Malam semakin larut. Ruangan itu makin terasa lembab dan sesak.

"Keras kepala... Kalian sama sekali tidak bisa berpikir praktis rupanya. Jenis orang yang paling merepotkan.." Shinou bergumam frustrasi setelah mendengar jawaban Yuuri dan Conrad yang dirasanya terlalu klise.

"Aku sampai berpikir untuk memberikan hadiah atas keteguhan kalian itu. Baiklah, kuberi kalian dua pilihan. Aku jamin kalian tidak akan keberatan... "

Semuanya tampak terkejut, kemudian terdiam.

"Perang atau kehancuran? Mana yang akan kau pilih?"

Yuuri, yang mulai mendapatkan kekuatan dirinya lagi, setelah menyadari sorot mata Wolfram barusan, mencoba membuka mulut.

"Bukankah itu sama saja? Tidak ada perang tanpa kehancuran. Dan kehancuran adalah hasil dari perang itu sendiri!"

"Sudah kubilang, kauitu masih muda, Yuuri heika. Penuh energi, kuat, tapi naif. Itulah kelebihan sekaligus kelemahanmu. Tidak, bisa dibilang itulah kelemahan dan kelebihan semua anak muda seperti kau. Mereka sangat mudah percaya satu hal, seakan akan hanya yang diyakininya lah pilihan yang paling tepat, dan menyalahkan pilihan yang lain. Benar benar konyol." Shinou tertawa kering.

"Bila kau membiarkanku membuka kotak kotak itu, maka perang tidak perlu terjadi. Kehancuran memang akan terjadi, tapi aku berani bertaruh, kerusakannya tidak akan separah perang yang berkecamuk. Ibaratnya seperti bencana alam yang mustahil dihindari dan harus kau terima dengan lapang dada. Dan yang paling penting, tidak akan ada perselisihan"

"Berbeda ceritanya bila kau masih bersikeras untuk menghentikanku. Mau tidak mau, suka atau tidak, kau harus menghadapi aku. Dan itu artinya adalah perang. Ah, satu hal lagi. Aku tidak bisa menjamin bahwa tidak akan ada korban jiwa... Bagaimana...?"

Dalam sekejap, ruangan itu hening. Semuanya terdiam, berusaha meresap perkataan pria itu.

Sungguh pilihan yang di luar dugaan.

Dan di saat yang sama, pilihan yang menarik.

"Kalian bingung rupanya... Aku akan beri kalian waktu. Kembalilah lagi nanti malam. Toh, aku sudah hampir menggapai keinginanku. Mana pun pilihan yang akan kalian ambil, pada akhirnya tidak akan bisa menghentikanku. Jadi hasilnya akan sama saja" Shinou berkata perlahan. Suaranya tenang dan ramah, namun menakutkan.

"Tunggu...! Kami belum selesai denganmu...!" Gwendal telah kembali bangkit dan kembali berusaha menerjang pria itu.

Shinou tersenyum datar. Jarinya berdentik pelan. Seketika itu pula, Yuuri dan yang lain perlahan lenyap ke luar. Tak dihiraukannya mereka yang masih mencoba berontak.

Mereka pun lenyap sepenuhnya.

--

Yuuri berusaha membuka mata. Tubuhnya sakit. Langit biru gelap tampak terbentang di atasnya. Matanya mengerjap perlahan. Subuh menjelang. Diusapnya piyama biru miliknya yang telah basah oleh keringat dan kotor terkena debu tanah. Dia bertelanjang kaki.

Perlahan Yuuri ingat semuanya.

Darah itu. Wolfram. Shinou. Empat kotak terlarang. Kunci. Dan pilihan itu.

Semuanya menjadi semakin jelas. Mengingat semua kejadian malam itu benar benar membuatnya merasa tidak berdaya.

Yuuri berusaha menahan cairan bening yang tiba tiba melesak dari matanya.

Wolfram...

"Heika...! Anda baik baik saja?" Tampak Conrad berlari ke arahnya, kemudian berlutut di samping anak itu. Wajahnya cemas dan tampak sedikit kuyu.

Yuuri terduduk di tanah. Dipegangnya kepalanya yang terasa nyeri.

"Ya... Aku baik baik saja... Tapi... Wolfram... " suara itu terdengar pelan dan putus asa.

Conrad diam. Raut muka itu tampak menyesal. Matanya menatap tanah. Namun sesaat kemudian, matanya ia arahkan ke Yuuri lagi.

"Heika... Kita akan menyelamatkannya. Itu pasti."

--

Sudah pagi.

Mereka sudah ke kembali ke istana.

Ruang rapat itu senyap, kendati mereka sedang berkumpul di sana. Wajah mereka muram.

"Aku... Mungkin dia benar... Aku terlalu naif... Kalimatnya benar benar membuatku merasa jadi raja paling tolol yang pernah ada..."

Yuuri menunduk dalam. Sorot matanya kecewa. Kecewa dengan dirinya sendiri.

"Itu tidak benar, heika...! Anda tidak tolol...! Jangan dengarkan kata kata dia! Yuuri heika yang saya kenal adalah Yuuri heika yang penuh semangat dan tidak mudah menyerah!" Gunter berusaha menyemangati.

Yuuri mendongak perlahan.

"Gunter benar. Kau raja yang paling unik yang pernah kutemui. Awalnya kupikir kau memang tolol dan tidak pantas jadi raja. Tapi ternyata kau kuat juga. Dan baik hati" Yozak mendukung kalimatnya. Dia tersenyum jahil.

"Shibuya adalah Shibuya. Apa adanya dan tidak kenal menyerah. Benar, kan? Murata menatap Yuuri. Sorot mata dari balik kacamata itu teduh dan menenangkan.

"Hm, kau memang merepotkan. Tapi kau raja yang mau belajar. Semangat yang bagus" Gwendal berkata datar. Tapi kemudian dia tersenyum tipis.

Semangat Yuuri perlahan bangkit. Senyum yang sempat hilang itu perlahan kembali. Dalam hati, dia benar benar bersyukur dikelilingi sahabat sekaligus penjaga yang tulus dan baik hati seperti mereka.

"Heika, kami akan selalu berada di sisi Anda. Apapun keputusan yang Anda ambil" Conrad mengusap lembut bahu Yuuri dari belakang.

"Tenang, kita tidak akan biarkan siapa pun mati" Conrad menyelesaikan kalimatnya.

Yuuri tersenyum. Kembali terbayang sorot mata Wolfram yang melembut itu. Masih ada harapan.

Pilihan telah diambil.

--

Langit telah senja. Sebentar lagi tiba waktunya malam.

Shinou tampak tidak tenang di singgasananya. Kotak itu.

"Hasratku sedang bergejolak rupanya. Ini merepotkan. Perang atau kehancuran. Hm, pilihan yang sungguh menarik"

Tiba tiba salah satu dari keempat kotak itu mengeluarkan nyala terang. Shinou segera menjauh.

Toudou no Gouka tampak mengeluarkan api berwarna kebiruan. Bunyinya bergemuruh nyaring.

"Ini... Jangan jangan... " suaranya terdengar tidak percaya. Wajahnya takjub.

"Ukh...!"

Shinou menoleh ke arah suara.

Wolfram berlutut menahan sakit. Tangannya mencengkram dada kirinya erat. Keringat perlahan mengalir dari pelipisnya.

"Tidak mungkin... Jangan jangan..." pria itu tersentak kaget.

Apa yang kemudian terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaannya.

Ternyata kau masih hidup...

Bersambung