Maaf ya guys updatenya lama abiss, readers sekalian gomen! kalo ceritanya masih agak panjang karena konfliknya banyak dan akan ada lagi. Soalnya aku mau buat cerita ala-ala sinetron gituu wkwk~ canda sinetron! Nah, aku tuh mau ngeliatin bagaimana seorang Tenten mulai survive dengan kehidupan cintanya dari konflik-konflik itu, apakah cintanya akan terus berkembang ke Naruto atau sebaliknya dia bakal nyerah dan kembali menjadi Tenten yang super sibuk dengan pekerjaan tanpa adanya cinta lagi. Jadi mohon bersabar yaa sama jalan cerita yang membosankan ini dan ikutin sampe ending yaa manteman.. Arigatou!

@Chipuyyou amiin terima kasih yaah semangatnya!!

Setiap manusia pasti butuh cinta. Cinta kepada orangtua maupun pasangannya. Siapa sih manusia di dunia ini yang tidak butuh cinta? Hanya orang gila kan? Tetapi, wanita yang satu ini tidak gila. Ia hanya gila pada pekerjaannya dan menomor sekiankan masalah cinta. Baginya cinta hanya sebuah rasa yang tidak berpengaruh dalam hidupnya, yang hanya merugikan dirinya. Ia adalah Tenten tanpa marga dan dia tidak butuh CINTA.

.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: NaruTen

Author: Nona Romes

Genre : Romance dan Sedikit Humor

Warning: Typo, OOC, Crack Pairing, Alur Maju Mundur, Newbie

Chapter 13

"Tenten please ikut dong!!" Mohon Hinata pada Tenten yang kali ini sukses diabaikan oleh sahabatnya itu. Hinata menggelayutkan tangannya mengikuti Tenten kemanapun pergi bersama Kiba yang dipaksa untuk menemaninya.

"Tenten- chaaan~ Tenten- san~? Oi jawab aku dooong~" panggil Hinata dengan suara imut. Kiba yang berada di belakang mereka berdua hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Hinata yang susah diterima oleh mata dan telinganya tersebut. Hinata sedari tadi yang dengan pantang menyerah sedang berusaha menggombal Tenten agar mau ikut kemah dengannya dan Sasuke, serta Naruto yang membuat Tenten malas mendengar namanya saja. Kali ini dia tidak membohongi Tenten, atas suruhan Naruto yang mau-mau saja Hinata ikuti untuk jujur kepada Tenten bahwa Naruto mengajak mereka bertiga kemah bersama. Sejak kejadian kemarin, Tenten sudah malas berbicara apalagi bertemu dengan Naruto. Ia sudah kepalang kesal, salahnya sendiri tidak mau bertanya sejujurnya pada Naruto ada hubungan apa dia dengan Sakura. Ia sudah terlanjur bersikap kekanakan dan memalukan di hadapan Naruto.

"Ten tolong jawab dooong.." pinta Hinata memelas. Mereka sekarang sedang berada di pantry dengan masih ada Kiba mengikuti dengan santai. Tenten tetap diam dan memilih mengambil minum guna memuaskan dahaga. Hinata yang melihat Tenten cuek saja melirik Kiba yang ada di sampingnya, Kiba mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu atau tidak ingin ikut campur, karena ia merasa tugasnya hanya sekedar menemani Hinata saja. Tenten lalu membuat minum ala-ala pekerja kantoran, selesai membuat kopi instannya, ia dengan cuek berjalan kembali menuju ruang kerja. Hinata dan Kiba buru-buru mengikuti Tenten bagaikan anak ayam. Kebetulan saat ini banyak karyawan yang sudah pulang dan hanya segelintir orang yang masih lalu-lalang di kantor untuk lembur termasuk Tenten. Hinata dan Kiba tentu saja tidak ikut lembur, mereka berdua hanya mengekori Tenten kemana pun pergi karena sedari tadi Tenten tidak memperdulikan mereka berdua. Hinata melirik Kiba memberi kode, Kiba yang sudah hafal hanya bisa pasrah mengikuti arahan dan rencana saat berada di pantry tadi. Hinata dan Kiba menggapit lengan Tenten masing-masing dan menyeretnya paksa ke lift untuk menuju lantai paling atas yaitu rooftop.

"Heeeeeiii kalian berdua apa-apaan sih?" omel Tenten tak bisa menghentikan tingkah kedua sahabatnya ini.

Sesampainya di rooftop, Hinata dan Kiba melepaskan lengannya. Tenten hanya menatap mereka berdua bergantian dengan kesal dan mulai berbicara.

"Baiklah-baiklah aku akan menjawab! Aku menolak dan aku tidak mau pergi kemah dengan Naruto. Kau puas?" tegas Tenten. Hinata menghela nafasnya.

"Tenten kau jangan menghindar terus dong. Naruto cuman ingin kalian berdua berbaikan. Kalau kau lari terus bukan menyelesaikan masalah namanya. Kau saja tidak tahu harus dibawa kemana kan hubungan ini?" tanya Hinata sedikit emosi.

"Hinata aku cuman butuh sendiri. Kau taulah kenapa aku kesal aku sudah menceritakannya kan?"

"Iya aku tahu! Tapi alangkah baiknya kau tidak lari terus. Tolong sedikit saja kau berusaha ubah sikapmu itu"

"Apa? Sikap ku yang bagaimana Hinata?" tanya Tenten kesal.

"Kau sungguh tidak dewasa Ten. Kalau kau cemburu kau harusnya langsung bilang ke Naruto. Jangan hanya lari dan diam saja dari masalah" jawab Hinata.

"Aku kira kau sahabatku. Kenapa malah kau lebih membela Naruto?"

"Aku bukan membelanya Sayang! Honey! Bebs! Iiiih bagaimana sih menjelaskannya biar kau mengerti! Lari dari masalah itu bukan solusi, setidaknya kau harus menghadapi dan menyelesaikannya. Ahh sudahlah aku lelah. Kiba ayo pergi percuma saja. Aku akan bilang pada Naruto kau tidak mau ikut dan ingat jangan menyesal ya!" Hinata dan Kiba kemudian pergi meninggalkan Tenten sendiri. Tenten hanya terdiam merenung sembari melihat senja di langit sana. Ada rasa rindu di dalam lubuk hatinya pada Naruto dan rasa tidak enak pada Hinata karena sikapnya yang barusan. Ia menyadari sikapnya sungguh sangat tidak mencerminkan umurnya. Bagaimana bisa ia bertemu Naruto? ia sungguh malu, kesal, marah atas pertengkaran kemarin. Ditambah malu pada Hinata dan Sasuke yang sudah berusaha membantu memperbaiki hubungannya dengan Naruto. Ia sangat menyesali sudah bersikap seperti tadi pada Hinata. Dipikir-pikir lagi benar kata Hinata kalau ia lari terus masalah ini takkan pernah selesai dan akan menyakiti hatinya sendiri. Lelah akan semuanya, ia kemudian membalikkan badan menyusul Hinata dan Kiba yang beberapa menit lalu meninggalkan dia. Tenten berlari ke bawah melewati tangga, ia melihat lift dan menuju ke sana. Ia berpikir Hinata dan Kiba pasti langsung pulang dan dia berinisiatif menggunakan lift langsung ke lantai satu agar sempat menyusul mereka berdua. Belum sampai lift, seseorang memanggilnya.

"Hei!! Mau kemana?" tanya Hinata di balik tembok dekat tangga yang Tenten lewati. Tenten kaget dan berbalik menghampiri Hinata juga Kiba.

"Maafkan aku Hinata" ucapnya menyesal.

"Yaah mau bagaimana lagi kau kan sahabatku masa gak kumaafin. Lagian kalau bukan karena Kiba yang menyuruh untuk menunggu di sini aku bakal marah-marah dan langsung pulang saja" Tenten kemudian melirik Kiba yang hanya tersenyum lebar sambil tangannya membentuk huruf dua alias peace. Tenten hanya tersenyum malu.

"Jadi bagaimana? Apa kau berubah pikiran?" tanya Hinata. Tenten mengangguk malu-malu.

"Yihaaaaa~ beneran nihh?" ucap Hinata senang. Tenten hanya mengangguk lagi tidak yakin lalu berkata.

"Tapi dengan syarat. Kau harus benar-benar ikut!" katanya.

"Tentu saja aku ikut. Ayo!" jawab Hinata buru-buru kemudian menarik tangannya.

"A-Apa kita pergi sekarang? Aku kan masih ada kerjaan!" kata Tenten sambil menahan tangan Hinata yang ingin menariknya.

"Minggu depan sayang! Ya sekarang laaaah Tenten. Besokkan hari libur tidak usah terlalu keras dengan pekerjaanmu deh. Tenang saja ada aku dan Kiba yang membantumu nanti" ucap Hinata enteng. Kiba yang mendengar namanya disebutkan refleks melotot pada Hinata.

"A-Apa? Aku juga??" tanya Kiba ngegas tidak percaya atas apa yang diucapkan Hinata.

"Diam baka! Kau ikuti saja perintahku!" jawab Hinata yang membuat Kiba tertunduk lesu.

"Aku belum ada persiapan!" kata Tenten melas.

"Sudahlah kau hanya perlu membawa diri saja, jangan lupa berpakaian yang sesuai dan bawa jaket tebal mu oke?" terang Hinata menyuruh-nyuruh.

"Ayo ku antar kau ke depan sekalian kita pulang. Aha! kita ambil dulu tasmu. Kiba kau mau kemana? Temani kami!" teriak Hinata pada Kiba yang hendak kabur duluan. Kiba yang mendengar teriakan hanya bisa pasrah dan berbalik menghampiri mereka berdua. Mereka bertiga pun berjalan menuju ruangan Tenten dengan Kiba yang kali ini memimpin tapi berjalan sangat loyo. Hinata dan Tenten berada di belakangnya.

"Memangnya fungsiku ikut dari tadi apa sih? Untuk hal ini?" gumam Kiba mengomel pada Hinata.

"Apa kau bilang!!?" cecar Hinata.

"Tidak kok bu Hinata yang terhormat aku tidak berkata apapun!" jawab Kiba ketus.

"Awas saja kau diam-diam hina aku yah!" kata Hinata lagi.

"Iya-iya nenek lampir baiklah" jawab Kiba hampir bergumam.

"Apa? Aku tidak salah dengar kan? Kau bilang aku lampir? Kupingku masih sehat yah aku bisa mendengarmu!" teriak Hinata.

"Tidak koook! Dududuu~ aku nyanyi lihat" tunjuk Kiba ke mulutnya sendiri. Hinata cengo.

"Hahahahhahahaaaaa~" Tenten tertawa terbahak-bahak yang sukses membuat Kiba dan Hinata terkejut dan saling pandang takut-takut jika Tenten kesurupan di sore hari ini menuju petang.

"Apasih yang kau tertawakan?" tanya Kiba pada Tenten.

"Tidak. Hanya saja aku sudah lama tidak melihat pemandangan ini Hahahaaaa~ kalian berdua lucu Hahahaha~" kata Tenten sambil tangannya ia kipas-kipaskan ke muka.

'Syukurlah kau bisa tertawa lagi Ten' batin Hinata yang senang akhirnya bisa melihat Tenten kembali tertawa. Tidak rugi dia membawa Kiba batinnya.

"Hei kau pikir kami ini pelawak?" tanya Kiba sarkas.

"Jangan membentaknya bodohh!" kata Hinata ngegas.

"Kok aku yang dimarahi sih!" jawab Kiba tak kalah ngegas tapi tak berani menoleh dan memilih melanjutkan jalannya.

"Kau itu selalu pantas kumarahi tau tidak!" jawab Hinata lagi.

"Nyenyenyeeee~ aku tidak dengaaaaaar. Kata Kiba sambil menutup kedua telinganya dan memperlaju jalannya meninggalkan kedua sahabat ini di belakang.

"Dasar Kiba bakaaaa~" Teriak Hinata. Tenten hanya tersenyum sesekali terkekeh.

"Hinata" panggil Tenten

"Hmm?"

"Terima kasih ya~" ucap Tenten. Hinata meliriknya.

"Sudahlah tidak usah berterima kasih. Kau hanya harus banyak belajar dengan ku oke? Aku ini ahlinya dalam urusan cinta jadi kau bilang saja padaku jika ada masalah! Mengerti?"

"Aku bersyukur kau di sini" ucap Tenten lagi

"Hehehe~ Sudah ah! Ayo kita susul Kiba" Kata Hinata sambil merangkul Tenten dan berlari menyusul Kiba.

.

.

Tenten POV

Akhirnya di sinilah aku. Berada di mobil bersama Hinata dan Sasuke yang menjemputku tepat jam 19.00 atau jam 7 malam. Mereka menarik ku seperti adegan penculikan, membiarkan ku makan saja tidak kecuali untuk mandi dan berkemas. Aku hanya dibekali roti serta camilan lain satu kresek penuh.

"Memangnya kita kemah di mana sih?" tanya ku pada mereka berdua di depan. Aku sendiri duduk di tengah. Sengaja tidak ingin menerima tawaran dari Naruto yang ingin menjemputku. Biar saja aku jadi nyamuk, toh moodku masih tidak baik sekarang walau aku menyesal tetap saja rasa kesal pada Naruto itu masih ada.

"Shobugahama campsite" jawab Hinata hati-hati takut aku bakal protes keras. Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Pantas saja mereka menculik ku jam 7 karena perjalanan yang harus ditempuh ke sana kurang lebih 2 jam 30 menit. Pasti Naruto akan bosan sendiri dalam perjalanan. Aku jadi merasa tidak enak padanya. Tapi buru-buru ku tepis. 'ah siapa suruh buat kesall' kata ku dalam hati.

"Baiklah bangunkan aku jika sudah sampai" aku meringkuk mengambil posisi tidur ku agar nyaman saat tidur dengan agak merebahkan sandaran kursi. Hinata yang heran hanya terkesima dan berbisik pada Sasuke,

"Tumben dia nggak ngomel?"

"Entahlah" jawab Sasuke singkat.

.

.

Sudah 2 jam 30 menit kami berada di dalam mobil dan sepertinya akan segera sampai. Aku yang sudah terbangun dari tadi mengunyah roti agar mengganjal sedikit rasa lapar ini. Hinata sepertinya tidur sangat pulas karena saat aku bangun tidak mendengar ocehan seperti saat aku mulai mengambil ancang-ancang untuk tidur tadi. Sasuke diam tanpa kata fokus dengan aktivitas menyetirnya. Aku membuka kaca jendela setengah, angin masuk ke dalam membuat aku seketika menggigil kedinginan kemudian aku tutup kembali. Sepertinya kami akan segera sampai. Benar saja, kami akhirnya masuk ke area perkemahan Shobugahama yang berada di Nikko, Prefektur Tochigi.

Sasuke lalu membawa masuk mobilnya lebih jauh ke area dalam. Dapat kulihat berderet mobil-mobil lain di sini tepatnya di area parkir. Karena besok akhir pekan, tentu saja banyak orang dengan tujuan yang sama berkemah di sini. Sasuke dengan pelan berbelok ke kiri sedikit. Dari kejauhan aku melihat seseorang sedang mengerjakan sesuatu, bahkan satu tenda di sana sudah terpasang. Lampu mobil Sasuke menyorot orang itu yang otomatis melindungi matanya dengan tangan menghadap kami. Lalu saat kami mendekat, ia dengan sigap seperti seorang tukang parkir, mengarahkan mobil Sasuke untuk berada di lain sisi mobilnya. Sasuke yang dengan lihai memarkir mobil telah selesai kemudian tanpa mematikan mesin mobil, ia membangunkan Hinata. Setelah Hinata mulai agak sadar, Sasuke keluar dengan disambut oleh Naruto. Mereka berdua berbincang sebentar. Aku agak gugup rasanya dada ini berdetak terlalu kencang. Entah ada apa dengan diriku. Sambil berbincang dengan Sasuke, Naruto curi-curi pandang ke dalam mobil melihatku. Aku pura-pura berbincang dengan Hinata yang sebenarnya belum terlalu sadar dari tidurnya.

"Hei Hinata, bangunlah!" kata ku sambil mengguncang bahunya dari belakang.

"Hoooaamzz.. iya ini dari tadi udah bangun kok" jawabnya lemas. Sasuke dan Naruto mulai menghampiri kami di dalam mobil.

"Terus kenapa masih di situ? Ayo keluar" ajak ku cepat secepat degup jantung ini.

"Buru-buru banget sih Ten" omel Hinata.

"Kalian berdua keluarlah!" suruh Sasuke menghampiri kami dari pintu mobilnya dan mulai membuka bagasi. Tanpa menunggu Hinata aku keluar duluan. Naruto hanya tersenyum tipis kemudian mengangkut barang-barang yang Sasuke bawa. Naruto dan Sasuke memang mempunyai hobby yang sama yaitu berkemah. Tidak heran barang-barang yang dibawa Sasuke pun tidak jauh dari yang namanya kemah dan sangat lengkap pula. Begitu juga milik Naruto yang sudah terpasang beberapa seperti tenda dan alat-alat lainnya.

"Tenten tungguin dong!" Hinata kemudian menyusul ku keluar. Kami berdua kemudian menuju ke dekat tenda yang sudah Naruto buat dengan beberapa peralatan yang belum sempat ia urus karena menyambut kedatangan kami ditambah membantu Sasuke. Hinata dan aku hanya berdiri tidak tahu harus melakukan apa. Aku sebenarnya ingin membantu, tapi melihat Naruto aku jadi merasa canggung. Malah bukan kesal lagi yang ada tapi hanya rasa gugup dan malu.

"Hey kalian berdua jangan bengong saja. Bantu kami!" teriak Sasuke yang sejak kapan suka sekali menyuruh-nyuruh.

"Baiklah sayang kuu untuk kamu apa sih yang nggak?" jawab Hinata yang sukses membuat ku ingin memuntahkan roti yang sudah ku makan tadi. Ia kemudian menghampiri Sasuke yang sedang sibuk membuka tenda. Aku menelan ludah karena melihat Naruto yang masih mengangkut barang, sok-sokan saja membantunya. Aku kemudian menghampirinya. Aku ingin bertanya 'ada yang bisa kubantu?' tapi rasanya lidah ini kelu dan tercekat. Dengan canggung aku mengambil sepertinya box berisi makanan. Yang kubayangkan ringan ternyata berat. Aku mengambil dengan dua tangan dan berhasil menurunkannya dengan susah payah. Kali ini aku mengangkat dengan satu tangan, ternyata tidak seringan yang kubayangkan. Naruto datang dari belakang membawa kursi lipat menghampiriku dan menggunakan satu tangannya lagi mengangkut kotak tersebut bersamaku. Pipiku jadi menghangat. Bukan karena demam, tapi karena grogi dan terpesona dengan tindakan spontan pria ini. Tindakan yang sangat aku rindukan.

"Cieeeeeeee~" olok Hinata yang melihat.

"Apaan sih?" Kataku melewati mereka berdua yang masih berkutat dengan tenda. Dengan kerjasama kami berdua akhirnya box makanan ini selamat sampai tujuan.

"Baiklah kalau begitu aku akan merakit mejanya. Sasuke kau atur saja ya di situ dengan Hinata" kata Naruto kemudian menatapku yang ada di sebelahnya.

"Kau tidak ada kerjaan kan? Kalau begitu bantu aku memasang kursi itu dan menyalakan lentera ini"

"Ta-tapi bagaimana cara pasang lampunya?" tanyaku

"Nanti ku ajari. Kalau begitu mulailah dulu memasang kursi itu. Aku akan merakit mejanya" aku hanya mengangguk tanda mengerti.

.

.

Saat ini sudah hampir jam setengah dua belas. Akhirnya semua yang kami kerjakan selesai dengan aktivitas terakhir Naruto yaitu menghidupkan api unggun. Kami berempat mengelilingi api unggun itu dengan diam sambil menikmati snack yang Hinata bawa untuk ku tadi. Walau pemandangan di depan sangat gelap, tapi aku merasakan dan mendengar desir air danau yang tertiup angin ke arah kami.

"Sasuke kita jalan-jalan yuk ke sana" ajak Hinata pada Sasuke. Sasuke hanya mengangguk kemudian mereka berdua berdiri bersamaan.

"Tu-tunggu aku ikut!" pintaku yang tidak ingin berduaan saja dengan Naruto. Baru saja aku hendak berdiri, Hinata melarang.

"Tidak. Tidak boleh! Aku hanya ingin berduaan dengan Sasuke. Kau jangan mengganggu kencan kami. Ayo Sasuke!"

"Ta-tapi kan!" tanpa mendengarkan ku, Hinata dan Sasuke kemudian pergi meninggalkan ku seorang yang hanya berdua dengan Naruto. Naruto sedang merebus air di api unggun. Aku keringat dingin karena suasana ini canggung sekali. Naruto membelakangi ku. Aku harap dia berbicara sekarang, agar aku lepas dari suasana canggung yang menyiksa seperti ini. Tiba-tiba ia berdiri membawa kursinya duduk di sampingku. Sangat dekat. Aku merasa seperti akan dihakimi. Aku tertunduk seperti orang kikuk saja. Naruto sepertinya sedang menatap ku tajam.

"Apa kita bisa bicara sekarang?" tanyanya. Aku menelan ludah sambil memejamkan mata. Mengusahakan agar diriku bisa berpikir dewasa tanpa marah-marah seperti kemarin. Aku mencoba menengadahkan kepala dan menatapnya seraya mengangguk.

"Bisakah aku bertanya padamu?" tanyanya lembut. Aku hanya mengangguk.

"Apa kau marah padaku karena menyentuhmu?" aku menggeleng.

"Apa aku sangat tidak sesuai di matamu hingga kau tidak mau melihatku?" aku menggeleng keras.

"Tidak bukan begitu!" jawabku.

"Lalu kesalahan apa yang aku lakukan padamu ten?" seperti terhipnotis, akupun menjawab dengan lantang,

"A-Aku hanya marah melihatmu dengan Sakura"

"Apa? Kau melihatku dengan Sakura? Jika kau melihat, itu tidak seperti apa yang kau pikirkan Ten"

"Aku paham. Tapi aku juga bingung dengan perasaan ini"

"Bingung bagaimana maksudmu?"

"Aku tidak tahu. Saat melihatmu dan Sakura aku jadi kesal"

"Sudah kubilang aku hanya mencintaimu dan cuma kamu yang bisa membuat ku bahagia. Apa kau tidak percaya?"

"Aku ingin percaya padamu Naruto. Tapi hatiku rasanya tidak bisa menerimanya. Saat aku melihat kau dengannya hatiku sakit rasanya ingin menjerit. Aku ingin menangis tapi nggak bisa"

"Tapi.. kau menangis saat ini Ten" aku menyentuh pipiku yang sudah entah kapan basah. Aku tidak percaya aku menangisinya. Apa aku menangisi kebodohanku. Naruto yang kaget mencari tisu dan mendapatkannya di atas meja lalu menyerahkannya kepadaku. Aku mengambil lalu membuang muka.

"Maaf!" ucapnya.

"Tidak kau tidak salah. Aku yang sangat bodoh membiarkan perasaan sakit ini menghampiriku" kata ku sambil mengusap air mata serta ingus ini. Naruto menepuk-nepuk pundakku pelan.

"Tenten. Hei lihatlah aku" suruhnya. Aku tidak bergeming masih dengan melap ingusku yang sedikit meleleh.

"Nona cepol~" dengan berat hati aku berbalik menatapnya. Ia mendekatkan diri padaku dan tepat saat itu

Cup!

"Itu namanya kau cemburu bodoh" matanya menatap tajam aku. Tangan kirinya menangkup pipiku dan tangan sebelahnya mengusap-usap rambutku lembut. Aku blushing karena bibirku dikecup olehnya walau singkat tapi menurutku itu romantis.

"Apaan sih? Aku malu.." kataku sambil kedua tangan ini kuangkat menutupi wajah yang berhasil dibuat merah olehnya. Dia terkekeh dan berusaha melepas tanganku dari wajah.

"Hei. Tidak usah malu nona cepol dua. Aku juga bisa merasa begitu jika melihat kau dengan pria lain" kata Naruto menenangkanku. Dia kemudian menggenggam kedua tangan ini. Rasanya hangat dan nyaman sampai-sampai aku tidak ingin melepasnya.

Cup!

Ia menciumi kedua tanganku mesra lalu berkata,

"Aku mencintaimu Tenten" saat dia mengatakan itu sambil menatapku, aku tersentuh dan matapun mulai berkaca-kaca.

"Aku juga" jawabku tidak dapat kutahan seperti biasanya. Membiarkan kata-kata yang menurut ku lebay ini keluar dan aku memeluknya erat. Sangat-sangat erat. Pelukan yang sangat aku rindukan belakangan ini akhirnya dapat kurasakan lagi. Kesalahpahaman dan ketidakdewasaanku pada saat itu berubah menjadi suatu kesadaran bahwa aku tidak ingin kehilangan Naruto, orang yang kusayangi dan juga menyayangiku. Aku melepaskan pelukanku. Untuk beberapa saat kami saling tatap menatap. Membuat kepala kami bergerak maju dengan sendirinya tanpa disuruh, hingga kedua bibir yang terlanjur dingin ini bertemu dan menciptakan sensasi hangat. Membuat kami meluapkan kerinduan ini dan melupakan kesalahpahaman yang terjadi.

Kroooooookk~

Aku menarik diri ke belakang. Suara perutku sukses membuat aktivitas berciuman kami terhenti. Ia menatapku dan melihat ke arah perut yang sudah kupegangi sedari tadi bergantian.

"Hei apa yang kau lihat!" protes ku.

"Pikiranmu jangan kotor ya. Aku melihat perutmu yang berbunyi itu. Apa kau lapar?" aku manyun sambil mengangguk-angguk.

"Hinata dan Sasuke tidak memberi ku makan tadi" rengek ku manja padanya.

"Wahh benarkah? Wahh kurang ajar sekali mereka membiarkan kekasihku ini lapar" kata Naruto sok kesal pada Hinata dan Sasuke. Kedua orang yang dibicarakan kemudian muncul sambil bergandengan tangan mesra.

"He-heiii!! Kalian berdua wanita ku lapar. Apa yang kalian berdua lakukan padanya?" cecar Naruto. Aku masih manyun sambil mengangukkan kepala sekedar akting pura-pura sedih tidak dibiarkan makan sebelum berangkat tadi.

"Apa? Apa yang kau katakan padanya Ten? Bukannya aku membelikan roti?" tanya Hinata tak terima.

"Iya Hinata tapi roti tidak membuatku kenyang tau" jelas ku.

"Astaga benarkah? Kalau begitu kau bilang dong jangan diam saja" kata Hinata lagi menghampiri tempat duduknya yang tidak berpenghuni sedari tadi.

"A-apa? Jadi salahku gitu? Bukannya aku kelaparan karena ada yang memaksaku pergi?" tanyaku mengisengi.

"Salahmu ikut kami!" tegas Hinata.

"Hei-hei sudahlah tidak usah ribut. Mending kita makan mie saja. Sluurp!" potong Sasuke yang tiba-tiba sudah berada di samping Hinata dengan memegang cup mie dan menyeruput isi di dalamnya.

"Hei teme sejak kapan kau membuat mie?" tanya Naruto kaget.

"Aku menyeduhnya pakai air itu. Sepertinya airnya kurang dobe" jawab Sasuke polos.

"Heii! Air itu untuk Tenten atau sini mie itu berikan padaku teme" omel Naruto menghampiri Sasuke.

"Tidak. Aku juga lapar. Kau rebus saja lagi airnya. Sluuurp~" kata Sasuke sambil menyeruput mienya santai.

"Eh Naruto jangan rebut makanan pacarku dong!" kata Hinata mencoba menahan Naruto agar tidak menjarah pop mie milik Sasuke.

"Hei sejak kapan kau berani membentakku?" tanya Naruto.

"Se-sejak aku mendapatkan Sasuke" jawab Hinata terbata.

"Oooh jadi begitu yah kalian berdua mulai bekerja sama. Ingat yah aku yang membuat kalian berdua jadian" omel Naruto yang baru saja kulihat bisa bersikap kekanakan begini. Aku terkekeh dan dalam hati berkata,

'Aku sangat bahagia malam ini. Andai saja aku tidak ikut, mungkin aku tidak dapat berbaikan dengannya, mungkin lebih parah lagi putus dalam waktu yang singkat. Dan aku bakal tidak merasakan perasaan campur aduk seperti marah, sedih, canggung, malu, bahagia, menangis, tertawa bersama. Sepertinya aku akan menyesal jika mengabaikan usaha mereka untukku. Aku tidak ingin membohongi diri lagi. Yang aku inginkan hanya bahagia dengan Naruto kalau bisa untuk selamanya. Tidak salahkan jika aku berharap begitu?'

"Hei berhenti bertengkar" teriakku pada mereka berdua.

"Naruto tambahlah airnya jangan sampai kurang yah. Aku akan mengurus mienya, Hinata duduklah. Kau mau juga kan? Akan aku ambil sekalian. Kau juga Naruto kita makan sama-sama" perintahku.

"Baiklah kalau begitu" jawab Naruto dan Hinata bersamaan. Hinata lalu duduk di sebelah Sasuke yang asik melahap mienya sambil menatap Naruto dan aku bergantian.

"Sepertinya mereka sudah baikan" bisik Hinata pada Sasuke.

"Aku rasa juga begitu" jawab Sasuke setuju.

"Aaaaaaa~ senangnyaaa~" ucap Hinata girang kemudian memeluk Sasuke yang hampir saja menumpahkan isi pop mie di tangan.

To be Continue..