Cuaca tampak bersahabat hari ini. Cahaya matahari agak terhalang awan, sehingga tidak menimbulkan keluhan pada orang orang yang sedang beraktifitas dibawahnya.

Wolfram sedang duduk di kursi meja taman, menyesap teh kental yang tampak mengepul. Aroma berbagai bunga memenuhi indera penciumannya.

Sudah beberapa hari berlalu sejak kunjungan terakhirnya ke tempat itu. Wolfram tidak terlalu peduli. Yang ia butuhkan sekarang adalah ketenangan. Dan ia merasa cukup lega, orang itu belum memanggilnya lagi.

Dia hampir menghabiskan tehnya saat ia mendengar namanya dipanggil. Suara itu cukup lantang, namun sopan.

Dia menoleh.

Seorang pengawal berdiri tegak di depannya, sementara tangan kanannya menyodorkan sepucuk surat.

"Ada surat untuk Anda, Tuan. Baru tiba tadi pagi" Pengawal itu berkata sopan.

Wolfram menerima surat itu, berterima kasih, kemudian melihat amplop surat itu sekilas.

Setelah menyampaikan surat itu, pengawal itu pun pergi.

Wolfram membolak balikan amplop ditangannya. Sekali lihat, dia tahu surat itu dari seorang aristokrat. Amplop itu direkatkan dengan cap keluarga bangsawan. Namun saat berhasil mengenali cap itu, Wolfram kaget. Itu cap keluarga Bielefeld. Dan rasanya hanya satu orang dari keluarga itu yang pernah berkirim surat dengannya.

Ingatannya pun melayang ke bertahun tahun silam, saat dia masih tinggal di rumah pamannya itu untuk beberapa waktu.

Waktu itu Wolfram baru saja berulang tahun yang ke 16. Usia yang bagi para mazoku sudah memasuki usia dewasa. Namun jangan dibayangkan saat itu tubuhnya sudah seperti remaja manusia Bumi. Tubuhnya kecil, seperti anak berusia sepuluh tahun. Karena darah murni mazoku yang dimilikinya, pertumbuhannya jadi jauh lebih lambat. Dan itu lumrah di sini.

Saat itu dia memutuskan akan memakai marga ayah kandungnya. Meski Wolfram jarang bertemu sang ayah, yang kemudian meninggal saat Wolfram masih kecil.

Ayahnya adalah kepala keluarga Bielefeld, sekaligus pemimpin di tanah itu. Setelah ayahnya meninggal dunia, sebenarnya hak kepemimpinan tanah Bielefeld ada padanya, sebagai putra sulung dan satu satunya di keluarga itu.

Namun karena saat itu Wolfram masih kecil, akhirnya pamannya lah yang menduduki tahkta itu.

Segera setelah Wolfram berusia 16 tahun, dia pun tinggal untuk beberapa waktu di tanah keluarganya itu. Di sana dia diajari banyak hal oleh sang paman. Waltorana sangat sayang padanya.

Tapi ada satu hal yang mengganjal di hatinya sejak dulu tentang pamanya itu. Wolfram mendesah pelan, lalu membuka suratnya perlahan.

Untuk Wolfram, keponakanku tersayang

Bagaimana kabarmu? Aku di sini baik baik saja. Sudah lama kau tidak menampakkan wajahmu ke mari.

Sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Kuharap kau bisa segera datang. Sudah lama aku ingin membicarakan hal ini padamu. Kurasa, kau pasti juga rindu rumah.

Dengan penuh kasih,

Waltorana

Setelah selesai membaca, surat itu dimasukkannya lagi ke dalam amplop. Pikirannya seketika menerawang ke rumah keluarganya. Mengingat kapan terakhir kali dia pulang ke sana. Sudah lama sekali. Mungkin pamannya itu kesepian. Waltorana tidak menikah. Wajar bila kemudian pamannya mengiriminya surat.

Setelah berpikir sejenak, Wolfram memutuskan untuk pergi nanti malam. Ditinggalkannya sisa tehnya di atas meja.

Malam itu dia pun sudah bersiap pergi dengan kuda putih miliknya. Wolfram sudah pamit tadi siang. Untunglah Gwendal memberinya izin. Yuuri sempat menanyai keperluannya, yang berhasil ditepis Wolfram dengan baik.

Saat ia sudah hendak pergi, Yozak tidak sengaja lewat di depannya.

"Hei, sannan kakka. Mau ke mana malam malam begini?" Yozak nampak kaget, namun raut wajahnya nampak jenaka. Suaranya pun santai. Dia ingin pergi ke bar untuk bekerja, seperti biasa.

"Bukan urusanmu, Grie" Wolfram menjawab dingin.

"Jangan bicara begitu, dong. Aku kan hanya ingin tahu saja. Siapa tahu Anda ingin pergi kencan diam diam" Yozak menjawab santai, matanya tetap cerah, tidak terpengaruh ucapan dingin si tuan muda barusan.

Wolfram menghela napas melihat tingkah orang di depannya.

"Hanya ke wilayah Bielefeld sebentar. Tenang saja. Aku sudah pamit pada aniue" Wolfram sudah mulai menjalankan kudanya.

"Begitu, ya. Baiklah, selamat jalan" Yozak melambai ke arahnya.

Wolfram mengganguk sekilas, kemudian melesat pergi. Yozak menatap sosoknya sampai hilang di kejauhan.

Belakangan, tingkah laku tuan muda kecil itu sedikit aneh. Wajahnya terlihat semakin mirip dengan si putra sulung, Yozak membatin dalam hati.

Setelah berkuda selama beberapa jam dari ibu kota, Wolfram akhirnya sampai. Istana keluarganya cukup megah, meski tidak sebesar istana di ibu kota. Masih sepi. Fajar baru saja menyingsing di timur, mengeluarkan semburat cahaya matahari pagi. Rasanya hangat.

Waltorana tampak menyambutnya dengan senang hati. Wajahnya cerah.

"Wolfram, selamat datang. Akhirnya kau datang. Tak kusangka kau akan datang secepat ini" Waltorana menyambutnya gembira. Digiringnya Wolfram ke dalam.

"Kau pasti lelah. Istirahatlah sebentar di kamarmu yang dulu. Sarapan akan segera siap" Waltorana menunjukkan jalan menuju kamar lamanya, lalu pergi.

Wolfram memutar kenop pintu, menemukan bahwa kamarnya nyaris tidak berubah, sejak terakhir kali ia tinggalkan bertahun tahun silam. Susunannya tetap sama, namun nampak terawat.

Wolfram tersenyum kecil, kemudian duduk di atas tempat tidur. Empuk dan lembut. Dirabanya sprei putih itu perlahan. Seolah melepas rindu.

Matanya tak sengaja menangkap benda yang diletakkan berjejer di samping rak buku. Dikeluarkannya perlahan benda itu. Tampak tumpukan kanvas di tangannya.

Ah, ternyata ini. Sudah lama sekali aku tidak melakukannya.

Wolfram menatap tumpukan kanvas di tangannya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada rindu, senang, dan sedikit melankolis di sana.

Sejak kecil, Wolfram senang melukis. Lukisannya indah. Inilah salah satu kegiatan yang paling disukainya saat dia harus tinggal di rumah pamannya untuk sementara waktu.

Sebagai satu satunya anak muda di tempat itu, Wolfram lebih senang menyendiri di kamar. Melukis, membaca, atau bahkan menulis buku harian. Kebiasaan kebiasaan ini masih terus dilakukannya hingga sekarang.

Dulu pun dia sempat dilema memilih antara karirer militer atau terus melukis. Gwendal akhirnya mengatakan padanya, kenapa tidak melakukan dua duanya saja? Dan Wolfram menerima saran itu.

Namun seiring berjalannya waktu, ternyata tidak semudah itu menjalankan keduanya. Wolfram pun telah berganti aliran. Waktu kecil dia adalah penganut gaya realis, sekarang dia adalah penganut gaya cubism sejati. Tidak masalah. Seni adalah kebebasan dalam berkarya. Tidak ada yang pantas mengkritik pilihannya, bahkan tunangannya sekalipun.

Terdengar suara ketukan halus di pintu. Seorang pelayan muda mengatakan sarapan telah siap dan pamannya menunggunya di ruang makan. Wolfram mengangguk, kemudian pergi.

Ruang makan sepi. Hanya ada dia dan pamannya di sana. Duduk berhadapan di meja bundar yang besar itu, rasanya hampir seperti terdakwa kriminal yang menunggu vonis mati.

Wolfram tidak tahu apa yang membuatnya tiba tiba dilanda perasaan gugup. Sarapan yang sepi. Nyaris tanpa suara. Pamannya belum mengatakan apa apa padanya, kecuali senyum datar yang ia terima saat masuk ke ruang makan.

Burung pipit bercuit di luar, sementara mereka makan dalam sunyi. Hanya suara dentingan garpu dan piring yang sayup sayup terdengar.

Wolfram memakan sarapannya perlahan. Setelah mereka berdua selesai, Waltorana meletakkan garpu dan pisaunya di samping piring kosong. Dia mendesah sekilas.

"Bagaimana sarapannya, Wolfram? Kau menikmatinya?" tiba tiba dia bicara. Suaranya terkesan basa basi.

"Sangat enak. Terima kasih"

Waltorana nampak lega, lalu melanjutkan, "Kau sudah membaca surat dariku, bukan? Kukatakan ada yang ingin kubicarakan padamu. Kuharap kau tidak keberatan aku membahasnya sekarang" Waltorana berkata perlahan. Matanya lurus menatap keponakannya yang duduk di depannya.

"Tidak. Silakan, paman bicara saja"

"Kau masih ingat saat ayahmu meninggal? Kakakku itu menitipkan kau padaku. Dan aku bersedia. Akhirnya saat kau sudah resmi menjadi anggota keluarga Bielefeld, untuk sementara kau kubawa kemari untuk tinggal disini"

Wolfram diam. Tapi telinganya mendengarkan.

"Ayahmu saat itu ingin kau segera menggantikannya. Tapi aku punya pemikiran lain. Kau masih terlalu muda saat itu. Akhirnya kuputuskan aku yang menjadi pemimpin sementara, sambil menunggumu siap"

"Dan kurasa, waktu itu sudah tiba. Aku bermaksud mundur dari jabatanku dan menyerahkannya padamu" Waltorana mengakhiri kalimatnya.

Butuh beberapa detik bagi Wolfram untuk mencerna kalimat pamannya barusan. Dia terlalu kaget. Ini terlalu mendadak.

"Tapi aku... Rasanya belum pantas... " Wolfram berkata pelan. Wajahnya menggeleng sedikit.

"Itu hanya perasaanmu saja. Kau sudah berhasil melewati banyak hal, dan kurasa kau sudah siap untuk ini" Waltorana berusaha meyakinkannya.

"Entahlah paman... Aku..."

"Tenanglah. Tak perlu terburu buru. Aku hanya ingin menyampaikannya saja. Lagipula dari dulu aku sudah mengatakannya padamu, kan? Aku menunggumu siap. Dan lagi, kalau kau berhasil duduk sebagai kepala wilayah Bielefeld, tidak mustahil kau akan jadi Maoh berikutnya, menggantikan anak asing itu" Kalimat terakhir itu diucapkannya dengan nada yang sedikit berbeda. Terkesan tidak suka.

Dahi Wolfram berkerut sedikit ketika mendengarnya. Ini dia, katanya dalam hati. Inilah sisi yang tidak ia sukai dari paman semata wayangnya itu. Waltorana sangat benci manusia. Dan dia beranggapan hanya orang dengan darah murni mazoku dari kalangan bangsawan lah satu satunya kaum yang berhak memimpin Shinmakoku.

Sedikit banyak, pemikiran pamannya itu sempat mempengaruhinya. Tapi sekarang tidak lagi.

Karena pemikiran pamanya inilah, hubungannya dengan sembilan pemimpin keluarga aristokrat lain tidak begitu istimewa, bahkan terkesan renggang. Gwendal dan Gunter bahkan membenci pemikiran itu, dan Wolfram diam diam berada di pihak mereka.

Wolfram menghela napas sebelum akhirnya menjawab,

"Biar kupikirkan dulu. Jawabannya akan aku beri secepat mungkin" Memang inilah jawaban terbaik untuk saat ini, Wolfram membatin. Beban hatinya bertambah seketika.

Waltorana tampak sangat lega dan senang sekaligus. Senyumnya mengembang.

Wolfram menatapnya risih.

Sudah senja. Langit tampak merah keunguan. Matahari semakin rendah. Wolfram duduk sendirian di kursi lorong. Sepi. Pikirannya kalut.

Wolfram

Sebuah suara mengagetkannya. Lebih kaget lagi saat dilihatnya sosok itu berdiri tepat di depannya.

"Hai. Akhirnya aku bertemu kau lagi. Sepertinya pamanmu itu sudah mengatakannya padamu, ya? Kau pasti bimbang sekarang. Kutegaskan saja, aku tidak berniat mengubah rencanaku. Aku sudah menyusunnya dengan sangat rapi. Kuharap kau mau membantuku. Ah, kau harus membantuku. Karena hanya kau yang bisa" dia berkata tenang, tampak mengendalikan situasi. Wajahnya masih tampak menyebalkan, terlebih nada suaranya. Angkuh dan percaya diri.

"Jangan lupa, aku mengawasi kalian semua sejak dulu. Aku tahu semuanya, karena ini semua rencanaku. Ah, tenang saja. Pamanmu itu hanya pion. Dia tidak tahu apa apa" Sosok itu tersenyum sumir.

"Saranku, lebih baik terima saja tawaran dia. Itu akan memudahkanmu nanti. Kau tidak mau mereka celaka, kan? Ah, waktunya hampir habis. Sampai jumpa lagi"

Sosok itu menghilang seketika.

Setiap kali melihat pria itu, Wolfram merasa seperti melihat dirinya sendiri. Rasanya tidak menyenangkan.

Wolfram mendesah lagi.

Jalannya akan semakin terjal setelah ini. Wolfram harus menjalaninya.

Dan dia tidak bisa mundur lagi.

Bersambung