Chapter 1

Pembalasan

.

.

Pemuda berjaket merah-hitam yang lekat dengan lambang petir merah itu melangkahkan kaki dengan santai. Tanpa beban, menyusuri trotoar yang saat ini sepi dari pejalan kaki. Begitu pula pengguna jalan lain, hanya tiga atau empat yang sejauh ini sempat melintas di dekatnya.

"Lin."

Remaja lima belas tahun itu menarik napas, lantas mengembuskannya perlahan. Tak lama lagi, ia akan memasuki area kompleks perumahan tempatnya tinggal.

"Lintar."

Ia membenarkan sedikit tas punggung yang disandangnya di pundak kiri. Kemudian berlanjut ke topi hitam-merahnya yang juga berlambang petir merah. Diturunkannya sedikit lidah topi itu, karena sejak berbelok di tikungan terakhir tadi, arah cahaya matahari menjelang senja ini lumayan membuatnya silau.

"HALILINTAR!"

Pemuda itu berdecak samar. Didengarnya langkah-langkah kecil mengejarnya dari belakang, lantas mencoba menyamai langkahnya yang sedikit kelewat cepat.

"Sejak tadi aku mengajakmu bicara, tahu! Denger nggak, sih?"

Suara gadis remaja yang lembut kini telah tepat terdengar dari sisi kanannya. Tak perlu menoleh, sang pemuda yang dipanggil Halilintar itu dapat membayangkan sosoknya dengan mudah. Gadis tetangga sebelahnya yang selalu berpakaian rapi, nyaris dibalut warna merah jambu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Termasuk kerudungnya yang selalu tampak modis, berkibar panjang.

"Iya, iya, aku dengar. Bawel."

Halilintar memutar bola matanya yang beriris cokelat madu. Gadis di sebelahnya menggeram singkat, dan Halilintar sudah maklum kalau setelah ini akan kena omel.

"Aku mengatakan ini karena peduli padamu, Lintar!"

Gadis itu menghentikan ucapannya tiba-tiba. Halilintar melirik dengan ekor matanya, lantas tersenyum samar ketika memergoki si gadis pink mengalihkan pandang dengan pipi merona tipis.

"Karena kita sudah berteman sejak kecil," sang gadis menambahkan. "Kamu tahu, lah."

"Aku tahu, Yaya," Halilintar menyahut kalem. "Makasih."

"Eh? Mm ... Ya, sama-sama."

Halilintar nyaris terkekeh pelan mendengar nada bicara teman masa kecilnya yang terdengar kaget dan ragu-ragu.

"Pokoknya!" gadis bernama Yaya itu melanjutkan. "Kamu jangan cari masalah lagi dengan siapa pun. Apalagi sampai berkelahi."

"Aku nggak akan berkelahi kalau nggak ada alasannya."

"Tapi ada banyak cara selain berkelahi, 'kan? Manusia punya budi bahasa, punya akal pikiran. Harusnya semua hal bisa dibicarakan—"

"Sayangnya," Halilintar memotong tiba-tiba, "nggak semua manusia bisa diajak bicara baik-baik."

Setelah berkata begitu, Halilintar mendadak berbelok di sebuah gang. Langkah Yaya terhenti, tetapi ia tidak menyusul sahabatnya.

"Lintar! Kamu mau ke mana?"

"Pulanglah duluan. Aku ada urusan."

.

.


KOKOTiME mempersembahkan:

"B.I.M. (BoBoiBoy In Multiverse)"

Ditulis oleh kurOrange (kolaborasi antara kurohimeNoir & Shaby-chan).

Disclaimer: "BoBoiBoy" dan segenap karakter di dalamnya adalah milik Monsta©. Tidak ada keuntungan material apa pun yang diambil dari fanfiksi ini.

Timeline: Setelah BoBoiBoy The Movie 2.

Canon-based. AR. Featuring elemental siblings.


.

.

Irama langkah Halilintar masih tenang dan teratur. Tidak lambat, tidak juga cepat. Ia seolah mengikuti detak jantungnya sendiri, berjalan santai dengan kedua tangan tersembunyi di saku jaket.

Sampai di sebuah pertigaan sepi, Halilintar kembali berbelok ke gang lain yang lebih sepi. Lebih sempit. Ia tahu, gang itu tidak mengarah ke mana-mana.

Buntu.

Namun, langkahnya tak pernah meragu.

"Keluar."

Halilintar berkata dengan suara rendah begitu dirinya berhenti tepat di tengah-tengah gang kecil itu. Tanpa berteriak, tetapi terdengar jelas sekaligus menekan.

"Aku tahu kalian membuntutiku sejak tadi."

Dari balik bangunan di dekat jalan masuk gang, seseorang melangkah keluar. Ia lantas berdiri di tengah-tengah, tepat ketika satu per satu teman-temannya ikut muncul dari persembunyian. Bersama-sama, mereka menutup jalan untuk keluar dari gang buntu itu.

Sementara, Halilintar masih berdiri membelakangi mereka dengan tenang. Ia memejamkan mata beberapa detik.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

"Huh! Hanya lima orang?"

Halilintar membuka matanya lagi. Ia pun berbalik perlahan, menghadapi para pemuda berandal yang sebaya atau sedikit lebih tua darinya. Memang benar, ada lima orang yang kini berdiri pongah sambil bersedekap, berkacak pinggang, atau membunyikan buku-buku jemari mereka yang tertaut. Seakan siap untuk berperang.

"Berani sekali kau mengganggu teman kami."

Pemuda yang berdiri di tengah, berkata dengan suara rendah mengancam. Dia berbaju serba hitam dan mengenakan topi rajut kelabu, tampak tenang, berdiri sambil bersedekap. Namun, tatapan matanya tampak begitu mengancam di balik semacam goggle berkaca hijau muda. Halilintar mendapat kesan, orang ini adalah pemimpin mereka.

"Hooo ..." Halilintar mendengkus, sama sekali tidak terlihat gentar. "Jadi ... bocah yang beraninya hanya memalak seorang wanita tua itu teman kalian?"

"Kau mau sok pahlawan, hah?!"

Yang barusan berseru penuh amarah adalah pemuda berbadan tambun yang berdiri tepat di samping kiri si Topi Rajut Kelabu tadi. Tampaknya dia tak sabar untuk maju menyerang, tetapi pemimpinnya menghalangi dengan merentangkan lengan kiri ke samping.

"Halilintar." Si Topi Rajut Kelabu mendadak maju, berjalan perlahan hingga berdiri berhadap-hadapan dengan Halilintar. "Ace klub pencak silat Akademi Pulau Rintis."

Halilintar masih bergeming, tatapannya menajam. Begitu pula pemuda yang kini hanya berjarak tiga langkah di depannya.

"Kalau kita bentrok di sini," pemuda itu melanjutkan, "entah siapa yang menang, pasti akan jatuh korban, bukan?"

Halilintar mendengkus terang-terangan. Masih tak mengatakan apa pun.

"Tentu saja, kau sangat mungkin menang, walau melawan kami berlima sekaligus. Tapi ..."

Kedua mata Halilintar membulat. Tak terduga, pemuda di hadapannya memulai serangan mendadak. Hanya sebuah tendangan memutar yang sangat cepat. Terlalu cepat! Padahal Halilintar sama sekali tak merasakan adanya niat bertarung. Untung baginya yang masih sempat memosisikan kedua lengan untuk menahan serangan.

Giliran si Topi Rajut Kelabu yang mendengkus, tipis dan sinis. Ia menarik kakinya kembali dengan cepat, lalu melompat mundur. Mengambil jarak selangkah. Tidak ada kuda-kuda serangan yang dibentuknya, tetapi Halilintar bisa merasakan pemuda itu telah siap untuk pertarungan.

"Memang pantas kau menyandang gelar juara antar sekolah di dua kejuaraan berturut-turut." Pemuda itu mengangkat tangannya sekilas, seperti memberi isyarat pada anak-anak buahnya. "Jangan ada yang ikut campur."

Halilintar tersentak kecil. Sebelumnya ia sudah hampir yakin, orang-orang ini akan main keroyok. Namun, ternyata dia salah.

"Aku Ezra," kata si Topi Rajut Kelabu. "Ingat baik-baik nama orang yang akan mengalahkanmu!"

.

xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx

.

Taufan namanya. Si penggemar warna biru yang piawai bermain skateboard. Sekarang pun, ia tengah melatih beberapa gerakan baru, di halaman rumahnya yang sebenarnya tak terlalu ideal untuk bermain skateboard. Kalau bukan Taufan, mungkin tidak akan bisa melakukan hal seperti itu.

Ah. Barusan ia nyaris terjatuh ketika mencoba melompat sambil memutar papan skateboard yang melaju dengan kecepatan sedang. Beruntung, keseimbangan tubuh Taufan yang luar biasa membuat kedua kakinya mampu mendarat di tanah tanpa cedera sedikit pun.

Walau baru saja gagal, pemuda itu tetap tersenyum. Satu ciri khas yang membuatnya tidak lantas ditakuti murid-murid satu sekolah walau punya wajah yang sama persis dengan Halilintar.

"Hei! Yaya!"

Barusan Taufan berseru spontan ketika melihat gadis tetangga sebelahnya melintas di depan pagar rumah. Cepat-cepat pemuda itu mendekat, sementara Yaya menghentikan langkah untuk melihat siapa yang memanggilnya.

"Oh, Taufan. Ada apa?"

Bukannya menjawab, Taufan malah celingak-celinguk di depan pagar.

"Kau sendirian?" tanyanya. "Mana Kak Hali?"

Alis Yaya terangkat. "Kenapa kamu tanya ke aku?"

"Lho? Bukannya kalian selalu pulang bareng?"

"Ap—Enggak! Kami cuma kebetulan aja sesekali ketemu sepulang kegiatan klub. Selain itu rumah kita kan searah."

Taufan tertawa kecil ketika melihat Yaya menunduk dengan pipi merona samar.

"Iya, iya, aku kan cuma nanya," sahut Taufan. "Soalnya waktu kucoba menghubungi Kak Hali, hapenya nggak aktif. Padahal katanya mau cepet pulang hari ini buat bantuin masak."

"Halilintar? Masak?"

Ekspresi kaget Yaya membuat tawa Taufan lolos sekali lagi.

"Kamu nggak tahu, ya? Kak Hali lumayan jago masak, lho. Walau nggak ada yang bisa menandingi rasa masakan Tok Aba atau Gempa, sih. Tapi paling enggak, masih lebih enak daripada masakanku."

Yaya menyuarakan huruf "o" panjang sambil mengangguk-angguk. Sedikit takjub dengan satu lagi fakta yang tak diketahuinya itu, walaupun mereka sudah bertetangga sejak kecil.

"Eh? Kalau begitu, kenapa nggak Tok Aba atau Gempa saja yang masak?" tanya Yaya kemudian.

"Tok Aba sedang pergi. Kalau Gempa, hari ini katanya pulang telat karena ada rapat OSIS." Taufan sedikit gemas dengan sahabat masa kecilnya yang sejak tadi terus mengangguk-angguk. "Jadi? Kak Hali mana?"

"Oh ... Tadi memang bareng aku, sih. Tapi katanya ada urusan sebentar."

Kening Taufan berkerut. "Urusan apa?"

"Mana kutahu?" Yaya mengangkat bahu. "Ya sudah, ya. Aku pulang dulu."

Setelah Yaya hilang dari pandangan, Taufan mencoba menelpon Halilintar sekali lagi lewat ponsel pintarnya. Masih tidak tersambung.

"Kak Hali ngapain, sih?" Taufan menggerutu. "Masa' aku harus masak sendiri?"

Walau bersungut-sungut, akhirnya Taufan cuma mengangkat bahu, lalu masuk ke dalam rumah.

.

xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx

.

"Selesaiii~"

Taufan tersenyum ceria sembari mematikan kompor. Sepanci besar sup beraroma menggoda selera, masih mengepulkan asap tipis di atasnya. Taufan menghirupnya dalam-dalam, lantas menutupnya kembali.

"Sepertinya masakanku sudah banyak kemajuan," ucapnya. "Walaupun aku harus memasak sendiri."

Pemuda itu melirik jam tangannya sejenak. Hampir pukul lima sore. Ia mengedarkan pandang sejenak, menyadari lumayan banyak peralatan bekas memasak yang harus dicucinya.

"Aku harus mencuci semua ini sendirian juga?"

Taufan terkekeh kering. Ia mengangkat bahu, kemudian mulai menggulung lengan baju.

"Kak Upaaan~"

Suara ceria dari ambang pintu dapur, membuat Taufan menoleh spontan. Ia tersenyum ketika melihat remaja bak pinang dibelah dua dengannya berjalan mendekat dengan mata besarnya yang berbinar-binar.

"Waaah ... Kak Upan udah selesai masaknya?" Remaja berbaju serba hijau itu membuka tutup panci sejenak, menghirup bau sup dengan antusias. "Kayaknya enak. Duri jadi laper~"

Taufan tertawa kecil. "Baru jam berapa ini? Nanti makannya, habis Maghrib. Sekarang Duri bantuin Kakak dulu ya, cuci alat-alat masak."

"Okeee~"

Sembari bersenandung kecil, Duri membantu Taufan membawa semua perabotan memasak yang kotor ke bak cuci piring. Sambil mencuci, keduanya pun bercakap-cakap.

"Kak Upan kok masak sendiri?"

"Iya. Kak Hali belum pulang juga, sih."

"Heee? Tapi tadi Duri lihat Kak Hali masuk ke kamar, kok."

"Hah? Kapan?"

Segala gerakan Taufan terhenti. Ia menoleh sejenak untuk menatap Duri yang masih sibuk mencuci sebuah mangkuk.

"Sekitar sejam yang lalu," Duri menjawab pertanyaan Taufan tanpa menoleh.

"Ish. Kalau memang udah pulang, kenapa nggak cepet ke sini bantuin aku?"

Taufan melanjutkan pekerjaannya mencuci wajan yang tadi dipakainya menggoreng ayam tepung.

"Kak Hali kelihatan capek banget tadi. Oh, ya ... Duri tadi liat, Kak Hali kayak kesakitan pas mau buka pintu pakai tangan kanan. Terus, dia ganti buka pintunya pakai tangan kiri."

Kening Taufan berkerut seketika. "Serius?"

"Hm-mm. Duri tanyain kan, Kak Hali kenapa. Tapi Kak Hali-nya nggak mau jawab, malah pelototin Duri. Terus Kak Hali bilang jangan ganggu, mau istirahat."

Taufan menghela napas samar. Tak perlu bertanya pun, rasanya ia bisa menebak apa yang terjadi.

"Ya udah, biar nanti Kakak yang lihat keadaan Kak Hali. Makasih ya, Duri udah mau bantuin Kakak cuci ini semua."

"Hehehe ... Sama-sama~"

.

xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx

.

Halilintar terbangun di kamarnya tepat ketika azan Maghrib berkumandang. Ia segera bangkit, lantas duduk sebentar di tepi kasur. Matanya menajam, sementara ia mencoba menggerak-gerakkan pergelangan tangan kanannya.

Masih terasa sakit, walau tidak separah sebelumnya.

Ingatannya sontak kembali kepada kejadian belum lama berselang, ketika ia bentrok dengan ketua geng berandalan yang menyebut diri mereka ARC. Ia dan pemuda bernama Ezra itu seimbang, dan pada akhirnya pertarungan itu terhenti karena mereka sama-sama terluka.

"Kalau kau masih saja ikut campur, kami pastikan kau akan menyesal!"

Ucapan terakhir Ezra sebelum pergi, entah mengapa terus mengganggu pikiran Halilintar. Dia sama sekali tidak takut jika memang harus berhadapan lagi dengan mereka berapa kali pun. Tapi ... bagaimana kalau mereka berbuat lebih dari itu? Bukan tidak mungkin, bocah-bocah berandalan itu akan mulai mengganggu orang-orang terdekatnya juga.

Jika mereka menginginkan pembalasan—

Halilintar menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Azan Maghrib mencapai lafal terakhirnya, menuntun pemuda itu untuk bangkit berdiri.

Sebelum melakukan hal lain, ia perlu mandi untuk menyegarkan diri dan pikirannya.

.

xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx

.

"Kak Haliii~kok tadi nggak bantuin aku masak, sih?"

Wajah cemberut Taufan menyambut kakak satu-satunya yang baru saja melangkahkan kaki di ruang makan. Halilintar berdecak, lantas menggumamkan kata "maaf" dengan suara tidak jelas. Ia pun duduk di samping Taufan, kemudian memandang berkeliling. Semua anggota keluarganya sudah siap bersantap bersama. Tok Aba, juga keenam adiknya—

Kening Halilintar berkerut menatap salah satu kursi yang kosong. "Mana Gempa?"

"Belum pulang." Taufan mengangkat bahu sambil mulai mengisi piringnya dengan nasi dan lauk-pauk. "Sejak tadi sudah kucoba menelponnya, tapi nggak nyambung."

Halilintar melirik jam dinding. Pukul enam lebih tujuh menit. Memang bukan hal aneh lagi bila Gempa pulang malam, walau beberapa kali kakek mereka menegurnya soal itu.

"Kegiatan OSIS lagi?" tanya Halilintar.

"Mungkin?" Taufan masih sibuk menyendok sayur ke piringnya. "Sebentar lagi kan ada acara pentas seni. Pasti OSIS lagi sibuk-sibuknya."

Halilintar menghela napas. Kekhawatirannya yang sudah mereda, menguat kembali tanpa permisi. Ia sungguh berharap, ucapan Taufan benar. Gempa memang sedang sibuk bersama para anggota OSIS yang lain.

"Lintar, Taufan," suara lembut Tok Aba menyentak Halilintar dari lamunannya. "Coba nanti kalian bicara pada Gempa, supaya dia jangan terlalu memaksakan diri."

"Atok kan tahu, Gempa keras kepala," sahut Taufan. "Nasihat Atok saja dia nggak mau dengar, apalagi kami."

Halilintar menyambung, "Nanti akan kucoba bicara padanya."

.

xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx

.

Tok tok.

Suara pintu kamar yang diketuk pelan dua kali, membuyarkan konsentrasi Halilintar yang sedang menenggelamkan diri di dalam gim dating simulation yang dimainkannya. Tanpa menghentikan permainan—bahkan ia tak bergerak sedikit pun dari posisi semula—Halilintar menyahut acuh tak acuh.

"Masuk saja, Taufan. Nggak dikunci."

Adik pertama Halilintar itu masuk dengan senyum tipis di wajah. Halilintar melirik sedikit dan langsung mengerutkan kening. Senyum itu tidak seperti biasanya. Ada ekspresi cemas yang coba disembunyikan. Namun, tentu saja, Halilintar bisa mengetahuinya hanya dalam sekali pandang.

"Ada masalah apa?"

Ucapan sang kakak yang tanpa basa-basi, mengejutkan Taufan sedikit.

"Tangan kananmu ... nggak apa-apa?" Taufan balik bertanya. "Tadi waktu makan malam, kulihat Kak Hali kayak menghindari mengangkat benda-benda yang agak berat pakai tangan kanan."

"Ck!" Halilintar tak mengalihkan perhatian dari permainan di perangkat gim portabel miliknya. "Cuma perasaanmu."

"Duri bilang, Kak Hali kayak kesakitan pas mau buka pintu pakai tangan kanan. Terus ganti buka pakai tangan kiri."

Halilintar mendengkus agak keras. Ia mengakhiri permainannya, lalu mematikan perangkat gim dan meletakkannya begitu saja di atas meja kecil, tepat di samping tempat tidur.

"Kau mau bilang apa sebenarnya?" Halilintar bangkit, lantas duduk di tepi ranjangnya. "Aku nggak akan berhenti menolong orang cuma gara-gara ini. Oke?"

Taufan hanya tersenyum. Ia pun ikut duduk di sebelah kakak satu-satunya.

"Sini, biar kuobati tanganmu. Di mana kotak P3K-nya?"

"Nggak usah. Sudah kulakukan sendiri."

Taufan mengangkat bahu. "Ya udah kalau gitu."

"Terus?" Halilintar menatap sang adik. "Kau ke sini bukan cuma mau ngomong itu, 'kan?"

Sorot mata Taufan meredup. Kecemasan yang tadi dilihat Halilintar, kini makin menjadi secara tiba-tiba.

"Gempa belum pulang, Kak."

Kedua mata Halilintar membulat. Refleks ia mengarahkan pandang ke jam dinding di atas meja belajarnya. Sudah hampir jam sembilan malam.

"Kenapa kau baru bilang?" protesnya kemudian.

"Maaf."

Halilintar menghela napas. Diambilnya ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas nakas. Menghubungi Gempa adalah hal pertama yang terlintas di benaknya.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar area. Silakan coba beberapa saat lagi."

Decak samar terdengar. Sekali lagi, Halilintar mengulang panggilan telepon ke nomor adiknya, tetapi hasilnya tetap sama.

"Aku sudah coba menelponnya berkali-kali," kata Taufan. "Aku juga sudah mengirim pesan singkat dan chat. Tapi nggak ada respons."

Setelah mencoba sekali lagi, Halilintar akhirnya menyerah. Ditatapnya Taufan lekat-lekat.

"Apa Gempa bilang sesuatu padamu sebelumnya?"

Taufan menggeleng. "Cuma bilang hari ini ada rapat OSIS."

"Sudah coba hubungi teman-temannya, atau anggota OSIS lain?"

"Itu dia, Kak. Kata anggota OSIS lain, mereka sudah pulang sekitar satu jam yang lalu."

"Apa?"

"Teman-teman kita juga nggak ada yang tahu di mana Gempa. Aku juga sudah minta tolong Solar untuk mencari info di medsos, tapi nggak ada petunjuk sama sekali."

Halilintar bangkit, lantas menghampiri jaket yang tersampir di dinding, tepat di samping lemari pakaiannya.

"Kakak mau ke mana?" tanya Taufan, sementara Halilintar memakai jaketnya dengan cepat.

"Mencari Gempa."

"Cari ke mana? Kita nggak ada petunjuk—"

"Ke mana saja! Kita nggak mungkin diam saja, 'kan!"

Taufan terdiam. Halilintar juga terdiam. Anak tertua di keluarganya itu pun memejamkan mata dua-tiga detik. Menarik dan mengembuskan napas perlahan.

"Kak, ini udah malam banget," Taufan berkata hati-hati. "Kita semua udah cemas mikirin Gempa. Tolong, jangan ditambahin lagi."

Halilintar bergeming.

"Kasihan Atok, Kak."

Halilintar menarik napas panjang, lalu duduk kembali di tempatnya semula.

"Oke," ia memutuskan. "Mumpung besok libur, kita semua akan pergi mencari Gempa."

"Iya."

.

xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx

.

Taufan berdiri berkacak pinggang di jalan setapak menuju Pantai Pulau Rintis. Tangan kanannya memegang ponsel yang didekatkan ke telinga, masih menunggu panggilan tersambung.

"Kak Hali?" anak muda itu berkata ketika akhirnya telepon diangkat. "Gimana? Udah dapet sesuatu?"

Terdengar desah resah dari seberang sambungan.

"Belum. Aku dan Ice masih bertanya ke orang-orang di perumahan."

"Solar juga katanya belum menemukan apa-apa." Taufan menghela napas pendek. "Aku, Blaze, dan Duri masih coba mencari di sekitar pantai. Tapi kayaknya di sini juga nggak ada."

"Ya sudah. Nanti kuhubungi lagi."

"Oke, Kak."

Sambungan telepon diputus, tepat ketika Duri datang berlari-lari kecil mendekat bersama Blaze. Rencana awal mereka seharusnya pergi mencari Gempa dengan berpasangan. Duri seharusnya pergi bersama Solar. Namun, karena Solar ingin pergi sendiri, akhirnya Duri ikut dengan kelompok Taufan dan Blaze.

"Nggak ada apa-apa di pantai, Kak," Duri melapor dengan wajah sedih.

Tepat seperti perkiraan Taufan. Matahari juga belum lama terbit, belum ada orang yang datang ke pantai dan bisa ditanyai. Ditambah lagi, sekarang sedang musim ombak tinggi. Pantai dan dermaga lebih sepi daripada biasanya.

"Cuma ada motor aneh di ujung sana." Blaze menunjuk jauh ke arah selatan. "Kayaknya rusak parah. Motor siapa itu, ya? Kok bisa di sana, sih? Memangnya sejak kapan ada motor di situ?"

"Please lah, Blaze." Taufan memutar bola matanya. "Kita lagi nyariin Gempa. Ngapain ngurusin motor orang?"

"Habisnyaa ... aku belum pernah liat motor kayak gitu! Bentuknya aneh, tapi keren, sih. Apa buatan Jepang, ya?"

Andai tidak sedang bingung memikirkan keberadaan Gempa, Taufan pasti juga sama penasarannya dengan Blaze. Dia yakin, Duri juga sama.

"Duri?" Kening Taufan berkerut ketika menyadari adiknya yang satu itu tahu-tahu sudah nyaris hilang di sesemakan yang cukup lebat. "Kamu ngapain?"

Duri yang sepertinya sedang fokus memperhatikan sesuatu di balik lindungan semak, terkejut ketika ditegur tiba-tiba. Ia pun menoleh. Ekspresinya sedikit bingung.

"Kayaknya ada orang deh, Kak," katanya.

"Hah?"

"Duri mau lihat dulu ya, Kak."

"Eh? Tunggu, Duri—"

Taufan menghela napas samar ketika sosok Duri sepenuhnya menghilang ke balik semak-semak. Ia pun saling pandang dengan Blaze, lalu sama-sama mengangkat bahu.

"KAK UPAN! KAK AZE!"

Seruan tiba-tiba Duri mengagetkan kedua kakaknya. Mereka pun segera menyusul sang adik. Di balik semak, tampak Duri berdiri kebingungan. Di dekatnya ada sesosok tubuh terbaring miring di tanah, dengan posisi membelakangi mereka.

Dilihat dari postur tubuhnya, orang itu tampaknya sebaya dengan mereka. Ia mengenakan baju hitam di bawah jaket jingga tanpa lengan, berpadu celana jins berwarna biru. Ditambah semacam topi dino berwarna jingga yang dipakai dengan lidah topi menghadap ke belakang.

"Apa dia mati?" celetuk Blaze.

Taufan ingin memarahi adiknya yang bicara sembarangan. Namun, ucapan itu cukup beralasan. Menilik tubuh orang misterius itu yang terluka gores di sana-sini.

"Duri mau lihat!"

Sebelum Taufan sempat bereaksi apa-apa, adiknya yang kelewat polos dan terkadang kurang perhitungan itu sudah berjalan mendekati si sosok misterius. Ia berjalan memutar sehingga berdiri di sisi yang lain dan bisa melihat wajahnya. Saat itulah, ekspresi Duri berubah panik seketika.

"KAK GEM?!"

Seruan Duri membuat kedua kakaknya ikut kaget. Taufan cepat-cepat berlutut di dekat orang itu, lantas menarik bahunya sampai posisi berbaringnya berubah telentang. Kedua mata Taufan sontak melebar, tepat ketika ia melihat seraut wajah yang bagai pinang dibelah dua dengan dirinya sendiri.

"GEMPA?!"

.

xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx

.

Taufan duduk di kursi yang ditempatkannya tepat di sisi ranjang di kamar Gempa. Adik pertamanya itu masih tak sadarkan diri, setelah Taufan bersama Blaze dan Duri menemukannya sekitar setengah jam yang lalu.

Taufan setengah bersyukur, di sela kepanikan, dirinya terlambat memberitahu Halilintar, Ice, dan Solar bahwa Gempa sudah ditemukan. Setidaknya sekarang tubuh Gempa yang penuh luka sudah dibersihkan dan diobati. Pakaiannya yang kotor dan sedikit rusak, bahkan ada bekas seperti terbakar, juga sudah diganti dengan baju bersih dari lemari pakaian Gempa.

Seperti ini pun, Duri dan Blaze yang duduk di tepi ranjang berseberangan dengannya, masih tampak sangat cemas. Ice sejak tadi hanya duduk diam di kaki ranjang. Halilintar bersandar ke dinding, tak jauh dari Taufan. Raut wajahnya antara cemas dan marah. Sedangkan Solar, berdiri bersandar di dinding dekat pintu. Ekspresinya tak terbaca.

"Sejak kapan ... Kak Gem punya baju, jaket, topi, dan jam tangan seperti itu?"

Solar memecah keheningan tiba-tiba. Matanya melirik sekilas dua benda di atas nakas yang tadinya dipakai oleh Gempa. Jam tangan dan topi jingga berlambang seperti petir kuning elektrik yang membentuk huruf "B".

"Mungkin," Blaze yang menyahut, "Kak Gem habis beli baju baru?"

Tatapan mata Solar menajam di balik kacamata gaya jingga kesayangannya. Baju dan jaket—yang sekarang sudah dimasukkan ke keranjang pakaian kotor di belakang—atau jam yang tak seperti selera berpakaian Gempa selama ini, mungkin bisa saja diabaikannya. Tapi tidak dengan topi itu. Mereka bertujuh masing-masing mempunyai topi khas dengan warna dan lambang elemen sesuai nama mereka.

Dan ketujuh topi itu adalah benda yang sangat penting bagi mereka.

"Solar."

Si bungsu tersentak samar ketika Halilintar tiba-tiba menegurnya dengan nada jengkel.

"Sekarang bukan saatnya membahas itu."

Hampir saja Solar membuka mulut untuk membantah. Namun, niat itu terhenti oleh suara rintihan pelan dari arah ranjang.

"Gem?" Taufan meraih tangan sang adik dan menggeggamnya hangat. "Kamu sudah sadar?"

Taufan dan saudara-saudaranya menanti dengan harap-harap cemas. Sampai kedua mata Gempa perlahan terbuka, lantas memandang berkeliling. Pemuda itu tampak kebingungan sejenak, sebelum akhirnya merintih tertahan sambil memegangi sisi kepalanya dengan sebelah tangan.

"Sakit ...," ia berbisik lirih.

Taufan mempererat genggamannya sedikit. Ia lega ketika adiknya membalas, dan menjadi lebih tenang setelahnya.

"Gem?" ia berkata lembut. "Sudah, istirahatlah. Jangan banyak berpikir dulu, oke?"

Gempa tersentak tiba-tiba. Lantas ia melepaskan tangannya dari genggaman Taufan, sama mendadaknya. Pemuda itu tampak begitu kebingungan ketika menatap keenam saudaranya satu per satu. Dan kata-kata yang terucap darinya setelah itu, sungguh bagaikan petir di siang bolong bagi Halilintar dan adik-adiknya.

"Kalian ... siapa ...?"

.

.

.

Bersambung ...

.

.

.


Pojok KOKOTiME

.

Hai, haiii~! \(^o^)

Apa kabar, para pembaca yang budiman? Makasiiih buat kalian yang udah baca sampai sini. 😊💕

B.I.M. adalah fanfic kolab pertamaku dengan Shaby-chan, yang sebenarnya udah lamaaa banget kami rencanakan. Yah, sekitar bulan Agustus dua tahun lalu, ahahaha ... Makanya, seneng banget akhirnya fanfic ini bisa terwujud melalui KOKOTiME.

Di chapter ini akhirnya terungkap, konsep B.I.M. yang mempertemukan BoBoiBoy dengan elemental siblings. Canon meets AU. 😉

Selanjutnya, B.I.M. akan update setiap tanggal 17. Ditunggu, yah~ 😆

Oh ya, omong-omong ... ada yang ingat Ezra? 😏

.

Salam hangat,

kurohimeNoir from kurOrange

17 Agustus 2020