Chapter 4

Pertanyaan

.

.

"Gempa, hari ini kamu istirahat saja, ya?"

BoBoiBoy yang tengah berbaring di ranjang, mengerjapkan mata perlahan. Dibiarkannya Tok Aba mengelus kepalanya dengan lembut.

"Tapi, Tok," bantahan terlontar tanpa perlu berpikir lagi. "Atok tidak perlu bantuan di kedai?"

"Tidak apa-apa, Atok sudah biasa." Sang kakek tersenyum. "Toh saat yang lain pulang sekolah nanti, mereka bisa membantu Atok. Yang penting Gempa cepat sembuh."

Kata-kata lembut Tok Aba bagaikan oase di tengah padang gurun yang tak pernah gagal memberikan ketenangan.

"Sudah ya, Atok pergi dulu. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

BoBoiBoy memperhatikan bagaimana Tok Aba melangkah keluar, lalu menutup pintunya pelan. Meninggalkan dirinya sendirian di dalam kamar.

BoBoiBoy menghela napas sambil memandang langit-langit. Sejak Halilintar memperlihatkan foto itu semalam, entah kenapa kepalanya jadi terasa sakit. Tok Aba dan saudara-saudaranya pun merasa cemas. Alhasil, hari ini mereka menyuruhnya beristirahat saja di rumah.

Namun, meskipun rasa nyeri masih belum berhenti menyerang kepalanya, pikiran BoBoiBoy tidak bisa berhenti mengingat foto itu. Sebuah foto yang konon merupakan foto orang yang menyerangnya sehingga dia kehilangan ingatan.

Foto itu berisi sosok seseorang bertubuh pendek, dengan kepala yang terlihat sangat kotak, seperti kubus. Itu belum termasuk antena aneh yang ada di bagian atas kepalanya. Sosok di sampingnya bahkan tidak bisa dikatakan sebagai manusia. Bentuknya lebih menyerupai tudung saji raksasa, dengan keseluruhan tubuh berwarna ungu, serta mata merah menyala.

Meski kedua sosok tersebut bisa dibilang sangat aneh, tapi entah kenapa mereka tidak terasa asing. Perasaan itu membuat BoBoiBoy tidak bisa tenang, membuat dia sangat gelisah.

"Siapa sebenarnya mereka?"

.

.


KOKOTiME mempersembahkan:

"B.I.M. (BoBoiBoy In Multiverse)"

Ditulis oleh kurOrange (kolaborasi antara kurohimeNoir & Shaby-chan).

Disclaimer: "BoBoiBoy" dan segenap karakter di dalamnya adalah milik Monsta©. Tidak ada keuntungan material apa pun yang diambil dari fanfiksi ini.

Timeline: Setelah BoBoiBoy The Movie 2.

Canon-meets-AU. Elemental siblings.


.

.

"Harusnya aku tetap di rumah."

Sesaat BoBoiBoy menyesali keputusannya untuk keluar rumah, lalu pergi berjalan-jalan. Pasti Tok Aba dan yang lain akan memarahinya nanti.

Apa boleh buat, foto itu terus-menerus membayangi pikirannya. Akibatnya, dia jadi tidak betah di tempat tidur. Lagi pula kepalanya sudah tidak terlalu sakit, dan tubuhnya sudah baik-baik saja. Jadi tidak apa-apa, 'kan?

BoBoiBoy berjalan menyusuri gang-gang Pulau Rintis. Matanya memandang berkeliling. Rumah-rumah, jalanan yang lengang, dan lain sebagainya.

Dia memang merasa tidak asing dengan semua itu. Bahkan dia merasa mengingatnya walau samar-samar. Begitu pula dengan Tok Aba, Yaya, Ying, Gopal, dan Fang.

Namun, tiap kali ia mencoba mengingat tentang saudara-saudaranya, kepalanya terasa … kosong. Dia hanya bisa mengingat sekelebat warna-warna, yaitu merah gelap, biru, hitam-emas, merah terang, akuamarin, hijau, dan putih.

Kenapa aku tidak bisa mengingat mereka? Apa aku… benar-benar Gempa?

"HEI, KAU! BUKANKAH KAU SI KETUA OSIS YANG MENYEBALKAN ITU?!"

Suara teriakan itu sontak membuyarkan lamunan BoBoiBoy. Terlihat tiga orang bertubuh besar mendekatinya. Mereka memakai seragam sekolah, tapi cara memakainya jauh dari kata rapi.

"S-Siapa kalian?"

BoBoiBoy refleks mundur dua langkah. Perasaannya tidak enak.

"Heh, kau sok tidak mengenal kami, hah?!" bentak orang pertama. "Padahal kau sudah berkali-kali menyusahkan kami!"

"Dan kudengar kau sakit, ya? Tapi sepertinya kau sehat-sehat saja. Apa kau membolos? Sulit dipercaya orang sok rajin sepertimu membolos!" orang kedua menyindir dengan nada sinis.

"Yah, mumpung kami di sini, bagaimana kalau kami memberimu sedikit pelajaran, hei Ketua OSIS? Sekalian membalas perbuatan kakakmu pada ketua kami!" seru orang ketiga sambil mengepalkan tangannya.

BoBoiBoy menyurut mundur sekali lagi, merasa terancam. Dia tidak punya pilihan selain mengambil langkah seribu.

"JANGAN KABUR!"

Meskipun terkejut, ketiga orang itu segera mengejar.

BoBoiBoy berlari tak tentu arah. Dia hanya berpikir untuk lari tanpa peduli jalan yang ia pilih. Sebuah kesalahan fatal karena jalan terakhir yang dipilihnya ternyata buntu.

Kondisinya buruk sekarang. Dia terpojok. Musuh di depan, dinding di belakang.

"Hehehe ... kau mau ke mana, Ketua OSIS?"

Ketiga remaja berandal itu terkekeh. BoBoiBoy merapat ke dinding. Tubuhnya gemetar, mereka makin mendekat. Tatapan mereka sangat mengancam.

"Akhirnya kami bisa membalas dendam .… Bersiaplah!"

Ketiganya bergerak mengepung BoBoiBoy. Seringai memenuhi wajah-wajah mereka, membuat jantung mangsanya berdetak lebih cepat. Salah satunya mulai meregangkan jemarinya hingga mengeluarkan bunyi.

"J-Jangan ..." BoBoiBoy berkata lirih.

Tak ada tanda-tanda ketiga orang itu akan memberi belas kasihan. Mereka mengepalkan tangan, siap memukul. Tinju mereka mulai melayang ke arahnya.

"JANGAN!"

BZZZT!

"WAAAAAARGHH!"

BoBoiBoy membuka matanya. Tahu-tahu saja, ketiga remaja itu sudah terbaring di tanah. Baju mereka sedikit hangus, dengan rambut berdiri dan tubuh tampak kejang-kejang. Belum sempat BoBoiBoy mengatakan apa pun, mereka sudah kembali berdiri lalu lari terbirit-birit.

"SETAN! SETAAAN!" jerit mereka.

BoBoiBoy hanya bisa mematung bingung. Sama sekali tidak paham apa yang baru saja terjadi.

"Kenapa dengan mereka?"

Bzzztt!

BoBoiBoy memandang kedua tangannya. Dia baru menyadari kalau kini seluruh tubuhnya tampak mengeluarkan percikan listrik kekuningan. Namun, dia sama sekali tidak merasakan sakit atau tersengat.

"Apa … yang terjadi?"

Kepala BoBoiBoy tiba-tiba berdenyut. Nyeri dan tajam. Sementara, kilasan-kilasan aneh muncul di benaknya. Cepat dan berganti-ganti.

"BoBoiBoy Kuasa Tiga!"

"TAPOPS mengembara satu galaksi!"

"Aku ... Retak'ka. Aku datang untuk berjumpa denganmu, BoBoiBoy."

"Uuh .…"

Dari sudut matanya, BoBoiBoy dapat melihat petir yang keluar dari tubuhnya makin banyak, makin tak terkendali. Namun, kepalanya terlalu sakit untuk mengendalikannya.

"AAAAAAAHHHH!"

Badai petir seolah mengamuk di tempat sepi itu. Kemudian, pandangan mata BoBoiBoy menggelap.

.

xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx

.

"BoBoiBoy! Hati-hati! Ada bacaan energi misterius di area yang kamu tuju! Kemungkinan itu adalah lubang cacing!"

"Gopal! Tangkap Ochobot!"

DUARRR!

"AAAAAAAAAAAAH!"

BoBoiBoy langsung terbangun dan terduduk. Dia berada di tempat tidur. Seprai bermotif luar angkasa, atap miring, dan dinding yang ditempeli koran lama. Ini adalah tempat yang sangat ia kenali. Kamar tidurnya.

"Ah, ternyata hanya mimpi—"

"Kak Gem ... Kak Gem bikin kaget saja ..."

Tampak seseorang berusaha bangun dari lantai yang ada di samping tempat tidurnya sambil mengaduh kesakitan. Sepertinya dia terlompat karena terkejut dengan teriakan BoBoiBoy tadi.

"I-Ice?" panggil BoBoiBoy pelan.

"Iya, Kak Gem?" sahut Ice.

"Kamu benar-benar Ice?" tanya BoBoiBoy tak percaya.

"Iyalah, Kak Gem. Memangnya siapa lagi?" kata Ice. "Oh iya, kenapa tadi Kak Gem bisa di luar? Kak Gem kan harusnya istirahat."

Seketika, BoBoiBoy teringat kejadian beberapa saat sebelumnya, saat dia berjalan-jalan keluar. Hal itu membuatnya bergidik ngeri.

Ice tiba-tiba menepuk bahunya, mencoba menenangkannya.

"Tidak apa-apa, Kak Gem. Aku tidak akan bilang siapa-siapa."

Apa katanya? 'Tidak akan bilang siapa-siapa'? Apa maksudnya? Ini tentang apa?

BoBoiBoy menatap Ice. Anak kelima dari tujuh bersaudara itu hanya tersenyum tipis. Meneduhkan, sama seperti tatapan matanya.

Apa yang sudah dia lihat?

BoBoiBoy ingin bertanya, apa mungkin Ice sudah menyaksikan kuasa petirnya yang lepas kendali? Namun, ketika BoBoiBoy masih dilanda kebimbangan, Ice kembali bersuara dengan nada lembut.

"Yang penting sekarang Kak Gem istirahat lagi saja, ya?"

Ice lalu beranjak pergi meninggalkan kamar. Sementara, BoBoiBoy masih terduduk di tempat tidur. Dia masih merasa terguncang karena ingatannya sudah kembali sepenuhnya.

Namaku BoBoiBoy.

Aku adalah pahlawan Bumi dan pelindung galaksi, pemilik kuasa tujuh elemental.

Aku anggota TAPOPS. Tracker And Protector Of Power Sphera.

Aku memiliki teman Power Sphera bernama Ochobot. Dia yang memberi kuasa padaku, Yaya, Ying, Gopal, dan Fang.

Fakta-fakta itu terus berputar di kepala BoBoiBoy. Membuatnya dipenuhi rasa terkejut yang berujung pada begitu banyak pertanyaan.

Di mana ini? Kenapa tempat ini sama persis dengan Pulau Rintis?

Kenapa pecahan elementalku bisa ada di sini? Siapa mereka?

Lalu ... kenapa Yaya, Ying, Gopal, dan Fang tampak berbeda dari yang kukenal?

BoBoiBoy berusaha mencari jawaban dengan menggali ingatannya.

Dia teringat, waktu itu dirinya mengejar Adu Du yang lagi-lagi menculik Ochobot. Dia berhasil mengambil Ochobot kembali, tapi Adu Du menembaknya. Dia hanya sempat melemparkan Ochobot pada Gopal, sebelum tembakan itu menghilangkan kesadarannya.

BoBoiBoy lalu teringat tentang peringatan Komandan Koko Ci bahwa mereka mendeteksi keberadaan energi misterius yang diduga merupakan lubang cacing. BoBoiBoy pernah mendengar, katanya lubang cacing itu terhubung dengan tempat atau bahkan dimensi lain.

"Jadi … aku telah tertarik ke lubang cacing?! Dan ini ... adalah ... dimensi lain?!" seru BoBoiBoy tak percaya. "Aku harus segera kembali ke Stasiun TAPOPS!"

BoBoiBoy langsung beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan menuju lemari. Diambilnya baju, jaket, dan celananya yang sudah dicuci dan terlipat rapi di dalamnya. Dia bergegas mengganti bajunya.

BoBoiBoy baru saja mengambil topinya saat matanya terpaku sebuah foto yang terpajang di meja. Foto berisi ketujuh elementalnya sedang tersenyum ke arah kamera. Dia melihat pecahan elemennya, Gempa, berada di tengah-tengah mereka berenam.

BoBoiBoy lalu teringat hari-hari yang dilewatinya bersama pecahan elementalnya. Sepertinya mereka hidup bersama seperti saudara kembar di dimensi ini. Halilintar yang pemarah tapi sebenarnya perhatian, Taufan yang ramah dan ceria, Blaze yang penuh semangat, Ice yang tenang, Duri yang polos dan manis, serta Solar yang cerdas.

Bagi BoBoiBoy mereka hanyalah klon dari kuasa elementalnya. Namun, di sini mereka hidup sebagai keluarga yang saling menyayangi. Fakta itu membuat BoBoiBoy menyadari ada yang janggal.

Kalau mereka semua menganggapku sebagai Gempa … lalu di mana Gempa yang merupakan saudara mereka?

BoBoiBoy langsung teringat foto misterius itu. Sosok aneh di dalam foto yang awalnya tidak dikenali, dengan ingatan Boboiboy yang telah kembali, berhasil ia kenali identitasnya.

Adu Du dan Probe!

"Adu Du ... Dia mengikutiku sampai ke sini dan dia mengira Gempa itu aku!" simpul Boboiboy geram.

Dia tak sanggup membayangkan apa yang terjadi pada Gempa saat ditangkap Adu Du.

"Aku harus menyelamatkan dia!"

BoBoiBoy bergegas berlari keluar kamar. Baru saja BoBoiBoy melangkah keluar, dia menemukan Solar menghalangi jalannya. Kedua tangannya terlipat.

"S-Solar?" panggil BoBoiBoy.

"Hai, Kak Gem. Kenapa buru-buru?" tanya Solar.

Meski kata-katanya Solar terdengar ramah, tapi BoBoiBoy tahu dari balik kacamatanya Solar sedang menatapnya tajam.

"M-Maaf, Solar. Aku harus pergi—"

"Mau pergi ke mana, hah? Kamu mau kabur, ya?"

Suara Solar kini terdengar seperti mengintimidasi. BoBoiBoy waswas. Memang di antara mereka berenam, hanya Solar yang selalu menjaga jarak, bahkan menaruh curiga padanya. Apa Solar sudah tahu dia bukan Gempa?

"A-Apa maksudmu, Solar?" tanya BoBoiBoy gugup.

"Jangan pura-pura tidak tahu, penipu!"

Ucapan tajam Solar membuat BoBoiBoy tersentak.

"Kamu mungkin bisa mengelabuhi Tok Aba dan saudara-saudaraku, tapi kamu takkan bisa mengelabuhiku!"

Solar lalu mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto. Di dalam foto itu, tampak jelas motor milik BoBoiBoy yang berasal dari kuasa Motobot. Meskipun tampak rusak, tapi simbol petir berbentuk 'B' di bagian depannya masih terlihat jelas.

"Aku sejak awal sudah curiga! Topimu tidak sama dengan topi Kak Gem. Kak Gem juga bukan orang yang suka ganti model baju! Dan motor aneh ini .… Ini milikmu, 'kan?! Simbol di motor ini sama persis dengan simbol di topimu!"

Solar tiba-tiba menarik kerah baju BoBoiBoy. Dia tampak sangat marah.

"Kamu sebenarnya siapa, hah?! Kenapa wajahmu sama persis dengan kami?! Kenapa kamu datang kemari dan menyamar menjadi Kak Gem?! Apa yang kamu lakukan pada Kak Gem yang asli?! JAWAB!"

BoBoiBoy meneguk ludah, merasa terkejut dengan pertanyaan bertubi-tubi Solar. Dia sempat berpikir untuk menjelaskan semuanya, tapi dia tidak yakin Solar akan menerimanya.

Bagaimana ini?

.

.

.

Bersambung ...

.

.

.


Pojok KOKOTiME

.

Hai, halooo~! \(^o^)

Seperti yang sudah-sudah, chapter yang ditulis dengan mengikuti sudut pandang BoBoiBoy adalah hasil karya Shaby-chan. Tapi, kali ini Noir yang mewakili buat menyapa para pembaca di sini. Soalnya, Shaby masih bertapa di tempat terpencil tanpa akses ke alat-alat teknologi. Sama seperti BoBoiBoy dan Gopal ketika berguru kepada Tok Kasa. Hm, hm ... /plak

Di chapter ini, akhirnya ingatan BoBoiBoy kembali. Cerita hampir mencapai klimaks, nih.

Jadi, bagaimana nasib Gempa asli yang (mungkin) berada di tangan Adu Du dan Probe?

Ikuti terus kelanjutan kisahnya~ 👀✨

.

Regards,

kurOrange

17 Desember 2020