Hari masih pagi, namun suasana di depan pagar gerbang istana sudah jauh dari kata sepi.
Mereka menggerombol bak semut yang menggerogoti gula. Suara mereka hampir menyerupai dengung lebah. Ramai dan berisik.
Semuanya dipicu oleh sepotong kolom opini di surat kabar harian Shinmakoku, Shin-Nichi, edisi sehari yang lalu.
Disitu ditulis bahwa sang Maoh yang sedang berkuasa sekarang telah mengenyampingkan mazoku, yang notabene adalah rakyatnya, dan terlalu memihak pada para manusia. Di rubrik opini itu pun telah ditulis beberapa "bukti keberpihakan" sang Raja Iblis ke-27 itu pada manusia.
Karena opini miring yang ganjil itu, dengan cepat keresahan rakyat tersulut. Mengingat kepopuleran surat kabar Shin-Nichi di saentro Shinmakoku, wajar bila kemudian berita seperti ini cepat menyebar di masyarakat.
Maka, sejak pagi Istana Perjanjian Darah pun seketika menjadi ramai. Rumor dengan cepat tersebar pula di kalangan pelayan. Topik itu telah menjadi topik terhangat pagi itu.
Sementara itu Gwendal tampak semakin menampakkan wajah kakunya. Sudah berkali kali keningnya berkerut dalam. Namun hari ini sama sekali tak ada yang berani mengomentari itu.
Yuuri menatapnya cemas. Di depannya terbentang surat kabar yang memuat opini itu. Opini yang tajam dan meyakinkan. Meski orang orang terdekat Yuuri tahu itu semuanya tidak lebih dari sekadar omong kosong, karena mereka sangat percaya padanya. Namun bagi rakyat biasa, ini jelas kabar buruk. Terlebih rakyat yang dengan mudah langsung percaya dengan apa yang mereka baca.
Bagi Shibuya Yuuri, ini pertama kalinya dia diterpa kabar kurang sedap sebagai Maoh alias Raja Iblis. Terlebih di sebuah media. Bagaimana pun, dia hanya seorang remaja SMA berusia 16 tahun. Dia nyaris buta politik.
Bagi dua penasehatnya pun, hal seperti ini sepertinya adalah hal baru. Tak ayal, mereka semua resah.
Gwendal menghembuskan napas keras.
"Sepuluh Keluarga Aristokrat harus segera mengadakan pertemuan darurat. Aku akan segera mengirimkan telegram pada mereka hari ini. Besok kita harus segera berunding. Akan berbahaya kalau sampai pecah kerusuhan, atau bahkan perang" nada suaranya terdengar berat dan lambat.
Hening. Semua yang di dalam ruangan itu tak bersuara. Wajah mereka muram.
"Ta-tapi ini hanya opini miring yang ditulis seseorang untukku. Kenapa bisa segawat itu?" Yuuri menatap kawan kawannya. Wajahnya gelisah.
"Heika, Anda harus paham bahwa kebijakan seorang raja adalah segalanya bagi rakyat. Sedikit saja berita miring, itu bisa mengubah presepsi masyarakat pada Anda. Sayangnya, ada saja orang yang memanfaatkan itu dan menciptakan omong kosong seperti ini untuk menjatuhkan. Sayangnya kebohongan itu selalu bisa dikemas dengan menarik, dan kebohongan yang terus diulang lama kelamaan bisa diyakini orang orang sebagai kebenaran. Karena itu kita harus waspada dan cepat bertindak" penjelasan panjang itu datang dari Gunter. Suaranya tetap tenang terkendali, namun tegas.
"Tapi siapa yang menulis hal seperti ini di media umum? Dan apa tujuannya?" Yuuri bertanya lagi.
Gunter hanya menggeleng. Wajahnya pun tampak kecewa bercampur marah.
Keesokan paginya, para perwakilan sepuluh keluarga aristokrat tiba di istana di waktu yang cukup berdekatan. Massa sudah sedikit berkurang, namun masih ramai. Untungnya istana memiliki gerbang alternatif yang dapat dipakai sebagai pintu masuk darurat, karena gerbang utama sudah bisa dikatakan lumpuh.
Mereka segera berunding untuk memutuskan tindakan yang akan diambil. Sang Maoh ikut dalam perundingan itu. Wajah Yuuri sudah terlihat gugup sejak pagi. Conrad dan Wolfram sampai harus menenangkan anak itu sebelum masuk ke ruangan. Mereka menunggu di lorong, di depan ruangan itu, setelah Yuuri masuk.
Lorong itu sepi. Suara dari dalam ruangan di depan mereka nyaris tidak terdengar dari luar.
Selama beberapa saat, tidak ada suara berarti.
"Wolf..."
"Apa?" Wolfram menoleh pada Conrad. Suaranya datar, seolah tidak peduli.
"Kemarin kau pergi kemana?"
"Bukan urusanmu" Wolfram membuang muka. Dihembuskannya napas. Lelah.
Hening.
"Yozak bilang, kau pergi ke tempat Waltorana. Ada apa? Apa terjadi sesuatu padanya?" Conrad mencoba bertanya lagi. Matanya terlihat meminta jawaban.
"Tidak ada. Aku hanya mengunjunginya sebentar. Sepertinya dia sedikit kesepian dan ingin bertemu denganku" Wolfram berusaha menjawab dengan nada senetral mungkin.
"Apa ada yang dibicarakannya padamu semalam?" Nada suara Conrad tiba tiba sedikit berubah. Tegas, tapi juga khawatir.
"Tidak ada apapun. Conrad, cobalah untuk tidak terlalu mencampuri urusanku. Aku baik baik saja" Wolfram menjawab pertanyaan kakaknya secepat mungkin.
"Begitu, ya"
Conrad diam diam melirik adiknya itu dari samping. Belakangan ini dia agak berubah. Seolah olah dia adalah orang lain. Sejak Conrad pulang dari Shimaron, Wolfram belum mengatakan apapun padanya. Terlebih mengajaknya ngobrol. Conrad menyadari perubahan Wolfram yang terlihat jauh lebih tenang. Diam diam, dia cukup penasaran, dan cemas.
Setelah beberapa waktu, pertemuan itu pun usai. Deretan wajah kusut perlahan keluar dari ruangan.
Yuuri keluar paling akhir. Wajahnya terlihat cukup murung.
"Heika! Bagaimana? Apa yang terjadi?" Conrad segera menghampirinya, menepuk bahunya lembut, seolah ingin memberi semangat.
"Saya usul lebih baik kita membentuk Pasukan Pemulihan Keamanan"
Itu suara Waltorana.
"Kenapa harus sampai seperti itu? Saya rasa kita cukup membuat klarifikasi yang akurat untuk menepis berita miring itu" Gwendal menyela, tidak sependapat.
"Di Shinmakoku sekarang telah terjadi keributan. Meski mungkin skalanya tidak sebesar itu, tetap dibutuhkan gerakan pemulihan keamanan untuk menjaga stabilitas negara" Waltorana berpendapat lain. Matanya menyapu para anggota lain di ruangan itu, seolah sedang mempengaruhi mereka dengan ucapannya barusan.
"Saya setuju. Hanya saja, siapa yang pantas untuk itu?" Tuan von Spitzweg buka suara.
"Agar adil, kita bisa saja ambil suara terbanyak" Lady von Rocheford, satu satunya wanita di ruangan itu, memberikan saran.
"Ya, itu ide bagus"
Gwendal mengerutkan kening. Cepat sekali mereka sepakat, batinnya.
Pengambilan suara pun akhirnya dilakukan, setelah memastikan mayoritas anggota setuju untuk melakukannya.
Mereka mulai menuliskan nama pilihan mereka masing masing di secarik kertas, lalu mengumpulkannya.
Setelah suaranya dihitung, Waltorana akhirnya diputuskan akan menjadi Ketua Pasukan Pemulihan Keamanan. Dia memenangkan 6 suara dari sepuluh suara yang ada.
Gwendal, Gunter, Del Kierson von Wincott, dan Tuan von Radford adalah sedikit suara yang tidak memilih Waltorana dalam pengambilan suara itu.
Perintah Waltorana yang pertama sebagai ketua pemulihan keamanan adalah meminta Yuuri tidak keluar istana sampai semuanya kondusif. Yuuri hanya mengangguk. Bagaimana pun perintahnya terdengar masuk akal. Namun mendadak hatinya jadi takut, namun berusaha ditepisnya.
Yuuri menghela napas. Dia baru saja selesai bercerita pada Wolfram dan Conrad tentang pertemuan barusan. Mereka berada di kamar Yuuri yang kosong. Untunglah Greta sedang berada di tempat Hyscruff untuk bersekolah. Dan ini belum jadwalnya untuk pulang.
Conrad dan Wolfram diam sejenak setelah Yuuri selesai bercerita.
Wolfram merasa, dia harus segera menemui pamannya, sebelum pria itu pulang ke tanah Bielefeld. Maka, Wolfram pun buru buru keluar dari kamar itu, dengan alasan ingin mengantar kepulangan Waltorana. Yuuri mengangguk pelan.
Ada yang harus segera dipastikannya.
"Paman, tunggu!"
"Ah, Wolfram. Ada apa?" Waltorana menoleh. Tampak tenang.
"Apa yang paman rencanakan dengan pasukan pemulihan keamanan itu?" Wolfram bertanya datar. Sorot matanya dingin.
"Ah, itu. Kalau kau ingin tahu, coba saja tanya pada dirimu sendiri. Kaulah yang membuatku harus melakukannya, Wolfram" suara Waltorana tidak kalah menusuk.
"Apa maksud paman?"
"Kau menolak tawaranku. Aku sudah membaca suratmu semalam. Aku sungguh heran. Apa yang membuat raja yang tolol itu begitu istimewa bagimu?" Nada suara Waltorana jelas mengejek.
"Yuuri tidak tolol! Kadang dia memang pengecut, tapi dia raja yang baik. Aku...Tidak. Kami percaya padanya" sorot mata Wolfram yang dingin sedikit menghangat.
"Huh, terserah kau saja. Tapi ingatlah Wolfram. Kau tidak akan bisa menang dariku. Ingat itu" Waltorana pun pergi.
Wolfram diam. Dihelanya napas perlahan.
Sementara Waltorana pergi dengan segudang rencana di kepalanya.
Rencana pertama : Kudeta merangkak.
Bersambung
Shin Nichi adalah nama surat kabar yang ada di Shinmakoku. Namanya muncul di beberapa cerita pendek.
Menulis chapter ini sambil terus mendengar lagu lagu Chrisye, diiringi suara hujan deras di luar.
