Malam itu terang bulan. Namun kehangatannya seolah tidak mampu menyaingi dinginnya udara malam itu.
Seketika sampai di sumber suara dan menyaksikan pemandangan tragis itu, tubuh mereka berdua seolah kaku. Hawa dingin yang menusuk memenuhi rongga tubuh.
"Wolfram...? Bu-bukan, kan?" Yuuri berusaha keras membuka mulut. Wajahnya terkesiap dan pucat sekaligus.
"Heika, tolong mundur" Conrad langsung berdiri di depan Yuuri. Diambilnya pedang yang sejak tadi tersarung di pinggang. Conrad terlihat lebih bisa menguasai diri. Namun sesaat kemudian dirasakannya genggaman tangannya di gagang pedang itu bergetar sedikit akibat keringat dingin yang keluar dari telapak tangannya.
Wolfram hanya diam menatap mereka berdua. Sorot matanya redup dan sedingin es. Tak dihiraukannya cipratan darah di wajahnya yang perlahan mulai jatuh ke lantai.
Tiba tiba Wolfram tersenyum sumir. Senyum yang angkuh dan kejam.
Terdengar suara langkah kaki yang ramai dan nyaring. Bunyinya menghentak lantai.
Tampak Gwendal, Gunter, Yozak, dan Murata berdiri di sana. Mereka rupanya terkejut pula dengan teriakan wanita barusan. Seorang prajurit dari rombongan itu mendekati pelayan wanita itu dan mengiringinya menjauhi tempat itu.
"Wolfram...? Apa yang kau lakukan...?!"
Suara Gwendal terdengar nyaring meski dibalut dengan rasa kaget yang tidak bisa ditutupi.
Wolfram masih diam. Sekoyong koyong dia berlari cepat meninggalkan tempat itu.
"Wolf! Tunggu!" Seketika itu Yuuri segera mengejar Wolfram yang terlihat makin menjauh.
"Heika!" Conrad langsung mengikuti rajanya dari belakang. Begitu juga dengan yang lain. Seolah mereka tidak bisa lagi memikirkan hal lain selain mengejar Yuuri dan Wolfram.
--
Wolfram! Tunggu! Kenapa?! Apa yang terjadi?!" Yuuri berusaha terus memanggil Wolfram yang terus berlari di depannya. Wolfram sudah berlari cukup jauh. Sementara Yuuri dan yang lain terus berlari mengejar.
--
"Apa katamu?! Wolfram yang... "
Waltorana terkesiap mendengar laporan seorang penjaga istana di depannya. Dia baru saja kembali ke ruang kerjanya. Rencananya batal. Dia pun segera pergi meninggalkan tempat itu, bergegas menyusul yang lain.
Wolfram! Apa yang kau pikirkan?!
--
Wolfram baru berhenti berlari ketika dia sampai di dalam kuil. Kuil yang sangat familiar bagi mereka semua.
"Kuil ini... Kenapa...?"
"Selamat datang"
Suara gumaman Conrad diusik oleh sebuah suara yang terdengar halus dan dalam.
Di depan mereka terlihat pria itu masih duduk menyila di salah satu kotak miliknya. Wajahnya tenang, bahkan terlihat senang. Senyum miringnya perlahan muncul.
Wolfram tampak berdiri di tenang di sampingnya.
"Shinou heika...!" sentak mereka kaget.
"Ternyata kau memang melakukannya, ya... " suara Murata sayup terdengar. Wajahnya menunduk cukup dalam. Kecewa.
"Hai, Daikenjaku. Lama tidak melihatmu. Dan... Hei, rupanya aku punya banyak tamu yang tidak diundang... " Shinou menoleh pada Wolfram, "Kau yang membawa mereka ke sini? Bagus, dengan ini semuanya akan lebih mudah" Shinou berkata santai.
"Apa yang terjadi di sini?!" Tiba tiba terdengar suara yang nyaring menggelegar.
Semua menoleh.
Waltorana. Tubuhnya banjir keringat. Napasnya terdengar pendek.
"Wah, lihat siapa lagi yang datang. Bahkan aku tidak perlu memanggil dia kemari. Hebat... " Shinou bicara lagi. Kali ini suaranya datar. Dan kejam.
"Apa yang telah kau lakukan, Wolfram?! Kenapa kau membunuh mereka?! Apa kau sudah gila?! Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?!" Waltorana tidak mempedulikan ucapan Shinou padanya dan menyeruak maju, hendak menghampiri keponakannya itu.
"Hahaha... Lihat siapa yang bicara" Shinou berkata tenang. Sorot matanya menatap Waltorana mengejek.
Langkah Waltorana seketika berhenti.
"Apa... maksudmu?" Waltorana membalas, mencoba berani.
"Tidak perlu berpura pura lagi, paman. Aku tahu semua rencanamu. Berita di koran, rencana kudeta merangkak itu, pengambilan kuasa secara perlahan, lalu sesaat tadi kau bahkan bermaksud membunuh Tuan von Radford diam diam. Sudah cukup. Aku dan dia sudah tahu semuanya" Wolfram akhirnya bicara.
Suaranya tenang dan dingin.
Semuanya terkesiap selesai Wolfram bicara. Wajah Waltorana pucat pasi.
Akhirnya mengalirlah semua rencana itu dari bibir Shinou. Waltorana seperti dikuliti habis di depan semua orang. Sekarang, dia tak ubahnya seperti terdakwa kriminal yang baru saja selesai diadili.
"Kalian tidak mengerti... Ini demi dia...Demi saudaraku... Demi keinginan mendiang kakakku itu... Dan demi Wolfram... " Waltorana berkata perlahan. Suaranya tersendat.
"Dan bukankah itu rencanamu juga, Shinou heika? Kau lah yang datang dan menawarkanku bantuan dan menyusunkan semua rencana itu untukku. Bukankah itu berarti kau sama jahatnya?" sambung Waltorana. Digunakannya pertahanannya yang terakhir.
Satu lagi rahasia terbuka. Semua yang mendengar tampak terkejut kaget.
"Tidak. Aku berbeda denganmu. Aku hanya menawarkan. Kau bisa menolaknya. Tapi kau tidak melakukannya. Kau dibutakan nafsu untuk berkuasa. Sama sekali bukan salahku. Salahmu sendiri" Shinou menjawab tenang, seolah di atas angin. Perkataannya itu seperti perkataan setan ketika selesai menghasut.
Skak mat. Waltorana diam, tak mampu menjawab.
"Kau terlalu naif. Kau tidak mengerti apapun. Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Selamat tinggal" Shinou masih berkata dingin.
Diarahkannya telapak tangannya yang terbuka ke arah Waltorana. Mata Waltorana melebar, menahan rasa sakit yang tiba tiba muncul.
Seketika itu juga tubuh Waltorana jatuh berdegum ke lantai. Wajah itu berhenti dialiri darah. Mulutnya mulai kaku.
Yuuri, Conrad, Murata, Gwendal, Gunter dan Yozak hanya mampu menahan napas menyaksikan kejadian di depan mereka.
"Paman!" Wolfram terkesiap melihat pamannya berhenti bernapas. Ditatapnya Shinou nanar. Sorot mata itu terluka. "Apa yang Anda lakukan..."
"Aku tidak butuh dia lagi. Dia pion yang rusak dan pantas untuk dibuang" Shinou berkata tenang. Tak dihiraukannya Wolfram yang menatapnya marah.
"Tapi kau sudah berjanji tidak akan melukai keluargaku...!" suara Wolfram mulai serak.
"Rencana berubah, Anak Muda. Dia sendiri sudah selesai. Aku ingin segera menjalankan rencanaku..." Shinou menoleh menatap empat buah kotak yang ada di belakangnya.
"Empat kotak...! Bagaimana kau...?" Murata terkejut seketika dia mampu mengenali empat kotak terlarang itu.
"Bagaimana aku mendapatkannya? Itu mudah. Kau tahu sendiri kan, Kaze no Owari dan Chi no Hate itu memang milikku. Sementara kau mengambil Toudou no Gouka dan Kagami no Minasoko diam diam dariku di masa lalu dan membawa kedua kotak itu ke Bumi agar tidak bisa kugunakan. Kagami no Minasoko kau bawa ke dasar danau yang sekarang wilayahnya bernama Swiss ketika kau masih seorang dengan sosok Daikenja. Sementara Toudo no Gouka kau simpan di Boston. Sosok reinkarnasimu yang lain pada masa itu, Henry Le Jean, seorang dokter di Perang Dunia II, berhasil menyembunyikannya di Boston. Namun kemudian kotak itu terbakar saat terjadi sebuah kebakaran besar di tempat kotak itu disembunyikan. Tapi kotak itu tidak terbakar habis karena sejatinya dia tidak dapat musnah terbakar. Dia hanya agak hangus"
"Waktu berlalu. Toudou no Gouka milikmu akhirnya jatuh ke tangan para Shinzoku, sementara Chi no Hate milikku jatuh ke tangan Shimaron. Kalian berhasil merebutnya dari mereka, namun aku berhasil merebutnya dari kalian. Dua kotak sisanya, Kaze no Owari dan Kagami no Minasoko ada padaku sejak awal. Aku langsung tahu kau akan membawanya kabur ke dunia lain, Daikenja. Makanya aku bisa merebut Kagami no Minasoko darimu"
Shinou selesai bicara. Dia tersenyum puas.
Murata diam. Tidak disangkanya sahabatnya punya rencana sematang ini. Meski sudah bisa menerka rencananya sejak awal, tak ayal Murata pun terkejut.
"Kenapa Wolfram ada di sampingmu? Apa yang kau lakukan padanya?!" Yuuri berusaha sekeras mungkin untuk tetap tegar.
"Aku tidak melakukan hipnotis atau apapun namanya, kalau itu yang kau pikirkan, Yuuri heika. Hanya saja, dia adalah pion yang sempurna untuk kugerakkan saat ini. Dia memenuhi semua kriteria itu : Putra ratu terdahulu, salah satu pemegang kunci kotak terlarang, dan keturunan langsung dariku. Benar benar sempurna untuk sebuah pion"
Wolfram hanya diam di depan jasad Waltorana. Dirinya seolah tidak memperdulikan keadaan sekitarnya.
Shinou hanya tersenyum tenang. Tidak dihiraukannya tatapan marah dari orang orang di ruangan itu.
"Dia bukan bonekamu!" Conrad berkata marah. Dirinya sudah tidak tahan lagi untuk bersuara.
"Kalau begitu, coba rebut dia dariku. Atau aku tanya saja padanya. Nah, Anak Muda, kau pilih aku atau para kakak dan tunanganmu tersayang?" Suaranya lembut namun ganjil.
Untuk sesaat, Wolfram masih diam. Kemudian dia berjalan menghampiri pria itu.
"Aku di sampingmu, Heika"
Bersambung
