Chapter 7

Perpisahan

.

.

"Aduuuh ... Kurang ajar, BoBoiBoy ... Bocah-bocah elemental itu juga ... Berani membuatku jadi seperti ini ..."

"Sabar, Incik Bos. Nanti Probe yang akan mengobati luka-luka Incik Bos."

Adu Du memasuki kapal angkasanya dengan tertatih-tatih dan sekujur tubuh penuh luka, dipapah oleh Probe. Robot tudung saji ungu itu pun tampak tergores-gores, bahkan penyok kecil di sana-sini.

"AKU BUKAN TUDUNG SAJI, LAH!" mendadak Probe berteriak kepada udara kosong.

"Apa-apaan kau ini, tiba-tiba teriak bikin kaget!" Adu Du langsung melayangkan kepalannya ke badan Probe. "Memangnya siapa yang menyebutmu 'tudung saji', hah?!"

"Hehehe ... Maaf, Incik Bos ..."

Adu Du mendorong Probe menjauh ketika mereka mencapai bilik perawatan. Alien kepala kotak itu pun mendudukkan diri di ranjang, sementara Probe dengan cekatan mempersiapkan kotak P3K.

"Yang penting, setelah ini kita harus membuat perhitungan dengan BoBoiBoy dan bocah-bocah ingusan itu!" kata Adu Du penuh tekad. "Tunggu saja pembalasanku! Mwahahahaha—"

"Maaf, Bos. Saya rasa kita harus segera pergi dari sini."

Suara lembut Computer memadamkan semangat membalas dendam Adu Du yang tengah berapi-api. Sedikit kesal karena tawanya dipotong, Adu Du melemparkan cangkir yang kebetulan ada di dekatnya ke arah Computer yang tahu-tahu sudah muncul di ruangan itu. Tentu saja, tidak kena. Malah Probe yang sedang datang mendekat dengan kotak obat di tangan yang jadi korban.

"Seenaknya saja kau bilang 'pergi'?!" Adu Du meradang. "Urusan kita belum selesai di sini! Kita juga belum berhasil mendapatkan Ochobot!"

"Uuh ... Tapi, Bos ... Berdasarkan hasil analisa, sebentar lagi lubang cacing yang membawa kita ke dimensi ini akan tertutup. Jika sampai terlambat pergi, maka takutnya kita tidak akan bisa pulang."

"APA?!"

Penjelasan panjang-lebar Computer membuat Adu Du benar-benar terkejut. Dia sendiri pun belum lama tahu bahwa dirinya sedang berada di dimensi lain. Dan kini tiba-tiba sudah dihadapkan pada kenyataan bahwa satu-satunya jalan pulang akan segera menutup.

"Tapi ... bagaimana dengan Ochobot?" Adu Du masih ragu untuk melepaskan kesempatan. "Sepertinya BoBoiBoy sendirian di tempat ini. Sekarang mungkin saat yang paling tepat—"

"Maaf, Bos," lagi-lagi Computer menyela ucapan Adu Du. "Analisa menyeluruh terhadap dimensi ini sudah selesai dilakukan. Akan tetapi, keberadaan Ochobot tidak ditemukan di mana pun."

"Apa?!" Adu Du tersentak, sementara Probe sudah mulai merawat luka-luka sang Incik Bos dengan telaten. "Maksudmu ...?"

"Dengan kata lain, Ochobot tidak ada di dimensi ini."

"Ukh ... GYAAAAAAA!"

Kekesalan Adu Du yang sudah menumpuk pun mencapai puncaknya. Terlebih karena menyadari segala usahanya telah sia-sia.

"Bos?"

Suara merdu Computer membuat Adu Du terpaksa kembali menghadapi kenyataan. Nasi telah menjadi bubur. Dan saat ini hanya ada satu hal yang bisa mereka lakukan.

"Merebut Ochobot masih bisa kita lakukan lain kali. Computer, kita pulang dengan kecepatan penuh!"

"Baik, Bos!"

.

.


KOKOTiME mempersembahkan:

"B.I.M. (BoBoiBoy In Multiverse)"

Ditulis oleh kurOrange (kolaborasi antara kurohimeNoir & Shaby-chan).

Disclaimer: "BoBoiBoy" dan segenap karakter di dalamnya adalah milik Monsta©

Timeline: Setelah BoBoiBoy The Movie 2.

Canon-meets-AU. Elemental siblings.


.

.

"Eeeeeeeh?! Jadi kamu bukan Gempa?"

Seruan penuh kekagetan itu memenuhi pendengaran BoBoiBoy yang tengah bercengkerama bersama kawan-kawan para elemental bersaudara. Dia sedang beristirahat sejenak dari kesibukan membantu Tok Aba di Kedai KoKotiam—menggantikan Gempa yang masih dirawat di rumah.

"Begitulah kira-kira," ucap BoBoiBoy sambil terkekeh samar.

Sang superhero elemental duduk bersama Yaya, Ying, Gopal, dan Fang, menikmati sajian beberapa menu andalan kedai. Diliriknya beberapa 'saudaranya' yang masih berkutat dengan kesibukan masing-masing. Kali ini ada Halilintar yang sedang mencuci gelas-gelas kotor, Ice yang sedang mengelap meja, dan Taufan yang masih melayani beberapa pelanggan. Mereka mengulas senyum ketika bertemu pandang dengan BoBoiBoy.

"Memang bajunya beda, sih," komentar Gopal kemudian sembari mengamati BoBoiBoy dengan teliti.

"Ish, kamu ini," komentar Ying. "Baju mana bisa dijadikan patokan."

"Kamu benar-benar mirip dengan Gempa." Yaya masih menatap pemuda bertopi dino jingga itu dengan takjub. "Maksudku ... gerak-gerikmu, sifatmu, keramahanmu ... semuanya mirip sekali dengan Gempa."

"Bahkan SpecialHot Chocolate buatanmu juga rasanya sama seperti buatan Gempa!" sambung Gopal sambil menikmati menu yang baru saja disebutkannya itu dengan sepenuh hati.

BoBoiBoy tertawa kecil. "Halilintar dan yang lain juga bilang begitu."

"Hai, Teman-Teman!"

Suara yang sama persis dengan BoBoiBoy itu mengejutkan Yaya dan kawan-kawan. Saat menoleh, mereka melihat Blaze dan Duri tengah berjalan mendekat.

"Lho, Kak Aze, Duri?" Ice yang sedang mengelap meja di dekat BoBoiBoy sontak terdistraksi. "Kok kalian ke sini?"

"Hei!" Taufan ikut mendekat. Tampaknya ia sudah selesai melayani semua pelanggan yang tersisa, di tengah-tengah suasana kedai yang berangsur sepi. "Kalau kalian ke sini, siapa yang jagain Gempa di rumah?"

"Kan ada Solar," Duri menyahut cepat.

"Hm! Kami mau main sama BoBoiBoy!" sambung Blaze. "Mumpung Solar di rumah. Kalau ada dia, habis BoBoiBoy dimonopoli sendiri."

BoBoiBoy kembali tertawa kecil. Kalau mengingat bagaimana selama ini Solar selalu bersikap waspada bahkan curiga terhadapnya, ia sungguh sangat bersyukur karena sekarang anak itu sudah mau akrab dengannya.

"Monopoli?"

Lamunan singkat BoBoiBoy terpotong oleh keheranan Fang setelah mendengar ucapan Blaze tadi.

"Ah, itu ..." BoBoiBoy berdeham sejenak. "Solar sangat bersemangat menanyakan banyak hal padaku soal dunia asalku, soal dimensi lain, lubang cacing ... yah, hal-hal seperti itulah ..."

BoBoiBoy nyaris menyesali ucapannya barusan ketika menyadari mata Ying dan kawan-kawan pun kini dipenuhi antusiasme yang nyaris sama dengan Solar.

"Dey! Ceritakan pada kami juga!" kata Gopal penuh semangat.

"Aku juga mau dengar!" dukung Ying.

BoBoiBoy memandang berkeliling. Mana bisa ia mengecewakan para pemilik tatapan penuh harap yang kini tergelar di hadapannya ini?

"Baiklah, aku perkenalkan diri sekali lagi."

BoBoiBoy menegakkan tubuh. Sementara Taufan, Ice, Duri, dan Blaze, bergegas menyeret beberapa bangku untuk ikut duduk di dekatnya. Bahkan dilihatnya Halilintar yang sudah selesai mencuci gelas, kini berjalan mendekat. Di balik konter kedai, Tok Aba tersenyum lembut. BoBoiBoy tentu juga sudah menceritakan semuanya kepada Tok Aba setelah Gempa ditemukan.

Diam-diam BoBoiBoy pun merasa lega. Tampaknya kegelisahan dan kekhawatiran Tok Aba telah jauh berkurang. Beliau pun sudah cukup tenang untuk kembali bekerja di kedai setelah dua hari merawat Gempa di rumah.

"Namaku BoBoiBoy," sang superhero elemental memulai ceritanya. "Pemilik tujuh kuasa elemental dari bumi di dimensi lain."

Sembari berkisah, BoBoiBoy pun mengenang kembali perjalanan panjangnya sejak datang ke Pulau Rintis, berkenalan dengan Yaya, Gopal, Ying. Kemudian juga Ochobot. Lengkap dengan gangguan dari Adu Du dan Probe, juga para alien lain yang entah sejak kapan mulai berdatangan silih berganti ke bumi.

"Waah!" Gopal memotong cerita BoBoiBoy dengan mata berbinar-binar. "Jadi kami semua di duniamu juga punya kekuatan super?"

"Betul." BoBoiBoy tertawa kecil. "Yaya punya kuasa manipulasi gravitasi. Ying punya kuasa pengendalian waktu. Dan Gopal ... hmm, kuasanya agak sulit ditemukan waktu itu, tapi akhirnya kami tahu kalau dia bisa mengubah benda apa pun menjadi makanan."

Semua kompak tertawa.

"Dasar Gopal, di mana-mana tetap saja tukang makan," komentar Ying. "Tapi kuasa milik kembaranku dan Yaya kedengarannya hebat sekali."

"Hm, semuanya hebat." BoBoiBoy mengulurkan jari telunjuk kanannya sejenak. "Terbaik."

Tawa kecil BoBoiBoy memancing mereka semua ikut tersenyum.

"Eh," Gopal tersentak tiba-tiba. "Sejak tadi kau tidak menyebut nama Fang?"

"Oh ... Fang, ya ..." BoBoiBoy mengarahkan pandang sejenak kepada Fang. Menimbang-nimbang, apa yang harus dikatakannya tentang kembaran remaja berkacamata itu di dunianya. "Fang, dan juga abangnya, Kaizo ... itu ... agak unik."

"Unik?" ulang Ying. "Unik bagaimana maksudmu?"

"Kalian sudah tahu, 'kan, kalau di duniaku ada kuasa, ada Power Sphera, dan juga ada alien." BoBoiBoy menjeda sejenak. "Fang juga punya kuasa, yaitu kuasa pengendalian bayangan. Kapten Kaizo juga punya kuasa manipulasi energi."

"Uwaaah ... Kenapa kedengarannya hebat sekaliii!" Gopal malah heboh sendiri. "Curang kau, Fang!"

Fang yang mendadak dicibir tanpa alasan, hanya menanggapi dengan memutar bola matanya. Namun, rupanya, cerita BoBoiBoy tentang kembarannya dan juga kembaran abangnya di dunia lain sana, telah sangat menarik perhatiannya.

"Tunggu, tadi kamu bilang 'Kapten Kaizo'?" tanya Ying tiba-tiba. "Itu maksudnya apa?"

Segala ingatan tentang Kaizo seketika memenuhi benak BoBoiBoy. Remaja bertopi jingga itu jadi bingung, harus mulai bercerita dari mana.

"Ummm ... Ceritanya panjang—"

"Pendekkan."

Semua menoleh ke arah konter, tak menyangka Tok Aba mendadak ikut berpartisipasi dalam percakapan. Kakek para kembar elemental itu tersenyum lebar sembari mengacungkan jempol kanannya. Rupanya sejak tadi beliau sudah ikut mendengarkan bersama dua-tiga pelanggan kedai yang masih ada di sana. BoBoiBoy terkekeh kecil, mengingat sebenarnya ia sudah bercerita banyak kepada Tok Aba dan para elemental bersaudara di rumah mereka.

"Pendeknya," akhirnya BoBoiBoy melanjutkan cerita, "di duniaku ada pasukan khusus antargalaksi, pelindung dan penyelamat Power Sphera yang bernama TAPOPS. Tracker And Protector Of Power Sphera. Aku dan teman-temanku juga bergabung di sana. Begitu juga Kapten Kaizo, yang sudah berpangkat cukup tinggi. Kalau aku, sih, masih pemula."

BoBoiBoy memutuskan untuk melewatkan bagian cerita di mana Kaizo sempat menjadi 'musuh' mereka. Jujur saja, kenangan itu sampai sekarang pun masih cukup menakutkan untuk diingat.

"Lalu," suara Yaya membuyarkan lamunan singkat BoBoiBoy, "yang kamu maksud 'unik' tentang Fang dan abangnya tadi apa?"

"Oh, itu ..." BoBoiBoy kembali mengerling Fang. "Kalau di duniaku, Fang dan abangnya itu ... bukan manusia bumi. Mereka berasal dari sebuah planet yang jauh. Tapi memang Fang sudah cukup lama tinggal di bumi dan bersahabat baik dengan kami semua."

Hening sedetik. Dua detik. Hanya Fang yang sempat membetulkan posisi kacamatanya sewaktu kawan-kawannya yang lain memusatkan perhatian kepada BoBoiBoy. Cahaya yang memantul dari kacamata berbingkai ungu tua itu menyamarkan ekspresi Fang di baliknya.

"HEEEEEEEEEE?!"

BoBoiBoy hanya bisa terkekeh canggung ketika mendapatkan reaksi syok yang sama seperti para elemental bersaudara saat pertama kali mendengar cerita tentang Fang dan Kaizo.

"Kami juga kaget banget pas dikasih tau," komentar Taufan sambil nyengir lebar, diamini saudara-saudaranya yang langsung mengangguk.

Semua pasang mata sontak terarah kepada Fang. Sementara yang bersangkutan langsung mengernyit.

"Apa, sih?" katanya kemudian.

"Fang!" Gopal menatap Fang dengan mata membulat. "Jangan-jangan ... kau dan abangmu itu juga sebenarnya ... alien?!"

Fang memutar bola mata ketika melihat Gopal bergidik ngeri. "Mana ada?"

"Apalah kau ini, Gopal!" Ying ikut bicara. "Itu kan di dunianya BoBoiBoy. Kalau di sini mana ada alien."

"Betul!" sambung Yaya. "Kita semua kan sudah sekelas dan terus bersama-sama sejak SD."

Taufan tertawa. "Gopal ini memang kadang-kadang suka nggak bener."

"Dey! Aku kan cuma nanya."

"Kamu nanyea?"

Barusan adalah Duri yang menyeletuk tiba-tiba. BoBoiBoy terkekeh garing ketika tahu dua dunia ini ternyata berbagi jargon viral yang sama. Di tengah suasana hangat dan akrab itu, mendadak BoBoiBoy dikejutkan oleh suara notifikasi pesan masuk dari Jam Kuasa miliknya.

"... BoBoiBoy ..."

Gambar hologram muncul begitu BoBoiBoy menjawab pesan itu. Tidak terlihat terlalu jelas, suaranya pun sedikit terputus-putus. Namun, BoBoiBoy masih bisa mengenali sosoknya dengan jelas.

"Ochobot!"

Elemental bersaudara dan para sahabat mereka menatap takjub melihat teknologi Jam Kuasa digunakan di depan mata mereka untuk berkomunikasi. Mereka pun antusias saat mendengar BoBoiBoy menyerukan nama Power Sphera kuning itu.

Blaze menatap hologram yang terpancar dari jam kuasa BoBoiBoy dengan mata berbinar. "Woaah ... Jadi itu yang namanya Ochobot?"

"Ssshhh!"

Halilintar memberi peringatan supaya Blaze dan juga yang lain, diam. Melihat situasinya, ia paham, pasti ada hal penting yang harus disampaikan kepada BoBoiBoy dari dunia sana.

"BoBoiBoy ... Kami akan menjemputmu ... secepatnya ... Kamu harus ... di dekat ... motormu ... Kami ... sekitar ... 24 jam lagi ..."

Pesan yang terputus-putus itu akhirnya benar-benar terhenti begitu saja. Gambar hologram Ochobot pun langsung hilang tanpa peringatan.

"Hah? Ochobot?"

BoBoiBoy mencoba menghubungi balik, tetapi tidak berhasil. Remaja putra itu menghela napas. Pikirnya, wajar saja, menghubungkan sinyal komunikasi di antara dua dimensi yang berbeda pasti sangat sulit.

"Sepertinya ... kamu bisa segera pulang ke duniamu, ya. Syukurlah, BoBoiBoy!"

Ucapan Taufan membuat semua orang menoleh ke arahnya. BoBoiBoy tertegun sejenak. Ia tentu sangat lega, akhirnya bisa kembali ke dunia asalnya. Bertemu lagi dengan keluarga dan teman-temannya. Namun, itu juga berarti perpisahan dengan dimensi ini dan seisinya. Termasuk dengan 'saudara-saudaranya'.

"Hei, kenapa mukanya ditekuk gitu?" kata Taufan lagi. "Harusnya kamu senyum, dong. Hehehe ..."

Senyum lebar Taufan memancing BoBoiBoy untuk ikut tersenyum. Ketika memandang berkeliling, ia melihat semuanya sedang menatapnya dalam senyuman.

"Sayang banget, kita cuma sama-sama sebentar," kata Ying.

Duri menyambung, "Kami semua bakalan kangen banget sama kamu, BoBoiBoy."

"Iya." BoBoiBoy masih mencoba tersenyum walau matanya berkaca-kaca. "Aku juga akan merindukan kalian semua."

Keharuan perlahan menyelimuti para muda-mudi yang tengah bercengkerama. Lantas bertranformasi menjadi keheningan, yang baru pecah ketika seseorang tiba-tiba meletakkan nampan di atas meja. Ternyata Tok Aba yang datang membawa cekodok cokelat, cukup untuk mereka semua.

"Eh?" Yaya terkejut. "Tok Aba, kami nggak pesan ini."

"Oh, aku tahu!" Gopal berseru tiba-tiba. "Ini pasti gratis, 'kan?"

"Halah, Gopal, kalau soal makanan gratis pasti cepat tanggap," sahut Tok Aba. "Anggap saja Atok traktir kalian semua."

"Terima kasih, Tok Aba!"

Kakek para elemental bersaudara itu terkekeh pelan, lantas mengacungkan jari telunjuk kanannya. "Terbaik."

.

xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx

.

"Apa? Kamu sudah mau pulang, BoBoiBoy?" Solar berkata kaget saat mendengar cerita Blaze tentang kejadian di kedai siang tadi.

"Baguslah." Gempa yang sudah cukup sehat untuk ikut makan bersama lagi dengan keluarganya, tersenyum hangat. "Artinya, sebentar lagi BoBoiBoy bisa berkumpul lagi dengan keluarga dan teman-temannya."

BoBoiBoy hanya tersenyum tipis. Sementara sorot matanya sedikit sendu. Setelah itu, ia memandang berkeliling.

"Tok Aba, kalian semua," katanya. "Terima kasih, kalian sudah menerimaku dengan baik. Aku jadi bisa merasakan seperti apa rasanya punya saudara. Aku senang bisa mengenal kalian semua."

"Duri juga senang ada BoBoiBoy di sini." Si penyuka tanaman kini tersenyum lebar. "Jadi punya satu kakak lagi, deh."

"Memangnya kakak kita masih kurang banyak?" Solar menyahut spontan, dibalas tawa kecil dari seantero meja makan. "Tapi sayang sekali, BoBoiBoy harus pulang secepat ini. Padahal masih ada banyak hal yang ingin kutanyakan."

Taufan tertawa kecil. "Aku rasa, pertanyaanmu itu nggak akan ada habisnya, deh, Solar."

"Tapi Kak Upan," kata Blaze, "aku juga masih mau main sama BoBoiBoy."

"Duri juga."

"Apa boleh buat, 'kan?" Halilintar ikut bicara. "BoBoiBoy juga pasti sudah rindu pada keluarga dan kawan-kawannya di sana."

"Cieee ... Kak Hali perhatian banget, ya."

Ucapan Taufan ini membuat semua orang—kecuali sang kakak pertama—tertawa. Halilintar yang merasa diolok-olok, serasa ingin melemparkan centong nasi ke kepala adiknya yang pecinta warna biru itu.

"Kak Hali memang perhatian, kok. Cuma tsun aja—"

"Ice, kamu jangan ikut-ikutan!"

Makan bersama malam itu pun berlangsung hangat. BoBoiBoy yang merasa sedih pun, perlahan terhibur. Meskipun nantinya tetap harus berpisah, tapi setidaknya ia memiliki kenangan indah bersama mereka, bukan?

.

xXx]-•-•-•-x-•-•-•-[xXx

.

BoBoiBoy kembali lagi ke pantai Pulau Rintis di hari Minggu yang cerah itu. Ia telah mendapatkan sambungan telekomunikasi lagi dari Ochobot, ketika dirinya sedang membantu Tok Aba di kedai bersama Solar, Duri, dan Taufan. Tentu saja, Solar langsung heboh melihat gambar proyeksi hologram Ochobot dari Jam Kuasa milik BoBoiBoy. Taufan sampai harus menyeretnya pergi supaya tidak berisik dan mengganggu pembicaraan.

Dengan persiapan mepet—Ochobot mengatakan akan membuka portal sekitar satu jam kemudian, dengan posisi motor BoBoiBoy sebagai patokan—BoBoiBoy bersiap-siap, lantas berpamitan kepada semua orang. Untung saja, di malam sebelumnya ia sudah berkemas. Lagi pula, tidak banyak barang miliknya yang harus dibawa.

Dan di sinilah dirinya sekarang. Bersama para elemental bersaudara dan para sahabat mereka. Ditemani ombak yang berdebur di kejauhan, antusias menunggu terbukanya jalan pulang bagi BoBoiBoy.

"Gempa, kamu benar-benar sudah sehat?" tanya BoBoiBoy sedikit cemas. "Kalau masih merasa nggak enak badan, lebih baik istirahat saja di rumah tadi."

Gempa menggeleng sambil tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, kok. Kamu sudah mau pulang, tentu saja aku juga ingin mengantar."

"Terima kasih, ya, Gempa."

"Sama-sama."

BoBoiBoy mengedarkan pandang berkeliling. Semua wajah yang dilihatnya tampak tersenyum kepadanya. Walau tetap terlihat tatapan sendu yang tak dapat disembunyikan.

"Aku juga mau berterima kasih kepada kalian semua," ucap BoBoiBoy tulus. "Terima kasih atas semua bantuan kalian. Terima kasih karena kalian semua sudah menerimaku di sini ... sebagai keluarga ... dan teman."

"Kami juga senang punya satu saudara lagi," kata Taufan, diamini keenam saudaranya.

"Kami semua bakalan kangen sama kamu, BoBoiBoy." Duri langsung memeluk sang superhero elemental selama beberapa saat. "Kuharap kita bisa bertemu lagi."

Ucapan Duri membuat semua orang terdiam. BoBoiBoy pun tidak tahu harus menjawab apa. Karena dia tahu, perjalanan pulangnya kali ini adalah perjalanan satu arah. Dan setelahnya, lubang cacing itu akan tertutup. Mungkin untuk selamanya.

"BoBoiBoy!"

Di tengah-tengah suasana haru itu, mendadak terdengar seruan yang sangat familier. Senyum lebar BoBoiBoy segera terbit, sementara ia berbalik tepat ke arah motornya yang tergeletak di pasir. Tak jauh dari sana, tampaklah portal teleportasi milik Ochobot yang sudah tak asing lagi. Dari dalam cahaya biru itu, robot kuning bundar melayang keluar. Disusul Yaya dan Ying, serta Fang dan Gopal.

"Ochobot! Teman-teman!"

Setengah berlari, BoBoiBoy menghampiri kawan-kawan yang datang menjemputnya. Adalah Ochobot yang langsung menubruk untuk memeluknya. Yaya dan yang lain pun cepat-cepat mendekat. Kecemasan yang tadinya tampak jelas di wajah mereka, kini berganti kelegaan saat melihat BoBoiBoy dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apa pun.

"Syukurlah, kamu baik-baik saja, BoBoiBoy!" kata Ochobot sambil melepaskan pelukannya.

"Dey! Kami semua sangat mencemaskanmu."

"Ha-ah. Apalagi Adu Du juga ikut masuk ke lubang cacing bersamamu waktu itu."

"Iya, lho! Apa dia masih mengejarmu di sini, BoBoiBoy?"

"Kalaupun iya, BoBoiBoy pasti bisa mengatasinya, 'kan?"

Gopal, Yaya, Ying, dan Fang bicara susul-menyusul. BoBoiBoy tertawa kecil, lantas menceritakan petualangan kecilnya di 'dunia lain' ini secara singkat. Setelah itu, perhatian mereka pun teralih kepada para elemental bersaudara dan kawan-kawan yang masih berdiri di belakang BoBoiBoy.

"Waaah!" Gopal menatap para 'kembaran' kawan baiknya dengan takjub. Makin takjub saat tatapannya jatuh kepada Gopal yang ada di dunia ini. "Jadi ... mereka ini ...?"

"Hai, semuanya!" Taufan menyapa ceria, mewakili saudara-saudaranya. "Salam kenal, ya!"

"Dey! Aku jadi seperti punya saudara kembar juga, seperti elemental bersaudara!" Gopal yang merupakan penduduk setempat pun mendekat, lalu langsung mengajak tos 'kembarannya' yang baru saja datang. Tentu saja, langsung disambut dengan antusias. "BoBoiBoy bilang, kau bisa mengubah apa saja jadi makanan? Apa betul?"

"Mau lihat?" Gopal mencomot sebuah pin dari topi rajut yang dikenakan Ying dari dimensi ini."Tukaran Makanan!"

"Waaaaah! Hebatnyaaa!"

Bahkan si pemilik pun ikut takjub sampai tak sempat merasa kesal, walaupun pinnya tahu-tahu sudah berubah menjadi sebungkus cokelat berbentuk koin.

"Nah, silakan coba kelezatannya."

Gopal memberikan cokelat itu kepada 'kembarannya'. Belum sempat anak muda satu itu membuka kertas pembungkus cokelatnya, mendadak terdengar seruan.

"Kuasa Slo-mo!"

Dengan kuasa perlambatan waktu milik Ying yang aktif, gerakan semua orang seolah menjadi lambat. Hanya Ying saja yang bisa bergerak secara normal. Ying pun segera mengambil cokelat itu dari tangan Gopal.

"Waah hebat sekali!" Yaya dari dunia ini, berseru memuji. "Jadi itu kuasa pengendalian waktu? BoBoiBoy sudah menceritakan pada kami tentang kuasamu, Ying."

"Terima kasih atas pujiannya." Ying tertawa kecil, sebelum memusatkan perhatiannya kembali kepada Gopal. "Hei, Gopal! Kembalikan pin ini seperti semula, cepat!"

"Iya, iya, aku tahu."

Walau bersungut-sungut, Gopal tetap meluluskan permintaan Ying. Gadis itu tersenyum kecil, lantas bermaksud mengembalikan pin tersebut ke pemiliknya. Namun, entah bagaimana, pin berlatar kuning dengan gambar bunga mawar biru itu mendadak terlepas dari tangan Ying.

"Ah!"

"Tangan Bayang!"

Bersamaan dengan seruan itu, sebentuk bayangan berbentuk tangan mendadak sudah terulur, menangkap pin sebelum benar-benar jatuh ke pasir putih. Sementara Fang mendekat dan langsung mengambil pin itu.

"Wuaaah ... Apa itu tadi?"

"BoBoiBoy sudah cerita, sih, tapi dilihat secara langsung dari dekat gini rasanya keren bangeeet!"

Gopal dan para elemental yang menyaksikan kuasa bayang milik Fang, sontak heboh. Namun, Fang tetap mempertahankan ketenangannya. Sampai ia memusatkan perhatian sejenak pada Ying yang tadi menjatuhkan pin.

"Hati-hati, dong, Ying."

"Hehehe ... Maaf."

Fang hanya memutar bola mata melihat Ying meleletkan lidah ke arahnya. Pemuda itu pun mengalihkan perhatian kepada Ying yang satu lagi.

"Ini, kukembalikan," kata Fang sembari menyerahkan pin ke tangan pemiliknya.

"Ah ... Terima kasih."

Sementara itu, Fang yang berasal dari dimensi ini, sejak tadi tak lepas mengamati semua yang terjadi. Pandangannya pun tak sengaja beradu dengan kembarannya dari dunia lain. Ia tak mengatakan apa pun, hanya tersenyum samar.

"Teman-teman, kurasa sudah waktunya kita pulang."

Suara Yaya meminta perhatian BoBoiBoy dan kawan-kawan kembali terarah kepadanya. Mereka pun berkumpul di dekat Ochobot.

"Sayang sekali, ya, kita cuma sempat bertemu sebentar," kata Ying.

Yaya menyambung, "Tapi kami senang bisa berjumpa dengan kalian semua."

"Kami tidak akan melupakan hari ini," Fang ikut bicara.

Sementara itu, BoBoiBoy hanya bisa mengedarkan pandang dengan haru. Kepada para saudara yang sempat dimilikinya selama beberapa hari ini. Dan juga kembaran para sahabatnya yang sama baiknya.

"Portal akan segera tertutup, teman-teman," Ochobot memecah keheningan sembari memandang ke arah portal bercahaya biru. "Memang sedikit tidak stabil karena perpindahan dimensi. Ditambah lagi, lubang cacing itu juga makin tidak stabil. Kurasa sebentar lagi akan benar-benar tertutup."

"Sudah saatnya kita pulang." BoBoiBoy menatap para elemental bersaudara sekali lagi, satu demi satu. "Selamat tinggal, semuanya."

"Sampai jumpa lagi!" seruan Duri mengejutkan semua orang. Namun, hanya sekejap, sebelum satu per satu senyum terlukis di wajah semua orang.

"Teknologi akan semakin berkembang," Solar menambahkan dengan ekspresi penuh keyakinan. "Mungkin di masa depan nanti, kita bisa jalan-jalan dengan bebas melintasi dimensi yang berbeda-beda."

BoBoiBoy tertawa kecil. "Ya, itu mungkin saja."

"Jaga dirimu baik-baik," Taufan berkata dalam senyuman.

"Jangan lupakan kami, ya!" sambung Blaze.

Sementara, Halilintar, Gempa, dan Ice hanya mengangguk.

"Apungan Gravity!"

Pertunjukan kuasa terakhir dari Yaya kembali mengundang decak kagum. Dengan mudahnya, gadis anggun berkerudung itu membuat motor BoBoiBoy melayang bersamanya.

Diiringi lambaian tangan para sahabat dari dimensi lain ini, BoBoiBoy berbalik. Diikuti kawan-kawannya, ia berjalan mendekati cahaya biru portal. Yaya yang masuk pertama kali dengan membawa motor BoBoiBoy, diikuti Ying, Fang, lalu Gopal. Ochobot melihat BoBoiBoy menghentikan langkah tepat di depan portal. Robot kuning bundar itu pun melayang mendekati sahabatnya.

"BoBoiBoy, ayo," ia bicara dengan nada lembut penuh pengertian. "Kita harus pulang."

Sang superhero penguasa tujuh elemen menghela napas dalam-dalam. Untuk yang terakhir kalinya, ia menatap teman-teman barunya satu per satu. Tak ingin meninggalkan kesan kesedihan, BoBoiBoy tersenyum. Ia lantas mengacungkan ibu jari kanannya, bersiap melontarkan satu kata.

"Terbaik~"

BoBoiBoy tersentak pelan ketika para elemental bersaudara mendahuluinya mengucapkan satu kata itu, sembari mengacungkan jempol masing-masing. Tampak Taufan, Blaze, dan Duri tertawa. Sedangkan keempat saudara mereka yang lain ikut tersenyum. BoBoiBoy pun tertawa kecil, lantas melambaikan tangan.

"Sampai jumpa, semuanya!" serunya.

"Bye, BoBoiBoy!"

Di bawah langit biru cerah Pulau Rintis yang damai, BoBoiBoy berbalik, kemudian memasuki portal bersama Ochobot. Di antara suara debur ombak di kejauhan, ia masih bisa mendengar seruan mengantar kepulangannya.

"Sampai jumpa lagi!"

.

.

.

Bersambung ...

.

.

.


Pojok KOKOTiME

.

Halo, ada yang merindukan cerita ini? /plakk

Emang ya fanfic ini udah berabad-abad terbelengkalai karena kesibukan (dan kemalasan) kedua Authornya wkwkwk XD

Tapi meski begitu, rasanya tidak enak kalau cerita yang dulu saya tulis dengan susah payah ini berdebu begitu saja. Jadi saya bertekad setidaknya cerita kolab ini harus selesai. Dan terciptalah dua chapter terakhir ini.

I hope you like it :)

- Shaby-chan -

.

Hai, haiii~ ( ´ ▽ ` )ノ💕

Noir di siniii ... Apa kabar semuanyaaa? Baik Noir maupun KOKOTiME udah lama nggak keliatan di fandom BoBoiBoy. Ada yang kangen? 👀

Seneng banget bisa balik lagi ngelanjutin B.I.M. bersama Shaby-chan. Huweee ... Udah nyampe tahunan terbengkalai, tapi akhirnya B.I.M. akan segera menuntaskan kisahnya.

Next, tinggal Epilog, nih. Nantikan kelanjutannya, yah! 😉👍

- kurohimeNoir -

.

Salam hangat,

kurOrange from KOKOTiME

25 Februari 2023