Malam masih panjang. Rupanya malam kali ini sedang enggan berlari cepat, dan justru berlalu dengan sangat lambat.

Mereka semua masih berada di dalam kuil itu.

Mereka semua hanya mampu berdiri diam dan menahan napas ketika Wolfram berjalan menuju pria itu.

Wolfram berdiri tepat di sebelahnya, seperti anjing yang setia. Tatapannya datar, tanpa emosi.

"Nah, dia telah memberikan jawaban" Shinou tersenyum menang.

"Apa... Sebenarnya maumu...?" Yuuri berkata pelan. Ditatapnya Shinou dengan tatapan yang sulit dipahami. Terkejut, marah, sedih, kecewa, tidak berdaya.

"Pertanyaan yang cukup sulit. Aku tidak yakin kau mau mendengarkan jawabanku" Nada suara itu terdengar skeptis. Bola matanya mengerling tajam menatap orang orang di depannya.

"Tolong jawab saja. Kami semua ingin tahu" Murata tiba tiba bersuara. Tenang dan datar.

"Baiklah, kalau kau memaksa" Disilangkannya tangan di depan dada. Matanya menatap lantai batu yang memantulkan sinar bulan.

"Tujuanku hanya satu. Menghancurkan Shinmakoku"

Hanya itu. Dan kalimat itu sudah cukup untuk membuat mereka semua diam.

"Aku merasa kerajaan yang sudah kubangun ini telah rusak. Terlalu banyak orang yang gila kuasa, dan di saat yang sama, juga telah dipenuhi oleh orang lemah yang enggan berperang untuk kejayaan negeri"

"Terdengar konyol? Mungkin. Tapi bagiku itu terlihat seperti sebuah kandang yang sudah sangat sulit untuk dibersihkan. Umpamanya seperti kandang kudamu sangat kotor dan hampir roboh. Alih alih berusaha keras untuk membersihkan dan memperbaikinya, yang pasti akan membutuhkan waktu yang lama, akan lebih cepat bila kau memusnahkan kandang itu beserta kuda di dalamnya, kemudian membangun yang baru lagi dari awal"

"Satu hal lagi, aku sudah sangat merindukan adrenalin ketika berperang. Rasa yang sangat nikmat ketika kau menyaksikan lawanmu tewas di depan matamu, kemudian hidungmu menghirup aroma kemenangan yang mendekat padamu dalam dalam"

Sorot mata itu kejam dan tidak berperasaan. Senyumnya mengembang.

"Omong kosong! Tidak ada satu pun yang bisa diselesaikan dengan perang! Tidak ada...! Perang hanya akan menimbulkan korban jiwa dan harta, lalu melahirkan dendam...!"

Yuuri terengah setelah selesai dengan kalimatnya yang sekuat tenaga dia ucapkan. Keringat perlahan keluar dari pelipis kirinya.

Teman temanya menatap Yuuri, terkejut.

Sementara Shinou hanya tersenyum sumir.

"Lalu melahirkan perang baru... Ya... Perang tanpa batas... Justru itulah yang kuinginkan... Yuuri heika, kau salah besar bila mengira aku adalah orang sesuci dirimu... Aku senang melumuri tanganku dengan darah... Aku adalah seorang raja yang lebih suka turun dari kuda kebesaranku dan melumuri tanganku dengan dosa. Sementara kau adalah raja yang lebih senang duduk di kuda kebesaranmu, enggan menodai sepatumu dan membiarkan teman temanmu menyelesaikan segalanya dengan cara damai. Kita sungguh berbeda..."

Yuuri terkesiap. Rasanya seperti disindir tepat di depan muka.

"Namun justru itulah yang membuatmu menarik. Itulah alasanku menjadikanmu Maoh ke-27. Rasa keadilan tinggi yang kau miliki sejak lahir, sungguh menarik minatku. Sesuatu yang tidak pernah kumiliki. Aku penasaran dengan apa yang akan terjadi bila orang sepertimu kujadikan raja dari kerajaanku. Dan aku sudah tahu jawabannya sekarang. Aku telah menyaksikan kalian dari dulu. Karena aku lah yang memegang kendali"

"Kau sudah tahu ini akan terjadi sejak awal... Lalu, kenapa tetap kau lakukan?" Murata menahan rasa marah yang tiba tiba muncul.

"Sudah kukatakan, aku bukan orang suci. Ini hanya keegoisanku saja. Aku lah yang memegang kendali. Selama ini kalian semua berada di bawah kendaliku, tidak peduli kalian menyadarinya atau tidak..."

"Kau... Merencanakan ini sejak awal... Termasuk empat kunci kotak terlarang itu... " Murata berkata perlahan. Ada nada jengkel yang tertahan di suaranya.

"Ah, ya. Tentu saja. Daikenjaku, kau tahu kan, setelah perang itu berakhir, aku menikahi Rufus Bielefeld. Dia wanita kuat yang pengertian. Dari pernikahan itu, kami dikaruniai dua orang anak. Satu anak laki laki dan satu anak perempuan"

"Anak lelaki kami meneruskan keturunan Bielefeld, sementara adik perempuannya menikah dengan seorang dari keluarga Spitzberg"

"Anak itu secara tidak langsung membuat penerus keluarga Bielefeld dan Spitzberg punya hubungan darah... Kalian pasti mengerti maksudku"

"Ratu terdahulu...! Rupanya itu yang membuatmu bisa dengan mudah membuatnya melahirkan tiga dari empat kunci kotak terlarang sekaligus!" teriakan Gunter tertahan. Matanya melebar takjub.

"Tepat sekali. Semakin dekat hubungan darahku dengan seseorang, akan semakin mudah aku menggerakannya sebagai pionku" Shinou berkata puas. Tatapan matanya menusuk.

"Kau...!" Gwendal tiba tiba menyeruak maju. Giginya bergemerutuk keras. Sorot matanya tajam menatap Shinou, seakan ingin segera meluncurkan bogem mentah tepat di depan wajah mulus pria itu.

"Ah, sang putra sulung Cecilia. Pria serba bisa yang memiliki karier cukup cemerlang di dalam politik. Orang yang mudah marah, namun sebenarnya baik hati. Mata kirimu adalah kunci dari Chi no Hate... " Shinou balas menatap Gwendal tenang. Dia masih berdiri tegak di situ, dengan Wolfram di sampingnya, tidak bereaksi dengan ucapannya barusan.

"Aku harus berterima kasih pada ibumu. Dia itu merupakan pion yang luar biasa. Bisa memenuhi harapanku dengan menikahi tiga pria dari keluarga berbeda. Berkat dia, tujuanku jadi lebih cepat tercapai"

"Brengsek...!"

Gwendal berlari menerjang pria itu dengan sebelah tangan terkepal. Sudah cukup. Kesabarannya habis.

Namun seketika itu Gwendal terpental jauh ke belakang. Punggungnya membentur tembok. Keras. Gwendal mengerang kesakitan.

"Sudah cukup! Kami akan menghentikanmu! Apapun yang terjadi!" teriakan Yuuri menggelegar di tengah ruangan itu, menembus kepekatan malam.

"Heika...!"

"Menarik. Coba saja hentikan aku. Apa kalian yakin bisa? Jangan lupa, Yuuri heika, temanmu yang berharga ada padaku" Shinou berkata perlahan.

"Kami akan rebut Wolfram darimu! Aku percaya padanya, dia tidak akan pernah mengkhianati aku!" suara Yuuri keras, namun bergetar. Sudut matanya berair.

"Percaya. Huh, persis kata klise dalam buku. Kau tahu, apa yang paling sulit dipegang dalam hidup ini, Yuuri heika? Kepercayaan. Mungkin kau harus hidup ribuan tahun dulu seperti diriku, sebelum kau bisa memahaminya" Shinou berkata mengejek.

Yuuri diam. Cairan bening mulai mengalir dari kedua sudut matanya.

"Aku akan tetap percaya padanya"

Yuuri menoleh. Suara Conrad.

"Aku akan tetap percaya padanya, apapun yang terjadi. Aku yakin dia punya alasan untuk melakukan ini... Sama seperti diriku waktu itu... Keluarga dan teman temanku tidak pernah berhenti percaya padaku... Sekarang giliranku untuk terus mempercayai adikku, apapun yang terjadi..." Conrad berkata perlahan. Tersenyum lembut menatap saudaranya yang berdiri di depannya.

Sorot mata Wolfram melembut sesaat.

Yuuri menyadari itu.

Ya, kami percaya padanya. Apa pun yang terjadi.

Bersambung