Malam hari. Lagi lagi dia harus pergi ke luar. Ada hal yang harus dilakukannya.

Pergi diam diam saat semua orang sudah terlelap tidur, dan berusaha sedapat mungkin mengelabui para penjaga. Sudah beberapa hari dia begitu. Wolfram sendiri tidak berniat menghitungnya dengan tepat. Yang jelas, dia tidak boleh ketahuan. Oleh siapapun.

Dengan tubuh yang lincah dan cukup lentur, serta mata yang tajam, sebentar saja Wolfram sudah berhasil keluar dari istana. Setelah sesaat memperhatikan sekitar, dia bergegas pergi.

Berjalan dengan langkah lebar, matanya mendongak ke atas, melihat bulan yang mengintip malu di balik awan.

Akhirnya dia sampai. Bangunan itu seolah berdiri angkuh di depannya. Auranya cukup mencekam. Tapi dia harus masuk.

Di dalam gelap. Hanya cahaya remang remang yang mampu ditangkap oleh mata.

"Ah, akhirnya kau kembali"

Wolfram menghentikan langkahnya saat mendengar suara itu. Suaranya ringan, namun di saat yang sama juga mengintimidasi. Sosok itu berdiri di depannya. Wolfram menyipitkan mata sesaat, lalu kemudian mendesah. Napasnya terdengar berat.

"Ya... " Wolfram menjawab pelan dan datar. Dahinya berkerut sedikit.

"Oh, ayolah. Jangan memasang wajah suram begitu. Ini tidak terlalu sulit, kan?" Sosok itu berbicara lagi. Wajahnya tersenyum miring, terkesan cukup menyebalkan.

"Jadi, Anda mau menunjukkan apa padaku?" Wolfram berkata datar. Ada nada tegas di suaranya.

"Ah, ya. Mari aku perlihatkan padamu" Sosok tinggi itu berbalik menuju pintu besar di depannya. Wolfram mengikutinya di belakang.

Saat pintu besar itu terbuka, Wolfram melihat dua buah benda yang selama ini jadi incaran musuh mereka. Dua benda itulah rupanya yang membuatnya terbelit dilema begini.

Namun Wolfram dan siapa pun tahu, dua benda itu sangat berbahaya. Selain itu, masih ada dua lagi.

"Kau tahu kan itu apa, Wolfram? Kurasa karena kita sudah bertemu beberapa kali sebelum ini, aku tidak perlu lagi menjelaskannya, kan?"

Wolfram diam saja.

"Aku ingin menyimpannya, bukan membuangnya. Oh, tolong diingat. Jangan mendekati benda itu terlalu dekat. Ya, jarak ini sudah cukup. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Aku mengandalkanmu. Jangan sampai dia tahu tentang ini. Ini rahasia antara kau dan aku. Kau paham?" Sosok itu menatap Wolfram lekat.

"Ya. Saya mengerti"

Sosok itu tersenyum puas mendengar jawaban Wolfram.

"Tenang saja. Tentang apa yang ingin kulakukan dengan benda itu, untuk saat ini cukup aku yang tahu".

"Hm, mungkin malam ini cukup. Nanti akan kupanggil lagi. Nah, selamat malam" Sosok itu pergi. Meski gayanya menyebalkan, sudah beberapa kali ini, Wolfram berhasil menahan emosinya. Sosok itu memang bukan orang biasa. Semua orang segan padanya. Ah, mungkin tidak juga. Lebih tepatnya, hampir semua.

Wolfram pun kembali berjalan dengan langkah lebar. Dia ingin pulang, lalu tidur. Namun tiba tiba ia mengurungkan niat itu. Langkahnya ia belokkan ke bar kecil di kota. Rasanya Wolfram butuh segelas wine untuk menenangkan diri.

Bar kecil itu selalu ramai di malam hari. Sebelum masuk, Wolfram merapatkan tudung mantel biru pudar miliknya yang sedari tadi ia pakai. Sosoknya pasti terlalu mencolok di situ.

Wolfram masuk ke dalam. Dengungan berbagai suara, yang kebanyakan adalah suara pria, seketika menyambutnya. Disusul dengan aroma berbagai minuman yang bercampur dengan aroma tembakau dari cerutu.

Wolfram segera berjalan menuju meja pojok yang tampak kosong. Sesaat setelah ia duduk, seorang pemuda yang sepertinya adalah pelayan disitu, menanyakan pesanannya.

"Tolong sebotol wine dingin" Wolfram berkata datar tanpa menatap sang pelayan. Pelayan itu mengiyakan, kemudian pergi.

Wolfram menerawang sekelilingnya. Semua orang di situ nampak asyik menikmati minuman sambil tertawa dan ngobrol. Seorang lelaki berjambang yang agak berantakan tampak memainkan akordion. Nadanya sumbang. Sepertinya dia memainkannya dalam keadaan mabuk. Sementara orang orang di depannya tertawa cukup keras, serta sekelompok orang di meja belakangnya yang tampak asyik bermain kartu remi, dengan bir di samping.

Pesanannya datang. Wolfram meneguk winenya dengan cepat. Dia haus. Nikmat sekali rasanya saat cairan dingin itu perlahan melewati tenggorokannya.

Tanpa Wolfram sadari, salah satu bartender mengenalinya dari jauh. Pria berambut terang itu yakin itu sosok yang dia kenal. Hanya saja, dia heran kenapa Wolfram ada disini. Sendirian pula.

Sambil menikmati wine miliknya, Wolfram teringat kejadian pingsannya dua hari lalu.

Konyol, batinnya dalam hati. Aku tidak boleh membuat yang lain khawatir lagi. Aku harus menyelesaikan ini sendiri.

Setelah meletakkan uang di atas meja, Wolfram bergegas pergi. Ia merindukan selimut hangat.

Bersambung