Keruwetan masih terus berlanjut. Setelah Waltorana ditunjuk sebagai Ketua Pemulihan Keamanan, keadaan memang sedikit membaik. Bila dipandang dari kacamata rakyat biasa, memang begitulah adanya.

Namun ini tidak berlaku bagi mereka yang menyaksikan setiap perkembangan dari dalam.

Mereka masih diliputi dilema. Terlebih mereka yang menyaksikan saat Waltorana menyodorkan selembar kertas pada Yuuri, kemarin malam.

"Heika, tolong tanda tangani ini. Ini adalah pernyataan resmi secara tertulis untuk menyerahkan segala sesuatunya pada saya sampai semuanya reda. Anda tinggal menandatanganinya saja. Saya sudah meminta Anda untuk tetap diam di istana sampai semuanya selesai. Dan Anda menyanggupi itu. Saya siap melaksanakan tugas, segera setelah mendapat restu dari Anda" Waltorana berkata tegas. Permintaannya itu seolah tidak bisa ditawar lagi.

Yuuri tidak langsung bereaksi. Ditatapnya kertas yang disodorkan padanya dengan tatapan bingung bercampur gelisah.

Meski Yuuri tidak terlalu mengerti, di lubuk hatinya ia tahu, ia harus membuat keputusan besar. Keputusan yang, bisa jadi, akan mengubah arah "permainan".

Setelah diam sesaat, diambilnya tinta dan mulai membubuhkan tanda tangan.

Wolfram nyaris ingin menghentikan Yuuri. Namun ia segera mengurungkan niat itu. Sebuah suara di kepalanya berteriak padanya, "Jangan gegabah. Lihat situasi selanjutnya".

Akhirnya, semuanya sudah diputuskan. Yuuri akan terus diam di istana, sementara Waltorana akan membereskan semuanya.

Wolfram tahu, cepat atau lambat, semuanya akan bergerak sesuai dengan kehendak orang itu.

Dia benar benar "pecatur" yang andal.

Namun seminggu setelah menandatangani surat peryataan itu, apa yang diharapkan sungguh jauh dari jangkauan.

Semuanya memburuk. Kerusuhan benar benar pecah. Ketakutan dan kehancuran memenuhi udara.

Istana Perjanjian Darah diliputi kemuraman. Meski mereka berusaha tenang, namun itu tidak menutupi kekalutan di wajah setiap orang di dalamnya.

Yuuri benar benar mati langkah. Dia tidak boleh keluar. Sementara Waltorana telah mengeluarkan perintah yang sungguh di luar dugaan.

Pemberantasan untuk rakyat yang terindikasi memihak manusia dan membantah raja.

Suara Yuuri sudah tidak ada artinya lagi. Semua protesnya diabaikan mentah mentah, sementara dirinya tidak diperbolehkan keluar istana.

Semua demi keamanan Anda, kata kepala keluarga Bielefeld itu.

Namun Yuuri sudah mulai mencium aroma busuk rencana pria itu. Namun sayang, dia terlambat menyadarinya dan sekarang tidak bisa apa apa.

Dia tidak punya bukti kuat. Dan lagi, dia sendirilah yang menyerahkan kewenangan pada Waltorana secara resmi.

Ini semua karena ketololanku sendiri...

Conrad yang selalu ada bersamanya berusaha menenangkan anak itu, namun rasanya sia sia. Kesehatan sang raja mulai menurun.

Satu bulan kemudian...

Di tengah ketegangan politik saat itu, Waltorana selaku Ketua Pemulihan Keamanan mulai bisa mengendalikan situasi pasca diturunkannya perintahnya yang kontroversial itu. Meski setelahnya rakyat terpecah menjadi dua kubu, mempercayai raja dan yang tidak mempercayainya.

Dan tentu yang dianggap tidak mempercayai raja langsung dianggap sebagai pemberontak dan ditangkap tanpa bukti. Beberapa orang juga telah ditangkap dengan vonis provokator.

Segera setelah keributan cukup mereda, surat kabar Shin Nichi memuat berita utama yang menyebut Waltorana sebagai pahlawan. Karena telah sukses menanggulangi kerusuhan yang berlangsung selama sebulan lebih. Dan jasanya dianggap luar biasa untuk itu, terlebih karena dia telah dengan sukarela menerima perintah raja dan berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.

Paling tidak, itulah yang rakyat biasa ketahui.

Wolfram meradang. Giginya mengatup keras sekali, sampai rasanya sakit.

Sementara sosok di depannya berdiri tenang, seolah tanpa beban. Pria itu hanya tersenyum kecut. Mata birunya menatap Wolfram tenang.

"Jangan khawatir. Semuanya akan baik baik saja. Ini masih di dalam jalur. Kau tidak perlu marah begitu." Dia berkata perlahan. Suaranya pelan namun terdengar jelas di ruangan sepi itu.

"Kau mestinya sudah bisa menduga rencananya dari awal, kan? Kau orang yang paling mengenal dia, bukan aku" lanjutnya. Tangannya menyilang di depan dada.

Wolfram diam saja. Brengsek, batinya marah.

"Jalanmu akan semakin terjal, Wolfram. Saranku, nikmati sajalah dulu masa masa ini. Kita belum sampai di hidangan utama, kan?"

"Aku tidak mau terburu buru. Dan kalau kau berpikir kau bisa mundur, kau salah besar, Anak Muda... "

Suara pria itu tiba tiba berubah. Dalam dan tegas. Seketika Wolfram merinding.

'Mereka semua keterlaluan...'

Bersambung