x4 - xx - 18xx

Lagi lagi rasa sakit itu datang. Meski aku sudah cukup akrab dengan rasa sakit yang selalu datang tiba tiba di dada bagian kiri, namun kali ini rasa sakitnya terasa jauh lebih menyiksa.

Karena sudah tidak tahan, aku mencoba menemui Gisela siang itu.

Perkataannya setelah selesai memeriksaku sudah bisa kutebak.

"Wolfram kakka, penyakit darah rendah dan jantung lemah Anda kambuh lagi..."

Caranya mengatakan hal itu benar benar membuatku merasa bersalah. Dia menatapku dengan tatapan iba yang kurasa cukup berlebihan. Tapi aku mengerti kenapa dia begitu, jadi aku diam saja.

Aku sendiri hampir lupa bahwa aku punya penyakit bawaan. Rentetan petualangan di Shimaron, lalu di Seisakoku selama beberapa waktu belakangan telah menyita nyaris seluruh perhatianku.

Sampai akhirnya aku ingat lagi semuanya.

Ah, ya. Aku anak yang sakit. Sejak kecil.

Ini seperti semacam "kutukan" untukku. Dari garis keluarga ayahku, beberapa generasi sekali selalu ada yang lahir dengan penyakit lemah jantung, yang dalam kasusku, diperparah dengan darah rendah dan mabuk laut.

Saat aku masih sibuk melamun, kalimat Gisela selanjutnya seolah mehentak diriku.

"Dan penyakit Anda semakin parah... Kalau seperti ini terus, umur Anda tidak akan lama lagi... " suara Gisela terdengar parau. Matanya sayu menatapku.

Kuhindari tatapan iba itu. Aku paling tidak suka dikasihani.

Akhirnya kutatap manik matanya, kukatakan bahwa dia harus tutup mulut atas semua kondisiku. Jangan beritahu ibuku, atau siapa saja.

Wajah Gisela awalnya seperti hendak menolak, namun saat itu juga dia akhirnya mengganguk ragu setelah melihat kesungguhanku.

Aku harus mulai bisa berteman lagi dengan penyakitku.

--

x5 - xx - 18xx

Malam ini aku tidak bisa tidur. Fisikku lelah, namun rupanya hati dan pikiranku menolak untuk tidur.

Jadi kuputuskan untuk menulis.

Pikiranku malam ini dipenuhi rentetan kejadian masa lalu, salah satunya saat aku masih sekolah di Akademi Militer.

Sejak kecil, meski tahu diriku sakit, aku sama sekali tidak mau kalah. Keegoisanku berkali kali membuat ibu dan kakak kakakku itu cemas. Meski mereka tidak pernah mengatakan hal itu terang terangan padaku, cara mereka memperlakukanku sudah menunjukkan semuanya.

Dan sejujurnya, perlakuan mereka itu kadang membuatku jengkel.

Meski aku tahu, mereka begitu karena sayang padaku.

Saat aku memutuskan ingin masuk Akademi Militer, hahaue tampak kecewa dan cemas, namun akhirnya menyatakan restunya.

Gwendal dan Conrad terlihat pasrah. Mungkin karena mereka tahu aku keras kepala. Percuma saja dibantah.

Akhirnya aku masuk Akademi Militer. Tapi tugasku berbeda dari teman teman seangkatanku. Aku hanya berlatih pedang dan sihir di hari hari tertentu. Durasinya pun tidak terlalu lama. Dan tugas utamaku adalah di bagian logistik pasukan prajurit.

Hanya itu.

Aku diletakkan di garis belakang dan dijauhkan dari bagian garis depan yang keras dan kejam.

Hanya pihak sekolah yang tahu penyakitku.

Teman temanku akhirnya banyak yang iri denganku. Tugasku dikatakan mereka terlalu mudah, dan itu karena aku adalah pangeran kecil dan lemah yang harus dilindungi.

Aku tidak membantah ucapan mereka. Karena aku sadar, memang aku lah yang paling lemah diantara kami bertiga.

Di mata teman temanku waktu itu, aku adalah anak laki laki paling lembek di sekolah. Aku jadi sasaran risak yang empuk.

Tidak tahan dengan perlakuan mereka padaku, aku mulai berlatih pedang dan sihir apiku diam diam. Setiap hari terus kulakukan, sampai aku akhirnya bisa membalas semua perlakuan mereka padaku.

Perisakan pun berakhir. Ibu dan kakak kakakku tidak pernah tahu. Aku tidak mau membuat mereka cemas, dan aku ingin membuktikan diriku.

Aku akhirnya lulus dari Akademi Militer. Bagiku, ini seperti mukzizat. Sakitku nyaris tidak pernah kambuh selama aku di sekolah.

Dan meski sempat bimbang antara memilih karier militer atau terus melukis, akhirnya kuputuskan untuk jadi prajurit.

Pilihanku ternyata tidak keliru. Berkat pilihan itu, aku bertemu dengan sosok paling mengagumkan yang pernah kutemui.

Namanya Shibuya Yuuri. Raja, sahabat, dan tunanganku.

--

x7 - xx - 18xx

Tadi malam, meski bisa tidur cukup nyenyak, aku bermimpi cukup aneh.

Dalam mimpi itu, seorang pria datang padaku. Dia mengatakan sesuatu yang tidak begitu kupahami. Tentang kotak atau apa.

Hari ini aku mendapat surat dari hahaue yang sedang melakukan Perjalanan Cinta Bebas. Atau apalah namanya itu. Isi suratnya ceria, seperti biasa. Wanita terkasih itu mengatakan banyak hal dalam suratnya.

Pikiranku tidak sepenuhnya tertuju pada isi suratnya. Samar kuingat percakapanku dengannya ketika aku masih anak anak, dulu sekali.

"Aku juga mau latihan pedang dan pergi ke gunung!"

"Wolf... Mengertilah sayang, gunung itu terlalu berbahaya untukmu. Gwendal bilang, dia takut kau jatuh"

"Kenapa aku tidak bisa seperti aniue dan chisai aniue, Bu? kenapa aku lemah? Aku juga ingin kuat dan berani seperti mereka..."

"Wolfram sayang, kekuatan sejati itu tidak selalu datang dari fisik yang kuat, tapi juga bisa berasal dari hati yang teguh"

"Maksud hahaue?"

"Saat kau sudah lebih besar, kau akan mengerti itu, sayang. Mungkin nanti kita bicarakan lagi saat kau sudah dewasa, ya"

Kalau diingat lagi sekarang, rasanya aku sudah mengerti ucapannya itu. Begitu juga alasannya memintaku belajar sihir medis pada Julia saat perang Luttenberg pecah, dua puluh tahun yang lalu.

Aku pun rasanya sudah paham kenapa Conrad tidak pernah melibatkanku dalam perkelahian dengan musuh di setiap perjalanan kami bersama Yuuri. Dia selalu memintaku diam dan menjaga Yuuri untuknya. Katanya dia percaya padaku.

Aku yakin itu bohong. Dia ingin melindungi Yuuri dan aku. Di matanya, sepertinya aku akan selalu jadi adik kecil yang pantas dilindungi bersama raja sekaligus anak baptisnya.

Aku tidak tahu harus marah atau bersyukur karenanya.

Mungkin keduanya.

--

x8 - xx - 18xx

Rasa sakit di dada kiri itu datang lagi. Sesosok pria tiba tiba muncul di depanku. Rasanya seperti sedang bercermin. Dan rasanya menyebalkan.

"Kau ingin sembuh...? Kau tahu, kotak milikmu, Toudou no Gouka itu adalah kotak yang memiliki kekuatan untuk mencegah kematian atau memperpanjang umur, dan menghidupkan orang yang sudah mati..."

Dia membicarakan kotak terlarang. Hal yang tidak pernah kuduga sebelumnya.

"Syaratnya mudah. Bantu aku untuk mendapatkan keempat kotak itu. Dua kotak itu sudah ada pada kalian, kan? Kau cukup serahkan itu padaku. Dan rahasiakan ini dari mereka. Jangan pernah katakan hal ini pada teman temanmu, ibumu, kakak kakakmu, ataupun rajamu. Kalau tidak, kujamin kau akan menyesal"

"Pilihanmu saat ini sesungguhnya hanya dua, Anak Muda. Kau mati sementara mereka semua masih hidup, atau mereka semua mati sementara kau masih hidup... Atau, mungkin, kalian semua akan mati... Ah, tiga pilihan kalau begitu..."

"Aku pun punya tujuan tersendiri dengan kotak kotak terlarang itu. Aku tidak keberatan membantumu. Bagaimana?"

"kalau untuk keluargamu dan orang itu, kau tidak pernah bisa menolak, kan? kau selalu seperti itu"

Aku bimbang.

--

x9 - xx - 18xx

Aku tahu aku egois. Tapi aku tidak peduli. Aku belum ingin mati.

Tidak sekarang.

Bukannya aku takut mati. Bukan kematian yang membuatku takut. Tapi aku takut, kalau aku mati, maka aku akan kehilangan saat saat yang harusnya bisa kuhabiskan bersama mereka.

Aku ingin melihat Greta tumbuh dewasa.

Aku masih ingin belajar banyak hal dari aniue dan Conrad. Aku ingin melampaui mereka. Meski mungkin itu mustahil.

Aku masih ingin menjaga hahaue. Waktu kecil, aku pernah berjanji akan menikahinya. Meski sekarang kusadari itu tidak mungkin, paling tidak, aku ingin terus menjaganya.

Dan aku ingin menyaksikan Yuuri berhasil menyatukan bangsa mazoku dan manusia. Aku percaya itu akan terjadi suatu hari nanti, dan aku ingin ada bersamanya saat waktu itu tiba.

Karena itu, aku menerima tawarannya.

Meski itu artinya aku harus mengelabui dan melukai perasaan mereka semua.

Apa keputusanku ini tepat? Atau bahkan keliru?

Aku tidak tahu.

Bersambung