Pagi hari. Subuh baru saja berlalu dan matahari mulai naik lebih tinggi.
Kesibukan semakin terasa di sekeliling istana. Para pelayan dan penjaga tampak lalu lalang di lorong.
Tak jauh dari situ, di salah satu sudut yang tertutup tembok bata, terlihat Yozak sedang menyampaikan sesuatu pada Murata.
"Aku mendengarnya berbicara dengan seseorang, kemarin malam. Sebenarnya aku sama sekali tidak berniat menguping, tapi tiba tiba saja aku mendengarnya ketika lewat kamarnya kemarin malam. Bunyinya seperti 'tidak ada waktu lagi' dan 'semua sudah terkumpul'. Itu yang sempat kudengar" Yozak berkata perlahan pada sosok hitam ganda di depannya.
Murata diam, tampak berpikir. Wajahnya tampak sedikit muram.
Melihat tuannya tidak segera menjawab, Yozak pun mulai bertanya,
"Ngomong ngomong, kenapa Anda tiba tiba memintaku untuk mengawasi sannan kakka, maksudku, Wolfram kakka? Sebenarnya saya sama sekali tidak keberatan, hanya ingin tahu saja. Memang belakangan dia kelihatan agak aneh, auranya sedikit ganjil" Yozak mengusap dagunya perlahan.
Setelah kejadian di Seisakoku beberapa waktu lalu, Yozak harus dirawat cukup lama akibat luka luka yang ia dapat saat tertimpa batu besar di sebuah gua bawah tanah. Sempat dikabarkan hilang dan meninggal dunia, sebelum akhirnya ditemukan dalam keadaan hidup. Setelah menjalani perawatan selama beberapa waktu, dia akhirnya pulih dan terlihat semakin loyal pada sang Daikenja.
"Begitu rupanya..." Murata bergumam kecil. Tak diperhatikannya Yozak yang menatapnya heran.
"Geika?"
"Terima kasih informasinya, Yozak. Tolong awasi terus dia, ya" Murata tersenyum cerah dan segera meninggalkan Yozak yang berdiri kebingungan.
"Ahh... Rupanya dia tidak mendengar pertanyaanku barusan. Ya sudahlah" Yozak berkata ringan sambil berbalik pergi.
"Akhirnya kau menjalankan rencanamu, ya"
"Waltorana itu, aku harap dia tidak punya rencana atau niat buruk. Meski sepertinya itu mustahil. Kita harus waspada" Gunter menatap gelisah Gwendal yang sedang duduk di meja kerjanya.
"Pria itu licik seperti ular. Aku tidak akan heran kalau dia merencanakan sesuatu. Aku tidak percaya kita bahkan mengizinkan pria itu memimpin negeri ini, meski hanya sementara. Bahkan memperbolehkan dia tinggal di sini sampai tugasnya itu selesai" Gwendal berkata dingin sementara tangannya sibuk menulisi tumpukan kertas di depannya.
"Yah, sesuai dugaanmu, Wolfram menolak. Akhirnya Waltorana lah yang diserahi tanggung jawab itu. Lagipula kita berdua tidak bisa menunjukkan sikap permusuhan terang terangan padanya. Untuk saat ini, bersabar adalah pilihan terbaik. Kurasa, kau yang paling mengerti hal itu" Gunter berkata perlahan. Nada suaranya tenang.
Gwendal hanya mendengus kecil sebagai jawaban.
Sementara itu di kamar raja, Yuuri sudah semakin sehat. Nafsu makannya mulai kembali, demamnya pun sudah turun. Gisela yang memeriksa keadaannya pun mengatakan Yuuri akan segera sehat kembali.
Yuuri senang sekali. Sambil menikmati sarapan yang diantarkan ke kamarnya, Yuuri mengatakan niatnya pada Conrad untuk menemui Wolfram di kamarnya setelah sarapan.
Conrad yang selama beberapa hari ini hampir selalu bersama Yuuri hanya tersenyum simpul mendengarnya. Dia sudah menduga itulah yang akan anak itu katakan. Selama sakit, Yuuri belum bertemu Wolfram lagi. Wolfram pun terlihat seperti semakin berusaha menghindarinya. Yuuri tidak tahu alasannya.
"Kuharap dia tidak marah melihatku tiba tiba datang ke kamarnya"
"Wolf...? Kau di dalam?" Yuuri berdiri di depan pintu kamar Wolfram. Tanpa bisa dihindari, meski hanya sedikit, Yuuri merasa dirinya gugup.
Sunyi. Selama beberapa detik tidak ada jawaban.
Lalu sayup sayup terdengar suara, "Masuklah"
Sekelebat rasa rindu memenuhi dadanya saat mendengar suara tunangannya itu. Yuuri pun perlahan masuk ke dalam.
Di sana, dia mendapati sosok Wolfram yang sedang berdiri memunggunginya, menerawang melalui jendela besar di depannya.
"Ha-hai. Apa kabar?" Yuuri berjalan mendekat sambil berkata canggung. Sesaat kemudian baru disadarinya itu pembukaan pembicaraan yang payah. Yuuri mengutuk dirinya dalam hati.
Wolfram menoleh. Ekspresinya datar, cenderung dingin.
"Harusnya kau tidak perlu ke sini. Kau masih perlu istirahat, kan? Jangan memaksakan diri" Wolfram berkata perlahan. Meski nada suaranya cenderung datar, Yuuri dapat melihat kecerahan di mata hijau zamrud itu ketika berbicara dengannya, meski hanya sekilas.
"Ah, tidak apa. Aku sudah bosan istirahat di tempat tidur. Dan rasanya sudah lama aku tidak ngobrol denganmu. Makanya aku datang kemari" Yuuri menjawab cepat. Wajahnya cerah.
wolfram diam.
"Lalu? Kau mau bicara apa?" Tiba tiba wolfram bersuara.
"Eh? Apa aku terlihat ingin membicarakan sesuatu?" Yuuri menatapnya takjub.
"Sepertinya begitu. Ada apa?" Wolfram bertanya tenang, seolah dia sudah tahu apa yang ingin Yuuri bicarakan.
"Hmmm... Bagaimana bilangnya, ya? Jadi... Kurasa... Belakangan ini kau berusaha menghindariku... Boleh aku tahu kenapa? Aku salah bicara, ya?" Yuuri berkata pelan sementara wajahnya sedikit muram. Digaruknya kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Yuuri..." Wolfram menggumam pelan setelah mendengar perkataan Yuuri barusan. Matanya tampak redup dan seperti ada banyak emosi berbaur di dalamnya. Yuuri sungguh tidak paham.
Wolfram menghela napas sekilas sebelum menjawab. Matanya ia arahkan ke jendela lagi.
"Tentang itu, kau akan segera tahu. Tapi bukan sekarang. Kalau nanti sudah waktunya, kau akan tahu. Aku janji" Wolfram berkata perlahan. Diliriknya Yuuri yang berdiri di belakangnya. Ujung matanya menangkap sosok itu mendekat padanya. Wolfram kaget.
Saat sampai di depannya, Yuuri tersenyum lembut. Diraihnya tangan kanan Wolfram.
"Aku akan selalu percaya padamu. Ini akan jadi yang pertama dan yang terakhir kalinya kau menyembunyikan sesuatu dariku. Janji, ya?" Yuuri berkata perlahan. Sorot matanya hangat, menatap Wolfram tepat di manik mata.
Wolfram tersenyum tipis. Kalimat Yuuri itu disimpannya baik baik dalam hati.
Dia sungguh berharap dia tidak akan pernah mengkhianati rajanya.
Dia sungguh berharap begitu.
Bersambung
