Pria itu duduk geliah di ruang kerjanya yang lapang dan sunyi. Dahinya berkerut dalam, memikirkan rentetan rencananya. Rencana pertamanya sudah berjalan dan hasilnya sesuai harapan, meski bukan hasil terbaik.
Waltorana menatap langit langit. Senyum tipis terukir di wajah ketika dia memutar kembali rencana pertamanya dalam ingatan.
Hari itu, Waltorana ditemui salah seorang kerabatnya di kediamannya, istana Bielefeld. Orang yang datang itu menawarkan sesuatu yang sungguh menarik minat Waltorana. Rupanya orang itu tahu dan mengerti ambisi terbesar dalam hidup Waltorana, bahkan bersedia membantunya.
Waltorana tidak bisa menyembunyikan keantusiasannya, meski dia cukup heran, dari mana pria ini mengetahui ambisinya. Namun perasaan heran itu segera ditepisnya, terlebih setelah mendengar pria di depannya berbicara. Suara itu dalam dan dingin, sekaligus mengintimidasi. Dari suaranya, Waltorana bisa merasakan pria di depannya ini memiliki sifat yang sama dengannya. Ambisius. Waltorana merasa seperti menemukan seorang kawan. Dia merasa melihat cerminan dirinya sendiri pada pria itu.
Dia menawarkan bantuan. Tanpa berpikir dua kali, Waltorana segera menerima tawaran itu. Maka rencana pun segera disusun setelahnya.
Menghembuskan berita bohong yang diarahkan pada raja adalah salah satunya.
Rencana itu sukses. Keributan terjadi dan rakyat terpecah. Massa pendukung Maoh berkurang dengan sendirinya.
Di tengah kegaduhan itu, dirinya masuk, menjadi penengah dan pahlawan. Dengan begitu dia akan punya kuasa lebih dan bisa mengendalikan situasi. Sebagai tambahan, kepercayaan serta simpati dari para pejabat istana dan rakyat padanya meningkat. Sekali tepuk, dua lalat.
Sesuai dugaannya, raja kecil yang lugu itu jatuh sakit, dan dengan segala kepercayaan yang ia dapat, dengan mudah dia bisa menduduki tampuk tertinggi kekuasaan, meski hanya untuk sementara. Untuk saat ini.
Sedikit lagi. Aku akan segera sampai di garis akhir.
Keesokan harinya, Waltorana menghadiri agenda rapat yang kesekian kalinya dalam satu bulan terakhir. Sudah seminggu dia berdiam di Istana Perjanjian Darah di ibukota, mengemban jabatan dan tugas sebagai Pelaksana Tugas Raja. Atau, memakai istilah yang lebih disukainya, Raja Sementara.
Dia berjalan dan segera masuk ke ruang rapat. Para pemimpin keluarga aristokrat lainnya sudah duduk di kursinya masing masing. Semuanya hadir kali ini. Waltorana cukup terkejut ketika matanya tak sengaja bertatapan dengan Tuan Von Granzt. Tak biasanya dia mau datang, Waltorana berkata dalam hati.
Rapat pun dimulai. Pembahasan rapat kali ini menyangkut jabatan Maoh.
Sehari sebelumnya, para tabib istana telah menyatakan kesembuhan total dari Maoh ke 27 itu. Para tabib pun sudah memperbolehkan Yuuri menjalankan tugas tugas politiknya kembali. Semua orang tentu senang. Tak terkecuali mereka.
Tapi dari situ timbul masalah.
Seketika mendengar kabar baik itu, pihak Istana Perjanjian Darah hendak segera mengembalikan hak jabatan Yuuri sebagai raja yang sah. Di saat yang sama, sebagian besar suara di Sepuluh Pemimpin Keluarga Aristokrat tidak sependapat.
Pihak perwakilan keluarga aristokrat yang diwakili Tuan Stoffel von Spitzberg, Tuan Densham von Karbelnikoff, Tuan von Gyrenhall, Tuan von Grantz, dan lady von Rocheford, berpikir untuk membiarkan Waltorana menyelesaikan masa tugasnya selama tiga bulan, sesuai kesepakatan mereka bersama mengenai masa jabatan pelaksana tugas raja.
Sementara yang sependapat dengan pihak istana yang diwakili Gwendal, Gunter, Del Kierson von Wincott, dan Tuan von Radford, merasa masa jabatan itu tidak perlu diteruskan karena sang raja telah sembuh. Dan dia berhak duduk di takhtanya kembali secepat mungkin.
Kedua pihak terlibat perdebatan sengit. Suasana tegang dan gerah memenuhi ruang rapat itu. Waltorana, meski tidak punya hak suara, memberikan tanggapannya.
"Saya sungguh merasa tersanjung mengetahui mayoritas suara di ruangan ini meminta dan mempercayai saya untuk tetap mengemban tugas mulia ini sampai selesai. Saya pun bisa memahami pendapat sebagian kalian yang meminta saya mundur. Bagaimana pun, saya hanya seorang pelaksana tugas raja. Ada seorang raja sah dan absolut yang lebih berhak atas jabatan ini"
Waltorana berhenti sejenak, menatap rekannya satu persatu. Wajahnya tenang. Tidak ada emosi yang kentara di wajah itu.
"Namun demikian, perlu diingat bahwa sang Maoh baru saja sembuh dari sakit. Menurut saya akan lebih baik untuk memberinya waktu untuk bersiap, sementara saya akan membantunya semampu saya. Setelah itu baru kemudian saya mundur dan kembali ke jabatan saya semula. Bagaimana menurut Anda sekalian?"
Waltorana selesai bicara. Bibirnya tampak naik sedikit. Wajah di sekelilingnya tampak pelan pelan mengangguk. Terdengar bisik bisik di antara mereka.
Akhirnya, untuk saat ini, diputuskan Waltorana akan tetap menjadi pelaksana tugas raja untuk beberapa waktu lagi.
Dan atas permintaan Waltorana, para pemimpin keluarga aristokrat itu hari ini dijamu di istana. Mereka juga akan menginap selama satu malam. Tidak ada yang keberatan. Paling tidak di permukaan.
Tuan von Radford menatap curiga pada pria di depannya. Ada sesuatu yang dia rencanakan, batinnya yakin. Pria tua itu memang cukup ulung dalam membaca muslihat orang lain.
Gwendal dan Gunter pun makin merasa yakin akan hal itu. Namun mereka memutuskan untuk tidak segera bertindak. Mereka butuh petunjuk dan bukti yang lebih banyak lagi sebelum menjebak pria itu.
Usai rapat, Tuan von Radford berdiri di samping pintu. Dia menunggu rekannya keluar. Ketika Gwendal dan Gunter berjalan keluar, Tuan von Radford memanggil mereka.
"Bisa kita bicara? Ini tidak akan lama. Aku hanya ingin mendiskusikan sedikit masalah" Tuan von Radford menatap mereka berdua.
Wajah yang tampak serius itu membuat Gwendal dan Gunter urung menolak. Mereka lantas mengganguk dan pergi menjauh dari ruang rapat itu.
Di balik taman bunga istana yang ketika itu sedang sepi, langkah mereka berhenti.
"Nah, aku akan langsung ke intinya saja. Menurut kalian, apa Waltorana itu menyembunyikan sesuatu? Aku tahu pertanyaanku ini agak aneh, tapi naluriku bilang dia itu mencurigakan" Tuan von Radford menatap serius dua pria di depannya.
Gwendal dan Gunter seketika terkejut setelah mendengar pertanyaan pria itu. Selama ini, mereka mengira hanya mereka yang mencurigai Waltorana. Paling tidak akhir akhir ini.
Setelah berpikir dan menimbang sejenak, akhirnya Gunter membeberkan kecurigaan mereka.
"Kami pun sebenarnya juga mencurigai Waltorana. Bisa dibilang, Waltorana adalah pihak yang paling diuntungkan dari situasi panas waktu itu sampai hari ini. Mulai dari masalah berita ganjil di surat kabar Shin-Nichi beberapa waktu lalu, kemudian ini. Kami merasa semua terlalu mulus untuk dia. Bahkan andai dia memang punya nasib baik, ini semua terlalu kebetulan" Gunter berkata perlahan. Dua rekannya tampak mendengarkan dengan serius.
"Begitu rupanya. Itu tidak jauh dari dugaanku. Aku sudah lama mengenal Waltorana, sejak aku masih menjadi pembimbing di sekolah militer. Saat itu Waltorana adalah salah satu anak didikku. Anak itu sangat cerdas, namun sangat ambisius dan pendendam. Bahkan kadang caranya itu cukup berisiko. Dia itu kadang tidak bisa berpikir panjang, hingga seringkali merugikan dirinya sendiri dan orang di sekitarnya" Tuan von Radford menghela napas.
Gunter menatap salah satu seniornya itu dengan pandangan hormat. Gunter pun kini telah menjadi salah satu pembimbing senior di sekolah militer, namun saat Gunter masuk sebagai pembimbing bertahun tahun lalu, di saat yang sama, Tuan von Radford telah mengundurkan diri. Gunter telah lama menggantikan posisinya.
"Tuan von Radford, maaf jika saya lancang, tapi mengapa Anda memutuskan untuk memberi tahukan kecurigaan Anda pada Waltorana dan mendiskusikan ini pada kami?" Tiba tiba Gwendal bertanya.
"Aku sempat menangkap tatapan curigamu pada Waltorana pada rapat sebelumnya. Hari ini pun begitu. Jadi kupikir kau punya pendapat yang sama denganku. Sementara Gunter adalah adik kelasku waktu sekolah militer dulu. Kami sudah lama saling kenal. Andai aku tidak menyadari kecurigaanmu pada Waltorana waktu itu, mungkin aku hanya akan mendiskusikannya pada Gunter saja" Tuan von Radford menjawab kalem. Senyum arifnya membuat Gwendal urung bertanya lagi.
Gunter melirik sahabat lama sekaligus seniornya itu kagum. Ketegasan dan kewibawaan yang dibalut kelembutan itu sama sekali tidak berubah.
"Aku berniat langsung menanyai Waltorana soal ini. Terdengar terburu buru, tapi ini adalah cara tercepat untuk mengetahui kebenaran. Dengan ini, aku bisa memastikan apakah kecurigaanku ini benar atau keliru. Kalau begitu, aku permisi. Terima kasih atas waktunya" Tuan Radford pun berlalu dari situ.
"Pria yang unik..." Gwendal bergumam pelan.
Gunter hanya tersenyum tipis.
Ya... Kau sama sekali tidak berubah.
Siang hari. Matahari sudah berada di pucuk kepala ketika Del Kielson berjalan melewati halaman istana. Adik laki laki Julia itu hendak menuju perpustakaan istana, ketika didengarnya suara orang tengah berbicara. Nadanya serius.
Del Kielson yang ketika itu berjalan di sisi jalan lantas bersembunyi di balik pohon terdekat ketika dilihatnya dua orang yang dikenalnya saling bicara.
"Apa yang Waltorana dan Tuan von Radford lakukan di situ?" Del Kielson bergumam penasaran.
"Waltorana, tolong jawab aku. Karena sungguh aku tidak mau memendam kecurigaan ini lebih lama. Apalagi kau adalah bekas muridku. Apa benar kau merencanakan kudeta atas Yuuri heika?" Wajah itu terlihat keras, namun tatapan matanya yang dilapisi kacamata kecil itu terlihat kecewa, juga sedih.
Mendengar itu, pupil Del Kielson melebar tanpa sadar.
"Apa maksudmu, Tuan von Radford? Saya sama sekali tidak mengerti kalimat Anda barusan. Anda menuduh saya merencanakan kudeta? Itukah yang Anda maksud?" Waltorana berkata tenang. Namun hatinya bergemuruh.
"Aku tidak perlu mengulangi pertanyaanku. Aku yakin kau tidak tuli" Tuan von Radford menjawab singkat. Suaranya kian kaku.
"Apa maksudmu, Pak tua?" Mata Waltorana seketika berubah dingin. Waltorana tersinggung. Seketika itu hilang pula kesabaran dan rasa hormatnya pada gurunya itu.
"Dengar, saya tidak punya keharusan menjawab pertanyaan Anda. Kecurigaan Anda itu berlebihan dan tidak berdasar. Andai pun perkataan Anda itu benar, Anda bahkan tidak punya kuasa untuk menghukum saya" Waltorana berkata dingin.
Kalimat kasarnya itu memantik amarah pria tua di depannya.
Yang terjadi setelahnya sungguh di luar dugaan, bahkan bagi Waltorana sekalipun. Del Kielson yang diam diam menyaksikan itu pun terdiam kaget.
Plakkk!
Tuan von Radford menampar pipi kanan Waltorana.
Waltorana terkesiap. Wajahnya pucat. Ditatapnya Tuan von Radford dengan berang. Pria itu membalas tatapannya dengan sorot mata yang sulit dimengerti. Marah, kecewa, sedih, dan terkejut dengan tindakannya sendiri. Namun mulutnya terkatup rapat.
Waltorana segera pergi meninggalkan tempat itu. Tuan von Radford tidak berusaha menghentikannya. Dia berdiri saja di sana. Ditatapnya Waltorana yang berjalan menjauh. Dihelanya napas. Lelah dan menyesal.
Semua kejadian itu telah terekam jelas dalam ingatan Del Kielson.
Pria tua brengsek! Orang itu selalu saja ingin tahu urusanku. Dari dulu dia tidak pernah menganggapku dewasa dan selalu memperlakukanku seperti anak kecil yang selalu pantas diawasi!
Waltorana memisuh dalam hati. Duduk di ruang kerjanya, Waltorana menatap bosan tumpukan kertas kerja di depannya. Diusapnya perlahan bekas tamparan gurunya itu. Rasa sakit hati dan marah yang menumpuk telah menyemai dendam tanpa sadar.
Dan bisa bisanya dia menyadari rencanaku. Orang itu berbahaya. Dia akan menghalangi rencanaku selanjutnya.
Aku harus segera menyingkirkanya sebelum terlambat.
Malam ini.
Bersambung
Selamat Hari Raya Idul Adha 1442 H.
Semoga kita selalu diberi kesehatan dan senantiasa berada dalam lindunganNya.
Mumpung libur agak panjang, saya mungkin akan menulis lebih banyak di beberapa hari ini.
Terima kasih atas kesabarannya menunggu kelanjutan fanfic ini. Bila berkenan, silakan tinggalkan komentar.
