Pagi itu matahari bersinar hangat. Sementara langit biru cerah, dengan awan tipis yang berjarak.

Conrad berdiri di lorong istana, bersandar di dinding sementara matanya menatap ujung sepatu kets putih miliknya dengan tatapan rindu.

Ah, ya. Sudah sebulan berlalu sejak dia pulang kembali dari pengembaraannya yang panjang. Dirabanya jaket training miliknya yang sudah lama sekali tak terpakai.

Udara pagi dihirupnya dalam dalam, seolah ingin memanggil ingatannya sebulan yang lalu, saat terakhirnya berada di pelarian, sebelum akhirnya dia kembali pulang.

Saat itu dia ada di sebuah penjara di wilayah Darco. Ada seseorang yang ia cari di situ. Namun ternyata bukan hanya orang itu yang ia temukan, tapi juga Yuuri dan Gwendal. Karena sebuah kecelakaan kecil, mereka tersesat di penjara itu, dan secara kebetulan bertemu dengan Conrad.

Sebuah percakapan singkat dan dalam antara dia dan kakak sulungnya. Yang meski sempat diwarnai kekakuan dan suasana yang cukup mencekam, namun berkat bujukan Yuuri dan sebuah ucapan Gwendal yang sungguh "menampar" hatinya, Conrad pun memantapkan hati untuk ikut pulang bersama mereka.

"Sejak awal kau memang bukan milik Shinmakoku. Kau milik Yuuri heika. Jadi itu terserah padanya."

Sungguh sebuah kalimat sakti yang menggoyahkan. Dan disinilah dia sekarang, hendak menemani Yuuri lari pagi setelah sekian lama. Meski sebenarnya ia merasa asing, karena apapun tujuannya, itu tidak mengubah fakta bahwa ia pernah mengkhianati mereka semua. Perasaan bersalah kerap kali masih menghantuinya. Ditambah lengan kirinya yang terkadang masih terasa sakit sejak kejadian nahas beberapa bulan yang lalu.

"Selamat pagi, Conrad. Sudah siap?" Yuuri muncul dan berjalan ke arahnya. Wajahnya nampak ceria. Conrad tersenyum, kemudian mengganguk. Mengikuti rajanya itu dari belakang.

Setelah satu jam berlari kecil mengelilingi halaman istana yang luas, mereka memutuskan untuk istirahat sejenak.

"Ahh, enak sekali. Sudah lama aku tidak lari pagi begini" Yuuri berkata ringan sesaat setelah menghabiskan air minumnya dalam sekali teguk. Keringat mengalir perlahan dari pelipisnya.

"Wah, aku lupa bawa handuk. Malas sekali kalau harus kembali ke kamar untuk mengambilnya" Yuuri kecewa saat disadarinya handuk kecil yang harusnya ia bawa, tidak ada di situ.

Mendengar Yuuri berkata begitu, Conrad baru menyadari ia juga tidak membawa handuk ataupun sapu tangan.

"Bagaimana kalau minta Wolfram mengantarkan handuk itu ke sini? Dia sekarang pasti masih ada di kamarmu, kan?" Conrad teringat kebiasaan adiknya itu.

Namun alih alih mengiyakan, Yuuri justru menatapnya dengan tatapan sendu. Wajah cerahnya tadi lenyap seketika.

"Yuuri?"

"Ah, maaf. Kalau soal Wolfram, belakangan ini dia tidak ikut tidur di kamarku lagi. Dia bilang, dia ingin sendiri. Dia tidur di kamarnya, kurasa"

"Dia juga sepertinya menghindariku. Beberapa kali, aku melihatnya memasang wajah dengan dahi yang agak mengkerut. Sepertinya dia diam diam menemui seseorang. Matanya seperti waspada sekali" Yuuri berkata pelan. Wajahnya menunduk.

"Hmm, itu cukup aneh. Aku bisa mengerti kalau dia menghindariku, tapi aku tidak pernah berpikir kalau dia menghindarimu" Conrad berkata perlahan.

"Kalau dia menghindarimu, itu juga aneh. Masa dia tidak senang kakaknya kembali ke Shinmakoku setelah sekian lama? Memangnya kalian belum saling ngobrol panjang sejak kau pulang?" Yuuri nampak tidak setuju.

"Sayangnya belum... Sejak awal Wolfram memang tidak suka padaku.

Karena harga dirinya sebagai mazoku, dia tidak mau mengakui kehadiranku..." Conrad berkata perlahan, alis matanya turun, sementara mulutnya tersenyum getir.

"Itu kan dulu. Kalau dia masih berpikir begitu, mana mungkin dia mau mengakuiku sebagai rajanya?" Yuuri bersikeras.

"Itu berbeda. Bagi Wolfram, kau adalah sahabat baiknya, tunangannya, dan tuannya yang diikutinya dengan setia"

"Kalau begitu..."

"Sementara aku adalah orang yang telah mengkhianatimu dan Shinmakoku"

"Tapi... Kau pasti punya alasan, kan?" Yuuri menatapnya iba. Untuk sejenak, dia seperti melupakan keinginannya barusan.

"Meski begitu, itu tidak mengubah fakta bahwa aku telah menyakitimu. Wajar kalau kemudian Wolfram marah padaku" Conrad diam sesaat usai mengucapkannya.

"Tapi memang agak aneh. Tidak biasanya dia begitu. Apa mungkin dia punya pacar baru?" Conrad berkata lagi, kali ini nada suaranya terdengar lebih ringan, wajahnya pun kembali seperti biasa. Cenderung sulit ditebak.

"Pa-pacar baru? Apa maksudmu?" Yuuri gelagapan. Wajahnya memerah sedikit.

"Barangkali dia kencan diam diam di malam hari dengan seorang wanita. Para prajurit di sini memang sudah biasa punya hubungan diam diam seperti itu" Conrad berkata santai, sementara kedua tangannya berada di saku jaket.

"Yah, tapi kalau dia diam diam menemui seseorang dari rumahnya di sana, jujur aku pun merasa sedikit khawatir... " Kali ini mata Conrad nampak menerawang. Setelah itu ia menatap Yuuri lagi.

"Maksudmu tanah Bielefeld? Kenapa?"

"Kepala wilayah Bielefeld yang sekarang adalah Waltorana, pamannya Wolfram"

"Ah, aku pernah mendengarnya. Dia pemilik bros sayap emas yang diberikan Wolfram padaku" Yuuri tiba tiba teringat hari penobatannya sebagai raja, saat Wolfram memberikan bros itu padanya.

"Benar. Meskipun dia pria yang cerdik, tapi caranya kadang terlalu radikal. Sepertinya dia punya ambisi untuk menjadikan keponakannya pemimpin" Conrad berkata hati hati, seolah takut seseorang akan mencuri dengar perkataannya tadi.

Conrad melanjutkan, "Sejak kau datang dan secara tidak sengaja bertunangan dengan Wolfram, belakangan dia tidak terlalu terlihat. Mungkin dia senang karena keponakannya telah menjadi tunangan Maoh"

"Pemimpin? Pemimpin apa?" Yuuri reflek bertanya.

"Wilayah Bielefeld. Atau bahkan negeri ini" Sekilas Yuuri mendengar nada tidak suka di suara Conrad.

"Tapi... Aku masih raja Shinmakoku, kan...? " Yuuri merasa suaranya tertelan di tenggorokan ketika mengucapkannya. Kepercayaan dirinya seolah disedot habis.

"Tentu saja, heika" Conrad tersenyum lembut padanya.

"Tapi masih banyak yang belum aku ketahui" Yuuri berkata terus terang. Raut wajahnya seperti minta pertolongan.

"Tenang saja. Gwendal dan Gunter akan membantumu. Mereka tutor yang hebat" Conrad berusaha meyakinkan dirinya. Suaranya tenang, seperti biasa.

Mereka pun diam.

"Conrad, perutku sudah lapar. Ayo sarapan" Yuuri berbalik pergi. Conrad merasa, Yuuri sedang berusaha menutupi perasaannya, dan Conrad maklum.

Conrad tiba tiba teringat perkataan Yozak tadi malam. Yozak sedang bekerja paruh waktu di bar pinggir kota saat itu. Dia mengatakan melihat Wolfram berada di situ, sendirian.

Kekhawatiran Conrad sepertinya benar adanya.

Bersambung

Percakapan Yuuri dan Conrad di chapter ini sebagian besar diambil dari drama cd Maruma ke 71, dengan sedikit pengubahan.

Silakan tinggalkan komentar bila berkenan.

Komentar pembaca seperti bensin yang menjadi energi semangat saya untuk terus menulis fanfic sederhana ini.

Terima kasih.