Kegelapan malam itu telah terusik oleh sebuah cahaya terang yang terpancar dari salah satu kotak miliknya. Toudou no Gouka tiba tiba saja mengeluarkan nyala api berwarna biru, yang kemudian disusul oleh suara gemuruh yang cukup memekakan telinga.

Di saat yang sama, Wolfram yang sejak tadi berdiri di depan kotak itu tiba tiba saja terhuyung lalu terduduk menahan sakit.

Awalnya pria itu hanya bisa berdiri takjub menatap kotak miliknya yang tiba tiba berlaku aneh. Namun ketika Wolfram tiba tiba diam dan berdiri menghadap dirinya, Shinou terperanjat seketika.

Tatapan mata itu. Persis tatapan orang itu.

Belum lagi selesai dengan rasa terkejutnya menyaksikan kejadian di depannya, Wolfram mulai membuka mulut.

Suaranya tenang, dingin, dan kejam.

"Lama tidak berjumpa, saudaraku... "

Ternyata kau masih hidup...

--

Cahaya terang yang bersinar sesaat tadi rupanya menembus keluar dan menarik perhatian Yuuri dan yang lain yang tengah menuju kuil itu. Mereka pun samar mendengar suara gemuruh dari arah tempat itu.

Mereka pun lantas mempercepat langkah.

--

"Lama tidak berjumpa, saudaraku... "

"Ka-kau... Kenapa... Sejak kapan kau ada... di sana...?"

Kali ini nada suaranya jauh berbeda dari saat menghadapi Yuuri. Seolah rasa percaya dirinya telah disedot habis. Yang tersisa di suara itu hanyalah rasa takjub, heran, dan takut.

Sesuatu yang nyaris tidak pernah terlihat dari dirinya selama ini.

Shinou yang haus darah dan menyukai peperangan itu seolah telah kehilangan nyaris seluruh kewibawaannya.

Karena dia tahu pasti.

Yang berdiri di depannya kini bukan sosok Wolfram.

Ada orang lain di dalam dirinya, yang sekarang sedang berbicara padanya.

Dan Shinou kenal betul dengannya. Karena bagaimana pun, orang di depannya ini adalah kakaknya sendiri.

Tapi itu tidak mungkin! Karena... Aku lah yang telah membunuhnya, bertahun tahun silam...

--

Ibunya adalah seorang penari yang cukup populer pada masa itu. Di salah satu pertunjukannya lah, pertama kalinya dia bertemu dengan ayahnya. Mereka kemudian kian akrab. Beberapa waktu kemudian, mereka memutuskan untuk menikah.

Dia pun lahir. Pasangan itu sangat gembira menyambut kelahiran putra pertama mereka. Orang orang sekitar mereka kerap menyandingkan kecantikan wajah bayi laki laki itu dengan paras cantik ibunya.

Sayangnya, kegembiraan itu harus sirna bertahun tahun kemudian.

Semua berawal sejak ayahnya didapati telah selingkuh dengan wanita lain. Ibunya murka. Mereka pun berpisah.

Beberapa tahun setelahnya, ibunya meninggal dunia karena sakit. Dia pun akhirnya harus diasuh ayahnya.

Dan di sana lah dia pertama kali bertemu dengannya.

Ketika dia datang untuk tinggal bersama ayahnya, yang diam diam ia benci, orang itu lah yang pertama kali menyambutnya.

Dia mengaku sebagai kakak tirinya.

Ayahnya rupanya telah menikah lagi. Dengan wanita selingkuhannya itu.

Sebelumnya, wanita yang kini menjadi ibu tirinya itu rupanya telah memiliki seorang putra, anak dari hasil pernikahannya yang sebelumnya.

Sebelum dia merenggut kebahagiaan ibuku, batinnya geram.

Dia dan kakak tirinya itu bagaikan air dan minyak.

Kakaknya adalah sosok yang cerdas, ramah, kuat, dan populer.

Sementara dirinya adalah anak nakal, sulit diatur, pemarah, dan sulit bergaul.

Semakin mereka dewasa, perbedaan itu kian melebar.

Dan diam diam, hal itu telah membangkitkan rasa marah, iri, dan dengki di dalam dirinya.

Sampai akhirnya dia melakukannya.

Dia telah membunuh saudaranya sendiri.

Segera setelah itu, dia kabur dari rumah. Dan tidak pernah kembali.

Ambisi dan gairah hidupnya akhirnya dia temukan di medan perang. Di peperangan itu pula, dia bertemu sahabat sahabatnya. Sahabat pertamanya.

Sampai akhirnya dia mampu berdiri sendiri, hingga mendirikan sebuah kerajaan bangsa mazoku...

Yang ia beri nama Shinmakoku.

--

Suara langkah kaki yang disusul suara pintu yang dibuka keras untuk sejenak mengalihkan perhatiannya.

"Shinou! Kami datang untuk menjawab pertanyaanmu!" Yuuri berbicara keras dan lantang. Dikuatkannya hati untuk berani menghadapi pria itu. Apapun yang terjadi. Apapun yang dikatakannya.

Namun yang mereka saksikan kini sungguh di luar dugaan.

Empat kotak itu masih berjejer rapi di sana. Namun Toudou no Gouka telah mengeluarkan api biru dan masih terus mengeluarkan suara gemuruh yang sepertinya tidak akan berakhir.

Di depan mereka terlihat sosok Shinou yang menampakkan wajah pucat.

Dan di depannya, Wolfram berdiri tegak, seolah tidak takut apapun.

Tapi sorot mata itu sungguh berbeda. Kejam, dingin, dan penuh nafsu membunuh.

Nada suara yang perlahan keluar pun bukan seperti dirinya.

Tubuh Wolfram telah diambil alih.

--

"Ah, kau sama sekali tidak berubah. Tetap mempesona seperti dulu. Persis mendiang ibumu" sosok di dalam tubuh Wolfram itu mulai bicara lagi.

Kemarahan Shinou seketika tersulut,

"Dari mana kau tahu wajah ibuku, hah?!"

"Dari ayahmu. Dia sering sekali menceritakan sosok ibumu yang cantik padaku. Dan sejujurnya, aku sangat iri" Sorot mata itu sempat melembut sesaat, sebelum akhirnya kembali bengis.

"Apa... yang terjadi di sini...? Wolfram,... Apa yang... " suara Yuuri tersendat. Kejadian di depan matanya kini terasa amat sangat sulit dipahami.

"Hm? Oh, apa aku sedang berhadapan dengan Maoh ke 27? Sungguh suatu kehormatan bagiku..." matanya mengerling dingin menatap mereka yang tengah berdiri di depan pintu yang terbuka lebar.

"Masuklah, dan akan aku beritahu semua yang ingin kau dan kalian ketahui... "

"Dan biarkan aku meminjam jasad anak ini untuk sementara waktu..."

Bersambung

--

Cerita ini masih panjang.

Kerangka cerita dan alurnya sudah saya siapkan sejak lama. Saya pun telah menyiapkan beberapa skenario akhir dari cerita ini.

Bila tidak ada halangan, harapannya saya bisa terus menulis lanjutannya dalam waktu dekat ini.

Terima kasih banyak telah bersedia menunggu.