, supaya kelak bisa belajar menjadi kesatria," ucap si anak berumur tujuh tahun. "Kenapa harus tunggu sepuluh tahun lagi untukku belajar jemparingan?"

"Kau tadi lihat sendiri, busur dan panahnya besar-besar. Mana kuat kau yang kecil begini mengangkatnya?" Pria itu terbahak keras sambil mengacak rambut putranya. "Kau anak pintar. Pasti bisa."

"Jemparingan? Panahan maksudnya?" celetuk Nova tertarik.

"Benar. Olahraga khas Kerajaan Mataram. Dilakukan bukan dengan berdiri, tapi sambil duduk bersila," balas ayah Ais. "Busurnya juga dipegang mendatar di depan perut. Bidikan berdasarkan perasaan, bukan penglihatan."

"Wow, sepertinya sulit," komentar Nova, lalu cepat-cepat menambahkan, "tapi kedengarannya seru!"

"Ais, apa tadi empat nilai yang kusebut untuk membentuk watak kesatria?" Sang ayah mengetes.

Ais agak cemberut sambil mengingat-ingat, "Sawiji, greget, sengguh … ukh … apa lagi yang satunya …?"

Sawiji atau berkonsentrasi, greget atau semangat, sengguh alias percaya diri, dan, satu lagi ….

"Ora mingkuh atau bertanggung jawab," lanjut ayahnya. "Hapalkan lagi nanti, ya!"

"Hari ini, aku mau buat makanan untuk Duri," balas Ais, yang tampaknya tak suka membahas pelajaran dan masa depan. "Dia tadi bilang pengin makan gethuk goreng."

"Haaa!" celetuk Nova keras-keras. "Ayo, Ais, mana bahasa Belanda-mu?"

Ais terkejut karena ditantang terang-terangan, tapi ayahnya ikut tersenyum senang mendengar pertanyaan Nova. Anak itu berpikir-pikir sejenak, lalu berseloroh,

"Geef mij maar gethuk goreng!"

Itu adalah sebuah kalimat perintah atau permintaan: berikan aku gethuk goreng!

Nova mengangguk bersemangat lalu membungkuk takzim sambil menjawab, "Heel goed, zoals je wilt." Artinya: baiklah, sesuai yang Anda minta.

Ayah Ais bertepuk tangan senang. Dia menepuk-nepuk kepala Nova yang agak tersipu-sipu. Masalahnya, Nova belum ingat siapa nama pria ini!

"Pangeran Mawais," ucap Qua Li yang datang sambil membungkuk hormat. Nova mengangkat alis sekilas, mendapat jawaban dari pertanyaannya diam-diam. Nama ayah Ais adalah Mawais!

Putra sulung Sultan Balakung itu terkekeh. "Koh Qua Li. Kau kedatangan tamu-tamu."

"Aku mau buat gethuk goreng untuk Duri!" seru Ais pada si juru masak. "Ajari caranya, Koh Qua Li!"

"Ayo, Koh Kuali! Aku mau coba memasak gethuk goreng!" imbuh Nova sambil menggandeng tangan Ais.

"Ayo masuk dulu, kalian berdua," kekeh Qua Li, lalu menghardik Nova sekilas, "Awas, jangan bikin kotor lagi!"

Nova hanya tertawa salah tingkah sebelum membimbing Ais masuk ke dapur untuk mencuci tangan. Qua Li melongok-longok sejenak sebelum Mawais sadar siapa yang dicarinya.

"Duri tidak mau dekat-dekat dapur lagi," terang Mawais serius. Qua Li mengerutkan dahi.

"Maaf, Tuanku. Waktu itu, kami sedang membuat glendhoh. Baunya tajam."

"Tak mengapa. Dia sudah cukup senang diceritai oleh Ais tentang kesibukannya bersama Nova di dapur." Mawais mendesah lega. "Aku juga senang melihat Ais bisa begitu bersemangat untuk melakukan sesuatu ..."

"Ya, Tuanku …."

Sejenak, sang tuan dan juru masaknya bertukar pandang penuh arti. Suara Ais dan Nova memecah keheningan di teras.

"Koh Qua Li! Koh Qua Li!"

Mawais tersenyum. "Kau sudah ditunggu anak-anak itu, Koh."

Qua Li ikut tersenyum. "Mohon pamit, Tuanku."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Geef mij maar semar mendem!"

"Geef mij maar tahu petis!"

"Geef mij maar nagasari!"

Dalam beberapa bulan kemudian, frasa berbahasa Belanda: Geef mij maar … menjadi semacam pesan rahasia antara Ais dan Nova. Kalau Duri tidak meminta sesuatu yang khusus, biasanya Ais akan menyebutkan nama sembarang kudapan yang terlintas di pikirannya, yang pernah dibacanya di suatu tempat, lalu Nova akan mencoba membuat kudapan itu. Kadang-kadang, Nova akan minta bantuan Qua Li, tapi lebih sering dia praktik sendiri.

Ais bilang pada Nova untuk bersikap santai serta menganggap dapur itu seperti di rumah sendiri dan Nova betulan menghayatinya. Dia berkeliaran ke sana-sini di pawon ageng seolah itu dapurnya sendiri dan mengambil bahan-bahan makanan yang diperlukannya dengan bebas.

Sering kali, Qua Li akan memprotes perihal dapur yang jadi kotor atau bahan makanan yang berserakan karena diambil sembarangan, tapi Ais selalu memohon supaya dia dan Nova boleh tetap ke dapur. Banyak kompromi yang terjadi dan lambat laun Nova jadi lebih berhati-hati agar tidak ditendang keluar oleh si juru masak.

Ais selalu menikmati aktivitasnya di dapur itu. Dia yang awalnya hanya menonton Nova memasak, pelan-pelan ikut mencoba mengaduk adonan dan memakai penggorengan panas. Tentu saja Qua Li selalu mengawasi mereka berdua.

Kesenangan Ais bersama Nova sebulan sekali itu tidak berlangsung lama ketika, dalam tahun yang sama, sebuah kabar duka tersiar di lingkungan keraton.

Kolonel Pyrapi meninggal dunia. Sultan Balakung, Mawais, dan Ais turut hadir dalam pemakamannya. Beberapa kali setelahnya di bulan itu, Nova datang ke keraton di luar jadwal rutinnya dahulu untuk menemui Balakung dan Mawais, untuk membahas suksesi usaha tebu dan pabrik gula milik keraton yang dikelola almarhum sang ayah.

Nova tetap datang lagi pada hari Jumat yang pertama di bulan berikutnya. Dia tetap mengajak Ais pergi ke dapur, tapi dia menyiapkan bahan-bahan sendiri tanpa menunggu Ais minta dibuatkan sesuatu. Ais sendiri tampak ragu-ragu untuk mengucap pesan rahasia mereka yang biasanya.

"Aku punya kejutan untukmu, Ais," ujar Nova sambil mengeluarkan sebuah botol kaca dari tas bututnya, memaksakan sebuah cengiran. Dia baru saja menggoreng semacam telur dadar. "Pernah dengar teknik Flambe?"

Ais belum pernah mendengarnya dan dia menggeleng.

"Sini, kutunjukkan."

Nova sedang kacau. Jiwa dan raganya berantakan. Dia tidak benar-benar memikirkan konsekuensi tindakannya yang ngawur ketika menuangkan bir di tangannya ke atas penggorengan yang menyala.

"AWAS!"

Ada teriakan yang sangat keras dari Qua Li, kobaran api yang menyambar-nyambar, sebuah kotak es yang dilempar, disusul sebuncah ledakan, kemudian semuanya gelap.

Badan Nova terasa kebas, pikirannya seolah melayang sejenak dari bumi, sebelum terhantam kembali ke tanah ketika pemahaman yang menyakitkan itu datang.

Malam itu, di hadapan Sultan Balakung dan putra sulungnya, Mawais, Nova bersujud mohon ampun karena hampir saja menciptakan sebuah lagi upacara pemakaman di kalangan keraton, kali ini untuk cucu sultan, Raden Mas Jaiz Tirta Kalijaga.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

bersambung.

.

.

.

Catatan Penulis #2:

Ada yang jadi laper setelah baca bab ini? XD

Cerita ini rencananya dibuat 4 bab saja. Bab ketiga akan berfokus pada Duri (disertai pembahasan tentang pohon beringin dan hal mistis lainnya), sedangkan bab terakhir akan berfokus pada Qua Li (dengan pembahasan insiden Flambe dari bab ini plus penutup cerita). Sudut pandang cerita tetap sudut pandang orang ketiga, hanya saja ada titik berat pandangan berbeda dari tokoh yang disebut terhadap peristiwa yang sama. Nantikanlah kelanjutannya!

Kritik dan saran sangat diterima!

Terakhir, selamat hari raya Isra Mikraj bagi teman-teman yang merayakannya ^^

19.02.2023