Chapter 2
Pertemuan
.
.
"Uh ..."
BoBoiBoy perlahan membuka mata. Hal pertama yang dirasakannya adalah kasur empuk yang hangat dan nyaman. Saat mencoba bergerak, rasa nyeri menyerang sekujur tubuhnya, seolah menyuruhnya diam.
"Gem? Kamu sudah sadar?"
Suara yang lembut. BoBoiBoy dapat merasakan seseorang menggenggam tangannya dengan hangat.
BoBoiBoy berusaha memfokuskan pandangan. Samar-samar, dia menyadari dirinya berada di atas ranjang sebuah kamar tidur. Namun, sebelum dia sempat mengamati lebih jauh, rasa nyeri teramat tajam menyerang kepalanya.
"Sakit ...," dia berucap lirih sembari memegang kepalanya.
"Gem?" masih suara yang sama, berkata dengan lembut. "Sudah, istirahatlah. Jangan banyak berpikir dulu, oke?"
Orang itu menggenggam tangannya makin erat. Tidak keras, tetapi menghangatkan.
Setelah itu, BoBoiBoy baru menyadari ranjang yang dia tiduri tengah dikelilingi enam orang remaja seusianya yang memakai topi dan jaket dengan warna dan posisi topi yang berbeda-beda. Meski begitu, mereka semua memiliki kesamaan yang jelas terlihat. Wajah yang sama. Warna mata yang sama. Semua sama persis seperti dirinya.
"Kalian ... siapa ...?"
Dua kata itu terucap spontan dari mulut BoBoiBoy, membuat air muka mereka seketika berubah. Ekspresi mereka bercampur aduk antara kaget, takut, dan bingung.
"Gem ... Gempa?" berkata pemuda yang menggenggam tangannya. "Kamu ... nggak mengenali kami?"
"Gempa? Siapa Gempa?" ucap BoBoiBoy tak paham. "Aku kan—"
BoBoiBoy terdiam seketika. Kepanikan mulai melanda ketika dia tak bisa mengingat satu nama.
Nama yang seharusnya adalah miliknya.
A-Aku ...
Aku ini siapa ...?
Kenapa ...? Kenapa aku tidak ingat apa pun?!
.
.
KOKOTiME mempersembahkan:
"B.I.M. (BoBoiBoy In Multiverse)"
Ditulis oleh kurOrange (kolaborasi antara kurohimeNoir & Shaby-chan).
Disclaimer: "BoBoiBoy" dan segenap karakter di dalamnya adalah milik Monsta©. Tidak ada keuntungan material apa pun yang diambil dari fanfiksi ini.
Timeline: Setelah BoBoiBoy The Movie 2.
Canon-meets-AU. Featuring elemental siblings.
.
.
"Kemungkinan besar, cucu Atok mengalami amnesia karena cedera di kepalanya."
Yang bicara barusan adalah seorang pria paruh baya berbaju putih. Sebuah stetoskop masih terkalung di lehernya. BoBoiBoy tidak mengenali siapa orang ini. Yang BoBoiBoy tahu, keenam remaja yang berwajah sepertinya itu kebingungan dan panik setelah dirinya menyatakan tidak mengenal mereka. Lantas memanggil seorang pria berusia senja bernama Tok Aba.
"Gempa, kamu tidak kenal Atok? Ini Tok Aba, atokmu. Kamu cucu Atok..."
Kalimat sarat kecemasan dari pria tua itu masih jelas terbayang di dalam ingatannya. Tok Aba lalu menyuruh pemuda yang berbaju hitam-merah memanggil pria berjas putih yang kemudian memeriksa dirinya dengan teliti.
"Ini bisa terjadi, jika cucu Atok mengalami benturan keras di kepalanya," pria itu masih melanjutkan penjelasannya.
"Lalu ... kami harus bagaimana, Dokter?" bertanya Tok Aba.
"Hmm ... Saya belum bisa memastikan ... tapi kalian bisa membantu memulihkan ingatannya dengan memperlihatkan sesuatu yang familier. Untuk memicu memorinya. Itu biasanya berhasil."
Setelah pembicaraan singkat dengan Tok Aba, dokter itu pamit undur diri. Tok Aba pun mengantarnya keluar.
"Kak Gempa ... amnesia ...?" ulang remaja berbaju warna akuamarin ber-hoodie. Dia tampak tidak percaya.
Tiba-tiba salah satu dari mereka (yang berbaju merah terang) meraih bahu BoBoiBoy, lantas mengguncang-guncang tubuhnya dengan panik.
"Kak Gem!" serunya. "Ini aku! Blaze! Kak Gem nggak ingat?!"
BoBoiBoy, yang badannya masih lemas dan sakit, langsung merasa pusing karena guncangan tersebut.
"Kak Blaze! Jangan kayak gitu!" seru remaja yang memakai baju hijau-hitam. "Nanti Kak Gem sakit!"
"Terus kita harus gimana, Duri?!" seru Blaze tidak terima. "Aku nggak mau Kak Gem amnesia!"
Pemuda berbaju putih-biru yang tadi menggenggam tangan BoBoiBoy tampak berpikir. Lantas melirik pemuda yang memakai baju putih-jingga dan berkacamata.
"Solar, kamu punya ide untuk mengembalikan ingatan Gempa?" tanyanya.
Pemuda bernama Solar itu tidak menjawab. Dia tampak mengamati BoBoiBoy dengan teliti.
"Solar?" Pertanyaan yang terabaikan membuat kening sontak berkerut. "SOLAR!"
Solar tersentak kecil. "Ah ... Ya, Kak Taufan?"
"Kamu kenapa? Melamun?" tanya Taufan.
"Nggak, kok."
Solar menyangkal seperti nyaris tanpa berpikir. Namun, BoBoiBoy bisa merasakan pemuda itu masih terus mengamatinya dengan teliti. Lebih tepatnya, dengan tatapan curiga. Mata Solar kemudian beralih ke arah meja di sampingnya. Sebuah jam tangan dan topi berwarna jingga tergeletak di sana.
BoBoiBoy mengikuti arah pandang Solar. Matanya membulat ketika melihat kedua barang itu.
Topi itu ...
"Solar, kau ini." Pemuda berbaju hitam-merah menatap Solar tajam. "Bukankah sudah kubilang, ini bukan waktunya—"
"Memangnya punya hak apa kau mengatur apa yang boleh dan nggak boleh kupikirkan, Halilintar?"
"Kau—"
"Solar, Kak Hali ... udah, dong." Taufan menghela napas samar. "Gempa lagi sakit, lho."
BoBoiBoy mengerjap. Dilihatnya kedua remaja itu, Solar dan Halilintar, sama-sama membuang muka. Tampaknya mereka tidak terlalu akur.
"Tapi Solar benar juga." Blaze mendekat dengan sorot mata penasaran, hendak meraih topi dino jingga di atas meja. "Kak Gem kapan belinya—"
"JANGAN SENTUH! TOPI INI PEMBERIAN AYAH!"
BoBoiBoy refleks menyambar topi itu sebelum Blaze sempat mengambilnya. Entah kenapa, dia tidak ingin topi itu disentuh orang lain.
"Eh?" celetuk Duri. "Tapi kan topi Kak Gem yang dikasih Ayah bukan itu ..."
"Duri."
Panggilan Halilintar membuat Duri segera menoleh. Halilintar menggeleng pelan, lantas memandang 'Gempa'. Duri ikut melihat ke arah yang sama. Ekspresinya langsung berubah sendu ketika melihat kakaknya memejamkan mata rapat-rapat sembari mendekap topi jingga itu erat-erat di dadanya.
"Uh ..."
Sejak tangannya menyentuh topi itu, kepala BoBoiBoy berdenyut sakit. Kilasan aneh muncul di benaknya, membuat dadanya sesak. Sementara matanya memanas.
Ayah? Kenapa aku bisa mengatakan begitu?
Ayah... siapa?
BoBoiBoy membuka mata kembali saat sakit kepalanya sedikit reda. Dia baru menyadari bahwa keenam pemuda itu kini menatapnya cemas.
"Sudahlah," kata Hali pada akhirnya. "Gempa baru saja sadar. Kita bisa bicarakan itu nanti."
"Tapi Kak Hali ..."
"Tenang, Duri. Gempa akan baik-baik saja, kok." Taufan tersenyum menenangkan. "Gempa, kamu istirahat saja, oke?"
Mereka kemudian satu per satu keluar, meninggalkan BoBoiBoy seorang diri di kamar itu.
Setelah semua orang pergi, BoBoiBoy akhirnya bisa mengamati kamar ini dengan lebih jelas. Lantai kayu yang dipelitur, langit-langit yang tampak miring, kumpulan kliping koran-koran lama yang tertempel di dinding berwarna biru tua, serta sebuah meja dan lemari bersandar padanya.
Tempat yang tidak asing baginya. Namun, tetap saja hal itu tidak membuatnya tenang. BoBoiBoy kembali mencoba mengingat-ingat siapa dirinya sebenarnya.
Siapa aku? Di mana ini? Siapa sebenarnya mereka? Kenapa wajah kami semua sama? Apa namaku memang Gempa?
Berbagai pertanyaan berkecamuk tanpa bisa dihentikan. BoBoiBoy memijat keningnya. Berusaha mengabaikan rasa sakit di kepalanya demi mengorek informasi lebih dalam. Dia memang merasa familier dengan nama 'Gempa'. Namun, entah kenapa, dia merasa ... itu bukan namanya.
"Ukh!"
Rasa sakit di kepalanya makin menjadi. BoBoiBoy memutuskan untuk menyerah. Lantas membaringkan diri di tempat tidur dan membiarkan dirinya terlelap.
.
xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx
.
"Kak Gem, ayo makan!" Duri menyodorkan sebuah piring berisi nasi dan lauk-pauk. "Ini makanan kesukaan Kak Gem, lho!"
BoBoiBoy memandang makanan itu, terlihat lezat. Namun, entah kenapa dia tidak berselera memakannya. BoBoiBoy lalu menatap ke arah keenam 'saudaranya' dan juga Tok Aba yang telah bersiap di meja makan.
Omong-omong, BoBoiBoy akhirnya mengetahui siapa keenam pemuda itu. Katanya, mereka adalah saudara kembar identiknya. Nama mereka—sesuai urutan kelahiran—adalah Halilintar, Taufan, Blaze, Ice, Duri, dan Solar. Sedangkan dia sendiri, Gempa, katanya adalah anak ketiga.
Setelah bangun, tubuh BoBoiBoy mulai terasa baikan, meski masih lemas. Taufan yang mengusulkan dirinya juga ikut makan bersama mereka, supaya ingatannya cepat pulih. Walau Tok Aba tampak khawatir, beliau akhirnya mengiyakan.
Meskipun begitu, BoBoiBoy sebenarnya tidak terlalu nyaman berada di antara mereka. Apalagi Solar, saudara kembar bungsunya, kadang melirik ke arahnya dengan sorot mata curiga.
"Gempa? Kenapa kamu tidak makan?" tanya Tok Aba. "Makan yang banyak, biar cepat sehat."
"... Iya, Tok Aba."
BoBoiBoy mengambil sendoknya. Namun, saat memegang alat makan itu, dia mengernyit. Tangannya tiba-tiba terasa sakit. Aneh, padahal tadi tangannya baik-baik saja saat dia memegang topinya.
"Gempa? Kenapa?" tanya Taufan cemas. "Tanganmu sakit?"
Taufan lalu cepat-cepat mengambil sendok dan piringnya.
"Kalau gitu, aku suapin, deh!"
"K-Kak Taufan ...," lidah BoBoiBoy masih terasa aneh memanggil saudaranya. "Tidak usah–upmh!"
Taufan sudah keburu menyendokkan makanan ke mulutnya.
"Sudah Gem, biar kakakmu yang baik hati ini yang membantumu. Nggak usah malu-malu."
"Heh, baik hati dari mananya?" sindir Halilintar.
"Memang benar, kan?" sahut Taufan diikuti tawa kecil. "Gimana makanannya, Gem? Enak?"
BoBoiBoy mengunyah makanannya perlahan. Indera pengecapnya tidak merasakan hal yang janggal dari makanan itu, jadi dia memutuskan untuk mengangguk.
"Aku yang masak, lho!" Taufan tersenyum lebar dengan wajah berseri-seri. "Tapi aku masih kalah denganmu soal masak sih, Gem."
"Aku ... pandai memasak?" tanya BoBoiBoy.
"Iya! Makanan buatanmu enak-enak! Bahkan kau yang paling pintar masak di antara kita semua," cerita Taufan antusias.
"Oh iya ... Kalau Kak Gem amnesia, terus nasib pentas seni gimana, ya?" tanya Ice tiba-tiba.
"Tentu saja yang ngurus wakil ketua dan anggota OSIS lain dong, Ice. Masa' Kak Gem?" Blaze yang menyahut. "Kak Gem kan masih sakit."
"OSIS ...?" BoBoiBoy mengerutkan kening.
"Nggak usah dipikirkan, Gem," kata Taufan. "Bisa gawat kalau kamu ingatnya OSIS duluan. Nanti kamu sakit lagi gara-gara kelabakan ngurus OSIS. Hahaha ..."
Alih-alih ikut tertawa, BoBoiBoy menunduk sedih. Padahal mereka sangat baik, tapi kenapa dia masih canggung berbicara dengan mereka? Rasanya seperti terjebak di antara orang-orang asing.
"Kak Gem, jangan sedih."
Tahu-tahu Duri sudah ada di sampingnya. Mata bundarnya menatap dirinya dengan penuh tekad.
"Kami pasti akan mengembalikan ingatan Kak Gem! Supaya Kak Gem bisa ceria lagi!"
Mendengar perkataan itu entah kenapa membuat hati BoBoiBoy hangat. Dia tidak tahu kenapa, tapi itu membuat dirinya senang. Apa ini yang namanya kehangatan keluarga?
"Lho? Kulit ayamku mana?" tanya Blaze sambil memperhatikan piringnya.
"Hm? Kukira Kak Blaze nggak suka, jadi kumakan," jawab Ice dengan wajah tanpa dosa.
Blaze meradang seketika.
"IIICE! ITU KAN SENGAJA MAU KUMAKAN BELAKANGAAAN!"
Keributan terjadi di antara Blaze dan Ice. Mereka berdebat, bahkan hampir saling serang kalau saja Tok Aba tidak mencegahnya. Pertunjukan seperti itu membuat semuanya tertawa-tawa.
"Biasanya kamu lho yang melerai mereka, Gem," kata Taufan.
BoBoiBoy tidak mengingat hal Itu. Namun, melihat Blaze dan Ice bertengkar membuat bibirnya tersenyum kecil.
.
xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx
.
"HAH?! GEMPA AMNESIA?!"
"Kok bisa?! Apa yang terjadi?!"
"Jadi kalian menemukannya di pantai sudah dalam kondisi luka-luka?"
"Ukh ... Siapa yang tega berbuat seperti itu?!"
BoBoiBoy hanya bisa memerhatikan empat remaja itu—yang dikenalkan Tok Aba sebagai temannya, yaitu Yaya, Ying, Gopal, dan Fang—membombardir Taufan dengan banyak pertanyaan.
Memang sehari setelah dia sadar, kondisinya membaik dengan cepat sehingga bisa keluar rumah. Dia lalu diajak ke kedai milik Tok Aba yang bernama Kokotiam. Dari cerita Tok Aba, BoBoiBoy tahu dia dan keenam saudaranya setiap hari membantu sang kakek di kedainya.
Kedai baru saja buka, sehingga baru ada mereka. Dan keempat sahabatnya itulah yang pertama datang kemari.
Ice, Duri, dan Solar, tengah membantu Tok Aba. Sedangkan Taufan, Halilintar, dan Blaze duduk bersama dirinya. Menemaninya berbincang-bincang dengan Yaya dan yang lain.
"Hei, hei ... Kalian tenang dulu," kata Taufan. "Kami juga belum tahu siapa yang menyerang Gempa."
Halilintar menggeretakkan rahangnya. "Ini pasti ulah ARC!"
"Hah?! ARC?!" Gopal menyahut ngeri. "Geng berandalan itu?! Hiiiii!"
"Eh? Kenapa mereka mau menyerang Gempa?" tanya Ying heran.
"Hmm ... Masuk akal kalau mereka menyerang Gempa," Fang menyambung sambil pasang pose berpikir. "Dia sebagai Ketua OSIS sering mengusulkan kebijakan yang menyulitkan mereka. Kalian tahu kan, sebagian anggota ARC ada juga yang berasal dari sekolah kita. Mungkin itu sebabnya mereka dendam pada Gempa."
"Benar juga kata Fang," komentar Yaya. "Tapi kita nggak ada bukti."
"Hah ... Gimana mau mencari bukti?" sahut Gopal. "Satu-satunya saksi mata dari penyerangan itu saja amnesia."
Yaya terdiam sejenak, kemudian beralih menatap Halilintar.
"Lintar ... kamu nggak berkelahi, 'kan?" tanyanya. "Sejak tadi kuperhatikan, kadang-kadang kamu kayak kesakitan kalau menggunakan tangan kanan. Kamu cedera?"
Yang ditanya sempat tersentak, tapi dia langsung membuang muka. "Bukan urusanmu."
"Halilintar! Kan sudah kubilang, jangan cari masalah lagi!" omel Yaya.
"Kenapa kamu langsung menyimpulkan begitu, hah?!"
"Oh!" seru Blaze seolah mendapat pencerahan. "Jangan-jangan Kak Hali berkelahi dengan ARC, ya? Terus, mereka dendam dan melampiaskannya pada Kak Gem! Jadi ini salah Kak Hali!"
Sepasang mata Halilintar berkilat tidak senang. "Jangan asal tuduh, Blaze!"
BoBoiBoy hanya bisa diam melihat orang-orang di sekelilingnya mulai berdebat. Meski tidak begitu mengerti, dia menangkap mereka sedang membicarakan dirinya.
ARC? Apa itu? Apa hubungannya denganku?
BoBoiBoy sebenarnya ingin mencoba mengingatnya. Namun, apa daya, setiap kali BoBoiBoy mencoba menggali memori, rasa sakit langsung menyerang kepalanya.
"Sudahlah, kalian," lerai Tok Aba. "Capek Atok dengar kalian berdebat. Masalah siapa yang menyerang Gempa dibahas nanti saja."
"Betul." Taufan mengangguk setuju. "Sebaiknya kita cari cara untuk memulihkan ingatan Gempa."
BoBoiBoy melihat mereka semua terdiam. Namun, sebelum yang lain melakukan apa pun, tiba-tiba BoBoiBoy merasa ada sesuatu yang menghantam bagian belakang kepalanya.
BUK!
"Aduh!"
BoBoiBoy langsung tersungkur di tanah. Apa tadi? Seseorang memukul kepalanya? BoBoiBoy merasa sepertinya kepalanya benjol.
"Gimana, Gempa? Sudah ingat sesuatu? Sudah ingat siapa yang menyerangmu?" tanya Gopal yang ada di belakangnya.
BoBoiBoy tidak menjawab, kepalanya jadi pusing karena pukulan itu. Setelah mereda, BoBoiBoy bangkit dan melihat Ying, Halilintar, serta Blaze menginjak-injak Gopal. Entah dari mana sahabat gempalnya itu ternyata sudah menggenggam sebuah wajan.
"Kamu ini! Orang baru sembuh kok malah kamu pukul?!" omel Ying.
"Kamu mau bikin Kak Gem tambah amnesia, hah?!" seru Blaze kesal.
"Aduh! Aduh! Ampun! Di film-film biasanya orang amnesia dipukul supaya ingat, 'kan?!" jerit Gopal.
"KAMU KEBANYAKAN NONTON FILM, GOPAL!" Halilintar meradang.
Fang menghela napas. "Sudahlah, kalian. Kita pakai cara rasional saja. Perlihatkan sesuatu yang berkaitan dengan ingatan Gempa."
"Oh, iya!" Yaya tampak merogoh kantongnya dan mengeluarkan sekantong biskuit. "Pasti Gempa akan langsung ingat kelezatan biskuitku! Gempa, cobalah biskuitku!"
BoBoiBoy terdiam melihat kantong biskuit yang disodorkan kepadanya dalam keadaan terbuka. Biskuit itu sebenarnya tampak cantik, tapi entah kenapa, dia merinding saat melihatnya.
Plak!
"TAUFAN!"
"Aduh, maaf Yaya! Tanganku terpeleset!"
Entah sengaja atau tidak, BoBoiBoy melihat Taufan barusan menepis tangan Yaya sehingga biskuit itu jatuh berhamburan di tanah. Tidak, dia yakin, itu pasti sengaja.
"AAAAAH! ADA SEMUT MENDEKATI BISKUITMU, YAYA! TENANG, AKAN KUUSIR!"
Blaze mendadak menginjak-nginjak tanah tempat biskuit itu tersebar sehingga semua biskuit jadi remuk dan kotor.
"Blaze! Jangan seenaknya, dong! Lihat, semua biskuitku mubazir kan?! Padahal mungkin aku bisa mengambilnya sebelum lima menit!"
"Eh ... hehehe ... maaf, Yaya ..."
Yaya hanya mendengkus sambil memalingkan muka.
"Untung kamu selamat, Gempa."
BoBoiBoy mengernyit ketika Gopal tiba-tiba mendekat dan berbisik kepadanya. Tidak mengerti memangnya dia selamat dari apa.
"Ya sudah," Taufan coba mengalihkan perhatian. "Kalau gitu, kita pikirkan lagi rencana untuk mengembalikan ingatan Gempa."
"Aha! Gimana kalau kita ajak Gempa berkeliling? Siapa tahu dia ingat sesuatu!" usul Ying.
"Wah, boleh juga!" sambut Blaze. "Kalau begitu, ayo–!"
"Kalian ... jangan melarikan diri, dong." Ice berkata, tetap dengan tampang datar khasnya. "Bantu kami."
"Kedai mulai ramai nih, Kak!" seru Duri yang kerepotan membawa pesanan.
"Kalau gitu," ujar Taufan, "tolong ya, kalian ajak Gempa berkeliling."
"Beres, Taufan! Eh ... apa nanti aku dapat bonus karena mengantar Gempa?" tanya Gopal penuh harap.
"Huh, ada udang di balik batu rupanya," sindir Fang.
"Sudah, sudah, ayo Gempa! Kita jalan-jalan!" ajak Ying sambil menariknya.
Sebelum mereka pergi, BoBoiBoy melihat Solar mendekati kedai lalu bicara dengan Tok Aba.
"Tok Aba, Solar izin pergi sebentar ya!" katanya.
"Mau ke mana?" tanya Halilintar dengan tatapan tajam. "Mau bolos membantu kedai?"
"Aku baru ingat ada urusan penting. Sudah ya, bye!"
Solar langsung memelesat pergi. Halilintar hanya memutar mata kesal.
"Gempa!" seru Gopal. "Jangan bengong! Ayo kita pergi!"
.
xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx
.
"Dan ini gedung sekolah kita, Akademi Pulau Rintis!"
"Haish, kenapa kita harus ke sekolah hari libur begini?"
"Ini kan supaya Gempa ingat, Gopal!"
"Ya ampun ... Ayo, kita ke tempat lain saja."
BoBoiBoy mengikuti langkah keempat kawannya. Mereka mengajaknya ke banyak tempat. Restoran Burgeriak, kantor pos, kompleks perumahan, dan sebagainya.
Meski merasa senang melihat semua itu, tapi ada satu hal yang mengganjal di pikiran BoBoiBoy.
"Mmm ... Teman-teman?" panggilnya.
Mereka semua menengok ke arahnya.
"Kenapa, Gempa?" tanya Gopal penuh selidik. "Jangan-jangan kamu ... sudah ingat sesuatu?!"
"Eh, bukan ... cuma ..." BoBoiBoy ragu sejenak. "Apa kalian bisa bercerita ... tentang saudara-saudaraku?"
"Eh? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu?" tanya Yaya.
BoBoiBoy tampak ragu mengatakannya. Namun, pada akhirnya dia bicara.
"Sebenarnya ... tentang Tok Aba, Kokotiam, Pulau Rintis, bahkan kalian ... aku merasa ingat ... walau samar-samar. Tapi aku ... sama sekali nggak ingat soal saudaraku ..."
Mereka saling memandang dengan heran.
"Eh? Bukannya sebagai saudara, kamu harusnya ingat mereka lebih dulu, ya?" tanya Ying heran.
"Hehehe ... tenang saja, Gempa," kata Gopal penuh percaya diri. "Biar Gopalji Kumar yang akan menjelaskan tentang mereka padamu!"
Setelah berdehem, Gopal mulai bercerita sembari pasang gaya.
"Kalian adalah tujuh elemental bersaudara yang sangat terkenal di Pulau Rintis. Julukan itu muncul, karena nama-nama kalian yang mengambil nama-nama elemen yang ada di Bumi."
Satu kata itu langsung menarik perhatian BoBoiBoy. 'Elemental'. Rasanya tidak asing ...
"Atok kalian adalah pemilik Kedai Kokotiam dengan sajian cokelat yang sangat lezat! Kalian bertujuh tinggal dengan Tok Aba karena ayah kalian seorang duta yang jarang sekali pulang. Bahkan mungkin ayahmu mengalahkan rekor Bang Toyib yang tiga kali puasa tiga kali lebaran nggak pulang-pulang!"
"Ish, kamu ini Gopal!" tegur Yaya. "Jangan memberi Paman Amato julukan yang aneh-aneh!"
"Hei, itu Taufan sendiri lho yang mengatakannya!" Gopal membela diri.
Mata BoBoiBoy sempat membulat ketika mendengar nama itu. Amato. Rasanya sangat familier. Dadanya mendadak terasa hangat.
"Heh, kalau Paman Amato itu Bang Toyib, abang dan orangtuaku apa?" sahut Fang. "Mereka hampir tidak pernah pulang dan aku ditinggal sendiri."
Memangnya Bang Toyib itu siapa, coba?
"Oh, iya. Lalu tentang elemental bersaudara ... yang paling tua adalah Halilintar! Dia adalah ace dari klub pencak silat. Itulah sebabnya dia pandai berkelahi. Wajahnya garang! Tapi walau garang, dia punya banyak penggemar! Yaya salah satunya!"
"GOPAL! JANGAN BICARA SEMBARANGAN!"
BoBoiBoy sempat melihat muka Yaya merona.
"Hihihi, wajahmu merah, Yaya," Ying berkata jahil.
Wajah Yaya makin memerah. Dia buru-buru mengatakan, "A-Aku mana mungkin suka dengan cowok yang hobinya bikin masalah seperti dia! Apalagi dia sering berkelahi dengan ARC!"
"ARC itu apa?" tanya BoBoiBoy.
Jujur saja, dia penasaran kenapa nama itu terus disebut.
"ARC itu singkatan dari Awesome Rebel Club," jelas Fang. "Mereka geng anak berandalan yang cukup ditakuti karena kerap membuat masalah."
"Ja-Jangan bahas ARC, dong. Aku takut, nih!" protes Gopal. "Aku lanjutkan, ya! Anak kedua di keluargamu adalah Taufan. Dia anaknya ceria, murah senyum, dan pandai bermain skateboard. Tapi dia, Blaze, dan Duri, sering membuat kekacauan sehingga dijuluki Trio Troublemaker!"
Ying mengangguk-angguk, lantas menambahkan. "Pasti kamu yang pusing kalau mereka berulah."
"Lalu yang ketiga itu kamu, Gempa!" lanjut Gopal. "Kamu itu murid teladan, kesayangan guru. Bahkan Ketua OSIS!"
"Eh? Aku ... Ketua OSIS?" BoBoiBoy tersentak. "Bukannya ... Ketua OSIS-nya Yaya?"
Yaya menaikkan alis, bingung. "Eh? Mana ada. Aku bahkan nggak ikut OSIS. Walau aku ingin sekali, sih."
Ying tertawa kecil. "Habisnya Yaya ingin tetap jadi Ketua Klub Biskuit, sih. Tapi kan anggota OSIS dilarang jadi pengurus klub. Ya udah deh, akhirnya kamu yang jadi ketua."
BoBoiBoy ber-"oh" pelan. Entah kenapa, dia kembali merinding ketika mendengar kata 'Klub Biskuit'.
"Lalu yang keempat adalah Blaze. Dia aktif di klub sepakbola. Energik, tapi pemarah. Dia juga kadang kekanak-kanakan dan suka berulah bersama Taufan dan Duri!"
"Dia ... juga suka main api?" tanya BoBoiBoy tiba-tiba.
"Hah? Main api? Oh ... maksudmu kembang api? Iya, dia suka sekali!" jelas Ying.
BoBoiBoy hanya terdiam. Saat mendengar tentang Blaze, entah kenapa dia teringat dengan api. Bukan kembang api, tapi api sungguhan. Api yang sangat ... berbahaya?
"Lalu yang kelima Ice. Dia super pemalas! Dia suka tidur di mana saja dan kapan saja. Dia juga suka makan, makanya dulu dia pernah obesitas sampai kalian harus mati-matian menyuruhnya diet dan rajin berolahraga."
"Kau nggak kepikiran untuk diet juga, Gopal? Kau kan juga gendut," sindir Fang.
"HEI!" seru Gopal tak terima. Fang hanya tertawa puas. "Lalu yang keenam itu Duri. Dia anggota klub berkebun yang sangat rajin. Satu sekolah jadi hijau berkat dia. Dia itu berwajah imut dan sangat polos, padahal umur kalian kan sama."
BoBoiBoy tertawa spontan mendengarnya. Pelan saja.
"Terus, yang terakhir ... Solar. Dia itu genius! Selalu bersaing dengan Fang dalam urusan peringkat ketiga. Tapi dia juga narsis dan terkadang sombong. Walaupun begitu ..."
Gopal tiba-tiba berhenti. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kantong plastik yang berisi banyak foto. Setelah BoBoiBoy amati, itu adalah foto Halilintar dan Solar.
"Penggemar Solar juga banyak! Penjualan fotonya bersaing ketat dengan foto Halilintar! Keuntungannya jauh lebih banyak daripada penjualan foto Fang! Kalah populer dia—"
"HEI! JANGAN UNGKIT-UNGKIT TENTANG POPULARITAS!" seru Fang tersinggung.
"Bercanda, Fang. Bercanda! Fotomu masih laku, kok!" Gopal gelagapan. "Eh ... Gempa, rahasiakan ini dari Lintar dan Solar, ya? Aku akan dibunuh kalau ketahuan."
"Oh ... Oke ..." BoBoiBoy tersenyum canggung.
"Jadi gimana, Gempa?" tanya Ying. "Kamu sudah ingat sesuatu tentang saudaramu?"
BoBoiBoy terdiam, lalu menggeleng. Selain soal api, dia masih tidak mengingat apa pun.
"Sudahlah, tidak apa-apa, Gempa," hibur Yaya. "Nanti kamu pasti ingat sendiri. Ya, 'kan?"
BoBoiBoy menghela napas pelan.
"Kuharap juga begitu."
.
xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx
.
"Sampai jumpa, Gempa!"
"Cepat sembuh ya, Gem!"
"Kalau kau mau, aku bisa memukulmu dengan wajan lagi kok!"
"Segera ingat dirimu lagi!"
BoBoiBoy melepas kepergian mereka berempat di Kedai Kokotiam. Hari sudah lewat siang, sehingga pengunjung tidak sebanyak sebelumnya. Jadi BoBoiBoy memutuskan duduk dengan tenang di kursi Kokotiam. Sedikit melepas lelah setelah jalan-jalan tadi.
"Selamat datang kembali, Kak Gem!" sambut Duri dengan senyuman. "Gimana jalan-jalannya? Asyik nggak?"
BoBoiBoy balas tersenyum. "Cukup menyenangkan."
BoBoiBoy memperhatikan keadaan saudara-saudaranya. Halilintar dan Duri ada di balik counter kedai, membantu Tok Aba. Sisanya menyebar ke meja-meja pelanggan. Entah melayani pelanggan yang tersisa atau membersihkan meja. Solar belum kembali.
"Aduh."
Sebuah erangan terdengar. Rupanya berasal dari Tok Aba. Dia memegang pinggangnya, tampak kelelahan. Hal itu membuat BoBoiBoy simpati.
"Tok Aba? Atok capek?" tanya BoBoiBoy. "Biar kubantu—"
"Gempa!" bentak Halilintar tiba-tiba. "Kamu kan baru selesai jalan-jalan! Dan kamu baru saja sembuh! Jaga staminamu!"
BoBoiBoy tersentak. Dadanya berdebar, walau dirinya langsung paham bahwa Halilintar bermaksud baik.
"Ish, kamu ini, Lintar. Jangan membentak seperti itu," tegur Tok Aba. "Gempa jadi kaget, kan."
Halilintar hanya mendengkus. Bibirnya sempat mengucap 'maaf' tapi tak terdengar. Tok Aba hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Gempa, tidak apa-apa. Kamu boleh membantu Atok, kok. Nah, coba kamu buat Special Hot Chocolate."
Tok Aba menyodorkan sebuah cangkir dan satu bungkus bubuk cokelat.
"Eh? Tok Aba? Memangnya Kak Gem ingat caranya?" tanya Duri.
"Tenang, Duri. Gempa kan sering membuat ini, pasti dia ingat sedikit-sedikit. Kamu tolong bimbing Gempa, ya?" kata Tok Aba.
"Siap, Tok Aba!" seru Duri bersemangat.
BoBoiBoy mulai membuat minuman cokelat yang diminta. Tok Aba benar, dia merasa ingat pernah membuatnya. Hanya dengan sedikit arahan Duri, dirinya mampu membuat minuman itu tanpa kesulitan berarti. Dia baru saja selesai memberi topping pada minuman buatannya, saat terdengar suara langkah mendekat. Solar telah kembali.
"Assalamualaikum," Solar memberi salam.
"Wa'alaikum salam. Nah, akhirnya kamu kembali. Ke mana saja kamu, Solar?" tanya Tok Aba.
Solar hanya membalasnya dengan tersenyum samar.
"Nah, karena Solar sudah kembali, giliranku yang pergi," kata Halilintar sambil beranjak.
"Eh? Kamu mau kemana, Lintar?" tanya Tok Aba.
"Ada urusan, Tok. Halilintar pergi dulu, Assalamualaikum."
Tanpa memedulikan pertanyaan Tok Aba, Halilintar langsung melangkah pergi dari Kokotiam.
"Oh iya, Solar," kata Duri tiba-tiba. "Kak Gem baru saja bikin Special Hot Chocolate, lho! Gimana kalau Solar yang cobain? Solar kan kritikus sejati."
Duri langsung menyodorkan minuman buatan BoBoiBoy kepada Solar. Si bungsu menatap sangsi, tapi akhirnya dia meminumnya juga. Segera setelah teguk pertama melewati kerongkongannya, mata Solar terbelalak.
"Eh? Kenapa Solar?" tanya Duri.
Solar terdiam beberapa detik lagi. Dia masih tampak terkejut.
"Rasanya ... persis seperti buatan Kak Gem yang biasanya."
"Benarkah? Horeee! Kak Gem mulai ingat!" seru Duri gembira sambil memeluk BoBoiBoy.
BoBoiBoy sendiri merasa senang atas cokelat buatannya yang memuaskan. Namun, rasa tidak enak menjalari dirinya saat menyadari Solar kembali menatapnya dengan curiga. Namun, kali ini ada kegelisahan di dalam sorot matanya.
Ada apa dengan Solar?
.
.
.
Bersambung ...
.
.
.
Pojok KOKOTiME
.
Saat kalian sedang membaca tulisan ini, mungkin aku sedang bertapa di dalam sebuah penjara suci di pedalaman desa di barat Jawa. /heh
Ini aslinya ditulis sehari sebelum jadwal balik sih, semoga tetap enak dibaca, ehehe ...
Sampai jumpa di chapter berikutnya! XD
.
Salam hangat,
Shaby-chan from kurOrange
17 September 2020
