Chapter 5
Pengakuan
.
.
"Ck! Keras kepala sekali dia!"
Adu Du berucap kesal sembari mengenyakkan diri pada kursi terdekat. Matanya menatap jemu kepada musuh bebuyutannya yang kini tak sadarkan diri. Terikat ke papan baja pada kedua pergelangan tangannya.
"Mmm ... Incik Bos?" Probe mendekat. "Jangan-jangan dia sungguh hilang ingatan? Kalau tidak, mana mungkin dia tidak tahu siapa kita?"
Adu Du dan Probe memandang sosok yang sangat mereka kenali sebagai BoBoiBoy Gempa itu.
"Bisa juga dia cuma berpura-pura," kata Adu Du kemudian.
"Tapi Incik Bos, dulu juga pernah seperti ini, 'kan? Dia hilang ingatan karena berpecah terlalu lama?" komentar Probe. "Kalau memang begitu 'kan, percuma saja kita memaksanya. Apalagi sampai menyetrum segala. Anak orang, gimana kalau kenapa-kenapa?"
Adu Du memutar bola matanya. "Dia ini BoBoiBoy, lah! Dia punya kuasa petir. Sedikit listrik tidak akan terlalu ... menyakitkan."
Tatapan jahat mewarnai mata Adu Du.
"Incik Bos sungguh kejam—ADUH!"
Cangkir melayang ke badan robot ungu Probe.
"Kenapa Incik Bos melempari akuu, huhuhuu ..."
"Diam!" Adu Du berseru kesal. "Hmmm ... Tapi benar juga katamu. Kalau begitu ... ada kemungkinan pecahan-pecahan elementalnya yang lain telah membawa lari Ochobot."
"Hm, hm. Betul itu, Incik Bos."
Adu Du berbalik, lantas menghadapi komputer canggih, basis data sekaligus navigator kapal angkasanya.
"Computer, cari keberadaan pecahan-pecahan elemental BoBoiBoy yang lain!"
"Uuh ... Soal itu, Bos," suara lembut wanita mengalun dari si komputer. "Ada yang harus saya katakan—"
"Apa pun itu, bisa menunggu nanti!" Adu Du memotong tak sabar. "Ini lebih penting. Cepat, cari BoBoiBoy dan Ochobot!"
"Baik, Bos."
.
.
KOKOTiME mempersembahkan:
"B.I.M. (BoBoiBoy In Multiverse)"
Ditulis oleh kurOrange (kolaborasi antara kurohimeNoir & Shaby-chan).
Disclaimer: "BoBoiBoy" dan segenap karakter di dalamnya adalah milik Monsta©. Tidak ada keuntungan material apa pun yang diambil dari fanfiksi ini.
Timeline: Setelah BoBoiBoy The Movie 2.
Canon-meets-AU. Elemental siblings.
.
.
"Kamu sebenarnya siapa, hah?! Kenapa wajahmu sama persis dengan kami?!"
BoBoiBoy masih terdiam sampai beberapa saat setelah Solar tiba-tiba merangsek maju, lantas mencengkeram kerah jaketnya. Dia bisa merasakan kemarahan, juga kegelisahan yang tak terbendung lagi dari dalam diri Solar.
"Kenapa kamu datang kemari dan menyamar menjadi Kak Gem?! Apa yang kamu lakukan pada Kak Gem yang asli?!"
BoBoiBoy pun mulai gelisah. Namun, dia ragu. Haruskah bercerita, yang artinya akan melibatkan keluarga ini lebih dalam?
Dia tahu dia harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa Gempa. Dia akan bertanggung jawab. Dan untuk itu, dia tak ingin ada siapa pun lagi yang terancam bahaya.
Pasti.
"JAWAB!"
BoBoiBoy tersentak. Matanya bersitatap dengan sepasang netra beriris cokelat milik Solar. Mata itu tampak goyah. Bermacam-macam emosi yang sangat kuat, kini berkecamuk di dalamnya.
Tangan BoBoiBoy terulur. Digenggamnya pergelangan tangan Solar, membuat pemuda itu terkejut dan langsung melepaskan cengkeramannya. Solar menarik tangannya kembali dengan kasar. Ditatapnya sosok asing di hadapannya itu dengan tajam.
"Maafkan aku," kata BoBoiBoy kemudian. "Aku sudah melibatkan kakakmu dalam semua ini. Tapi jangan khawatir, aku akan memperbaiki semuanya."
"Ap—"
"Kuasa Elemental! BoBoiBoy Solar!"
Di depan mata Solar, tubuh BoBoiBoy diselimuti cahaya terang. Dan ketika cahaya itu menghilang, Solar seperti melihat pantulan dirinya sendiri di dalam cermin. Tepat di hadapannya.
"K-Kau—"
Solar kehilangan kata-kata. Dia refleks mundur hingga tiga langkah. Saat itulah, dia baru menyadari betapa jantungnya berdebar kencang.
Ada orang tak dikenal di rumahnya, dan mengambil tempat kakaknya. Lantas, sekarang ... orang itu bisa berubah wujud menjadi persis seperti dirinya?!
Solar berusaha menarik dan mengembuskan napas perlahan, mencoba untuk tetap tenang. Dadanya masih menderu tak keruan, sementara tangannya gemetar. Hanya dua-tiga detik, Solar mengepalkan tangan, sembari menguatkan diri.
"Kau ... siapa?" ia bertanya, masih sambil menatap tajam. "Kau ini ... makhluk apa?"
Di hadapannya, BoBoiBoy Solar menghela napas. Lantas kembali ke wujudnya semula.
"Maaf, sudah membuatmu terkejut," katanya. "Tapi lebih mudah kalau langsung menunjukkannya seperti ini, 'kan."
Solar tidak menyahut, masih menaikkan kewaspadaan hingga level tertinggi.
"Namaku BoBoiBoy," sang superhero elemental memperkenalkan dirinya sambil tersenyum ramah. "Aku tidak sedang menyamar. Ini wajah asliku. Dan selama tinggal di sini, seperti yang kamu tahu, aku memang dalam keadaan hilang ingatan. Hari ini, aku baru saja bisa mengingat semuanya."
Kening Solar berkerut. Saat melihat senyum BoBoiBoy barusan, ia seketika teringat kepada kakaknya sendiri, Gempa. Benar-benar mirip. Lebih dari itu, ia mulai merasa bahwa orang yang mengaku bernama 'BoBoiBoy' ini bukanlah orang jahat.
Walaupun, jujur saja, namanya aneh.
"Uuh ... Panjang sekali kalau mau diceritakan," BoBoiBoy masih melanjutkan. "Intinya, aku terdampar di sini ketika sedang melawan alien jahat. Dan sepertinya, alien jahat itulah yang telah menculik kakakmu, Gempa, karena salah mengira dia adalah aku."
Solar tersentak. Serta-merta ia teringat foto yang ditunjukkan oleh Halilintar pada malam sebelumnya.
"Seperti apa rupa alien jahat itu?" tanya Solar kemudian dengan tatapan penuh selidik.
"Alien hijau berkepala kotak. Namanya Adu Du," BoBoiBoy menjawab. "Seharusnya ada juga robot ungu berbentuk seperti tudung saji bersamanya. Namanya adalah Probe."
Sepasang mata Solar membulat di balik kacamata. Deskripsi barusan sama persis seperti foto itu.
"Semalam, Halilintar menunjukkan foto orang-orang yang dicurigainya menculik Gempa. Walau tidak terlalu jelas, aku yakin itu Adu Du dan Probe," terang BoBoiBoy. "Berkat foto itu juga, akhirnya ingatanku kembali."
Mata Solar menajam, masih diwarnai kecurigaan.
"Baiklah, mungkin aku bisa memercayai cerita itu," katanya. "Tapi sebelum itu, jawab pertanyaanku. Kau bilang kau terdampar? Apa itu berarti kau juga datang dari luar angkasa? Kau ... alien juga?"
"Mmm ... Bagaimana, ya? Aku sendiri juga masih sedikit bingung." BoBoiBoy berpikir sejenak. "Aku sebenarnya juga berasal dari Bumi, tapi bukan Bumi yang sama dengan kalian."
"Apa?"
"Saat sedang bertarung dengan Adu Du dan Probe di luar angkasa, tiba-tiba kami tertarik ke dalam lubang cacing. Aku menduga ... mungkin ... lubang cacing itu menghubungkan dua dimensi yang berbeda. Yaitu duniaku dan duniamu."
Mata Solar melebar seketika.
"Teori multiverse!" Nada suara Solar yang mendadak antusias, mengejutkan BoBoiBoy. "Jadi ... kau datang dari dimensi lain? Alam semesta yang lain?"
"Sepertinya." BoBoiBoy menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Di duniaku, semuanya hampir sama seperti di sini. Hanya saja, ada alien. Dan ada orang-orang yang memiliki kekuatan seperti aku. Kami menjadi superhero yang membasmi kejahatan."
Solar mendengarkan dengan seksama. Cerita ini sungguh menarik baginya.
"Semuanya sangat mirip. Aku sama sepertimu, cucu dari Tok Aba, berkawan dengan Yaya, Ying, Gopal, Fang. Satu-satunya yang berbeda adalah ... aku anak tunggal."
"Eh?"
"Jika di sini kalian adalah tujuh bersaudara kembar, maka aku adalah BoBoiBoy, yang memiliki tujuh macam kekuatan elemen. Halilintar, Taufan, Gempa, Blaze, Ice, Duri, dan Solar. Itu adalah nama-nama kuasa elemental milikku."
Tatapan Solar yang tadinya penuh curiga, kini telah berubah menjadi tatapan takjub. Dadanya masih berdebar-debar, tetapi kini penyebabnya berbeda. Dia merasa sangat antusias akan pengetahuan baru yang melebihi semua yang diketahuinya selama ini.
"Keren."
Solar berucap tanpa sadar. Namun, sedetik kemudian, ia tersentak.
"Lalu, Kak Gem bagaimana?" Kecemasan kembali mewarnai ekspresi Solar. "Maksudmu ... sekarang Kak Gem ada di tangan alien kepala kotak itu?"
"Aku khawatir, memang seperti itu—"
"Apa ini artinya Kak Gem sekarang dalam bahaya?!"
BoBoiBoy terdiam. Solar menjadi tidak sabar. Ia memegangi kedua bahu BoBoiBoy dan mengguncangnya.
"Kak Gem dibawa ke mana?! Kita harus mencarinya. Aku akan mencarinya!"
"Tidak, Solar! Kamu tetap di sini. Biar aku saja."
"Tapi—"
"Terlalu berbahaya! Biarkan Adu Du menjadi urusanku."
Giliran Solar yang terdiam. Di antara kecemasan, dia masih bisa berpikir panjang. Dirinya yang tidak punya kekuatan apa-apa, pasti akan kesulitan menghadapi alien yang diceritakan oleh BoBoiBoy itu. Dan kalaupun ia ikut mencari bersama, besar kemungkinan dirinya hanya akan menjadi beban.
Solar tak ingin mengakuinya, tetapi ia tahu, lebih baik jika untuk saat ini dia menyerahkan semuanya kepada BoBoiBoy.
"Apa kau tahu, di mana harus mencari Kak Gem?" tanya Solar kemudian.
"Aku punya dugaan," sahut BoBoiBoy. "Antara Adu Du membiarkan kapal angkasanya tetap melayang di angkasa, atau bersembunyi di suatu tempat. Misalnya ... di area pembuangan sampah, atau di mana pun yang sepi."
Solar menarik napas panjang. Ia melepaskan kacamatanya setelah itu, lantas menatap BoBoiBoy dalam-dalam. BoBoiBoy melihat netra beriris cokelat madu yang sama persis dengannya, dimiliki oleh wajah yang juga bak pinang dibelah dua dengan dirinya. Sepasang mata itu berkaca-kaca.
"BoBoiBoy," Solar berkata, suaranya bergetar samar. "Tolong ... selamatkan Kak Gem."
Satu bulir air mata mengalir membasahi pipi kanan Solar tanpa suara. Pemuda itu cepat-cepat menghapusnya, lantas kembali menatap BoBoiBoy. Sang superhero elemental tersenyum menenangkan, tipis saja.
"Aku berjanji padamu, Solar." BoBoiBoy menepuk pundak Solar dengan lembut. "Aku pasti akan menyelamatkan Gempa!"
.
xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx
.
"Kak Upan ... Jadi Kak Gem yang ada di rumah kita itu beneran bukan Kak Gem yang asli? Terus, Kak Gem yang asli sekarang diculik alien kepala kotak?"
Pertanyaan itu akhirnya terlontar dari mulut Duri. Dia bersama Taufan dan Blaze sedang berjalan bersama menuju tempat pembuangan sampah terbesar di Pulau Rintis. Sepanjang jalan, Duri terus terdiam, seperti sedang serius memikirkan sesuatu. Benar-benar tidak seperti Duri yang biasanya.
"Gimana sih, Duri?" Blaze yang menyahut. "Tadi kan kita udah dengar sendiri, waktu kita nguping pembicaraan dia sama Solar."
"Tapi Kak Gem yang ada di rumah itu rasanya memang kayak Kak Gem~"
Taufan tersenyum tipis. Ditepuknya kepala Duri dengan lembut untuk menenangkan sang adik.
"Iya, Kakak tahu," katanya sambil tersenyum lebar. "Dia mungkin bukan Gempa, tapi dia orang yang baik. Duri mau bilang itu, 'kan?"
Duri mengangguk, lantas ikut tersenyum. "Walau bukan Kak Gem, tapi Duri tetap sayang sama dia. Nggak apa-apa 'kan, Kak?"
"Tentu saja."
"Special Hot Chocolate buatannya juga enak, hehehe ..."
Taufan tersenyum lega ketika melihat Duri sudah kembali ceria, walaupun kegelisahan mereka belum terhapus sepenuhnya. Mereka bertiga pun berbincang ringan, hingga akhirnya tiba di tempat pembuangan sampah.
"Kak Upan, Duri! Lihat itu!"
Seruan Blaze yang telah lebih dahulu berlari mendahului kedua saudaranya, sontak menarik perhatian Taufan dan Duri. Tak jauh di hadapan mereka bertiga, di tengah-tengah tempat pembuangan sampah yang tidak ada siapa-siapa di sana, berdiri tegak sebentuk benda raksasa dari besi baja.
Sesuatu yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya, kecuali dari film-film atau serial televisi.
"UWAAAAAH! UFO!"
Ketiga bersaudara itu langsung berseru heboh. Sebelum akhirnya Taufan membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, diikuti kedua adiknya. Taufan lantas meletakkan jari telunjuknya di bibir, sementara Blaze dan Duri langsung ikut-ikutan.
"Ssst ..." Ketiganya kompak memberi isyarat untuk diam.
"Jangan berisik," bisik Taufan.
Blaze ikut-ikutan berbisik, "Terus gimana sekarang, Kak? Kita masuk ke UFO itu?"
"Apa di dalamnya ada alien kepala kotak?" tanya Duri sambil memiringkan kepala. "Galak enggak?"
"Gimana kalau alien itu punya senjata laser?" tambah Blaze. "Atau bisa menembakkan beam dari matanya?!"
"Huweee ... Kaaak, Duri takuuut~"
"Hmmm ..." Taufan menimbang-nimbang. "Tapi ... mungkin ada Gempa di dalam."
Trio Pembuat Masalah dari tujuh bersaudara itu saling pandang. Tak perlu waktu lama, ketiganya sudah mencapai kesepakatan sambil tersenyum lebar.
.
xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx
.
Taufan, Blaze, dan Duri berjalan dengan mengendap-endap menyusuri lorong-lorong di dalam kapal angkasa yang ternyata sangat luas berliku. Sejauh ini, tidak ada siapa pun yang mereka temui di tempat itu.
Ruang demi ruang yang mereka temui, selalu kosong. Hingga akhirnya, ketiga remaja itu menemukan sebuah lorong yang kelihatan sangat panjang, seolah tak berujung. Tanpa banyak pertimbangan, mereka menyusuri lorong itu, hingga akhirnya tiba di depan sebuah pintu baja yang tertutup rapat.
"Ruangan apa ya ini?" tanya Duri.
Blaze langsung menyambung, "Mencurigakan."
Sementara, Taufan sudah bergerak memeriksa seluruh bagian pintu. Benar-benar rapat tanpa celah.
"Gimana cara membukanya?" tanya Taufan, lebih kepada berdialog dengan dirinya sendiri.
"Kak Upan, Kak Aze," tiba-tiba Duri memanggil. "Ini apa, ya?"
Taufan dan Blaze menoleh. Duri tampak berdiri di depan tombol merah, tepat di sisi pintu. Blaze segera datang mendekat.
"Pencet aja!"
"WOI!"
Tanpa banyak cakap, Blaze menekan tombol itu, mengundang protes dari Taufan. Namun, detik berikutnya, pintu baja langsung terbuka.
"Kan?" kata Blaze sembari tersenyum lebar.
Ketiga bersaudara itu segera masuk ke dalam ruangan. Di dalamnya hampir kosong. Yang paling menarik perhatian adalah di salah satu sisinya, di dekat salah satu dinding baja, terdapat satu area yang dikelilingi semacam dinding tembus pandang yang terbuat dari kaca. Ke atas dan bawahnya terhubung ke langit-langit dan lantai, tanpa ada celah sedikit pun.
Seketika itu juga, Duri terkesiap. "KAK GEM!"
Duri berlari mendekat, diikuti Taufan dan Blaze. Area berdinding kaca itu tampaknya sebuah penjara. Dan di dalamnya, tampak sesosok tubuh terbaring. Sepertinya tidak sadarkan diri. Taufan dan Blaze melihat lebih dekat dengan seksama, dan ternyata memang benar seperti yang dikatakan oleh Duri.
Sosok di dalam penjara itu adalah Gempa!
"Kak Gem!"
"Gempa!"
Blaze dan Taufan berseru berbarengan. Sementara, Duri menyentuh dinding kaca penjara, lantas refleks menarik kembali tangannya sambil mengaduh.
"Akh?!"
"Duri, kenapa?" tanya Taufan.
"Nyetrum, Kak," Duri menjawab.
Sepasang mata Duri berkaca-kaca, kemudian ia kembali mengulurkan tangannya hendak menyentuh dinding kaca penjara itu. Taufan cepat-cepat mencegah dengan memegangi pergelangan tangan adiknya.
"Ya udah, kalau gitu jangan disentuh!" Taufan berkata.
"Tapi, Kak Gem—"
Ucapan Duri terputus karena dinding kaca mendadak terbuka dengan bergerak menggeser ke samping. Perhatian Taufan dan Duri lantas teralih ke arah Blaze yang berdiri di depan dinding terdekat. Ada sebuah tombol merah lagi di sana, dan tampaknya Blaze baru saja menekan tombol itu.
"Aze~!" Taufan langsung menghela napas sambil geleng-geleng kepala. "Jangan sembarangan pencet. Ntar kalau kenapa-kenapa, gimana?"
Blaze terkekeh garing. "Tapi kebuka, 'kan? Ehehe ..."
"Dasar!" Taufan memutar bola matanya. "Omong-omong, keamanan di tempat ini payah sekali. Gampang banget dibukanya ..."
Seketika Taufan teringat, bagaimana pintu masuk pesawat angkasa ini pun terbuka sendiri sewaktu mereka bertiga berdiri di depannya.
"KAK GEM!"
Taufan dan Blaze tersentak ketika mendengar seruan panik Duri. Anak itu sudah mendekati Gempa dan berlutut di dekatnya.
"Gem!"
"Kak Gem!"
Taufan ikut mendekat lalu berlutut di dekat adik pertamanya, diikuti oleh Blaze. Pemuda yang gemar berpakaian biru itu meringis saat melihat kondisi Gempa yang tak sadarkan diri. Ada bekas kemerahan di kedua pergelangan tangannya. Apakah itu bekas terikat oleh sesuatu? Tali, borgol, atau semacamnya.
Selintas desir tajam menyakiti dada Taufan. Namun, ia segera menguatkan diri. Yang terpenting sekarang adalah membawa Gempa keluar dari tempat ini!
"Kak Upan ... Kenapa Kak Gem nggak buka mata?" Duri mulai menangis. "Terus, Kak Gem juga luka-luka ... Duri takut ..."
Sementara, Blaze terdiam. Matanya berkaca-kaca.
"Kak Upan," katanya. "Gimana kalau Kak Gem—"
"Aze, Duri," Taufan memotong. "Jangan mikir apa-apa. Pokoknya kita harus bawa Gempa pulang. Oke?"
Duri cepat-cepat menghapus air matanya. Ia bertukar pandang dengan Blaze. Lantas keduanya menatap Taufan, dan mengangguk kompak.
.
xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx
.
Taufan berjalan dengan hati-hati, sembari menggendong Gempa di punggungnya. Sementara, Duri dan Blaze bergerak duluan di depan, sama hati-hatinya. Menyusuri lorong demi lorong kapal angkasa, memastikan keadaan aman, sehingga mereka bisa keluar tanpa terdeteksi.
Ketiga bersaudara itu akhirnya sampai di pintu keluar-masuk pesawat yang masih terbuka. Mereka menghela napas lega, karena tidak bertemu dengan siapa pun penghuni pesawat alien ini.
"HEI! BERHENTI!"
Seruan itu membuat ketiganya membatu. Memang tidak akan semudah itu, ya ...
Saat menoleh ke belakang, yang mereka lihat adalah robot ungu berbentuk aneh yang melayang bebas.
"WAAA! TUDUNG SAJI RAKSASAAA!" Duri berteriak panik.
"AKU BUKAN TUDUNG SAJI, LAH!" si robot bermata merah memprotes. "NAMAKU PROBE!"
"UWAAAH!" Duri kembali berteriak. "TUDUNG SAJINYA BISA NGOMOOONG!"
"WOI—"
Sebelum robot bernama Probe itu sempat memprotes lagi, dari arah belakang terdengar seruan.
"Probe! Siap-siap bertempur!"
Probe melihat sosok Adu Du berlari mendekat.
"Siap, Incik Bos!" serunya seraya bersiap memasuki mode tempur. "Mecha Probe!"
"Tak kusangka, kau yang datang sendiri menemuiku, BoBoiBoy!" kata Adu Du sesampainya di dekat Mecha Probe. "Jadi aku tidak perlu lagi mencarimu!"
"BoBoiBoy?" ulang Taufan.
Blaze tertawa terbahak-bahak. "Bwahahahaha ... Nama aneh macam apa itu?"
Duri dan Taufan pun akhirnya ikut tertawa.
"Haish! Benar kan kataku, Incik Bos?" kata Probe. "Mereka ini pasti hilang ingatan karena terlalu lama berpecah."
"AARGH! DIAM!" Adu Du yang mulai kesal, berseru membentak. "BoBoiBoy! Katakan! Di mana kau sembunyikan Ochobot?!"
"Ochobot?" ulang Duri sambil memiringkan kepalanya. "Apa itu? Nama kucingmu?"
"Bukan, lah! Dia itu Power Sphera!"
"Power ... apa?" kali ini Taufan yang bertanya penasaran.
Adu Du hilang kesabaran. "Apa kau ini sudah tidak waras, hah?!"
"Tuh kan, benar kataku, Incik Bos?" kata Probe. "BoBoiBoy sudah hilang ingatan seperti dulu!"
"Masa bodoh! Kita harus rebut kembali Ochobot!"
Adu Du segera masuk ke kokpit Mecha Probe.
"Sebentar, Incik Bos—"
"Apa lagi?!"
"Lihat, jumlah mereka ada empat." Probe memastikan hitungannya sekali lagi. "Biasanya BoBoiBoy selalu berpecah dalam jumlah ganjil, 'kan? Berarti ... masih ada satu pecahan elemental lagi."
"Mau genap, mau ganjil, aku tidak peduli! HANCURKAN MEREKA DAN REBUT OCHOBOT!"
"Siap, Incik Bos!"
Kokpit menutup. Mecha Probe mengeluarkan persenjataan, lantas mengarahkannya kepada para elemental bersaudara.
"LARIIIIIII!"
Dengan aba-aba dari Taufan, masih sambil menggendong Gempa, ketiganya berlari meninggalkan pesawat angkasa.
"Hah?!" Adu Du yang sudah mengira akan terjadi pertarungan, sempat melongo. "KEJAR, PROBE!"
"SIAP!"
Mecha Probe, dengan Adu Du di dalam kokpitnya, mulai bergerak mengejar. Sementara, ketiga bersaudara yang membawa Gempa, hanya bisa terus berlari sekencang yang mereka bisa.
"HUWAAAAAAA—"
Sayang seribu sayang, berlari sambil menggendong Gempa, membuat kecepatan dan kegesitan mereka tak bisa maksimal. Dalam sekejap, mereka tersusul. Probe bergerak mendahului mereka, kemudian menempatkan diri menghadang jalan mereka.
"Eits! Mau lari ke mana kalian?" kata Probe.
Blaze dan Duri bergerak merapat pada kedua kakak mereka. Situasi berbahaya ini membuat mereka mulai ketakutan.
"Tangkap mereka, Probe!" perintah Adu Du.
"Siap, Incik Bos!"
Tangan-tangan besi Probe terulur, siap mencengkeram para target yang sepertinya takkan memberikan perlawanan.
"WAAAAAAA!"
Taufan, Blaze, dan Duri hanya bisa berteriak. Namun, sebelum tangan Probe menyentuh ketiganya, sesuatu memelesat datang dalam kilatan merah. Dan detik berikutnya, sosok seseorang sudah berdiri tegak tepat di hadapan mereka, menahan tangan besi Probe dengan sepasang pedang yang diselimuti kilatan listrik merah. Kilatan yang sama juga menyelimuti seluruh tubuhnya yang identik dengan pakaian serba merah-hitam.
"Eh?! K-Kak Hali?!"
.
.
.
Bersambung ...
.
.
.
Pojok KOKOTiME
.
Hai, haiii~! \(^o^)
Walau lagi-lagi harus telat, B.I.M. chapter 5 akhirnya bisa terbit dengan selamat. /bow/
Mohon maaf, para pembaca sekalian, karena sejak akhir tahun kemarin, Noir ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Mohon doanya juga supaya semuanya lancar.
Dan omong-omong ... DESKTOP MODE MENGHILANG DARI FFN MOBILE! Sungguh bencana buat author yang mengandalkan hape, karena nggak punya laptop, seperti saia~ (T▽T) /jan curhat, nak/
Publish dari app sungguh menguji kesabaran, karena format naskah jadi rusak, dan semua enter yang memisahkan paragraf jadi lenyap! Butuh banyak waktu buat edit lagi secara manual.
Yak! Cukup curcolnya! Yang jelas, kisah ini sudah makin mendekati klimaksnya. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Simak terus di chapter mendatang.
Sampai jumpa lagi, dan tetap semangat~! (≧∇≦)/
.
Salam hangat,
kurohimeNoir from kurOrange
19 Januari 2021
