Setiap manusia pasti butuh cinta. Cinta kepada orangtua maupun pasangannya. Siapa sih manusia di dunia ini yang tidak butuh cinta? Hanya orang gila kan? Tetapi, wanita yang satu ini tidak gila. Ia hanya gila pada pekerjaannya dan menomor sekiankan masalah cinta. Baginya cinta hanya sebuah rasa yang tidak berpengaruh dalam hidupnya, yang hanya merugikan dirinya. Ia adalah Tenten tanpa marga dan dia tidak butuh CINTA.

.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: NaruTen

Author: Nona Romes

Genre : Romance dan Sedikit Humor

Warning: Typo, OOC, Crack Pairing, Alur Maju Mundur, Newbie

Chapter 14

Normal POV

Sudah lima bulan hubungan Tenten dan Naruto berjalan. Seperti pasangan pada umumnya, mereka berdua bertengkar, berbaikan, kemudian bertengkar lagi dan berbaikan lagi. Bedanya sekarang Tenten tidak ingin berdiam diri dan mencoba menyelesaikan segala permasalahannya dengan Naruto secepat mungkin. Jika waktu itu Tenten hanya menghindari saja, sekarang Tenten lebih blak-blakan untuk mengeluarkan isi hatinya kepada Naruto.

" Hoi-hoi! Jangan dipindah-pindah terus dong chanelnya. Bisa tidak sih kau dengan konsisten nonton salah satu acara saja" omel Naruto pada Tenten. Mereka berdua saat ini sedang bermalam minggu di rumah Naruto dengan makan malam dan setelah itu nonton tv bersama. Saat ini Tenten yang berbaring dengan posisi miring di sofa milik Naruto memegang remote tv dan memencet-mencet remote tersebut sesuka hatinya.

"Tidak-tidak. Aku tidak suka menonton iklan yang lama. Lebih baik tonton dulu yang lain sambil menunggu" katanya santai. Naruto yang duduk melantai di bawah hanya berdecak kesal. Tubuhnya ia sandarkan ke sofa yang telah dikuasai Tenten barusan.

"Ampun deh! Tapi kau itu sudah beberapa kali pindah-pindah" cecar Naruto. Tenten cuek tidak mengindahkan perkataan Naruto dan tetap pada pendiriannya. Naruto yang kepalang kesal hendak merebut remote itu dari tangan Tenten, tapi tidak berhasil.

"Ihh kau ini! Tidak akan ku biarkan!" kata Tenten melotot sambil remotnya ia tarik ke belakang kepalanya. Naruto kembali ingin merebut tapi buru-buru Tenten memegang dan mendekapnya erat.

"Serahkan!" kata Naruto berusaha melepaskan remot dari dekapan tangan Tenten.

"Tidak akan!" tegas Tenten. Melihat tidak ada celah untuk dapat mengambil remote tersebut, Naruto memicingkan matanya dan menatap Tenten dengan tatapan jahil.

"Baiklah jika kau bersikeras!" Naruto kemudian mengangkat tangannya bersiap untuk mengelitiki Tenten.

"Hei! Jangan macam-macam yah" ancam Tenten. Naruto yang tidak peduli langsung menggelitiki pinggang Tenten yang otomatis langsung tertawa.

"Hahahhahaa~ geli bodooh hahahahaa~ he-hentikan hahahhaa~" Tenten tertawa-tawa geli sambil tangannya masih mempertahankan remote tersebut tetap pada dekapannya.

"Hahahaaha~hentikaaan~ hahahaaaa~" Naruto ikut tertawa dan merasa senang. Batinnya tidak lama lagi remote tersebut akan jatuh ke lantai. Benar saja tak lama kemudian remote itu jatuh menghantam lantai dan berbunyi agak keras. Setelah lepas, Tenten ingin memukuli Naruto dengan kedua tangannya tapi dengan cepat Naruto memegang kedua pergelangan tangan Tenten sehingga otomatis terhenti pula acara gelitiknya. Tenten terkesiap, bukan karena terkejut remote tersebut jatuh dari tangannya dan menghantam lantai. Tapi suasananya yang tiba-tiba jadi sepi membuat Naruto seperti ingin segera melahap wanita yang berbaring di sofa kesayangannya ini. Dengan bodynya yang sangat menggoda iman berbalut kaus putih tipis dan celana jeans pendeknya di atas lutut menampakkan paha mulus dan putih milik Tenten. Melihat Tenten yang juga menatapnya ia yakin Tenten merasakan hal yang sama. Dengan Tenten masih berbaring di atas sofa, dan Naruto yang masih bertumpu pada kedua lututnya di lantai mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Tenten agar dia bisa menciumi bibir Tenten untuk ke sekian kali. Tenten memejamkan mata bersiap menerima ciuman dari Naruto.

Tereng.Teng.Teng.Teng.Teng.Tereng.Teng.Teng.Teng.Teng.Teng~

Suara bunyi handphone Naruto sukses menggagalkan ciuman mereka berdua. Kalau saja Tenten tidak menempeleng Naruto mungkin Naruto akan mengabaikan saja dan tetap menciumi Tenten. Naruto lalu mengambil handphone yang berada di dekatnya dan melihat nama si penelpon. Ternyata itu adalah ibunya.

"Ada apa bu?..." tanya Naruto.

"Tidak aku di rumah saja..." jawabnya singkat

"Yaah aku tidak tahu kapan bu..."

"Baiklah-baiklah aku akan mengunjungimu... Iyaa..."

"Bagaimana kalau lusa?..."

"Baiklah. Aku tutup ya?" Naruto cepat cepat menaruh begitu saja teleponnya di lantai dan bersiap melanjutkan kembali aktivitas yang sempat tertunda tadi tapi keburu Tenten duduk dan menyuruh Naruto untuk duduk juga di sampingnya.

"Ibumu ya?" tanya Tenten.

"Iya begitulah seperti biasa menelponiku seperti penagih hutang saja" jawab Naruto sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Hei jangan berkata seperti itu. Dia ibumu" protes Tenten dengan pernyataan Naruto barusan.

"Iya-iya maaf. Dia menyuruhku mengunjunginya karena sudah satu bulan ini aku tidak ke rumah" kata Naruto jujur.

"Apah? Bukannya sudah kusuruh sesekali kau kunjungi mereka? Lagian rumah mu kan dekat dari sini!" tegas Tenten.

"Yaaah maaf . Aku agak malas sih karena setiap datang, ibu selalu mencoba menjodohkan ku atau berbicara omong kosong lainnya"

"Sakura lagi?" tanya Tenten sudah curiga.

"Yaah begitulah!" jawab Naruto malas.

"Apa aku harus datang ke rumahmu?" tanya Tenten ragu.

"A-apa? Kau serius?" Naruto memandanginya tak percaya.

"Yah mau bagaimana lagi. Hubungan kita sudah lima bulan dan aku rasa sudah waktunya keluargamu tahu" jawab Tenten santai.

"Aku sih senang tapi kau tahu kan ibu ku seperti apa?"

"Ya aku tahu, dia hanya menyukai Sakura" jawab Tenten sedih.

"Tidak-tidak Ten. Ibu hanya belum mengenalmu. Aku cuma takut kau sedih dan kecewa dengan sikap ibuku jika bertemu dirimu" jelas Naruto dengan memegang kedua pundak Tenten, meyakininya agar saat bertemu semuanya baik-baik saja.

"Akan aku hadapi nanas! Bagaimana pun juga aku merasa tidak nyaman menyembunyikan hubungan kita dari ibumu" terang Tenten yakin.

"Maaf merepotkanmu" sesal Naruto.

"Tidak bodoh. Aku yakin akan baik-baik saja nanti asal kau bersama ku" kata Tenten lagi tersenyum. Naruto yang melihat senyumnya ikut tersenyum juga dan mulai memeluknya manja.

"Pasti!" yakinnya sambil menciumi kepala Tenten.

.

.

Hari yang ditunggu tiba. Naruto dan Tenten gugup seketika melihat ibu dan ayah Naruto di hadapan mereka berdua. Minato hanya tersenyum-senyum sedangkan ibunya berkacak pinggang dengan ekspresi tidak suka. Ia masih ingat pada Tenten, bagaimana tidak? Waktu itu ia menggep anaknya bersama Tenten pagi-pagi dengan wajah lusuh seperti habis bangun tidur. Seolah-olah Tenten murahan menurutnya. Apalagi setelah itu Tenten pamit pergi dan menolak ajakan untuk makan bersama. Memperlihatkan kesombongan kata Kushina. Ia mempunyai pendapat tersendiri mengenai itu, dan ternyata tahu-tahu anaknya sudah jadian dengan orang yang tidak dia inginkan membuatnya tambah tidak suka dan terlanjur menginginkan Naruto harus bersama Sakura.

"Jadi kalian dua sudah berpacaran berapa lama?" tanya Minato pada keduanya.

"Lima bulan ayah" jawab Naruto. Tenten tersenyum canggung.

"Wah selamat yah! Ayah kira kau bakalan jomblo seumur hidup Naruto. Haha~" Kushina menoleh ke suaminya dan menatap tajam Minato. Minato cuek dan bertanya lagi kali ini pada Tenten.

"Oya Tenten- chan kau bekerja dimana?" tanya Minato penasaran.

"Di NoteTV paman sebagai asisten produser"

"Wow ternyata kalian berdua di bidang yang sama ya? Hebat sekali. Bahkan jabatanmu di atas Naruto. Hihi~" olok Minato melirik pada anaknya.

"Ayah!!" protes Naruto.

Kushina menunjukkan ketidakpeduliaannya. Ia lalu berdiri dengan cuek menuju dapur dan tidak tertarik mendengarkan percakapan mereka. Melihat itu, Minato dan Naruto tidak enak hati dengan Tenten atas sikap ibu rumah tangga dari keluarga ini.

"Tenten- chan maaf ya jangan dimasukan dalam hati. Dia memang seperti itu" bisik Minato. Naruto mengiyakan. Tenten mengangguk hanya bisa pasrah. Sebegitu bencinya ibu Naruto padanya. Ia sendiri tidak punya pengalaman bertemu calon mertua, makanya ia bingung harus bersikap seperti apa. Andai ada Hinata, ia akan meminta solusi pada saat itu juga dan langsung mempraktikkannya. Tenten meringis.

"Kalau begitu kalian berdua lanjut saja mengobrolnya ya. Ayah akan menyusul ibu. Kalian tenanglah" kata Minato tersenyum menenangkan kemudian beranjak pergi menuju dapur.

"Bagaimana ini? Aku hampir tidak bisa berbicara pada ibumu?" sesal Tenten.

"Bukan salahmu. Ibu saja yang memang cuek. Ayo ke atas" ajak Naruto.

"Ke mana?"

"Kamarku"

Mereka berdua lalu menuju lantai atas. Tenten duduk di kursi belajar milik Naruto. Naruto mengambil kursi lain dekat jendela dan duduk di hadapan Tenten.

"Apa yang harus ku lakukan ya? Aku sangat bingung. Lihat tangan ku dingin sekali" tunjuk Tenten. Naruto kemudian memegang tangannya.

"Haha~ tenang. Semua akan baik saja. Ada ayah dipihak kita. Dia akan berbicara pada ibu, aku yakin itu!" kata Naruto berusaha menenangkan Tenten agar tidak kepikiran.

"Tapi kan kita tidak bisa selalu berharap pada ayahmu. Aku juga ingin berusaha tapi aku tidak tahu caranya. Apa aku harus tanya Hinata sekarang juga?"

"Tenang saja nona cepol. Kau masih banyak waktu untuk datang lagi ke sini" jawab Naruto

"Tetap saja aku panik tahu. Entahkah aku akan berani datang lagi ke sini!" jelas Tenten.

"Kita akan berusaha bersama. Ingat ada aku, aku akan selalu bersamamu"

"Baiklah kalau begitu" Tenten kemudian memeluk kekasihnya, Naruto balik memeluk.

.

.

Di Dapur...

"Kau jangan begitulah. Kasihan Tenten- chan"

"Kau tahu kan dari awal aku sudah tidak suka"

"Aku tahu. Tapi setidaknya hargai tamu kita. Apalagi ini pertama kalinya Naruto membawa kekasih. Bukannya itu yang selalu kau inginkan?"

"Tapi bukan dia!!"

"Aku mohon sayang. Tolong dengarkan aku sekali ini saja"

"Kau mau aku berpura-pura menyukainya hah? Aku tidak bisa!"

"Bukan begitu sayang. Setidaknya berbicaralah dan jangan pasang muka masam. Tenten- chan bisa salah paham"

"Aku tidak peduli! Pokoknya aku tidak suka!!" jawab Kushina dengan pisau yang sudah menempel pada talenan kayu membuat Minato diam bergidik ngeri. Memang kalau Kushina marah, barang di dapur bisa-bisa habis dan rusak parah.

"Oke-oke. Aku akan bantu kau memasak" kata Minato menelan ludah dan menyetop pembahasan yang tadi.

'Dia tidak suka tapi tetap menyiapkan makanan untuk mereka? Apa dia benar-benar tidak suka?' tanya Minato dalam hati.

Setelah makan bersama dan mengobrol sebentar, Naruto mengajak Tenten pulang. Minato mengantar mereka berdua sampai ke depan rumah sedangkan Kushina tidak ingin sok baik di hadapan Tenten dan memilih tetap melakukan aktivitasnya. Minato meyakinkan agar Tenten tidak usah khawatir mengenai ibu Naruto, dan mengatakan agar tidak jera datang lagi ke sini. Tidak lupa pesan-pesan lain mengenai hubungan mereka berdua, menyuruh Tenten agar sabar menghadapi Naruto dan bisa saling menjaga satu sama lain.

"Terima kasih atas jamuannya. Kalau begitu kami pulang dulu. Sampai bertemu lain waktu paman" kata Tenten ramah.

"Sering-seringlah datang oke?" kata ayah Naruto. Keduanya hanya mengangguk dan melambai pada Minato. Minato menghembuskan nafasnya.

"Aku harap ibumu bisa melihat betapa cocoknya kalian berdua. Hmm"

.

.

"Hiks~ Hinataaa apa yang harus aku lakukan? Tolong akuuu" rengek Tenten pada sahabatnya itu.

"Hahahaha~ kau datang saja terus ke rumahnya Ten. Ambil hatinya dengan perhatianmu. Misalnya saat kalian dua Naruto datang, bawalah oleh-oleh makanan atau hadiah. Tapi jika seperti itu terus kau kelihatan ingin menyogok saja. Baiknya dilakukan sesekali. Nah ini yang paling diperhatikan oleh ibu-ibu mertua yaitu kerajinannya. Jika ibunya sedang memasak, kau bantulah dia"

"Aku kan tidak bisa masak" jawab Tenten polos.

"Maksudku bukan kaunya yang memasak. Bantu saja seperti memotong daun bawang atau sayur lainnya. Bisa juga kau membantu menyiapkan piring makan atau menyendok nasi. Aha! Atau kau bisa mencuci piring. Tidak mungkin kan, kau tidak bisa dengan hal yang semudah itu?" Tenten hanya melongo mendengar penjelasan Hinata. Ia tidak tahu bahwa Hinata berpengalaman sekali.

"Kau yakin aku bisa melakukannya?" tanya Tenten ragu.

"Tentu saja kau bisa. Yang penting kau harus berani dan mentalmu siap melihatnya untuk pertama kali. Jangan goyah saat dia memasang ekspresi galak atau malas. Kau harus terus maju tanpa melihat itu. Jika dia melihat ketulusanmu, aku yakin ibunya Naruto akan luluh dengan sendirinya. Kau hanya harus berusaha dulu" kata Hinata yakin.

"Aaaaah terima kasih Hinata. Hiks~ jika tidak ada kau mungkin aku tidak akan berani ke sana lagi. Arigatou sensei" peluk Tenten.

"Ngapain kalian berdua pelukan di sini? Bukannya kalian berdua straigh?" tunjuk Kiba pada keduanya. Ia sendiri baru saja datang untuk makan siang, melihat Tenten dan Hinata berpelukan membuat ia penasaran dan berspekulasi aneh.

"Baka!!!" marah Hinata. Tenten melepaskan pelukannya lalu melayangkan angin pukulan ke arah Kiba.

"Oh. Salah ya?" kata Kiba santai lalu duduk di hadapan mereka berdua. Mereka lalu bersama-sama memesan makan siang dan mengobrol tentang pengalaman Hinata pertama kali bertemu ibu Sasuke.

.

.

Tidak terasa hari ini hari sabtu. Tenten ingin memberi kejutan pada Naruto dengan datang ke cafe tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Kata Naruto seharian ini sampai jam enam sore ia akan berada di cafe setelahnya baru mereka akan bertemu. Awalnya Naruto ingin mengajak Tenten ikut, tapi Tenten beralasan ingin menyelesaikan sedikit pekerjaannya.

Tenten mengemudikan mobilnya menuju cafe Naruto. Seperti biasa memarkirnya dekat jalan kemudian berjalan kaki sebentar dan sampailah ia di depan cafe Naruto. Dari luar, Tenten dapat melihat Sakura yang sedang ngobrol bersama Naruto. Ada rasa cemburu di lubuk hati Tenten walau Naruto berulang kali menjelaskan tidak mungkin melarang Sakura untuk terus datang ke cafenya. Bagaimana pun juga Sakura datang bukan untuk menggodanya tapi hanya sekedar meminum kopi dan mengobrol layaknya sahabat. Itu yang Tenten yakini sekarang, makanya ia berusaha untuk tidak marah jika Naruto bersama Sakura. Toh mereka sudah pernah bertemu dan nongkrong bersama sebelumnya dan ia percaya pada Naruto. Tapi untuk saat ini Tenten malas untuk masuk ke dalam dan mengurungkan niatnya memberi kejutan. Kemudian dia dengan cepat meninggalkan cafe itu menuju ke sebuah rumah yang terlintas begitu saja dalam pikirannya.

Saat ini Tenten berada di sebuah rumah yang sudah sangat familiar.

Ting.Tong.Ting.Tong

Tenten memencet bel. Tidak lama terdengar suara derap kaki menuju arahnya dan intercom pun berbunyi.

"Siapa di sana?" tanya pemilik rumah.

"Sa-saya Tenten Oba- san" Kushina diam untuk beberapa saat berusaha mencerna pernyataan orang dibalik intercomnya. Ia lalu membukakan pintu, terkejut melihat Tenten sendirian datang tanpa adanya sosok Naruto. Kushina menyuruh Tenten masuk. Tenten lalu masuk mengikuti Kushina yang mengarahkannya ke ruang keluarga dan duduk di sana berhadapan. Kali ini hanya ada mereka berdua, tanpa ada Naruto maupun Minato.

"Ada apa?" tanya Kushina dingin.

"Aku hanya ingin berkunjung Oba-san. Oya ini aku bawakan buah" Tenten menyerahkan sebungkus buah persik serta apel kesukaan Kushina. Yang Tenten sendiri sudah tahu dari Naruto karena sering bertanya. Kushina mengambil bungkusan itu dengan kasar tanpa berbicara sepatah katapun, berterima kasihpun tidak dan langsung berjalan menuju dapur. Tenten merasakan panas menjalari wajahnya, ia benar-benar gugup lebih dari sebelumnya. Ia tidak percaya nekat datang sendiri ke rumah ini, padahal rencananya ia akan datang bersama Naruto. Entah kesambet setan apa membuatnya senekat ini, dia sendiripun tidak percaya. Tidak lama, Kushina datang membawakan teh di tangannya. Dalam hati Tenten bersyukur, berarti dia tidak dicueki.

"Silahkan diminum. Kalau sudah selesai pergilah" kata Kushina dingin. Tenten mengangguk canggung. Ingin mengucapkan terima kasih pun rasanya tak sanggup dan lidahnya mendadak kelu. Terpaksa ia hanya menyesap minumannya sedikit.

"Aw!" kata Tenten hampir berteriak. Ujung lidah Tenten rasanya keram, baru saja teh ini membakar lidah hampir seutuhnya. Ternyata ia lupa mendinginkan terlebih dahulu karena terlalu gugup mendengar perkataan sadis dari Kushina barusan.

"Ada apa?" tanya Kushina.

"Ti-tidak apa-apa Oba-san"

"Baiklah kalau begitu aku ke dapur dulu. Kalau sudah selesai silahkan pergi. Tidak usah pamit padaku juga tidak apa" katanya ketus lalu meninggalkan Tenten sendirian. Tenten hanya diam seribu bahasa, tidak mungkin untuk menangis di sini. Alhasil ia menampar wajahnya sesekali, tapi tidak keras. Hanya untuk menyadarkannya sedikit.

'Sadar Ten! Kau harus berani' bantinya. Beberapa menit berlalu, teh Tenten sudah habis setengah. Kushina sedari tadi tidak keluar-keluar untuk melihat dirinya. Tidak heran sih, karena ibu Naruto tidak suka padanya. Tenten yang mulai bosan, memberanikan diri melihat Kushina di dapur. Siapa tahu Kushina sedang masak dan ia bisa mengikuti saran dari Hinata berharap akhirnya ibu Naruto luluh. Tapi saat masuk, ia sama sekali tidak melihat Kushina. Hanya beberapa bahan makanan yang baru dipotong tertata di atas talenan. Tenten berjalan lebih jauh menuju dapur kotor. Betapa terkejutnya dia melihat Kushina tergeletak tak sadarkan diri di dekat kulkas. Tenten berlari mendekat, tanpa babibu lagi ia menelpon 911 untuk datang ke kediaman Uzumaki melaporkan bahwa ada yang pingsan. Setelah telepon ditutup, ia mencoba melakukan CPR ala-ala yang dia pelajari saat pelatihan dulu. Walau sertifikatnya sudah mati, tapi ia yakin masih mengingat setiap tahapannya, bahkan bisa dibilang berpengalaman karena beberapa kali dihadapkan dengan situasi seperti ini dulu sekali. Ia lalu memposisikan tubuhnya berlutut di samping Kushina, tumit tangannya ia taruh di tengah dada Kushina dengan tangan satunya berada di atas lalu mulai menekannya dengan cepat sesuai prosedur yang telah dipelajari. Ia lakukan beberapa kali sambil berusaha tetap tenang. Saat tekanan untuk yang ke sekian kalinya, ibunya batuk dan mulai bernafas lagi dengan cepat. Tenten kemudian menjatuhkan diri ke samping Kushina bersyukur pada Tuhan akhirnya Kushina sadar walau masih terlihat lemas. Tenten lalu mengatur posisi Kushina miring ke arahnya dengan satu lutut di tekuk dan tangan diarahkan ke samping pula, lalu tangan satunya ia arahkan melewati dada dengan punggung tangan menempel pada pipi Kushina. Kemudian dengan sedikit menengadahkan kepala Kushina untuk mempertahankan jalan nafas. Tak lama kemudian bel pintu berbunyi, Tenten berlari untuk membuka pintu depan mempersilahkan petugas masuk dan menggotong Kushina yang setengah tersadar menuju ambulans.

"Apa anda ikut?" tanya petugas pada Tenten.

"Saya akan ikut pak" jawab Tenten tegas. Tenten kemudian ikut masuk menemani Kushina dan satu orang petugas lainnya.

"Anda hebat sekali melakukan CPR. Sepertinya sudah terlatih" puji petugas pada Tenten yang melihat posisi Kushina miring tadi menandakan baru saja dilakukan CPR oleh orang satu-satunya selain pasien berada di rumah itu.

"Tidak. Saya hanya melakukan sebisa saya" jawab Tenten.

"Jika saja anda tidak melakukan CPR, mungkin ibu ini akan mengalami hal buruk lainnya yang tidak seorangpun inginkan. Biar dokter yang akan menjelaskan nanti. Syukurlah ibu ini dapat bertahan berkat anda" kata petugas. Kushina yang sedikit tersadar menyentuh tangan Tenten lemas. Tenten yang melihat itu langsung menggenggam tangan Kushina dan berbisik di telinganya.

"Tidak apa-apa Oba-san. Aku di sini"

To be Continue..