Langit tampak merah keunguan. Matahari hampir terbenam di ufuk barat.
Sejak Yuuri datang ke kamarnya tadi pagi, Wolfram terus memikirkan kalimat terakhir yang diucapkan Yuuri padanya, sebelum pergi.
"Aku percaya padamu. Ini akan jadi yang pertama dan terakhir kalinya kau menyembunyikan sesuatu dariku. Janji, ya?"
Selama seharian ini, nyaris kalimat itu saja yang berpendar di kepalanya.
Dan Wolfram merasa, dia tidak bisa menepati janji itu. Sekeras apapun dia menginginkannya.
Wolfram sadar, dia sedang mengelabui semua orang, termasuk rajanya yang paling dia hormati. Tunangannya sendiri.
Wolfram selama ini hanya mampu menahan diri, tanpa bisa berbuat apapun. Karena sebuah alasan, dia harus tutup mulut. Bersikap seolah tidak tahu apapun.
Namun Wolfram tahu, cepat atau lambat, dia harus membukanya. Tidak peduli apakah dia mau atau tidak.
Wolfram menatap langit senja yang muram. Wajahnya lelah.
Tiba tiba dia merasa punggungnya dialiri hawa dingin yang cukup menusuk.
Hawa yang sangat familiar.
Ketika dia menoleh, didapatinya sosok itu tengah duduk di kursi yang bersandar di tembok. Pria itu hanya tersenyum kecut, sementara tanganya bersilang di depan dada. Sorot mata biru laut itu tampak berbeda dari biasa.
Wolfram rasanya sudah tahu apa yang akan dikatakan pria itu. Dan sebenarnya, dia sudah lama menantikannya. Dia tahu, waktunya terbatas.
"Sudah kuputuskan. Aku akan lakukan rencanaku malam ini. Tepat tengah malam. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan, Anak Muda? Kuharap kau tidak sampai melakukan kesalahan. Baiklah, cukup begitu saja. Aku sungguh tidak sabar lagi. Sepertinya malam ini akan terang bulan. Sampai nanti"
Pria itu menghilang secepat datangnya.
Wolfram diam saja. Tubuhnya terasa kaku.
"Aku percaya padamu. Mungkin, ini tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku kemarin, tapi tolong beri aku kesempatan, ya?"
"Aku percaya padamu. Ini akan jadi yang pertama dan terakhir kalinya kau menyembunyikan sesuatu dariku. Janji, ya?"
Kalimat kalimat itu terus berputar di kepalanya, seperti kaset yang dibolak balik tanpa henti.
Percaya.
Betapa indahnya satu kata itu. Namun sayangnya, sangat sulit untuk memegangnya.
Waktunya makan malam, dan meja bundar yang besar itu kini dipenuhi oleh berbagai wajah yang cukup jarang terlihat. Hanya akhir akhir ini mereka cukup sering ke istana untuk menghadiri rapat.
Mereka semua makan dalam diam. Tidak ada pembicaraan ringan yang biasa terdengar seperti di hari biasa. Semuanya tampak canggung dan segan satu sama lain. Sungguh bukan makan malam yang menarik. Meski hidangan yang disajikan menebarkan aroma harum dan tentu lezat, itu semua sepertinya belum cukup untuk mencairkan suasana.
Semuanya tampak sibuk dengan pikirannya sendiri.
Dan jamuan makan malam itu pun akhirnya berakhir begitu saja, tanpa meninggalkan kesan yang berarti.
Waltorana masuk ke ruang kerjanya begitu makan malam itu usai. Dia ingin mematangkan rencananya. Sesaat sebelum tengah malam, dia berencana membereskan pria itu. Cukup dengan satu gerakan, dan semuanya akan selesai.
Dengan begini, penghalangku akan berkurang satu.
Hampir tengah malam. Sesuai dugaannya, bulan terang malam ini. Dia melihatnya melalui langit langit tinggi yang dilapisi kaca transparan. Dia sedang menunggu seseorang di situ. Duduk di salah satu benda miliknya dengan menyilakan kaki. Sementara di belakangnya tampak tembok yang dialiri air.
"Cepatlah datang. Aku sudah tidak sabar lagi"
Suaranya tenang dan halus, namun kejam.
Istana tampak lenggang. Tak banyak prajurit yang berjaga. Sungguh kesempatan yang bagus.
Waltorana berjalan dan masuk diam diam menuju kamar Tuan von Radford. Dia yakin pria itu sudah terlelap. Waltorana tahu persis pria itu bukan tipe orang yang suka terjaga sampai tengah malam, sejak dulu. Dikatakannya itu tidak baik untuk kesehatan.
Ditatapnya sejenak pria tua yang tengah terlelap itu. Napasnya terdengar tenang dan teratur.
Dipejamkannya mata sebelum membuka sarung pedang miliknya. Dibayangkannya pria di depannya tewas seketika.
Namun, saat dia hendak mengarahkan pedang ke tubuh pria itu, tiba tiba terdengar suara teriakan melengking khas wanita. Merasa ternggangu, Waltorana seketika kehilangan nafsu jahatnya dan memutuskan untuk menundanya dulu. Dia takut Tuan von Radford bangun karena teriakan itu. Dia pun bersembunyi di tengah kegelapan ruang kamar, menunggu kesempatan.
Sementara itu Yuuri yang baru saja tertidur seketika terbangun karena teriakan itu. Khawatir terjadi sesuatu, dia segera bergegas keluar. Conrad rupanya masih berjaga di depan kamarnya.
"Conrad, kau dengar suara barusan? Aku takut telah terjadi sesuatu"
"Heika, lebih baik Anda diam di kamar. Saya akan segera ke sana" Conrad memegang sebelah bahu Yuuri. Suara dan tatapan matanya tampak serius.
"Tidak! Aku akan ikut denganmu! Apa raja tidak diizinkan untuk tahu apa yang terjadi di istananya?" Yuuri bersikeras.
Conrad hanya tersenyum pasrah. Mereka pun bergegas ke arah suara.
Betapa terkejutnya mereka ketika sampai ke arah suara itu.
Tampak tubuh para prajurit yang dirembesi darah bergelimpangan di sepanjang lorong. Darah pun tampak menodai beberapa bagian tembok di tengah kegelapan malam.
Seorang pelayan wanita muda tampak terduduk lemas melihat pemandangan di depannya. Wajahnya sepucat hantu.
Sosok itu. Sosok yang berdiri di tengah gelimpangan jasad di tengah lorong itu. Baju birunya basah oleh cipratan darah, begitu pula wajahnya. Sorot mata hijau zamrud itu dingin. Dipegangnya pedang yang masih meneteskan cairan merah.
Di tengah sinar bulan, dengan cepat Yuuri dan Conrad dapat mengenali sosok itu.
"Wolfram...?!"
Bersambung
Karena saya harus terus mengawasi perkembangan hasil pertandingan beberapa cabor di Olimpiade Tokyo yang akan berlangsung dari tanggal 23 Juli - 8 Agustus 2021, maka mungkin saya baru akan bisa menulis lanjutannya lagi awal bulan depan.
Terima kasih.
