Tanah tampak kehitaman di beberapa ruas. Sementara asap asap kelabu membubung tinggi di udara, menuju langit yang berwarna serupa.Jasad jasad tampak bertebaran hampir di setiap sudut. Semua tampak mengenaskan. Panah menyusupi tubuh beberapa jasad di beberapa bagian. Samar samar tercium aroma anyir darah.Suram. Kelam. Sakit.Perang baru saja berakhir, dan meski mereka berhasil meraih kemenangan,banyak teman teman satu pasukan mereka yang gugur di medan perang itu.Beberapa tenda darurat berwarna kuning kotor berjejer di pinggir.Di salah satu tenda itulah, sesosok pria berambut hitam panjang duduk menemani sahabatnya yang masih terlihat kelelahan."Hei, akhirnya kita menang juga. Aku masih tidak percaya kita akhirnya bisa menyegel para cecurut itu" sahabatnya berkata pelan. Napasnya agak terengah, tapi sorot mata biru laut itu tampak puas."Ya, Heika. Semuanya berkat empat kotak itu""Kau benar. Setelah ini mungkin akan jauh lebih menarik" Pria itu memejamkan mata, tersenyum tipis."Ah, rasanya aku ingin ditemani seorang wanita""Mari kita temukan satu" Pria berambut hitam panjang itu menyahut lembut."Aku lelah. Andai tiba tiba ada wanita muncul di depanku, rasanya aku akan menerimanya sepenuh hati" suara itu nyaris berupa bisikan, namun sahabatnya masih bisa mendengarnya dan hanya tersenyum maklum.Ditatapnya sosok yang sedang duduk itu. Rambut pirangnya berkilauan seperti emas, sementara bola matanya sedalam lautan. Diam diam ia kagum padanya, namun juga sangat mengenal sifatnya yang ambisius dan seenaknya itu.Terdengar suara beberapa pasang langkah kaki mendekat dari luar, kemudian masuk ke tenda darurat yang cukup besar itu."Heika!" suara mereka hampir bersamaan."Jangan berteriak disini. Tubuhku masih lelah" pria itu menatap tiga sosok didepannya lelah."Maaf. Kami hanya ingin melihat keadaan Anda. Anda baik baik saja?" pria bermata hazel itu menatap tuannya hormat. Di sampingnya berdiri sosok paling besar diantara mereka dengan rambut lurus yang dipotong sebahu, dan di paling ujung berdiri sosok yang paling mungil diantara mereka bertiga. Rambut panjang kuning pudar miliknya tampak diikat sedemikian rupa. Matanya menatap sosok di depannya iba."Aku baik baik saja. Tidak perlu cemas""Ka-kalau ada sesuatu yang memberatkan pikiran Anda, silakan beritahu kami" sosok mungil itu tiba tiba buka mulut. Suaranya tersendat sedikit."Kenapa tiba tiba kau bicara begitu?" pria yang duduk di depannya tampak terkejut."I-ini bukan tiba tiba! Wa-wajar kan kalau kami bicara begini! Kami kan teman Anda! Jangan berkata seolah kami ini orang asing!" tiba tiba si mungil itu marah. Tentu saja semuanya kaget."Ke-kenapa, sih? Hei, teman kalian ini kenapa? Apa dia ini salah makan barusan?" pria pirang itu gelagapan."Saya rasa tidak... " pria besar di depannya menjawab, tampak ragu."Saya baik baik saja! Anda jangan bercanda terus!" tiba tiba saja dia menangis.Tangisannya terus berlanjut. Pria di depannya menyerah."Baiklah, Rufus. Aku minta maaf. Tapi baru kali ini aku melihat pria menangis""Heika... Rufus itu... Wanita"Pria berambut hitam di sampingnya berkata perlahan. Dan sahabatnya seketika terkejut."Wa-wanita?! Se-sejak kapan?!""Sejak lahir..." si mungil itu menjawab sesunggukan.Tiba tiba pria besar itu bicara lagi."Karena keluarga Bielefeld tidak kunjung dikaruniai anak lelaki, akhirnya dia dibesarkan sebagai seorang prajurit"Pria pirang itu langsung menoleh cepat menatap sahabatnya. "Kau tahu ini sejak awal?""Tentu saja" Suaranya tenang. Makin membuat sahabatnya merasa seperti orang tolol."Ma-mana aku tahu kalau ternyata dia perempuan! Lagipula dadanya rata begitu!""Maaf saja ya kalau dadaku rata!" Rufus menjawab marah."Wa-wanita?!" Pria bermata hazel itu tiba tiba kaget."Reaksimu lambat... "--"Nah, sahabatku. Bagaimana menurutmu? Dengan begitu, kita bisa menaklukkan dunia!"Sorot mata biru laut itu penuh ambisi. Seraut wajah dengan rahang kokoh itu tersenyum cukup lebar.Sementara sosok di depannya sungguh lain. Matanya gelisah, sementara otaknya memikirkan sebuah rencana.Aku harus membawa pergi dua kotak itu, batinnya.--"Ah, Cecilie. Wanita itu selalu berhasil memenuhi ekspektasiku. Dia benar benar pion yang sempurna. Aku sungguh tidak sabar lagi. Rupanya masa depan itu memang menarik"Senyum licik bercampur puas menghiasi wajahnya.
Bersambung
Sebagian percakapan disini diambil dari drama cd ke 43, dengan sedikit pengubahan.
Akhirnya di chapter berikutnya, ceritanya bakal maju signifikan juga
