Chapter 6

Pertarungan

.

.

"Uuh …. Tidak ada …. Di mana lagi, ya?"

BoBoiBoy, dengan mode kuasa Taufan, terbang dengan perasaan campur aduk. Gelisah, khawatir, kecewa. Mencari Adu Du di dimensi ini ternyata lebih sulit daripada yang ia kira.

Awalnya, BoBoiBoy menduga Adu Du akan membuat kapal angkasanya tetap melayang di langit supaya keberadaannya tidak diketahui. Namun, BoBoiBoy sudah menelusuri seluruh bagian langit Pulau Rintis dan hasilnya nihil.

Sekarang BoBoiBoy mencari di tempat di mana Adu Du pernah memarkir kapal angkasanya dulu. Pasti Adu Du akan memilih tempat yang familier baginya. Pertama, dia pergi menuju tempat pembuangan sampah yang di dunia aslinya adalah tempat Markas Kotak berada. Namun, tidak ada apa-apa. Kemudian, dia pergi ke tempat pembuangan barang bekas, di mana dulu mereka pernah bertarung dengan Kapten Kaizo untuk pertama kali. Hasilnya pun hampa.

"Haaah ... di mana lagi aku harus mencari? Aku tidak boleh berlama-lama! Aku sudah berjanji pada Solar kalau aku akan menyelamatkan Gempa!" BoBoiBoy berseru frustasi.

BoBoiBoy lalu diam, berpikir sejenak. Mencoba mengingat kembali pengalamannya bersama Adu Du dulu. Lantas dia teringat, ada satu tempat lagi yang belum sempat diperiksanya. Yaitu tempat pembuangan sampah, tempat di mana dia dulu mengejar Probe yang mencuri sekaleng cokelat bubuk Tok Aba. Cokelat yang pada akhirnya dipakai untuk mengaktifkan Ochobot.

BoBoiBoy bergegas terbang ke sana. Dia memang sudah lama tidak ke tempat itu. Mungkin sekitar empat tahun lalu. Namun, sepertinya tempat itu tidak akan banyak berubah—

"WAAAAAAAAAA!"

Telinga BoBoiBoy menangkap teriakan saat dirinya sudah dekat dengan tempat tujuan. Suara yang sangat BoBoiBoy kenali, dan berasal lebih dari satu orang. Tidak salah lagi, itu suara kembarannya yang hidup di dunia ini.

BoBoiBoy mempercepat terbangnya ke sumber suara. Dari atas, dia dapat melihat kapal angkasa Adu Du terparkir di tempat pembuangan sampah. Di depan kapal itu terlihat Taufan, Blaze, dan Duri. Mereka tengah menggendong seseorang yang bertopi hitam-kuning yang langsung dikenali oleh BoBoiBoy sebagai Gempa. Alasan mereka berteriak adalah Mecha Probe yang berdiri di depan mereka. Tangannya tampak akan mencengkeram mereka.

"BERHENTI!"

Amarah segera menguasai BoBoiBoy, sementara detak jantungnya menguat. Nyaris tanpa berpikir, di tengah-tengah darahnya yang berdesir tajam, BoBoiBoy mengaktifkan kuasa elementalnya yang lain.

"BoBoiBoy Halilintar! Pedang Halilintar!"

BoBoiBoy langsung memelesat ke arah mereka dengan pedang terhunus. Dengan pedang kembar itu dia menahan tangan Probe.

"Eh?! K-Kak Hali?!"

Duri yang barusan berseru terkejut. Taufan dan Blaze pun tampak sama kagetnya.

"Tapi ... kenapa Kak Hali ... bisa mengeluarkan listrik merah?!" tanya Blaze yang masih syok. "Dan pedang itu—"

"Kalian semua ... LARI!"

BoBoiBoy berseru memotong, tanpa menoleh ke belakang. Dia tidak punya waktu untuk menjelaskan atau bertanya kenapa mereka bisa berada di sini.

Meski masih bingung, mereka akhirnya menurut. Mereka bertiga pun pergi sambil membawa Gempa. Sehingga yang tersisa hanya BoBoiBoy, Probe, dan Adu Du yang masih berada di dalam kokpit Probe.

.

.


KOKOTiME mempersembahkan:

"B.I.M. (BoBoiBoy In Multiverse)"

Ditulis oleh kurOrange (kolaborasi antara kurohimeNoir & Shaby-chan).

Disclaimer: "BoBoiBoy" dan segenap karakter di dalamnya adalah milik Monsta©. Tidak ada keuntungan material apa pun yang diambil dari fanfiksi ini.

Timeline: Setelah BoBoiBoy The Movie 2.

Canon-meets-AU. Elemental siblings.


.

.

"Beraninya kalian menyakiti saudara-saudaraku!"

Mata BoBoiBoy Halilintar berkilat dalam kemarahan. Petir merah masih menyelimuti seluruh tubuhnya, juga kedua pedangnya.

"Heh! Sekarang kau menganggap pecahanmu sendiri sebagai saudaramu, ya?" kata Adu Du dengan nada sinis.

"Mereka itu bukan—"

"Sudah! Kau pikir aku akan tertipu dengan taktik berpecahmu ini?!"

"Ehm… Bos?"

Sebuah suara menginterupsi perdebatan mereka. Suara lembut wanita yang berasal dari Computer.

"Ada yang perlu saya jelaskan, Bos."

Suara merdu Computer kembali mengalun dari alat komunikasi yang terpasang pada Probe.

"Hah?! Apa itu?!" Adu Du menyahut, sedikit kesal karena Computer malah mengganggu di saat-saat genting.

"Menurut data, ini bukan Bumi yang kita kenal, Bos. Sepertinya lubang yang dimasuki BoBoiBoy waktu itu adalah lubang cacing yang tersambung dengan dimensi lain—"

"LANGSUNG KE INTINYA SAJA, COMPUTER!" teriak Adu Du tak sabar.

"Eh… intinya, kita salah tangkap, Bos. 'BoBoiBoy Gempa' yang kita tangkap itu bukan pecahan BoBoiBoy, melainkan penghuni dimensi ini. Tampaknya, di dimensi ini mereka hidup sebagai saudara kembar."

Hanya keheningan disertai suara jangkrik yang terdengar, diwarnai wajah ternganga Adu Du dan muka datar BoBoiBoy.

"Hah ... kan sudah kubilang, Incik Bos. Kita salah tangkap," kata Probe.

"Ish …. Kenapa tidak kau beritahukan sejak awal, hah!?" seru Adu Du.

"Eh ... saya mau beritahu, tapi Bos tidak mau dengar—"

"Hah, sudahlah! Itu tidak penting lagi! Pokoknya sekarang BoBoiBoy yang asli ada di sini!" Adu Du kembali memfokuskan perhatiannya kepada lawan di hadapan. "Katakan padaku, di mana kau sembunyikan Ochobot?!"

"Jangan harap kau akan mendapatkan Ochobot!" BoBoiBoy Halilintar berseru.

"Hmm … Incik Bos, sepertinya Ochobot disembunyikan bersama pecahannya yang hidup di dimensi ini," tebak Probe. "Coba kita—"

"JANGAN COBA-COBA MENYENTUH MEREKA!"

Amarah Halilintar kembali tersulut. Ditatapnya musuh dengan tajam, disertai tekad bahwa ketujuh bersaudara elemental yang ada di dunia ini, pasti akan dilindunginya. Apa pun yang terjadi.

"Aku tak peduli mereka dari dimensi lain atau apa! Mereka semua adalah saudaraku!"

BoBoiBoy yang masih dalam mode kuasa Halilintar, lantas mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

"BOBOIBOY KUASA LIMA!"

Sang superhero elemental memutuskan untuk berpecah menjadi lima elemen. Halilintar, Taufan, Gempa, Blaze, dan Ice. Mereka berlima mulai mengepung Mecha Probe.

Mecha Probe tidak tinggal diam. Dia mengeluarkan semua senjatanya, lantas menembak ke arah mereka.

"Tanah Pelindung!"

BoBoiBoy Gempa segera membuat perisai tanah untuk melindungi mereka. Sementara serangan itu masih berlangsung, empat elemen lain mulai bergerak. BoBoiBoy Ice diam-diam mencari tempat yang lebih tinggi, lantas menyiapkan panah dan busur esnya. Dia pun menembakkan panah esnya ke lubang senapan Probe. Serangan Probe pun terhenti karena tersumbat oleh es.

Namun, sebelum seluruh senapannya tersumbat, Mecha Probe menyadari hal itu. Dengan senapannya yang tersisa, dia segera menembak ke arah BoBoiBoy Ice.

"Perisai Taufan!"

BoBoiBoy Taufan terbang di depan BoBoiBoy Ice sembari menciptakan tameng dari angin yang berputar cepat. Tembakan Mecha Probe terpental, berbelok ke arah lain.

"Lemparan Cakra Api!"

BoBoiBoy Blaze melempar cakramnya ke arah Mecha Probe. Serangan itu memotong senapannya yang tersisa, bahkan memotong bagian tangan dan kakinya.

"Pedang Halilintar!"

BoBoiBoy Halilintar memelesat ke belakang Mecha Probe. Dia menancapkan kedua pedangnya di punggung robot ungu itu. Seketika Mecha Probe tersetrum oleh listrik bertegangan tinggi.

"WAAAAARGGHHHH!"

Disertai teriak kesakitan, tubuh besar Probe roboh berdebam ke tanah. Tampak kerusakan yang cukup fatal di sana-sini.

BoBoiBoy Gempa menyilangkan kedua tangannya. Keempat pecahannya pun berubah menjadi bola cahaya dan menyatu di tubuhnya. BoBoiBoy pun kembali ke wujudnya semula. BoBoiBoy lalu berjalan mendekati Probe.

"Kau sudah kalah, Adu Du—"

Ucapan BoBoiBoy terputus ketika tiba-tiba kokpit Probe terbuka. Dalam satu helaan napas, sebuah sosok keluar secepat kilat dari dalam tubuh Probe.

Dia langsung menerjang ke arah BoBoiBoy. Dengan tongkat di tangannya, ia menusuk perut BoBoiBoy dengan telak. BoBoiBoy tidak sempat menghindar. Akibatnya, ia terlempar beberapa meter ke belakang, sebelum punggungnya menabrak tumpukan besi rongsokan.

Sosok itu rupanya Adu Du. Dia memegang sebuah tongkat besi, sembari membentuk kuda-kuda bertarung.

BoBoiBoy mengerang kesakitan. Dia mencoba bergerak, tapi tusukan tongkat tadi membuat perutnya sangat sakit. Sepertinya memar, tapi mungkin lebih parah dari itu.

Aku lupa Adu Du juga pernah berlatih dengan Tok Kasa. Dia jadi makin kuat!

Demikian yang terlintas di dalam pikiran BoBoiBoy. Sementara, ia masih mencoba bangkit dengan sia-sia.

Adu Du dengan cepat berlari kearah BoBoiBoy, siap melancarkan serangan berikutnya. BoBoiBoy hanya bisa menutup mata, dia tidak akan sempat menghindar.

DUAK!

Eh, tidak terjadi apa-apa?

BoBoiBoy tidak juga merasakan sakit, seperti yang sudah diantisipasinya. Ia pun membuka mata. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Halilintar berdiri di antara dirinya dan Adu Du. Sang ace klub pencak silat Akademi Pulau Rintis itu menggunakan tangan kosong untuk menahan tongkat Adu Du.

"Jangan kau sakiti adikku, alien jahat!" seru Halilintar.

Kedua mata BoBoiBoy melebar. "H-Halilintar?"

Halilintar mengepalkan tangannya, lalu mencoba meninju Adu Du. Namun, sang alien kepala kotak berhasil menghindar. Adu Du lantas melompat mundur. Bermaksud hendak mengambil jarak.

Adu Du menggeram kesal. "Kau … Dasar pengganggu! HYAAAAA!"

Adu Du menyerang Halilintar bertubi-tubi. Halilintar sendiri bisa menahan serangan itu, sembari ikut melancarkan serangan berupa pukulan dan tendangan. Walau tampak sengit, tapi BoBoiBoy tahu pertarungan itu tidak seimbang. Adu Du menggunakan senjata, sedangkan Halilintar bertangan kosong. Dia khawatir, Halilintar bisa kalah kapan saja.

"BoBoiBoy!"

Kejutan masih belum usai. BoBoiBoy sedikit terbengong saat Solar tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Dengan bantuan Solar, BoBoiBoy akhirnya bisa kembali berdiri.

"Solar, kenapa kamu masih di sini?!" tanya BoBoiBoy dengan nada memprotes. "Cepat, lari! Di sini berbahaya!"

"Hei! Kami sudah susah payah datang kemari, dan kamu menyuruh kami pergi begitu saja?!" Solar ikut-ikutan memprotes. "Tadi kamu bilang kami saudaramu, 'kan? Sesama saudara itu harus saling membantu!"

"Tapi—"

"Tenang, aku punya rencana." Solar tersenyum tipis sambil membetulkan letak kacamatanya. "Jadi begini ..."

.

xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx

.

"Kamu mengerti, BoBoiBoy?" tanya Solar beberapa saat kemudian.

BoBoiBoy mengangguk.

DUAK! BZZTT!

"AAARGH!"

Suara benturan disertai dengungan halus listrik terdengar. Halilintar terbaring di tanah sambil mengerang kesakitan. Sedikit percikan listrik terlihat di tubuhnya. Beberapa meter darinya, Adu Du berdiri tegak dengan tongkatnya yang diselimuti sekilas percikan listrik yang sama. Wajahnya tampak puas.

"Wahahahaha! Kan sudah kubilang, kau tak mungkin mengalahkanku!" serunya pongah. "Rasakan!"

Di tengah suasana tegang, Solar tiba-tiba berteriak, "Kalian bertiga, SEKARANG!"

Tiga buah batu melayang deras dari arah yang berbeda menuju Adu Du. Adu Du terkejut, tapi dapat dengan mudah menangkisnya. Namun, lama-kelamaan dia kewalahan karena lemparan batu terus datang bertubi-tubi. Belum lagi, yang datang padanya bukan hanya batu, tetapi juga sampah. Mulai dari sampah anorganik sampai sampah organik.

"Rasakan ini, alien jahat!"

"Alien kepala kotak jahat! Bweek!"

"Ambil ini! Ambil ini! Ambil ini!"

Pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah trio pembuat masalah, yaitu Taufan, Blaze, dan Duri. Ketiganya masing-masing melempar berbagai benda ke arah Adu Du dari balik tumpukan sampah.

BoBoiBoy ternganga. Meski sudah dijelaskan oleh Solar, dia masih takjub, betapa taktik absurd seperti itu bisa membuat Adu Du tak berkutik. Solar menyadari keheranan BoBoiBoy, lalu terkekeh.

"Alien itu petarung jarak dekat, 'kan? Artinya dia lemah terhadap serangan jarak jauh yang dilakukan secara serentak," jelas Solar.

Sayangnya, rasa puas Solar tidak bertahan lama. Tiba-tiba muncul sosok Mecha Probe di depan Adu Du. Kemunculannya membuat Taufan, Blaze, serta Duri terkejut. Serangan mereka pun terhenti.

"Hah?! Robot itu masih bisa berdiri?!" ketiganya berseru kaget.

"Jangan sakiti Incik Bos!" seru Probe.

Senjatanya yang tadi tersumbat es kini sudah bebas. Siap untuk kembali menembak.

"Alamak!"

Trio Pembuat Masalah ngeri seketika. Probe sudah siap sedia membidik mereka.

Di kejauhan, Solar menggeram. "BoBoiBoy! Lakukan SEKARANG!"

BoBoiBoy mengangguk. Ia pun bersiap dengan Jam Kuasa miliknya.

"BoBoiBoy Duri! Akar Pengikat!"

Dari dalam tanah keluar sulur-sulur hijau berduri yang langsung mengikat Adu Du dan Probe.

"Akan kupastikan kau menyesal!" seru BoBoiBoy. "BOBOIBOY SOLAR!"

Penampilan BoBoiBoy yang tadinya persis seperti Duri, kini persis seperti Solar. Sebuah simbol gerhana matahari muncul di belakang punggungnya.

"HWAAAAA! JANGAN!" jerit Adu Du dan Probe ketakutan.

"TEMBAKAN SOLAR GERHANA!"

Seberkas cahaya memancar dari BoBoiBoy, langsung menghantam Adu Du dan Probe. Serangan itu membakar sulur yang mengikat mereka, lantas membuat keduanya terdorong jauh hingga menabrak tumpukan sampah. Tubuh mereka akhirnya tertahan di sebuah bukit kecil.

"AAAAAKH! PANAAAS!"

Setelah beberapa lama, BoBoiBoy akhirnya menghentikan serangannya. Dia lalu jatuh terduduk di tanah. Kelelahan.

BoBoiBoy mengarahkan pandang ke bukit kecil tadi. Terlihat Adu Du dan Probe kini terbaring di depan bukit dalam kondisi pingsan. Tubuh mereka tampak kehitaman gosong karena serangannya barusan.

Belum sempat BoBoiBoy berdiri, tiba-tiba kapal angkasa Adu Du terbang mendekat. Cahaya keemasan dari tractor beam segera menarik Adu Du dan Probe ke dalam. Tanpa membuang waktu lagi, kapal angkasa itu langsung memelesat ke angkasa. Lantas menghilang tanpa jejak.

"Ish! Dia kabur!" Halilintar berseru kesal.

BoBoiBoy menghela napas kecewa. Namun, begitu mendengar teriakan Halilintar, yang ada di pikiran BoBoiBoy hanyalah kekhawatiran. Bagaimana dengan kondisi tubuh Halilintar setelah bertarung dengan Adu Du? Sebab biar bagaimanapun juga, Halilintar hanyalah manusia biasa.

BoBoiBoy melihat Halilintar berjalan ke arah dirinya dan Solar. Dia berjalan tertatih dan tampak lebam di wajah serta lengannya. Namun, selain itu, dia terlihat baik-baik saja.

"BoBoiBoy .…"

Solar tiba-tiba bicara. Matanya tampak melebar takjub menatap BoBoiBoy.

"Jadi …. Jadi … kalau kamu berubah jadi aku, kamu bisa mengeluarkan kuasa sehebat itu?" ujarnya tak percaya. " Itu … betul-betul ..."

Solar kehilangan kata-kata. Namun, ketiga saudaranya yang baru saja datang berlari mendekat, yaitu Taufan, Blaze, dan Duri, segera menyambung dengan cepat. Hanya dengan satu kata, yang sejatinya sudah menari-nari di benak Solar.

"TERBAIK!"

"Hwaaa—!"

BoBoiBoy terkejut saat Taufan, Blaze, dan Duri melompat ke arahnya. Berebutan memeluknya, sehingga dia jatuh terbaring di tanah. Mereka tersenyum dan menatapnya penuh kekaguman.

"Terbaik!"

Taufan mengulang seruannya, seolah hanya kata itu yang diketahuinya. Di wajahnya terjelma satu senyum lebar.

"Sayang dia kabur! Kalau tidak aku pasti akan menghajarnya!" tambah Blaze.

"Apa kalau kamu berubah jadi aku, kamu bisa menumbuhkan tanaman untukku juga?" tanya Duri tiba-tiba.

Melihat wajah antusias mereka, mau tak mau BoBoiBoy tertawa kecil.

"Eh ... Semuanya ..."

Sebuah suara menginterupsi euforia kemenangan yang menguar di udara. Rupanya Ice. Dia mendekat perlahan sembari memapah Gempa. Wajahnya tampak begitu khawatir.

"Sebaiknya kita segera kembali," katanya lirih. "Kondisi Kak Gem ... sepertinya ... tidak baik ..."

BoBoiBoy tersentak. Dia hampir saja lupa tujuan awalnya, yaitu menyelamatkan Gempa. Dia bergegas mendekati Gempa, mengecek kondisinya.

Lebih buruk daripada dugaan BoBoiBoy. Wajah Gempa tampak pucat. Di kedua pergelangan tangannya ada bekas kemerahan, seperti terbelenggu oleh sesuatu dalam waktu yang lama. Matanya tampak setengah terbuka, tetapi dia masih tidak sadarkan diri.

BoBoiBoy bergegas mengambil alih tugas Ice memapah Gempa. Dia lantas menggendong Gempa di punggungnya.

"Aku akan kembali duluan sambil membawa Gempa. Kalian tidak apa-apa, 'kan?" tanya Boboiboy. "Halilintar, kamu terluka juga, 'kan? Apa kamu mau ikut denganku?"

Halilintar menggeleng.

"Aku masih bisa jalan, kok," katanya kemudian. "Kamu duluan saja dengan Gempa."

"Oke." BoBoiBoy kembali bersiap dengan Jam Kuasa miliknya. "BoBoiBoy Taufan!"

Penampilan BoBoiBoy berubah menjadi persis seperti Taufan. Hanya hoverboard yang terpijak di kakinya yang membedakan.

"Hah?! Jadi kau akan membawa Gempa sambil terbang?!" Taufan berseru takjub. "Aku juga mau ikut terbang—"

BLETAK!

"Aduh!" Taufan menjerit kesakitan saat Halilintar menjitaknya.

"Kamu ini! BoBoiBoy sudah repot membawa Gempa, kamu masih mau ikut?!" Halilintar mengomel panjang-pendek.

Taufan hanya membalas dengan cengiran. Sementara BoBoiBoy menyaksikan semuanya sembari tersenyum.

"Hehehe ... Tidak apa, Taufan. Aku bisa mengajakmu terbang nanti, kok," kata BoBoiBoy. "Baiklah, aku pergi dulu."

BoBoiBoy, dengan membawa Gempa di punggungnya, bergegas terbang meninggalkan tempat itu.

.

.

.

Bersambung ...

.

.

.


Pojok KOKOTiME

.

Halooo~! \(^o^)

Noir di sini, mewakili Shaby-chan yang masih bertapa nun jauh di sana. Apa kabar, nih? Semoga semuanya sehat-sehat aja.

Chapter yang ditulis Shaby kali ini, penuh dengan adegan aksi mendebarkan. Bukan cuma BoBoiBoy, tetapi juga para kembar elemental yang ikut berperan melawan Adu Du. Gimana, seru 'kan? ;-)

Terus, gimana dengan Gempa, ya? Penasaran? Ikuti terus di chapter selanjutnya~

.

Salam hangat,

kurOrange from KOKOTiME

17 Februari 2021