Chapter 3
Penyelidikan
.
.
Solar berjalan santai saja menyusuri tepi jalanan beraspal di perumahan yang sepi. Tangan kirinya menggenggam ponsel pintar yang sedang menayangkan sebuah video. Suaranya terdengar jelas melalui headphone nirkabel yang terpasang di kepala Solar.
Bahkan ketika harus melewati turunan curam, atensi Solar tetap tak teralih. Matanya tetap fokus kepada video yang menampilkan kehebohan kecil di Pantai Pulau Rintis sejak beberapa waktu terakhir.
Di tepi pantai berpasir putih itu, mendadak ditemukan puing-puing kendaraan roda dua misterius yang tidak diketahui asal-usulnya. Padahal sebelumnya sama sekali tak ada apa-apa di sana. Hanya saja, beberapa saksi mata di sekitar pantai menyatakan, telah melihat sesuatu yang terang jatuh dari langit pada malam sebelumnya.
Sepasang mata Solar menajam di balik kacamata. Mungkin ini tidak ada hubungannya, tapi waktu kejadiannya hampir sama dengan waktu menghilangnya Gempa. Walau terdengar semustahil apa pun, dia sama sekali tak bisa mengabaikannya.
Ada dorongan yang sangat kuat di dalam hati dan pikirannya bahwa hal ini harus diselidiki.
.
.
KOKOTiME mempersembahkan:
"B.I.M. (BoBoiBoy In Multiverse)"
Ditulis oleh kurOrange (kolaborasi antara kurohimeNoir & Shaby-chan).
Disclaimer: "BoBoiBoy" dan segenap karakter di dalamnya adalah milik Monsta©. Tidak ada keuntungan material apa pun yang diambil dari fanfiksi ini.
Timeline: Setelah BoBoiBoy The Movie 2.
Canon-meets-AU. Elemental siblings.
.
.
Tak perlu waktu lama bagi Solar untuk tiba di tempat tujuannya. Ia telah sengaja melalui jalan memutar. Melewati rute sepi yang lebih sulit, melalui kebun karet, lantas memasuki area pantai dari jalan yang jarang dilewati orang.
Dari arahnya datang, Solar langsung dapat melihat 'motor aneh' yang dibicarakan banyak orang itu. Dia segera mendekati benda itu, sementara pantai masih sepi di pagi hari tanpa polusi.
Motor itu berwarna jingga. Modelnya sama sekali belum pernah dilihat Solar di mana pun.
"Jelas tidak mungkin ini buatan Jepang," gumamnya.
Namun, motor itu dalam keadaan rusak parah. Solar mengedarkan pandang berkeliling. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya pantai berpasir putih yang lapang. Tak ada bangunan apa pun. Tak ada bebatuan besar atau pohon dalam radius yang cukup luas.
Lalu kenapa motor itu bisa rusak, seperti habis bertabrakan dengan sesuatu?
"Hm?"
Ketika memperhatikan motor jingga tersebut dengan lebih seksama, Solar menemukan sesuatu. Seperti bekas terbakar, tetapi samar-samar. Pemuda itu mencoba mengamati lebih jauh, dan segera menemukan bekas yang sama di beberapa bagian motor yang lain.
"Bekas apa ini kira-kira?"
Solar lantas memandang ke atas, ke arah angkasa biru yang membentang luas. Matanya menajam, memikirkan satu kemungkinan yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Entah bagaimana, motor ini jatuh dari langit," Solar menyuarakan hipotesanya. "Bekas seperti terbakar itu adalah bekas gesekan dengan atmosfer. Lalu, bekas kerusakan seperti tabrakan itu terjadi karena motornya menabrak permukaan Bumi. Kalau seperti itu, cocok."
Solar mengangguk-angguk sendiri sembari pasang pose berpikir.
"Tapi ... meskipun mengalami 'kecelakaan' separah itu, tetap saja tingkat kerusakannya tidak setinggi yang seharusnya terjadi. Artinya ... motor ini punya semacam teknologi pelindung yang cukup mumpuni. Mungkin ... bukan teknologi yang berasal dari Bumi ..."
Bahkan Solar pun akan maklum, seandainya semua ucapannya tadi didengar oleh orang lain, dia akan mendapatkan komentar seperti, "Kamu kebanyakan nonton film."
Namun, tatapan mata Solar saat ini tampak lurus, penuh keyakinan. Baginya, di dunia ini tidak ada hal yang tidak mungkin. Apalagi jika sudah dihadapkan kepada misteri alam semesta yang sangat luas. Jauh melebihi pemikiran manusia pada umumnya.
Ketika Solar hampir tenggelam di dalam alam pikirannya sendiri, kedua matanya yang masih aktif mencari-cari, mendadak kembali menemukan sesuatu. Ia tersentak, lantas cepat-cepat bergerak mendekat.
Tak berapa jauh dari motor, ada sesuatu teronggok, nyaris terkubur pasir. Solar yang mengenakan sarung tangan putih, segera berjongkok, kemudian mengambil benda yang dilihatnya tanpa harus takut meninggalkan sidik jari.
Benda itu tampak seperti sempalan sesuatu. Bentuk dan ukurannya hampir sama dengan lengan orang dewasa. Warnanya jingga, sama persis dengan warna motor.
Solar kembali menatap motor yang berada beberapa langkah di kanannya. Benar, seperti ada yang hilang di bagian depan motor itu. Tepatnya spark board depan. Seharusnya bagian itu memang berwarna jingga, persis seperti benda yang sekarang dipegangnya.
"Oh? Apa ini? Ada sebuah logo ...?"
Solar membersihkan bagian spark board yang kotor karena pasir. Tak butuh waktu lama, dia sudah dapat melihat lambang itu dengan jelas.
Sebuah lambang petir kuning elektrik yang berpadu dengan huruf B. Mata Solar sontak membulat di balik kacamata.
"Ini, 'kan ...?" Pemuda itu terkesiap. "Lambang ini ... sama dengan—"
Solar tidak melanjutkan ucapannya. Ia lantas kembali mendekati bagian depan motor. Diamat-amatinya beberapa bagian motor dengan seksama, bergantian dengan spark board jingga yang dipegangnya. Sebenarnya tidak ada kerusakan yang berarti.
"Ini hanya terlepas."
Sekali lagi, pemuda itu menyuarakan pikirannya. Kemudian, ia mencoba memasangkan kembali spark board ke tempatnya semula.
Pas sekali.
"Jadi memang benar di situ tempatnya. Hmm ..."
Solar mundur beberapa langkah. Lantas berdiri diam sambil meletakkan tangan kanan di dagu dengan pose berpikir. Sepasang matanya tampak berkilat, menyiratkan banyak hal yang saat ini berkecamuk di alam pikirannya.
"Ini ... tidak bisa dibiarkan ..."
.
xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx
.
"Nah, karena Solar sudah kembali, giliranku yang pergi."
Solar mengangkat sebelah alis ketika mendengar ucapan Halilintar. Dia baru saja kembali ke kedai, lantas duduk di dekat meja konter. Tatapannya sempat beradu sekilas dengan Halilintar, tepat saat sang kakak sulung beranjak pergi.
Si bungsu dari tujuh elemental bersaudara itu mengulas senyum samar. Tok Aba tentu saja heran dengan tindakan Halilintar barusan. Begitu juga dengan saudara-saudaranya yang lain. Namun, Solar bisa menebaknya dengan mudah.
"Oh iya, Solar."
Pikiran Solar yang sudah mulai terisi beberapa hal, mendadak terinterupsi oleh suara ceria Duri.
"Kak Gem baru saja bikin Special Hot Chocolate, lho! Gimana kalau Solar yang cobain? Solar kan kritikus sejati."
Sebelum Solar sempat menerima atau menolak, Duri langsung menyodorkan secangkir cokelat panas itu di hadapannya. Pemuda itu tak bisa mencegah keningnya untuk mengernyit. Special Hot Chocolate Kokotiam yang sudah terkenal kelezatannya. Secara tampilan, Solar bisa langsung mengacungkan jempol. Namun, soal rasa, tidak akan bisa dibohongi.
Kalau perkiraannya benar, maka ...
Tanpa ekspektasi apa-apa, Solar meraih cangkir itu dan meneguk isinya perlahan. Seketika itu juga, matanya terbelalak.
Ini ... Ini mustahil! Bagaimana bisa?!
"Eh? Kenapa, Solar?"
Lagi-lagi Duri yang menyela segala keributan di dalam kepala adik satu-satunya. Solar meletakkan cangkirnya kembali. Ia menarik napas, merasa perlu untuk menenangkan diri kembali secepatnya.
"Rasanya ... persis seperti buatan Kak Gem yang biasanya."
"Benarkah? Horeee! Kak Gem mulai ingat!"
Mata Solar menajam ketika melihat Duri memeluk 'Gempa' dengan gembira. Dadanya bergemuruh, memaksanya harus menggeretakkan gigi agar tetap tenang.
Kenapa ... Kenapa dia bisa membuat cokelat panas yang rasanya sama seperti buatan Gempa?
"Solar?"
Panggilan itu membuat Solar tersentak. Tangannya refleks mengepal ketika seseorang menatapnya penuh tanya. Orang yang semestinya adalah kakak ketiganya.
"Solar kenapa sih, dari tadi?" Duri ikut-ikutan menatap penasaran. "Kok aneh?"
Solar bisa menangkap sekelumit kilatan khawatir di mata kakak yang paling akrab dengannya selain Gempa itu. Apa pun yang ingin dilakukannya sekarang, satu hal yang Solar tahu pasti, dia tidak mau Duri mencemaskan hal yang tidak perlu. Begitu juga dengan saudara-saudaranya yang lain.
"Masa', sih?" Solar mengulas satu senyum tipis. "Nggak ada apa-apa, kok."
Tidak sulit bagi Solar untuk mengalihkan perhatian semua orang setelah itu. Apalagi tak lama setelah jam makan siang. Kesibukan kedai kembali berjalan seperti layaknya kesibukan luar biasa Kokotiam di setiap hari libur.
Satu-dua kali, dengan sudut matanya, Solar memperhatikan remaja putra berpakaian hitam-cokelat yang tersenyum ramah itu. Sungguh, walaupun tanpa ingatannya, dia tetap terlihat seperti Gempa yang biasa. Namun, saat ini, Solar meyakini satu hal.
Orang itu bukanlah kakaknya!
.
xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx
.
Halilintar berjalan sendirian menyusuri jalanan beraspal yang sepi. Kedua tangannya tersembunyi di saku jaket hitam-merah bercorak petir yang dikenakannya. Kedua matanya menyorot tajam dan lurus. Sementara, ingatannya kembali mengulas sekilas kejadian belum lama berselang.
Baru pada malam sebelumnya, Halilintar menemui adik bungsunya. Memang, biasanya mereka tidak terlalu akur. Kalau bisa, Halilintar lebih suka tidak usah dekat-dekat dengan bocah itu. Namun, apa boleh buat, dia tidak punya pilihan lain.
"Hoo ... Tumben kau minta bantuanku, Kak Halilintar."
Halilintar berdecak kesal ketika mengingat kata-kata yang diucapkan sang adik dengan ekspresi menyebalkan di wajahnya. Ditambah kata 'Kak' yang ditekankan dengan nada menjengkelkan.
Memangnya sejak kapan bocah itu mau memanggil 'Kak' kepadanya? Atau kepada saudara-saudara mereka yang lain. Sepanjang ingatan Halilintar, bocah itu cuma mau memanggil 'Kakak' dengan tulus kepada Gempa.
"Aku ingin kau mencarikan lokasi ARC. Entah markas atau tempat mereka biasa berkumpul."
"Lokasi ARC? Untuk apa?"
"Cari saja. Jangan banyak tanya."
"Kau mau menemui mereka?"
"Kau mau membantuku atau tidak?"
"Buatku tidak masalah, sih, tapi—"
"Mau bantu atau tidak? Jangan bertele-tele."
"Haaah ... Oke, oke. Tunggu sebentar."
Setelah itu, Solar langsung sibuk dengan laptopnya selama beberapa menit. Memang anak itu sangat bisa diandalkan. Alhasil, saat ini, Halilintar sudah mendapatkan apa yang dicarinya.
Halilintar terus berjalan hingga tiba di daerah perumahan yang sepi. Masih tidak terlalu jauh dari jalan raya, di tempat itu ternyata ada sebuah gang kecil yang menimbulkan rasa tidak nyaman saat memasukinya. Seperti tidak ada kehidupan. Rumah-rumah berjauhan jaraknya dan bergeming tertutup. Tak ada suara sama sekali. Bahkan cahaya mentari siang hari pun tak mampu mencerahkan suasana.
Gang yang disusuri Halilintar menyambung ke sebuah tanah lapang. Di sana ada semacam bangunan gudang tua yang terbengkalai. Sampai di sini pun, semuanya cocok dengan informasi yang diberikan oleh Solar.
Sepasang mata Halilintar menajam, sementara dia memandang berkeliling dengan waspada. Tak ada siapa pun di sana. Di jam seperti ini, Halilintar menduga, sebagian besar anggota ARC sedang sibuk berkeliling mencari mangsa.
Dia berharap, pemimpin mereka ada di sini, tanpa banyak anak buah bersamanya. Bukannya Halilintar takut. Hanya saja, kali ini dia ingin berbicara dengan Ezra tanpa banyak gangguan.
"Kukira siapa. Ternyata kau."
Halilintar langsung disambut suara rendah khas Ezra begitu melangkahkan kaki melalui pintu gudang. Tempat itu tampak suram dengan penerangan remang-remang dari sedikit ventilasi, ditambah cahaya matahari yang menerobos masuk ketika Halilintar membuka pintu.
Ezra hanya tersenyum samar—sedikit sinis—ketika melihat Halilintar meneruskan langkah dengan tenang. Dia sendiri tidak bergerak sedikit pun di seberang ruangan. Tetap duduk santai sambil menaikkan sebelah kaki di atas sebuah kotak besar yang terbuat dari kayu papan.
"Hebat juga kau," berkata Ezra, "bisa menemukan tempat kami."
Halilintar tidak menyahut. Dia berhenti tepat di tengah-tengah ruangan. Selain Ezra, ada tiga orang lagi yang langsung bergerak mengepungnya. Orang-orang itu tampak sudah siap berperang, kalau saja Ezra tidak memberi isyarat untuk mundur.
Pemuda itu melihat Halilintar sama sekali tidak memasang kuda-kuda untuk bertarung. Bahkan seperti nyaris tanpa pertahanan. Meskipun ia juga yakin, andai anak-anak buahnya nekat menyerang, merekalah yang akan habis dihajar duluan.
"Aku mau bicara," Halilintar berkata dingin.
"Biar kutebak." Sepasang mata Ezra berkilat di balik goggle berkaca hijau miliknya. "Soal adikmu, Gempa?"
Halilintar menggeretakkan rahang. Sesuatu yang panas segera memenuhi dadanya yang berdesir tajam. Meskipun begitu, dia berusaha mengendalikan amarahnya.
"Jadi benar ... kalian sudah melakukan sesuatu padanya?" Halilintar berkata penuh tekanan. "Berani sekali kalian!"
Ezra mendengkus sinis. "Kenapa kami harus takut?"
"Apa kalian mengganggunya karena aku?" Halilintar mengepalkan tangannya. "Atau karena apa yang telah dilakukannya sebagai Ketua OSIS Akademi Pulau Rintis?"
"Keduanya."
Ezra melompat turun, lantas mendekati Halilintar. Berdiri tepat di hadapannya dengan angkuh. Halilintar bisa melihat, pemuda itu masih terluka, akibat bentrok mereka sebelumnya. Seperti tangan kanan Halilintar yang cedera, kaki kiri Ezra pun demikian. Terlihat dari berjalannya yang sedikit tertatih.
"Karena itu kalian sempat menculiknya?"
Mendengar ucapan Halilintar, kali ini, Ezra sontak mengerutkan kening.
"Menculik?" ulangnya. "Apa yang kaubicarakan? Aku hanya ingin bilang, kami tidak akan gentar untuk memberi pelajaran kepada siapa pun yang berani mengganggu kami. Tidak terkecuali kau, atau adikmu itu."
"Apa?"
"Sepertinya anak-anak buahku memang sempat membuntutinya." Ezra mengerling ketiga anggota ARC yang masih bersiaga. "Entah mereka ingin menculiknya seperti katamu, atau sekadar ingin memberinya pelajaran. Tapi ... pada akhirnya, kami belum sempat melakukan apa-apa."
"Kaupikir aku percaya kebohongan seperti itu?" Halilintar mendengkus pendek. "Adikku menghilang semalaman, lalu ditemukan keesokan harinya dalam keadaan terluka. Ulah siapa lagi kalau bukan kalian?!"
"Hoo ..." Ezra mengangkat sebelah alisnya. "Sepertinya bukan hanya kami yang punya dendam padanya."
Halilintar menggeretakkan rahang. Matanya yang menyorot tajam, menatap Ezra penuh amarah. Namun, pemuda pemimpin ARC itu tetap tenang.
"Aku tidak peduli kau mau percaya atau tidak, tapi itu benar."
Ezra mengambil ponsel dari sakunya. Dia mengutak-atik ponsel itu sebentar, lantas menunjukkan layarnya ke depan mata Halilintar.
"Apa itu?"
Halilintar mengerutkan kening. Ia melihat gambar yang tidak terlalu jelas, sepertinya diambil pada malam hari. Tampak gambar dua sosok yang sedikit kabur, mungkin karena dipotret dalam keadaan bergerak. Keduanya tampak sangat aneh.
Yang satu sosok seperti manusia bertubuh pendek, dengan kepala yang sangat kotak. Belum lagi kulitnya yang sangat hijau. Apa dia mengenakan kostum? Di sampingnya, ada sesuatu yang melayang berwarna ungu. Ketika dilihat-lihat, bentuknya menyerupai tudung saji.
"Aku tahu," kata Ezra kemudian. "Aku juga merasa aneh saat pertama kali melihatnya. Tapi menurut anak-anak buahku, mereka melihat kedua sosok ini sedang membuntuti adikmu ketika dia berjalan pulang sendirian dari sekolah."
Halilintar terdiam. Apa ini lelucon? Namun, ketika mencoba menatap Ezra, dia sama sekali tak menemukan apa-apa selain tatapan mata yang tajam dan lurus.
.
xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx
.
"Bagaimana menurutmu?"
Halilintar memperhatikan adik bungsunya yang masih serius berkutat dengan laptopnya. Di monitornya tampak gambar yang sama dengan yang ditunjukkan Ezra siang tadi.
"Menurut analisaku, foto ini bukan rekayasa." Jawaban Solar kemudian, mengagetkan abangnya. "Tapi ... sebenarnya apa ini?"
Solar menatap Halilintar dengan kening berkerut. Halilintar tidak tahu harus menjawab apa. Dia sendiri tidak yakin, apakah yang ada di foto itu adalah badut-badut berkostum—entah siapa—yang telah menculik dan melukai Gempa.
Atau 'sesuatu' yang lain.
"Bukan apa-apa."
Akhirnya hanya itu yang dikatakan Halilintar. Tatapan Solar menajam. Namun, dia tidak menanyakan apa-apa lagi sampai kakak tertuanya pergi meninggalkan kamarnya.
Ditatapnya sekali lagi foto yang masih terpampang di layar. Memang ada sesuatu yang aneh di sini. Walaupun Halilintar tidak mau mengatakan apa-apa, tapi Solar bisa menebak beberapa hal dengan mudah.
Tadi siang, Halilintar jelas-jelas pergi menemui ARC. Lalu, sekarang, dia memiliki foto aneh itu. Kemungkinan besar, foto tersebut didapatkannya dari ARC, bukan?
"Halilintar menanyakan kepada ARC, apakah mereka yang menculik Kak Gem," Solar menyuarakan pikirannya. "Lalu ... mereka menunjukkan foto ini ...?"
Artinya ... mungkin ketika bermaksud hendak menculik Gempa, mereka melihat sesuatu yang lain. Kemudian, mereka mengambil gambarnya.
"Manusia berkostum. Atau ...?"
Tatapan Solar kembali menajam. Diamatinya foto itu sekali lagi dengan seksama. Sosok berwujud manusia itu masih mungkin dianggap orang berkostum. Namun, sesuatu yang berwarna ungu di sampingnya, tidak mungkin itu manusia.
"Mustahil ..."
Dada Solar berdesir tajam. Serta-merta, pikirannya kembali kepada pemandangan yang telah dilihatnya di pantai. Motor aneh berwarna jingga itu. Lambang itu. Titik-titik yang tadinya tak beraturan itu kini mulai terhubung di dalam otaknya.
Satu pemikiran mengerikan terlintas, membuat Solar mengepalkan tangan. Saat ini, pemuda itu sungguh takut, kakak kesayangannya tengah terlibat sesuatu yang berbahaya.
"Kak Gem ..."
.
xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx
.
"Kak Gem memang enak ya, kalau ngajarin materi pelajaran kayak gini. Duri jadi cepet ngerti~"
Solar terhenti di ujung anak tangga saat dirinya bermaksud pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Pemuda itu refleks menyembunyikan diri. Matanya bergerak cepat ke arah datangnya suara tadi.
Ternyata Duri sedang berada di ruang tamu, bersama dengan Ice dan Gempa. Dilihat dari buku-buku yang berserakan di meja, sepertinya mereka sedang belajar bersama.
"Baguslah kalau Duri sudah paham," terdengar Gempa berkata ramah. "Kalau Ice, gimana? Masih ada yang belum dipahami?"
Ice yang sedang berbaring di sofa sambil membaca buku pelajaran miliknya, menanggapi dengan gumaman.
"Hmm ... Sementara ini, nggak ada sih, Kak," katanya kemudian.
"Baguslah," Gempa menyahut. "Tapi jangan baca sambil tiduran begitu. Nggak bagus buat kesehatan mata."
"Tuuh, dengerin, Kak Ice."
"Duri nggak usah ikutan cerewet."
"Ice, jangan gitu sama Duri, dong."
"Tapi, Kak Gem ... Duri iri deh, sama Kak Taufan. Nggak pernah belajar, tapi nilainya bagus terus~"
"Mungkin Kak Taufan belajar, tapi Duri nggak tahu."
"Masa'?"
"Kak Gem, aku berani bertaruh, paling-paling sekarang juga Kak Taufan lagi main gim bareng Blaze di kamar."
"Kak Ice, taruhan itu nggak baik, lho~"
"Apaan sih, Duri?"
Di persembunyiannya, Solar menggeretakkan rahang. Dadanya bergemuruh menyaksikan keakraban saudara-saudaranya dengan seseorang entah siapa yang kini menggunakan identitas Gempa.
Untuk sesaat, Solar terpikir, apakah ini saatnya mengkonfrontasi orang itu di hadapan saudara-saudaranya. Namun, remaja putra itu segera dilanda keraguan. Dia belum tahu siapa orang yang dihadapinya, dan apa tujuannya. Solar tidak ingin bertindak gegabah.
"Sedang apa kau?"
Solar nyaris terlonjak ketika suara datar itu menyapanya tiba-tiba dari belakang. Tidak usah menoleh pun, dia langsung tahu kalau itu Halilintar.
"Aku cuma mau ambil minum di dapur."
Solar beranjak. Halilintar mengerutkan kening, sedikit curiga. Ia mengikuti gerak-gerik adik bungsunya setelah itu. Namun, Solar benar-benar menuju dapur tanpa menoleh lagi. Sembari mengangkat bahu, Halilintar beranjak dari anak tangga terbawah, langsung menuju ruang tamu.
"Gem," panggilnya kemudian. "Aku mau bicara sebentar. Penting."
"Kak Haliii ... Duri kan lagi belajar sama Kak Gem~"
"Aku juga."
Halilintar mengabaikan protes dari kedua adiknya yang lain. Gempa tertawa kecil, lantas membujuk mereka untuk melanjutkan belajar berdua saja. Meninggalkan Ice dan Duri yang masih setengah tidak rela—walau mereka sendiri yang sebelumnya bilang sudah paham materi pelajarannya—Gempa mengikuti Halilintar naik ke lantai atas.
Dua menit kemudian, Gempa sudah berada di kamarnya sendiri. Dia duduk di depan meja belajar, sedangkan Halilintar berdiri bersedekap tak jauh darinya sambil bersandar ke dinding.
"Jadi ... Kak Hali mau bicara soal apa?"
Halilintar tersentak sedikit. Dia masih mencari kata-kata yang tepat untuk memulai. Memandang Gempa yang menatapnya dengan sorot mata bertanya-tanya, Halilintar akhirnya menghela napas.
"Tadi siang aku menemui ARC."
Ucapan Halilintar yang tanpa basa-basi itu, sontak mengejutkan adiknya.
"Kak Hali—"
"Aku tahu kamu mau bilang apa," Halilintar memotong. "Tapi aku tidak berkelahi dengan mereka. Hanya ... ada sesuatu yang ingin kutanyakan."
"Maksudnya ... Kak Hali mendatangi mereka untuk bicara?" tanya Gempa. "Sama sekali nggak terjadi perkelahian?"
"Tidak."
"Memangnya ... Kak Hali mau menanyakan apa?"
"Soal penyerangan terhadapmu, tentu saja."
Gempa tampak terkejut. "La ... Lalu?"
"Mereka bilang, bukan mereka yang menyerangmu." Halilintar menatap sang adik dalam-dalam. "Kamu ... belum ingat apa pun soal itu?"
Gempa hanya menggeleng dengan ekspresi sedih.
"Begitu ..." Halilintar menimbang-nimbang sejenak. "Sebenarnya, ada info yang kudapatkan dari Ezra, pemimpin ARC. Mungkin itu berkaitan dengan orang yang menyerangmu."
Gempa tersentak kecil.
"Aku pikir ... mungkin ... ini bisa membantu memulihkan ingatanmu," kata Halilintar lagi. "Gimana? Apa kamu mau melihatnya?"
Gempa terdiam beberapa detik. Ada sekelumit keraguan mewarnai ekspresinya. Namun, kemudian, tatapannya menajam. Ketika menatap Halilintar setelah itu, sorot matanya sudah lebih yakin.
"Kalau ada petunjuk, biarkan aku melihatnya."
"Kamu yakin?"
"Aku juga ingin ingatanku cepat kembali."
Kali ini Halilintar yang terdiam sekian detik. "... Baiklah."
Halilintar mengambil ponsel dari sakunya. Dibukanya sebuah foto dari galeri, kemudian diserahkannya ponsel itu kepada Gempa.
"Itu foto yang kudapatkan dari Ezra. Katanya, anak-anak ARC memang sempat punya niat jahat terhadapmu, sewaktu terakhir kali kamu pulang sendirian dari kegiatan OSIS. Lalu ... mereka melihat ada yang membuntutimu dan memotretnya. Apa ... kamu ingat sesuatu?"
Halilintar memperhatikan bagaimana adiknya menatap foto itu lekat-lekat. Ekspresinya berubah-ubah, awalnya tampak bingung, sampai kemudian matanya mulai berkaca-kaca.
"Gem? Kenapa? Ada yang kamu ingat?"
"Kak Hali ... aku—"
Ucapan Gempa terputus. Pemuda itu merintih tiba-tiba. Ia cepat-cepat meletakkan ponsel Halilintar di meja belajar, kemudian memejamkan mata rapat-rapat. Tak lama, ia bahkan memegangi kepalanya dengan sebelah tangan.
"Gem?" Halilintar mulai cemas. "Kepalamu sakit lagi?"
Gempa menggeleng pelan, masih tampak kesakitan.
"Gem, sudahlah. Kalau ini menyakitimu, tidak usah diingat lagi. Tenanglah dulu ..."
Apa pun yang dikatakan Halilintar, tampaknya sudah terlambat. Rupanya, apa yang ada di dalam foto itu, benar-benar sudah berhasil memicu ingatan Gempa. Dan sekarang hal itu sudah tak bisa lagi dihentikan.
Halilintar yang hatinya mulai dilanda penyesalan, berusaha menenangkan sang adik. Namun, percuma. Gempa semakin kesakitan. Dan tak lama kemudian, pemuda itu roboh tak sadarkan diri.
"GEMPA?!"
.
.
.
Bersambung ...
.
.
.
Pojok KOKOTiME
.
Halooo~! Pakabar, semuanya? \(^o^)
Berjumpa lagi di B.I.M. yang maaf banget, chapter kali ini sangat ngaret, setelah bulan lalu juga sudah sempat libur. (T▽T) /bow/
Tapi syukurlah, akhirnya bisa tetap update bulan ini, ehehe ... Oh ya, entah kenapa, ternyata banyak juga yang curiga sama Solar, yah? Ahahaha ... Jadi, pertanyaan kalian sudah terjawab di chapter ini, yah~ 😅 /pukpuk Solar/
Omong-omong, pengin bahas dikit nih, soal ARC. Ini bukan sekadar nama geng random, lho. Walau kepanjangan ARC di kisah ini—yaitu Awesome Rebel Club—memang cuma karangan para author-nya, tapi ARC aslinya memang benar-benar ada di serial BoBoiBoy Galaxy, walau nggak pernah disebutkan secara gamblang. Tepatnya adalah Alien Rescue Company. Ada yang pernah menemukannya pas nonton series Galaxy?
Akhir kata, terima kasih banyak buat semua atensi dan apresiasinya untuk B.I.M. Nantikan terus kelanjutannya, yah! Bubye~ (≧∇≦)/
.
Salam hangat,
kurohimeNoir from kurOrange
22 November 2020
