Malam yang cerah. Bintang terlihat jelas dari jendela. Sebenarnya ini malam yang menyenangkan, tapi itu tidak berlaku bagi Wolfram.
Mengingat akhir percakapannya dengan pria itu barusan, sudah cukup untuk membuat perasaannya tidak nyaman.
"Kuakui, dia cukup cerdas. Dan bisa dibilang rencananya cukup berhasil. Aku yakin dia pasti akan menyeretmu dalam rencananya"
Wolfram diam saja.
Keesokan harinya, para pemimpin keluarga aristokrat berkumpul lagi di istana. Mereka hendak membahas perkembangan situasi dalam negeri pasca kerusuhan beberapa waktu lalu.
Kali ini Yuuri tidak bisa ikut karena sedang kurang sehat.
Pertemuan pun dimulai. Semua perwakilan hadir, kecuali Tuan von Granzt yang memang nyaris tidak pernah hadir karena suatu alasan yang hanya diketahui oleh orang orang di ruangan itu.
"Melihat kondisi di lapangan, untuk sekarang sebenarnya sudah cukup kondusif. Karena itu saya rasa tugas Pasukan Pemulihan Keamanan sudah bisa dihentikan dan dibubarkan" Gunter menatap rekan rekannya di ruangan itu. Suaranya datar.
"Saya sepakat. Semakin cepat selesai, semakin baik" Tuan von Wincott mendukung ucapannya.
Semuanya diam mendengarkan. Wajah wajah itu datar dan kaku.
"Hanya saja ada sedikit masalah. Sang Maoh sedang sakit. Dan dia masih disarankan untuk tidak keluar dari istana, jadi belum bisa melihat keadaan. Akan lebih baik jika ada yang bersedia menggantikan tugasnya untuk sementara, sampai dia sembuh. Apa ada yang bersedia?" Gunter menyambung perkataannya.
Tidak ada yang tahu, saat Gunter berkata begitu, diam diam dia terus membatin dalam hati, "Siapapun boleh... Asal jangan... "
"Bagaimana kalau Waltorana? Dia sudah berhasil dengan tugasnya yang lalu. Jadi kurasa dia cukup layak untuk mengisi posisi itu" Tuan von Spitzberg buka suara.
Waltorana...
"Ah, Anda berlebihan, Tuan Spitzberg. Saya tentu tidak layak berada di posisi itu... Tapi saya punya satu nama yang saya rasa layak menduduki posisi itu, meski hanya sementara" Waltorana merendah. Suaranya tenang, tapi entah kenapa terdengar menyebalkan.
"Oh, siapa?"
"Wolfram von Bielefeld"
Semuanya tampak tersentak, lalu diam. Hening.
"Dia memang masih sangat muda, tapi aku yakin dia pasti bisa. Dia punya kapasitas untuk itu" suara Waltorana terdengar berbeda ketika mengucapkannya. Ada nada bangga yang tidak bisa ditutupi di suaranya.
Wajah Gwendal nampak jengah. Dahinya berkerut cukup dalam. Gunter pun tidak jauh berbeda. Dia menghela napas. Gelisah.
"Dia belum tentu mau... " Gwendal berkata pelan.
"Kalau memang itu masalahnya, saya bisa membujuknya nanti. Anda tidak perlu cemas"
"Bagaimana menurut yang lain...?" suara Gunter terdengar lebih halus dari biasa. Ditatapnya orang orang di sekelilingnya dengan ragu.
"Kalau itu yang terbaik menurut Waltorana, menurut saya tidak masalah" ujar Tuan von Gyrnhall.
Yang lain tampak mengganguk kecil, tanda setuju.
"Sejak kapan orang ini punya kekuatan mempengaruhi orang lain sebesar itu?" Gwendal membatin. Ditatapnya Waltorana dengan pandangan curiga. Dari dulu dia memang tidak pernah menyukai pria yang sedikit nyentrik itu.
Gunter yang duduk tepat di sampingnya menyadari tatapan curiga itu.
Wolfram sedang berjalan di lorong istana. Lorong yang lenggang dan sunyi.
"Wolfram, tunggu"
Wolfram berhenti berjalan dan menoleh. Waltorana berdiri di depannya. Wolfram melengguh dalam hati saat tahu siapa yang memanggilnya.
"Ada perlu apa?" Suara Wolfram datar dan dingin. Masih segar diingatannya beberapa waktu lalu saat pamannya itu mengatakan hal yang tidak menyenangkan mengenai rajanya.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat. Para perwakilan sepuluh keluarga aristokrat setuju untuk menjadikanmu Maoh untuk sementara, paling tidak sampai dia sembuh" Waltorana berkata tenang.
"Apa...? Apa yang telah paman katakan pada mereka?" Wolfram terkejut. Tindakan pamannya dirasanya sudah kelewatan.
"Jangan curiga begitu. Harusnya kau berterima kasih padaku. Awalnya akulah yang ditunjuk mereka untuk posisi itu. Tapi kemudian aku mengajukan namamu dan mereka menerima. Sama sekali tidak ada permainan kotor disini, kan?" Waltorana berkata dingin. Suaranya mendesis seperti ular.
"Meski begitu, aku tetap tidak mau. Aku berhak menolak, kan? Silakan saja bila paman ingin menduduki posisi itu. Meski aku yakin aniue jauh lebih pantas daripada paman. Paling tidak, dia tidak punya maksud tersembunyi" Wolfram menatap pamannya tajam. Seolah berani menantang.
Waltorana pun berang. Rupanya kesabarannya hampir habis.
"Kau tahu apa?! Berani beraninya kau berkata seperti itu padaku! Apa aku sebegitu jahatnya di matamu?! Hah, aku tidak percaya. Apa yang kau pikirkan, Wolfram? Apa yang kau lindungi?"
Waltorana terengah setelah selesai berbicara. Matanya berkilat marah. Sementara keponakan kesayangannya masih berdiri tegak di depannya dengan tatapan dingin.
"Aku melindungi kerajaanku dan rajaku. Bukan. Kerajaan kita dan raja kita" Wolfram menjawab lugas.
Waltorana mengatupkan mulut. Wajah marahnya belum reda, namun rupanya dia tidak mau memperpanjang argumen. Ditinggalkannya tempat itu dengan geram.
Ditatapnya sosok Waltorana yang menghilang di kejauhan.
Kalimat pria itu tiba tiba terngiang di kepalanya,
"Kalau untuk orang itu dan keluargamu, kau pasti tidak bisa menolak, kan? Kau selalu seperti itu"
Sementara itu, Wolfram sama sekali tidak menyadari sosok di balik dinding yang diam diam menyaksikan kejadian barusan.
Malam sudah cukup larut. Istana sudah sepi. Wolfram bersiap siap untuk tidur. Digantinya pakaian militer warna biru itu dengan pakaian tidur. Ketika baru melepas dasi dan bagian teratas kemejanya, didengarnya suara ketukan halus di pintu. Sesaat kemudian terdengar suara lembut yang familiar.
"Wolf, aku masuk, ya"
Sosok itu masuk. Wajahnya terbias oleh cahaya lilin. Rambut brunet dan mata cokelat keperakan. Conrad.
"Kenapa kau tiba tiba kesini? Yuuri bagaimana?" Wolfram kaget.
"Heika baru saja tertidur. Para pengawal kuminta berjaga di depan kamarnya sebentar" Conrad berkata tenang. Diambilnya kursi kayu dan duduk disitu. Ditatapnya Wolfram lekat. Wolfram jengah, tentu.
"Ada perlu apa?" Wolfram sementara melupakan niatnya untuk tidur.
"Aku hanya ingin menengok keadaan adikku. Belakangan ini dia agak aneh dan dingin" Conrad tersenyum maklum.
"Ti... Tidak usah repot begitu...! Aku sudah bilang kan, aku baik baik saja!" Wolfram kaget dan sedikit marah.
"Kalau begitu, kenapa kau berkelahi dengan Waltorana tadi siang? Kau menyembunyikan sesuatu, kan?" suara Conrad tiba tiba berubah serius. Ada nada cemas yang ditangkap Wolfram pada nada suara Conrad barusan. Wolfram diam, tak mampu menjawab.
"Tidak apa kalau kau tidak mau membicarakannya sekarang. Aku tidak akan memaksamu. Ceritakan saja bila kau sudah siap. Aku akan selalu berada di pihakmu. Aku percaya padamu. Mungkin, ini tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku kemarin, tapi tolong beri aku kesempatan, ya?" Conrad berkata perlahan. Matanya hangat menatap Wolfram yang berdiri di depannya. Dia pun bangkit dari kursi, hendak meninggalkan tempat itu. Ditepuknya kepala Wolfram sekilas sebelum beranjak ke pintu.
Conrad sudah meraih kenop pintu saat didengarnya Wolfram memanggilnya pelan.
"Conrad... Terima kasih... "
Conrad berbalik dan tersenyum hangat.
Meski tidak mau mengakuinya terang terangan, hati Wolfram sedikit lebih tenang setelah mendengar perkataan Conrad barusan. Caranya berbicara seolah tahu semua kesulitannya, namun ia berusaha menghormati privasinya.
Wolfram baru saja menutup mata saat kembali dirasakannya sakit di dada kiri. Sudah cukup lama sejak terakhir kali Wolfram merasakannya. Seketika Wolfram duduk di tempat tidur. Dadanya terasa panas dan nyeri hebat. Wolfram merintih pelan, berusaha tidak berisik.
Wolfram
Wolfram tersentak kaget. Lagi lagi dia, batinnya kesal.
"Hai. Kulihat kau mulai kesakitan lagi. Itu artinya sisa waktu kita tidak banyak, Wolfram" Pria itu hanya tersenyum. Suaranya datar namun percaya diri.
"Waktu kita semakin sempit. Aku ingin segera menjalankan rencanaku. Toh, aku sudah siapkan semuanya. Sang Maoh juga akan segera sembuh, kau tidak perlu cemas"
"Aku akan menghubungi kau lagi saat semua rencanaku siap. Bersiap siaplah, anak muda" pria itu menghilang seketika. Wolfram diam. Dia sudah terbiasa dengan kebiasaan seenaknya pria itu. Datang dan pergi seenaknya.
Di tengah kegelapan dan remang remang cahaya lilin, pria itu duduk di kursi. Dihadapannya terhampar papan catur dengan 16 buah bidak hitam dan 16 buah bidak putih. Dia tersenyum sumir.
Diambil dan dipatahkannya satu bidak berwarna hitam di depannya.
"Aku sudah tidak butuh dia lagi... "
Bersambung
